Bab 1
Saat aku disiksa sampai mati, ibuku sedang menenangkan adikku yang cemas karena akan menghadapi ujian bedah anatomi. Di rumah sebelah, psikopat itu membiarkan darahku mengalir sambil menelepon ibuku dengan ponselku.
“Ibu, aku sakit banget. Tolong aku,” mohonku sambil menangis dengan putus asa. Namun, balasan yang kudapatkan hanyalah makian.
“Kakakmu sangat licik, juga suka bohong. Nggak usah dipedulikan.”
Tiga hari kemudian, rumah tetangga kami menjadi lokasi pembunuhan yang sadis. Sebagai ahli forensik, ibuku pun dipanggil polisi untuk melakukan autopsi pada seonggok mayat gadis tak berkepala. Namun, dia tidak tahu bahwa mayat yang berbaring di meja autopsi adalah putri yang paling dibencinya.
“Ibu, aku sakit banget. Tolong aku! Aku sakit banget! Ibu, aku mohon tolong aku!” mohonku sambil menangis dengan putus asa pada orang di ujung telepon. Namun, balasan yang kudapatkan hanyalah makian.
“Hana, diam! Adikmu sudah mau ujian bedah anatomi. Sekarang, tekanannya sangat besar. Kamu jangan ganggu!”
Pada detik terakhir sebelum ibuku memutuskan sambungan telepon, aku mendengar gumaman kesalnya, “Menyebalkan banget! Entah trik apa lagi yang mau dipakainya. Kakakmu benar-benar licik dan suka bohong. Kita nggak usah pedulikan dia.”
Suara sambungan telepon diputuskan itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkanku. Psikopat pria itu menjambak rambutku, lalu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha! Lihat, ibumu sama sekali nggak sayang sama kamu. Nggak akan ada yang datang menolongmu. Kasihan sekali kamu.”
Sambil tertawa, dia juga mengejekku dengan ekspresi penuh niat jahat, “Kamu dan ibumu sama-sama adalah orang rendahan. Aku benar-benar muak melihat kalian! Sekarang, aku akan penggal kepalamu dan menyimpannya baik-baik!”
Aku membuka mulutku dengan susah payah dan sudah sepenuhnya kehilangan tanda-tanda kehidupan. Sementara itu, daging di tubuhku diiris sepotong demi sepotong. Darahku yang tidak berhenti menetes ke lantai bagaikan sedang mencatat keputusasaanku.
Ibuku yang berada di sebelah tidak akan lagi merespons permintaan tolongku. Sebab, dia sedang dengan lembut menenangkan adikku yang akan segera menghadapi ujian.
“Nggak masalah. Santai saja, jangan gugup. Ibu yakin kamu pasti bisa melakukannya! Gadis busuk itu benar-benar nggak pengertian. Di masa magang yang begitu penting, dia juga nggak kasih semangat ke adiknya!”
Di mana ibuku, permintaan tolongku tidak lain hanyalah suara berisik yang tidak penting. Namun, dia tidak tahu bahwa aku yang tidak pengertian ini sudah disiksa sampai mati.
Namaku Hana. Arti namaku adalah kebahagiaan, tetapi aku sama sekali tidak bahagia. Sebab, aku sudah meninggal. Aku meninggal di ruang bawah tanah tetanggaku.
Sebelum meninggal, tubuhku juga diiris-iris dan direndam dalam formalin dingin di dalam botol. Tidak ada seorang pun yang mendengar permintaan tolongku maupun merasakan rasa putus asaku.
Pada saat ini, adikku sedang merasa cemas karena akan segera melakukan ujian bedah anatomi.
“Ibu, aku nggak mau pergi. Aku takut.”
Ibuku menenangkan adikku dengan lembut sambil menyuruhnya berganti sepatu. Dia berkata, “Jangan takut. Bukannya sebelumnya kamu bilang mau pergi lihat-lihat dulu, yang penting nggak usah turun tangan?”
Adikku mengangguk dengan tampang cemberut, lalu bertanya, “Ibu, Kakak ke mana? Kenapa dia sudah nggak pulang beberapa hari?”
Ibuku menjawab dengan kesal, “Sudah kubilang kakakmu itu pembohong. Dia mungkin pergi keluyuran sama teman-temannya yang nggak beres. Paling bagus dia mati saja! Sia-sia aku besarkan dia selama ini. Siapa suruh dia asal bicara beberapa hari lalu. Nggak usah pedulikan dia!”
Pada saat ini, ponsel ibuku tiba-tiba berdering. Nada polisi terdengar agak berat saat berkata, “Bu Sanny, korban kali ini adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Dia disiksa sampai tewas. Metode pelakunya sangatlah kejam.”
Ibuku adalah seorang ahli forensik terkenal. Ini adalah kasus kejam pertama yang pernah terjadi dalam industri sehingga dia sangat bersemangat. Dia menjawab, “Oke, kirimkanlah alamatnya padaku. Aku akan ke sana sekarang juga.”
Sebelum pergi, ibuku mengambil tas kerjanya, lalu berkata pada adikku dengan lembut, “Ayo jalan! Justin, cuma lihat-lihat ke lokasi kok. Nggak usah takut.”
Setelah polisi mengirimkan alamat padanya, wajah ibuku tiba-tiba menjadi pucat. Sebab, lokasi pembunuhan itu tepat berada di samping rumah kami.
Bab 2
Setelah tiba di lokasi, para tetangga sudah berkumpul di sekitar.
“Kenapa harus bunuh orang! Kejam banget!”
“Dengar-dengar, korbannya diiris-iris!”
Justin mengikuti ibuku dengan takut. Sementara itu, ibuku yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang forensik juga dikejutkan oleh serpihan daging yang bertebaran di mana-mana.
“Kenapa ada begitu banyak serpihan daging? Dagingnya harus dibawa pulang untuk diuji supaya bisa tahu korbannya siapa. Kasihan sekali orang ini. Haih.” Setelah mengenakan sarung tangan, dia baru berangsur-angsur tenang dan melanjutkan, “Semuanya, menjauhlah. Formalin mungkin bisa sebabkan alergi. Aku mau minta staf penguji untuk bersihkan tempat ini dulu.”
Kemudian, dimulai proses membersihkan lokasi, menggambar sketsa, memberi label pada gambar, mengumpulkan potongan daging dan membekukannya.
Ibu adalah seorang ahli forensik yang bertanggung jawab, cakap, dan teratur. Dia mengeluarkan mayat yang hancur itu dari dalam formalin. Mayatku sudah tidak berkepala. Jika tidak melihat dengan saksama, mayatku nyaris tidak mirip dengan tubuh manusia. Saat berada dalam formalin, mayatku juga terlhat terlalu pucat.
“Tragis sekali. Betapa takutnya anak ini waktu itu!”
Tubuhku diiris sebanyak 3.374 kali. Rongga dada dan perutku dibuka sepenuhnya. Di dalam perut yang terbuka itu, terdapat banyak debu dan potongan cabai. Kaki dan tanganku juga dicincang-cincang hingga hancur.
Meskipun tahu tidak memiliki harapan hidup, keinginanku untuk bertahan hidup sangat kuat. Bahkan dalam keadaan sekarat, aku juga secara naluriah menggunakan jari kakiku untuk mencengkeram apa pun yang bisa dijadikan penopang.
Seberapa kejam sebenarnya pelaku itu hingga bisa melakukan hal sekejam ini pada seorang gadis. Berhubung tidak ada tanda pengenal apa pun, identitas mayat itu tidak dapat dipastikan.
“Kasihan sekali dia. Tapi, dia juga pasti bukan orang baik. Kalau nggak, nggak mungkin dia berakhir setragis ini.”
Begitu melihat pemandangan ini, Justin yang baru saja memasuki masa magang langsung mual dan muntah. “Ugh! Uwek ....”
Dia memang tidak bisa disalahkan. Sebab, keadaan mayatku memang terlalu tragis. Tidak ada yang dapat menghubungkan mayat yang sudah hancur lebur itu denganku.
Di ruang penyimpanan mayat, tulang putih bersih yang bercampur dengan rambut yang berantakan memang terlihat sangat mengerikan. Beberapa polisi muda di samping juga tidak berani menatap mayatku lama-lama. Bagaimanapun juga, ini baru permulaan.
Tanpa kepala, kaki, anggota tubuh, dan organ tubuh, yang tersisa hanyalah porongan kulit dan daging yang tidak berbentuk. Tubuhku yang diiris-iris dan dicincang-cincang hanya bisa diperlihatkan seperti ini.
Di bawah lampu sorot, ibuku menjahit tubuhku dengan sabar. Tubuh yang sudah tercerai-berai itu dirangkainya kembali hingga cukup untuk dikenali sebagai tubuh manusia.
Beberapa polisi di samping memuji, “Bu Sanny memang hebat dan bernyali!”
“Uwek!” Adikku yang di samping masih tidak berhenti muntah kering.
Tiba-tiba, ibuku mengerutkan keningnya karena melihat sesuatu yang familier. “Ini ....”
Itu adalah sebuah tanda lahir berbentuk garis berwarna cokelat yang menjalar dari lengan bawah hingga jari. Dia merasa tanda lahir itu familier karena aku juga memilikinya.
Entah kenapa, ibuku mulai merasa agak panik. Dia melepas sarung tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia merasa dirinya pasti berpikir kejauhan. Di dunia ini, tidak mungkin ada hal yang begitu kebetulan.
Sayangnya, kepala mayatku masih belum ditemukan sampai sekarang.
“Dinilai dari metode pelaku, dia seharusnya sudah pernah lakukan kejahatan serupa berulang kali. Mentalnya pasti terganggu, sedangkan kepribadiannya juga menyimpang, dan dia juga tertarik sama hal-hal aneh. Apa mungkin masih ada korban lain yang belum ditemukan?” spekulasi seorang polisi.
“Seharusnya nggak. Kasus ini termasuk pengecualian. Kalau memang nggak bisa, kita cuma bisa pastikan identitas korban dengan pencocokan DNA.”
Polisi juga tidak lupa berpesan pada Ibu dan Justin untuk hati-hati saat pulang ke rumah. Bagaimanapun juga, lokasi pembunuhan ini berada di sebelah rumah kami.
Bab 3
Aku melayang di sisi Ibu dan Justin sepanjang perjalanan. Tiba-tiba, Ibu menerima telepon dari dosen pembimbingku.
“Halo? Apa ini wali Hana? Ponsel Hana nggak bisa dihubungi dan dia juga nggak ada di asrama. Dia sudah nggak masuk sekolah 3 hari.”
Ibu hanya menanggapi dengan acuh tak acuh dan langsung memutuskan sambungan telepon. “Nggak usah khawatir. Memangnya apa yang bisa terjadi padanya? Dia seharusnya lagi pergi keluyuran sama orang lain!”
‘Benar, nggak perlu khawatir. Aku memang nggak akan bisa buat kalian khawatir lagi,’ ucapku dalam hati.
Ibu sudah membenciku sejak kecil. Sebab, aku hanyalah alat yang digunakannya untuk mempertahankan rumah tangganya. Asalkan merasa sedikit tidak senang, dia akan langsung memukul dan memakiku. Sampai Justin lahir, semuanya pun berubah.
Justin yang berusia 10 tahun dimanjakan habis-habisan oleh Ibu. Meskipun hanya tergores, Ibu akan berjaga di sisinya semalaman. Namun, aku yang berusia 14 tahun malah harus sekolah sambil bekerja untuk menopang kebutuhan hidupku.
Dia bahkan menggunakan uang yang kuhasilkan untuk mendaftarkan Justin ke berbagai kelas tambahan. Uangku setara dengan uang Justin.
Meskipun aku pergi bekerja, Ibu akan selalu mengatakan aku pergi keluyuran, juga selalu mengutukku untuk mati. Sekarang, aku benar-benar sudah mati. Di keluarga ini, diabaikan dan ditindas adalah makanan sehari-hariku.
Di umur 15 tahun, aku demam tinggi hingga mencapai 41 derajat celcius. Aku berbaring di tempat tidur dan berkata dengan lemas, “Ibu, aku nggak nyaman banget. Boleh bawa aku ke rumah sakit?”
Ibuku hanya memelototiku dan berseru, “Mau pura-pura sakit supaya nggak usah ke sekolah? Jangan mimpi!”
Meskipun aku sudah mulai berhalusinasi saking tingginya suhu tubuhku, Ibu tetap tidak merasa kasihan padaku. Aku diseretnya ke sekolah seperti sebuah boneka usang. Malam itu, demamku terlalu tinggi hingga hampir membuatku meninggal saking sakitnya. Setelahnya, guruku yang sudah tidak tega melihat keadaanku buru-buru menelepon ambulans dan aku baru terselamatkan.
Sejak saat itu, aku tahu Ibu tidak menyayangiku.
Seiring dengan bertambahnya usiaku, Justin makin arogan. Dengan kasih sayang ibuku yang berlebihan, dia lebih cepat dewasa dari orang seumurannya. Hanya saja, aku tidak menyangka orang yang menindasku di sekolah adalah adik kandungku.
Justin mengambil foto telanjangku saat mandi yang menunjukkan dengan jelas semua bagian intim tubuhku. Dia juga memamerkan dan mengirim foto itu kepada semua murid serta guru sekolah. Seluruh sekolah pun dipenuhi dengan rumorku.
“Eh, sudah lihat? Dia masih begitu kecil, tapi tubuhnya sudah berkembang sempurna. Dia benar-benar seorang pelacur!”
“Aku kira dia sangat jujur dan seorang pekerja keras yang hanya tahu belajar. Ternyata, itu semua cuma sandiwara.”
Semua orang di sekolah menatapku dengan tatapan merendahkan.
Justin juga membawa sekelompok preman untuk menekanku ke dinding, lalu menjambak dan menamparku. Tidak ada seorang pun dari murid-murid yang menyaksikan hal ini membantuku atau melapor polisi. Mereka hanya menyaksikanku dihina dan diinjak-injak dengan ekspresi dingin.
Entah bagaimana ibuku mengetahui kasus penindasan ini. Dia pun datang ke sekolah dengan marah. Awalnya, aku mengira dia akan membantuku menangani masalah ini atau menghiburku. Namun, dia tidak melakukan apa-apa, malah menyalahkanku atas segalanya.
Dia menjewer telingaku, menjambakku, dan menyeretku ke luar sekolah di bawah tatapan semua orang sambil mengomel, “Kenapa kamu begitu nggak tahu malu. Masih kecil, tapi bukannya belajar dengan baik. Siapa yang mau kamu rayu? Kamu memang kegatalan! Kenapa aku bisa lahirkan anak sepertimu! Kenapa kamu nggak disiksa sampai mati saja sama orang!”
Ibu menamparku sampai telingaku berdengung dan kepalaku terasa pusing. Sementara itu, Justin hanya tertawa bangga.
Ucapan Ibu bagaikan panah yang menusuk hatiku. Dia jelas-jelas tahu Justin yang sengaja mempermalukanku, tetapi masih tetap begitu pilih kasih dan memilih untuk menutup sebelah mata. Rasa sakit karena disakiti oleh keluarga jauh lebih menusuk daripada ditindas di sekolah.
Pada saat itu, aku sudah sepenuhnya merasakan apa yang namanya putus asa. Baginya, Justin selamanya adalah yang terpenting.