Bab 2
Beberapa kalimat itu membuat Hosana terdiam.
Selama beberapa tahun terakhir, dia memang tidak bekerja, bukan karena malas, tetapi karena efek samping pada tubuhnya akibat terlalu memaksakan diri saat mendampingi Jack membangun bisnis beberapa tahun terakhir.
Ketika mereka baru mulai mencari klien, Jack yang masih muda sangat gengsi dan kurang pandai bernegosiasi. Alhasil, tidak ada yang mau memberinya kesempatan.
Saat itu, Hosana harus menunduk, menuang minuman dan meminum gelas demi gelas alkohol untuk menemani para klien. Hingga akhirnya, dia menderita pendarahan lambung, tetapi itulah cara dia mendapatkan proyek demi proyek untuk Jack.
Saat Jack berhasil dalam bisnisnya, kesehatan Hosana pun sudah hancur total. Dia mengalami menopause dini dan harus dirawat di rumah sakit selama setengah tahun.
Namun kini, dirinya justru disalahkan karena memilih tinggal di rumah untuk memulihkan tubuh dan tidak bekerja.
Hosana kembali ke kamar tidur dengan tenang. Dia merobek laporan pemeriksaan kehamilan yang baru saja dia terima hari itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Malam itu, Hosana kembali mengalami insomnia.
Dia hanya bisa tidur selama dua jam jam dengan bantuan obat.
Sejak hari itu, pertengkaran antara mereka hampir terjadi setiap hari.
Setengah bulan yang lalu, Jack menyatakan rencananya untuk membuka cabang perusahaan di luar negeri dan berniat pindah ke sana.
Awalnya, Hosana berpikir ini adalah kesempatan untuk membuat Jack berpisah dengan Luna.
Namun tak disangka, Jack justru mengusulkan untuk membawa Luna bersamanya keluar negeri.
Hari itu adalah ketiga kalinya Jack kembali membahas rencana itu.
Akhirnya, Hosana pun menyerah.
Dia hanya makan beberapa suap dan melirik ke arah balkon.
Jack masih berdiri di sana dan sedang menelepon seseorang dengan senyuman di wajahnya.
Hosana berdiri dan berjalan ke papan tulis ruang tamu, dia menulis angka 7 di sana.
Keesokan harinya, Hosana bangun lebih awal dari biasanya.
Begitu sadar, dia segera menghubungi seorang pengacara untuk berkonsultasi tentang perceraian.
"Bu Hosana, kalau Pak Jack bersedia menandatangani perjanjian cerai, itu akan lebih baik."
"Kalau dia nggak setuju, kamu bisa menggunakan alasan berpisah tempat tinggal selama satu tahun di dalam dan luar negeri. Kalau kamu menggugat cerai setelah itu, kemungkinan besar kamu akan menang."
"Tapi, kamu benar-benar yakin mau cerai?"
Pengacara Tohap adalah pengacara yang baru saja dicari Hosana.
Dia tampak terkejut saat mengetahui Hosana ingin bercerai.
Di mata orang luar, Jack tampak sebagai suami yang sempurna, selalu perhatian kepada Hosana dan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain.
Hosana menundukkan pandangannya, tatapannya tampak dipenuhi kesedihan.
"Dia selingkuh."
Pengacara itu terdiam beberapa detik, lalu meminta maaf. Hosana pun melanjutkan,
"Tolong kirimkan perjanjian cerai itu padaku, aku akan menandatanganinya dan mengirimkannya ke luar negeri."
"Tujuh hari lagi, dia akan sampai di luar negeri. Aku akan memastikan dia menerima dokumen itu." Baru saja dia menutup telepon, Hosana menyadari Jack berdiri di depan pintu kamar.
Tatapannya tertuju pada Hosana dengan raut wajah yang muram.
"Apa yang kamu bicarakan? Perjanjian cerai apa?"
Hosana tidak menyangka bahwa Jack akan mendengar pembicaraannya.
Dia menggenggam ponselnya erat-erat, lalu dengan santai mencari alasan.
"Oh, ini temanku, dia sedang mempertimbangkan untuk bercerai."
Jack pun tidak mencurigai apapun.
Dia sama sekali tidak berpikir bahwa Hosana akan tega meninggalkannya, apalagi mengira bahwa teman yang Hosana maksud adalah dirinya sendiri.
Sebaliknya, Jack mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto rumah baru di luar negeri kepada Hosana.
"Aku sudah beli dua vila di sana. Yang besar akan kita tinggali dan yang kecil untuk Luna."
"Dan sertifikat vila itu atas nama dia, kamu jangan mencoba menghentikanku. Dia sudah menemaniku bertahun-tahun dan aku harus memberinya sesuatu sebagai balasan."
Seketika, hati Hosana bergetar.
Artinya, tidak ada satu pun vila atas nama dirinya?
"Kamu bilang dia nggak menginginkan apapun, tapi sekarang dua vila itu atas namanya?"
"Saat kamu membangun bisnis dulu, aku yang banyak membantumu. Apa ini caramu membalas budi? Kamu nggak punya hati nurani?"
Jack menatap Hosana dengan tatapan tidak puas dan berkata dengan suara rendah,
"Aku sudah memberimu cukup banyak, seharusnya kamu bersyukur."
"Saat aku transfer uang untuk pembelian dua vila itu, dia hanya bilang kalau dia nggak punya aset properti. Dia nggak minta secara langsung, aku hanya memberinya karena kasihan padanya."
Hati Hosana benar-benar hancur, merasa semuanya terlalu konyol.
Namun, belum sempat Hosana bicara, langsung terdengar suara dari arah pintu.
Mereka berdua menoleh dan Luna sudah muncul di sana.
Dia mengenakan gaun putih polos dan membawa dua kantong belanja besar dari supermarket.
Kulitnya putih bersih dan riasannya terlihat halus dan anggun.
Terlihat dia sangat bersemangat.
Sebulan yang lalu, Hosana baru mengetahui sebuah fakta saat melihat kembali riwayat percakapan di ponsel Jack.
Setelah karir Jack sukses, ternyata dia diam-diam mengirimkan uang sebesar seratus juta setiap bulan kepada Luna.
Setiap kali mentransfer, Jack selalu bilang,
"Terimalah, ini hutangku padamu. Aku nggak boleh membiarkanmu mengikutiku tanpa mendapatkan apa-apa."
"Sayangnya, dia datang lebih dulu darimu. Dia lebih beruntung daripada kamu."
Hosana menatap Luna dan tatapan mereka bertemu. Pandangan Luna terlihat penuh kesombongan.
Meski penampilannya seperti wanita lemah lembut dengan gaya cinta pertama yang anggun, raut wajahnya yang mungil dan menawan jelas menunjukkan 'aku datang untuk menunjukkan kekuatanku'.
Hosana mengernyit dan menatap Jack dengan wajah muram.
"Kenapa dia datang ke sini? Bukankah sudah kubilang, dia nggak boleh masuk ke rumah ini, selangkah pun nggak diizinkan!"
Jack sedikit merasa bersalah dan mengalihkan pandangannya.
"Luna ulang tahun hari ini. Kamu sudah setuju dia ikut keluar negeri, jadi dia mau memanfaatkan kesempatan ini untuk memasak dan mengucapkan terima kasih padamu."
Setelah terdiam sejenak, Jack melanjutkan lagi dengan kesal,
"Dia bahkan sudah berusaha bersikap baik padamu, kamu jangan terlalu keras kepala. Dia sudah menahan banyak penderitaan selama ini, itu juga nggak mudah."
Hosana menatap angka 7 yang ditulis di papan tulis, menarik napas panjang dan menahan rasa jijiknya.
"Bilang sama dia, aku nggak makan daun sop. Jangan taruh daun sop di masakannya."
Senyuman di wajah Luna langsung memudar.
Kata-kata itu terdengar seperti memerintahkan pelayan yang sedang memasak untuknya?
Luna masuk ke dapur dan mulai memasak lauk empat sehat lima sempurna.
Namun, dia tidak membawa makanan itu keluar. Sebaliknya, dia mengintip dari dapur dan memanggil Hosana,
"Hosana, tolong bantu aku bawa makanannya."
Hosana berjalan ke dapur dan melirik makanan yang ada di meja.
Empat lauk dan satu sup, semuanya diberi daun sop.
Di sisi lain, Luna sedang mengoleskan lipstik berwarna pucat di bibirnya, membuat bibir merahnya tampak pucat.
Dia menatap Hosana dengan pandangan arogan dan berkata dengan nada manis,
"Jack pasti akan sangat kasihan kalau melihat aku kelelahan seperti ini, dia nggak akan tega denganku."
Hosana melirik wajah Luna yang terlihat sedikit lesu.
Jack memang sangat memanjakan Luna.
Akhir-akhir ini, Jack sering berkata padanya,
"Luna sudah banyak berkorban untukku, sedangkan kamu hanya sekedar menemaniku saat membangun bisnis."
Awalnya, Hosana masih mencoba membela diri. Namun kini, dia sudah malas berbicara apapun.
"Kamu nggak capek berpura-pura setiap hari?"
Luna mendengus, lalu mengambil sup yang sudah matang. Dia menatap Hosana dengan sinis.
"Nggak kok, setidaknya ini jauh lebih baik daripada kamu yang bekerja mati-matian, memberikan segalanya hingga menghancurkan kesehatanmu, tapi tetap saja berakhir dengan diabaikan!"
"Kalau aku jadi dirimu, aku pasti sudah minta cerai dengan Jack."
Hosana menatap Luna dengan dingin, lalu melipat kedua tangan di depan dada.
"Sudah bosan hidup lama di got busuk, sekarang mau merubah nasib?"
Luna meletakkan sup di meja dan melipat kedua tangan di depan dada, meniru Hosana.
Karena bertahun-tahun menjadi orang yang dimanjakan Jack, dia tampak percaya diri dan tenang.
"Jujur saja, selain statusku yang bukan istrinya, di semua sisi lainnya aku jauh lebih cocok menjadi istrinya daripada kamu."
"Aku sudah kenal Jack selama sembilan tahun. Dalam sembilan tahun ini, kami selalu mengirim pesan setiap hari."
"Dia selalu memberitahuku semua yang terjadi dalam hidupnya. Aku tahu setiap emosi yang dia rasakan, aku bahkan tahu kata sandi mobile bank di ponselnya."
"198111, kalau nggak percaya, coba saja."
Hosana tertegun.
Setelah menjadi hubungan selama dua belas tahun, Jack tak pernah memberitahunya kata sandi banknya.
Sebagai istri sah, Hosana tidak pernah merasakan hak-haknya sebagai seorang istri. Sebaliknya, hak itu diberikan kepada Luna.
"Sudah cukup?" tanya Hosana.
Melihat raut wajah Hosana yang mulai kesal, Luna tersenyum puas.
"Kamu masih bisa tahan hidup dengan suami yang sudah selingkuh?"
Bab 3
"Sudah selesai?" tanya Hosana lagi.
Luna tertegun sejenak, tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Hosana. Namun, dia tetap ingin memancing emosinya.
"Aku nggak akan meninggalkan dia. Kalian mau keluar negeri? Aku juga ikut!"
"Aku akan terus dekat dengan Jack. Bagaimanapun juga, dia mencintaiku. Selama ada aku, pernikahanmu nggak akan bahagia!"
Usai bicara, Hosana meletakkan piring di tangannya dan menyipitkan matanya.
"Sudah selesai? Kalau begitu, sekarang giliranku."
"Saran dariku, kalau mau jadi selingkuhan, lebih baik diam-diam saja, jangan terlalu berisik."
Usai bicara, Hosana mengangkat tangannya dan menampar wajahnya hingga miring.
Luna kehilangan keseimbangan, kakinya terkilir dan mengenai mangkuk sup di meja. Sup itu tumpah ke tubuhnya, membuatnya menjerit kesakitan,
"Aaaa, panas!"
Jack yang mendengar suara itu segera berlari ke dapur.
"Luna, ada apa?"
Luna mendongakkan kepala, memperlihatkan pipi kanannya yang memerah akibat tamparan dan tangan kirinya yang melepuh karena sup. Dengan penuh kebencian, dia menunjuk Hosana yang tetap terlihat tenang.
"Suamiku, dia menamparku, dia juga menyiram sup panas itu ke badanku!"
Suami?
Hosana menahan rasa mualnya.
Jika Jack adalah suami Luna, lantas siapa suami Hosana?
Jack memeluk Luna yang terjatuh di lantai dengan penuh kasih sayang. Lalu, dia menatap Hosana dengan wajah muram.
"Minta maaf sama Luna."
Hosana mengernyit, sup panas juga mengenai tubuhnya. Dengan wajah pucat, Hosana berkata,
"Kamu nggak mau bertanya dulu apa yang sebenarnya terjadi?"
Wajah Jack menegang. Dia menatap Luna yang terlihat menyedihkan dengan penuh rasa iba.
"Luna itu gadis baik, dia bahkan sudah menemaniku bertahun-tahun tanpa meminta status apapun. Apa yang membuatmu berpikir dia bisa sejahat itu? Dia nggak mungkin mencari masalah padamu."
Hosana terdiam, menatapnya dengan tatapan penuh kepedihan.
Dulu, saat di sekolah, Hosana pernah difitnah oleh teman sekelasnya karena mencuri uang.
Saat guru wali kelas memanggilnya untuk diinterogasi, Jack yang berlari masuk ke ruang guru untuk membelanya,
"Pak, Hosana itu gadis baik, dia nggak pernah mengeluh meski diperlakukan nggak adil. Bagaimana mungkin dia mencuri uang?"
Namun sekarang, kata-kata serupa justru digunakan Jack untuk membela wanita lain.
"Aku akan minta maaf, tapi aku nggak akan mengizinkan dia ikut keluar negeri dengan kita."
Satu kalimat itu membuat Luna menggertakkan,
"Kenapa? Kamu nggak berhak memutuskannya!"
Wajah Jack langsung berubah muram.
"Jangan sampai aku marah," ujar Jack.
Mata Hosana memerah, dia mendongak sedikit agar air matanya tidak jatuh. Dia berkata,
"Jangan paksa aku untuk panggil pengacara dan mengungkapkan hubungan kalian berdua ke publik."
Wajah Jack memuram. Setelah beberapa saat, dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Baiklah, kali ini aku maafkan kamu, jangan diulangi lagi."
Usai bicara demikian, Jack menggendong Luna ke sofa ruang tamu dan mencarikannya salep luka bakar.
Saat Hosana keluar dari dapur, dia sekilas melihat kedua orang itu bermesraan. Tanpa berkata apa-apa, dia naik ke kamar utama.
Ketika Jack tidak ada, Hosana mengambil ponselnya.
Dia membuka layar mobile banking, memasukkan nominal acak, lalu mengetikkan kata sandi yang tadi disebutkan Luna.
"Transfer berhasil."
Hosana terdiam beberapa saat. Setelah menghapus jejaknya, dia meletakkan ponsel itu kembali.
Kata sandi bank suaminya sendiri justru diketahui dari wanita lain.
Betapa ironisnya.
Di lantai bawah, Jack menekan handuk hangat ke pipi kanan Luna dan mengoleskan salep luka bakar di tangannya.
Mata Luna berkaca-kaca, dengan penuh kesedihan, dia mengeluh,
"Aku yang ditampar, tapi dia sama sekali nggak merasa bersalah. Kenapa dia begitu jahat?"
"Sayang, kenapa kamu nggak membelaku? Kamu juga tampar dia dong."
Wajah Jack memuram, tetapi dia tetap sabar.
"Bagaimana kalau dia marah dan berubah pikiran, nggak mengizinkanmu ke luar negeri? Semua ini juga demi kamu."
Luna menundukkan kepala, lalu berkata,
"Yasudah, tapi malam ini ulang tahunku, kamu harus menemaniku."
"Iya, tuan putriku."
Jack menunduk dan mencium bibirnya dengan penuh kasih sayang.
Keduanya tidak menyadari bahwa Hosana berdiri di lantai dua, menatap mereka dengan dingin dari atas.
Tak lama kemudian, Jack masuk ke kamar utama.
Wajahnya muram, dia berkata bahwa luka bakar Luna cukup parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Hosana tidak menanggapinya.
Begitu Jack pergi, Hosana kembali membuka ponselnya dan melihat riwayat percakapan.
Setiap tahun, di hari ini, Jack selalu berkata bahwa dirinya sibuk dengan pekerjaan.
Sebelum tidur, Hosana menghapus angka 7 yang ada di papan tulis dan menuliskan angka 6.
"Enam hari lagi."
Keesokan paginya, saat Hosana bangun, Jack sudah kembali.
Kantong matanya terlihat hitam kebiruan, jelas sekali dia bergadang menikmati malamnya.
Hosana sedang sarapan, Jack melihat tulisan di papan tulis dan mengernyit.
"Apa maksudnya angka enam?"
Hosana menjawab dengan datar,
"Enam hari lagi kita berangkat keluar negeri."
Enam hari lagi, dia akan menyelesaikan hubungan dua belas tahunnya.
Enam hari lagi, dia akan meninggalkan semuanya.
Jack merasa ada yang aneh, tapi belum sempat memikirkannya lebih lanjut, ponselnya berdering.
Begitu Jack pergi, Hosana mulai membereskan barang-barangnya.
Rumah itu tidak akan dijual, meskipun Jack pindah keluar negeri.
Hosana mengemas semua barang pribadinya untuk dikirim ke rumah orang tuanya.
Semua hadiah dari Jack, tidak ada satu pun yang dia bawa.
Setelah selesai, hari sudah sore. Dari arah pintu, terdengar suara gaduh.
Hosana menoleh dan melihat Luna berdiri di belakang Jack dengan wajah penuh kemenangan, sambil membawa koper di tangannya.
Bab 4
Hosana sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan kedua orang ini.
Dia mengernyit, tetapi tetap tenang tanpa marah.
Dengan suara datar, dia berkata, "Kamar di sebelah kamar utama lebih besar, suruh dia tinggal di sana saja."
Lagipula, semua barang-barangnya sudah dia kirimkan.
Tempat ini sudah tidak lagi menjadi rumahnya.
Jack tidak menyangka Hosana akan begitu mudah mengalah. Baru saja dia merasa ada yang aneh, Luna menarik lengan bajunya sambil tersenyum manis.
"Suamiku, ayo bawa aku naik ke atas."
Setelah mengantar Luna ke kamar, Jack kembali ke kamar utama.
Separuh ruangan itu tampak kosong.
Semua barang milik Hosana sudah tidak ada.
Jack mengernyit, merasa aneh dan bertanya,
"Ke mana barang-barangmu?"
Hosana duduk di tepi ranjang, malas menatapnya.
"Aku sudah minta kurir mengirimnya keluar negeri. Jadi, aku nggak perlu repot beli pakaian baru nanti."
Tatapan Jack tertuju pada kotak perhiasan di atas meja.
Di dalamnya adalah hadiah-hadiah yang dia berikan pada Hosana selama bertahun-tahun.
"Kenapa kamu nggak sekalian kirim hadiah yang kuberikan padamu?"
Hosana menggaruk kepalanya.
Dia lupa membuangnya ke tempat sampah.
"Oh lupa, aku kirim besok."
Jack mengernyitkan dahi, lalu berkata dengan nada dingin,
"Jangan sampai minta aku menggantinya lagi nanti. Aku nggak punya waktu dan uang untuk dihabiskan untuk hal-hal seperti itu."
Hosana mengatupkan bibirnya, tidak berkata apa-apa.
Saat makan malam selesai, Jack mengeluarkan dua kunci mobil.
Dia terlebih dulu menyerahkan kunci mobil Mercedes kepada Hosana.
"Aku sudah beli mobil ini sebulan yang lalu. Setelah sampai di sana nanti, mobil ini untukmu."
Hosana menerima kunci itu tanpa menunjukkan sedikitpun rasa senang.
"Suamiku, di mana untukku?"
Luna memanyunkan bibirnya sambil merajuk.
Jack mengeluarkan kunci mobil McLaren dari saku, lalu mengusap wajah Luna dengan gemas.
"Aku nggak akan melupakan punyamu, aku tahu kamu suka model mobil sport ini."
Luna menerima kunci itu, lalu melirik Hosana dengan senyuman penuh kemenangan.
Seketika, wajah Hosana memuram.
Dirinya diberi mobil Mercedes seharga satu miliar.
Sementara itu, Luna mendapat mobil McLaren senilai empat miliar.
Jelas sekali, Jack sudah merencanakan semua ini sejak sebulan yang lalu.
"Mercedes juga bagus, kenapa kamu terlihat nggak senang? Sebenarnya aku cukup suka mobil Mercedes."
Luna tersenyum, berpura-pura menunjukkan ekspresi irinya.
"McLaren ini terlalu mencolok, aku lebih suka yang sederhana."
Hosana mengernyit, lalu menyerahkan kunci mobil Mercedes itu kepada Luna tanpa ragu.
"Kalau kamu suka, pakai saja," ujar Hosana.
Lagipula, semua yang seharusnya dia dapatkan sudah tertulis dalam surat perceraian.
Melihat Hosana dengan murah hati menyerahkan mobil itu, Jack merasa puas.
Dulu, jika terjadi hal seperti ini, Hosana pasti akan marah, membanting barang dan memakinya karena tidak setia.
Namun sekarang, Hosana terlihat begitu tenang.
Sepertinya, dia benar-benar sudah menyerah.
Ini adalah sikap yang selama ini diharapkan Jack darinya.
Tiga hari kemudian, Hosana menerima telepon.
"Bu Hosana, hadiah ulang tahun yang kamu pesan tiga bulan lalu sudah selesai dibuat, kapan kamu mau mengambilnya?"
Hosana mengernyit, itu adalah hadiah jam tangan mewah yang dia pesan khusus untuk ulang tahun Jack dua hari lagi.
Dulu, dia bahkan rela membayar lebih agar pekerja bisa menyelesaikannya lebih cepat.
Namun sekarang, hadiah itu sudah tidak ada gunanya.
"Sumbangkan saja!"
"Apa?" terdengar suara di ujung telepon yang bingung.
"Aku sudah mau cerai, tolong bantu aku sumbangkan saja, terima kasih."
Nada suara Hosana tetap tenang.
Petugas toko terdiam beberapa detik sebelum buru-buru meminta maaf.
Hosana menutup telepon, lalu memesan taksi ke rumah sakit.
Di poliklinik kandungan, dokter yang berjaga adalah Yanti, sahabatnya.
Yanti melirik ke belakang Hosana dan tidak melihat Jack.
"Biasanya kalau kamu ke rumah sakit, Jack selalu meninggalkan pekerjaannya untuk menemanimu. Tapi dua tahun terakhir, dia malah nggak pernah datang lagi, Ada apa?"
Hosana duduk, tersenyum getir dan dengan ragu menyentuh perutnya.
Dia bertanya, "Yanti, tolong aturkan jadwal operasi aborsi untukku."
"Kamu gila?"
Yanti membelalakkan matanya, mengira Hosana hanya sedang kesal.
"Kamu sudah mencoba program hamil selama tiga tahun. Sekarang akhirnya berhasil, janinmu juga sehat, kenapa malah mau menggugurkannya?"
Hosana menatap sahabatnya dengan serius, tidak berniat menyembunyikan apapun.
"Aku sudah mau cerai, pernikahan ini membuatku terlalu tertekan."
Ujar Hosana dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Yanti sepertinya sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dia dengan cepat menyiapkan dokumen untuk operasi dan menemani Hosana masuk ke ruangan operasi.
Dua jam kemudian, Hosana pulang ke rumah.
Di ruang tamu, Jack terlihat bahagia sambil dengan lembut mengusap perut Luna.
"Luna, kamu benar-benar pembawa keberuntungan bagiku."
"Hosana mencoba program hamil selama tiga tahun dan nggak berhasil. Tapi baru sebulan denganmu, aku sudah akan menjadi seorang ayah."
Wajah Luna penuh kebanggan, dia berkata dengan nada manja,
"Sepertinya bukan salah cangkulnya, tapi tanahnya."
Langkah Hosana terhenti sejenak saat mendengar itu. Wajahnya memucat, tetapi dia tetap berjalan menaiki tangga dengan tenang.
Tidak lama, Jack menyusul ke kamar. Dia melirik Hosana, sama sekali tidak menyadari betapa pucat wajahnya. Lalu berkata dengan nada dingin,
"Luna sudah hamil, kamu nggak perlu merasa terbebani dengan usaha hamil lagi."
"Aku juga sudah berjanji padanya. Anak ini akan mendapat semua kasih sayang dariku dan aku nggak akan pelit dalam menghabiskan uang untuknya."
Setelah berhenti sejenak, pandangannya tertuju ke perut Hosana.
"Salahkan dirimu sendiri karena rahimmu yang nggak berguna."
Hosana duduk di tepi ranjang, menatap pria di depannya dengan dingin. Bibirnya yang pucat perlahan terbuka,
"Kalau aku dan Luna hamil di waktu yang sama, apakah kamu akan lebih sayang anaknya?"