Bab 1

Istri orang terkaya di Kota Silo sangat suka menyiksa para gadis muda yang cantik.

Aku terlahir dengan anugerah tidak bisa merasakan sakit sedikit pun dan karena itulah aku menjadi kandidat sempurna di matanya.

Jadi saat lagi-lagi aku diseret ke kamar mandi untuk disiksa ....

Sang suami datang membawa wartawan dari Kota Silo dan menyatakan aku adalah putri mereka yang selama ini sudah menghilang.

Demi memiliki kehidupan yang lebih baik, aku pun menjadi putri orang terkaya kota ini, menduduki status yang didambakan semua gadis di kota ini.

Namun di balik topeng kebaikan mereka, ternyata mereka yang akan membuat luka lamaku terselubung luka baru.

Mereka bilang, ini adalah harga yang harus kubayar untuk kesempatan menyandang status sebagai putri orang terkaya. Mereka bilang, kematianku adalah bentuk balas budi terpantas.

Mereka benar, memang seharusnya begitu.

Hanya saja ... merekalah yang akan mati, bukan aku.

Sebagai perayaan aku menjadi anak mereka, kami pun mengadakan perjamuan yang meriah.

Bu Cindy, yang kemarin masih memelukku dalam kondisi terpuruk, kini malah mengizinkanku dibawa pergi oleh orang-orang yang dulu menindasku.

Di taman belakang, salah seorang gadis kaya mencubit daguku dan mencibir.

"Cih, kamu pikir sekarang kamu benar-benar jadi putri orang kaya?"

"Coba hitung saja sendiri berapa banyak gadis yang Keluarga Camari akui sebagai putri hilang yang sudah ditemukan?"

Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, diam membisu.

Mungkin karena melihat tingkahku yang seperti seorang pengecut, gadis itu mengeluarkan sebuah botol dari belakang punggungnya.

Dia mengguncang botol itu sambil berkata, "Janice, mau coba mainan baruku nggak?"

Di label botol itu tertulis 'Asam Sulfat'.

Gadis itu menyunggingkan senyum angkuh dan berkata dengan nada provokatif.

"Oke, kita lihat apa malam ini kamu bisa keluar hidup-hidup dari vila ini."

Pernyataanku ini sontak langsung membuat gadis itu murka.

Dia membuka tutup botol dan hendak menyiram air keras itu ke tubuhku.

Aku mulai berteriak sekuat tenaga, berlari ke ruang tamu sambil menjinjing rokku.

"Tolong! Ada pembunuh!"

Jeritan ketakutanku langsung menarik perhatian para tamu di ruang tamu.

Saat mereka melihat ada gadis yang mengejarku sambil membawa asam sulfat, mereka langsung bergerak menjadi pelindungku, menghalangi gadis itu mendekatiku.

Aku memeluk lengan Bu Cindy dan mulai menangis.

Dalam sekejap, perjamuan yang meriah itu berubah menjadi kacau.

Bu Cindy pun menatapku dalam-dalam.

Akhirnya para tamu berhasil meringkus gadis itu dan membawanya ke kantor polisi.

Para tamu sadar sepertinya suasana pesta sudah rusak, mereka semua mencari alasan untuk undur diri.

Seketika, suasana vila yang begitu megah dan luas pun menjadi sunyi.

Hanya terdengar suara air yang menetes, suasana begitu mencekam dan terasa dingin.

Aku pun berlutut di hadapan Bu Cindy, memeluk pahanya dan menangis.

"Ibu, maaf aku sudah salah. Harusnya aku nggak bersikap lancang."

"Tapi tadi dia hampir membunuhku, Ibu lihat 'kan tadi dia bawa ...."

"Plak!"

Suara tamparan yang begitu keras pun menggema di seluruh vila.

"Aku 'kan sudah bilang, panggil aku Nyonya Cindy. Orang kayak kamu berani manggil aku Ibu? Nggak tahu diri!"

Wajah Bu Cindy terlihat muram.

Aku menutupi wajahku dan mengangkat kepalaku untuk terus memohon ampun, namun Bu Cindy melirik ke arah suaminya, Pak Willy yang tetap diam.

Setelah beberapa saat, Pak Willy mengeluarkan sebuah jarum suntik.

Kemudian, dia berjalan lurus menghampiriku.

Bu Cindy tersenyum puas saat melihat ekspresi panik di wajahku.

Dia menjambak rambutku kuat-kuat.

"Ngapain kamu takut? Kamu 'kan nggak bisa ngerasain sakit? Lagian cuma ditusuk jarum doang kok."

"Kan kamu sudah setuju sama syarat ini, putriku sayang ...."

Suara Bu Cindy sangat lembut, tapi tatapannya sangat menusuk.

Aku meronta sekuat mungkin, tapi Bu Cindy menahan tubuhku di sofa dan membuatku tidak bisa berkutik.

Pak Willy pun menyuntikkan cairan di jarum suntik itu ke lenganku.

Bu Cindy mendekat ke telingaku dan tersenyum.

"Orang pilihanku memang tepat. Lihat, dosis setinggi ini saja nggak pengaruh sama sekali."

"Putriku sayang, selama kamu nurut, aku yakin kerja sama kita akan menyenangkan."

Aku membenamkan kepalaku dan menatap darah yang sudah lama mengering di sofa.

Aku menyunggingkan senyum.

Pastilah akan menyenangkan.

Lagi pula, konflik apa yang akan terjadi saat bekerja sama dengan orang mati?

Setelah hari itu, Bu Cindy mengurungku.

Tapi hal ini tidak mengurangi penyiksaannya padaku.

Bab 2

Mereka malah mengurungku di ruang bawah tanah vila yang tersembunyi.

Satu per satu obat pun disuntikkan ke tubuhku.

Ketika Bu Cindy melihatku kejang-kejang, dia mulai bertepuk tangan dengan penuh semangat.

Terkadang, dia bahkan mengabadikan kondisiku yang menyedihkan dengan memfotoku.

Pak Willy yang tiap kali bertugas menyuntikku, dari awal sampai sekarang tetap diam.

Padahal jelas-jelas dialah orang terkaya paling tersohor di Kota Silo, namun dia tampak sangat pendiam dan tidak berkutik di depan Bu Cindy.

Seolah dia takut membuat Bu Cindy marah jika dia tidak berhati-hati.

Menurutku, otak kejahatan semua hal ini pastilah Bu Cindy.

Hari ini, akhirnya aku bisa bangun.

Bu Cindy membawaku keluar dari ruang bawah tanah dengan cemas dan meminta para pelayan untuk memandikan dan mendandaniku.

Tubuhku gemetaran, aku tidak berani menatapnya. Para pelayan di sampingku pun tercengang ketakutan.

"Lakukan saja tugas kalian, kalau nggak, kalian akan kujadikan makanan anjing!"

Ini bukan pertama kalinya Bu Cindy memperlakukan mereka seperti ini.

Bagaimanapun, gelar Bu Cindy sebagai seorang dermawan hebat hanya layak menyandang namanya di mata orang luar.

Seluruh penghuni vila tahu iblis macam apa dia.

Bu Cindy menyisir rambutku sambil memperingatkan.

"Nanti kamu akan ketemu tamu yang sangat penting, kamu tahu 'kan harus ngapain?"

"Kalau kamu nakal, nanti hukumannya nggak cuma sebatas ini."

"Janice yang pintar, aku tahu kamu pasti akan melakukannya dengan baik."

Suara Bu Cindy sangat lembut, namun nada bicaranya penuh ancaman.

Menurutku tamu yang akan datang nanti pasti memang sangat penting.

Saat aku melihat seorang pria yang duduk di ruang tamu, aku pun paham.

Gilbert Sambada, seorang pemain baru di bidang sains dan teknologi Kota Silo memang mitra yang ingin direkrut semua orang.

Aku menatap Bu Cindy di sebelahku yang terlihat gugup.

Aku tersenyum.

Ibu sayang, sekarang permainan kita dimulai.

"Ah Pak Gilbert, maaf ya menunggu. Anak gadis kalau dandan memang lama."

Bu Cindy membungkuk sopan sambil tersenyum.

Pak Willy sudah duduk di sofa, dia menuangkan teh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sepertinya dia tidak punya niat terlibat dalam masalah sepele ini.

Aku menundukkan kepalaku dan tetap diam, tetapi tiba-tiba Gilbert.

Dia berjalan menghampiriku dan mengangkat daguku.

Dia menatapku sebentar, lalu berujar sambil tersenyum, "Nyonya Cindy, apa Janice sudah punya pacar?"

Seketika, seluruh ruang tamu sunyi senyap.

Tidak ada yang menyangka Gilbert akan tiba-tiba menyerang seperti ini.

Wajahku seketika memerah saat menatap pria itu, lalu aku menoleh pada Bu Cindy dengan malu-malu.

Wajah Bu Cindy terlihat muram, namun dia masih memasang senyum.

"Pak Gilbert jangan bercanda, tahun ini Janice baru saja genap umurnya."

Sorotan mata Gilbert jadi lebih tajam, lalu dia berkata sambil tersenyum.

"Bagus dong. Begini saja, izinkan Janice menemaniku beberapa hari, dengan begitu aku akan menanggung semua investasi dalam proyek perusahaan kalian."

Setelah ucapan itu terlontar, Pak Willy yang selama ini diam tiba-tiba bangkit berdiri.

Dia berkata dengan tegas, "Nggak bisa!"

Semua orang seketika menatapnya, dia pun berdeham dan berkata.

"Janice adalah putri yang akhirnya susah payah kami temukan, dia bukan alat tawar-menawar."

Jawaban Pak Willy langsung membuat ekspresi Bu Cindy menjadi lebih menyeramkan.

Bu Cindy tersenyum, meraih tanganku dan mendelik pada Pak Willy.

Setelah itu, Bu Cindy meletakkan tanganku di telapak tangan besar Gilbert dan berkata dengan nada menyanjung.

"Kebetulan belakangan ini suasana hati Janice sedang buruk, silakan kalian pergi jalan-jalan, itu juga hal baik untuknya."

Seketika, hatiku menegang dan aku menatap Bu Cindy dengan tatapan memohon.

Kuharap dia bisa menarik kembali kata-kata itu, tapi tiba-tiba Bu Cindy menepis tanganku.

"Janice, jaga Pak Gilbert baik-baik ya. Ingat, anak yang nakal pasti akan kena karma."

Dengan begitu, Gilbert berhasil membawaku pergi.

Saat berjalan keluar vila, aku bisa mendengar pertengkaran Pak Willy dan Bu Cindy.

Pertengkaran itu berakhir setelah terdengar suara barang pecah. Setelah itu, aku melirik Gilbert yang sedari tadi selalu tersenyum di sampingku.

Aku memutar bola mataku dan berkata, "Jadi ini caramu supaya bisa membebaskanku? Basi!"

Melihatku mengeluh, Gilbert pun mengusap ujung hidungnya.

Kemudian, dia menyerahkan padaku kumpulan informasi.

"Ini data para gadis beberapa tahun ini yang diaku Keluarga Camari sebagai putri mereka yang menghilang, kamu sudah urutan belasan."

Bab 3

Aku menatap tumpukan informasi itu.

Memang ada beberapa hal yang harus kita buat perhitungan sejelas-jelasnya.

Gilbert dan aku bertemu secara kebetulan.

Pada saat itulah dia menyadari bahwa tujuan kami sama, jadi dia mengambil alih kendali setelahnya.

Sedangkan tugasku adalah membuat mangsa menggigit umpan.

Untungnya, kemampuanku yang tidak bisa merasakan sakit adalah nilai tambah yang besar. Kalau tidak, mana mungkin Bu Cindy mau melirikku?

Setibanya di apartemen Gilbert, dia memproyeksikan semua aset Keluarga Camari di dinding.

"Ini adalah mitra mereka, beberapa hari lagi akan ada pesta amal."

"Bu Cindy yang mengatur semua ini. Kamu tahu 'kan harus ngapain?"

Aku menatap Gilbert sambil tersenyum dan berkata dengan dingin.

"Kamu nggak perlu ngasih tahu aku harus apa, aku sudah tahu."

"Ingat, jangan sampai tertangkap dan jangan bertindak tanpa izinku."

"Kalau nggak, kamu tanggung sendiri akibatnya!"

Setelah aku selesai bicara, aku langsung naik ke lantai atas sambil membawa tumpukan informasi yang tadi diberikan Gilbert.

Meski semua ini hanya sebatas kerja sama, entah mengapa aku jadi sangat bersemangat.

Di kamar, setelah aku melihat foto gadis di halaman pertama profil, ujung hidungku terasa pedih.

Emosi bergejolak hebat dalam hatiku.

Apa ini yang namanya takdir?

Beberapa hari kemudian, aku menghadiri jamuan makan malam amal sambil merangkul lengan Gilbert.

Bu Cindy terlihat terkejut bukan main, aku tersenyum dan mengangguk kecil padanya.

Di matanya, Gilbert hanyalah seorang playboy.

Mana mungkin pria seperti itu tertarik padaku?

Namun, hanya sesaat saja Bu Cindy terlihat terkejut. Sedetik setelahnya, dia tersenyum sambil mengangkat gelas anggur dan bersulang untukku.

Tatapannya penuh peringatan.

Aku tahu maksudnya, sekarang aku adalah putri Keluarga Camari.

Cepat atau lambat aku akan kembali kepada mereka. Kalau sekarang aku tidak menurut pada perintahnya, waktu pulang nanti aku akan disambut dengan siksaan yang tiada habisnya.

Setelah pesta dimulai, aku mencari kesempatan untuk duduk di sebelah Bu Cindy.

Aku bersandar manja di bahunya, meski tatapanku tidak terlihat senang.

"Bu, belakangan ini aku dengar gosip lho. Ibu ada dengar juga nggak ya?"

Bu Cindy terlihat bingung, aku pun menjelaskan.

"Mereka bilang entah aku itu gadis ke berapa yang kalian akui jadi putri Keluarga Camari, terus kenapa aku nggak pernah melihat mereka?"

Ucapanku ini sontak membuat tangan Pak Willy yang memegang gelas anggur pun gemetar sesaat.

Anggur itu pun tumpah ke lantai.

Wajah Bu Cindy tiba-tiba menjadi suram dan dia langsung memegang erat pergelangan tanganku.

Kemudian dia berkata dengan tegas, "Jangan tanya pertanyaan yang nggak boleh kamu tanyakan kalau kamu masih mau jadi putri keluarga ini."

"Janice, harusnya kamu sadar diri. Tanpa kami, kamu masih akan jadi gadis yang disiksa dan terkurung di toilet."

"Sebaiknya kamu tutup mulut, kalau nggak, biar aku yang jahit!"

Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat dan tidak menyahut.

Aku melamun menatap panggung dan saat inilah Bu Cindy naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai penanggung jawab acara.

Namun saat dia hendak mulai berpidato, layar di belakangnya tiba-tiba menyala.

Muncullah sebuah video.

Video itu dimainkan dan terdengar suara seorang gadis.

"Ayah dan Ibuku sayang, masih ingat aku nggak? Aku putri kalian, Melisha."

"Aku putri yang pertama kali kalian akui ke publik."

"Sudah lama ya kita nggak ketemu, kalian kangen aku nggak?"

Saat ini wajah Bu Cindy tampak sangat menakutkan, dia langsung menoleh ke petugas yang bertanggung jawab atas proyektor.

"Heh! Apa-apaan kalian! Cepat matikan!"

Suara tajam Bu Cindy menjadi bergetar.

Pak Willy yang duduk di sebelahku juga ikut gemetaran. Dia menundukkan kepala dalam-dalam dan tidak berani melihat ke panggung.

Semua tamu mulai bergunjing sambil menatap Bu Cindy yang terlihat panik.

Bahkan pembawa acara yang selama ini bisa dengan lancar membawakan acara, saat ini hanya bisa menganga tak percaya sambil menatap layar proyektor.

Semua orang tahu tentang eksistensi Melisha Bilski yang tiba-tiba menghilang dari publik tanpa alasan yang tidak diketahui.

Bu Cindy mengaku, mereka mengirim Melisha ke luar negeri.

Namun ucapan Melisha yang ditampilkan di layar tadi sudah cukup untuk membuktikan adanya makna tersembunyi lain dalam kasus ini.

Aku menatap Bu Cindy yang marah, aku memiringkan kepalaku sambil tersenyum.

"Bu, jadi ini kakakku? Dia cantik banget."

"Terus, kakakku ada di mana?"

Pembalasan Dendam yang Munafik

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya