Bab 1
Tangan pria itu menyusup ke dalam pakaianku, menyusuri punggungku yang halus dan dingin, bergerak perlahan seolah menelusuri setiap inci kulitku. Aku terdiam di pelukannya, tak berani bergerak sedikit pun. Di telingaku, suaranya yang dalam dan menggoda berbisik, "Katakan, apa kamu menginginkanku?" Saat itu, di kamar sebelah, sang majikan dan kekasihnya sedang berlatih "yoga berpasangan". Getar hasrat dalam diriku pun perlahan mulai tergugah! Aku rasa aku sudah kehilangan akal. Jangan-jangan aku juga ingin melakukan hal yang sama seperti mereka yang ada di kamar sebelah?
Namaku Anya Warsudi. Demi mengumpulkan biaya untuk membesarkan bayiku, aku menyembunyikan kehamilan ini dan datang bekerja di rumah seorang wanita kaya.
Pekerjaan ini bukan pekerjaan biasa. Aku ditugaskan untuk merawat suaminya. Kabarnya, suaminya itu mengalami kelumpuhan dan hampir seperti vegetatif akibat kecelakaan mobil. Hanya pendengarannya yang masih berfungsi normal, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Di ruang tamu vila yang megah, aku berdiri kikuk di depan sofa, jemariku meremas ujung baju tanpa sadar. Majikanku, Mia Arkanza, duduk santai di hadapanku. Dia tampak anggun, cantik, dan berbalut kemewahan yang seolah bawaan lahir. Di hadapan wanita seanggun itu, aku tampak begitu sederhana, bahkan terasa tak pantas berada di tempat semewah ini.
"Berputarlah, biar kulihat."
Dia menatapku dengan ekspresi angkuh, matanya menelusuri tubuhku dari kepala hingga kaki seperti mesin pemindai. Baru setelah itu, dia berbicara pelan dengan nada memerintah.
Hatiku yang sudah tegang sejak tadi langsung berdegup keras. Namun, aku tak punya pilihan, hanya bisa menuruti perintahnya dengan hati-hati. Aku perlahan memutar tubuh, berusaha tetap tenang, sementara rasa cemas menekan dadaku, takut pakaian longgar ini tak cukup menutupi perutku yang mulai tampak dan rahasiaku terbongkar.
Gimanapun, wanita di depanku ini memang luar biasa kaya dan berkuasa. Gaji yang dia tawarkan mencapai 100 juta per bulan, gaji yang mustahil bisa kutemukan di kota ini!
Karena itu, aku benar-benar tak ingin kehilangan kesempatan ini. Sekarang, aku hanya bisa diam-diam berdoa semoga semuanya berjalan lancar.
"Baiklah. Di atas meja ada daftar tugasmu dan hal-hal yang perlu diperhatikan. Bacalah dulu, lalu kamu bisa langsung tinggal di sini dan mulai bekerja."
Untung saja, Mia tidak menanyakan hal lain. Sikapnya seperti orang yang baru selesai memeriksa barang dagangan dan nada bicaranya terdengar sedikit puas.
"Baik."
Aku membungkuk sopan di hadapannya, lalu diam-diam menghela napas lega.
Demi bisa merawat pasien dengan lebih baik, aku harus tidur di lantai kamarnya setiap malam.
Itu salah satu aturan yang tertulis di kertas tadi.
Awalnya, aku merasa tidak pantas berbagi ruangan dengan pria asing, bahkan sempat ingin menolak. Namun, setelah kupikir lagi, dengan gaji sebesar ini, wajar saja kalau mereka menuntutku siaga dua puluh empat jam. Lagi pula, pria itu hanya terbaring tak berdaya di tempat tidur, sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Mia menunjuk ke arah kamar di ujung lorong, memberi tanda bahwa itulah tempat kerjaku. Melihat dia tak berniat berdiri, aku pun melangkah ke sana sendiri.
Ini pertama kalinya aku melihat pria yang akan kurawat. Jujur saja, aku terkejut melihat betapa tampannya pria itu.
Meskipun pria itu terbaring tak bergerak, wajahnya yang tegas dan tubuhnya yang tegap masih memancarkan pesona maskulin.
Untuk pertama kalinya aku begitu dekat dengan pria setampan dan sekaya ini. Aku tak bisa menahan rasa gugup, tanganku bergetar halus saat membuka kancing kemejanya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, aku cuma mau lap badannya, biar dia merasa lebih nyaman."
Saat handuk hangat itu menyentuh dadanya, aku bisa merasakan betapa keras dan kuat ototnya. Aku menarik napas dalam berkali-kali, mencoba menenangkan diri.
Siapa sih yang tidak suka lihat pria ganteng?
Namun, aku punya profesionalisme sendiri. Aku membuka bajunya hanya demi melakukan tugasku dengan benar.
Aku terus menenangkan diri, berulang kali meyakinkan bahwa ini hanya pekerjaan.
Setelah selesai mengelap tubuhnya, aku merapikan kamar dan bersiap untuk tidur.
"Sekali lagi… Aku mau lagi…"
Malam itu sangat sunyi!
Bahkan suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar.
Tiba-tiba dari kamar sebelah, setelah terdengar suara-suara samar yang tak bisa dijelaskan, aku mendengar suara Mia.
Suaranya saat ini sangat berbeda dari siang tadi, ada nada napas tersengal manja di dalamnya. Jelas, aktivitas intens barusan masih membuatnya belum puas.
Dalam cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai, aku refleks menoleh ke arah tempat tidur sang tuan rumah.
Dia masih terbaring di sana tanpa ekspresi, tetapi aku tahu suara-suara barusan pasti juga terdengar olehnya.
Padahal kamar di vila ini ada banyak, tetapi Mia malah memilih kamar sebelah untuk tidur dengan penuh gairah dengan pria lain. Sepertinya dia memang sengaja ingin mempermalukan suaminya sendiri.
Aku hanya bisa menebak-nebak dalam hati.
"Dasar penggoda! Cepat tengkurap, biar aku bisa menikmati tubuhmu lagi!"
Suara seorang pria terdengar kasar dan congkak, disertai tawa puas.
Sangat jelas kalau mereka tak lagi menghormati pria yang menjadi tuan rumah ini.
Ucapan-ucapan tak senonoh dari kamar sebelah membuat wajahku memanas dan jantungku berdebar. Di sela rasa malu itu, ada kegelisahan samar yang mulai tumbuh dalam diriku.
Bab 2
Aku seorang wanita sehat secara fisik, tetapi sejak hamil, suamiku khawatir akan memengaruhi janin, sehingga dia bersikeras untuk menahan diri dari berhubungan intim. Kalau dipikir-pikir, sudah beberapa bulan aku tidak merasakan sensasi yang begitu menggairahkan itu.
"Ah… Cepat! Aku nggak tahan lagi…"
Nada suara Mia menggema penuh gairah. Dia melampiaskan hasratnya dengan gila, seakan lupa kalau ada dua orang yang mendengar dari kamar sebelah atau barangkali justru karena sadar ada yang mendengar, dia jadi makin bersemangat.
Seolah tiba-tiba teringat sesuatu, aku segera bangkit dari lantai, mengambil earphone dari tas, dan menyambungkannya ke ponsel untuk dipakai tuan rumah.
Sejujurnya, saat itu aku merasa kasihan padanya...
Tidak ada pria yang sanggup menanggung aib diselingkuhi istrinya, apalagi ketika mereka begitu angkuh dan sengaja mempermalukannya.
'Sepertinya, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah membuatnya tidak mendengar apa pun.'
Keesokan paginya, Mia keluar dari kamar dengan wajah merah berseri. Pria yang semalam berduel dengannya tampak santai memeluk pinggang Mia. Saat melihat aku menatap pria itu, pria itu membungkuk dan mencium Mia dengan mesra.
Saat melihat tatapanku, mereka tetap santai, sebaliknya malah aku yang merasa canggung dan perlahan mundur.
Mungkin karena suaminya kini dalam kondisi koma, Mia merasa kesepian. Bagaimanapun, ini urusan keluarga majikanku, aku tidak ingin ikut campur.
Aku tetap sadar sepenuhnya, menyelesaikan tugas dengan baik dan menerima upah adalah hal utama bagiku.
Hingga malam tiba, Mia belum pulang. Aku menyiapkan air hangat dan berencana membersihkan dan merawat tuan rumah sebelum tidur.
Namun, tepat saat itu, pintu depan terbuka, dan Mia pulang!
Dia tidak sendiri, ada seorang pria bersamanya, tetapi pria itu bukan pria yang aku lihat tadi pagi.
"Anya, kelak kalau nggak ada urusan, jangan keluyuran di ruang tamu!"
Pria di samping Mia memang memeluknya, tetapi tatapannya mengamatiku dengan niat tidak baik. Mia tampaknya menyadari hal itu dan dia menegurku dengan nada kesal.
"Baik."
Aku memang berharap tidak bertemu dengan mereka. Baguslah, aku pun cepat kembali ke kamar dan menutup pintu.
"Sayang, dia cuma pelayan yang kubayar. Di rumahku, pandanganmu harus dijaga! Kalau nggak, aku akan marah."
Tak lama kemudian, suara Mia yang tidak senang terdengar.
"Tentu saja, dia nggak sebanding denganmu! Nggak ada yang seseksi dan menawan sepertimu! Nanti biarkan aku memanjakanmu dengan baik."
Pria itu mengiakan dengan nada manis.
"Ayo cepat, aku sudah nggak sabar. Lakukan dengan lebih kuat, yang penting jangan sampai aku terluka. Aku sudah menunggu momen ini."
Suara Mia yang tanpa malu terdengar sangat menggoda, aku bisa membayangkan betapa bergairahnya dia saat ini.
Padahal vila ini sangat mewah, tetapi kualitas isolasi suaranya buruk sekali. Sungguh membingungkan!
Tak lama kemudian, dari kamar sebelah terdengar jelas suara Mia yang terengah-engah, bercampur dengan bunyi ranjang bergoyang. Suara itu begitu jelas, membuatku seolah benar-benar ada di sana, menyaksikan semuanya secara langsung.
Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap fokus merawat pasien.
Setelah memeras handuk, aku perlahan-lahan menyeka wajahnya yang tegas dan menawan. Dalam hati, aku berpikir, kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, dia pasti termasuk pria langka yang punya segalanya, kaya dan tampan.
Mungkin dia tak pernah mengira istrinya akan berselingkuh. Namun, saat ini, setiap hari dia harus menanggung rasa malu dari orang yang tak setia. Memang, musibah bisa datang kapan saja dan pada siapa saja.
Aku tak kuasa menghela napas dalam hati.
Suara dari kamar sebelah makin terdengar jelas, membuatku tersipu. Walau mencoba mengabaikannya, hasrat yang tersimpan dalam hati perlahan bangkit.
"Apa yang sedang kupikirkan!"
Aku hampir kehilangan akal, tampaknya orang yang seharusnya memakai earphone justru aku sendiri!
Aku tersenyum pahit, menepuk kepala sendiri, lalu meletakkan handuk dan bangkit untuk mengambil earphone.
Tepat saat itu, tubuhku tiba-tiba tertarik oleh suatu kekuatan. Aku tidak siap sama sekali, dan karena tarikan, aku terjatuh ke tempat tidur. Tubuhku menempel erat pada dada yang kuat itu.
Aku masih terkejut hingga belum sempat bereaksi. Detik berikutnya, aku buru-buru berusaha bangkit, tetapi tubuhku sudah terkurung erat dalam pelukannya.
"Kamu… bagaimana bisa?"
Aku menatap wajahnya yang begitu dekat dengan panik.
Bukankah dia vegetatif?
Namun, pria di depanku kini tampak sangat berbeda dibanding siang tadi yang hanya berbaring tak bergerak di tempat tidur.
"Iri dengan kamar sebelah, ya? Apa kamu juga ingin mencobanya?"
Sebuah suara dalam dan berkarisma, mengabaikan kepanikanku, mulai membisikkan kata-kata yang memikat di telingaku.
Napas hangatnya menyapu leherku, membuat bulu kudukku meremang.
Kemudian, sepasang tangan menyentuh punggungku dengan lembut, dari balik pakaianku.
Aku ketakutan dan tak berani bergerak, hanya bisa menarik napas dalam-dalam sambil melawan perasaan yang mulai sulit diabaikan.