Bab 1

Di tahun kelima pernikahan dengan Jack, untuk ketiga kalinya Jack mengusulkan agar mereka pindah keluar negeri bersama Luna.

Hosana meletakkan hidangan yang baru saja dia masak, lalu menanyakan alasannya.

Jack langsung terus terang,

"Aku nggak mau menyembunyikannya lagi darimu, sebenarnya Luna tinggal di rumah sebelah."

"Dia sudah menemaniku selama sembilan tahun, aku berutang banyak padanya. Aku harus membawanya pindah keluar negeri kali ini dan tinggal di sana."

Hosana tidak menangis atau marah. Sebaliknya, dengan tenang dia membelikan tiket pesawat untuk Luna.

Jack mengira Hosana akhirnya mengerti dan menerima kenyataan.

Di hari keberangkatan, setelah mengantar mereka naik pesawat, Hosana berbalik dan langsung naik pesawat lain untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Nyonya, kamu yakin mau membatalkan tiket penerbangan keluar negeri bersama Pak Jack?"

Terdengar suara ragu sekretaris dari balik telepon.

Hosana berdiri di balkon, melirik pohon kering di bawah dan mengambil keputusan,

"Iya, batalkan saja. Bantu aku pesankan satu tiket pulang ke rumah orang tuaku di hari yang sama dan juga satu lagi tiket ke luar negeri untuk Luna."

"Tujuh hari lagi, aku sendiri yang akan mengantar mereka ke bandara, lalu aku akan terbang ke rumah orang tuaku."

Sekretaris di balik telepon terdiam sejenak.

Luna adalah orang ketiga dalam pernikahan ini, apa yang sebenarnya direncanakan Nyonya Hosana?

Meski bingung, sekretaris tetap mengiyakan,

"Baik, Nyonya."

Hosana pun menutup teleponnya.

Di ruang tamu, Jack yang melihatnya masuk langsung berdiri dengan raut wajah tidak sabar.

"Bagaimana? Sudah dipikirkan? Luna masih menunggu jawabanku."

Sepuluh menit sebelumnya, Hosana baru saja selesai memasak.

Begitu pulang, Jack langsung mengungkapkan semuanya.

"Aku nggak mau menyembunyikannya lagi darimu, sebenarnya Luna tinggal di rumah sebelah."

"Dia telah menemaniku selama sembilan tahun, aku berutang banyak padanya. Kali ini, aku harus membawanya pindah keluar negeri dan tinggal di sana."

Hosana yang sedang menata hidangan di meja makan tertegun. Senyuman di bibirnya langsung membeku.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Jack mengusulkan untuk membawa Luna pindah keluar negeri.

Saat pertama kali mengusulkannya, Hosana kehilangan kendali. Dia menghancurkan seluruh ruang tamu dan memakinya karena tega membuat permintaan semacam itu.

Pada usulan kedua, Hosana menampar Jack dan pergi dari rumah selama tujuh hari.

Namun, selama tujuh hari itu, Jack bahkan tidak meneleponnya sekali pun.

Kali ini, Hosana memutuskan untuk merelakan semuanya.

"Aku sudah menyuruh sekretaris untuk pesan tiket untuk dia, kalian bisa pergi bersama."

"Akhirnya kamu bisa menerima juga?"

Wajah Jack yang tadinya tegang langsung mengendur. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.

Hosana menunduk, mengambil sebutir nasi dan merasakan kepahitan yang tak tertahankan di hatinya.

"Bukannya kamu bilang nggak tenang meninggalkannya hidup sendirian di sini?"

"Dia begitu polos, sangat mudah tertipu."

Setelah semuanya diungkapkan, Jack pun berhenti berpura-pura lagi.

Saat membicarakan Luna, senyuman tak sadar muncul di wajahnya.

"Sebenarnya Luna lebih cocok menjadi seorang istri daripada kamu."

"Kamu hanya beruntung bertemu denganku lebih dulu. Setelah kita pindah keluar negeri, belajarlah darinya bagaimana caranya membahagiakan seorang pria."

Usai bicara, kebetulan ponsel Jack berdering, dia pun mengambil ponselnya dan mengangkatnya di teras.

Hosana memandang punggung Jack dengan tatapan redup dan menundukkan kepalanya.

Dulu, dia selalu merasa bahwa bertemu dengan Jack adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya.

Saat kelas satu SMA, demi mendapatkan hatinya, Jack menulis 99 surat cinta untuknya.

Saat hubungan mereka diketahui oleh pihak sekolah, Jack membawa orang tuanya untuk pergi ke rumah Hosana.

Jack berlutut di depan orang tua Hosana, menangis dan memohon agar mereka merestui hubungan mereka.

Ketika hasil ujian akhir SMA diumumkan, nilai Hosana gagal.

Sementara itu, Jack yang mendapatkan nilai sangat baik, memilih diam-diam menolak kesempatan masuk universitas ternama demi menemani Hosana di kampus biasa.

Hosana pun tidak pernah mengecewakan Jack.

Saat Jack pindah ke kota lain untuk memulai usaha, Hosana dengan nekat menikah dengannya meskipun Jack tidak punya rumah, mobil dan tabungan. Dia mencurahkan seluruh dukungannya untuk membantu Jack membangun karir.

Tiga tahun berturut-turut usaha Jack mengalami kegagalan dan Hosana tetap setia mendampinginya. Mereka pindah dari apartemen kecil ke ruang bawah tanah yang lembap, bertahan hidup hanya dengan mi instan dan lauk seadanya.

Akhirnya, Jack berhasil juga.

Dengan bangga, dia mengunggah foto mereka berdua di facebook. Dia juga memberikan 80% saham perusahaan kepada Hosana sebagai tanda terima kasih dan menggelar pesta pernikahan yang megah untuk mereka.

Di hari pernikahan itu, Jack memandangnya dengan tatapan berkaca-kaca dan berkata dengan suara gemetar,

"Sayang, tanpa dukunganmu, aku nggak akan menjadi diriku hari ini. Aku akan mencintaimu untuk selamanya."

Kata-kata itu selalu terngiang di kepala Hosana.

Namun, sebulan yang lalu, dia menyadari sebuah kenyataan yang menyakitkan. Ternyata, Jack menyembunyikan seorang wanita lain.

Wanita itu bernama Luna.

Dia adalah adik kelas Jack di kampus.

Selama bertahun-tahun setelah lulus, mereka tidak pernah putus komunikasi dan selalu mengirim pesan setiap hari.

Setiap ulang tahun, Jack selalu mempersiapkan hadiah untuk Hosana, tetapi dia juga mempersiapkannya untuk Luna.

Bahkan, hadiah yang diberikan kepada Luna seringkali lebih mahal daripada yang diberikan kepada istrinya.

Di tengah kesibukannya membangun bisnis, Jack tetap meluangkan waktu satu hari dalam seminggu untuk menemui Luna.

Pada hari pesta pernikahan mereka yang tertunda, Luna juga hadir.

Dia mengenakan gaun putih pendek seperti gaun pengantin yang dipadukan dengan blazer oversized dan malam itu dia memposting sebuah status di facebook,

"Menemanimu dengan identitas yang berbeda."

Jack menyukai unggahan itu.

Keesokan paginya, saat Jack bangun, Hosana menunjukkan pesan mereka berdua di ponsel.

Dengan suara penuh emosi, Hosana bertanya,

"Sudah berapa lama kalian berhubungan? Delapan tahun? Atau sembilan tahun?"

Tanpa menyembutkan nama, Jack langsung tahu siapa yang dimaksud.

Dia tidak terlihat bersalah sedikit pun.

"Luna menyukaiku, tapi dia nggak pernah berniat mengganggu pernikahan kita. Aku dan dia menjaga komunikasi selama sembilan tahun, lalu kenapa? Apa masalahnya?"

Mata Hosana memerah, menatap pria di depannya dengan tatapan penuh rasa sakit.

"Ini namanya selingkuh! Kamu mengkhianatiku!"

Suara Hosana serak, setiap kata yang diucapkannya penuh dengan rasa sakit dan luka yang mendalam.

Namun, Jack hanya mengernyit, lalu berkata dengan nada dingin dan penuh ejekan,

"Hosana, kamu hanya tinggal di rumah dan hidup dengan penghasilanku. Tiga tahun mencoba punya anak, tapi kamu bahkan nggak bisa memberiku keturunan. Kamu nggak merasa dirimu adalah istri yang gagal?"

"Coba pikirkan posisiku, aku bukan lagi pria muda miskin seperti dulu. Aku punya tiga perusahaan atas namaku dan sudah bebas finansial. Aku hanya menghidupi seorang wanita saja, apa salahnya?"

"Luna bahkan nggak pernah mengganggumu. Aku sudah menghargai dan memahamimu, lalu apa lagi yang kamu mau?"

Bab 2

Beberapa kalimat itu membuat Hosana terdiam.

Selama beberapa tahun terakhir, dia memang tidak bekerja, bukan karena malas, tetapi karena efek samping pada tubuhnya akibat terlalu memaksakan diri saat mendampingi Jack membangun bisnis beberapa tahun terakhir.

Ketika mereka baru mulai mencari klien, Jack yang masih muda sangat gengsi dan kurang pandai bernegosiasi. Alhasil, tidak ada yang mau memberinya kesempatan.

Saat itu, Hosana harus menunduk, menuang minuman dan meminum gelas demi gelas alkohol untuk menemani para klien. Hingga akhirnya, dia menderita pendarahan lambung, tetapi itulah cara dia mendapatkan proyek demi proyek untuk Jack.

Saat Jack berhasil dalam bisnisnya, kesehatan Hosana pun sudah hancur total. Dia mengalami menopause dini dan harus dirawat di rumah sakit selama setengah tahun.

Namun kini, dirinya justru disalahkan karena memilih tinggal di rumah untuk memulihkan tubuh dan tidak bekerja.

Hosana kembali ke kamar tidur dengan tenang. Dia merobek laporan pemeriksaan kehamilan yang baru saja dia terima hari itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Malam itu, Hosana kembali mengalami insomnia.

Dia hanya bisa tidur selama dua jam jam dengan bantuan obat.

Sejak hari itu, pertengkaran antara mereka hampir terjadi setiap hari.

Setengah bulan yang lalu, Jack menyatakan rencananya untuk membuka cabang perusahaan di luar negeri dan berniat pindah ke sana.

Awalnya, Hosana berpikir ini adalah kesempatan untuk membuat Jack berpisah dengan Luna.

Namun tak disangka, Jack justru mengusulkan untuk membawa Luna bersamanya keluar negeri.

Hari itu adalah ketiga kalinya Jack kembali membahas rencana itu.

Akhirnya, Hosana pun menyerah.

Dia hanya makan beberapa suap dan melirik ke arah balkon.

Jack masih berdiri di sana dan sedang menelepon seseorang dengan senyuman di wajahnya.

Hosana berdiri dan berjalan ke papan tulis ruang tamu, dia menulis angka 7 di sana.

Keesokan harinya, Hosana bangun lebih awal dari biasanya.

Begitu sadar, dia segera menghubungi seorang pengacara untuk berkonsultasi tentang perceraian.

"Bu Hosana, kalau Pak Jack bersedia menandatangani perjanjian cerai, itu akan lebih baik."

"Kalau dia nggak setuju, kamu bisa menggunakan alasan berpisah tempat tinggal selama satu tahun di dalam dan luar negeri. Kalau kamu menggugat cerai setelah itu, kemungkinan besar kamu akan menang."

"Tapi, kamu benar-benar yakin mau cerai?"

Pengacara Tohap adalah pengacara yang baru saja dicari Hosana.

Dia tampak terkejut saat mengetahui Hosana ingin bercerai.

Di mata orang luar, Jack tampak sebagai suami yang sempurna, selalu perhatian kepada Hosana dan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain.

Hosana menundukkan pandangannya, tatapannya tampak dipenuhi kesedihan.

"Dia selingkuh."

Pengacara itu terdiam beberapa detik, lalu meminta maaf. Hosana pun melanjutkan,

"Tolong kirimkan perjanjian cerai itu padaku, aku akan menandatanganinya dan mengirimkannya ke luar negeri."

"Tujuh hari lagi, dia akan sampai di luar negeri. Aku akan memastikan dia menerima dokumen itu." Baru saja dia menutup telepon, Hosana menyadari Jack berdiri di depan pintu kamar.

Tatapannya tertuju pada Hosana dengan raut wajah yang muram.

"Apa yang kamu bicarakan? Perjanjian cerai apa?"

Hosana tidak menyangka bahwa Jack akan mendengar pembicaraannya.

Dia menggenggam ponselnya erat-erat, lalu dengan santai mencari alasan.

"Oh, ini temanku, dia sedang mempertimbangkan untuk bercerai."

Jack pun tidak mencurigai apapun.

Dia sama sekali tidak berpikir bahwa Hosana akan tega meninggalkannya, apalagi mengira bahwa teman yang Hosana maksud adalah dirinya sendiri.

Sebaliknya, Jack mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto rumah baru di luar negeri kepada Hosana.

"Aku sudah beli dua vila di sana. Yang besar akan kita tinggali dan yang kecil untuk Luna."

"Dan sertifikat vila itu atas nama dia, kamu jangan mencoba menghentikanku. Dia sudah menemaniku bertahun-tahun dan aku harus memberinya sesuatu sebagai balasan."

Seketika, hati Hosana bergetar.

Artinya, tidak ada satu pun vila atas nama dirinya?

"Kamu bilang dia nggak menginginkan apapun, tapi sekarang dua vila itu atas namanya?"

"Saat kamu membangun bisnis dulu, aku yang banyak membantumu. Apa ini caramu membalas budi? Kamu nggak punya hati nurani?"

Jack menatap Hosana dengan tatapan tidak puas dan berkata dengan suara rendah,

"Aku sudah memberimu cukup banyak, seharusnya kamu bersyukur."

"Saat aku transfer uang untuk pembelian dua vila itu, dia hanya bilang kalau dia nggak punya aset properti. Dia nggak minta secara langsung, aku hanya memberinya karena kasihan padanya."

Hati Hosana benar-benar hancur, merasa semuanya terlalu konyol.

Namun, belum sempat Hosana bicara, langsung terdengar suara dari arah pintu.

Mereka berdua menoleh dan Luna sudah muncul di sana.

Dia mengenakan gaun putih polos dan membawa dua kantong belanja besar dari supermarket.

Kulitnya putih bersih dan riasannya terlihat halus dan anggun.

Terlihat dia sangat bersemangat.

Sebulan yang lalu, Hosana baru mengetahui sebuah fakta saat melihat kembali riwayat percakapan di ponsel Jack.

Setelah karir Jack sukses, ternyata dia diam-diam mengirimkan uang sebesar seratus juta setiap bulan kepada Luna.

Setiap kali mentransfer, Jack selalu bilang,

"Terimalah, ini hutangku padamu. Aku nggak boleh membiarkanmu mengikutiku tanpa mendapatkan apa-apa."

"Sayangnya, dia datang lebih dulu darimu. Dia lebih beruntung daripada kamu."

Hosana menatap Luna dan tatapan mereka bertemu. Pandangan Luna terlihat penuh kesombongan.

Meski penampilannya seperti wanita lemah lembut dengan gaya cinta pertama yang anggun, raut wajahnya yang mungil dan menawan jelas menunjukkan 'aku datang untuk menunjukkan kekuatanku'.

Hosana mengernyit dan menatap Jack dengan wajah muram.

"Kenapa dia datang ke sini? Bukankah sudah kubilang, dia nggak boleh masuk ke rumah ini, selangkah pun nggak diizinkan!"

Jack sedikit merasa bersalah dan mengalihkan pandangannya.

"Luna ulang tahun hari ini. Kamu sudah setuju dia ikut keluar negeri, jadi dia mau memanfaatkan kesempatan ini untuk memasak dan mengucapkan terima kasih padamu."

Setelah terdiam sejenak, Jack melanjutkan lagi dengan kesal,

"Dia bahkan sudah berusaha bersikap baik padamu, kamu jangan terlalu keras kepala. Dia sudah menahan banyak penderitaan selama ini, itu juga nggak mudah."

Hosana menatap angka 7 yang ditulis di papan tulis, menarik napas panjang dan menahan rasa jijiknya.

"Bilang sama dia, aku nggak makan daun sop. Jangan taruh daun sop di masakannya."

Senyuman di wajah Luna langsung memudar.

Kata-kata itu terdengar seperti memerintahkan pelayan yang sedang memasak untuknya?

Luna masuk ke dapur dan mulai memasak lauk empat sehat lima sempurna.

Namun, dia tidak membawa makanan itu keluar. Sebaliknya, dia mengintip dari dapur dan memanggil Hosana,

"Hosana, tolong bantu aku bawa makanannya."

Hosana berjalan ke dapur dan melirik makanan yang ada di meja.

Empat lauk dan satu sup, semuanya diberi daun sop.

Di sisi lain, Luna sedang mengoleskan lipstik berwarna pucat di bibirnya, membuat bibir merahnya tampak pucat.

Dia menatap Hosana dengan pandangan arogan dan berkata dengan nada manis,

"Jack pasti akan sangat kasihan kalau melihat aku kelelahan seperti ini, dia nggak akan tega denganku."

Hosana melirik wajah Luna yang terlihat sedikit lesu.

Jack memang sangat memanjakan Luna.

Akhir-akhir ini, Jack sering berkata padanya,

"Luna sudah banyak berkorban untukku, sedangkan kamu hanya sekedar menemaniku saat membangun bisnis."

Awalnya, Hosana masih mencoba membela diri. Namun kini, dia sudah malas berbicara apapun.

"Kamu nggak capek berpura-pura setiap hari?"

Luna mendengus, lalu mengambil sup yang sudah matang. Dia menatap Hosana dengan sinis.

"Nggak kok, setidaknya ini jauh lebih baik daripada kamu yang bekerja mati-matian, memberikan segalanya hingga menghancurkan kesehatanmu, tapi tetap saja berakhir dengan diabaikan!"

"Kalau aku jadi dirimu, aku pasti sudah minta cerai dengan Jack."

Hosana menatap Luna dengan dingin, lalu melipat kedua tangan di depan dada.

"Sudah bosan hidup lama di got busuk, sekarang mau merubah nasib?"

Luna meletakkan sup di meja dan melipat kedua tangan di depan dada, meniru Hosana.

Karena bertahun-tahun menjadi orang yang dimanjakan Jack, dia tampak percaya diri dan tenang.

"Jujur saja, selain statusku yang bukan istrinya, di semua sisi lainnya aku jauh lebih cocok menjadi istrinya daripada kamu."

"Aku sudah kenal Jack selama sembilan tahun. Dalam sembilan tahun ini, kami selalu mengirim pesan setiap hari."

"Dia selalu memberitahuku semua yang terjadi dalam hidupnya. Aku tahu setiap emosi yang dia rasakan, aku bahkan tahu kata sandi mobile bank di ponselnya."

"198111, kalau nggak percaya, coba saja."

Hosana tertegun.

Setelah menjadi hubungan selama dua belas tahun, Jack tak pernah memberitahunya kata sandi banknya.

Sebagai istri sah, Hosana tidak pernah merasakan hak-haknya sebagai seorang istri. Sebaliknya, hak itu diberikan kepada Luna.

"Sudah cukup?" tanya Hosana.

Melihat raut wajah Hosana yang mulai kesal, Luna tersenyum puas.

"Kamu masih bisa tahan hidup dengan suami yang sudah selingkuh?"

Bab 3

"Sudah selesai?" tanya Hosana lagi.

Luna tertegun sejenak, tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Hosana. Namun, dia tetap ingin memancing emosinya.

"Aku nggak akan meninggalkan dia. Kalian mau keluar negeri? Aku juga ikut!"

"Aku akan terus dekat dengan Jack. Bagaimanapun juga, dia mencintaiku. Selama ada aku, pernikahanmu nggak akan bahagia!"

Usai bicara, Hosana meletakkan piring di tangannya dan menyipitkan matanya.

"Sudah selesai? Kalau begitu, sekarang giliranku."

"Saran dariku, kalau mau jadi selingkuhan, lebih baik diam-diam saja, jangan terlalu berisik."

Usai bicara, Hosana mengangkat tangannya dan menampar wajahnya hingga miring.

Luna kehilangan keseimbangan, kakinya terkilir dan mengenai mangkuk sup di meja. Sup itu tumpah ke tubuhnya, membuatnya menjerit kesakitan,

"Aaaa, panas!"

Jack yang mendengar suara itu segera berlari ke dapur.

"Luna, ada apa?"

Luna mendongakkan kepala, memperlihatkan pipi kanannya yang memerah akibat tamparan dan tangan kirinya yang melepuh karena sup. Dengan penuh kebencian, dia menunjuk Hosana yang tetap terlihat tenang.

"Suamiku, dia menamparku, dia juga menyiram sup panas itu ke badanku!"

Suami?

Hosana menahan rasa mualnya.

Jika Jack adalah suami Luna, lantas siapa suami Hosana?

Jack memeluk Luna yang terjatuh di lantai dengan penuh kasih sayang. Lalu, dia menatap Hosana dengan wajah muram.

"Minta maaf sama Luna."

Hosana mengernyit, sup panas juga mengenai tubuhnya. Dengan wajah pucat, Hosana berkata,

"Kamu nggak mau bertanya dulu apa yang sebenarnya terjadi?"

Wajah Jack menegang. Dia menatap Luna yang terlihat menyedihkan dengan penuh rasa iba.

"Luna itu gadis baik, dia bahkan sudah menemaniku bertahun-tahun tanpa meminta status apapun. Apa yang membuatmu berpikir dia bisa sejahat itu? Dia nggak mungkin mencari masalah padamu."

Hosana terdiam, menatapnya dengan tatapan penuh kepedihan.

Dulu, saat di sekolah, Hosana pernah difitnah oleh teman sekelasnya karena mencuri uang.

Saat guru wali kelas memanggilnya untuk diinterogasi, Jack yang berlari masuk ke ruang guru untuk membelanya,

"Pak, Hosana itu gadis baik, dia nggak pernah mengeluh meski diperlakukan nggak adil. Bagaimana mungkin dia mencuri uang?"

Namun sekarang, kata-kata serupa justru digunakan Jack untuk membela wanita lain.

"Aku akan minta maaf, tapi aku nggak akan mengizinkan dia ikut keluar negeri dengan kita."

Satu kalimat itu membuat Luna menggertakkan,

"Kenapa? Kamu nggak berhak memutuskannya!"

Wajah Jack langsung berubah muram.

"Jangan sampai aku marah," ujar Jack.

Mata Hosana memerah, dia mendongak sedikit agar air matanya tidak jatuh. Dia berkata,

"Jangan paksa aku untuk panggil pengacara dan mengungkapkan hubungan kalian berdua ke publik."

Wajah Jack memuram. Setelah beberapa saat, dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Baiklah, kali ini aku maafkan kamu, jangan diulangi lagi."

Usai bicara demikian, Jack menggendong Luna ke sofa ruang tamu dan mencarikannya salep luka bakar.

Saat Hosana keluar dari dapur, dia sekilas melihat kedua orang itu bermesraan. Tanpa berkata apa-apa, dia naik ke kamar utama.

Ketika Jack tidak ada, Hosana mengambil ponselnya.

Dia membuka layar mobile banking, memasukkan nominal acak, lalu mengetikkan kata sandi yang tadi disebutkan Luna.

"Transfer berhasil."

Hosana terdiam beberapa saat. Setelah menghapus jejaknya, dia meletakkan ponsel itu kembali.

Kata sandi bank suaminya sendiri justru diketahui dari wanita lain.

Betapa ironisnya.

Di lantai bawah, Jack menekan handuk hangat ke pipi kanan Luna dan mengoleskan salep luka bakar di tangannya.

Mata Luna berkaca-kaca, dengan penuh kesedihan, dia mengeluh,

"Aku yang ditampar, tapi dia sama sekali nggak merasa bersalah. Kenapa dia begitu jahat?"

"Sayang, kenapa kamu nggak membelaku? Kamu juga tampar dia dong."

Wajah Jack memuram, tetapi dia tetap sabar.

"Bagaimana kalau dia marah dan berubah pikiran, nggak mengizinkanmu ke luar negeri? Semua ini juga demi kamu."

Luna menundukkan kepala, lalu berkata,

"Yasudah, tapi malam ini ulang tahunku, kamu harus menemaniku."

"Iya, tuan putriku."

Jack menunduk dan mencium bibirnya dengan penuh kasih sayang.

Keduanya tidak menyadari bahwa Hosana berdiri di lantai dua, menatap mereka dengan dingin dari atas.

Tak lama kemudian, Jack masuk ke kamar utama.

Wajahnya muram, dia berkata bahwa luka bakar Luna cukup parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Hosana tidak menanggapinya.

Begitu Jack pergi, Hosana kembali membuka ponselnya dan melihat riwayat percakapan.

Setiap tahun, di hari ini, Jack selalu berkata bahwa dirinya sibuk dengan pekerjaan.

Sebelum tidur, Hosana menghapus angka 7 yang ada di papan tulis dan menuliskan angka 6.

"Enam hari lagi."

Keesokan paginya, saat Hosana bangun, Jack sudah kembali.

Kantong matanya terlihat hitam kebiruan, jelas sekali dia bergadang menikmati malamnya.

Hosana sedang sarapan, Jack melihat tulisan di papan tulis dan mengernyit.

"Apa maksudnya angka enam?"

Hosana menjawab dengan datar,

"Enam hari lagi kita berangkat keluar negeri."

Enam hari lagi, dia akan menyelesaikan hubungan dua belas tahunnya.

Enam hari lagi, dia akan meninggalkan semuanya.

Jack merasa ada yang aneh, tapi belum sempat memikirkannya lebih lanjut, ponselnya berdering.

Begitu Jack pergi, Hosana mulai membereskan barang-barangnya.

Rumah itu tidak akan dijual, meskipun Jack pindah keluar negeri.

Hosana mengemas semua barang pribadinya untuk dikirim ke rumah orang tuanya.

Semua hadiah dari Jack, tidak ada satu pun yang dia bawa.

Setelah selesai, hari sudah sore. Dari arah pintu, terdengar suara gaduh.

Hosana menoleh dan melihat Luna berdiri di belakang Jack dengan wajah penuh kemenangan, sambil membawa koper di tangannya.

Perjalanan Cinta Yang Sia-Sia

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya