Bab 1
Hari dimana ketika mertuaku diculik, suamiku sedang memasak untuk cinta pertamanya.
Aku tak menghalanginya untuk membantu orang lain, tapi setelah berbalik, aku melaporkannya ke polisi dengan niat baik. Karena aku telah bereinkarnasi.
Sebelum aku bereinkarnasi, aku melarang suamiku pergi merawat si cinta pertamanya. Dia menghentikan ayah dan ibu mertuaku yang hendak keluar rumah, mencegah tragedi penyerangan menimpa mereka.
Namun, si cinta pertamanya justru harus diamputasi karena luka di tangannya yang terinfeksi.
Setelah kejadian itu, suamiku sama sekali tidak menyalahkan aku.
Hingga setahun kemudian, saat aku hamil dan hampir melahirkan, dia membawaku ke tebing yang terpencil dan dengan tega mendorongku jatuh.
"Kalau saja malam itu kau nggak menghalangiku untuk mencari Jessi, dia nggak akan mengalami hal ini. Semua yang terjadi, itu semua salahmu!"
"Kenapa yang harus diamputasi itu Jessi? Seharusnya kau yang mati! Dasar kau wanita jahat!"
Aku terguling di tebing bersama anaknya diperutku, mati tanpa bisa menutup mata dengan tenang.
Kali ini, suamiku akhirnya keluar untuk merawat cinta pertamanya, tapi setibanya di rumah, dia malah jatuh berlutut, tubuhnya tampak lebih tua sepuluh tahun lebih tua dari sebelumnya.
Ketika cinta pertama Fandi tiba, aku kebetulan menerima telepon dari penculik.
"40 miliar! Kau punya waktu satu jam untuk mengumpulkan uangnya. Satu jam kemudian, taruh uang itu di kolong Jembatan Musin. Kalau kau berani lapor polisi, nyawanya akan melayang!"
Dengan pengalaman dari sebelumnya, aku mengaktifkan speaker telepon, dan Fandi juga mendengar panggilan itu.
Aku menoleh dan bertatapan dengan wajahnya yang suram.
Dia terkekeh sinis, "Giselle, bagaimana bisa kau seberani ini? Demi mengusir Jessi pergi, kau bahkan bersekongkol dengan orang tuaku untuk berpura-pura di depanku?"
Aku tidak menangis dan berteriak seperti yang dia kira, aku hanya dengan tenang berkata, "Aku nggak sedang berpura-pura. Mertua kita diculik dan butuh 40 miliar untuk tebusan. Sekarang, ambil uang itu."
Fandi menatapku dengan tatapan dingin, dan tanpa ekspresi dia berkata "Jadi setelah menikah nggak dapat cinta dariku, sekarang malah mau menipu uangku, ya?"
Aku dan Fandi sudah saling mengenal lebih dari dua puluh tahun. Waktu kecil, aku pernah menyelamatkan nyawanya, dan sejak saat itu orang tua kami sudah menjodohkan kami. Tapi aku tahu, Fandi selalu merendahkan latar belakangku, dan aku juga tahu dia memiliki cinta pertama yang selalu dia ingat, yang sedang kuliah di luar negeri. Tapi aku tak keberatan, karena aku mencintainya.
Sebelum menikah, aku sempat memberitahunya, jika dia tak ingin menikah denganku, dia masih bisa membatalkan dan menemui cinta pertamanya. Aku tak akan keberatan.
Dia bahkan tidak melirikku, dan hanya berkata dengan datar "Aku bersedia atas keputusanku ini."
Setelah menikah, dia menjadi lebih dingin dibandingkan sebelumnya. Sejak aku mengenalnya, dia tak pernah sekalipun memandangku dengan serius. Aku sempat berusaha menghibur diri, meyakinkan diriku bahwa sikap dinginnya itu hanyalah sifat alaminya, dan di dalam hatinya, dia tetap mencintaiku.
Tapi ketika cinta pertamanya, Jessi Hartanto, kembali pulang dari luar negeri, senyum di wajahnya terasa seperti pisau yang mengiris hatiku.
Sejak awal hingga akhir, dia tak pernah memihakku.
Pandanganku perlahan menjadi dingin, aku menatap Fandi dengan tatapan dingin. Aku benar-benar kecewa padanya.
Aku mengerutkan bibirku, lalu berkata dengan tenang, "Aku tak pernah berpikir untuk menipu uangmu, apalagi menggunakan cara yang begitu rendah dan tidak terhormat seperti ini."
"Terserah kau percaya atau nggak, orang tuamu memang sedang diculik sekarang, aku nggak sedang berpura-pura."
"Kalau kau percaya, ikutlah ke kantor polisi. Kalau nggak, pergilah, jangan halangi aku untuk menyelamatkan orang."
Mungkin karena aku terlalu sabar, atau mungkin karena ini pertama kalinya aku menunjukkan ketidaksabaranku padanya, Fandi pun diam terpaku.
Aku dengan perlahan mendorong Jessi, bersiap untuk keluar, namun Jessi malah terjatuh ke lantai.
"Ah, sakit!"
Dia berkedip dengan mata besarnya yang penuh kepolosan, air matanya jatuh membasahi wajahnya.
"Fandi, jangan marah sama Kak Giselle, dia nggak sengaja kok."
Wajah Fandi tampak sangat gelap, seakan bisa meneteskan air hujan, dia dengan tanggap langsung melangkah maju dan memeluk Jessi. Jessi memegang tangannya yang kesakitan, dan aku baru menyadari kalau tanganku juga terluka.
Fandi berteriak padaku dengan marah seakan-akan dia kehilangan akalnya.
"Kalau terjadi sesuatu pada Jessi, aku akan membuat kau merasakan akibatnya!"
Dia buru-buru membawa pergi Jessi ke rumah sakit, meninggalkanku sendirian di dalam ruangan yang besar itu.
Bab 2
Meskipun penculik itu melarang untuk melapor ke polisi, setelah berpikir panjang, aku tetap melaporkan kejadian ini ke polisi.
Masalah besar seharusnya diserahkan pada ahlinya yang lebih profesional. Setelah melapor ke polisi, aku berjalan cepat menuju kantor polisi.
Belum sampai di kantor polisi, aku sudah menerima telepon dari seseorang yang aku kenal. Aku memandang nomor yang menelepon dan mengernyitkan dahi, lalu segera mengangkat telepon.
“Tsks.”
Yang menelepon adalah sepupu Fandi, Adit. Seperti biasanya, dia tidak sabar padaku, “Memangnya melapor laporan palsu itu menyenangkan? Apa sih salahnya Kak Fandi, kenapa kau begitu kekanak-kanakan?”
Semua keluarganya Fandi meremehkan aku, hanya mertuaku yang baik padaku, jadi aku harus menyelamatkan mereka.
Aku menjawabnya dengan tenang, “Adit, apa Fandi bilang padamu bahwa aku melapor laporan palsu?”
Hening di seberang sana mengonfirmasi kebenaran ucapanku. Aku mendengus dingin dan berkata, “Adit, sebagai polisi, kau menerima panggilan minta tolong dari masyarakat tapi kau nggak menanggapinya dan bertindak, malah mengejekku? Kalau kau masih nggak bertindak, aku akan melaporkanmu!”
Adit bahkan tidak berpura-pura lagi. Dengan suara yang lantang, dia pun berteriak, “Jangan pikir cuma karena kamu nikah sama Kak Fandi, kau jadi merasa hebat! Kau itu cuma orang miskin dari kampung, orang seperti kau masuk ke Keluarga Cahyadi itu seperti bawa sial! Kalau aku jadi kau, mending mati saja!”
“Kalau bukan karena Jessi tiba-tiba pergi ke luar negeri, kau pikir Kak Fandi akan melirik kau? Jangan mimpi, dasar rendahan! Kau itu bahkan nggak sebanding sama kuku Jessi sekalipun!”
Dengan wajah datar, aku menutup telepon tanpa ekspresi, lalu melapor ke polisi lagi sekalian melaporkan Adit.
……
Aku bergegas ke kantor polisi, menceritakan dengan detail tentang penculikan mertuaku, lalu menyerahkan rekaman panggilan telepon dan nomor ponsel si pelaku kepada mereka. Tim teknis segera melakukan pelacakan, namun pada akhirnya, wajah mereka tampak diliputi keraguan.
Dalam rekaman telepon tersebut, suara pelaku terdengar terdistorsi oleh alat pengubah suara, dan nomor ponselnya ternyata nomor yang tidak terdaftar. Satu-satunya petunjuk adalah panggilan yang dia lakukan, tapi kami tidak bisa menelepon balik, dan nomor itu pun tak bisa dilacak.
“Di kartuku ada dua puluh miliar, bisa dipakai buat bantu keadaan darurat dulu.”
Aku mengambil kartu kreditku, namun ekspresiku langsung berubah serius.
Kartu kreditku terblokir, dan dananya juga dibekukan oleh Fandi. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon sekretaris perusahaanku.
“Berapa banyak uang yang bisa dipindahkan dari buku kas perusahaan dalam sepuluh menit?”
“Tiga puluh miliar, langsung transfer ke aku sekarang.”
Karena tidak bisa melacak, satu-satunya pilihan adalah memenuhi tuntutan para penculik itu. Empat puluh miliar memang bukan jumlah yang sedikit, tapi jika itu bisa menyelamatkan orang tua, semuanya akan terasa sepadan.
Masih kurang sepuluh miliar. Aku memikirkan orang-orang yang bisa aku hubungi, lalu dengan cepat aku menelepon paman dari Fandi.
“Om, orang tua Kak Fandi diculik oleh penculik. Sekarang masih kurang sepuluh miliar untuk tebusan. Tolong transferkan dulu ya, nanti setelah mereka diselamatkan, aku akan segera mengembalikannya.”
Paman dari Fandi terkejut dan berseru, “Adikku diculik? Apa Fandi tahu tentang hal ini?!"
Aku menghela napas, berkata dengan suara datar, "Aku sudah memberitahunya, tapi sepertinya dia nggak percaya. Sekarang dia sedang di rumah sakit menemani Jessi, hanya Om yang bisa membantu aku sekarang."
“Tunggu sebentar, aku akan segera mentransfer uang!”
Setelah telepon ditutup, penculik kembali menelepon lagi.
“Waktunya hampir habis, mana uangnya?!”
Hatiku terasa berat, aku berusaha menenangkan diri dan menjawab dengan suara yang lembut, “Sisa sedikit lagi, tolong beri aku sedikit waktu lagi, uang yang kau minta tak akan kurang sepersen pun.”
Suara si penculik terdengar semakin tidak sabar, “Datang sekarang juga dan bawa uang empat puluh miliar itu, nggak boleh kurang sedikit pun, jika tidak, aku akan membunuh mereka!”
Aku berusaha keras menahan emosiku, dan dengan suara tegas aku menjawab, “Setengah jam! Beri aku waktu setengah jam lagi, selama mertuaku masih hidup, uang yang kau minta akan aku berikan tanpa kurang sedikit pun!”
Begitu aku selesai berbicara, terdengar jeritan mertuaku yang penuh penderitaan di ujung telepon.
Penculik itu berbicara dengan suara dingin dan kejam, “Jika dalam setengah jam aku nggak melihat uangnya, datanglah kesini untuk mengambil jasad mereka!”
Bab 3
Setelah telepon ditutup, polisi menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang sulit.
Meskipun mereka langsung menelepon, tetap saja kami tidak bisa melacaknya.
Aku menoleh ke belakang, melihat Adit yang kebetulan lewat mendengar seluruh percakapan, dan sekarang wajahnya pucat pasi.
“Kakak ipar … Apa benar orang tua Kak Fandi diculik? Tapi Kak Fandi bilang padaku kalau mereka dan kau hanya berpura-pura...”
Aku malas berbicara lebih banyak dengannya, kusuruh dia telepon Fandi dan beri tahu dia kebenarannya.
Aku cemas melihat jam, dengan kekayaan pamannya Fandi, sepuluh miliar seharusnya tak perlu memakan waktu lama untuk ditransfer. Setelah beberapa lama, aku meneleponnya, “Giselle...”
Aku baru saja hendak membuka mulut, namun dia menghela napas berat dan mulai berbicara sendiri, “Giselle, berbohong itu nggak baik loh. Lihat saja, di keluarganya Fandi, selain mertuamu, nggak ada yang mau memperlakukanmu dengan baik. Aku pikir, anak sepertimu yang malang harus diberi lebih banyak kesempatan. Tapi... siapa sangka, orang yang malang pasti ada sisi yang membuat orang lain kesal. Kalau bukan karena kebiasaanmu berbohong, bagaimana mungkin Fandi yang baik hati bisa membencimu?”
Wajahku menjadi pucat pasi, tahu bahwa apapun caranya sepuluh miliar itu tak akan bisa terkumpul.
“Om, apa benar Fandi bilang padamu kalau aku sedang berpura-pura?”
Suaraku terdengar sedikit cemas.
“Om boleh nggak mempercayai aku, tapi sekarang polisi ada di sampingku, mereka bisa memastikan apa yang aku katakan itu benar...”
“Kamu nggak perlu sewa orang untuk pura-pura jadi polisi buat nipu Om. Meskipun hari ini kau berhasil menipu Om, apa kau bisa menipu dirimu sendiri? Giselle, Om tahu kau menyukai Fandi dan nggak mau lepas darinya, tapi Fandi sudah ada orang yang dia sukai, dan orang itu sekarang sudah kembali. Kalau kau benar-benar menderita, lebih baik cerai saja sama Fandi.”
Belum selesai dia berbicara, aku langsung menutup telepon dengan wajah yang penuh kemarahan.
‘Sekarang nyawa mertuaku terancam, kenapa malah keluarganya justru menjadikan situasi kritis ini sebagai cara untuk menyerang Fandi?’
Sementara itu, Adit akhirnya berhasil menghubungi Fandi.
“Kak Fandi, dengarkan aku! Situasinya gawat, orang tuamu sepertinya benar-benar diculik ... Polisi ...”
Tak menunggu Adit selesai berbicara, terdengar suara malas dari telepon, sepertinya yang mengangkat telepon adalah Jessi.
“Adit, kenapa sekarang kau ikut-ikutan berpura-pura dengan dia? Bilang, berapa banyak yang dia berikan padamu, aku akan beri dua kali lipat.”
Adit terlihat agak terguncang emosinya.
“Nggak!”
Jessi enggan mendengarkan lebih lanjut, ia menyerahkan ponsel kepada Fandi yang berada di sampingnya, “Fandi, adikmu juga sudah disogok oleh wanita murah itu.”
Dari ujung telepon terdengar suara yang dingin dan tegas, “Adit, jangan buat keributan lagi.”
Adit hampir menangis karena panik, “Kak, Tante dan Om benar-benar dalam bahaya, cepat kirim sepuluh miliar ke rekening istrimu!”
Di sisi lain terdengar suara dengusan dingin.
“Oh, ternyata hanya ingin uangku.”
“Bilang ke Giselle, jangan pura-pura di sini, berakting seolah-olah dia kasihan, benar-benar gila, Jessi nggak ada masalah dengan siapa-siapa!”
Suara telepon yang terputus terdengar jelas. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, hanya bisa tertawa pahit dan berkata pada polisi, “Kita harus berangkat, meskipun uangnya belum cukup, aku tetap harus pergi. Aku akan menarik perhatian para penculik.”
“Nggak bisa, itu terlalu berbahaya untukmu.”
Aku menundukkan kepala.
“Bagaimana kalau ini dilakukan oleh orang yang aku kenal? Mungkin para penculik mengenaliku, kalau kalian yang pergi, mereka bisa curiga.”
Dengan secepat mungkin, aku sampai di Jembatan Musin, dan saat itu juga, penculik menelepon.
“Mana uangnya?”
Aku berdiri menantang angin kencang, suaraku bergetar tak bisa dihentikan.
“Uangnya sudah aku letakkan di bawah jembatan. Uang ditukar dengan nyawa, orangnya di mana?!”
Suara di seberang telepon terdengar tenang, “Orangnya di gedung rusak tepat di depan jembatan, di kamar 301.”
Aku berlari menuju kamar 301. Bau darah yang sangat menyengat langsung menyentuh hidungku, jantungku berdebar keras, dan aku merasakan firasat buruk yang mencekam.
Aku mengikuti jejak darah hingga sampai di depan pintu, kemudian membuka pintu yang setengah terbuka, dan pemandangan yang aku lihat hampir membuatku runtuh.
Perut ayah dan ibu mertuaku terluka parah tertusuk dengan dua lubang besar, darah terus mengalir deras.
Dengan tangisan yang tak bisa dihentikan, aku mencoba menekan luka mereka dengan pakaianku. Namun, ibu mertuaku menghalangi dengan tangannya.
”Sudah tak ada harapan, Giselle,” katanya dengan suara lemah.
Dengan mata yang berkaca-kaca, aku memandangnya dan menggenggam erat tangannya.
”Aku sudah menelepon ambulans, polisi juga sedang dalam perjalanan. Tolong kalian jangan mati dulu, ya? Semua ini salahku, aku yang nggak bisa mengumpulkan uangnya, aku yang menunda-nunda waktu…”
Ibu mertuaku tersenyum lemah, seakan-akan menghabiskan seluruh tenaganya.
“Ini bukan salahmu, dari awal para penculik itu memang nggak berniat melepaskan kami. Kamu sudah banyak menderiat. Fandi banyak berutang padamu. Bercerailah dengan dia, semua harta kami akan kami wariskan padamu, jalani hidupmu yang seharusnya…”
Aku tiba-tiba teringat sesuatu, menangis sambil menelepon Fandi, tangan yang memegang ponsel tak bisa berhenti gemetar.
“Ayah, Ibu, bertahanlah sedikit lagi, aku akan minta Fandi datang menemui kalian sekarang juga…”
Aku mengirim pesan WhatsApp padanya, memberitahunya bahwa orangtuanya terluka parah, memintanya segera datang. Namun, tak ada balasan.
Di mata ayah dan ibu mertuaku, cahaya perlahan menghilang, hingga akhirnya mereka pun berhenti bernapas.
Aku menangis dengan hati yang hancur, menangis hingga pandanganku kabur dan tak bisa melihat dengan jelas.
“Nona Gisselle, apa kau baik-baik saja?”
Polisi datang dan tertegun melihat dua mayat di lantai. Aku hanya merasa dunia di sekitarku berputar, seolah seluruh langit menjadi gelap.
Polisi membantuku berdiri, “Nona Giselle, kami sudah menangkap para penculiknya, uangnya juga berhasil kami amankan.”
Tatapan matanya berkelip, pelan ia berkata padaku, “Maafkan kami, kami datang terlambat.”
“Kami turut berduka cita.”