Bab 1

Pada kehidupan sebelumnya, demi sahabat baikku, abang dan calon suamiku bersekongkol untuk menghancurkan perusahaanku. Ketika melihat aku yang gulung tikar berdiri di tengah hujan deras, mereka berdiri di samping sahabat baikku sembari mentertawakanku.

“Rose, kamu seperti seekor anjing saja!”

Saat aku membuka mataku kembali, aku kembali ke acara tender proyek pada tiga tahun silam. Awal berdirinya perusahaan pada kehidupan sebelumnya, abang dan calon suamiku memperingatiku.

Mereka tidak mengizinkan aku memanfaatkan kekuatan Keluarga Tiara dan Keluarga Qindara. Katanya, perbuatanku tidaklah adil bagi orang lain. Namun di balik itu, mereka justru menggunakan berbagai alasan untuk memberikan proyek kepada sahabat baikku demi mengembalikan senyum manisnya.

Saat aku terlahir kembali, aku melihat mereka berdua sama seperti kehidupan sebelumnya, diam-diam mengambil proyek yang seharusnya menjadi milikku kepada sahabat baikku. Akhirnya aku pun telah patah semangat.

Sewaktu mereka mengetahui kabar aku hendak ke luar negeri, abang dan calon suamiku memasang kembang api semalaman demi merayakan akhirnya terbebas dari beban sepertiku.

Namun pada acara tender Grup Arkava pada tiga tahun berikutnya, aku menggunakan statusku sebagai istri presdir berpidato di atas panggung. Kedua mata mereka berdua malah memerah.

Setelah kembali ke Kota Simbai, aku tidak menyangka orang pertama yang aku temui adalah mantan sahabatku, Angel Moara.

“Presdir Perusahaan Zenith, Angel Moara, berhasil diterima di universitas terkemuka di Kota Simbai pada usia 18 tahun dengan prestasi gemilangnya. Setelah lulus, dia membangun usahanya dari nol. Dalam waktu tiga tahun yang singkat, dia berhasil masuk jajaran pengusaha muda papan atas di dunia bisnis ….”

Di lantai satu Gedung Pertha, layar televisi di antara dua lift terus menayangkan berbagai pencapaian yang diraih oleh sang pengusaha muda Kota Simbai.

Tiga tahun tidak bertemu. Angel sudah tidak lagi terlihat seperti gadis penakut dan minder yang baru keluar dari desa. Balutan gaun mewah rancangan desainer ternama bahkan menambah kesan berkelas padanya.

Memang benar, kemewahan bisa membentuk seseorang.

Hari ini adalah acara tender proyek milik Grup Arkava yang digelar di Kota Simbai. Para wartawan sudah berjaga-jaga dan menunggu di lobi.

Aku menunduk berpura-pura tidak melihat Angel lantaran tidak ingin menghiraukannya, tetapi dia malah mendekatiku.

“Bu Rose, ternyata kamu, aku hampir saja nggak mengenalimu. Tiga tahun lalu kamu tiba-tiba pergi ke luar negeri, aku kira kamu nggak akan kembali lagi!”

Suara Angel sangat besar. Saking besarnya, wartawan yang berada di kejauhan bisa mendengar dengan jelas.

Selesai ucapan itu dilontarkan, aku bisa merasakan ada banyak tatapan yang tertuju di diriku.

“Bu … Rose … dari Keluarga Tiara ….”

“Grup Qindara … pernikahan ….”

“Mohon … mengejar suami … mau ….”

Dalam seketika, di tengah suara bisikan, terkadang aku bisa mendengar sepenggal ucapan di telingaku.

Aku melirik Angel sekilas. Dia pun berlagak tidak menyadarinya dan melanjutkan omongannya, “Kenapa kamu nggak beri tahu dulu sebelum kamu kembali? Jangan-jangan kamu sudah dengar kabar …. Bu Rose, maaf, aku sudah salah bicara.”

Setelah berbicara panjang, sepertinya Angel menyadari ada yang salah dengan omongannya. Namun, rasa bersalah dengan ekspresi panik itu telah memicu salah paham orang-orang di sekitarnya.

Pada saat ini, ada seorang wartawan bernyali besar menjerit.

“Dengar-dengar, desainer utama perhiasan Grup Tiara, Carlos Tiara dan presdir Grup Qindara, Nelson Qindara, berencana melamarmu. Bu Angel, apa kabar itu benar atau hanya rumor belaka?”

“Bu Angel, seandainya kamu dilamar bersamaan oleh Pak Carlos dan Pak Nelson, siapa yang akan kamu terima?”

Angel tidak menjawabnya. “Uhm … semua itu hanyalah rumor di internet saja. Aku harap kalian semua bisa bersuara dengan akal sehat. Selain itu, Kak Carlos dan Kak Nelson itu orang yang sangat baik. Sekarang kami adalah teman yang sangat baik.”

Pada saat ini, lift terbuka. Angel membungkukkan tubuhnya dan berkata dengan tersenyum, “Maaf, sebentar lagi aku mesti berpidato dalam acara tender Grup Arkava. Aku pergi bersiap-siap dulu.”

Angel bertanya dengan nada bersahabat, “Bu Rose, apa kamu mau naik bersamaku?”

Aku hanya ragu sejenak. Para wartawan yang tidak mendapat jawaban dari Angel pun mulai mengalihkan perhatian ke diriku.

“Bu Rose, dengar-dengar sebelum kamu ke luar negeri, kamu terus mengejar presdir Grup Qindara. Jangan-jangan kepulanganmu yang mendadak ini karena kamu sudah mendengar kabar Pak Nelson ingin melamar Bu Angel?”

“Dengar-dengar Pak Carlos itu abangmu. Bu Rose, apa kamu bisa menerima Bu Angel menjadi kakak iparmu?”

“Seandainya Pak Nelson benar-benar melamar Bu Rose, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu berencana untuk menghalanginya atau merestuinya?”

Tatapan mereka kelihatan bagai serigala kelaparan saja. Suara napas berat itu dipenuhi dengan rasa serakah dan desakan.

Kebanyakan wartawan tidak peduli dengan kenyataan. Mereka hanya menginginkan popularitas saja.

Aku percaya, seandainya aku tidak merespons, tidak sampai waktu dua jam, dugaan mereka mengenai alasan kepulanganku ke dalam negeri akan bertebaran di seluruh internet.

Di dalam benakku terlintas bayangan tubuh seseorang yang suka cemburu. Aku pun melambaikan tangannya terhadap Angel.

“Kalau begitu, aku naik dulu.”

Sebelum pintu lift tertutup, Angel menunjukkan senyuman sinis yang hanya bisa dilihat olehku. Aku mengalihkan pandanganku, langsung membalikkan tubuhku untuk berhadapan dengan wartawan.

Saat aku berencana untuk mengeluarkan kartu undangan, terdengar suara gusar dari sekitar. “Rose, siapa yang suruh kamu kemari? Jangan-jangan kamu masih ingin berbuat seperti tiga tahun lalu, merebut proyek Angel lagi?”

Usai mendengar ucapan itu, sorotan kamera langsung berubah. Mantan calon suamiku, Nelson, sedang melangkahkan kaki panjangnya ke sisiku dengan murka.

Bab 2

“Tiga tahun lalu, kamu seperti ini. Tiga tahun kemudian, kamu seperti ini lagi. Rose, apa maumu?”

Ketika disalahkan oleh Nelson, keningku pun berkerut.

“Apa maksudmu?”

Calon suamiku yang pernah berjanji setia seumur hidupnya itu malah sedang menatapku dengan tatapan penuh rasa benci.

“Semua orang di Kota Simbai juga tahu Grup Arkava sebenarnya ingin menjadikan Angel sebagai mitra kerja sama. Kalau bukan karena demi merebut proyek itu darinya, mana mungkin kamu tiba-tiba pulang dari luar negeri?”

Grup Arkava menginginkan Angel sebagai mitra kerja?

Kenapa aku tidak tahu soal itu?

Tatapanku sedikit berubah. Nelson justru salah paham mengira aku merasa gugup karena kebenarannya terbongkar. Rasa muaknya kini disertai dengan sedikit rasa meremehkan.

“Kamu kira karena kamu itu anggota Keluarga Tiara, kamu bisa menindas Angel dengan semena-mena?”

“Grup Arkava bukanlah perusahaan kecil di Kota Simbai. Mereka nggak akan peduli dengan statusmu sebagai anggota Keluarga Tiara. Seandainya kamu nggak ingin permalukan dirimu sendiri, lebih baik kamu segera tinggalkan tempat ini.”

Aku mengeluarkan kartu undangan, lalu menggoyangkan undangan di hadapannya. “Maaf, aku bisa menghadiri tender karena diundang. Kamu nggak berhak untuk mengusirku.”

“Kamu jangan nggak tahu diri ….”

Baru saja Nelson hendak mengancamku, tetapi saat mendengar suara bisik-bisik para wartawan yang mengelilingi kami, dia tiba-tiba terlihat menyadari sesuatu, lalu menatapku dengan pandangan penuh hinaan.

“Rose, sudah dari dulu aku beri tahu kamu bahwa pertunangan kita sudah dibatalkan. Bisa nggak kamu berhenti mengejarku? Nggak peduli bagaimana hubunganku dan Angel ke depannya, aku dan kamu sudah nggak mungkin lagi.”

“Kamu sudah berpikir kebanyakan. Aku datang ke sini hanya untuk mengikuti proyek tender. Aku sudah menikah. Aku sama sekali nggak tertarik dengan siapa pun yang menjalin hubungan denganmu.”

Aku tidak merendahkan suaraku. Penjelasan kepada Nelson bukan hal utama, yang paling utama adalah klarifikasi kepada para wartawan di sekitar.

Para wartawan yang tadinya mengerumuni kami mulai terdiam, sedangkan Nelson malah tersenyum sinis.

“Rose, apa kamu merasa seru? Kamu kira aku akan merasa panik setelah mendengar kamu berbohong soal pernikahanmu? Asal kamu tahu, trik tarik ulur sudah nggak efektif lagi. Aku sama sekali nggak peduli soal kamu sudah menikah atau belum.”

“Aku tahu.” Aku mengangguk, lalu memasuki lift yang baru tiba di lantai satu.

Hal yang paling penting adalah wartawan tidak sembarangan menulis. Soal Nelson percaya atau tidak, aku juga tidak peduli.

Saat menekan tombol menutup pintu lift, Nelson juga ikut memasuki lift. Pintu lift tertutup. Hanya tersisa kami berdua di dalam ruangan tertutup ini.

Nelson bertanya dengan raut muram, “Katakanlah, gimana caranya agar kamu baru bersedia untuk meninggalkanku?”

Aku tersenyum tipis. “Apa kamu begitu nggak yakin sama Angel?”

“Mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan Angel?” Nelson berkata dengan tersenyum, “Setelah Angel tanda tangan kontrak kerja sama dengan Grup Arkava, aku akan langsung melamarnya di tempat. Kalau kamu di tempat, aku takut dia akan salah paham.”

Aku membalas tanpa berekspresi, “Selamat.”

“Bisa nggak kamu jangan beronar lagi? Aku tahu kamu lagi cemburu, tapi masalah perasaan nggak bisa dipaksakan. Kalau kamu beronar lagi, semuanya juga nggak bagus buat kita.” Nada bicara Nelson terdengar agak lelah. “Begini saja, asalkan kamu tinggalkan tempat ini sekarang, aku akan bagikan dua proyek Grup Qindara kepadamu.”

Aku menggeleng dengan perlahan. “Aku nggak mau.”

Usai mendengar, terdengar nada suara tidak bersahabatnya. “Aku hanya nggak mau Angel merasa sedih saja. Lebih baik kamu jaga sikapmu. Jangan sampai kamu perbesar masalah, hati-hati nanti kamu nggak mendapatkan apa-apa.”

Selanjutnya, tidak peduli apa pun yang dikatakan Nelson, aku pun tidak melakukan respons sama sekali.

Saat pintu lift dibuka, sudah terlihat ekspresi gusar di atas wajah Nelson. Dia mengerutkan keningnya sembari berjalan keluar lift, kemudian berkata pada Carlos yang berdiri di depan pintu, lalu meninggalkan tempat dengan emosi tinggi. “Urus adikmu yang nggak tahu diri itu.”

Aku melihat saudara seibuku di luar pintu lift sembari menghela napas. Tadinya aku tidak ingin menghiraukannya, tetapi lenganku ditariknya saat berjalan keluar lift.

Carlos menarik paksa diriku ke tempat yang lebih terpencil, lalu menatapku dengan dingin. “Kamu mau ngapain?”

Aku membalas dengan datar, “Ikut tender.”

“Sembarangan. Segera pergi sekarang.” Carlos memarahiku. “Jangan-jangan kamu masih ingin seperti tiga tahun lalu, merebut proyek Angel lagi?”

Bab 3

Ucapan Carlos sama persis dengan ucapan Nelson tadi. Aku mengangkat kelopak mataku menatap orang yang memiliki hubungan darah dan memiliki hubungan terdekatku. Aku pun merasa terhina.

Proyek tiga tahun silam diinvestasi oleh Grup Tiara dan juga Grup Qindara. Proyek itu tidak tergolong besar, tapi merupakan kesempatan berharga bagi perusahaan rintisan baru.

Aku merasa dengan hubungan dekat kami, aku pun berkesempatan untuk meraup keuntungan. Jadi, aku pergi meminta proyek dari Carlos, tetapi dia malah tidak mengiakannya. Nelson yang mendengar kabar itu pun langsung mengomeliku.

Mereka mengatakan perbuatanku tidaklah adil bagi perusahaan-perusahaan rintisan baru. Namun, aku tidak mengerti. Dalam dunia bisnis, transaksi jual beli pada dasarnya adalah soal mengintegrasikan sumber daya. Kalau aku mempunyai kemampuan dan koneksi untuk menyelesaikan proyek itu, kenapa aku tidak boleh memanfaatkannya?

Kemudian baru aku tahu bahwa mereka melakukan semua itu demi Angel yang juga bersaing dalam proyek yang sama.

Baru saja Carlos dan Nelson memperingatkanku, mereka berdua pun mengirim tim profesional untuk membantu Angel menyempurnakan proposal proyeknya.

Bahkan ketika aku hampir menang dengan selisih satu suara, mereka turun tangan langsung sebagai juri dan memberikan suara mereka kepada Angel, membalikkan keadaan agar Angel bisa menang.

Saat aku menuntut penjelasan, mereka menjawab dengan lantang.

“Bisa nggak kamu punya rasa empati? Kamu punya dukungan Keluarga Tiara dan Keluarga Qindara, tapi Angel nggak punya pilihan lain selain sukses. Kalau kita sanggup, tentu saja kita mesti bantu dia.”

Pada kehidupan sebelumnya, aku tidak terima. Aku membongkar semua itu di depan umum, yang akhirnya membuat Angel gagal dalam memenangkan tender proyek tersebut.

Setelah itu, aku pun berkali-kali melawannya. Demi melampiaskan amarah Angel, Carlos dan Nelson bahkan bekerja sama menjatuhkan perusahaanku, hingga aku bangkrut lebih dulu dibanding Angel.

Saat aku dikejar-kejar oleh para penagih utang hingga tidak memiliki jalan keluar, dua orang yang seharusnya paling dekat denganku justru berpihak pada Angel, menatapku yang dalam keadaan kacau dengan cemoohan dan ejekan.

Di tengah hujan lebat, aku kehilangan kesadaran. Saat aku kembali membuka mataku, aku sudah kembali ke momen tiga tahun lalu, di ruang tender proyek itu.

Melihat Carlos dan Nelson kembali melakukan kecurangan demi Angel seperti di kehidupan sebelumnya, hatiku benar-benar mati rasa.

Setelah membubarkan perusahaanku dan pada malam saat mereka merayakan kemenangan Angel, aku naik pesawat sendirian ke luar negeri.

Selama tiga tahun ini, mereka tidak pernah sekali pun menghubungiku.

Namun pada pertemuan pertama setelah aku kembali, mereka langsung memasang sikap waswas, seolah-olah takut aku akan melukai wanita yang begitu mereka sayangi.

Meskipun ini sudah kehidupanku yang kedua, hatiku tetap terasa sesak dan sakit.

Aku menatap Carlos dengan mata memerah. Aku mengucapkan kata-kata yang sama pada tiga tahun silam sebelum acara tender dimulai, “Aku bukan mengikuti tender dengan status Keluarga Tiara. Kamu nggak berhak untuk mengusirku.”

Usai berbicara, aku menepis Carlos, hendak berjalan pergi. Namun baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ada dua pengawal yang menghalangi langkahku.

Aku membalikkan tubuhku untuk menatap Carlos. Dia malah berkata dengan ekspresi datar, “Seandainya Angel bisa mendapatkan proyek ini, perusahaannya setidaknya bisa melantai di bursa dua tahun lebih awal. Aku nggak bisa membiarkanmu merusak kesempatannya.”

Representatif perusahaan yang tidak hadir dalam tender otomatis dianggap mengundurkan diri. Hak lelang dialihkan ke peserta berikutnya.

Carlos telah mendukung Angel selama tiga tahun, tetapi dia tetap saja tidak yakin pada kemampuan Angel. Hingga saat ini, Carlos masih harus mengandalkan cara curang seperti ini untuk membantunya.

Namun, justru orang tidak berguna seperti itu malah mampu membuat dua orang yang paling dekat denganku tega mengkhianatiku. Aku spontan merasa lucu dan juga pilu.

Aku ingin bertanya pada Carlos, sebenarnya apa yang dia sukai dari Angel. Hanya saja entah kenapa, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi.

Di antara kami terpisah oleh satu kehidupan, apa pun alasannya, sudah tidak memungkinkan lagi untuk berdamai.

“Carlos, kamu kira mereka berdua bisa menghalangiku?”

Carlos mengerutkan kening. “Kamu panggil aku apa?”

“Hmph.” Aku mendengus pelan, lalu berbalik melangkah menuju para pengawal.

“Tangkap dia!”

Begitu suara bentakan Carlos terdengar, dua pengawal berotot langsung menerjang ke arahku. Saat tangan mereka hendak menangkap bahuku, aku tiba-tiba melangkah maju, mencondongkan sedikit tubuhku ke belakang, kedua telapak tanganku menusuk ke arah ketiak saat mereka mengangkat tangan.

Melihat situasi itu, para pengawal buru-buru mengubah serangan mereka dan menekanku. Aku langsung menarik kedua tanganku ke depan dada dan menegakkan punggung dengan kuat, memanfaatkan kekuatan untuk membungkuk ke depan, mengayunkan siku kiri dan kanan ke arah dada mereka.

Dug! Dug!

Para pengawal mundur beberapa langkah setelah terkena serangan. Aku segera melangkah melewati mereka. Sebelum mereka sempat berdiri dengan stabil, aku menghantamkan telapak tanganku ke punggung mereka dengan tenaga kuat, lalu segera membuat jarak ketika mereka terhuyung.

Saat itu, posisi kami pun sudah bertukar.

Saat dua pengawal itu kembali menstabilkan posisi dan hendak menyerang lagi, aku mundur selangkah dan berdiri tepat di dalam jangkauan kamera CCTV.

“Berhenti!” jerit Carlos tiba-tiba untuk menghentikan pengawal. Disusul, dia melihatku dengan ekspresi rumit. “Sejak kapan kamu berubah menjadi sehebat itu?”

Aku melihat Carlos sejenak, lalu berjalan ke aula acara tender.

Benar juga? Kenapa?

Keamanan di luar negeri memang jauh lebih buruk dibanding di dalam negeri, tapi jumlah perampokan yang kualami setiap bulan bisa dibilang berkali lipat lebih banyak dibandingkan dengan orang lain.

Kalau aku tidak belajar melindungi diri sendiri, mungkin aku sudah mati di luar sana.

Pada kehidupan sebelumnya, demi sahabat baikku, abangku dan calon suamiku malah bekerja sama menghancurkan perusahaanku. Ketika melihat perusahaanku pailit dan aku berdiri di tengah hujan lebat, mereka malah berdiri di sisi sahabatku sembari mentertawakanku.

“Rose, kamu seperti seekor anjing saja!”

Saat aku membuka mataku, aku kembali ada acara tender proyek pada tiga tahun silam. Di kehidupan sebelumnya, saat perusahaanku baru berdiri, abangku dan calon suamiku berkali-kali memperingatkanku.

Mereka melarangku memanfaatkan kekuatan Keluarga Tiara dan Keluarga Qindara, dengan alasan bahwa itu tidak adil bagi orang lain. Namun di belakang, mereka justru menggunakan berbagai alasan untuk menyerahkan proyek kepada sahabat baikku hanya demi melihat senyumnya.

Saat aku memasuki ruang tender, presentasi Angel sudah memasuki bagian akhir. Tempat dudukku tidak jauh dari Nelson.

Begitu melihatku, Nelson merendahkan suara dan berkata dengan mengejek, “Nggak kusangka kakakmu ternyata sebegitu nggak berguna, sampai membiarkanmu masuk ke sini.”

Nelson memberi isyarat agar aku melihat ke arah orang di atas panggung. Terlihat rasa kagum dan cinta yang tidak bisa disembunyikan dari tatapannya.

“Apa kamu sudah lihat? Seandainya bukan karena aku memutuskan menyerahkan proyek untuk dikerjakan oleh Angel, mana mungkin Grup Arkava akan mengundang dia untuk berpidato? Berhubung kamu sudah datang, lebih baik kamu jaga sikapmu. Seandainya kamu merusak rencana Angel, jangan salahkan aku bersikap nggak sungkan sama kamu.”

Pada saat ini, Carlos juga memasuki ruangan. Setelah melihat semua hadirin telah tiba, dia pun tersenyum sembari mengangguk ke sisi tempat yang gelap.

Setelah Angel melontarkan kalimat terakhirnya dan hendak menuruni panggung, pembawa acara meminta Angel untuk tetap berada di atas panggung.

“Seharusnya kalian semua sudah sangat familier dengannya. Dia adalah Bu Angel Moara yang merupakan bintang baru di dunia bisnis dan juga merupakan wanita karier. Dia hanya mengunakan waktu tiga tahun untuk merintis kariernya dari nol ….”

Setelah memuji, tiba-tiba raut wajah pembawa acara berubah. Topik pembicaraan pun berubah.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B79074" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B79074
Salin

Penyesalan Abang dan Calon Suami

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya