Bab 1
Demi masa depannya, suamiku menyuruhku bekerja sebagai pengasuh di rumah atasannya.
Tak disangka, atasannya itu punya niat buruk. Tatapannya begitu vulgar hingga membuat diriku merasa tak nyaman.
Di telepon, kata-kata sanjungan suamiku masih terngiang di telinga.
Namun kenyataannya, atasannya menyuruhku menggunakan dada untuk mengeringkan noda air di celananya.
Rasa bersalah atas pengkhianatan membuat seluruh tubuhku gemetar, tapi pada saat yang sama, sensasi kenikmatan yang tak terkendali juga membasahi dadaku….
Demi masa depannya, suamiku menyuruhku bekerja sebagai pengasuh di rumah atasannya.
Awalnya aku sangat enggan, tapi suamiku memohon berkali-kali, bilang bahwa jika aku bersedia, jalan untuk kenaikan jabatan dan gajinya akan mulus.
“Lagipula ASI-mu juga berlebih setiap hari, anak kita juga nggak habis. Lebih baik kamu cari penghasilan tambahan!”
Suamiku selalu sangat baik padaku, aku tak ingin membuatnya sulit.
Dan yang dia bilang benar juga.
Kudengar atasannya, Edy adalah pria yang bermoral, jadi seharusnya tidak ada masalah.
Setelah dipikir-pikir, aku pun tak jadi mengucapkan kata penolakannya.
Sore harinya, suamiku membawaku ke rumah Edy.
Begitu membuka pintu dan melihatku, mata Edy langsung berbinar.
“Akhirnya kamu mau datang juga, anakku sedang kelaparan.”
Pada saat yang sama, tangisan bayi yang melengking bergema di ruang tamu. Seketika, naluri keibuanku muncul. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menggendong bayi itu dan mulai menyusui.
Agar lebih mudah, aku tidak memakai bra, melainkan hanya mengenakan daster dengan kerah lebar. Daster yang lembut menonjolkan lekuk tubuhku dan bagian ujung dadaku sedikit basah.
Aku menggendong bayi, lalu dengan tangan satunya menarik turun kerah dasterku, mengeluarkan satu bagian dadaku yang lembut dan mendekatkannya ke mulut si kecil.
Bayi itu langsung tenang setelah minum ASI. Melihat wajah kecilnya yang bahagia, hatiku juga terasa hangat.
“Bluk.”
Terdengar suara menelan ludah, aku terkejut dan segera menoleh ke belakang.
Ternyata Edy berdiri di belakangku entah sejak kapan dan suamiku sudah pergi. Sekarang hanya tersisa kami berdua di rumah ini.
Dan sekarang, Edy sedang menatap dadaku dengan tatapan penuh hasrat yang hampir meluap.
“Mey, ASI-mu benar-benar banyak sekali, melihat anakku minum dengan begitu puas, aku sangat senang.”
Wajahku agak memerah karena malu. Aku dengan canggung menutupi dadaku yang terbuka. Bagian itu sedikit memerah karena ulah si kecil.
Selain suamiku, ini pertama kalinya ada pria lain yang menatap tubuhku seperti ini.
“Pak Edy, ada ruangan khusus untuk menyusui? Biar aku menyusui di sana saja, biar… nggak mengganggumu juga.”
“Nggak apa-apa, nggak mengganggu sama sekali.”
Edy tersenyum sambil terus melambaikan tangan, lalu mulai menjelaskan,
“Begini, sebelumnya aku juga pernah mencari pengasuh, tapi ASI-nya nggak cukup untuk anak keduaku. Anakku hampir sakit karena kelaparan. Jadi sekarang, aku baru bisa merasa tenang kalau melihat proses menyusui secara langsung.”
“Tenang saja, kamu melakukannya dengan sangat baik. Tapi, untuk memastikan kelanjutannya, aku harus mengawasinya sendiri. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Bab 2
Alasan Edy sangat kuat.
Aku sama sekali tak menemukan celah untuk membantah.
Namun… ini benar-benar membuatku malu.
Yang tak disangka, ternyata Edy bersikap sangat sopan. Mungkin karena peka dengan ketidaknyamananku, dia tak lagi menatapku, melainkan berbalik menuju dapur.
Karena bayi sangat cepat laparnya, aku harus menunggu sebentar untuk sesi menyusui berikutnya.
Setelah selesai menyusui sesi pertama, Edy keluar dan menuangkan segelas air untukku. Tatapan penuh agresinya kembali tertuju pada dadaku.
“Mey, kamu benar-benar wanita yang baik. Berkorban begitu banyak untuk keluarga, bahkan bersedia menjadi pengasuh, begitu cantik pula. Aku benar-benar iri pada Toni.”
Toni yang dimaksud Edy adalah suamiku, Tonio.
Menghadapi pujian Edy, aku hanya bisa tersenyum sopan. Lalu dengan senyuman canggung menutupi kain yang basah di dadaku menggunakan lengan.
“Terima kasih pujiannya, Pak Edy.”
Untuk menutupi rasa canggung, aku minum air sedikit demi sedikit, menjilati tetesan air gelas yang menempel di tepi gelas.
Namun saat minum, aku mulai merasa gerah dan sensasi basah di dadaku semakin kuat, bahkan tak bisa ditahan lagi.
Aku menunduk dan melihat, ternyata ASI-ku merembes keluar.
Sial, ASI-ku benar-benar terlalu melimpah.
Aku memandang Edy dengan canggung. Tatapannya semakin membara padaku, membuatku merasa sangat malu hingga ingin menghilang.
“Maaf, aku….”
“Nggak apa-apa, aku ambilkan mangkuk untukmu, diperas saja.”
Edy bersikap sangat sopan.
Setelah membawakan mangkuk, dia langsung kembali ke kamarnya. Sekarang, hanya tersisa diriku sendiri di ruang tamu.
Aku sempat waspada, tapi setelah beberapa menit berlalu, pintu kamar Edy masih tertutup rapat.
Barulah aku merasa lega dan membuka pakaianku, lalu mulai memeras ASI.
“Wuss~”
Untuk mengeluarkan ASI-nya dengan cepat, aku mengepalkan tangan dan mulai meremas. Saat meremas, sensasi kenikmatan yang aneh menjalar seperti sengatan listrik, membuat seluruh tubuhku menegang.
Tak ada pilihan, sudah setahun penuh sejak masa kehamilan, aku tidak pernah lagi berhubungan intim dengan suami.
Sekarang, karena pengaruh hormon di masa menyusui, aku jadi sangat sensitif.
Selalu mudah terangsang.
Aku dengan malu mendongak dan melihat pintu kamar Edy yang tertutup rapat.
Napasku mulai terengah-engah.
Gatal dan tak nyaman sekali….
Selagi hanya ada diriku sendirian, aku tak bisa lagi menahan gejolaknya dan langsung mulai menyentuh diriku tanpa kendali.
Pintu kaca di balkon memantulkan bayanganku.
Berbagai sentuhan itu benar-benar membuat pandanganku menjadi kabur. Melihat diriku yang seperti ini, pikiranku mulai kacau balau.
Perlahan, tangan mungilku mulai tak tertahankan untuk merambat ke bagian bawah.
“Uh….”
Terlalu sensitif.
Begitu tersentuh, aku langsung mendesah dan seluruh tubuhku mulai gemetar.
Detik berikutnya, aku membuka mata.
Dan terlihat wajah besar Edy di depan mataku.
“Aaaa!”
Aku langsung reflek menjerit, jantungku berdebar kencang. Aku langsung menutupi diri. Sementara otakku bekerja keras untuk mencari alasan.
“Pak… Pak Edy, aku… aku sedang….”
“Nggak perlu jelasin, aku mengerti. Pasti sangat tersiksa, ‘kan?”
Mata Edy memancarkan sinar keintiman yang sulit diartikan di balik kacamatanya dan nada bicaranya juga terdengar agak merayu.
Kemudian, dia langsung membuka mulut dan menjilati payudaraku.
Aku pun tak bisa menahan diri, begitu terkena rangsangan, ASI-ku langsung mengalir deras.
“Pak… Pak Edy, kamu apain?”
Bab 3
Edy menelan ludah dengan puas, lalu tanpa ragu mengusap ASI di sudut bibirnya, sama sekali tak merasa ada yang salah dengan tindakannya barusan.
“Aku memperkerjakanmu sebagai pengasuh, jadi selama masa kerja ini, ASI-mu adalah milikku. Tentu saja barang yang kubeli dengan uang nggak boleh disia-siakan!”
Kata-katanya… masuk akal juga.
Namun….
Ini memalukan sekali!
Namun, tubuhku juga merasakan kenikmatannya.
Tidak! Tidak boleh begini! Suamiku masih sedang menungguku di rumah.
Tepat saat aku hendak berdiri untuk pergi, Edy langsung menelepon suamiku. Bagian dadaku masih terbuka dan karena gugup, ASI-ku kembali merembes keluar.
Melihat itu, Pak Edy langsung sigap berjongkok di antara kedua kakiku dan menyambutnya dengan mulut.
“Toni, saat memeras ASI tadi, istrimu merusak laptopku. Bagaimana menurutmu?”
Sejak kapan aku merusak laptopnya?
Aku ingin bicara untuk menjelaskan, tapi aku takut suamiku akan curiga mendengar suaraku sekarang. Jadi, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak bicara.
Namun, ASI yang terus menetes deras sudah menunjukkan perasaanku saat ini.
Suamiku agak bingung dan menjawab dia akan ganti rugi.
Edy mendongak, melihat bibirku yang terkatup rapat dan mata sayuku, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Nggak masalah, Toni. Aku juga tahu kamu nggak mudah, nggak perlu diganti. Tapi, tetap saja laptopnya sudah rusak, bagaimana kalau istrimu kerja fisik di sini saja untuk menggantinya?”
Suamiku ragu sebentar, kemudian menyetujuinya.
“Boleh, Pak Edy. Kamu saja yang memutuskan.”
“Sayang, kamu bantu kerjakan pekerjaan apa pun yang ada di rumah Pak Edy, ya. Kalau nggak sanggup, telepon aku saja, biar aku datang membantumu.”
“Nggak… nggak perlu!”
Aku terkejut hingga dadaku tersentak dan langsung menolak.
Jika suamiku melihat penampilanku yang memalukan ini, semuanya akan sulit dijelaskan.
Edy tersenyum licik, kedua matanya terus menatap dadaku dan bagian bawah perutku.
Seolah yakin aku tak akan berani bicara, dia bahkan langsung melepaskan tali pinggangnya, membuka risletingnya dan bersandar di sofa dengan celana terbuka lebar.
Sambil menatapku lekat-lekat, dia menggenggam ponselnya dan berbicara,
“Aduh, aku nggak sengaja menumpahkan air ke celanaku. Toni, nggak masalah ‘kan kalau suruh istrimu ambil handuk untuk lap?”
Suamiku langsung menjawab,
“Nggak masalah! Tentu saja nggak masalah, Pak Edy. Sayang! Cepat bantu Pak Edy lap!”
Aku gemetar, seperti boneka tali, pelan-pelan berlutut di bawah kaki Pak Edy.
Saat ini, tubuhku terasa sangat panas. Di bawah rangsangan antara rasa terlarang dan moral, ASI-ku semakin mengalir deras, bahkan menetes banyak di celana Pak Edy.
Rasa gatal di perut bawahku terasa seperti digigit semut, benar-benar membuatku tak bisa berpikir. Aku hampir tak kuat berlutut, harus bersandar pada kaki Pak Edy agar tak gemetar.
Aku hanya tahu… aku tak boleh menyinggung atasan suamiku.
Selama masa ini, ASI-ku adalah milik Edy.
Tugas utamaku saat ini adalah membantu Edy mengeringkan area selangkangan celananya. Jika tidak, suamiku yang akan menderita.
Lutut Pak Edy terus bergesekan dengan dadaku. Aku mendongak dan bertatapan dengan matanya yang penuh ejekan.
Di balik telepon, suamiku terus mendesakku. Di bawah tekanannya, aku berlutut di antara kedua kaki Pak Edy, perlahan menarik dasterku ke bawah, dadaku kelihatan samar-samar.
Tubuhku memiring ke arah tali pinggangnya, rambutku seperti menyentuh area terlarang. Aku pun merasakan napas Pak Edy yang menjadi berat.
Tangan mungilku yang gemetar menyentuh tali pinggangnya, wajahku sudah memerah.
“Pak Edy, pakai apa aku mengelapnya?”