Bab 1

Terjadi kebakaran di TK dan putriku yang berusia empat tahun berada di dalamnya.

Aku berulang kali memberi tahu suamiku yang merupakan seorang pemadam kebakaran, "Nea ada di kelas tengah di lantai dua!"

Namun, dia dengan kesal berkata, "Aku tahu kamu hanya ingin menghentikanku menyelamatkan putri Stella, bisakah kamu nggak begitu jahat?"

"Stella sangat rapuh, aku nggak bisa melihatnya kehilangan putrinya."

"Kalau dia kehilangan putrinya, dia pasti nggak ingin hidup lagi!"

Malam itu, dia keluar dari gedung yang terbakar sambil memeluk putri wanita pujaan hatinya, Stella Prisa, dan menjadi seorang pahlawan.

Saat tengah malam, aku masih memeluk kotak abu putri kami dan menangis sampai pingsan, sedangkan dia tetap menemani Stella.

"Haris, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!"

Terjadi kebakaran di TK dan putriku yang berusia empat tahun berada di dalam.

Aku berulang kali memberi tahu suamiku yang merupakan seorang pemadam kebakaran, "Nea ada di kelas tengah di lantai dua!"

Namun, dia dengan kesal berkata, "Aku tahu kamu hanya ingin menghentikanku menyelamatkan putri Stella, bisakah kamu nggak begitu jahat?"

"Stella sangat rapuh, aku nggak bisa melihatnya kehilangan putrinya."

"Kalau dia kehilangan putrinya, dia pasti nggak ingin hidup lagi!"

Malam itu, dia keluar dari gedung yang terbakar sambil memeluk putri wanita pujaan hatinya, Stella Prisa, dan menjadi seorang pahlawan.

Saat tengah malam tiba, aku memeluk abu putri kami dan menangis sampai pingsan. Sementara dia terus menemani Stella.

"Haris, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!"

....

Detak jantung lebih cepat dari yang seharusnya saat aku menerima telepon yang mengatakan ada kebakaran di TK. Aku bergegas ke sana tanpa sempat bersiap-siap.

Karena putriku yang berumur empat tahun, Nea, berada di sana.

Dengan tangan gemetar dan rasa panik, aku menelepon suamiku. Sekali, dua kali, tiga kali ....

Tidak peduli berapa kali aku meneleponnya, nomornya tidak dapat dihubungi.

Begitu tiba di depan gerbang TK, aku pun tercekat.

Seluruh TK dikepung api, asap tebal bergulung-gulung, dan udara dipenuhi bau terbakar.

"Anakku! Anakku masih di dalam!" Para orang tua di luar TK terus menangis dan menjerit.

"Nea! Nea ...!" Aku berjalan melintasi kerumunan itu dengan bingung, mencari sosok Nea di antara setiap anak yang dibawa keluar. Suaraku bergetar karena ketakutan, seolah-olah setiap langkah yang kuambil menguras seluruh kekuatanku.

Tepat pada saat ini, aku melihat Haris yang sedang bertugas memadamkan kebakaran. Dia adalah pemimpin tim pemadam kebakaran di kota ini, juga merupakan suamiku.

Aku berteriak memanggil namanya sekuat tenaga sambil menerobos kerumunan dengan sekuat tenaga. Setelah sampai di sampingnya, aku meraih lengannya erat-erat dan berkata, "Sayang! Sayang!"

"Nea! Nea ada di ruang tari kelas tengah di lantai dua!"

Haris tertegun sejenak ketika melihatku, lalu mengerutkan keningnya dengan ekspresi muak dan berkata dengan kesal, "Aku tahu hari ini Nea nggak masuk sekolah."

Hari ini .... Aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Sayang, bukan begitu!"

"Pagi ini Nea pura-pura sakit! Dia bilang ingin belajar sebuah tarian di TK dan memberimu kejutan setelah pulang di malam hari!"

"Nea ada di dalam! Kelas tengah di lantai dua! Di kelas tari!"

Aku menggenggam lengannya erat-erat, takut dia tidak akan pergi menyelamatkannya, tetapi itu putrinya, bagaimana mungkin dia tidak menyelamatkannya? Pikirku lagi.

Aku menjelaskan dengan terbata-bata, tangisan para orang tua di sekitarku bagaikan pisau tajam yang menusuk hatiku.

Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!

Namun, Haris malah melepaskan tanganku dengan kasar, tatapannya dingin, seakan-akan sedang menatap orang asing. "Cukup! Mika! Berhenti berpura-pura di sini! Nea baru empat tahun, dia mengikutimu hanya belajar hal-hal buruk! Bisakah kamu bersikap seperti seorang ibu?"

"Apa maksudmu?" Aku tertegun, menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Apa maksudku? Berhenti berpura-pura di sini!" Haris tertawa sinis dan berkata, "Aku tahu kamu hanya ingin menghentikanku menyelamatkan putri Stella, bisakah kamu nggak begitu jahat?"

Seketika, aku merasa seperti disambar petir, lalu sekujur tubuhku sedingin es.

Dia benar-benar berpikir aku sengaja berbohong?

Hanya untuk menghentikan dia menyelamatkan putri wanita pujaan hatinya, Stella?

Haris berkata dengan suara dingin, "Stella sangat rapuh, aku nggak bisa melihatnya kehilangan putrinya."

"Kalau dia kehilangan putrinya, dia pasti nggak ingin hidup lagi!"

Aku barusan melihat Haris berbicara dengan Stella.

Beberapa menit yang lalu, aku masih berpikir alasan dia tidak mengangkat teleponku karena dia sedang sibuk memadamkan api.

Ternyata bukan itu alasannya.

Aku menatap Haris dengan tatapan kosong, "Lalu bagaimana denganku? Kalau aku kehilangan putriku, apa aku masih ingin hidup?"

Haris mengabaikanku, berbalik dan melanjutkan penyelamatan. "Aku sudah tanya kepala sekolah TK ini, hari ini Sabtu, hanya beberapa kelas di lantai pertama yang dibuka, jadi nggak ada seorang pun di lantai dua!" ujarnya.

Aku bergegas mengejarnya, menarik seragam pemadam kebakarannya, merebut ponselnya dan menghancurkannya. "Haris! Siapa yang memberitahumu nggak ada seorang pun di lantai dua!"

"Putri kandungmu, Nea! Ada di lantai dua!"

"Apa yang harus kukatakan agar kamu percaya!"

Dia malah mendorongku ke samping dengan paksa dan mengernyit. "Minggir!" serunya.

Hatiku terasa seperti dikoyak-koyak, sakitnya tidak tertahankan hingga membuatku sulit untuk bernapas. "Haris! Bagaimana mungkin aku bercanda dengan nyawa putriku!"

Aku terjatuh duduk ke tanah, menatap dengan putus asa ke lautan api yang berkobar, pikiranku dipenuhi sosok Nea.

"Nea! Ibu datang untuk menyelamatkanmu!" Aku berjuang untuk bangkit, berlari seperti orang gila menuju tempat kebakaran.

Asap tebal membuat mataku berair dan kulitku terasa perih karena panas yang menyengat.

Meskipun begitu, aku tetap berusaha menerobos masuk.

Putriku pasti menangis saat ini, memanggilku untuk menggendongnya! Dia membutuhkanku!

Aku tidak boleh ....

"Cukup! Berhenti berpura-pura lagi!" Haris tiba-tiba muncul dan menarikku kembali dengan begitu kuat dan kasar, seakan-akan dia ingin menghancurkanku.

Bab 2

Aku berlutut di depannya dan memohon, "Haris, aku mohon padamu, selamatkan Nea!"

"Dia benar-benar ada di dalam! Aku mohon selamatkan dia!"

"Diam!" Dia mendorongku dengan kasar dan memalingkan wajahnya dengan muak. "Bawa dia pergi! Jangan biarkan dia mendekati tempat kebakaran!"

Aku diseret paksa oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Aku berjuang melepaskan diri, menangis, berteriak, tetapi tidak ada gunanya.

"Haris!"

Lingkungan sekitar begitu kacau dan bising, tetapi aku tidak dapat mendengar apa pun, kecuali detak jantungku yang makin cepat, seolah-olah akan berhenti kapan saja.

Seiring berjalannya waktu, Nea masih belum terlihat di antara anak-anak yang berhasil diselamatkan satu per satu.

Dua jam kemudian, Haris keluar.

Dia sedang menggendong seorang gadis kecil. Hanya sekilas aku dapat mengenalinya, anak itu adalah Vina Prisa, putri Stella.

Aku berlari seperti orang gila dan meraih lengan Haris, kuku tajamku hampir menusuk dagingnya. Aku berteriak, "Haris! Di mana Nea! Di mana putri kita!"

"Kenapa kamu begitu tega? Kenapa kamu begitu kejam?"

Dia mengabaikanku dengan kesal, menundukkan kepalanya, menyeka air mata di sudut Vina dengan lembut dan menghiburnya, "Vina, jangan takut, sudah nggak apa-apa."

Pada saat ini, Stella datang dengan tergesa-gesa. Begitu melihat putrinya, dia memeluk Haris dan berkata, "Haris! Aku tahu kamu akan membantuku menyelamatkan Vina!"

Begitu hangat dan begitu mengharukan.

Seakan-akan mereka bertiga adalah satu keluarga.

Tiba-tiba, terdengar ledakan besar dan kobaran api di gedung TK makin membesar.

Aku terkejut, mataku membelalak tidak percaya, dan menggelengkan kepalaku dengan putus asa. "Nggak ... nggak mungkin ...."

"Cepat padamkan apinya! Di mana petugasnya!"

Aku duduk di tanah, menangis sampai suaraku menjadi serak. Setelah apinya padam pun, Haris sama sekali tidak melihatku.

Setelah api padam, lingkungan sekitar menjadi sunyi kembali.

Haris membawa Stella dan Vina ke ambulans, dia pergi tanpa menoleh ke belakang.

Aku berjuang untuk bangkit, berjalan terhuyung-huyung memasuki TK.

Gedung TK terbakar hingga tak dapat dikenali lagi. Aku bertatih-tatih menuju lantai dua. Setiap langkahku membuat hatiku terasa makin dingin.

Ruang tari yang paling disukai Nea berada di ujung koridor.

Aku berjalan masuk dengan gemetar.

Ketika melihat ada dua mayat hangus, satu besar dan satu kecil, aku berlutut dan menangis dengan keras lagi.

Guru tari memeluk Nea dengan erat.

Dengan gemetar, aku menyingkap jasad guru itu. Kutemukan, hanya bagian tubuh Nea yang hangus terbakar, sedangkan wajahnya tampak seperti sedang tertidur.

Aku memeluknya dan bergumam, "Maaf ... maafkan Ibu ... ini salah Ibu ... Ibu nggak bisa melindungi ...."

Api yang membakar gedung ini sudah padam, tetapi api yang membakar di hatiku membesar, seakan-akan sedang membakar seluruh organku.

Aku bersujud kepada guru itu dengan penuh rasa terima kasih.

Dia sudah membuat Nea tahu, di saat-saat terakhirnya, bahwa dia dicintai oleh seseorang.

Polisi dan dokter forensik tiba, aku dengan tenang mengeklaim jasad putriku, Nea, dan segera membawanya untuk dikremasi.

Nea sangat suka kecantikan, aku tidak ingin dia melihat penampilannya yang terbakar.

Aku menyentuh kotak abu Nea, ingin menangis tetapi tidak bisa. "Nea, di kehidupan selanjutnya, jangan menjadi putriku lagi ...."

Aku membawa "Nea" kembali ke rumah.

Di rumah ini, tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa kehadiran Nea.

Namun ... saat aku melihat baju dan sepatu Nea, aku kembali merasa sangat sedih.

Haris menelepon, suaranya sedingin es, "Malam ini, tim pemadam kebakaran mengadakan pesta perayaan, kamu bawa Nea datang kemari."

Huh.

Hari perayaanmu adalah hari kematian putriku.

Kamu memperoleh kehormatanmu itu dengan nyawa putriku sebagai bayarannya.

Bab 3

"Nea sudah nggak bisa datang."

Haris langsung marah, "Sudahi sandiwaramu itu!"

"Kuberi tahu saja! Kalau bukan karena mereka ingin bertemu dengan istriku, aku nggak akan meneleponmu!"

"Jangan nggak tahu diri!"

Aku menarik napas panjang sebelum berkata, "Baik, aku akan membawa Nea ke sana."

Setelah terdengar suara "tsk", dia lanjut berkata, "Lihat, kamu memang suka pura-pura! Nea baik-baik saja. Jangan terlambat malam ini, jangan membuatku malu!"

Malam hari, aku tiba tepat waktu di hotel tempat Haris mengadakan pesta perayaannya. Dari kejauhan, aku melihat Stella, dia mengenakan gaun merah ketat dan duduk di samping Haris.

Aku duduk di kursi tanpa ekspresi apa pun. Para petugas pemadam kebakaran bertubuh besar di sekitarku tertegun sejenak ketika mereka melihatku.

Reaksi mereka tidak aneh. Dibandingkan dengan Stella yang berdandan rapi, aku hanya mengenakan kaus lama dan rambutku berantakan. Penampilan yang sangat tidak cocok di tempat seperti ini.

Ketika Haris melihatku, dia mengernyit dengan kesal dan nadanya penuh rasa muak saat bertanya, "Kenapa kamu datang dengan pakaian seperti itu?"

"Kamu nggak tahu ini pesta perayaanku? Nggak bisakah kamu berdandan sedikit? Kamu ingin membuatku malu?"

Aku tidak ingin menanggapinya, langsung berjalan pergi mengambil piring dan sendok di atas meja di samping. Aku mengeluarkan tisu, menyeka piring dan sendok itu dengan sangat kuat, seakan-akan semua yang ada di depanku sangatlah kotor.

"Di mana Nea?" Dia masih menanyaiku dengan nada yang penuh kekesalan, "Kenapa kamu nggak bawa dia datang di hari yang begitu penting ini?"

Gerakan tanganku terhenti. Hatiku terasa sakit seperti ditusuk pisau. "Sudah kubilang, dia nggak bisa datang."

"Nggak bisa datang? Apa maksudmu itu?" Haris merebut sendok dari tanganku dan membantingnya ke meja. "Bagaimana kamu mengajari putrimu? Sejak kapan Nea menjadi begitu nakal?"

Ketika Stella melihat ini, dia segera meraih lengan Haris dan berkata, "Haris, jangan marah. Kak Mika nggak bermaksud seperti itu, dia ...."

"Memang itu maksudku!" Aku langsung berdiri, menatap mereka dengan tatapan dingin dan melanjutkan ucapanku, "Nea nggak bisa datang hari, ke depannya juga sudah nggak bisa datang!"

"Apa maksud ucapanmu itu?" Haris tertegun sejenak sebelum menjadi sangat marah. "Bicara yang jelas!"

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan emosi yang meluap-luap, dan berkata dengan tegas, "Haris, aku sudah memohon padamu, aku memohon padamu untuk menyelamatkan Nea!"

"Tapi kamu nggak melakukannya! Kamu malah menyelamatkan dia!" teriak aku sambil menunjuk dengan marah ke Vina dan Vina seketika menangis dengan keras.

Stella segera mengambil putrinya dari pangkuan Haris dan menghiburnya, "Jangan takut, jangan takut."

Plak! Haris menamparku tanpa ragu, pipiku seketika terasa panas dan sakit.

"Mika, aku peringatkan, jangan menggila di sini!" teriak Haris sambil menunjuk ke hidungku.

"Cepat pulang dan bawa Nea kemari! Kalau nggak, jangan pernah kembali lagi ke rumah!"

Aku menatapnya dengan tatapan dingin, tiba-tiba merasa diriku begitu konyol.

Inilah pria yang kucintai selama sepuluh tahun. Inilah keluarga yang ingin kupertahankan dengan segenap jiwa ragaku.

Saat Nea meninggal, semuanya pun hilang.

"Haris, kamu sungguh memuakkan!" Aku membanting piring di tanganku ke lantai dengan keras, pecahannya berhamburan.

Udara di sekitarku seakan telah membeku, semua orang yang menatapku tercekat dan kemudian mencoba membujukku, "Kak Mika! Bicaralah baik-baik!"

"Jangan ... menakuti anak kecil ...."

"Kak Haris sudah sangat lelah karena melakukan penyelamatan. Mari kita semua duduk dan makan?"

Aku meletakkan tas yang kubawa di depan Haris.

Stella tiba-tiba melindungi Haris dan berkata, "Mika, jangan seperti ini. Haris sudah dua hari nggak bertemu Nea, dia merindukannya, biarkan Nea datang."

"Bagaimanapun juga, Nea adalah putrinya."

Pembalasan Seorang Ibu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya