Bab 1
Suamiku merekam proses kelahiran anakku, kemudian mengunggahnya ke situs porno.
Video tersebut cepat menyebar, dan aku mendapatkan serangan siber. Orang tuaku menyewa pengacara untuk membantuku dalam kasus ini, tapi malah membuat masalah menjadi makin parah. Akhirnya, mereka mati terlindas mobil orang yang mereka tuntut.
Aku bertahan dengan kondisi yang masih lemas pascamelahirkan, hanya untuk meminta keadilan bagi orang tuaku.
Tapi suami dan ibu mertuaku malah bersekongkol. Mereka mengusirku keluar rumah saat tengah malam. Bahkan mereka memanggil sekumpulan orang yang lebih kejam dari binatang untuk menganiaya dan membunuhku saat diriku masih dalam masa pemulihan pascamelahirkan.
Setelah aku mati, suamiku menolak melaporkan kejadian ini agar tidak dilakukan penyelidikan. Dia malah mengubur jasadku di sebuah gunung terpencil. Dia menguburkanku sambil mengomel, "Aku melakukan semua ini supaya kamu bisa hidup enak. Jangan salahkan aku kalau aku jadi kejam begini, itu karena kamu sendiri yang nggak menghargainya."
Saat aku membuka mata, aku malah kembali ke hari saat aku baru saja melahirkan.
Suamiku merekam proses kelahiran anakku, kemudian mengunggahnya ke situs porno.
Video tersebut cepat menyebar, dan aku mendapatkan serangan siber. Orang tuaku menyewa pengacara untuk membantuku dalam kasus ini, tapi malah membuat masalah menjadi makin parah. Akhirnya, mereka mati terlindas mobil orang yang mereka tuntut.
Aku bertahan dengan kondisi yang masih lemas pascamelahirkan, hanya untuk meminta keadilan bagi orang tuaku.
Tapi suami dan ibu mertuaku malah bersekongkol. Mereka mengusirku keluar rumah saat tengah malam. Bahkan mereka memanggil sekumpulan orang yang lebih kejam dari binatang untuk menganiaya dan membunuhku saat diriku masih dalam masa pemulihan pascamelahirkan.
Setelah aku mati, suamiku menolak melaporkan kejadian ini agar tidak dilakukan penyelidikan. Dia malah mengubur jasadku di sebuah gunung terpencil. Dia menguburkanku sambil mengomel, "Aku melakukan semua ini supaya kamu bisa hidup enak. Jangan salahkan aku kalau aku jadi kejam begini, itu karena kamu sendiri yang nggak menghargainya."
Saat aku membuka mata, aku malah kembali ke hari saat aku baru saja melahirkan.
Bab 2
"Sayang, terima kasih atas jasa besarmu."
Suamiku, Sandi Atmojo, mengarahkan ponselnya ke arahku sambil berlinang air mata.
Kedua tangannya terlihat gemetaran.
Dia lalu memberikan seikat mawar dan meletakkannya di samping tempat tidurku.
Aku merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuh. Tubuhku lemah tanpa daya.
Aku baru tersadar kalau diriku terlahir kembali setelah melihat pria di depanku menangis tersedu-sedu.
Aku kembali ke waktu di mana diriku baru saja melahirkan.
Di kehidupanku sebelumnya, Sandi bersikeras ingin menemani proses persalinanku.
Dokter sudah memposisikanku di atas meja persalinan.
Aku terbaring tanpa ada sehelai benang yang menutupi tubuh bagian bawahku. Aku sibuk berjuang di antara hidup dan mati demi melahirkan anakku.
Tulang rusukku rasanya mau patah setiap kali menarik napas dalam-dalam.
Sandi memegang ponsel dan mengarahkannya padaku. Dia terlihat sangat emosional.
Dengan bangga, dia mengatakan bahwa dirinya ingin merekam momen tersulit dalam hidupku.
Agar kelak bisa ditunjukkan ke anak-anak kami sebagai pelajaran.
Supaya mereka bisa menghormatiku.
Aku sendiri merasa sangat senang, karena mengira kalau suamiku sangat mencintai dan memerhatikanku.
Tapi tidak kusangka.
Begitu aku keluar dari rumah sakit, aku melihat momen memalukan. Rekaman saat aku melahirkan, tersebar di situs porno yang sering suamiku akses.
Ada jutaan orang yang sudah menonton video itu.
Bahkan ada orang yang sengaja mengunggah ulang video itu ke platform video pendek.
Aku benar-benar dipermalukan sampai kehilangan harga diri. Perhatian publik tertuju padaku.
Kerabat, teman, keluarga, dan warganet yang tidak tahu apa-apa, terus membicarakanku di belakang.
"Aku rasa ini pasti karena wanita itu yang nggak tahu diri. Makanya, ada orang yang merekam dan mengunggahnya ke internet. Wanita baik-baik mana mungkin mau direkam begitu!"
"Benar! Wanita zaman sekarang memang benar-benar tidak tahu malu demi dapat uang!"
"Siapa tahu dia memang murahan. Kalau memang dia mau punya anak, kenapa nggak sekalian tidur sama gelandangan saja!"
"Kasihan suaminya, istrinya ternyata nggak setia!"
"Teman-teman, apa kalian ada yang punya kontaknya?"
"...."
Informasi pribadiku bahkan berhasil dilacak oleh para warganet.
Pesan masuk serta kolom komentar di akun media sosialku penuh dengan hinaan kotor dan keji dari mereka.
Ada banyak notifikasi yang terus masuk ke ponselku.
Aku merasa duniaku benar-benar sudah berakhir.
Aku menarik suamiku sambil menangis.
Kumaki-maki dia dengan menyebut nama-nama hewan.
Aku menuntut penjelasan kenapa dia mengunggah video itu ke internet.
Suamiku malah menjawab dengan santai, "Aku kan melakukan semua ini supaya dapat uang?"
"Kalau nggak, bagaimana kamu bisa tinggal di Pusat Perawatan Ibu dan Bayi? Bahkan menyewa pengasuh pribadi?"
"Belum lagi menyediakan susu formula untuk anak kita."
"Semua itu kan kamu sendiri yang minta."
"Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"
Aku marah hingga tubuhku yang masih lemah ini gemetaran. Dengan sisa tenaga yang ada, kupukul saja Sandi dengan lemah tidak berdaya.
"Sandi, hanya karena alasan itu kamu tega merendahkanku sampai seperti ini?"
Ibu mertuaku tiba-tiba datang dan langsung menamparku keras.
Tamparan itu nyaris membuatku pingsan.
Dia menunjuk hidungku sambil memaki, "Dasar wanita murahan! Beraninya kamu memukul anakku!"
Ipar perempuanku bahkan berani meludah ke arahku.
Dia lalu memanggil kerabat suaminya untuk datang dan melihat keadaanku di kamar rumah sakit.
"Lihatlah, ini dia adik iparku yang suka menggoda pria."
"Sudah kubilang kalau wanita cantik itu memang pembawa sial! Siapa pun yang menikahinya pasti akan berakhir dipermalukan!"
Di hari ketiga aku dirawat.
Berita tentangku makin menyebar tidak terkendali.
Aku dicap sebagai wanita tidak bermoral, dan mendapat hujatan dari orang-orang.
Sementara suamiku, dia hanya diam sejak awal.
Dia hanya seorang pengecut yang terus-menerus bersembunyi.
Dia enggan mengucapkan satu kalimat pun demi membelaku.
Bab 3
Opini publik di internet menyebar cepat hingga ke kerabat dan teman-temanku.
Orang tuaku yang tinggal seribu kilometer jauhnya pun membaca berita tentangku di internet.
Mereka datang menginap di rumah selama tiga hari tiga malam.
Mereka berangkat dari rumah di desa dengan tergesa-gesa.
Ketika mereka melihatku, aku sedang berdiri di atap gedung apartemen. Tubuhku gemetar hingga mau terjatuh.
Ibuku berlutut di tanah, dia memohon padaku sambil menangis.
"Lina, kamu itu putri kesayangan Ibu satu-satunya. Jangan sampai kamu berpikiran yang nggak-nggak. Kalau nggak ... Ibu juga nggak akan sanggup hidup lagi!"
Ayahku juga sangat mencemaskanku, penyakit jantungnya sampai kambuh.
Dia memegangi dadanya sambil merintih kesakitan, lalu jatuh pingsan.
Aku melihat orang tuaku yang cemas dan menderita karenaku.
Kemudian, aku pun memutuskan untuk menyerah dan turun perlahan dari atap.
Setelah ayahku sadar, dia langsung menarik Sandi dengan marah, "Sandi! Putriku jadi begini gara-gara perbuatanmu!"
"Sekarang kamu cuma punya dua pilihan, mengaku dan mempertanggungjawabkan semuanya, atau ceraikan putriku!"
Sandi terlihat agak panik. Dia lalu menggendong anakku yang baru lahir sambil mengancamku.
"Lina, kalau sampai Ayahmu berani menjebloskanku ke penjara ...."
"Aku akan membuat keluargamu hancur lebur hari ini!"
"Sandi! Dasar binatang! Dia itu anakmu!"
Sandi menahan amarahnya. Wajahnya terlihat merah padam, kedua matanya membelalak lebar, "Anakku? Dia ini belum jelas anak siapa!"
Aku benar-benar tidak habis pikir Sandi bisa berkata seperti itu.
Padahal aku sudah bersama dengannya sejak di masa sekolah.
Aku bahkan tidak berani mengucapkan lebih dari satu kata saat mengobrol dengan pria selain dirinya.
Sekarang, demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sandi bahkan sampai menyalahkan dan memfitnahku.
Sepuluh tahun! Aku sudah mencintai dan akhirnya menikah dengannya selama sepuluh tahun.
Tapi dia malah berani mengucapkan kalimat hina seperti barusan pada orang yang paling mencintainya!
Sandi bahkan memanfaatkan anak kandungnya sebagai alat untuk mengancamku!
Dia sama sekali tidak pantas menjadi seorang suami, apalagi seorang ayah!
Aku benar-benar kecewa pada Sandi.
"Sandi, aku sudah memikirkannya. Aku mau kita cerai!"
Sandi malah langsung membawa anak kami dan memberikannya ke ibu mertuaku.
Dia lalu menampar wajahku dengan keras, "Pergi saja sana kalau memang mau pergi! Lagipula kamu sudah ternodai!"
"Kamu bukan siapa-siapa tanpa aku!"
Hatiku seolah-olah membeku dalam sekejap. Rasanya begitu dingin hingga membuatku sesak.
Aku menahan rasa sakit serta tidak nyaman pascamelahirkan.
Kemudian bergegas mengemasi pakaianku.
Aku dan orang tuaku berjalan keluar rumah sambil membawa koper dengan perasaan kecewa.
Begitu aku baru saja melangkah keluar.
Ibu mertuaku tiba-tiba datang dan mendorongku hingga terjatuh ke tanah.
"Cuih! Cepat pergi dari sini!"
Orang tuaku meminjam uang 1,2 miliar dari kerabat kami.
Mereka mencari pengacara terbaik di kota untuk membantuku dalam kasus ini.
Mereka berusaha menguatkanku yang hampir hancur.
Mereka mencoba menenangkanku, "Lina, meskipun kamu bercerai, ayah dan ibu akan tetap berjuang menindak orang-orang yang sudah menyakitimu."
"Nggak ada yang boleh memfitnah putri kami."
"Lina putri kami adalah perempuan paling baik di dunia ...."
Sudah tiga tahun aku tidak bertemu orang tuaku karena memilih untuk tinggal jauh bersama Sandi setelah kami menikah.
Tapi saat aku sedang di masa paling kelam, justru hanya orang tuaku yang bisa kujadikan tempat bersandar.
Padahal dulu aku selalu menganggap mereka sebagai orang kampung yang tidak tahu apa-apa.
Aku merasa mereka terlalu naif dan keras kepala.
"Ayah, Ibu, maafkan aku ...."