Bab 2
Tangisan ibu mertuaku membuat Yoga kesal.
Dia tetap harus bersikap baik dan menghibur ibunya. Makin dihibur, makin puas ibu mertuaku, dan tatapannya kepadaku sangat menantang, meskipun nada suaranya terdengar sangat memelas.
"Nak, ayahmu meninggal begitu cepat. Ibu bersusah payah membesarkanmu seorang diri, itu sudah seperti sebuah pencapaian besar!"
"Sekarang, giliran Ibu, orang tua ini, yang akan mati."
"Ibu nggak berharap diperlakukan sebaik ayahmu, tapi Ibu cuma ingin lebih banyak waktu bersamamu dan Hendi. Akhirnya ini semua salah Ibu, Ibu yang bikin kalian suami istri bertengkar. Ibu pergi, Ibu pergi!"
Tentu saja aku tahu ibu mertuaku tidak akan pergi.
Aku maju dan menarik Yoga, melarangnya ikut campur. Ibu mertuaku berjalan ke pintu. Melihat Yoga yang kutahan, dia pun mulai meraung dan menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menangis histeris.
"Nggak punya hati nurani!"
"Nak, kamu nggak boleh melupakan ibumu hanya karena punya istri!"
"Huhuhu!"
Ibu mertuaku tidak akan pergi. Ini bukan pertama kalinya dia bertindak seperti ini. Dulu, dia sering berpura-pura lemah untuk mendapatkan simpati, dan selama masa aku tinggal bersamanya, aku sering menjadi korban karena tidak cukup cerdik.
Sekarang.
Dia menggunakan trik lama lagi, tetapi dia tidak bisa lagi menipuku.
Namun, ibu mertuaku tetaplah seorang ibu. Bagaimana mungkin Yoga tidak merasa kasihan? Melihat ibunya menangis seperti ingin mati, ditambah lagi dengan penyakit kankernya, dia langsung melepaskan tanganku, mendekati ibu mertuaku, membantu mengangkatnya, dan berteriak kepadaku,
"Kamu sudah cukup bikin keributan atau belum? Cepat datang dan minta maaf pada Ibu!"
Bahkan anakku, yang selama ini paling kusayangi, menatapku dengan penuh tuduhan.
"Bu, aku sudah dengar dari Ayah dan Nenek. Hal kecil seperti itu apa pantas Ibu dendamkan selama ini, bahkan sampai mengabaikan hidup Nenek!"
Hal kecil seperti itu.
Aku tertegun melihat anakku yang kubesarkan sendiri. Belum sempat aku membuka mulut, dia sudah melanjutkan.
"Kalau Ibu nggak mengizinkan Nenek tinggal di sini, aku nggak akan mengakui Ibu sebagai ibuku lagi!"
Hendi benar-benar mengancamku.
Anak yang kubesarkan sendiri, ternyata mengancamku demi seorang wanita tua yang hampir saja membunuhnya.
Hatiku terasa dingin, dan aku tidak tahan lagi.
"Hari ini, aku akan menyatakan dengan jelas!"
"Di rumah ini, ada dia, nggak ada aku. Ada aku, nggak ada dia!" Aku gemetar karena marah, menatap mata Hendi dengan panas, hampir menangis.
Namun, anakku tidak menyadarinya, bahkan menganggapku kekanak-kanakan, lalu tertawa mengejek.
"Bu, Ibu ini kenapa? Sudah setua ini, tapi masih saja kekanak-kanakan! Kalau begitu, apa nanti kalau aku menikah, Ibu juga akan memaksaku memilih antara istriku dan Ibu?"
"Yana, bisa nggak jangan bikin keributan? Rumah yang seharusnya damai, kamu bikin kacau balau!"
Yoga memelototiku dengan wajah kesal.
"Aku sudah jadi anak yang nggak berbakti selama bertahun-tahun demi kamu. Bahkan untuk menemani ibuku di akhir hidupnya saja kamu nggak mengizinkan?"
Kata-kata Yoga membuatku benar-benar sadar.
Dalam hubungan darah dan diriku, aku bukanlah pilihan mereka. Mungkin dia pernah memilihku, tetapi itu hanya karena situasi saat itu memaksanya.
Dalam hatiku, keinginan kecil untuk dicintai oleh mereka berdua juga padam sepenuhnya.
Ibu mertuaku benar.
Hubungan darah memang tidak terpisahkan.
Mereka adalah keluarga yang sesungguhnya, satu garis keturunan yang sama.
Aku melihat mereka, lalu tersenyum. "Kalau kalian ingin merawatnya, silakan."
Tidak ada gunanya bicara.
Aku malas berdebat lebih lama, lalu berbalik masuk ke kamar.
Namun, kesunyian itu, bagi mereka, dianggap sebagai bentuk menyerahku secara tidak langsung.
Yoga sengaja meninggikan suara, mengejek, "Makanya ada yang bilang wanita itu suka lebay. Dimanjakan terus, malah menganggap dirinya penting!"
Ibu mertuaku berpura-pura menjadi orang baik lagi. "Jangan salahkan Yana."
"Semua ini salahku," suara tangisnya terdengar lagi, "Aku yang datang ke sini, membuat rumah tangga kalian jadi nggak tenang."
"Nenek, jangan bilang begitu."
Anakku mencoba menghibur ibu mertuaku, "Ibuku memang cerewet dan nggak punya hati nurani. Bahkan kepada orang tua pun nggak berbelas kasihan."
"Tenang saja, Nek," anakku dengan tegas menyatakan pendiriannya. "Aku dan Ayah sepenuhnya berada di pihak Nenek! Tinggallah di sini sepuasnya."
"Hari ini Ibu dapat bonus, nanti biar dia traktir makan besar sebagai permintaan maaf. Biar dia beli lobster Australia dan kepiting raja untuk Nenek!"
Bab 3
Hendi mengucapkan kata-kata manis yang membuat ibu mertuaku tertawa terbahak-bahak.
Sekeluarga terdengar begitu harmonis, hanya saja keharmonisan ini dibangun di atas penderitaanku. Mendengar tawa ibu mertua membuatku merasa tersiksa, seperti jarum halus menusuk-nusuk hatiku.
"Kamu juga jangan terlalu mempermasalahkan ibumu," ibu mertuaku terus memainkan perannya sebagai orang baik, "Meskipun dia dari muda suka menyimpan dendam, memang agak sempit hati, tapi bagaimanapun dia tetap ibumu. Ingat waktu kamu baru lahir dulu."
Ibu mertua berbicara sambil suaranya mulai serak lagi.
"Nenek pikir dia akan berubah, tapi siapa sangka selama bertahun-tahun, bukannya berubah malah makin parah."
Aku memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper.
Ingatanku kembali ke hari itu.
Aku diam-diam memberi makan anjing liar dan ketahuan oleh ibu mertua. Dia marah besar, menganggap binatang kotor itu bisa membahayakan cucunya, lalu mengambil pisau dapur dan mengejar untuk membunuh anjing-anjing malang itu.
Aku mengejarnya sambil menangis dan memohon agar tidak menyakiti anjing-anjing itu karena mereka sudah sangat malang.
Namun, dia memaki aku sebagai "perempuan sok suci" dan "perempuan nggak tahu malu" yang memakai uang anaknya untuk memberi makan anjing liar. Saat dia mendorong-dorongku, aku terjatuh ke jalan dan tertabrak mobil yang melintas, menyebabkan Hendi lahir prematur.
Dadaku terasa sesak. Hendi yang kecil sekali dulu, berbaring di inkubator, kini telah tumbuh besar, tetapi sudah belajar ....
Aku menutup koper dan mendorongnya keluar menuju ruang tamu. Melihat orang-orang di ruang tamu, aku tidak bisa menahan diri untuk mencemooh.
"Waktu itu Ibu menyebabkan aku tertabrak mobil, Hendi lahir prematur, dan tinggal di ruang perawatan intensif selama sebulan penuh. Apa Ibu pernah sekali saja menjenguk?"
Saat itu, Hendi lahir prematur.
Ibu mertua menangis dan melarang Yoga membayar biaya rumah sakit, mengamuk di rumah sakit, memaki-maki, mengatakan rumah sakit menipu uang. Dia bilang melahirkan saja kenapa harus dirawat dan menghabiskan begitu banyak uang.
Dia membuat keributan di rumah sakit selama dua hari.
Akhirnya orang tuaku datang tergesa-gesa dari luar kota dan membayarkan biaya pengobatan.
Aku melihat ekspresi ibu mertuaku berubah, lalu melanjutkan, "Setelah orang tuaku membayar biaya rumah sakit, kenapa kamu tiba-tiba berhenti menangis?"
"Kenapa mendadak Ibu berubah sikap dan bilang harus mengikuti saran dokter?"
Wajah ibu mertuaku tampak bersalah. Aku tidak pernah menceritakan masa lalu ini kepada Hendi. Aku selalu merasa ini adalah masalah di antara orang dewasa dan tidak seharusnya dibebankan pada anak.
Namun, melihat sikap Hendi hari ini, aku sudah tidak peduli lagi.
"Hendi tinggal di rumah sakit selama sebulan, baru saja pulang ke rumah, siapa yang tidak rela menggunakan air panas, dan memandikan anak itu dengan air dingin di musim dingin yang beku sehingga dia terkena pneumonia begitu keluar dari rumah sakit?"
Tahun itu musim dingin sangat parah.
Di luar sedang turun salju lebat. Aku baru saja pulang dari pusat perbelanjaan membeli susu formula dan botol bayi, lalu melihat ibu mertua memandikan Hendi dengan air dingin di dalam rumah berpenghangat.
Aku sangat terkejut, mendorong ibu mertuaku dan memeluk Hendi yang tubuhnya dingin, lalu segera membungkusnya dengan selimut untuk menghangatkannya.
Namun, ibu mertuaku malah berkata aku berlebihan, bahkan menegaskan bahwa anak harus dikeraskan sejak kecil agar tubuhnya kuat.
Dia menggunakan air dingin dengan alasan untuk melatih daya tahan tubuh anak.
Akibatnya, hari itu juga Hendi demam tinggi. Aku ingin membawanya ke rumah sakit, tetapi ibu mertua mencegahku dengan paksa, mengatakan demam itu karena terkena roh jahat. Bersama Yoga, mereka merebut anak itu dari tanganku dan membawanya ke kuil untuk membakar kertas jimat, membuat tiga mangkuk air jimat, lalu memaksanya meminum air itu.
Ketika aku tiba, yang kulihat adalah Hendi yang hampir kehilangan nyawa.
Hendi mendengar ceritaku dan ekspresinya menjadi kosong, lalu menoleh ke arah ibu mertuaku.
"Nenek."
"Apa yang dikatakan Ibu itu benar?"
Tentu saja benar.
Aku menatap mata ibu mertuaku yang penuh rasa bersalah. Ketika dia hampir menyerah, Yoga keluar dari ruang kerja. "Sudah berapa lama kejadian itu berlalu, kenapa kamu masih saja mengungkitnya?"
"Pada akhirnya, bukannya itu karena kamu sendiri yang nggak bisa berkomunikasi dengan baik dengan Ibu?" Yoga menyalahkanku.
"Ibu juga sangat menyayangi anak-anak. Di matamu, itu seperti dosa besar, ya?"
Dengan beberapa kata, Yoga membela ibunya sepenuhnya.
Hendi tampak tersadar.
"Bu, Ibu juga jangan menyalahkan Nenek," dia mulai berbicara dengan nada mendamaikan. "Nenek nggak berpendidikan, jadi tidak paham soal ini. Ibu terus membahas ini juga nggak ada gunanya. Lagi pula, Nenek lagi sakit."
"Jadi, Ibu jangan terus-menerus terjebak pada masalah-masalah itu."
Aku memandang ibu mertuaku, yang kini telah bangkit kembali. "Benar, Yana, bagaimanapun kita ini satu keluarga."
Ibu mertuaku melirik koper di tanganku, lalu mengubah nada bicara.
"Kamu bawa koper ini untuk apa?"
"Kamu nggak mungkin mau meninggalkan rumah lagi, 'kan?" Ibu mertuaku sengaja mengungkit masa lalu, "Dulu kamu pakai cara ini untuk memaksa Yoga mengusirku. Apa kamu sekarang juga ...."
Ibu mertuaku mulai menangis lagi.
"Pada akhirnya ini salah Ibu. Ibu nggak seharusnya datang. Ibu pergi saja!"
Ibu mertuaku bahkan belum menggerakkan tubuhnya, tetapi aku sudah melihat Hendi berdiri di depannya, dan wajah Yoga penuh dengan kemarahan. Tiba-tiba, aku merasa semua ini tidak ada artinya lagi.
Sepanjang hidupku, aku telah berkorban untuk keluarga ini.
Yang kudapatkan ....
Hanya tuduhan bahwa aku terlalu perhitungan.
Kalau begitu ....
Aku ingin melihat, tanpa aku yang dianggap suka menghitung-hitung kesalahan ini, bagaimana mereka bisa hidup harmonis.
"Ibu nggak perlu pergi."
Aku memotong drama ibu mertuaku, lalu menatap Yoga dengan dingin di bawah ekspresi terkejut ibu mertua. "Kita bercerai."