Bab 2
Setelah pulang dari kantor polisi, aku menutup perguruan bela diri dan meminta istriku untuk menelepon rumah sakit jiwa. Istriku menggelengkan kepalanya sambil berlinang air mata. Namun, aku menekan tangannya untuk memaksanya menelepon. Jika mereka bisa memanfaatkan celah ini, mengapa aku tidak?
Setelah itu, aku pun menjadi "gila" dan didiagnosis sebagai penderita gangguan jiwa.
Pada hari aku keluar dari rumah sakit, istriku menjemputku dan mengantarkanku ke pemakaman. Melihat putriku yang dulu ceria kini hanya menjadi sebuah foto di batu nisan, aku berjanji dalam hati untuk membalaskan dendamnya.
Aku tidak ingin dia merasa ayahnya lemah. Kebaikan yang diajarkan ayahnya malah membuatnya terjebak dalam bencana. Bukan kebaikannya yang salah, tetapi kejahatan merekalah yang harus disalahkan.
Seperti yang kuduga, Alfred kembali muncul. Kali ini, dia membawa beberapa orang tua di desa untuk memainkan drama mereka. Beberapa orang tua berakting jatuh dan terduduk di tanah. Dari kejauhan, terdengar suara sirene ambulans palsu yang mereka gunakan.
Mereka merencanakan semuanya dengan rapi. Begitu ada gadis yang berbaik hati datang untuk menolong, ambulans palsu itu akan segera datang dan membawa gadis itu ke desa mereka. Mana mungkin orang yang memiliki gangguan jiwa bisa menyusun rencana selicik ini?
Hanya dengan selembar kertas yang menyatakan mereka "sakit", mereka merasa bisa melanggar batasan moral dan hukum sesuka hati?
"Anda baik-baik saja?" Seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah langsung menghampiri kakek itu setelah melihatnya terduduk di tanah cukup lama.
"Aku nggak bisa berdiri, bisa nggak kamu panggilkan ambulans?" Gadis itu mengangguk dengan polos, tidak menyangka bahwa orang yang tampak tak berdaya di hadapannya ini adalah sosok yang berbahaya.
Melihat gadis muda yang begitu baik hati, aku teringat pada Lili. Seharusnya dia memiliki masa depan yang cerah dan keluarga yang hangat. Aku bahkan pernah memperingatkannya untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru untuk pacaran saat berkuliah nanti.
Namun kini, semua itu tak mungkin lagi terjadi. Lili tidak sempat meraih mimpi-mimpinya, hanya karena sekelompok manusia yang memanfaatkan celah hukum ini. Mereka merenggut Lili di masa-masa terbaik hidupnya.
Saat gadis itu hampir menekan tombol panggilan darurat, Alfred sudah datang dengan ambulansnya. Namun kali ini, mereka tak menyangka akan ada mobil lain yang lebih cepat dari mereka.
....
Ambulans yang kupanggil tiba lebih dulu dan berhenti tepat di depan kami. Bisa kubayangkan ekspresi terkejut di wajah Alfred yang menunggu di ujung jalan, seakan rencana liciknya kali ini telah gagal. Bukan hanya Alfred yang terkejut, kakek yang duduk di tanah pun terperangah melihat petugas medis yang turun dari ambulans.
"Anda bisa berdiri?" tanya salah satu dokter sambil mengamati kakek tersebut yang tampak kebingungan. Karena tidak ada respons, petugas segera menyiapkan tandu.
Melihat hal itu, gadis tadi berkata dengan tulus, "Sepertinya Kakek ini nggak bisa bergerak. Dia bilang dia nggak punya keluarga. Aku bisa menemaninya ke rumah sakit."
"Kalau begitu, kita bawa dulu ke rumah sakit," jawab dokter cepat sambil bersiap membantu kakek itu.
Namun ketika hampir diangkat ke tandu, kakek itu tiba-tiba panik. Dia tergagap, lalu bergegas turun dari tandu sambil berkata terbata-bata, "Nggak, nggak ... saya baik-baik saja .... Terima kasih ...." Kemudian, dia lari secepat mungkin tanpa menyelesaikan kata-katanya.
Para petugas medis hanya bisa tertegun melihat tandu kosong yang ditinggalkan, serta alat-alat palsu yang berserakan di jalan. Salah seorang dokter yang lebih berpengalaman, akhirnya menyadari apa yang terjadi dan menepuk bahu gadis itu.
"Nak, kebaikanmu nggak salah. Tapi lain kali, jangan sembarangan naik mobil orang. Zaman sekarang banyak orang jahat."
Gadis itu tercengang mendengarnya, tetapi dia segera berterima kasih kepada dokter atas nasihatnya.
Aku pun merasa lega karena berhasil menggagalkan rencana jahat mereka dan sudah sempat merekam semuanya untuk diunggah ke internet sebagai peringatan. Namun, tepat ketika aku ingin beranjak, aku mendapati mobil Alfred telah berhenti di belakangku tanpa suara. Pintu mobil terbuka dan sebelum aku sempat bereaksi, seseorang menarikku ke dalam mobil.
Bab 3
Mereka enggan menyerangku di dalam mobil karena takut merusak peralatan yang ada, jadi mereka mengurungku di sudut yang tersembunyi. Begitu melihatku, pria yang berperan sebagai orang tua renta itu langsung berdiri tegak. Ternyata dia hanya pria kurus yang lemah.
"Alfred, sudah kuduga pria ini bukan orang baik."
Alfred menyipitkan mata, melempar puntung rokok yang baru dihisapnya ke arahku. "Mengacaukan rencana kita, ya? Mau balas dendam untuk putrimu? Jangan mimpi! Hajar dia sampai babak belur!"
Pria yang bernama Pedro dan Gordon itu langsung menuruti perintahnya dan mulai menghajarku. Tangan dan kaki mereka yang kecil dan kurus hanya terasa seperti gigitan nyamuk di tubuhku. Aku menahan diri dan tidak bergerak. Tidak lama, keduanya malah terengah-engah.
"Kak Alfred, orang ini pengecut. Dia cuma berani sembunyi di sudut untuk mengintip kita," kata Pedro berusaha cari muka. Sambil tersenyum sinis, aku mengepalkan tinju diam-diam.
"Lihat saja, badannya besar tapi cuma pengecut! Beberapa pukulan saja dia sudah ...." Belum selesai dia bicara, aku langsung bangkit dan memberi pukulan keras di dagu Alfred. Kemudian, aku meraih dua pria lemah itu dan membenturkan kepala mereka dengan keras.
Apa mereka benar-benar mengira ototku ini hanya pajangan? Ketika aku menguasai arena di dojo, mereka mungkin masih sibuk bermain lumpur!
"Cari mati!" Alfred terdorong mundur dan mengeluarkan pisau lipatnya dengan kesal. Aku mendengus, tidak menganggapnya serius. Dengan cekatan, aku mencengkeram leher kedua pria itu dan menggunakan mereka sebagai perisai.
"Kak Alfred!" Kedua pria itu berusaha melawanku dengan menendang kakiku, tapi trik kecil mereka itu tidak ada apa-apanya. Aku langsung menendang lutut mereka dan membuat mereka jatuh berlutut.
Mencengkeram mereka semudah mencengkeram anak ayam. Alfred mengacungkan pisau dan mengayunkannya ke arahku tanpa teknik sama sekali.
Aku mengangkat mereka berdua bergantian di depanku dengan mudah, membuat Alfred tanpa sengaja menusuk anak buahnya sendiri berkali-kali. Kedua pria lemah itu menjerit kesakitan saat terkena pisaunya. Alfred tak tega melihat anak buahnya terluka dan akhirnya menelepon polisi.
"Halo, polisi? Aku mau lapor ada yang melukai orang!"
Aku tersenyum, lalu melepaskan cengkeraman pada mereka dan merebut pisau Alfred dengan cepat. Sambil mencengkeram kerah bajunya, aku menghajarnya tanpa henti. Alfred yang tak siap sama sekali, hanya bisa menerima pukulan dan berdarah.
Kedua anak buahnya mencoba menggangguku. Namun, hanya dengan satu tendangan dariku, mereka terlempar jauh. Saat itulah, terdengar suara dari ponsel Alfred. Itu suara putriku, Lili.
Di tengah amarahku yang berkobar, seluruh tubuhku tiba-tiba menjadi kaku mendengarnya.
"Lili ...." Sesaat aku kehilangan arah, membayangkan putriku yang dulu selalu ceria dan ramai menyapaku.
"Ayah, aku kangen. Tolong selamatkan aku ...."
Suaranya terdengar terputus-putus, diselingi suara makian pria lain.
"Dasar perempuan nggak tahu diri .... Ayahmu nggak akan pernah mencarimu lagi ...."
Aku memejamkan mata dengan perih. Tubuhku merosot dan aku menutup telingaku. Namun tanpa sadar, aku tetap ingin mendengar suara putriku sekali lagi. Itu adalah pesan terakhir darinya yang tersisa untukku.
Melihatku berhenti bergerak, Pedro dan Gordon langsung mencengkeram kepalaku dan membantingku ke tanah. Namun, rasa sakit di tubuhku tidak lagi berarti. Yang kudengar hanya suara Lili yang memanggilku.
"Ayah, tolong aku ...."
"Ayah, aku nggak mau hidup lagi ...."
"Ayah, aku mau mati saja ...."
Dia terus berteriak hingga suaranya menjadi serak. Lama-kelamaan, suaranya semakin tenang, seakan-akan telah pasrah menghadapi semua orang gila itu.
Lili berkata, "Ayah, Ibu, aku cinta kalian. Aku nggak seharusnya bertengkar sama kalian."
"Ayah, Ibu, aku menyesal sekali. Kenapa aku nggak diam saja seperti orang lain."
"Ayah, Ibu, aku kangen. Sayangnya, seumur hidup ini aku nggak bisa jadi putri kalian lagi."
Pada akhirnya di tengah-tengah keributan, para pria itu mulai menghentikan gerakan mereka.
"Kak, gadis ini bunuh diri dengan menggigit lidahnya ...."
Seketika, otakku seakan-akan meledak. Hatiku terasa seperti dibelah dua. Lili-ku pergi begitu saja ....
"Gimana rasanya mendengar putrimu mati? Apakah kamu sakit hati sekali sampai ingin membunuhku? Ayo bunuh saja aku. Dengan membunuhku, kamu bisa balas dendam untuk putrimu."
Pada saat ini, aku hanya punya satu pemikiran, yaitu ingin membunuh ketiga orang ini sekarang juga.