Bab 7
"Ahh!" Orion menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit membuat amarahnya langsung sirna, berganti menjadi ketakutan dan perasaan hormat.
"Pergi sana." Bradford melepaskan sumpitnya, lalu membentak dingin.
"Memalukan! Minggir sana!" Robby pun menampakkan wajah murka, lalu menegur Orion dengan suara berat.
Sambil menahan luka di lengannya yang tertembus sumpit, keringat dingin bercucuran di wajah Orion. Dia hanya bisa menjawab dengan suara serak, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.
Setelah Orion pergi, Robby tersenyum meminta maaf. "Maafkan aku, bawahanku kurang disiplin. Nggak kusangka, kamu bukan cuma mengerti soal fengsui, tapi juga seorang ahli bela diri."
Bradford menggeleng pelan. "Nggak masalah. Ada lagi urusan lain?" Maksudnya jelas, kalau tidak ada urusan penting, jangan ganggu.
Robby segera mengangguk. "Nggak ada lagi. Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Silakan nikmati hidangan." Dia pun berbalik pergi bersama Husein dan yang lain.
Namun tak lama setelah berjalan menjauh, Robby berhenti sejenak sambil termenung. Dari saku dalam pakaiannya, dia mengeluarkan sebuah kartu emas yang berkilau, lalu menyerahkannya kepada Husein.
"Pergi. Bawa kartu ini dan serahkan pada pemuda itu."
Kartu emas itu dihiasi dengan sembilan naga berukiran timbul yang memancarkan aura kemewahan luar biasa. Husein terbelalak kaget. "Tuan Robby, ini 'kan kartu anggota royal. Anda benar-benar ingin memberikannya pada pemuda itu?"
Robby menjawab dengan tenang, "Aku sudah bertemu banyak orang hebat dalam seumur hidup ini. Aku bisa merasakannya, pemuda itu jelas adalah orang yang luar biasa. Sebelum dia benar-benar menunjukkan semua kemampuannya, aku harus menjalin hubungan dengannya terlebih dahulu."
Usai bicara, Robby menatap Husein dengan tajam. "Jangan banyak bicara, segera laksanakan!"
"Baik! Akan saya lakukan sekarang."
Husein langsung mengangguk dan menerima kartu itu, lalu bergegas kembali menghampiri Bradford. Bradford menatapnya dengan wajah tak senang. "Kenapa kamu datang lagi?"
Husein membungkuk hormat, lalu berkata, "Begini, Tuan Robby menitipkan kartu anggota Royal ini untuk Anda. Dia berharap bisa berteman dengan Anda."
"Dengan memegang kartu ini, mulai sekarang setiap kali Anda datang ke Restoran Hardara untuk makan, semua akan gratis selamanya. Selain itu, Anda juga punya hak istimewa untuk makan di Paviliun Keraton di atas danaud an menikmati Paket Royal."
Husein mengangkat kartu itu dengan kedua tangannya penuh hormat, lalu menyerahkannya ke hadapan Bradford.
"Astaga ... kartu anggota royal?" Kimmy di sampingnya sampai terbelalak dan berseru kaget.
Bahkan dirinya dan Keenan saja tidak berani membayangkan bisa menerima kartu itu! Fakta bahwa Robby bersedia memberikannya pada Bradford, sudah cukup menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin menjalin hubungan baik dengan Bradford dan bahkan sudah menempatkannya sebagai sosok yang sangat penting di hatinya.
Bradford yang juga cukup paham mengenai kartu anggota royal, ikut merasa tertegun. Namun sesaat kemudian, dia menggeleng dan berkata, "Aku nggak bisa menerimanya tanpa berbuat apa-apa. Ambil kembali saja kartu ini."
Robby kembali menghampiri dengan senyum ramah. "Anak muda, terima sajalah. Aku termasuk lumayan terkenal di tiga provinsi wilayah Hardara ini. Berteman denganku nggak akan membuatmu merasa direndahkan."
Melihat Robby begitu tulus ingin menjalin hubungan, Bradford pun tak enak hati untuk terus menolak. Dia menghela napas, lalu berkata, "Kalau begitu, baiklah. Aku terima. Nanti kalau orang yang kamu undang nggak bisa menyelesaikan masalah fengsui di sini, aku akan membantumu melihatnya."
"Bagus sekali!"
Robby tertawa lebar, lalu memanfaatkan momen itu untuk mengangkat gelas dan bersulang pada Bradford, kemudian mereka pun berbincang dengan akrab. Berhubung Kimmy ada di sana, Bradford tidak menyebut nama aslinya, melainkan tetap menggunakan nama Clayden. Robby pun memanggilnya dengan nama karena umurnya yang lebih tua.
Bradford membalas dengan memanggilnya "Tuan Robby".
Menyaksikan Bradford dan Robby bisa langsung menjadi seperti sahabat lama hanya dengan beberapa kalimat, Kimmy merasa kagum luar biasa.
Dalam hati dia membatin, 'Pak Clayden memang pantas dihormati, nggak heran sampai Pak Marva pun begitu hormat padanya!'
'Bahkan sosok sebesar Robby pun rela memperlakukannya setara, sampai-sampai memberikan kartu anggota royal dengan tangannya sendiri. Tampaknya, Pak Clayden bukan hanya ahli dalam pengobatan, tapi juga paham soal fengsui. Keluarga Taulany harus menjalin hubungan baik dengannya!'
Tak lama kemudian, seorang kakek berpenampilan seperti pertapa melangkah masuk ke dalam Restoran Hardara dengan ditemani seorang pria paruh baya berjas rapi.
"Tuan Robby, Master Higa sudah tiba." Pria paruh baya itu membawa sang kakek ke arah meja Bradford dan Kimmy, lalu melaporkannya kepada Robby dengan hormat.
Robby menoleh dan segera tersenyum lebar menyambutnya, "Master Higa, terima kasih sudah jauh-jauh datang lagi. Perjalanan ini pasti melelahkan, bukan?"
Mendengar ucapannya, Master Higa hanya mengibaskan tangan dan tersenyum tipis. "Tuan Robby terlalu sopan. Aku berlatih ilmu panjang umur. Jangankan naik pesawat dari Honka ke Kota Herburt, sekalipun harus melintasi gunung dan hutan dengan berjalan kaki sekalipun, aku nggak akan merasa letih."
Pria itu mengenakan jubah hitam panjang. Rambutnya diikat dengan sanggul, janggutnya terurai di dagu, dan wajahnya tampak angkuh. Cara bicaranya juga penuh kepercayaan diri.
Robby pun tertawa sambil memuji, "Master Higa memang udah seperti setengah dewa saja. Kalau aku yang harus menempuh perjalanan sejauh itu, pasti nyawaku sudah melayang."
Higa menggeleng pelan. "Tuan Robby jangan bercanda. Tuan hidup dengan serba nyaman, tentu berbeda dengan aku yang terbiasa hidup sederhana."
"Aku masih ada urusan penting. Setelah menyelesaikan masalahmu ini, aku harus segera berangkat ke tempat lain untuk memeriksa fengsui seorang taipan. Jadi sebaiknya jangan buang waktu, mari kita langsung lihat ke dapur."
Robby mengangguk, lalu menoleh pada Bradford. "Clayden, gimana kalau kamu ikut menemani Master Higa melihat-lihat?"
"Baik." Bradford mengangguk tanpa ragu, kemudian berdiri. Dia menoleh pada Kimmy. "Kamu tunggu di sini sebentar, aku segera kembali."
Higa sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Bradford. Dia hanya melirik sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya.
Mereka beramai-ramai berjalan menuju dapur. Robby awalnya ingin berjalan di tengah untuk menemani Higa dan Bradford. Namun, Bradford malah mundur beberapa langkah, membiarkan Robby mendampingi Master Higa. Sementara dirinya hanya berjalan di belakang bersama Husein dan yang lain.
Melihat hal itu, Higa merasa cukup puas. Dia mendengus pelan sambil berpikir dalam hati, 'Cuma anak muda rendahan, mana pantas berjalan sejajar sama aku dan Robby?'
Dapur Restoran Hardara sangat besar, nyaris tak ada bedanya dengan dapur hotel bintang lima. Namun karena beberapa hari terakhir banyak pekerja dapur jatuh sakit, suasananya malah tampak sepi. Jumlah staf yang bekerja jauh berkurang.
Begitu mereka masuk, terlihat seorang koki sedang bekerja sambil memegangi lehernya. Wajahnya menahan sakit dan mengeluarkan suara rintihan.
Belakangan ini, semua staf dapur yang sakit mengalami gejala serupa. Nyeri di bagian leher, seakan-akan ditebas dengan kapak atau pisau besar. Namun anehnya, setiap kali mereka periksa ke rumah sakit, hasilnya nihil.
Sebagian terpaksa cuti untuk beristirahat, sementara sebagian lain memaksakan diri tetap bekerja meski kesakitan.
"Ah, tambah lagi seorang koki yang sakit lehernya," seru Husein pelan.
Robby segera menoleh ke arah Higa. "Master Higa, apakah Anda bisa melihat apa masalahnya?"
"Aku harus periksa dulu."
Higa meneliti sekeliling dapur dengan saksama, lalu menghampiri koki yang sedang kesakitan itu. Dia bertanya soal rasa sakit di lehernya, lalu mengamati rona wajahnya.
Setelah itu, wajahnya menunjukkan keyakinan seolah sudah menemukan jawabannya. Dia berkata pada Robby dengan tenang, "Menurutku, para pekerja ini telah menyinggung Dewa Dapur, sehingga mendapat hukuman. Masalah ini memang nggak kecil, tapi aku punya cara untuk menyelesaikannya."
Robby sempat melirik Bradford, tetapi melihat dia tidak memberi komentar apa pun. Maka, Robby pun berkata, "Kalau begitu, silakan Master Higa turun tangan. Selama masalahnya bisa diatasi, soal bayaran tentu nggak akan sedikit."
Higa terkekeh, lalu membuka tas yang dibawanya. Dari dalam, dia mengeluarkan beberapa lembar jimat kuning dan sebilah pedang kayu persik.
Higa terlebih dulu melafalkan mantra beberapa saat. Lalu, dia tiba-tiba melemparkan beberapa lembar jimat ke udara dan meniupkan satu embusan napas. Seketika, jimat-jimat itu terbakar.
Setelah itu, dia mengayunkan pedang kayu persik di udara beberapa kali. Ketika jimat-jimat itu jatuh ke lantai, semuanya sudah berubah menjadi abu.
"Sudah. Aku telah menenangkan murka Dewa Dapur. Masalah ini sudah selesai. Dalam beberapa hari ke depan, leher para pekerja itu nggak akan sakit lagi."
"Sudah selesai begitu saja?"
Robby tampak ragu, dia menoleh sekilas ke arah Bradford.
Yang dilihatnya hanyalah Bradford menggeleng tanpa kata, lalu berkata pelan, "Masalah ini nggak ada hubungannya dengan Dewa Dapur. Yang dia lakukan hanyalah menyingkirkan energi negatif yang jahat di sini."
"Memang, beberapa hari ke depan para pekerja itu akan merasa baikan, tapi itu cuma menutup gejala, bukan mengatasi sumber masalah. Nggak lama lagi, energi negatif itu akan tumbuh kembali."
Mendengar hal itu, wajah Higa langsung menjadi kaku. Dia menatap tajam pada Bradford dan membentak, "Anak muda, kamu tahu apa?!"
Bradford hanya tersenyum samar tanpa menjawab. Dia mengangkat tangannya, seolah-olah menggenggam udara. Lalu dengan gerakan ringan, dia melemparkan sesuatu yang tak kasatmata ke arah Higa.
Dalam sekejap, Higa langsung menjerit kesakitan dan memegangi lehernya. "Anak sialan! Apa yang kamu lakukan padaku? Rasanya sakit sekali!"
Bradford berdiri tegak dengan tangan bersedekap di belakang punggung dan berkata pelan, "Aku hanya membiarkanmu merasakan sendiri, seperti apa sakit di leher yang dialami para pekerja di sini. Bagaimanapun juga, semua ini terjadi karena ilmumu yang masih kurang matang."
Bab 8
Nama asli Master Higa adalah Higa Rayana. Sebenarnya, dia memang adalah seorang pendeta yang punya sedikit kemampuan. Hanya saja, alih-alih tekun berlatih dan mendalami ilmu, dia lebih gemar berkeliling ke kota-kota besar dan menawarkan jasa fengsui pada para konglomerat demi meraup keuntungan.
Ucapan barusan tentang "Dewa Dapur" jelas hanya omong kosong yang dia karang di tempat, agar nanti bisa menagih bayaran besar dari Robby.
Kenyataannya, dapur ini memang dipenuhi aura negatif jahat yang mengerikan. Rasa sakit di leher para pekerja dapur sebagian besar juga disebabkan oleh aura negatif jahat itu.
Saat Higa membakar jimat dan memainkan pedang kayu, memang benar dia menyingkirkan sebagian besar aura negatif tersebut. Karena itu, dia merasa masalahnya sudah selesai.
Namun tanpa diketahuinya, semua perbuatannya dan bahkan apa yang ada di pikirannya, sudah terbaca jelas oleh Bradford yang berdiri di samping.
Andai Higa hanyalah pendeta setengah matang yang datang sekadar untuk mengeruk uang lalu pergi, Bradford mungkin takkan mengungkapkan kelemahannya. Sekalipun diungkap, dia tidak akan turun tangan menghukumnya.
Namun masalah utamanya, aura negatif yang muncul di dapur ini justru bersumber dari tata letak fengsui yang dirancang Higa dua tahun lalu saat dia menata Restoran Hardara. Hal itu meninggalkan celah besar yang kini menjadi bencana.
Dengan kata lain, rasa sakit di leher para pekerja dapur ... semua itu akibat ulah Higa sendiri!
Melihat Higa masih berlagak seolah masalah sudah selesai dan siap menagih upah besar, mana mungkin Bradford membiarkannya begitu saja?
Bradford meraih sisa aura negatif jahat yang masih melayang di udara dan menggenggamnya, lalu menghantamkannya ke tubuh Higa. Dia membuat Higa merasakan sendiri penderitaan para pekerja yang seakan-akan lehernya ditebas dengan kapak tajam!
Higa tidak pernah membayangkan Bradford punya kemampuan seperti itu. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, dia merasa panik dan segera berlutut memohon Bradford melepaskannya. Aura negatif yang dipaksa masuk ke tubuhnya jauh lebih pekat. Jika pekerja lain hanya merasakan sakit di level satu, maka Higa kini menanggung level sembilan!
Walau dirinya seorang praktisi ilmu fengsui, Higa tetap tidak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Melihatnya tergeletak di lantai dan berguling kesakitan hingga hampir pingsan, Bradford menilai bahwa hukuman itu sudah cukup. Dia lalu mengangkat tangannya dan menarik keluar aura negatif jahat dari tubuh Higa.
Ajaibnya, begitu Bradford mengibaskan tangannya, rasa sakit yang dialami Higa langsung hilang. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan tergeletak di lantai dengan napas tersengal-sengal. Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti pertapa yang berwibawa lagi.
Robby, Husein, dan yang lain melihat adegan itu dengan mata kepala sendiri. Tanpa sadar, sorot mata mereka terhadap Bradford seolah-olah sedang menatap sosok dewa yang turun ke dunia!
Di mata mereka, Higa sebelumnya sudah dianggap layaknya setengah dewa. Namun kini, dia dibuat tak berdaya oleh Bradford dalam sekejap. Siapa yang sebenarnya pantas disebut "dewa", jawabannya sudah jelas sekali.
"Clayden, menurutmu, di mana letak masalah dapur ini? Dan bagaimana seharusnya diselesaikan?" Robby melangkah ke depan dan bertanya dengan tulus pada Bradford.
Saat ini hatinya dipenuhi kegembiraan, sekaligus rasa syukur atas keputusannya yang terlebih dulu menunjukkan niat bersahabat dengan Bradford. Dia sadar, jika tadi dia baru memberikan kartu anggota royal setelah melihat kemampuan Bradford, kesannya pasti akan sangat berbeda.
Husein dan yang lain juga merasa sangat kagum pada Robby. Mereka berpikir dalam hati, 'Kakek Hardara memang hebat sesuai reputasinya. Kemampuannya menilai orang ini benar-benar tidak ada tandingannya.'
Bradford menjawab tenang, "Masalahnya bermula dari Master Higa ini. Waktu menata fengsui Restoran Hardara dua tahun lalu, dia membuat kesalahan kecil dan meninggalkan celah yang menjadikan dapur ini sebagai tempat berkumpulnya aura negatif jahat."
"Setiap kali ada penyembelihan, kalau yang dibunuh adalah makhluk dengan tingkat spiritualitas tertentu, maka bisa timbul 'sisa kesadaran' yang akhirnya memengaruhi orang-orang yang bekerja lama di dapur."
Bradford terdiam sejenak, lalu menoleh pada salah satu koki dan bertanya, "Orang pertama di antara kalian yang pertama kali mulai sakit leher ... apakah dia membunuh seekor labi-labi?"
Mata koki itu langsung membelalak dan dia buru-buru mengangguk. "Betul, aku ingat jelas. Beberapa hari lalu, kami memang membunuh seekor labi-labi yang sangat besar di dapur. Waktu itu semua orang bahkan sempat bercanda, bilang hewan itu hampir saja jadi siluman."
Bradford kembali bertanya, "Bagaimana cara kalian membunuhnya?"