Bab 1

Kakak mengundangku untuk menginap di rumahnya.

Malam itu, saat aku sedang mencuci muka, aku menoleh dan melihat senyuman aneh di wajah suaminya.

Kakak mencoba menenangkanku, hingga kakak mengunciku dan suaminya di dalam kamar.

Barulah aku sadar bahwa semua ini adalah rencana kakakku.

Setelah selesai ujian mata kuliah terakhir, aku baru saja keluar dari kelas dan telepon dari kakakku masuk.

"Sudah selesai ujian? Apa rencana liburan semester ini? Kalau belum ada, datang saja ke rumahku."

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menolak, "Nggak deh, ada kakak tingkat yang baru buka perusahaan kecil di Kota Santana, aku rencananya mau magang di sana dua bulan."

"Kamu baru semester 3, nggak perlu buru-buru, lagipula perusahaan kecil belum tentu terpercaya. Nanti biar kakak iparmu carikan perusahaan besar untukmu. Aku juga sudah siapin kamar untukmu."

Anehnya, kali ini kakak tidak menyanggahku seperti biasanya. Sebaliknya, dia justru dengan baik hati membantu menyusun rencana untukku.

Namun, membayangkan tinggal serumah dengan kakak saja sudah membuatku merinding. Aku menggenggam ponsel, ragu-ragu untuk cukup lama dan akhirnya menolak dengan alasan ingin tinggal di rumah saja.

Namun, begitu sampai di rumah malam itu, aku bahkan belum sempat membongkar koper, ibuku masuk ke kamarku dan berkata, "Kamu pergi temani kakakmu ya liburan ini."

Kenapa semua orang ingin aku ke sana?

Semua keinginanku untuk magang di perusahaan besar langsung menguap. Aku langsung berkata, "Aku nggak mau, aku mau magang di Kota Santana saja."

Ibuku langsung panik dan menggenggam lenganku, menjawab, "Kamu pergi sejauh itu sendirian? Bagaimana mungkin aku tenang membiarkanmu pergi?"

Sorot matanya yang mengamati tubuhku penuh dengan rasa tidak percaya, seolah-olah aku ini terlalu lemah untuk berpergian sendirian ke Kota Santana. Seakan aku pasti akan habis dimakan tanpa sisa dunia luar.

Melihat wajahku yang jelas terlihat tidak senang, ibuku mulai memakai pendekatan emosional. Dia duduk di tepi kasurku, menepuk-nepuk tanganku dan berkata, "Kakakmu lagi hamil, badannya juga lemah sekarang. Dia butuh seseorang untuk menemaninya."

Oh, ternyata kakak sedang hamil. Pantas saja, dia tiba-tiba jadi lebih ramah dan perhatian padaku.

"Uang kuliah dan biaya hidupmu, semuanya dibayar oleh kakakmu dan suaminya. Kamu nggak boleh jadi anak yang nggak tahu balas budi, mengerti?"

Dengan tanggung jawab yang tiba-tiba diberikan kepadaku, meskipun enggan, aku juga tidak punya pilihan selain pindah ke sana.

Namun, aku tak menyangka, ternyata rumah itu seperti gua penuh misteri. Tanpa ada siluman wanita yang cantik, tetapi semuanya terasa aneh.

Kakakku yang katanya butuh teman, tidak terlihat antusias dengan kedatanganku. Bahkan, sikapnya lebih seperti malas berurusan denganku. Sebaliknya, kakak iparku yang katanya super sibuk di dunia kerja, malah terlihat ramah berlebihan.

Di hari pertama kedatanganku, dia langsung pulang lebih awal untuk mengajakku makan. Setelah itu, dia juga membelikanku pakaian dan sepatu baru.

Namun, keanehan tidak berhenti di situ.

Suatu hari, aku bangun lebih pagi karena janjian dengan teman untuk melihat pameran.

Saat sedang mencuci muka di kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dari belakang. Belum sempat mengatakan diriku sedang di dalam, kakak ipar malah langsung masuk begitu saja.

"Kenapa bangun begitu pagi? Mau ke mana?" tanya kakak ipar dengan santai, sambil berjalan mendekat.

Tangan kirinya menopang wastafel, sementara dadanya menyentuh lenganku, bahkan lututnya yang sedikit ditekuk mengenai bagian belakang lututku.

Jarak aman antara kedua orang seketika hilang. Aku merasa tidak nyaman, tapi hanya bisa menjawab seadanya, sambil mempercepat gerakan menggosok wajah dengan sabun cuci muka.

Sepertinya dia menyadari ketidaknyamananku. Dia tersenyum dan berkata, "Santai saja, nggak perlu terburu-buru. Aku hanya mau ambil alat cukur."

Namun, tangan kirinya tetap menekan wastafel, sementara tubuhnya setengah menempel padaku. Dalam posisi hampir memeluk, dia meraih rak di atas wastafel untuk mengambil alat cukurnya. Aku langsung bergidik. Saat mencoba menjauh, aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian pantatku.

Tanpa perlu dijelaskan, aku tahu benda apa itu. Wajahku langsung memerah, perasaan malu dan bingung bercampur menjadi satu.

Rasa tidak nyaman itu begitu kuat. Dengan tergesa-gesa, aku membersihkan wajah, lalu buru-buru pergi ke pintu, seperti melarikan diri.

Apa-apaan ini?! Pagi-pagi sudah seperti itu? Dia nggak sengaja atau justru sengaja?!

Namun, saat aku berdiri di pintu dengan wajah memerah, aku menoleh dan melihat kakak ipar tersenyum santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Alat cukurnya berdengung, sama seperti pikiranku yang terus berdengung tanpa henti. Apa mungkin aku yang terlalu sensitif? Mungkinkah ini hanya ketidaksengajaan?

Sejak kejadian itu, aku mulai berusaha menghindari kakak ipar setiap hari.

Hari-hari berlalu. Suatu malam, seperti biasa, aku masuk kamar lebih awal untuk menghindari kontak langsung. Namun, aku terbangun oleh suara teriakan kakak tengah malam.

Kupikir ada sesuatu yang serius, jadi aku buru-buru keluar kamar dan hanya mendengar kakakku berkata santai, "Kakak iparmu mabuk, tolong jemput dia."

Aku melirik jam, masih sekitar pukul sepuluh. Aku pun berkata, "Masih belum terlalu malam, bisa pesankan taksi saja."

Namun, raut wajah kakak berubah dingin. Dia menatapku tajam dan berkata, "Aku hanya menyuruhmu menjemputnya saja, kenapa nggak mau? Sebelum hamil, aku selalu jemput dia sendiri. Sekarang dia mabuk, masa kamu nggak mau pergi jemput dia? Kamu tinggal di rumahku, makan minum di sini, disuruh jemput saja kok susah sekali?!" Usai bicara begitu, kakak mengeluarkan uang empat ratus ribu dari tasnya dan menyodorkannya padaku, lalu melanjutkan, "Ini ongkos untukmu, cepat pergi biar nggak kelamaan."

Dengan berat hati, aku menerima uang itu dan pergi memesan taksi.

Dari kejauhan, aku melihat sekelompok pria berdasi, termasuk kakak ipar yang berdiri di pintu keluar mal. Semuanya mabuk, tetapi kakak ipar terlihat yang paling parah.

Bab 2

Begitu aku berlari mendekat, kakak ipar dengan santainya merangkul bahuku. Satu tangannya berada di bahu kananku, sementara tangan lainnya dengan lembut memegang pergelangan tanganku. Sambil berbicara dengan rekan-rekannya, dia juga terus mengusap-usap bahu dan lenganku.

Tubuhnya yang tinggi terasa berat seperti besi, hampir seluruh tubuhnya bersandar padaku. Aku pun terpaksa menopang pinggangnya dengan susah payah agar tidak terjatuh.

Namun, saat aku mengongak, aku melihat rekan-rekan kakak ipar yang sedang berbicara menatapku dengan pandangan yang penuh arti, senyuman mereka terasa ambigu dan menyiratkan sesuatu yang membuatku semakin tak nyaman.

Kakak ipar tampak tidak menyadari hal tersebut, dia terus mengusap bahu dan lenganku perlahan.

Di tengah tatapan penuh makna dari orang-orang asing itu, sentuhan tangannya terasa seperti ular berbisa yang licin dan dingin, merayap di kulitku, membuatku bergidik.

Untungnya, mobil yang kami pesan tiba di saat yang tepat. Aku segera memasukkan kakak ipar ke kursi belakang. Saat diriku hendak duduk di kursi depan, salah satu rekan kerja kakak ipar yang dari tadi menatapku dengan tatapan yang aneh, entah sejak kapan dia sudah duduk di sana.

Dia bahkan sudah mengenakan sabuk pengaman dan berkata santai sambil sedikit menoleh, "Philip, aku nebeng ya. Turunkan saja aku di jalan Bengkong Selatan itu saja."

Mobil pun melaju, sopir fokus mengemudi tanpa banyak bicara. Sementara rekan kerja di kursi depan tampak mulai tertidur.

Namun, pikiranku sama sekali tidak tenang di kursi belakang. Aku terus memikirkan tatapan aneh rekan-rekan kakak iparku tadi, serta tindakan kakak ipar yang terasa seperti melewati batas.

Tubuhku menegang, semua bulu kuduk berdiri.

Kakak ipar yang duduk di sebelah kananku mulai mendekat tanpa sadar. Aroma alkohol yang begitu mennyengat membuatku mual. Dalam kegelapan mobil, tiba-tiba tangannya merayap ke bagian dalam pahaku.

Gerakannya perlahan, dengan usapan yang penuh makna tersembunyi.

Seketika, otot bagian pahaku menegang. Dengan reflek, aku mengepalkan tangan kanan dan ingin sekali memukulnya.

Namun, teringat rekan kerjanya yang duduk di depan, aku hanya bisa menahan rasa jijik dan menepis tangannya. Lalu, merapatkan tubuhku ke pintu sebelah kiri.

Namun, tangannya tak kunjung berhenti. Dia terus bergerak lebih tinggi, hingga akhirnya berhenti di pangkal pahaku.

Dia bahkan dengan sengaja mencubit bagian lunak di sana.

Aku menoleh dan melihat tatapan kakak ipar yang mesum, dipenuhi nafsu.

Saat itu, aku sadar bahwa kakak iparku tidak benar-benar mabuk.

Dia tahu persis apa yang dia lakukan.

Begitu mobil berhenti, aku langsung melompat keluar.

Aku berbohong dengan mengatakan diriku sakit perut, lalu berlari pulang sambil menelepon kakak untuk turun dan menjemput suaminya.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Malam itu, aku terus merasa ada tangan yang terus menekan pahaku. Aku tidak bisa tidur semalaman, hanya berbaring sambil memikirkan apakah aku harus menceritakan kejadian ini pada kakak.

Namun keesokan harinya, aku mengurungkan niat itu.

"Aku menyuruhmu menjemputnya, bisa-bisanya kamu meninggalkannya begitu saja?! Aku ini sedang hamil, kamu bahkan nggak bisa membantuku sedikit?"

Kakak yang biasanya terlihat lembut dan ramah pada orang lain, selalu berbeda sikapnya padaku. Dia sering berbicara dengan nada marah seperti itu, Begitu aku duduk di meja makan, dia langsung melancarkan serangan kata-katanya.

Jika bukan karena suamimu melecehkanku, bagaimana mungkin aku lari?

Meskipun aku terus mengeluh dalam hati, aku tetap memilih untuk diam dan tidak membantahnya.

Hubunganku dengan kakak memang tak terlalu baik. Jika aku menceritakan apa yang dilakukan kakak ipar tanpa bukti, dia pasti akan marah besar dan menganggapku hanya ingin merusak rumah tangganya.

Lagipula, kakakku memang orang yang sangat keras kepala. Jika aku tidak menuruti keinginannya, dia pasti akan mencari seribu alasan untuk menyerangku balik. Jika dia tidak berhasil menyerang diriku, dia akan menyimpan dendam, lalu langsung melapor pada ayah dan ibu. Bahkan, mungkin melampiaskan amarahnya ke mereka, menyalahkan mereka karena dianggap tidak mendidikku dengan baik.

Bukankah itu yang terjadi saat aku kelas tiga SMP dulu?

Dia jelas melihat aku sedang diganggu, tetapi bukannya membantuku, dia malah merasa aku mempermalukannya. Dengan dinginnya, dia menamparku sambil berkata, "Steve, kamu itu laki-laki! Bisa-bisanya berantem dengan anak laki-laki lain di kamar mandi, malah sampai ditelanjangi? Kamu nggak punya harga diri sedikit pun?"

Saat itu, aku baru berumur 15 tahun. Aku adalah anak laki-laki yang berbeda dari kebanyakan teman seusiaku.

Di saat yang lain bermain basket sampai tiga hari tidak mandi dan penuh keringat, aku malah rajin mandi setiap hari. Ketika mereka suka berkelahi, membuat onar atau mengejar anak perempuan, aku malah lebih suka membaca buku dan menonton film.

Namun, menjadi berbeda dalam sebuah kelompok selalu ada konsekuensinya. Aku harus berkorban atas keunikanku dengan menjadi target perundungan teman-teman sekelas. Mereka menyebutku lembek, mengolok-olokku dan bahkan melakukan kekerasan padaku dengan cara yang keterlaluan. Puncaknya, mereka pernah menelanjangiku dan mengunciku di kamar mandi selama tiga jam pelajaran.

Meski begitu, aku tidak pernah berani meminta bantuan dari kakak ataupun orang tuaku. Karena aku tahu, mereka hanya akan mencemoohku, menyebutku lemah dan tidak seperti laki-laki pada umumnya. Seperti saat ini, kakakku terus mengoceh tanpa henti, pikiranku malah kembali pada kejadian di masa itu. Kata-kata tajam dan dinginnya waktu itu masih terngiang di telingaku, membuatku merasa kecewa yang begitu mendalam. Aku hanya diam, memandang kakak di meja makan, lalu menelan kembali niatku untuk meminta bantuan.

Memang ada beberapa hal yang harus kuselesaikan sendiri.

Namun, sebelum berhasil menemukan bukti pelecehan itu, aku justru menemukan sebuah kenyataan yang jauh lebih menjijikkan.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B68830" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B68830
Salin

Permainan Kakak Tercinta

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya