Bab 1

Aku didiagnosis menderita lupus eritematosus sistemik stadium berat dan akan meninggal tiga hari lagi.

Setelah 188 kali telepon permintaan tolongku ditolak suamiku, aku membawa hasil pemeriksaan dan melangkah masuk ke kantor pelayanan perawatan akhir hayat.

“Halo, tolong bantu jadwalkan proses kremasiku dan ajukan juga bantuan subsidi dari pemerintah.”

Sepuluh menit kemudian, mereka datang.

Belum sempat aku bicara, suamiku yang seorang pengacara langsung menamparku tanpa ekspresi.

“Demi merebut perhatian dari Penny, kamu pura-pura sakit parah?”

Kakakku yang seorang dokter merebut hasil pemeriksaanku, lalu membuka dan menatapku, sambil mencibir,

“Lupus? Kalau mau pura-pura sakit, setidaknya yang masuk akal. Penyakit seperti ini hanya diderita satu dari sejuta orang.”

Aku menahan rasa sakit di tubuhku, lalu kembali ke meja petugas dan menyerahkan formulir, serta hasil medis lagi.

Melihat ruam berbentuk kupu-kupu di pergelangan tanganku, petugas itu tampak iba.

“Aku sudah nggak punya keluarga lagi.”

“Aku ingin mendaftar layanan kremasi tiga hari lagi, lokasinya bebas. Aku hanya berharap kematianku nggak menjadi beban bagi siapapun.”

Setelah didiagnosis menderita lupus eritematosus sistemik stadium berat, dokter yang menangani menyarankan aku segera dirawat inap.

Namun, karena biaya pengobatan yang sangat mahal, aku pun keluar dari rumah sakit dan mencoba menghubungi suamiku.

Setelah panggilanku yang ke-188 tak juga dijawab, aku membawa surat diagnosis dan melangkah masuk ke kantor pelayanan perawatan akhir hayat.

“Halo, tolong bantu jadwalkan proses kremasiku.”

Petugas di sana melihat ruam kupu-kupu di pergelangan tanganku, ekspresinya langsung berubah menjadi iba.

“Sayang… kamu datang sendirian? Di mana keluargamu?”

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba pintu utama terbuka keras.

Billy datang tergesa-gesa bersama adik angkatnya, di belakang mereka ada kakakku juga.

Tanpa memberi kesempatan aku bicara, Billy langsung menamparku di depan semua orang, tatapannya tampak penuh amarah.

“Hanya gara-gara iri sama Penny, kamu sampai datang ke tempat begini buat menakut-nakuti kami? Lisa, kamu nggak merasa keterlaluan?”

Aku berdiri terpaku, seketika tidak tahu harus menjawab apa.

Sampai akhirnya, aku melihat balon warna merah muda di tangan Penny, barulah aku ingat bahwa hari ini adalah pesta ulang tahunnya.

Billy bahkan sengaja mengambil cuti dua hari untuk membantunya menyiapkan tempat acara. Sementara aku, istrinya yang sedang mengidap penyakit kritis, hanya ingin minta sedikit uang untuk biaya pengobatan, tapi yang kudapat justru 188 panggilan yang ditolak.

Dan satu kata ‘keterlaluan’.

Mataku langsung panas, air mata pun tak bisa dibendung lagi.

Aku mengusap pipi yang masih terasa perih, lalu berkata pelan, “Billy, aku nggak….”

“Kamu masih mau bohong?” ujar Reza, kakakku sambil merebut surat diagnosis dari tanganku.

Baru baca sekilas, dia sudah tertawa mengejek.

“Lupus eritematosus sistemik? Kamu benaran nggak bisa buat alasan yang lebih masuk akal? Kemungkinan penyakit ini bahkan hanya satu dari sejuta. Kamu sudah puas sekarang? Gara-gara kamu, pesta ulang tahun Penny jadi kacau balau.”

“Dari kecil, kamu memang suka pura-pura sakit untuk cari simpati. Sekarang masih mau pakai cara yang sama?”

Sambil bicara, Reza mengangkat tangan, seolah mau memukul juga, tapi gerakannya langsung dihentikan oleh Penny.

Air mata menggenang di matanya, nada bicaranya penuh rasa bersalah, “Maaf Kak Lisa, aku yang nggak seharusnya adakan pesta….”

“Kumohon jangan bohongi mereka lagi. Mereka benar-benar capek. Aku rela mengalah, asal kamu bisa sadar.”

Billy langsung memeluk Penny, menyeka air matanya dengan lembut, sambil berkata, “Ini bukan salahmu.”

Badanku terasa semakin sakit, napas pun jadi berat dan aku mencium bau amis dari hidungku.

Aku tak lagi melihat mereka. Aku mengusap darah yang mengalir dari hidung, lalu kembali ke meja pendaftaran.

“Tolong lengkapi data permohonan kremasiku. Tiga hari lagi, aku butuh proses yang tenang tanpa gangguan. Aku sudah nggak punya keluarga.”

Di belakangku, Billy terkekeh dingin, pandangannya penuh ejekan.

“Lisa, demi menghancurkan pesta Penny, kamu sampai berani main drama seperti ini?”

“Yang harus kamu pikirin sekarang itu bukan penyakitmu, tapi bagaimana caranya kamu bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan tiga hari lagi.”

“Jangan harap aku bakal beresin semua ulahmu.”

Usai bicara, Billy pun pergi tanpa menoleh lagi, sambil menggandeng Penny.

Setelah semua prosedur selesai, aku pun pulang ke rumah sendirian.

Aku masih punya tiga hari terakhir di dunia ini.

Sebagai penderita lupus eritematosus sistemik stadium berat, aku telah menyelesaikan sendiri semua persiapan menjelang akhir hidupku.

Sementara itu, dua orang yang paling kucintai, sedang meniup lilin dan membuka sampanye bersama wanita lain.

Bab 2

Begitu membuka pintu rumah kecil yang begitu familiar, baru kusadari, aku nyaris tak punya barang pribadi yang perlu dikemas.

Kamar yang kutinggali adalah gudang tua di sudut paling ujung rumah ini.

Yang benar-benar milikku hanyalah beberapa potong baju lusuh yang warnanya sudah pudar.

Sementara itu, Penny punya ruang ganti yang luasnya bisa dipakai sebagai ruang tamu, setidaknya tiga kali lebih besar dari kamarku.

Hanya gaun bekas yang sudah Penny tak mau atau sepatu hak tinggi yang sudah patah, baru akan dilempar begitu saja ke gudang sementara ini.

Dulu, aku pernah berkali-kali ribut soal ini dengan Billy, tapi jawabannya selalu sama, “Penny sering dipukul dan dimarahi ayah kandungnya sejak kecil. Baru setelah tinggal di rumah kita, dia bisa hidup lebih enak. Kamu harus mengalah padanya.”

Dan aku pun mengalah selama lima tahun lamanya.

Sambil beres-beres barang ke dalam sebuah kardus usang, aku menerima telepon dari kantor pengelola pemakaman.

“Halo, dengan Bu Lisa? Untuk lahan makam yang kamu lihat beberapa waktu lalu… kalau kamu bersedia membayar uang muka sekarang, kami bisa menahannya untukmu. Kalau nggak, lahan itu akan diberikan pada pendaftar berikutnya.”

Itu makam yang sempat kulihat beberapa waktu lalu.

Sekelilingnya ditanami mawar dan cemara kecil, batu nisannya terbuat dari marmer abu-abu muda dengan gaya minimalis modern.

Tampilannya mirip postingan akun instagram estetika hidup yang bertema ‘kematian yang tetap elegan’.

Waktu itu aku berpikir kalau hidup ini sudah berat, setidaknya kematian harus terlihat indah.

Namun sekarang, semua rencana itu rasanya terlalu mewah.

Aku terdiam beberapa detik dan menjawab, “Nggak perlu lagi, terima kasih.”

Aku tak punya uang untuk itu.

Selama beberapa tahun terakhir, semua pendapatanku ditransfer ke rekening bersama suami. Tapi, Billy selalu merasa aku hanya pura-pura baik dan takut aku menghamburkan uangnya, jadi dia sudah lebih dulu menarik semua dana di sana.

Bahkan untuk biaya pengobatan saja aku sudah tidak sanggup, apalagi untuk membeli makam cantik seperti itu.

Baru saja telepon ditutup, Billy sudah masuk ke rumah dengan langkah tergesa.

Dia melempar tas kerja ke sofa dan berkata dengan nada tak senang, “Makam? Buat apa kamu pesan makam?”

Kupikir dia mungkin mendengar sesuatu, aku pun hendak menjelaskan.

Namun, dia malah menyeringai dingin dan mengernyit, lalu berkata,

“Lisa, kamu tahu nggak? Saat berdiri di kantor tadi, aku merasa sangat memalukan.”

“Penny sampai sesak napas karena nangis, pesta ulang tahunnya juga berantakan. Kamu tahu nggak Ini ulang tahun ke-22 dia!”

“Kenapa sih kamu nggak bisa menerimanya?”

Aku tak bisa menerimanya?

Lalu selama ini, siapa yang selalu dikesampingkan dan diabaikan?

Sejak hari pertama dia pindah ke rumah ini, aku tak pernah lagi merayakan ulang tahunku.

Setiap kali hari ulang tahunku tiba, dia pasti tiba-tiba demam tinggi atau mendadak alergi sampai harus dilarikan ke rumah sakit.

Lalu semua orang meninggalkanku dan sibuk menjaganya.

Sementara ulang tahunku, mereka sama sekali tak mengingatnya. Bahkan sepotong kue pun tak diberikan padaku.

Aku menatap Billy, hidungku terasa asam dan suaraku terdengar bergetar,

“Aku hanya lebih tua satu tahun darinya, tapi kalian bahkan tak rela mengeluarkan uang untuk sekedar membelikanku sepotong kue.”

Billy sempat tampak ragu sejenak, tapi nada bicaranya tetap penuh emosi,

“Bisa nggak kamu jangan selalu perhitungan begini?”

Tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari arah pintu.

Kakakku dan Penny pulang, lalu terdengar suara kakakku yang tak bisa menahan amarahnya lagi,

“Kamu masih berani ungkit soal ulang tahun? Setelah melakukan semua itu, kamu bahkan sudah nggak pantas merayakan ulang tahun!”

Wajah kakak sudah muram, sorot matanya tajam dan galak.

“Penny sampai sesak karena nangis gara-gara kamu, bahkan hampir harus dilarikan ke rumah sakit!”

“Tapi, dia masih rela membelamu dan kamu malah nggak merasa bersalah sedikit pun?”

Penny melangkah maju sambil tersedu, berusaha memaksakan senyum.

“Kak Lisa, nggak apa-apa. Aku nggak menyalahkanmu. Aku hanya mau makan kue krim kacang buatanmu, boleh?”

Melihat itu, kakak langsung menimpali,

“Bukannya itu keahlianmu? Lisa, Penny saja sudah merendah dan mau berdamai denganmu, kamu jangan nggak tahu diri.”

Menatap wajah Penny yang samar-samar menunjukkan raut kemenangan, aku dengan tenang balik bertanya,

“Bukannya kamu alergi kacang? Kenapa sengaja pilih kue krim kacang? Kamu mau menjebakku supaya membuatmu masuk rumah sakit ‘lagi’?”

Bab 3

Seketika, raut wajah Penny langsung pucat.

Dia langsung reflek berlutut di lantai, memelas dengan suara lirih,

“Maaf Kak Lisa, aku benar-benar lupa! Jangan marah, aku bisa ganti rasa lain.”

Tingkahnya yang begitu menyedihkan itu terlihat sangat lihai, sampai-sampai aku malah merasa sangat konyol.

Waktu pertama kali membuat kue krim kacang, aku benar-benar tidak tahu kalau dia alergi.

Saat itu dia hanya bilang, “Aku mau rasa krim kacang.” Demi menyenangkan hatinya, aku terus mencoba berkali-kali, bahkan sampai terkena luka bakar, baru berhasil membuat hasil yang lumayan.

Namun, dia malah alergi sampai nyaris masuk UGD.

Begitu sadar, dia langsung lari ke pelukan Billy, sambil menangis dan membelaku,

“Kakak, Kak Lisa itu berniat baik. Dia bilang nggak masalah kalau hanya coba sedikit. Semua ini salahku, aku yang nggak bisa menahan diriku, bukan salahnya….”

Sementara itu, aku hanya bisa berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap tatapan penuh tuduhan dari Billy dan kakakku, mencoba membela diri dengan pelan,

“Aku benaran nggak tahu dia alergi, dia nggak pernah bilang padaku….”

Balasannya adalah tendangan dari Billy yang mengarah ke perutku.

“Jangan cari alasan! Aku rasa kamu hanya nggak terima aku dan Reza lebih sayang dia!”

Tendangan itu membuatku terbentur sudut tembok. Rasanya sakit luar biasa sampai diriku jatuh ke lantai dan tak bisa bergerak.

Sejak hari itu, aku pun dikunci di kamar selama tiga hari penuh.

Tidak ada makanan, tidak ada air, bahkan pintu pun tak bisa kubuka.

Pada saat akhirnya aku dilepas, tubuhku sudah lemas nyaris tak kuat berdiri.

Mengingat masa itu, aku pun membuka mulut dengan dingin,

“Aku nggak bisa membuat rasa yang kamu mau. Kamu bisa beli sendiri saja.”

Namun, Penny masih belum menyerah. Dia tetap saja berkata, “Iya, aku nggak mau makan lagi. Kak Lisa jangan marah, ya.”

Namun, terlihat jelas kilatan kebencian di matanya. Tangannya semakin erat mencengkeram lenganku, sampai aku kesakitan dan spontan menepis. Dia pun langsung terjatuh ke lantai.

Suasana langsung membeku.

Kakak buru-buru menghampiri, membantu memapahnya dan memeriksa sikunya dengan cemas.

Sambil menangis pelan, Penny meringis, “Kak Reza, sakit sekali….”

Billy menarik lengan bajunya untuk memeriksa luka lecet kecil itu, lalu membentakku marah,

“Lisa! Kamu sudah gila?!”

Setelah itu, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

“Kamu semakin kurang ajar saja! Jangan harap bisa makan malam ini! Cepat masuk kamar dan renungkan perbuatanmu!”

Tamparan itu sangat keras, sampai-sampai gigi geraham belakangku terasa bergoyang.

Melihat darah di sudut bibirku, wajah kakak sempat ragu.

Namun, saat Penny menangis lebih keras lagi, dia langsung berbalik untuk menenangkannya.

Aku diam-diam menyeka darah dari bibirku dan kembali ke kamar.

Bukan untuk merenung, tapi untuk mengambil koper yang sudah lama kusiapkan.

Waktu aku keluar dari kamar sambil menyeret koper, ruang tamu pun langsung hening.

Setelah itu, terdengarlah suara ejekan mereka,

“Wah, sudah bisa kabur dari rumah? Lisa, kamu itu sudah dewasa, masih mau mengambek seperti itu? Kalau kamu berani pergi hari ini, jangan harap bisa balik lagi.”

Aku sudah mati rasa dengan ancaman seperti ini.

Rumah ini memang tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

Aku tidak menoleh dan hanya terus melangkah keluar.

Billy yang tampak sangat marah, melempar vas dari meja ke arahku.

Vas itu pecah tepat di dekat kakiku, serpihan kaca menancap di pergelangan kaki.

“Bagus! Pergi saja! Kalaupun kamu memohon untuk balik nantinya, jangan harap bisa masuk lagi ke rumah ini!”

Penyesalan Setelah Diriku Tiada

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya