Bab 1
Aku dan suamiku sedang roadtrip ke Baloi. Di sana, kami tak sengaja bertemu sepasang kekasih muda. Dalam suasana yang agak mabuk, sebagai seorang istri yang masih mempesona, untuk pertama kalinya aku merasakan kenikmatan bersama empat orang. Sejak saat itu, aku terjerumus ke dalam jurang kenikmatan yang tak bisa kutinggalkan ….
Beberapa waktu lalu, suamiku mengambil cuti tahunan dan mengajakku roadtrip ke Baloi.
Namun, aku sama sekali tak menyangka, perjalanan yang tampaknya biasa saja itu justru membuat kami terjerumus ke dalam jurang yang tak bisa kami lepaskan ….
Malam itu, saat menyetir di jalanan gelap, tiba-tiba ban belakang kami meledak.
Kami menelepon tim bantuan, tapi katanya mereka baru bisa sampai paling cepat dua jam lagi. Sambil menunggu, suamiku menarikku ke pelukannya dan membuka ponsel untuk menonton film dewasa.
Seiring adegan panas di layar, tangan suamiku mulai bergerak nakal.
Kami baru saja menikah, masih dalam masa-masa penuh kemesraan. Aku tahu dia sedang memberi kode.
Saat itu sudah lewat tengah malam dan sudah tidak ada satu pun mobil yang lewat.
Jalanan yang sepi memberikan rasa aman. Aku mengangguk pelan dan duduk di pangkuannya, pinggulku tanpa sadar mulai bergerak.
Tanpa menolaknya, aku pun membiarkan suamiku menarik turun rokku.
Tapi posisi kursi mobil terlalu sempit, tidak leluasa bergerak, jadi kami pun memutuskan pindah ke luar mobil.
Siapa sangka, baru saja kami ke berdiri di belakang mobil dan menyiapkan posisi, tiba-tiba sebuah mobil lain datang dari belakang.
Hanya butuh satu detik, lampu mobil itu langsung menyinari tubuh kami berdua.
Tubuh kami pun terlihat sangat jelas.
Jujur saja, rasa gugup itu pasti ada. Tapi dalam situasi ini, sudah tidak mungkin lagi untuk bersembunyi. Kami hanya bisa pura-pura tak melihat.
Saat melewati kami, pengemudi mobil itu membuka jendela dan mengacungkan jempol.
Dari ekspresinya, jelas terlihat kekaguman dan rasa iri di matanya.
Rasanya … sungguh bergairah.
Setelah kejadian itu, aku dan suami sempat khawatir. Kami tidak tahu apakah mobil itu punya kamera dasbor?
Bagaimana kalau terekam? Lalu disebarkan di internet? Kalau sampai orang yang mengenal kami melihatnya, habislah riwayat.
Beberapa hari setelahnya, aku jadi makin parno dan terus-terusan cek berita online. Untungnya, tak ada informasi apa-apa.
Tapi sejak malam itu, seolah ada saklar dalam diriku yang menyala. Setiap malam, aku selalu memimpikan kejadian itu.
Sensasi tak terkendali itu menorehkan kenangan yang sulit dilupakan dan memunculkan hasrat yang tak bisa kujelaskan.
Saat itu aku belum tahu, semua ini adalah awal dari keterpurukanku.
Orang yang pernah roadtrip, pasti tahu kadang bisa bertemu penjelajah lain dan yang paling sering ditemukan adalah pasangan muda.
Kami juga bertemu satu pasangan muda, si pria bernama Nico dan si perempuan bernama Jane. Mereka tampak sangat serasi.
Terutama Nico, selain ramah dan sopan, tubuhnya juga tinggi dan kekar.
Saat aku membisikkan ke suamiku bahwa Nico sering mencuri pandang ke arah kakiku, suamiku langsung cemburu berat.
Dia menepuk bokongku dan berkata, “Mau kusuruh dia buat temani kamu tidur malam ini?”
Mendengar ucapan suamiku yang kasar dan blak-blakan itu, wajahku langsung memerah. Rasanya seperti semua rahasiaku dibongkar, semua kepura-puraanku juga terbongkar habis.
Tapi aku juga menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata suamiku, seolah dia tak sekadar bercanda.
Mungkin sebuah keinginan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saat itu, kami seperti anak-anak yang tak sengaja membuka kotak pandora dan makin lama, semakin larut dalam godaan setan yang tak bisa kami hindari.
Malamnya, Nico mengundang kami makan malam di kamarnya. Aku sudah siap dengan pakaian yang sopan, tapi suamiku menyuruhku mengganti rok yang super mini, nyaris tak menutupi bokong.
Itu pun belum cukup menurutnya. Dia juga memintaku tidak memakai bra.
Aku ragu cukup lama, tapi akhirnya menuruti kata-katanya.
“Sayang, kamu kelihatan sexy banget!” pujinya sambil menatapku dengan penuh kekaguman.
“Aduh … bagaimana aku keluar dengan baju seperti ini? Memalukan sekali ….” ujarku sambil menunduk.
“Justru itu yang aku mau, biar dia lihat betapa sempurnanya tubuh istriku! Lihat boleh, sentuh tidak! Biar dia frustasi!” katanya menggoda.
“Dasar nakal ….” gumamku. Saat melihat diriku di cermin, dengan mata sayu dan wajah merona, aku mulai goyah … bahkan sedikit terbakar gairah.
“Kalau malam ini Nico menggodamu, kamu mau?” bisik suamiku di belakangku sambil membenamkan wajahnya ke leherku dan menghirupnya dalam-dalam, suaranya campur aduk antara mabuk dan gairah.
“Kalau iya … kamu masih akan mencintaiku?” tanyaku pelan, mencoba mengalihkan, meski dalam pikiranku sudah kacau balau.
Bab 2
“Tentu saja! Aku hanya mau kamu bahagia!”
“Tapi kamu juga nggak boleh rugi … kecuali dia mau tukar dengan pacarnya!”
Setelah puas bercanda gurau, sebelum keluar kamar, aku tetap memutuskan mengenakan jaket tipis.
Suamiku tidak melarang, lagipula kami juga baru saja kenalan dengan mereka.
Pintu dibuka oleh Jane, dia mengenakan celana yoga ketat yang memperlihatkan perutnya yang rata dan pinggang mungil yang begitu proporsional. Ditambah dengan wajah cantiknya yang nyaris sempurna, seluruh tubuhnya tampak kencang dan lembut, benar-benar menggambarkan keindahan tubuh anak muda.
Kami pun berbasa-basi sebentar. Tiba-tiba, Nico datang membawa beberapa botol anggur merah dan segera mengajak kami duduk.
Mulut suamiku sangat manis seolah habis minum madu, terus saja memuji Jane. Entah itu cantiklah, kulitnya muluslah, sampai Jane sendiri jadi kikuk menahan senyum.
Karena terbawa suasana, Jane membuka ponselnya dan mulai menunjukkan foto-foto pemandangan yang dia potret selama perjalanan. Jujur saja, hasil jepretannya lumayan bagus, foto-fotonya seperti potongan surga dunia.
Aku tanpa sadar terus menggulir layar, terpukau melihat setiap fotonya. Suamiku juga mengangguk, memberikan komentar.
Tiba-tiba, sebuah foto pribadinya muncul di layar!
Dalam gambar itu, Jane sedang berpose gaya doggy sambil menoleh ke belakang dengan tatapan menggoda. Yang paling mengejutkan, dia tak mengenakan apapun. Nico berdiri di belakangnya sambil foto dengan ekspresi puas.
Jane yang sedang mengambil lauk menyadari perubahan ekspresi kami, dia pun penasaran dan mendekat melihat layar.
Begitu menyadari foto pribadinya terpampang jelas di hadapan kami, wajah Jane langsung memerah.
Dia reflek menutup wajahnya dan merebahkan tubuh ke atas meja.
Dia pun bergumam kesal pada Nico, “Bukannya kamu sudah hapus semua foto itu? Kok masih ada satu? Malunya!”
Nico langsung panik, buru-buru mendekat untuk menenangkan Jane. Aku juga ikut meminta maaf.
Namun, suamiku malah terlihat tenang, sambil mengangkat botol anggur merah, lalu berkata santai, “Usiaku lebih tua dari kalian, sebagai kakak aku mau bicara sedikit, kalian nggak keberatan, ‘kan?”
Jane masih menunduk, tapi mulai tenang dan tak membantah.
Aku tahu, orang paling membuat Jane malu saat ini … adalah suamiku.
Karena dia lawan jenis dan tadi sudah melihat habis seluruh tubuh Jane.
“Jujur, aku sangat paham dengan kalian, karena kami juga pernah mengambil foto-foto seperti itu. Bahkan … kepergok orang asing pas lagi di jalan,” cerita suamiku sambil menatap ke arahku.
Aku jadi gelisah, rasanya ada gejolak aneh, seperti ingin membuang air kecil.
“Apa yang terjadi?” tanya Nico yang lebih penasaran dibanding Jane.
Suamiku meminum sedikit anggur merah dan mulai menceritakan kejadian waktu kami kepergok mobil lain saat sedang bermesraan di luar mobil.
Nico pun terlihat menelan ludah berkali-kali.
Matanya berpindah-pindah dari suamiku ke arahku, terlihat penuh pertanyaan tapi segan.
Sementara itu, tatapan Jane semakin sayu, larut dalam ceritanya.
“Kak May, kamu nggak takut waktu lampu mobil itu menyinari kalian?” tanya Jane dengan malu, tapi penuh rasa ingin tahu.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, aku menyembunyikan wajahku di dada suamiku, pura-pura malu, sambil melirik reaksi pasangan muda itu.
Semakin lama pembicaraan berlangsung, suasana di ruangan pun terasa berubah. Seolah ada hawa aneh yang melayang di udara.
Jane seolah mendalami peran dalam cerita, tubuhnya mulai gelisah, sesekali menggeliat kecil. Dengan pipi merona, dia terus bertanya pertanyaan aneh-aneh.
Tatapan Nico ke arah suamiku pun berubah, seolah menyiratkan sesuatu yang hanya bisa dipahami sesama pria yang telah berpengalaman.
“Kak Roy, boleh ceritakan lebih banyak nggak? Aku masih mau dengar,” katanya pada suamiku.
Melihat kesempatan yang tepat, suamiku pun tersenyum dan makin menjadi.
Dia menegakkan tubuhku, tangannya melingkar di pinggangku, sambil berkata, “Sebenarnya … di balik rok ini, dia nggak pakai apa-apa.”
Nico terpaku, matanya membelalak menatapku, tak bisa berkata apa-apa.
“Nggak percaya?” tanya suamiku langsung menarik rokku ke bawah dan tubuhku pun terbuka sepenuhnya di depan mereka ….