Bab 1
Demi membantu keuangan keluarga, aku bekerja sebagai pengasuh di rumah Tuan Linclon. Tapi bukan hanya harus mengurus dia dan anaknya, bahkan harus mengurus ayahnya juga."
“Tuan Linclon, apa aku sudah boleh pulang?”
Mereka berdua menatapku dengan mata tajam.
Mereka langsung menarik tanganku dari dua sisi, lalu mendekatkan wajah mereka.
“Tidak boleh pergi, kami belum kenyang!”
Malam hari, setelah selesai menyusui dan menidurkan anak, aku menghela napas lega.
Tapi suamiku yang sudah tidak sabar, langsung menarik tanganku, memelukku dengan erat ke dalam pelukannya dan menyandarkan wajahnya ke dadaku.
“Mulut mungil itu rakus sekali, sampai lupa menyisakan sedikit untuk ayahnya.”
“Mmh ... ”
Tarikan suamiku terlalu kuat, jauh lebih menyakitkan dari bayi yang biasa menyusui. Aku langsung mengerutkan kening dan seluruh tubuhku bergetar.
Dasar suami kurang ajar, ngomong apa sih? Anaknya juga minumnya cuma sedikit.
Lagipula ASI-ku sangat berlimpah. Jangankan satu bayi, tiga bayi sekaligus pun masih cukup dan tersisa.
Setiap hari terus mengalir deras, sampai harus ganti beberapa handuk sebagai alasnya.
Suamiku pun meneguk dengan lahap. Setelah cukup lama, barulah dia duduk tegak dengan wajah puas.
Tapi setelah itu, seluruh tubuhku menjadi lemas, geli dan terasa seperti digelitik semut. Aku pun tidak kuasa menahan napas berat sambil melirik ke arah tubuhnya, namun akhirnya hanya bisa menarik pandanganku kembali dengan pasrah.
Beberapa waktu lalu, suamiku mengalami kecelakaan mobil. Meski kini sudah hampir pulih, tapi kami tidak bisa lagi melakukan hubungan suami istri.
Walaupun hati aku ingin sekali, tetap saja tidak bisa bicara terus terang di depannya. Setiap malam setelah dia tertidur, aku diam-diam masuk ke kamar mandi sendirian dan menggunakan alat bantu untuk mengusir kesepianku.
Aku bahkan belum genap tiga puluh tahun. Masa harus menjalani sisa hidup seperti janda?
Tiba-tiba, suamiku mulai mengusap-usap tubuhku.
“Kau masih mau minum?”
Suamiku menggelengkan kepalanya, lalu menatap bagian bajuku yang basah, menekan dengan ujung jarinya, “Mery, ASI kau sangat banyak. Bagaimana kalau kita manfaatkan untuk cari uang?”
Aku menatapnya dengan tersenyum. ASI ini cuma buat anak dan dia sendiri, mana mungkin bisa dijadikan alat cari uang?
Tapi ternyata, suamiku benar-benar serius saat mengatakan itu.
"Sebenarnya Tuan Linclon sudah beberapa kali berkata kepada aku. Dia ingin kau bantu menyusui anaknya. Katanya kondisi fisik anaknya agak lemah dan ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuhnya. Kalau kau setuju, dia mau bayar empat ratus ribu per hari.”
Suamiku dulu bekerja dengan Tuan Linclon. Anaknya lebih tua beberapa bulan dari anak kami. Aku pernah dengar istrinya kekurangan ASI, jadi pakai susu formula.
Sehari empat ratus ribu, mataku langsung berbinar.
Sekarang aku tidak bisa kerja karena harus mengurus anak. Suamiku juga masih dalam masa pemulihan dan butuh banyak biaya. Keuangan kami benar-benar sulit, rasanya selembar uang pun ingin kurobek jadi dua agar bisa lebih hemat.
Empat ratus ribu per hari, sebulan bisa dapat dua belas juta. Itu cukup buat menutupi kebutuhan mendesak sekarang.
Apalagi Tuan Linclon orang yang sangat baik, sangat perhatian pada suamiku, bahkan menyuruhnya istirahat di rumah tanpa khawatir kehilangan pekerjaan dan posisi lamanya pun akan tetap aman agar bisa kembali bekerja.
Setelah sepakat, keesokan harinya aku pun datang ke rumah Tuan Linclon.
Tuan Linclon tahun ini berusia 35 tahun, tinggi, tampan dan berwibawa. Usianya tidak jauh beda dengan suamiku, tapi dia sudah punya perusahaan sendiri dan memimpin puluhan karyawan.
Berdiri di ruang tamunya yang mewah, aku menunduk, kedua tangan mencengkeram ujung bajuku. Rasanya sungguh tidak nyaman, aku serasa tidak pantas berada di ruangan mewah seperti ini.
Dadaku terasa sangat bengkak, ASI mulai merembes keluar membasahi pakaian dalam hingga terasa lembap dan menempel di kulit. Tidak lama lagi pasti akan tembus keluar.
“Anaknya ada di mana? Aku bisa mulai menyusui sekarang.”
Mengucapkan kata-kata seperti itu di depan seorang pria dewasa, apalagi dia adalah atasan suamiku, benar-benar membuatku malu. Wajahku seketika memerah terasa seperti terbakar.
Tuan Linclon tidak menjawab, matanya justru menatap ke arah dadaku yang membusung, lalu mengulurkan tangan ke arahku. Aku terkejut dan langsung menarik tubuh ke belakang, tapi tangannya malah menepuk bahuku.
“Mery, tidak perlu tegang,” ujarnya dengan lembut. “Aku benar-benar berterima kasih karena kau mau bantu aku. Anggap saja tempat ini seperti di rumah sendiri.”
Sejujurnya, tadi aku sempat mengira dia akan meraba dadaku. Untung saja tidak.
Aku cepat-cepat mengangguk, seperti anak ayam mematuk beras. Harusnya akulah yang berterima kasih karena sudah diberi kesempatan ini.
Aku pun mencuci tangan dan bersiap untuk menyusui, tapi Tuan Linclon tiba-tiba menghentikanku.
“Bagian itu tidak dibersihkan dulu?” katanya sambil menunjuk ke dadaku.
Wajahku langsung memerah. Suaraku nyaris tidak terdengar.
“Tadi sebelum berangkat aku sudah dibersihkan, jangan khawatir.”
Tuan Linclon menggeleng pelan. “Mery, jangan anggap aku merepotkan ya. Aku orang yang cukup menjaga kebersihan. Jadi, setiap kali sebelum menyusui anak, kamu harus bersihkan lagi.”
Tidak kusangka, seorang pria seperti dia ternyata sangat memperhatikan kebersihan.
Apa yang dia katakan masuk akal juga. Aku yang kurang teliti.
“Baik, aku akan bersihkan sekarang.”
Aku pun berjalan ke wastafel dan bersiap membersihkan diri. Saat itu, Tuan Linclon juga ikut mendekat dari belakang. Tatapannya tidak berkedip mengarah ke tubuhku dan tubuhnya yang tinggi besar menjatuhkan bayangan besar di atasku, membuatku benar-benar tertekan. Dalam situasi seperti ini, bagaimana aku bisa mulainya.
Bab 2
“Mery, bisakah kau tunjukkan sebentar? Aku belum sempat mengeceknya sebelumnya. Ini soal anak-anak, jadi harap maklum kalau aku agak cemas.”
“Ah ... ternyata masih harus diperiksa.”
Saat itu juga, wajahku memerah hingga ke telinga kerena malu, aku sangat ingin lari dari situ secepat mungkin. Namun tekanan hidup yang begitu berat membuatku tidak mampu untuk melangkahkan.
Tuan Linclon yang membayar jasaku, jadi dia tentu ingin memastikan aku tidak punya kekurangan atau masalah yang bisa berdampak buruk bagi anaknya.
Dalam hati, aku terus mengulang-ulang alasan itu, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini memang masuk akal.
Aku sambil menggigit ringan bibir merahku dan membuka sisi baju menyusui. Dada yang sesak sejak pagi hari akhirnya lega dan aliran susu pun langsung mengucur, membasahi sekelilingnya.
Aku hanya mendengar tarikan napas pelan di sampingku. Tuan Linclon mendekat dan napas hangatnya menyentuh kulitku, membuatku geli dan kesemutan.
“Mery, kenapa kau bisa sebesar ini?”
Aku menatapnya sekilas dengan malu. Apa yang perlu diherankan? Bukankah semua ibu menyusui memang seperti ini?
Namun aku memang sedikit lebih besar dibanding kebanyakan ibu menyusui lainnya. Rasa sesak itu selalu datang setiap hari, membuatku sering merasa tidak nyaman.
“Istriku tidak sebesar separuhmu, jadi wajar kalau dia tidak bisa menyusui. Syukurlah ada kau, anakku benar-benar beruntung.”
Dia dengan sengaja menarik napas panjang secara berlebihan, mengacungkan jempol ke arahku dan bekata dengan penuh pujian, “Wangi sekali, benar-benar wangi.”
Setelah membersihkan diri, aku berjalan ke ranjang kecil dan menggendong Zony, putra Tuan Linclon. Si kecil terlihat sudah lapar, kepalanya terus bergerak mencari susu. Aku pun segera menyusui dan dia langsung menyusu dengan lahap.
“Aduh ... ”
Mungkin karena terlalu lapar, gigitannya kali ini terasa cukup kuat. Zony memang lebih besar beberapa bulan dari bayiku dan sudah mulai tumbuh gigi, tidak heran kalau terasa agak nyeri.
“Ada apa? Kau tidak apa-apa kan?”
Mendengarku menarik napas karena kaget, Tuan Linclon langsung menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dia menyentuh pipi Zony dengan jarinya, mencoba memastikan semuanya baik-baik saja.
Ujung jarinya yang kasar tanpa sengaja menyentuh kulitku yang lembut dan menekannya sedikit, lalu berkata, “Hmm, lembut dan kenyal sekali.”
Dia memuji dengan sangat tenang, seolah sedang memuji sebuah barang dagangan.
Tadi aku terlalu panik melihat si kecil kelaparan, sampai tidak menyadari dia sudah duduk begitu dekat denganku.
Aku sedikit memiringkan tubuh, lalu menatap Tuan Linclon dengan canggung berkata, “Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Kau tunggu sebentar di samping ya.”
Padahal aku sudah memberi isyarat yang cukup jelas, tapi Tuan Linclon sama sekali tidak menunjukkan tanda untuk pindah, malah semakin mendekat, membuat jarak kami menjadi sempit.
“Mery, sebelumnya aku sudah bilang kalau aku orang yang khawatiran. Jadi aku tetap harus lihat dari dekat. Jangan salah paham ya, ini bukan karena aku tidak percaya padamu.”
Saat Tuan Linclon duduk mendekat di atas sofa yang empuk, tempat duduk itu langsung tenggelam cukup dalam, membuat tubuhku ikut miring dan terjatuh kearahnya.
Aroma laki-laki yang kuat langsung menyapu ke arahku. Sementara mulut Zony sedang menyusui, tanpa sadar pikiranku mulai membayangkan wajah mungil ini tiba-tiba tergantikan oleh wajah Tuan Linclon. Seketika tubuhku terasa hangat dan gelisah, hingga tanpa sadar kedua kakiku saling bersilang menahan rasa yang muncul tiba-tiba.
Sekarang begitu banyak berita negatif tentang pengasuh anak, mungkin itu membuat Tuan Linclon memilih duduk di samping untuk mengawasi, khawatir aku tidak menyusui anaknya dengan benar.
Tapi jaraknya terlalu dekat, hingga pahanya bersentuhan langsung dengan kakiku dan saat dia membungkuk untuk melihat lebih dekat, dada pun tidak sengaja menyentuh tanganku.
Tubuh Tuan Linclon begitu kekar, ototnya terlihat kokoh dan kuat. Jika dibandingkan denganya, suamiku terlihat kecil dan tidak berdaya.
Setelah suamiku kehilangan kemampuannya sebagai pria, aku sering merasa tertekan dan kesepian. Mungkin karena itu, tanpa sadar aku mendekat ke Tuan Linclon dan perlahan menyentuhkan diri ke tubuhnya yang tegap dan kuat itu.
Posturnya sungguh mengesankan, bahkan kaus sederhana yang dia kenakan tampak ketat di badannya. Kalau bajunya dilepas, pasti akan terlihat otot dada yang indah dan perut berotot yang tersusun rapi, pasti memancarkan pesona yang sangat kuat.
Hasrat itu berteriak di dalam tubuh. Fantasi yang tidak bisa dikendalikan terus-menerus menyerbu pikiranku. Dalam bayanganku, Tuan Linclon berdiri di hadapanku tanpa mengenai pakaian satu helai pun, memperlihatkan tubuh kekarnya, lalu menekan bahuku dan membaringkanku di sofa. Menghukum Wanita tidak tahu malu ini dengan baik.
“Eh, di sini ada yang keluar.”
Di tengah gejolak yang tidak tertahan, air susu akan meluap keluar, aku baru sadar kalau sudah kehilangan kendali. Saat ingin membersihkannya dengan handuk, Tuan Linclon sudah mengambilnya terlebih dulu dan menekankannya dengan cepat.
Karena penekananya kurang tepat, setetes cairan tanpa sengaja menyembur mengenai wajahnya.
Dia tertegun dan menatap cairan yang masih terus mengalir itu. Dia buru-buru menundukkan kepala segera menangani hal ini. Telapak tangannya yang hangat menekan pahaku dengan erat, membuatku kaku tidak bisa bergerak.
Aku sangat ketakutan, kedua tanganku sedang menggendong bayi sehingga sama sekali tidak bisa melawan, hanya bisa menggerakkan tubuhku.
“Tidak, kumohon, jangan seperti ini.”
Karena panik membuat napasku jadi tidak teratur.
Namun, Tuan Linclon seolah-olah tidak mendengarnya dan menjadi semakin kuat. Mulut kecil Zony terus bergerak-gerak, dua sensasi itu membuatku menghela napas lembut, membuat seluruh tubuhku menjadi melemas.
Kedua kakiku terbuka dan sebuah sentuhan asing menyentuh tubuhku.