Bab 1
Pada usia 10 tahun, kakakku meninggal saat kami bolos untuk pergi bermain. Sejak saat itu, ibuku membenciku, mengira aku yang mencelakai kakakku. Dia memperlakukanku seperti pembantu dan mengadopsi anak perempuan yang patuh untuk menggantikan posisi kakakku. Ibuku merebut semuanya dariku, bahkan memintaku mendonorkan ginjal untuk putri adopsinya itu! Oke, Ibu. Karena kamu mau begitu, aku akan memberi nyawaku ini kepadamu! Setelah aku mati, dia baru menyesal.
Belakangan ini, kepalaku terus sakit. Bahkan, aku sering jatuh pingsan di jalan. Ketika mendapat hasil laporan dari rumah sakit, jantungku seolah-olah berhenti berdetak.
Ternyata aku mengidap tumor otak ganas. Penyakit ini langka. Dokter bilang kalau aku nggak rajin berobat, aku nggak bakal bisa bertahan sampai dua bulan.
Aku baru berusia 23 tahun. Kehidupanku malah hanya tersisa kurang dari dua bulan. Bagaimana aku harus memberi tahu ibuku kabar ini?
Dengan perasaan berat hati, aku pulang ke tempat yang disebut rumahku. Begitu mendorong pintu, aku melihat ibuku dan putri adopsinya yang bernama Valentine sedang bersenang-senang. Sungguh pemandangan yang harmonis. Sementara itu, aku seperti orang luar.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang? Kamu mau buat kakakmu mati kelaparan ya? Cepat masak sana!"
"Ya, Ibu." Ibuku sama sekali tidak memperhatikan kantong plastik berisikan obat yang kupegang. Mungkin, dia sudah melihatnya, tetapi tidak peduli.
Aku menarik tubuhku yang lelah ke dapur. Panci di tangan terasa berat. Setiap kali mengaduk, seluruh tenagaku seolah-olah terkuras.
Ibu sedang menonton TV bersama Valentine. Sesekali, aku mendengar tawa mereka. Tawa itu bak jarum yang menusuk telingaku.
Tiba-tiba, Valentine masuk ke dapur. Gelang baru di tangannya yang berkilauan terlihat sangat menyita perhatian di bawah sinar lampu.
"Virginia, lihat. Ibu yang beli gelang ini. Harganya 400 juta! Kamu pasti iri, 'kan?" Valentine menggoyangkan gelangnya di depanku dengan sengaja. "Kenapa memangnya kalau kamu putri kandungnya? Kamu tetap harus melayaniku seperti pembantu."
Hatiku menegang. Uang 400 juta itu adalah uang operasiku. Selama bertahun-tahun ini, demi membayar uang sekolah dan biaya hidup, aku bekerja susah payah di luar dan di rumah. Kini, uang itu malah menjadi modal seseorang untuk pamer.
"Virginia! Masak yang cepat! Jangan sampai aku mengulitimu!" terdengar bentakan ibuku dari kejauhan. "Dasar nggak berguna! Masak saja lama sekali. Kamu mau kami mati kelaparan ya?"
Usai berbicara, ibuku membawa Valentine kembali ke ruang tamu untuk lanjut menikmati kebersamaan mereka. Hatiku seolah-olah dihantam oleh palu. Aku hanya bisa melanjutkan pekerjaanku.
Setelah selesai memasak sup, aku menyajikannya di atas meja. Alhasil, aku malah mendapat perlakuan makin buruk.
"Aduh!" Terdengar seruan kaget yang mengandung niat jahat. Tiba-tiba aku tersandung. Ini jelas adalah perbuatan Valentine.
Sup tumpah. Sup yang panas mengenai tubuhku. Rasanya sakit sekali. Ibuku malah maju dan memakiku, "Dasar sampah! Pegang sup saja bisa jatuh!"
Saat berikutnya, sebuah tamparan kuat dilayangkan ke wajahku. Duniaku seolah-olah berputar.
"Kalau tahu kamu begitu nggak berguna, pasti sudah kubuang sejak kecil. Dasar pembawa sial! Kamu mencelakai Vivian dan sekarang ingin mencelakai Valentine! Sebaiknya kamu bersikap yang baik! Nanti kamu harus melakukan transplantasi ginjal untuk Valentine!"
"Dasar berengsek! Kamu nggak tahu kesehatan kakakmu kurang baik? Kamu sengaja ya?"
Dengan sepatu hak tinggi, ibuku menendang perutku. Aku sakit hingga meneteskan air mata.
"Ibu, maafkan aku ...."
Ibuku sama sekali sama sekali tidak peduli. Dia terus menendangku, seolah-olah ingin melampiaskan seluruh amarahnya selama belasan tahun kepadaku.
Aku kesakitan hingga tidak bisa berkata-kata. Kepalaku terasa makin berat. Pandanganku kabur.
Di belakangku, ibuku malah menghibur Valentine, seolah-olah semua ini tidak ada kaitannya dengannya. "Jangan takut, Sayang."
Saat ini, perasaanku campur aduk. Aku murka, sedih, dan tidak berdaya. Jelas-jelas aku putri kandungnya, tetapi malah mendapat perlakuan seperti ini.
Bab 2
Ketika aku terbangun kembali, entah siapa yang membawaku ke kamar pembantu di ruang bawah tanah. Air merembes di lantai. Cat di dinding hampir terkelupas habis.
Di ruangan yang dingin dan lembab ini, setiap batu bata dan setiap tetes air seolah-olah sedang mengejek nasibku. Benar, sejak kakak kandungku meninggal, aku seperti hantu di keluarga ini.
Valentine menguasai semua kemewahan yang dulunya adalah milikku, sedangkan aku sakit dan tidak punya uang untuk melakukan operasi. Valentine malah bisa melakukan transplantasi ginjal dengan mudah. Donor ginjalnya dariku.
Dengan sempoyongan, aku mengeluarkan uang yang kusimpan dengan hidup berhemat selama bertahun-tahun. Aku menggenggam erat uang hasil jerih payahku, lalu akhirnya membayar biaya pengobatan pertama.
Setelah pengobatan, aku opname dua hari. Setelah pulang ke rumah, aku tidak mendapat perhatian yang kunanti-nantikan. Mereka tidak menanyakan kabarku, malah memakiku habis-habisan.
"Dasar jalang! Kemana saja kamu? Kamu pasti pergi sama pria, 'kan?" hardik ibuku. Tatapannya yang tajam seolah-olah ingin mencabik-cabik diriku.
"Kalau kamu berani macam-macam di luar dengan menggunakan nama keluarga, aku bakal ...."
Sebelum ibuku selesai bicara, Valentine membumbui dari samping, "Ibu, lihat dulu tubuhnya yang begitu kurus dan lemah. Mungkin dia memang melakukan sesuatu yang tak senonoh ...."
Begitu ucapan ini dilontarkan, ekspresi ibuku sontak berubah. Dia berbalik dan pergi ke ruang olahraga untuk mengambil tongkat kasti. Ibuku langsung memukul punggungku.
"Ah! Sakit sekali! Ibu, tolong dengarkan penjelasanku!" pekikku. Namun, ekspektasi dan realitas selalu berbeda. Dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan atau membantah. Tongkat itu terus memukul punggungku, bokongku ....
Setiap pukulan diiringi oleh teriakanku yang melengking. Setiap luka pada tubuhku bak api yang membara.
Ketika pukulan terakhir mendarat di leherku, aku pun kehilangan kesadaran. Tubuhku seketika terasa ringan, seolah-olah terlepas dari seluruh penderitaan.
Namun, yang terdengar di telingaku malah bentakan penuh amarah ibuku. "Dasar sampah! Buat malu saja!" Kemudian, ibuku menyuruh orang melemparkanku ke kamar di ruang bawah tanah lagi. Sebelum mataku terpejam sepenuhnya, aku mendengar ibuku berkata, "Kurung dia sampai hari operasi Valentine!"
Bab 3
Namun, ibuku tidak tahu kali ini aku benar-benar mati setelah dikurungnya di ruang bawah tanah yang lembap. Rohku bergentayangan di dunia ini, bagaikan gumpalan udara yang tidak bisa dirasakan.
Aku melihat ibuku dan Valentine bersenang-senang di pantai. Cahaya matahari menyinari mereka, seolah-olah memberi mereka doa terbaik. Sementara itu, aku seperti butiran debu yang dilupakan oleh dunia. Tidak ada cahaya matahari yang menyinari.
"Sayang, kamu suka kalung ini nggak? Beli saja," ucap ibuku sambil menatap Valentine dengan penuh kasih sayang. Batu berlian pada kalung itu terlihat makin berkilauan di bawah cahaya sinar matahari.
"Terima kasih, Ibu!" Valentine menerima kalung itu dengan senang hati. Tiba-tiba, dia teringat pada sesuatu sehingga bertanya, "Oh ya, gimana kabar Virginia sekarang ya? Apa perlu telepon dia untuk kasih lihat pemandangan pantai?"
Usul Valentine yang terdengar polos ini mengandung hinaan. Ketika mendengarnya, hatiku terasa sakit. Namun, yang lebih menyakitkan ada di belakang.
"Ngapain telepon kasih dia! Jangan ungkit sampah itu! Setiap kali mengungkitnya, aku langsung teringat pada Vivian-ku yang kasihan! Vivian ikut dia bolos dan celaka gara-gara dia! Aku membiarkannya tinggal di rumah cuma karena dia putriku! Kalau nggak ...." Nada bicara ibuku dipenuhi kebencian.
"Kalau dibandingkan dengan anak sialan itu, kamu baru penyelamatku. Aku bersyukur sekali mengadopsimu waktu itu." Setiap patah kata ibuku bak panah yang menusuk jiwaku.
"Kalau tahu bakal begini, aku nggak mungkin melahirkan dia! Dasar pembawa sial!" tambah ibuku.
Tatapanku seketika menjadi kabur. Meskipun roh tidak bisa menangis, hatiku sungguh pedih. Berbagai kenangan membanjiri benakku. Kakakku membawaku bolos dengan memanjat dinding. Dia terpeleset dan akhirnya meninggal dunia.
Saat itu, aku masih kecil. Tatapanku hampa dan tak berdaya. Seluruh keluarga menyalahkanku atas kejadian ini. Sejak saat itu, aku tidak pernah merasakan pelukan hangat dari ibuku.
Saat ini, aku berdiri di pinggir pantai bersama mereka yang menikmati momen indah dan bahagia. Jika dibandingkan dengan aku yang dipenuhi penderitaan, selalu mendambakan pengakuan dan cinta kasih, tetapi malah tidak pernah mendapatkan sedikit pun kehangatan dan perhatian, kami terlihat sangat kontras.
Pada kehidupan nyata, hal seperti ini memang sering terjadi. Setiap kali ibuku mengajak Valentine jalan-jalan, aku akan ditinggal sendirian di rumah. Setiap kali aku pulang dari kuliah dan ingin bersantai, yang kudapat malah hinaan. Sekalipun sudah mati, aku tetap diabaikan.
Terdengar deru ombak yang jelas di telingaku. Namun, aku tidak bisa mendengar suara hangat di dunia ini lagi. Yang ada hanya teriakan dan tangisan.
Ibuku seperti tidak tahu aku sudah mati. Dia mengira aku tetap keras kepala dan melawannya seperti dulu.
Namun, ibuku sudah lupa bahwa aku tidak pernah berdebat dengannya lagi sejak bertahun-tahun lalu. Aku juga tidak pernah membuat Valentine marah. Selama ini, aku bekerja keras sebagai pelayan di rumahku sendiri.
Semua ini karena aku tidak sempat menghentikan kakakku memanjat dinding. Aku juga merasa bersalah. Itu sebabnya, aku selalu menahan kemarahan ibuku terhadapku. Dalam hatiku, aku memberi tahu diri sendiri bahwa ibuku terlalu menyayangi kakakku, jadi membenci diriku. Aku hanya perlu memakluminya.
Namun, setelah Valentine muncul, ibuku berangsur menjauhiku. Dulu aku putri kesayangannya, tetapi sekarang dia terus menyakiti hatiku. Bahkan, setelah aku mati, aku tetap tidak bisa terlepas dari hubungan darah ini.
"Valentine, setelah pulang nanti, hasil tes seharusnya sudah keluar. Kalau operasi bisa dilakukan, kamu bakal melakukan transplantasi ginjal secepatnya."
Ibuku mencium kepala Valentine. Valentine tak kuasa menahan senyuman. Dia memeluk ibuku sambil mengucapkan terima kasih, tetapi tatapannya malah dipenuhi ejekan.
Mungkin, Valentine berpikir, Ibu saja menganggap aku yang begitu patuh sebagai pendosa. Lantas, bagaimana mungkin putri adopsi sepertinya diperlakukan dengan sepenuh hati?