Bab 1
Sepuluh tahun lalu, demi menyelamatkan Marcus, aku kehilangan penglihatanku.
Sepuluh tahun kemudian, Marcus malah menempatkan wanita simpanannya di vila yang sama denganku. Setiap malam, dia berpura-pura menghiburku hingga tertidur di paruh malam pertama, lalu menghabiskan paruh malam berikutnya bersama wanita itu. Bahkan anakku diam-diam memanggil wanita itu "Mama".
Mereka tidak tahu, aku sudah mendapatkan kembali penglihatanku dan sedang merencanakan untuk meninggalkan mereka.
"Mona, bisa nggak bantu aku atur sebuah kecelakaan mobil? Korbannya adalah ... aku." Ravina menghubungi sahabatnya. Suaranya serak dan berat saat berbicara.
Dari seberang telepon, terdengar suara khawatir Mona, "Apa yang terjadi? Marcus si bajingan itu menyakitimu lagi?"
Aku menengadah ke langit, menatap sinar matahari yang sudah sepuluh tahun tidak kulihat. Air mataku sudah habis saat aku mengetahui Marcus berselingkuh. Dengan suara pelan, aku berkata, "Aku ingin pergi. Sekarang, cuma kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan."
Mona tidak ragu sedikit pun. "Setengah bulan lagi, kakakku akan ke kota sebelah untuk urusan kontrak. Nanti aku suruh dia bawa kamu pergi."
"Baik."
Namun, sebelum aku sempat mengatakan lebih banyak, pintu kamar di belakang terbuka. Aku buru-buru menutup telepon. Seseorang dengan tubuh tinggi dan bidang memelukku dari belakang.
"Sayang, maaf. Tadi benar-benar ada urusan mendadak di kantor. Aku janji, lain kali aku akan temani kamu ke rumah sakit."
"Oh iya, hasil pemeriksaan hari ini gimana? Apa kata Dokter Djamin?"
Pertanyaan Marcus membuat pikiranku melayang kembali ke tadi pagi.
Sepuluh tahun lalu, demi menyelamatkan Marcus, aku mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatanku.
Untuk memulihkan penglihatanku, Marcus membangun Rumah Sakit Hope, menghabiskan triliunan untuk mengundang ahli mata terbaik dari seluruh dunia demi meneliti cara memulihkan saraf optik yang rusak.
Selama sepuluh tahun ini, aku menjalani perawatan di rumah sakit setiap minggu.
Sudah 521 kali, tapi tidak ada keajaiban sekali pun.
Sebenarnya, sudah lama aku ingin menyerah. Namun, Marcus pernah berlutut memohon agar aku terus mencoba. Lalu, kami memiliki seorang anak dan alasan Marcus bertambah satu lagi.
"Kamu nggak ingin lihat seperti apa wajah anak kita dengan mata kepalamu sendiri? Kumohon ... ya?"
Bahkan setiap ulang tahun anak kami, satu-satunya harapan yang diucapkan anakku adalah agar aku bisa melihat kembali. Cintaku pada Marcus dan keinginanku untuk bisa melihat wajah anakku dengan mata sendiri, itulah yang membuatku bertahan sampai hari ini.
Namun saat penglihatanku akhirnya kembali dan aku pergi ke kantor Marcus dengan penuh sukacita untuk memberinya kejutan, aku malah melihat Marcus sedang menindih seorang wanita di atas meja kerjanya dan saling berpelukan dengan penuh gairah.
Suara napas terengah-engah dari pria itu, bercampur dengan desahan manja dari si wanita, membekukan seluruh kebahagiaan dan harapanku dalam sekejap.
Jadi ... ini yang disebut rapat darurat penting yang harus dihadiri Marcus?
Pakaian yang berserakan dari pintu hingga ke meja kerja, dokumen-dokumen yang berhamburan di lantai ... semuanya menunjukkan betapa tak sabarnya mereka berdua.
Adegan mesum di atas meja itu terasa seperti belati yang mengoyak mataku. Saat itu juga, aku berharap seandainya saja aku tidak pernah sembuh!
Tubuhku terasa mati rasa. Tangan kananku menekan dada yang begitu sesak hingga aku hampir tidak bisa bernapas. Aku hanya bisa berlari keluar dari sana, kalut dan terhina.
Namun aku tak pernah menyangka, Marcus setidak tahu malu itu hingga berani membawa wanita itu ke rumah!
Parahnya, para pembantu yang melihat itu semua tidak menunjukkan reaksi sedikit pun. Mereka tetap bekerja seperti biasa. Artinya, ini bukan pertama kalinya Marcus membawa wanita itu pulang!
Yang lebih membuatku hancur, anak yang kukandung selama sembilan bulan dan kulahirkan dengan penuh perjuangan, malah tersenyum lebar dan diam-diam berkedip genit pada wanita itu.
Anakku sendiri! Anak yang ingin kubawa pergi dari tempat ini, ternyata tahu siapa wanita itu!
Ternyata semua orang tahu kebenaran ini ... kecuali aku!
Mengingat semua kenyataan pahit yang terungkap hari ini, aku melepaskan diri dari pelukan Marcus dengan jijik. Ketika aku berbalik, aku melihat jelas bekas-bekas ciuman dan cakaran di kulit dadanya yang terbuka di balik kerah baju.
Selama bertahun-tahun aku buta, aku mengira pelukannya hangat dan pundaknya dapat kuandalkan ... ternyata semua itu begitu kotor!
Aku menggeleng lemah. "Belum sembuh."
Karena sudah memutuskan untuk pergi, tidak ada gunanya lagi memberi tahu Marcus bahwa aku sudah bisa melihat.
Ravina sudah bertekad untuk pergi dan menghilang dari dunia Marcus dan Lowie selamanya. Dia tidak lagi menginginkan kedua orang itu!
Bab 2
Marcus menghela napas, entah karena menyesal atau lega.
"Nggak apa-apa. Kamu cuma perlu ingat, meskipun seumur hidup kamu nggak bisa melihat, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Besok aku akan investasikan dua triliun lagi ke departemen mata rumah sakit supaya mereka mempercepat proses penelitian."
"Tapi, sekarang sudah waktunya makan. Ayo."
Sambil berkata demikian, Marcus membungkuk dan menggendong Ravina. Dulu, sikap manis seperti itu terasa hangat, tapi kini hanya membuat Ravina muak. Seluruh tubuhnya terasa kaku.
Mereka pun tiba di ruang makan.
"Aku mau duduk sama Mama," ujar Lowie dengan ceria.
Namun nyatanya, dia masih berdiri di atas bangku kecil dan sedang membantu wanita itu menyeka mulutnya. Di meja makan itu, Lowie dan wanita itu duduk di sisi berlawanan. Jadi, tidak mungkin mereka akan membiarkan Ravina duduk di sisi yang sama dengan wanita itu.
Semuanya sudah diputuskan sejak awal, tapi mereka masih saja berpura-pura di depan Ravina. Wanita itu mengenakan jubah mandi dan duduk santai di sebelah Marcus. Dia bahkan tampak lebih seperti nyonya daripada Ravina sendiri.
Marcus memotongkan steik untuknya dan mengupas udang, sedangkan Lowie menuangkan air untuknya ....
Semuanya masih sama seperti dulu. Bedanya, sekarang Ravina bisa melihat jelas sorot iri yang tak tersembunyi di mata wanita itu. Makanan itu terasa hambar bagi Ravina.
Dia menatap tangan Marcus yang sedang mengupas udang untuknya. Padahal pagi ini, tangan itu masih sibuk menyentuh wanita lain. Seketika, perasaan jijik menyergap dirinya.
Baru saja hendak bangkit dari kursi, Ravina melihat wanita itu menarik tangan Marcus ke bawah jubah mandinya tanpa malu-malu. Marcus sempat ingin menarik diri, tapi wanita itu menahan erat tangannya dan memaksanya ikut bergerak.
Pada akhirnya, bahkan saat tangan wanita itu sudah melepas genggamannya, Marcus pun tidak menarik kembali tangannya.
Perasaan mual yang lebih kuat menyapu seluruh tubuh Ravina. Dia tidak sanggup menahannya lagi, hingga akhirnya bersandar pada tepi meja dan muntah hebat.
Lowie panik dan buru-buru mengambil tisu untuknya. Marcus mengulurkan tangan, ingin menepuk punggung Ravina agar membantunya merasa lebih baik.
Namun, saat Ravina teringat apa yang baru saja dilakukan tangan itu beberapa detik sebelumnya, dia menepis tangan Marcus dengan keras dan berkata dingin, "Kotor."
Marcus jelas tidak memahami makna tersirat dari perkataannya, malah tampak sangat tertekan. "Tanganku tadi kupakai untuk mengupas udang, aku cuma mau lihat keadaanmu! Biar aku antar kamu ke rumah sakit!"
Ravina berusaha mendorongnya pergi. "Aku nggak apa-apa."
Dia kembali ke kamar tidur untuk mandi. Uap panas memenuhi ruangan dan wajahnya tampak samar di cermin yang berkabut. Dia kembali teringat pada percakapan yang didengarnya di luar kantor Marcus hari ini.
"Pak Marcus, apa karena setiap kali melihat mata istrimu kamu jadi nggak bernafsu, makanya kamu melampiaskan semuanya ke aku?"
"Diam! Kamu itu cuma alat, sadari posisi kamu."
Kalimat yang tak dibantah oleh Marcus itu kini terus terngiang-ngiang.
Ravina menyeka cermin dengan sapuan tangannya. Wajahnya pun terlihat dengan jelas. Ketika dia buta, apakah wajahnya sebegitu mengerikannya?
Sampai-sampai Marcus bisa melupakan hubungan masa kecil mereka, melupakan jasanya yang pernah menyelamatkan nyawa Marcus, bahkan melupakan bertahun-tahun kehidupan mereka sebagai suami istri yang penuh kasih, hanya untuk mengejar wanita lain?
Padahal pada malam pertama mereka, Marcus berkali-kali mencium matanya. Ravina bisa merasakan air mata Marcus jatuh di wajahnya.
"Ravina, akhirnya kamu jadi milikku. Aku mencintaimu. Terima kasih karena kamu juga bersedia mencintaiku. Aku akan menjagamu seumur hidup. Kalau aku mengingkari janji ini, aku akan disambar petir!"
Memang, Marcus benar-benar menjaganya dengan sangat baik. Di rumah, ada 30 orang asisten rumah tangga yang dipekerjakan, masing-masing dilengkapi dengan sensor. Jika Ravina membutuhkan sesuatu, dia hanya perlu menekan tombol remote dan seseorang akan segera datang membantunya.
Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan Ravina karena dia tidak bisa melihat, mulai dari produk perawatan kulit hingga perhiasan mahal ... asalkan istri orang lain punya dan menyukainya, Marcus pasti akan membelikannya yang lebih bagus dan lebih mahal untuk Ravina.
Marcus juga takut dia bosan di rumah, sampai-sampai membentuk sebuah tim khusus untuk menyusun majalah dan buku dalam huruf Braille agar Ravina bisa membaca.
Apakah Marcus benar-benar tidak mencintainya lagi?
Ravina rasa jawabannya adalah tidak. Marcus hanya telah belajar membagi hatinya menjadi dua dan memberikannya kepada dua orang yang berbeda.
Bab 3
Begitu keluar dari kamar mandi, Ravina melihat Marcus sedang duduk di sofa menunggunya. Marcus langsung menggendongnya dan memasukkannya ke dalam selimut, lalu memeluknya erat-erat.
"Sayang, kamu kenapa hari ini? Di rumah sakit tadi terjadi sesuatu ya? Kalau ada apa-apa, bilang saja ke aku. Suamimu ini akan selalu jadi sandaranmu."
Ravina khawatir Marcus akan menelepon Dokter Djamin, jadi dia buru-buru menenangkan, "Nggak apa-apa, mungkin aku cuma kurang istirahat."
Tepat saat itu, ponsel Marcus berdering. Marcus tidak menyembunyikannya dari Ravina, melainkan langsung membuka pesan itu. Tertulis nama kontaknya adalah "Willianti Sayang" dan yang dikirim adalah sebuah foto.
Wanita itu mengenakan lingerie model anak kucing. Dia berlutut di atas ranjang sambil menatap kamera dengan pandangan menggoda.
[ Aku tunggu Tuan di kamar ya .... ]
Marcus menahan napas, ujung bibirnya tanpa sadar terangkat. Dia membalas.
[ Aku tungguin Ravina tidur dulu, habis itu aku ke sana. ]
Wanita itu membalas dengan cepat.
[ Sekarang saja, dong .... Dia 'kan buta, nggak ada yang tuntun juga nggak bisa turun. Aku kangen kamu. ]
Marcus langsung mematikan ponsel dan mencium kening Ravina. "Sayang, ada urusan mendadak dari kantor. Aku ke ruang kerja dulu, kamu tidur duluan saja, nggak usah tungguin."
Usai bicara, dia pun buru-buru pergi.
Ravina berbaring memandang langit-langit putih di atasnya. Mungkin jauh di dalam hati Marcus, dia memang sudah yakin bahwa mata Ravina tidak akan pernah bisa sembuh. Itu sebabnya dia begitu semena-mena dan tidak lagi berusaha menyembunyikan apa pun.
Ravina bangkit dan turun ke lantai satu. Ruangan itu sunyi dan kosong, hanya dari kamar sebelah kanan terdengar suara tawa dan bisikan seorang pria dan wanita.
"Willianti, dari mana nyalimu sebesar itu? Ravina belum tidur, kamu sudah berani goda aku!"
"Tapi kamu juga tetap turun, 'kan?"
Pintu kamar tidak tertutup rapat. Melalui celahnya, Ravina bisa melihat dua tubuh yang sedang saling membelit di atas ranjang. Ruangan itu didekorasi modern dan feminin, jelas sudah ditinggali lebih dari setahun.
Artinya, rumah tangga yang dikiranya terdiri dari tiga orang yang bahagia, nyatanya sudah lama dimasuki oleh orang keempat.
Marcus menempatkan istri dan selingkuhannya dalam satu vila yang sama. Setengah malam pertama dia habiskan bersama Ravina dan setengah malam berikutnya dia turun ke "rumah kecil"-nya untuk tidur dengan Willianti. Benar-benar memuakkan.
Ravina menutup mulutnya dengan rapat, menahan jeritan yang mengguncang hatinya agar tidak terdengar. Saat berbalik, dia malah berpapasan dengan pembantu yang sedang terbangun untuk berjaga. "Nyonya? Kenapa Anda ada di sini?"
Pintu kamar pun terbuka. Marcus keluar dalam keadaan pakaian kusut dan wajah panik. Willianti mengikuti dari belakang sambil merangkul pinggangnya dan kedua tangannya masih menyusuri tubuh Marcus.
Marcus mendorong Willianti kembali ke kamar, lalu berjalan mendekati Ravina dan bertanya, "Sayang, kamu dengar sesuatu barusan?"
Ravina mengepalkan tangan, rasa sakit karena kuku yang menusuk telapak menjadi satu-satunya alasan dia bisa menahan diri untuk tidak menampar wajah pria itu. "Nggak kok, aku cuma haus. Mau turun ambil air minum."
Marcus diam-diam menghela napas lega. "Dasar kamu ini, aku sudah taruh segelas air di nakas tempat tidurmu. Kenapa kamu malah turun sendiri? Bahaya tahu!"
Marcus pun menuntunnya kembali ke kamar tidur.
Beberapa saat berlalu, Marcus memanggilnya pelan. "Ravina?"
Ravina tidak menjawab, tapi Marcus malah mengira dia sudah tertidur.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Terdengar suara Marcus yang sengaja diturunkan volumenya. "Siapa suruh kamu naik? Turun sekarang!"
Lalu, terdengar suara manja dari Willianti. "Tadi sempat terganggu ... sekarang si kucing kecil harus cari Tuan sendiri ...."
Terdengar suara gesekan kain dan suara Marcus yang menahan diri, "Turun."
"Nggak mau ... di sini saja. Dia 'kan buta, nggak akan lihat apa-apa. Justru tambah seru, 'kan?"
Yang menjawabnya adalah suara napas Marcus yang makin memburu.
Di ruangan yang gelap itu, dua bayangan tubuh yang saling melilit, jatuh ke sofa di sisi tempat Ravina berbaring. Air mata Ravina mengalir tanpa suara dari sudut matanya. Dia menggigit bibirnya dalam-dalam, menahan isak yang nyaris meledak dari dadanya.
Di tengah malam yang tidak diketahui seorang pun, Ravina melihat semuanya. Sebelum dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya, hal terakhir yang dilihatnya adalah gelas air di nakas tempat tidur yang kini sudah dingin.
Airnya dingin ... hatinya juga dingin.
'Marcus, aku akan pastikan kamu menghabiskan sisa hidupmu dalam penderitaan.'
Itulah janji yang Ravina ucapkan dalam hati.