Bab 1

Di ranjang rumah perawatan pasca melahirkan. Tangan kasar perawat pria menyusuri kulitku sedikit demi sedikit, membuat tubuhku merinding.

Terutama saat melewati area sensitif, dia sengaja menekan lebih keras hingga aku tak bisa menahan suara desahan.

"Bu, pelankan suaramu. Suamimu masih di kamar sebelah." Perawat itu mengingatkan dengan nada seolah-olah peduli, tetapi jemarinya malah bergerak dengan semakin tak terkendali.

"Nggak ... ini nggak benar ...."

Aku menahan gemetar di tubuhku dan mencoba mendorong lengannya yang kekar.

"Bu, pijatan sedalam ini yang bisa meredakan gejalamu, jangan bergerak!"

Namaku Tasya, seorang wanita muda yang baru saja melahirkan.

Demi pemulihan yang lebih baik dan agar bisa merawat bayi dengan optimal, suamiku mendaftarkanku di pusat perawatan pasca-melahirkan terbaik di kota. Kudengar ada seorang perawat di sana yang memiliki teknik pijat warisan keluarga dan banyak ibu yang baru melahirkan berhasil pulih total berkat perawatannya.

Seorang sahabatku pernah mencoba perawatannya juga. Diam-diam dia memberitahuku bahwa setelah dipijat oleh perawat itu, kulitnya jadi jauh lebih halus, bahkan bentuk payudaranya pun jadi terlihat lebih berisi.

Setelah kuceritakan pada suamiku, dia justru lebih bersemangat dariku dan tak sabar mengantarkanku ke pusat perawatan tersebut.

"Nyonya, selamat datang. Ini adalah perawat pijat yang Anda pilih, namanya Eric. Ini adalah pengasuh bayi Anda, Melinna."

Di dalam kamar rawat VIP yang mewah, aku memandangi Eric dari atas sampai bawah dengan agak terkejut. Tak kusangka, perawat pijat yang begitu terkenal ternyata adalah seorang pria muda berkacamata yang terlihat sopan tapi dingin. Entah kenapa, muncul sedikit rasa gugup dan malu dalam diriku.

Setelah bertukar sapa sejenak, suamiku mengusulkan agar Eric segera memijatku supaya aku bisa membuktikan keahliannya.

"Kalau begitu, Nyonya ikut saya."

Eric membawaku masuk ke ruang dalam. Tak heran ini disebut pusat perawatan pasca-melahirkan terbaik di kota. Dalam kamar suite ini bahkan tersedia ruang pijat khusus untuk rehabilitasi ibu pasca-melahirkan, lengkap dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan.

"Oh iya, mohon Bapak menunggu di luar. Di dalam ruangan ini hanya boleh ada ibu pasca-melahirkan saja." Saat melihat suamiku hendak ikut masuk, Eric langsung mencegahnya, lalu mengunci pintu dari dalam.

"Nyonya, silakan lepas pakaian Anda, lalu berbaring. Termasuk pakaian dalam."

"Apa?"

Kenapa pijat harus lepas pakaian?

Eric mengeluarkan dua buah botol kecil yang berisi cairan bening.

"Pijatan ini harus menggunakan minyak esensial khusus. Pakaiannya harus dilepas supaya hasilnya bisa lebih optimal."

Aku merasa ragu-ragu, tapi akhirnya menuruti permintaannya untuk melepas semua pakaianku dan berbaring di ranjang.

Eric langsung menuangkan minyak esensial ke bagian atas tubuhku. Sensasi sejuk dari minyak itu membuatku mengepalkan tangan dengan erat.

"Nyonya, aku mulai ya."

Detik berikutnya, tangannya yang kasar menyentuh tubuhku.

"Ugh!" Langsung sekali ....

Tenaga Eric sangat kuat. Di bawah pijatannya, tubuhku bagaikan sebuah adonan yang diremas sesuka hatinya. Sembari pijatan itu berlangsung, napasku dan Eric juga semakin berat. Gerakan tangannya juga telah berubah, semakin mirip dengan teknik yang sering digunakan suamiku saat berada di atas ranjang.

Tubuhku terasa kebas, bahkan bagian bawah perutku juga agak memanas ....

Aku memejamkan mataku dan menjepit erat kedua kakiku.

Tak disangka, semua gerakanku itu terlihat oleh Eric.

"Nyonya, kamu kepengen ya?" Suara serak Eric bergema di samping telingaku.

Aku langsung membuka mataku dan tatapanku bertemu dengan Eric. Entah sejak kapan, dia telah berada di atas tubuhku dengan jarak yang tidak lebih dari 5 sentimeter.

Intuisiku tiba-tiba merasa ada bahaya yang mengintai.

Tok tok tok ....

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. "Sayang, kalian sudah selesai?" Itu suara suamiku.

Aku buru-buru mendorong Eric menjauh, punggungku langsung basah oleh keringat dingin. "Sebentar lagi, hampir selesai!"

Sambil menjawabnya, aku beranjak turun dari ranjang dan mengenakan pakaianku, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Namun, Eric malah merebut pakaianku. "Nyonya, pijatannya belum selesai. Kamu mau ke mana?"

Eric memaksaku menahan pintu dengan tanganku. Posisi ini membuat bokongku tersungging tinggi dan tepat berada di posisi kemaluan Eric.

"Eric, kamu mau ngapain?!" tanyaku dengan pelan karena takut suamiku mendengarnya.

"Tentu saja membantu Anda menyembuhkan penyakitmu. Masalah kesehatan Anda sangat parah. Pijatan biasa nggak bisa menyembuhkannya.

"A ... apa maksudmu?" Aku agak ketakutan.

"Tubuh Anda gersang parah, sepertinya karena sudah lama nggak berhubungan badan, jadi ada banyak bagian yang tersumbat. Pijatan biasa hanya meringankan gejalanya, tapi nggak bisa menyembuhkan secara total."

"Jadi harus bagaimana kalau mau sembuhin?"

"Harus dilancarkan dengan teknik khususku setiap hari, setidaknya 30 hari pengobatan."

Tanpa menunggu balasan dariku, Eric langsung menuangkan minyak esensial ke tangannya.

"Tunggu, lepaskan aku dulu!" Aku sama sekali tidak menyetujuinya.

"Selalu ada orang yang nggak patuh seperti Anda ini. Tapi, begitu tanganku bergerak nanti, semuanya jadi penurut. Nyonya mau coba nggak?" bisik Eric di samping telingaku.

Hatiku panik bukan main, tapi tenagaku terlalu kecil. Aku hanya bisa menyaksikan Eric melucuti celana jeans yang kukenakan. Tangannya yang kekar dipadukan dengan lembutnya minyak esensial tersebut ....

"Nggak boleh, Eric, hentikan!"

Bagian yang sudah lama tidak pernah dimasuki, kini dihujam Eric dengan keras. Aku tidak bisa menerima hal itu dan kakiku gemetaran hebat.

"Pelankan suaramu, Nyonya. Suamimu masih nunggu di luar. Nyonya pasti nggak mau kedengaran sama dia, 'kan?" ucap Eric pura-pura berbaik hati mengingatkanku.

Aku berusaha keras menahan kembali desahanku. Gerakan tangan Eric semakin dahsyat. Aku tidak sengaja menabrak pintu hingga menimbulkan suara.

"Sayang, kamu baik-baik saja?" Suamiku kembali mengetuk pintu. Aku membungkam mulutku, tidak bisa berkata apa pun.

Bab 2

"Sayang?"

"A ... aku keluar sebentar lagi. Tu ... tunggu ya."

Gerakan tangan Eric semakin cepat. Sampai akhirnya, aku hampir jatuh berlutut di lantai ....

Pintu terbuka.

Suamiku menatapku dengan bingung dan bertanya, "Sayang, kenapa wajahmu merah sekali?"

Dengan wajah yang memerah karena gairah, aku menunduk malu dan tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

Eric menjawab dengan tenang dan wajar, "Sepertinya karena pijatannya melancarkan peredaran darah. Itu normal."

Khawatir suamiku akan menyadari sesuatu, aku segera mendorongnya keluar. "Bukannya kamu bilang mau pergi dinas seminggu setelah aku masuk ke sini? Sudah sana, pergi saja, nggak usah khawatirkan aku."

Akhirnya, suamiku pun pergi setelah aku paksa. Sepanjang sisa hari itu, pikiranku terus dipenuhi oleh Eric.

Tak disangka, dengan penampilan sesopan itu, tubuhnya ternyata sangat kekar. Saat menahanku, otot lengannya tampak sangat jelas. Begitu mengerahkan tenaga, urat-urat di lengannya tampak menonjol.

Seandainya saja otot-otot itu digunakan untuk menindihku ....

Pukul sepuluh keesokan malamnya, bayi sudah tertidur pulas.

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamar. Aku tahu itu Eric. Di jam segini, tidak ada orang lain yang datang selain dia. Entah kenapa, seperti ada dorongan aneh, aku justru membiarkannya masuk.

"Nyonya, aku datang untuk membantu Anda pijat," ucap Eric pelan saat berdiri di hadapanku.

"Hari ini nggak usah," jawabku menolak.

Namun entah mengapa ... di dalam hatiku, ada secercah penantian.

"Nyonya, Anda tahu sendiri, sesi pijat ini nggak boleh terputus."

Seluruh tubuhku terasa seperti diselimuti oleh bayangan Eric dan menghadirkan tekanan yang sulit dijelaskan.

"Nggak usah malu, Nyonya. Ini semua hal yang wajar," ucap Eric sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan.

Pada akhirnya, aku ditarik olehnya ke ruang pijat.

Aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan bahwa semua ini adalah demi kesehatanku, bukan karena alasan memalukan lainnya ....

Namun, begitu teringat dengan kejadian yang akan terjadi selanjutnya, tubuhku tak kuasa menegang. Pada akhirnya, aku hanya memejamkan mata.

Setelah menunggu dua detik, Eric datang dengan membawa minyak esensial.

"Nyonya, aku mulai ya," ucap Eric memberi aba-aba. Kemudian, dia langsung mengulurkan tangannya ke dalam pakaianku.

Minyak pijat yang belum dihangatkan langsung dioleskan oleh tangan besar yang kasar ke kulitku yang halus dan sensitif.

"Ugh ...." Aku meremas seprai ranjang dengan erat.

Sejuk sekali ....

Tanpa menunggu reaksiku lebih jauh, Eric telah memulai langkah selanjutnya. Gerakannya bahkan lebih berani dibandingkan tadi siang. Aku tahu, dia pasti sengaja!

Tak lama kemudian, hasrat dalam hatiku kembali terpancing oleh gerakan Eric.

Aku meremas seprai dengan erat dan menggertakkan gigi. Namun, gerakan Eric semakin dahsyat. Rasanya tidak berlebihan jika menggambarkan tindakannya ini sebagai penindasan. Kulitku yang putih mulus kini dipenuhi dengan bekas jarinya.

"Dasar genit," gumam Eric diam-diam.

Aku tidak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Jadi, aku bertanya dengan kebingungan, "Apa kamu bilang?"

"Bukan apa-apa. Nyonya, tahap awal pijatannya sudah selesai. Selanjutnya aku mau memijat bagian selulit."

Tanpa menunggu reaksiku, Eric langsung melepas celanaku hingga ke lutut dan menyisakan celana dalam berenda di dalamnya. Setelah itu, dia mengambil tali pengekang di samping ranjang pijat untuk mengikat kaki dan tanganku.

"Nanti akan kuteteskan minyak esensial yang baru, efeknya lebih bagus lagi. Ini adalah untuk mencegah agar Nyonya nggak bergerak sembarangan sehingga mengganggu sesi pijatan nanti. Yang patuh ya, aku mulai sekarang."

Eric mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan bening, lalu meneteskan beberapa tetes ke dalam botol minyak pijat dan mengocoknya hingga tercampur rata. Setelah itu, dia langsung menuangkan minyak pijat tersebut ke perut bagian bawahku.

Cairan bening itu mengalir menyusuri pinggangku. Entah mengapa, api gelora tiba-tiba terasa seperti berkobar di bagian bawah perutku.

"Jangan! Eric, gatal ...." Api gelora ini menyerangku dengan hebat. Aku hanya merasa seolah-olah tubuhku ini akan habis terbakar dan terpaksa meminta tolong pada pria di hadapanku yang menyebabkan semua ini.

"Ini normal kok, Nyonya. Artinya minyak esensialnya sudah bekerja. Tahan sebentar lagi." Eric meratakan minyak esensialnya diteteskan di kulitku untuk mempermudah penyerapannya.

Aku benar-benar merasa hampir gila. Sekujur tubuhku menggeliat parah di atas ranjang.

"Eric, nggak bisa. Aku nggak tahan lagi! Gatal! Panas sekali!"

"Nyonya mau aku bantu gimana?" Eric kembali meneteskan minyak ke tangannya.

"Terserah mau bagaimana asalkan kamu bisa membantuku!" Mataku memerah dan aku hampir saja menangis.

"Oke, Nyonya sendiri yang bilang begitu."

Tangan Eric yang berlumuran minyak itu menyapu bagian bawah perutku dengan arah melingkar, kemudian perlahan-lahan memasuki bagian intim .... dan mengoleskan seluruhnya ke bagian tersebut.

"Dasar genit, lemaskan tubuhmu."

Eric menaiki ranjang, lalu mengangkat kedua kakiku ke pundaknya.

Bab 3

Keesokan harinya, aku terbangun saat hari sudah siang.

Begitu membuka mata, yang kurasakan hanyalah tubuh yang segar, tidak ada rasa lengket sama sekali.

Saat melihat Eric, ingatanku langsung kembali. Ekspresiku pun silih berganti antara pucat dan muram. Sementara itu, Eric bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa.

Pukul sepuluh malam, Eric kembali mengetuk pintu kamar tepat waktu.

Tubuhku yang sudah terbiasa dengan sentuhan minyak pijat, mulai merindukan sensasinya. Namun, jauh di lubuk hati, aku tidak ingin terus mengkhianati suamiku. Kali ini aku tidak membiarkan Eric masuk, melainkan bersembunyi dalam selimutku.

Hanya saja, teknikku kalah jauh dibandingkan Eric ....

Di saat napasku masih terengah-engah, selimutku tiba-tiba tersingkap.

Eric datang.

Barusan pikiranku penuh dan kacau, sampai-sampai aku tak sadar kapan dia masuk ke ruanganku.

Setelah menilai penampilanku sejenak, Eric berkata sambil tertawa, "Apa serunya Nyonya main sendiri? Memangnya senikmat yang kuberikan pada Nyonya?"

Saat ini, sorot mata Eric dipenuhi hasrat yang membara, berbeda 180 derajat dengan penampilannya yang sopan tadi siang.

Aku merasa sedikit takut, lalu memberanikan diri untuk berkata dengan tegas, "Aku nggak minta kamu masuk. Cepat keluar dari sini!"

Eric hanya tertawa sinis, lalu langsung duduk di tepi tempat tidur dan menyentuhkan jarinya ke perut bagian bawahku.

"Entah wanita genit mana yang terus mengotot mau minta dipuaskan semalam? Hari ini malah langsung pura-pura nggak kenal?"

"Eric! Kamu nggak merasa bersalah sama Melinna?" Aku merasa marah dan malu. Dengan wajah memerah, aku membentaknya dan berusaha menghentikan apa pun yang akan dia lakukan.

Baru belakangan ini aku tahu, ternyata Eric dan Melinna adalah sepasang kekasih.

"Lihat ini dulu, baru putuskan mau menolakku atau nggak." Eric mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto dan menyodorkannya ke hadapanku.

Foto itu adalah diriku yang kehilangan kendali semalam. Wajahku penuh dengan hasrat. Kulit dan tubuhku yang telanjang terfoto dengan jelas.

Aku menenangkan diri, lalu bertanya, "Apa maumu? Uang?"

Eric menyimpan ponselnya dan berkata, "Aku nggak mau uang. Aku cuma mau Nyonya. Asalkan Nyonya membuatku puas, aku akan menghapus foto itu. Kalau nggak, aku nggak jamin apakah foto ini akan muncul di ponsel suamimu atau nggak."

"Jangan!" Aku memohon padanya, "Oke, aku janji. Tapi, kamu nggak boleh kirim foto itu ke suamiku, juga nggak boleh sampai ketahuan Melinna! Selain itu, setelah aku pergi dari sini, hubungan kita telah berakhir sepenuhnya. Kamu nggak boleh lagi datang mencariku dan harus hapus semua foto ini!"

"Oke. Kebetulan Melinna lagi cuti sakit dan suamimu juga baru akan pulang minggu depan. Tenang saja, nggak akan ada yang gangguin kita selama beberapa hari ini," ujar Eric.

Eric memberiku pijatan seperti biasanya dan melumurkan "minyak pijat khusus" itu di seluruh tubuhku. Saat aku tenggelam dalam hasrat dan memohon padanya, dia baru akan menggunakan jarinya untuk memuaskanku.

Setelah "sesi pijat" selesai, aku telah dipermainkan hingga bermandikan keringat. Tubuhku bergetar tanpa sadar, hingga jari-jari kakiku pun mengepal erat.

Eric sangat suka melihat keadaanku yang menyedihkan ini. Setiap kali setelah membuatku seperti ini, dia baru akan naik ke ranjang untuk memuaskanku.

Kemampuannya memang hebat, sampai-sampai aku kewalahan menghadapinya.

Selain itu, dia sangat kasar di atas ranjang. Dia suka menarik rambutku sambil berhubungan. Eric sama sekali tidak menganggapku sebagai manusia, melainkan lebih mirip seperti seekor anjing betina.

Tadinya aku ingin menyuruhnya menggunakan pengaman. Namun, dia merasa tidak nyaman dan akhirnya mengeluarkannya di dalam. Dia juga tidak mengizinkanku untuk membersihkannya.

Hanya dalam dua hari, tubuhku sudah terbiasa dengan keberadaan Eric, seolah-olah sepenuhnya menyesuaikan dirinya dengannya.

Dengan sebuah sentuhan kecil dari tangannya, tubuhku langsung bereaksi. Bukan hanya itu, dia juga tidak mengizinkanku mengenakan pakaian dalam. Aku hanya diperbolehkan memakai rok untuk memudahkannya jika ingin berhubungan kapan saja.

Terkadang, dia melakukannya sambil menggendong anakku dan menekan pinggangku di samping meja.

Demikianlah kehidupan kami yang kacau ini berlangsung selama lima hari. Melihat bahwa suamiku dan Melinna sudah akan kembali, hatiku merasa agak gelisah.

Hanya dengan melihatnya sekilas, Eric langsung mengetahui apa yang sedang kupikirkan.

Di hari keenam, setelah menidurkan anak, dia membawaku keluar. Ini adalah pertama kalinya aku keluar setelah datang ke pusat perawatan ini.

Eric tidak membawaku keluar gedung, melainkan turun ke satu lantai di bawah. Aku baru tahu, lantai bawah ini ternyata juga masih bagian dari pusat perawatan pasca-melahirkan. Tidak seperti kamar rawat di lantai atas, lantai bawah ini justru didekorasi seperti hotel.

Eric membawaku masuk ke sebuah kamar.

Kamar itu memiliki tata letak yang aneh. Hanya ada satu tempat tidur besar dan sebuah dinding putih polos tanpa hiasan. Entah tombol apa yang ditekan Eric, dinding putih itu perlahan terangkat dan di baliknya ternyata sebuah kaca.

Di sisi lain kaca itu, aku melihat dua wajah yang sangat kukenal.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B86524" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B86524
Salin

Perawatan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya