Bab 1

Selama enam tahun menikah diam-diam dengan suami yang seorang direktur, suamiku tetap tak mau putra kami memanggilnya ayah.

Saat dia kembali melewatkan ulang tahun putraku karena sekretaris wanitanya, akhirnya aku pun mengeluarkan surat cerai dan pergi selamanya bersama putraku.

Pria yang biasanya tenang itu langsung kehilangan kendali, seperti orang gila masuk ke kantor untuk mencari di mana keberadaanku.

Hanya saja, aku dan putraku tak akan kembali lagi kali ini.

“Pak Rey, aku mau pergi pelatihan keluar negeri bulan depan. Ini surat pengunduran diriku.”

Manajer menatapku dengan heran.

“Kok tiba-tiba sekali?”

Aku pun mengeluarkan alasan yang sudah kusiapkan.

“Suamiku ada di Aussi. Aku berencana membawa anakku ke sana, biar kami bisa berkumpul kembali.”

Manajer mengangguk.

“Baguslah. Mengurus anak sendirian di sini pasti berat. Kami semua mengira kamu itu ibu tunggal.”

Aku tersenyum.

Dulu bukan… tapi sebentar lagi iya.

Begitu keluar dari ruangan, aku langsung berpapasan dengan Jeff dan Luela.

Jeff adalah bosku dan juga ayah dari anakku.

Tujuh tahun lalu, aku masih menjadi sekretaris pribadinya. Karena mabuk malam itu, kami pun punya anak.

Tahun ini adalah tahun keenam pernikahan diam-diam kami.

Dan juga tahun keenam dia melarang anak kami memanggilnya ayah.

Langkah Jeff pelan, seolah sengaja menyesuaikan diri dengan wanita di sampingnya.

Luela memegang laporan dengan satu tangan, tangan lainnya menarik ujung jas Jeff. Mereka terlihat manis, sangking manisnya sampai terasa menusuk mata.

Saat berpapasan, jantungku ikut bergetar. Aku masih tak bisa menahan diri untuk memanggil,

“Jeff….”

Langkah pria itu berhenti, ekspresinya tampak dingin.

“Bu Felicia.”

Panggil Jeff dengan penuh jarak itu seolah membawa peringatan terselubung.

Mengingatkan bahwa ini di kantor dan hubungan kami hanyalah atasan bawahan.

Aku mengerti maksudnya dan menelan kembali semua emosi yang sempat muncul tadi.

“Pak Jeff.”

Jeff hanya menjawab singkat, langkahnya tidak berhenti, seakan diriku hanyalah orang asing.

Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri, menelan kembali niat untuk memberitahu soal pengunduran diriku.

Lagipula, dia juga tidak akan peduli.

Layar ponsel menyala, itu pesan dari jam tangan anakku.

[Ibu, ayah bakal pulang untuk merayakan ulang tahunku?]

Aku terpaku, reflek menoleh ke belakang.

Malah melihat Jeff menunduk dan berbicara lembut dengan Luela.

Saat ada orang lewat, dia spontan melindungi Luela di pelukannya. Sorot matanya penuh kelembutan.

Aku menahan rasa perih di dada, tapi tetap mengirim pesan pada Jeff.

[Hari ini ulang tahun Joel, kamu ada waktu malam ini?]

Melalui lorong, aku melihat dia mengambil ponselnya, tak sampai tiga detik, dia meletakkannya lagi. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.

Melihat layar pesan yang tidak mendapat balasan, aku hanya bisa tersenyum pahit.

Felicia, kamu masih belum sadar?

Sudah tahu hatinya tak akan luluh, apa yang masih kamu harapkan?

Aku memasukkan ponsel ke saku, menarik napas panjang dan melangkah pergi.

Jeff, kamu sudah bebas sebentar lagi.

Setelah keluar dari kantor, aku langsung pergi menjemput anakku di TK.

Melihatku, hal pertama yang dia katakan adalah,

“Ibu, hari ini ulang tahunku.”

Kalimat keduanya,

“Ibu, ayah bakal datang merayakan bersama kita?”

Di tengah keramaian jalan, mataku langsung berkaca-kaca.

“Ayahmu….”

Belum sempat aku menjawab, ponsel pun berdering.

Akhirnya Jeff membalas.

[Aku ada waktu, bisa pulang.]

Seketika, hatiku terasa sangat gembira. Aku pun langsung mengangguk tanpa sadar.

“Tenang saja, Joel. Ayah bakal pulang.”

Anakku menepuk tangannya dan langsung memelukku dengan semangat.

Menikah enam tahun, ini pertama kalinya Jeff mau menemani anak kami di hari ulang tahunnya.

Malam itu, aku memasak banyak hidangan enak. Joel juga cepat-cepat menyelesaikan PR-nya.

Satu jam ….

Dua jam….

Tiga jam berlalu….

Aku terus mengirim pesan padanya.

Seperti biasa, aku tak mendapat balasan.

Sepertinya Joel menyadarinya. Dia pun menatapku dengan tatapan penuh kehati-hatian.

“Ibu, ayah sangat sibuk, ya?”

Dadaku terasa sakit. Ingin menjelaskan, tapi tak ada satu pun kata pembelaan yang bisa keluar.

Akhirnya, hanya berubah menjadi,

“Nggak apa-apa, ibu akan selalu menemanimu.”

Joel pun tak bertanya lagi. Dia mengambil topi ulang tahunnya.

“Ibu, tolong pakaikan untukku.”

Aku mengangguk.

Saat hendak memakaikannya, mataku tak sengaja melihat postingan baru Luela.

[Hari ini sangat luar biasa. Aku sangat menyukai hari ini.]

Bab 2

Foto yang dia posting menunjukkan hidangan di sebuah restoran mewah.

Meski wajahnya tidak terlihat, aku tetap menyadari cincin pernikahan yang tak sengaja muncul di sudut kanan atas foto itu.

Cincin itu adalah cincin yang kupilih khusus saat aku dan Jeff menikah.

Hanya saja, dia selalu memakainya di jari kelingking tangan kiri.

Karena itu melambangkan status lajang.

Miris sekali.

Cincin yang seharusnya menjadi simbol pernikahan, justru menjadi lambang kesendiriannya.

Di hari uang tahun anak kami yang keenam, dia malah makan malam romantis dengan kekasihnya di restoran mewah.

Seketika, semua rasa sakit pun berubah menjadi ketenangan.

Aku menekan tombol suka, lalu meletakkan ponsel.

Kemudian, kembali mengenakan topi ulang tahun untuk anakku.

“Selamat uang tahun, Joel.”

Di bawah cahaya lilin, anakku menutup mata dan mengatupkan tangan.

“Permintaan ulang tahunku adalah bisa bersama ibu selamanya.”

Aku mengangkat ponsel dan mengabadikan momen itu.

Keinginan untuk pergi untuk benar-benar berakar saat itu juga.

“Iya, ibu janji padamu.”

Malam itu, kami tidak lagi menyebut nama Jeff sekalipun.

Seolah memang hanya ada kami berdua di rumah ini.

Setelah Joel tertidur, aku mengambil surat cerai yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari.

Sisa keraguan di hati pun sudah menghilang.

Jam dua dini hari, akhirnya Jeff pulang.

Saat melihat kue di meja, tatapannya sempat menunjukkan penyesalan.

“Maaf, aku lupa.”

Aku hanya merasa konyol, padahal pesan pengingat di ponselnya muncul berkali-kali.

Dia benar-benar tak melihatnya?

Atau kenyamanan orang lain membuatnya mabuk kepayang, sampai-sampai dia lupa segalanya?

Aku membalik halaman terakhir surat cerainya dan berusaha tetap tenang, lalu menyerahkannya.

“Tanda tangan ini….”

Belum selesai aku bicara, ponsel Jeff berdering.

Suara Luela yang panik terdengar.

“Pak Jeff, sepertinya listrik rumahku padam. Bisakah kamu datang untuk menemaniku? Aku takut….”

Jeff langsung berdiri, kegelisahan tampak jelas di matanya.

“Tunggu, aku segera ke sana.”

Begitu menutup telepon, dia langsung tanda tangan surat itu tanpa melihat isinya.

Aku berdiri di samping, memandangi kepergiannya dalam diam.

Jeff, kamu harus ingat selamanya.

Kamu yang inisiatif meninggalkan rumah ini.

Keesokan harinya, aku kembali ke kantor untuk melakukan serah terima pekerjaan.

Jeff menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak hadiah dengan kemasan yang cantik.

“Ini hadiah ulang tahun Joel, lupa kukasih kemarin.”

Aku terdiam sebentar, lalu membuka kotaknya.

Isinya mainan anjing kecil.

Padahal, Joel paling takut dengan anjing.

Saat usia lima tahun, Jeff pernah mengajaknya ke taman bermain.

Karena bertemu teman di tengah jalan, dia pun melepas tangan Joel.

Joel yang masih kecil itu tersesat di tengah keramaian.

Saat ditemukan, Joel sedang berjongkok dan gemetar ketakutan karena anjing liar.

Sejak saat itu, anjing menjadi ketakutan terbesarnya.

Dan orang yang menyebabkan trauma itu, malah memberinya boneka anjing sebagai hadiah.

Aku sendiri tidak tahu harus marah atau kecewa, kotaknya kuletakkan begitu saja ke samping.

Dengan suara datar, aku berkata,

“Terima kasih.”

Jeff menatapku dengan bingung, lalu seolah teringat sesuatu.

Dia berkata, “Rumah Luela mati lampu. Aku berencana menyuruhnya tinggal di rumah sementara.”

“Kamu nggak perlu kerja hari ini. Pulang dan kemas barang-barangmu, lalu bawa Joel tinggal di luar beberapa hari ini.”

Kalimat yang terdengar ringan itu menghantam hatiku seperti palu.

Aku menatapnya dengan tak percaya.

“Maksudmu… kamu mau mengusir aku dan Joel demi Luela?”

Jeff mengerutkan kening.

“Jangan diucapkan begitu kasar, ini hanya sementara.”

“Lagipula kita sepakat menjalani pernikahan diam-diam. Tentu kita harus menjaga jarak di depan rekan kerja.”

Aku tersenyum, merasa sangat miris.

Benarkah hanya rekan kerja?

Benarkah hanya ingin menghindari gosip?

Atau dia merasa aku dan Joel adalah penghalangnya dalam mengejar cinta? Sesuatu yang memalukan untuk diperlihatkan?

Tak ingin melihatnya lagi, aku pun duduk kembali dan melanjutkan pekerjaan.

“Iya.”

“Aku akan segera membereskan barang-barang dan pergi bersama Joel. Nggak akan mengganggu kalian.”

Bagaimanapun juga, aku juga sudah mau pergi. Lebih cepat atau lambat tidak ada bedanya.

Melihat aku menyetujuinya begitu cepat, Jeff malah terdiam.

Dia membuka mulut, suaranya terdengar agak lembut,

“Aku akan memberi kalian kompensasi.”

Aku tidak menoleh dan hanya diam.

Sudah terlanjur terluka, tidak ada kompensasi yang bisa menyembuhkannya.

Sesampainya di rumah, aku berkemas dan membawa Joel pergi.

Saat membuka pintu, aku berpapasan dengan Jeff yang baru saja pulang bersama Luela.

Dia mendorong koper Luela dengan satu tangan, seperti seorang kekasih yang perhatian.

Saat mata kami berpapasan, aku melihat jelas kepanikan yang melintas di matanya.

Bab 3

Luela terkejut dan bertanya,

“Bu Felicia, kok kamu ada di rumah Pak Jeff?”

Mendengar itu, aku langsung reflek menarik anakku ke belakang, menutupi pandangannya.

“Aku….”

“Mereka saudaraku, menumpang sementara di sini.”

Belum sempat aku menjelaskan, Jeff sudah memotong ucapanku.

Tangannya yang memegang koper semakin mengencang.

Meskipun ini bukan pertama kalinya….

Tapi, setiap kali mendengarnya, dadaku tetap terasa tertusuk.

Baru saja aku hendak bicara, Joel sudah lebih dulu berkata,

“Halo, om.”

Aku menoleh tak percaya, tapi malah melihat mata Joel yang sudah berkaca-kaca.

“Ibu, ayo kita pergi.”

Semua kata-kataku pun seperti tersangkut di tenggorokan. Aku pun tersenyum canggung dan menjawab,

“Iya.”

Saat kami berpapasan, tiba-tiba Jeff menarikku.

Dia menatapku dengan tak percaya.

“Joel… panggil aku apa?”

Aku tersenyum, rasanya begitu menyakitkan.

“Bukannya ini yang selalu kamu inginkan, Pak Jeff?”

Enam tahun menjalani pernikahan diam-diam, Jeff bukan hanya tidak pernah mengakui status pernikahan kami.

Dia bahkan tidak pernah mengizinkan Joel memanggilnya ayah.

Perbedaannya hanya satu.

Dulu, dia memaksa Joel memanggilnya om.

Sekarang, Joel sendiri yang memilih menjaga jarak darinya.

Aku menunduk, berusaha menarik tangannya yang mencengkeramku, tapi sama sekali tak bisa kulepaskan.

Jeff menatapku dengan tatapan penuh emosi yang rumit.

“Tunggu aku beberapa hari.”

“Aku akan menjelaskan semuanya pada Joel.”

Aku mengingatkannya,

“Luela sedang menunggumu, lepaskan tanganmu.”

Barulah Jeff menyadarinya dan melepaskan tanganku dengan enggan.

Aku tersenyum mengejek, lalu menggandeng Joel dan bersiap pergi.

Namun, tiba-tiba Jeff kembali memanggil kami,

“Tunggu.”

Dia berlari ke mobil, mengambil sekotak kue dan menyerahkannya padaku.

“Joel, selamat ulang tahun.”

Felicia ikut menimpali dengan ramah,

“Tadinya kue ini dibelikan Pak Jeff untukku, tak disangka ternyata bertepatan di hari ulang tahun anakmu.”

“Bu Felicia, semoga kamu nggak keberatan, ya.”

Seketika, kotak kue di tanganku terasa berat seperti ribuan kilo.

Baru saja aku ingin mengembalikannya, saat melihat sorot mata Joel yang penuh harapan, hatiku pun luluh.

Aku mengurungkan niat.

Joel tidak mengerti pertarungan emosi orang dewasa. Dia hanya menatap Jeff dengan tatapan penuh harapan.

“Bolehkah kamu makan bersama denganku?”

Jeff ragu sebentar, lalu mengiyakan.

Joel langsung bersorak riang, berlari masuk ke ruang tamu dan menyuruhku membuka kuenya.

Aku mengusap kepalanya, lalu segera memotong kue dan membaginya.

Namun, senyumanku langsung membeku saat melihat kue itu hendak masuk ke mulut.

“Muntahkan! Jangan dimakan!”

Aku panik dan merebut potongan kue dari tangan Joel, wajahku terlihat sangat tegang.

Raut wajah Jeff langsung memuram.

“Felicia, kamu sudah gila?”

Aku mendongak, mataku sudah berkaca-kaca.

“Joel alergi mangga, kamu nggak tahu?”

Mendengar itu, kepanikan langsung muncul di wajah Jeff.

“Maaf, aku nggak tahu.”

Lagi-lagi kata maaf.

Sejak Joel lahir sampai sekarang, entah sudah berapa kali aku mendengarnya berkata begitu.

Joel pun juga tampak mengerti sekarang. Dia menatap Jeff dengan tatapan kosong.

Tak ada lagi harapan di matanya.

“Nggak apa-apa, wajar saja kalau mereka nggak tahu.”

Usai bicara, Joel menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukanku dan tak mau lagi menoleh ke arah Jeff.

Tanpa ragu lagi, aku berdiri, menggendong Joel dan berjalan keluar.

Sampai melewati pagar vila, aku masih bisa merasakan tatapan menyesal dan panik Jeff di belakang kami.

Hanya saja, aku dan Joel sudah tidak tergerak lagi kali ini.

Setelah meninggalkan rumah, aku langsung ke kantor dan cepat-cepat membereskan semua barang di meja kerjaku.

Awalnya aku berniat berpamitan dengan baik-baik.

Namun sekarang, sepertinya itu sudah tidak perlu.

Aku meletakkan surat cerai yang sudah ditandatangani ke atas meja.

Aku pun menghela napas panjang.

Membawa koper, aku menggandeng Joel pergi ke bandara.

Sebelum naik pesawat, aku bertanya padanya,

“Ibu mengajakmu pergi jauh, kamu marah nggak?”

Joel menggeleng, lau menempelkan wajahnya ke pipiku.

“Aku hanya butuh ibu.”

Air mataku pun jatuh juga. Semua rasa sakit seolah berubah jadi kelegaan.

Aku membuka ponsel dan memblokir semua kontak Jeff.

Jeff, mulai sekarang… kita tidak akan pernah berjumpa lagi.

Keesokan harinya, Jeff datang ke kantor tepat waktu.

Setelah kejadian kemarin, hatinya terus terasa tidak tenang.

Saat membuka email, satu pesan persetujuan langsung muncul.

“Pengajuan pengunduran diri?”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B43778" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B43778
Salin

Penantian Yang Tak Kunjung Kembali

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya