Bab 1
Tepat di hari peringatan 30 tahun pernikahan kami, suamiku masih dalam perjalanan dinas. Makanan di meja sudah dingin. Di tengah aku masih menunggu kedatangannya, aku menerima notifikasi suamiku reservasi hotel.
"Aku masih dinas, bukankah wajar aku menginap di hotel?"
Suamiku masih merahasiakan, lalu aku meminta bukti video darinya, tetapi dia tidak membalas pesanku lama.
Putraku menyeletuk, "Bu, jangan bertingkah berlebihan. Bukankah Ayah bekerja keras juga untuk kita berdua?"
Semua orang menganggap aku adalah ibu rumah tangga yang bahagia karena memiliki suami yang perhatian dan putraku memiliki karier yang sukses. Namun, ketika aku menerima notifikasi reservasi hotel, seketika aku merasa muak.
Mereka mengira aku tidak tahu apa-apa.
Aku ingin bercerai.
Semua pengorbananku selama 30 tahun ini ternyata tidak dihargai.
"Kamu bukan anak kecil lagi, berhentilah membuat keributan!"
Suamiku memohon agar kami tidak bercerai. Dalam perjalanan pulang di tengah malam, suamiku mengalami kecelakaan mobil. Putraku marah dan mengatakan bahwa aku tidak becus menjadi istri maupun ibu.
Melihat anakku emosi dan suamiku yang pura-pura terbaring lemah di ranjang, aku mencibir dalam hati.
Kalau kamu suka pura-pura sakit, aku akan membuatmu lumpuh selamanya!'
Tepat di hari peringatan 30 tahun pernikahan kami, suamiku masih dalam perjalanan dinas. Di tengah aku masih menunggu kedatangannya, aku menerima notifikasi reservasi hotel.
"Aku masih dinas, bukankah wajar aku menginap di hotel?"
Suamiku masih merahasiakan. Dia mengatakan pergi dinas ke luar kota untuk penelitian arkeologi, nyatanya dia pesan hotel di pusat kota.
Putraku menyeletuk, "Bu, jangan bertingkah berlebihan. Lagi pula, tanpa Ayah, Ibu nggak bisa apa-apa."
Semua pengorbananku selama 30 tahun ini ternyata tidak dihargai.
Suamiku memohon agar kami tidak bercerai. Dalam perjalanan pulang di tengah malam, suamiku mengalami kecelakaan mobil. Putraku pun marah besar dan mengatakan bahwa aku tidak becus menjadi istri dan tidak pantas mendapat bagian dari harta yang akan diwarisinya.
Melihat anakku emosi dan suamiku yang pura-pura terbaring lemah di ranjang, aku mencibir dalam hati.
Kalau kamu suka pura-pura sakit, aku akan membuatmu lumpuh selamanya!'
…
Ketika aku mendapat notifikasi reservasi hotel, makanan di meja sudah tiga kali dihangatkan.
"Selamat menginap di Hotel Seruni! Semoga liburan Anda menyenangkan!"
Aku tertegun ketika membaca notifikasi itu, hatiku sakit sekali.
Nama suamiku adalah Hendra Suwanto. Dia merupakan profesor arkeologi yang sangat dihormati. Dikarenakan sangat jarang ada tenaga ahli di bidang arkeologi, pihak universitas mempekerjakan dia kembali.
Hendra sangat mengutamakan pekerjaannya. Meskipun hari ini adalah hari perayaan ulang tahun pernikahan kami, dia lebih memilih pergi dinas. Dia buru-buru pergi dinas tanpa berpamitan denganku.
Biasanya, aku yang mengurus segala keperluannya. Setiap kali pergi dengan tim arkeologi, aku yang mengemas pakaian dan peralatan yang dia butuhkan. Tidak hanya itu, kadang aku juga yang memesan akomodasi tim.
Sudah 30 tahun kami menikah, sosok suamiku dikenal sebagai seorang cendekiawan terkemuka yang selalu berpenampilan rapi dan memiliki segudang prestasi.
Sedangkan aku, sepenuhnya mengabdikan diri sebagai istri dan mendukungnya dari belakang. Kami berdua jarang bertemu. Pergi dinas mendadak di tengah malam sudah hal biasa. Bisa dikatakan bahwa aku merawat anakku dan orang tua sendirian, serta membantu urusan lainnya.
"Ibu lihat apa, sih? Aku panggil dari tadi, Ibu nggak menyahutku."
"Ayahmu pergi dinas. Kita makan duluan saja, aku lapar."
Terdengar suara anakku. Anakku melihat ke layar ponsel, wajahnya terlihat tertegun ketika membaca notifikasi di ponselku. Setelah itu, ekspresinya mulai santai lagi.
"Bu, itu kan Cuma notifikasi? Buat apa dilihat terus?"
Hatiku sakit sekali. Tidak ada satu kata pun bisa kuucapkan.
Aku telah menjadi istri Hendra selama puluhan tahun, satu-satunya orang yang paling memahami apa yang dibutuhkan untuk kelancaran pekerjaannya.
Hendra menjelaskan bahwa tujuan dinas kali ini untuk menggali makam kuno di daerah pegunungan, sedangkan letak hotel yang Hendra pesan ada di pusat kota. Jarak antara hotel dengan lokasi penggalian makam sangat jauh.
Tas arkeologi Hendra masih tertinggal di ruang kerjanya, bahkan sekop yang biasa dia pakai dan jubah anti air untuk masuk makam juga tidak dia bawa.
Karena biasanya aku yang membantu Hendra memesan hotel, jadi pemesanan hotel memakai nomor ponselku. Hendra lebih fokus pada urusan akademik, jadi dia tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti mengganti nomor ponsel untuk keperluan pemesanan hotel.
Hanya dia yang paling tahu alasan Hendra pergi dengan tergesa-gesa.
Selama 30 tahun pernikahan kami, aku berubah dari gadis menjadi wanita setengah baya, sedangkan Hendra masih terlihat tampan dan menawan seiring bertambahnya usia.
Aku memiliki suami yang perhatian, seorang putra yang sukses, menantu yang berbakti, dan cucu perempuan yang lucu.
Semua memujiku beruntung. Aku memiliki banyak panggilan, yaitu Nyonya Suwanto, Bu Profesor, Ibu, Nenek ….
Waktu berlalu sia-sia, sampai aku nyaris melupakan nama asliku.
Apakah pengorbananku selama ini sia-sia?
Hatiku rasanya seperti tertusuk-tusuk. Aku memandang obrolan di ponsel dengan tatapan kosong.
Pesan terakhir yang Hendra kirim di perjalanan adalah meminta maaf kepadaku.
"Sayang, maafkan aku. Tim arkeologi mendesakku datang membantu mereka. Aku akan berikan hadiah perayaan ulang tahun pernikahan di rumah, ya."
Aku menatap layar ponsel sambil meneteskan air mata.
"Hendra, ayo kita bercerai."
Bab 2
Hendra mengirimkan pesan tanpa henti seperti orang gila. Notifikasi pesan terus muncul di ponsel, tapi aku tidak mau membukanya.
Aku mengemasi barang-barangku di rumah. Tiba-tiba aku menyadari ternyata barang-barangku di rumah sangat sedikit.
Aku memperhatikan barang-barang di rumah, kebanyakan semuanya merupakan barang milik suamiku, anakku, menantu, dan cucuku.
Selain beberapa pakaian dan kebutuhan sehari-hari, tidak ada barang lain di koperku.
"Bu, buat apa cari ribut? Ibu bukan anak kecil lagi, kenapa minta cerai?"
"Kalian sudah menikah puluhan tahun, masa Ibu belum mengenal sifat ayah? Itu hanyalah notifikasi, apa artinya?"
Benar, akulah satu-satunya orang yang mengenal sifat Hendra.
Oleh karena itu, aku sangat yakin ….
Hendra selingkuh.
Hendra memilih selingkuh tepat di hari perayaan ulang tahun pernikahan kami hari ini.
Kenapa tidak cari hari lain? Kenapa dia menghancurkan ketulusanku?
Aku malas berdebat dengan putraku. Bagi putraku, ayahnya yang paling hebat dan sosok yang paling dia sanjung.
"Bu, kalau kalian bercerai, bagaimana pandangan orang nanti? Bagaimana dengan reputasi ayah?"
Mendengar itu, langkahku terhenti.
Putraku senang karena mengira dia berhasil membujukku. Aku menatap putraku dengan tatapan dingin, seolah-olah sedang menatap orang asing.
"Kalau ayahmu memang nggak selingkuh, dia nggak perlu takut. Lagi pula, ada kamu yang melindungi ayahmu, 'kan?"
"Di matamu, aku hanyalah ibu rumah tangga yang nggak berguna. Dibandingkan ayahmu yang seorang profesor terkemuka, siapa aku?"
Ayah dan anak ini berada di kubu yang sama, mana bisa aku menang melawan mereka?
Aku sudah menjaga mereka berdua dengan tulus selama ini, pada akhirnya mereka berdua juga yang menyakiti hatiku.
Menantuku tidak tahu apa yang terjadi, dia memegangku dengan ragu, katanya, "Bu, jangan pergi. Tunggu sampai ayah pulang, nanti kita bicarakan masalah ini baik-baik."
Cucuku juga memeluk kakiku sambil berkata, "Nek, jangan pergi. Aku sangat sayang sama nenek!"
Hanya menantuku yang berbakti dan cucuku yang lucu ini yang membuatku tidak rela meninggalkan rumah ini.
Saat menengadahkan kepala, aku melihat ekspresi muak putraku. Aku kecewa melihatnya.
Aku sudah berkorban selama 30 tahun, ini waktunya aku berhenti.
Putraku menilai wanita yang dia panggil "Tante Ella" yang cerdas dan anggun, jauh lebih pantas menjadi ibunya.
"Kring … kring …."
Pada saat aku hendak meninggalkan rumah sambil menyeret koper, ponsel putraku berbunyi.
"Halo, apa benar Anda adalah keluarga Tuan Hendra?"
"Pak Hendra kecelakaan di jembatan layang, sekarang sedang dirawat di UGD rumah sakit. Mohon segera datang ke rumah sakit!"
…
"Ibu sudah puas sekarang?"
"Sudah setua ini, Ibu masih cari ribut. Gara-gara Ibu, Ayah kecelakaan saat perjalanan pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ayah, aku nggak mau mengakuimu sebagai ibuku lagi!"
Selama perjalanan ke rumah sakit, putraku terus menyalahkanku.
"Fokus menyetir saja, kamu juga mau kita kecelakaan?"
Aku membalas ucapan putraku dengan kesal, sedangkan putraku memelototiku.
"Bu, jangan marah. Dia bicara begitu karena cemas."
Menantuku menghiburku sehingga emosiku mereda.
Hendra pintar menyetir, dia juga banyak pengalaman dalam menggali makam kuno yang ada di daerah terpencil. Demi melindungi peninggalan sejarah, dia bisa mengendarai mobil jeep di tengah hujan deras. Mana mungkin dia bisa kecelakaan di jembatan layang?
Dari hasil pemeriksaan polisi, Hendra bukan ditabrak, melainkan Hendra sendiri yang hilang kendali saat menyetir, kemudian dia menabrak pembatas jalan.
Putraku sibuk mengurus administrasi di rumah sakit. Ketika aku ingin melihat rekam medis suamiku, putraku menghalangiku.
Bab 3
"Buat apa melihat rekam medis ayah? Kalau Ibu nggak ada kerjaan, lebih baik minta maaf sama ayah."
"Gara-gara kecurigaan ibu, jadinya ayah masuk rumah sakit."
Hendra terbatuk beberapa kali, lalu menatapku dengan wajah bersalah.
Meskipun kedua alisnya sudah memutih, dia masih terlihat tampan dan cerdas.
"Sayang, aku nggak sengaja. Aku mengalami kecelakaan karena buru-buru pulang demi bisa berdamai denganmu."
"Kumohon, jangan ceraikan aku."
Hendra memegang tanganku dengan erat.
"Kamu ingin damai? Boleh saja."
"Jawab aku. Kenapa kamu tinggal di pusat kota, sedangkan lokasi penggalian makam kuno ada di daerah terpencil? Kenapa kamu nggak membawa peralatan dan pakaian tahan air? Kenapa kamu pergi dengan mengenakan setelan jas?"
"Di mana bros antikmu?"
Hendra terdiam, seolah-olah dia mengakui bahwa dugaanku benar.
Aku mengeluarkan surat cerai dari tas.
"Tanda tangan."
Aku sudah berkali-kali memberi Hendra kesempatan. Sayangnya, kali ini aku tidak bisa memaafkan perbuatannya.
Pembagian harta tertulis jelas dalam surat cerai itu. Aku tidak akan menyerahkan apa yang menjadi hakku, aku juga tidak akan merebut harta yang menjadi milik Hendra.
Putraku terkejut saat melihat surat cerai kami.
"Bu, ayah masih terluka setelah kecelakaan, kenapa ibu masih meminta cerai?"
"Ibu ingin mengambil rumah di daerah kota? Rumah itu dekat area sekolah. Kalau ibu mengambil rumah itu, bagaimana Yuna sekolah nanti?"
Aku menatap sinis ke arah putraku. "Apa salahnya aku minta cerai?"
Hendra masih diam. Dia terus menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti.
"Bisakah kamu membatalkan niatmu untuk bercerai?"
Hendra memohon dengan suara serak.
Aku menyingkirkan tangannya, lalu pergi.
Setelah meninggalkan rumah sakit, akhirnya aku merasakan kelegaan.
"Bu, mau tinggal di mana kalau cerai sama ayah?"
"Pokoknya, ibu nggak boleh ambil rumah di dekat area sekolah itu. Rumah itu akan ditinggali Yuna waktu dia sekolah nanti."
Putraku jauh lebih panik daripada Hendra, dia terus menghubungiku tanpa henti.
"Kamu sudah lupa, ya. Waktu kamu baru lahir, ayahmu masih mahasiswa miskin dan belum ada penghasilan?"
"Aku yang beli rumah itu."
Penilaianku dulu dalam membeli rumah tidak salah. Tidak lama setelah aku membeli rumah itu, rumah itu dirobohkan dan dibangun menjadi apartemen. Rumah itu juga dekat dengan area sekolah sekarang.
Masalah tempat tinggal cucuku waktu sekolah pasti akan kubantu. Bagaimanapun juga, Yuna adalah cucu yang paling kusayangi. Putraku hanya memakai cucuku sebagai alasan untuk menguasai rumah itu.
Aku akan menghalangi putraku.
Hendra hanya pura-pura sakit parah di rumah sakit, padahal dia hanya mengalami gegar otak ringan dan lengan terkilir.
Sementara itu, putraku emosi seperti orang gila, berusaha menghalangi aku bercerai dengan Hendra, dan terus menghinaku.
Aku sudah muak melihat tampang mereka berdua.
Hendra masih tidak mau tanda tangan surat cerai. Untuk mengobati kekesalanku, aku memutuskan berlibur ke luar negeri.
Mereka selalu menganggapku sebagai ibu rumah tangga yang bodoh, tidak sehebat istri-istri di luar sana.
Padahal mereka lupa, tanpa dukunganku selama ini, Keluarga Suwanto tidak akan sehebat hari ini.
"Mira, kamu benaran mau cerai?"
"Nanti kamu menyesal."
Itu adalah pesan terakhir yang Hendra kirimkan padaku.
Bagaimanapun juga, Hendra adalah seorang profesor yang punya jabatan tinggi. Oleh karena itu, dia tidak akan diam saja tentang perceraian kami.
Aku sangat menyukai pemandangan di luar negeri. Begitu turun dari pesawat, aku membaca berita viral di media sosial.
Putraku mengunggah masalahku dengan Hendra di media sosial. Karena sosok Hendra dikenal sebagai "Profesor paling tampan" di kalangan para mahasiswanya, berita ini menjadi viral.
"Astaga, Bu Profesor keterlaluan sekali. Dia marah hanya karena suaminya nggak pulang waktu perayaan ulang tahun pernikahan? Bukankah tingkahnya sungguh kekanak-kanakan?"
"Padahal Profesor Hendra tampan dan lembut. Di kelas, Profesor Hendra masih menceritakan tentang kisahnya dengan istrinya. Bu Profesor terlalu cemburuan."
"Bu Ella jauh lebih cocok berpasangan dengan Profesor Hendra. Sebenarnya, aku berharap mereka bisa jadi pasangan kekasih."
Setelah membaca semua video dan komentar di media sosial, akhirnya aku paham kenapa Hendra mengatakan bahwa aku akan menyesal nantinya.
Karena Hendra gagal membujukku untuk membatalkan perceraian, dia ingin membalasku.
Contohnya, dia ingin aku dinilai sebagai istri pembuat onar dan cemburuan.
Namun, dia salah besar.
Aku adalah seorang pedagang yang dulu berjuang keras di tengah persaingan bisnis, bukan orang terpelajar yang perlu menjaga nama baik.
Makin dia ingin menjaga reputasinya, makin aku ingin merusak reputasinya!