Bab 1

Setelah putriku dinyatakan mengalami kematian otak, suamiku membujukku untuk menandatangani perjanjian donor organ.

Aku menderita karena rasa rindu yang begitu menyakitkan, semangat hidupku sudah hampir hancur. Namun secara tidak sengaja, aku menemukan bahwa dokter penanggung jawab yang bernama Sarah, adalah pujaan hati suamiku.

Mereka memalsukan laporan dan menyatakan bahwa putriku mati otak, hanya demi membujukku menandatangani perjanjian itu, lalu menipuku untuk memberikan jantung putriku pada putrinya Sarah.

Aku menyaksikan suamiku yang mengantar putri Sarah keluar dari rumah sakit. Mereka bertiga tertawa bahagia, seolah-olah mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna.

Aku pun menghadap mereka, hanya untuk didorong jatuh dari tangga dan mati di tangan suamiku dan pujaan hatinya.

Namun aku diberikan sebuah kesempatan lagi, aku kembali ke hari aku menandatangani perjanjian donor itu.

Sambil melihat putriku yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit, aku diam-diam bersumpah.

Kali ini, demi kamu putriku, aku akan membuat pria dan wanita bajingan itu membayar dengan nyawa mereka.

Tubuh putriku dipenuhi dengan alat dan selang, wajahnya yang pucat menampilkan warna kemerahan yang tidak sehat.

Aku menggosok mataku, tanpa disangka aku kembali ke pemandangan yang tidak asing ini. Lagi-lagi, aku melihat pemandangan dari kehidupanku sebelumnya, pemandangan yang menyayat hatiku.

Aku gemetar dan meraih tangan hangat putriku, hatiku terasa sakit, air mata pun mengalir di pipiku.

"Ibu merindukanmu, sangat merindukanmu. Tolong maafkan Ibu ...."

Suamiku, Axel Permana, menepuk-nepuk bahuku dari samping.

"Jangan ganggu anak ini lagi. Ayo pergi, sekarang sudah waktunya."

Di bawah desakan suster, aku menggerakkan kaki lemahku keluar dari ruang ICU bersama dengan Axel.

Kami duduk di dalam ruang kantor kecil, lalu dia meletakkan sebuah pulpen di tanganku.

"Kamu sudah melihatnya. Setelah putri kita mati otak, tiap detik hidupnya sama saja dengan penderitaan baginya."

"Tanda tangani saja perjanjian donor organ ini, biarkan anak itu terbebas dari penderitaannya."

Mendengar nada bicaranya yang tak acuh, kebencianku seketika bergejolak dan mengeringkan air mataku.

Aku membanting pulpen itu ke meja dan menyingkirkan tangannya dari bahuku.

"Aku nggak akan tanda tangan! Putriku pasti nggak mati otak!"

Untuk sesaat Axel pun tercengang.

"Bukankah barusan kamu bilang oke? Kamu sudah lihat diagnosis dokter dan tempat ini merupakan rumah sakit terbaik di kota, apa lagi yang kamu nggak percaya?

Percaya?

Melihat Axel yang pura-pura terkejut dan tidak bersalah, aku sepertinya bisa melihat kekejaman di balik semua itu.

Di kehidupan sebelumnya, aku menyesal karena terlalu memercayainya.

Putriku, Miyu, dirawat di rumah sakit terbaik di kota karena menderita radang paru-paru.

Namun aku tidak menyangka bahwa dokter penanggung jawab yang dibawa Axel adalah Sarah Sarindra, wanita yang dicintainya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Radang paru-paru tidak seberbahaya itu. Namun setelah aku pergi untuk satu malam, tiba-tiba kondisi putriku memburuk dan dia pun dibawa ke IGD.

Saat aku buru-buru kembali ke rumah sakit, aku mendengar Sarah yang menyatakan bahwa putriku sudah mengalami kematian otak.

Sebelum aku bisa pulih dari syok, Axel menarikku untuk menandatangani perjanjian donor organ.

"Sejak kecil, Miyu merupakan anak yang baik. Sekarang nyawanya bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Aku percaya, bahwa jiwa Miyu di surga pasti menyetujuinya."

Aku sudah menangis tersedu-sedu, sementara Axel setengah memaksa dan setengah membujukku untuk menandatangani perjanjian itu.

Apa yang aku tidak tahu adalah, bahwa setelah mereka mencabut ventilator putriku, jantung putriku segera ditransplantasikan pada putri Sarah yang menderita penyakit jantung bawaan.

Aku tidak bisa pulih dari rasa sakit akibat kehilangan putriku, tetapi Axel dengan sangat cepat kembali ke kehidupan normalnya.

Suatu ketika pada kesempatan tertentu, aku melihat Axel di taman hiburan kota sebelah. Seorang anak perempuan yang tidak kukenal sedang duduk di pundaknya, sementara lengannya merangkul Sarah.

Aku mengikuti mereka dan menghadap mereka untuk mengetahui kebenarannya, tetapi mereka malah bekerja sama untuk mendorongku jatuh dari tangga yang tinggi.

Di tengah genangan darah, aku mencengkeram liontin yang berisi helai rambut putriku.

Berapa kali aku ingin kabur melalui kematian? Namun pada saat itu, melihat wajah berseri mereka bertiga mengobarkan api kebencian pada diriku yang sudah rapuh.

Untuk dapat terlahir kembali seperti ini, aku sangat bersyukur.

Tuhan ingin aku balas dendam untuk putriku!

Bab 2

Memikirkan hal ini, aku ingin sekali menampar kemunafikan itu dari wajah Axel.

"Sekarang aku akan membawa Miyu ke rumah sakit lain untuk didiagnosis ulang! Aku nggak akan pernah menandatangani perjanjian ini!"

Melihat wajahku yang penuh amarah, Axel mengerutkan alisnya.

"Laras Kencana, jangan bersikap nggak masuk akal. Semalam kamu pulang dan akulah yang berada di sini sepanjang malam tanpa tidur, aku menyaksikan seluruh proses penyelamatannya."

Dia melanjutkan, "Aku tahu bahwa kamu sangat menderita, tapi faktanya sudah seperti ini. Bisakah kamu mengendalikan emosimu sedikit?"

Aku tertawa dingin.

"Kamu menyuruh seorang ibu, yang hidup dan mati anaknya nggak pasti, untuk mengendalikan emosinya?"

"Memangnya kenapa aku pulang semalam? Bukankah itu karena ibumu yang bersikeras berkata jantungnya terasa nggak enak dan ingin aku pergi merawatnya?"

Kekesalan melintas di wajah Axel.

"Jangan menyalahkan ibuku lalu menyalahkanku juga , ini memang nasib Miyu saja yang buruk."

"Tadi kamu jelas-jelas setuju untuk menandatangani perjanjiannya, tapi tiba-tiba kamu malah menarik perkataanmu. Apa kamu pikir kamu nggak terlalu emosional?"

Melihat wajahnya yang tak acuh, aku pun sudah terlalu malas untuk berbicara lebih banyak.

Yang paling penting sekarang adalah segera pindah ke rumah sakit lain, lalu melakukan diagnosis ulang dan pengobatan.

Axel yang berada di depanku, sudah bukan lagi pria yang bermain dengan putriku sambil bertelanjang kaki di lantai apartemen sewaan kami.

Aku dengan keras mendorong pintu kantor dan berjalan ke arah ICU, tanganku mengetuk nomor telepon yang tidak asing di ponselku.

Selama 7 tahun menikah dengan Axel, aku juga 7 tahun memutus hubungan dengan keluargaku.

Hal itu karena orang tua dan kakakku tidak setuju dengan pernikahan kami. Aku meninggalkan bisnis keluargaku yang kaya dan juga pindah ke kota lain, semuanya demi memulai kehidupan baru dengan Axel.

Sekarang, satu-satunya yang bisa menolongku adalah keluargaku yang selalu berada di pihakku.

Begitu teleponnya tersambung, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan situasinya. Aku hanya mengucapkan dua kalimat dan sudah menangis tersedu-sedu.

"Ayah, Ibu, tolong selamatkan putriku. Sekarang dia harus dipindahkan ke rumah sakit terbaik di provinsi ...."

Orang tuaku pun mengesampingkan masalah di masa lalu dan segera menghubungi tim medis terbaik di provinsi.

Setelah menutup telepon, aku mendongak untuk melihat jam di dinding.

Masih ada 2 jam sampai tim pemindahan datang.

Pada saat itu, Axel buru-buru mendatangiku.

"Laras, apa yang kamu lakukan di sini! Berhenti bersikap nggak masuk akal dan ikut aku untuk menandatangani perjanjiannya. Kita sebelumnya sudah setuju, seluruh tim medis sudah menunggu."

Aku tidak menghiraukannya dan hanya terus menatap pintu ruang ICU.

Melihatku yang tidak merespons, Axel pun mulai kehabisan kesabarannya.

"Jangan bengong, ayo cepat. Jangan kecewakan dokter."

Aku menoleh dan memandangnya.

"Putrimu masih terbaring di ICU dan kamu malah nggak sabar untuk mengambil organnya?"

Axel seketika tampak agak panik.

"Bicara apa kamu? Dia adalah putri kita, bagaimana bisa aku sekejam itu."

"Hanya saja, sekarang putri kita sudah mati otak, tanpa adanya kesempatan untuk bangun lagi. Sekarang dia hanya bagaikan cangkang tanpa isi!"

"Selain itu, mendonorkan organnya adalah tindakan yang sangat bermakna. Saat menonton TV waktu itu, dia pernah bilang bahwa dia ingin hidupnya memiliki lebih banyak makna. Bukankah hal ini akan memenuhi keinginannya?"

Mendengar omongannya, aku pun dipenuhi dengan amarah.

Beberapa bulan yang lalu, Axel tiba-tiba membuat kami menonton beberapa dokumenter layanan publik mengenai donor organ.

Saat itu, putriku menangis sedih. Dia begitu kecil dan baik hati.

Hanya saja aku tidak menyangka, bahwa kebaikan putriku dan kepercayaanku akan menjadi dasar dari rencana Axel.

Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menampar sisi kanan wajah pria itu.

"Pergi! Aku nggak akan ke mana-mana! Siapa pun nggak boleh menyentuh putriku, aku akan pindah rumah sakit!"

Axel terhuyung-huyung melangkah mundur sambil memegangi wajahnya, dia terlihat berantakan. Dia pun tidak bisa menahan diri dan berteriak, "Demi menuruti emosimu, kamu mau memaksa putri kita untuk tetap tinggal di sini, membiarkannya menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada kematian. Apa gunanya itu?"

"Dia akan menderita karena atrofi otot, mengalami luka baring dan seluruh tubuhnya akan membusuk. Dia akan membusuk hidup-hidup! Kenapa nggak biarkan saja dia pergi dengan damai!"

Aku menatap pria asing di depanku ini, di balik bahasanya yang tinggi, terdapat kejahatan yang telah lama direncanakan.

Bab 3

Di momen yang menegangkan itu, seseorang tiba-tiba datang dan memegang Axel.

"Nak, Nak, kamu nggak apa-apa?"

Itu adalah ibu mertuaku. Dia melihat wajah bengkak Axel dengan sedih, lalu berbalik untuk memarahiku.

"Laras! Bagaimana bisa kamu memukul Axel seperti ini? Kamu bertingkah seperti setan!"

"Situasi Miyu sudah nggak bisa diselamatkan, ini bukan salah Axel, jadi jangan melampiaskannya pada dia!"

"Selain itu, apa salahnya menandatangani sebuah perjanjian donor? Seseorang yang sudah mati nggak mungkin bisa hidup lagi! Pokoknya, dia akan dikremasi. Apa kamu akan terus mengurusnya di rumah?"

Makin berbicara, ibu mertuaku menjadi makin gelisah. Lama-kelamaan perkataannya menjadi absurd. Aku pun marah, dengan mata memerah, aku mengangkat tanganku dan menampar pipi kiri Axel dengan keras.

Setelah dua tamparan, Axel tampak tercengang. Ibu mertuaku tidak menduganya, dia berteriak sambil menyentuh wajah putranya dengan sedih.

Aku menatap dingin telapak tanganku yang merah.

"Apa sakit? Harusnya sakit. Seharusnya kamu bisa merasakan penderitaan anakmu!"

"Cepat pergi! Kalau kamu bicara lagi, aku akan memukulmu dengan termos!"

Ibu mertuaku melotot, mulutnya gemetar saking marahnya.

"Setan! Dasar setan!"

Situasi pun menjadi kacau. Axel menahan amarahnya dan bertanya padaku, "Laras, apa kamu sudah puas memukul dan mengomel? Apa kamu sudah puas melampiaskan amarahmu?"

"Ikut aku tanda tangan! Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, sebelumnya kamu sudah mengangguk di ruang dokter. Kamu nggak bisa menarik kata-katamu lagi!"

Setelah mengatakan itu, dia merebut ponselku dari tanganku dan dengan paksa mencengkeram kedua lenganku. Dia mendorongku dengan bantuan Ibu mertua.

Aku menggertakkan gigi dan sekuat tenaga memberontak. Melihat bahwa aku tidak bisa melawan mereka berdua, aku pun berteriak, "Dokter! Suster! Satpam?! Di sini ada orang yang mau menculikku!"

Beberapa suster buru-buru datang. Namun begitu melihat Axel yang tak asing, mereka pun ragu-ragu berhenti.

Axel memaksakan sebuah senyum.

"Bukan apa-apa, istriku hanya sedikit emosional. Kami nggak akan merepotkan kalian."

Aku dengan keras kepala terus berteriak, "Merekalah yang memulainya. Kalau kalian nggak menghentikan mereka, aku akan terus berteriak sepanjang perjalanan dan membuat semua keluarga pasien keluar dan melihat!"

Para suster pun bertukar pandang dan terpaksa maju untuk menghalangi kami.

Axel dengan enggan melepaskan cengkeramannya, jantungku yang berdegup kencang akhirnya menjadi tenang. Aku cepat-cepat melirik jam.

Masih ada 1 jam sampai tim pemindahan datang.

Selama aku bisa bertahan 1 jam lagi, aku bisa membawa putriku pergi dari sini selamanya!

"Axel, ada apa? Kami sudah menunggu tapi kalian nggak datang juga."

Terdengar suara yang memesona, itu adalah Sarah.

Wanita itu menatap Axel dengan penuh kasih sayang. Melihat wajah bengkak Axel, dia buru-buru mendekat untuk memeriksa.

Begitu melihatnya, sikap kasar Axel seketika menjadi lembut.

"Bukan apa-apa. Sarah nggak mau menandatanganinya, jadi kami sedikit bertengkar."

Sarah mengangkat kepalanya dan melihatku yang memiliki rambut berantakan.

"Bu Laras, putrimu sudah mengalami kematian otak. Menandatangani perjanjian donor adalah sesuatu yang telah kamu setujui sendiri."

"Rumah sakit sangat berterima kasih atas kebajikan dan kontribusimu. Aku juga mengerti, bahwa selalu ada hambatan psikologis yang harus susah payah diatasi dalam hal seperti ini."

"Tenang saja. Meskipun anak itu sudah nggak lagi di sini, hidupnya akan terus berlanjut dengan cara lain ...."

Aku berteriak dan menyela pidatonya yang munafik itu, "Omong kosong, anakku nggak mati otak. Diagnosismu palsu! Tanda tangan perjanjian apanya, sekarang juga aku mau pindah dari rumah sakit ini!"

Sarah menggelengkan kepalanya, berpura-pura teraniaya.

"Bu Laras, aku tahu kamu sedih, tapi tolong jangan fitnah aku. Oke?"

"Aku telah berusaha menyelamatkan putrimu selama hampir 10 jam, aku terjaga sepanjang malam dan masih harus mengobati pasien lain. Tapi, kamu malah memandangku sebagai dokter gadungan!"

"Seluruh tim kami sudah siap untuk penandatanganan perjanjian, wartawan juga sudah menunggu. Bagaimana kamu mau aku menjelaskan hal ini kepada mereka?"

Para pasien dan suster di sekeliling pun tak bisa menahan diri dan mulai berbisik-bisik.

"Dokter Sarah adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit, bagaimana mungkin dia salah diagnosis?"

"Menurutku ibu ini terlalu emosional, sehingga membuat keributan."

"Hei, walaupun kasihan, dia tetap salah. Dokter Sarah sudah bekerja keras dan malah diomeli seperti ini, bukankah ini termasuk penyerangan!"

Melihat penonton yang mengkritikku, Axel menunjukkan senyum angkuh.

"Laras, sekarang kamu terlalu emosional. Ayo kita masuk ke dalam kantor dan berbicara, oke?"

Sambil berbicara, dia hendak menarikku lagi.

Aku dengan waspada melangkah mundur.

"Siapa pun jangan sentuh aku!"

Di samping, Sarah memberi isyarat kepada suster lainnya.

Seorang satpam tiba-tiba datang entah dari mana, satpam itu mencengkeram bahuku dan dengan paksa menahanku ke dinding.

Sarah menginstruksikan suster yang ada di sana, "Dia terlalu emosional, dia harus segera disuntik obat penenang!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B74683" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B74683
Salin

Pembalasan Dendamku terhadap Suami Pengkhianat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya