Bab 4

"Kenapa kamu pulang?" Pratama bertanya dengan kesal.

Untuk sekilas, Anggi merasa sedih. Sekalipun dirinya sudah pernah mati dan tahu benar keluarganya tidak menyayanginya, sikap Pratama tetap membuatnya kecewa.

Pria ini adalah ayah yang dia hormati sejak kecil. Namun, Pratama malah melemparkan pandangan kesal dan jijik terhadap Anggi.

Anggi menebak dalam hati, mungkin ayahnya geram karena kemunculannya merusak acara perjodohan Wulan?

Saat ini Satya juga mengernyit, seperti tidak mengindahkan kemunculan Anggi.

Kemungkinan besar, semua anggota Keluarga Suharjo tidak menduga Anggi akan kembali dengan hidup-hidup setelah menikah ke Kediaman Pangeran Selatan.

Bagaimanapun, sepanjang sejarah, siapa pun yang menikah dengan Luis yang kejam itu, jasadnya akan dilempar keluar keesokan harinya.

"Ucapan Ayah aneh sekali, kenapa aku nggak boleh pulang? Ini jadwal kepulanganku ke rumah orang tua setelah menikah. Apa Ayah lupa?" Anggi berdiri tegak dan menyapukan pandangan ke semua orang yang berada di aula utama.

Ekspresi semua orang dan mantan tunangannya terlihat lucu sekarang.

Setelah mengatur suasana hatinya, Pratama menjawab, "Ya sudah, kalau kamu pulang. Kembalilah ke kamarmu, ini bukan tempat yang seharusnya kamu datangi."

Anggi tertawa sinis dalam hati. Tentu saja, dia tidak seharusnya menghadiri pesta perjodohan adik sendiri dengan mantan tunangannya, bukan?

Hanya saja, Pratama melupakan satu hal. Status Anggi sekarang sudah berbeda dari sebelumnya.

Kalau itu dulu, Anggi pasti sudah pergi dengan patuh. Namun sekarang, dia tidak mau pergi begitu saja.

Dia mengangkat kaki dan melangkah masuk ke aula utama.

"Ayah, memangnya ada sesuatu yang nggak boleh aku dengar?" Anggi berkata dengan tenang. Auranya sekarang tidak lagi penuh waspada dan rendah diri seperti Anggi yang mereka kenal.

Anggi yang sekarang sudah paham, segala upaya mencari simpati dari keluarganya adalah sia-sia. Apa pun yang dia lakukan, keluarganya bakal tega mengabaikan kematiannya, bahkan tidak mau mengurus jasadnya.

Keluarga semacam ini, lebih baik dibuang saja.

Pratama tampak tidak senang. Dia langsung berseru, "Kurang ajar! Sejak kapan kamu boleh berbicara seperti ini di sini? Aku menyuruhmu pergi, apa kamu nggak paham?"

Anggi mengejapkan mata untuk menatap Pratama. "Ayah lupa? Sekarang statusku adalah Putri Selatan. Bukannya Ayah seharusnya memberi hormat kalau bertemu denganku?"

Pratama tercengang, lalu emosinya memuncak.

Anggi meminta Pratama memberi hormat?

Anak ini sungguh durhaka!

"Kakak, mana boleh Kakak bersikap begitu terhadap Ayah? Beliau ini Ayah, loh! Mana boleh memberi hormat? Kakak benar-benar durhaka."

Wulan menatap Anggi dengan terkejut dan berkata dengan suara lembut. Sekalipun saat marah, dia selalu memasang tampang lemah lembut.

Melihat ini, Satya yang sudah kesal dengan kemunculan Anggi, menjadi semakin marah.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu bersikap lantang di depanku? Ingat, apa statusmu, dan apa statusku." Anggi berseru dan menatap Wulan dengan sinis.

Wulan lantas menjadi pucat. Matanya memerah dan tubuhnya tampak bergetar.

Dia mengimpitkan mulut dan menatap Anggi. Dia tidak bisa memercayai kenyataan ini. Anggi yang penakut itu berbicara seperti ini terhadapnya sekarang.

Selain itu, Wulan merasa heran. Jelas-jelas dirinya sudah menghasut Anggi di malam sebelum Anggi menikah. Dia menceritakan kekejaman Luis dan ketidakrelaan orang tua Anggi. Berdasarkan sifat Anggi yang sangat peduli dengan orang tuanya, Anggi seharusnya mencoba kabur di malam pernikahan kemarin.

Wulan tidak menyangka Anggi akan mengambil langkah yang tidak sesuai dengan sifatnya. Bahkan, ucapannya terhadap Pratama hari ini juga sangat aneh.

"Anggi, jangan ganggu Wulan!" Melihat Wulan tersakiti, Satya merasa geram. Dia berdiri dan memarahi Anggi.

Hati Anggi terasa sangat pedih. Yang berada di hadapannya adalah pria yang pernah dia cintai.

Satya yang dulu tidak begitu. Saat semua anggota Keluarga Suharjo sangat dingin terhadap Anggi, Satya adalah satu-satunya orang yang baik terhadapnya. Satya akan memberinya hadiah, menemaninya melihat bulan, juga akan memberinya perhatian saat Anggi terluka ....

Masa semua itu cuma pura-pura?

Memangnya seseorang bisa berpura-pura selama belasan tahun lamanya?

Napas Anggi terasa sesak.

"Keterlaluan! Benar-benar keterlaluan! Kalau kamu nggak puas, kamu nggak perlu pulang, Anggi! Aku boleh menganggap nggak punya putri sepertimu."

Saat ini, Pratama baru bereaksi kembali dan langsung memarahi Anggi.

Sejak Anggi kecil, Pratama sudah tidak menyukainya. Anggi sangat berbeda dari Wulan yang patuh, pintar, serbabisa, dan dapat berbagi beban pikiran dengannya.

Melihat Anggi yang sekarang, Pratama semakin jengkel.

"Nggak perlu Ayah bilang pun, aku nggak akan kembali ke sini lagi. Karena sudah menikah dengan Pangeran Selatan, aku telah menjadi orang Kediaman Pangeran Selatan. Kali ini, aku akan mengampuni kalian karena masih ada ikatan keluarga. Tapi ingat, jangan sampai kalian nggak memberi hormat waktu bertemu denganku kelak."

Hati Anggi serasa hampa. Sekalipun sudah pernah mati sekali, dia masih berharap keluarganya akan berubah. Detik ini, harapan itu sudah pupus sepenuhnya.

Dia berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Saking emosinya, tubuh Pratama bergetar. Wulan juga meneteskan air mata, seolah-olah dirinya baru disakiti.

Anggi yang keluar dari aula utama, mengambil napas dalam-dalam, lalu kembali ke paviliunnya.

Berhubung dirinya tidak mendapat kasih sayang di rumah ini, paviliun tempat dia tinggal letaknya sangat terpencil. Paviliunnya tidak luas. Ada sebuah halaman di bagian depan paviliunnya, tempat dia menanam beberapa tanaman herba.

Biasanya, Anggi suka meneliti formula obat yang bisa mengobati ayah dan saudaranya yang sering berada di medan perang. Hanya saja, racikan obat yang dia buat, selalu direbut Wulan. Oleh karena itu, Wulan yang dianggap telah meracik semua obat-obat itu.

Anggi yang dulu tidak terlalu memedulikan hal ini. Selama bisa mengobati yang lainnya, dia tidak peduli jasanya direbut oleh Wulan. Lagi pula, kalau dia yang membawakan semua obat itu, ayah dan yang lainnya mungkin tidak sudi memakainya. Mereka mungkin akan menuduhnya meniru Wulan.

Terpikir akan semua kenangan itu, Anggi merasa sedih.

Dia pun kembali ke kamarnya dan mengemas semua barang yang ada. Semua barang-barang miliknya dimasukkan ke sebuah kotak kayu, tanpa menyisakan apa pun.

Hanya saja, dia tidak mungkin mengangkat kotak ini sendirian. Dengan terpaksa, dia harus meminta bantuan Dika.

Anggi tidak bisa menemukan sosok Dika. Dia pun mencoba memanggil nama Dika, barulah pengawal rahasia itu muncul di hadapannya.

Dika langsung mengerti maksud Anggi begitu melihat kotak itu. Dia keluar, lalu kembali dengan membawa dua pengawal lain untuk menggotong kotak tersebut.

Anggi mengamati sebentar paviliun tempat dia bertumbuh selama 16 tahun ini, lalu pergi tanpa merasa tidak rela.

Dia tidak akan pernah kembali ke Kediaman Suharjo ini lagi.

"Kakak ...." Baru berjalan beberapa langkah, Anggi mendengar sebuah suara lembut yang memanggilnya.

Dia pun mengernyitkan alis saat menoleh ke arah Wulan.

Wulan berlari untuk mendekat. Ekspresinya tampak sedih saat menarik lengan baju Anggi. "Kakak marah sama aku, ya?"

Anggi menarik kembali lengan bajunya dengan sinis dan tidak menjawab.

Air mata Wulan langsung menetes. "Aku tahu Kakak marah samaku. Cuma, aku juga nggak punya pilihan."

"Kakak juga tahu tubuhku lemah. Ayah dan Ibu mengasihaniku, makanya nggak rela aku masuk ke Kediaman Pangeran Selatan."

"Selain itu, pernikahan dengan Kak Satya juga bukan keinginanku. Hanya saja, kita sudah menipu Kaisar dalam pernikahan Kakak. Supaya rahasianya nggak terbongkar, aku terpaksa menggantikan Kakak menikah dengan Putra Bangsawan Aneksasi, dan Kakak menikah dengan Pangeran Selatan."

"Kakak harus memahami jerih payah Ayah dan Ibu. Jangan sampai ucapan Kakak melukai hati mereka."

Wulan berusaha menunjukkan ketulusan hati bahwa dia melakukan semua ini karena terpaksa.

Anggi hanya bisa tertawa dalam hati. Tidak heran dirinya bisa kalah dari Wulan dalam kehidupan sebelumnya. Mau bagaimana lagi, dirinya tidak sepintar Wulan dalam berdalih.

Bab 5

"Memahami? Atas dasar apa?" Anggi melirik Wulan dengan sinis.

Wulan sama sekali tidak menyangkan Anggi akan menjawab seperti ini. Setelah tercengang beberapa saat, Wulan menambahkan dengan sedih, "Kakak masih marah padaku, ya? Apa yang harus aku lakukan biar Kakak bisa memaafkanku?"

Anggi tidak menjawab, melainkan cuma memandang Wulan dengan ekspresi datar.

Wulan menyeka air matanya. "Apa Kakak harus memaksaku hingga mati? Aku tahu, Ayah dan Ibu menyayangiku sejak kecil, begitu juga para kakak laki-laki lainnya."

"Walaupun semuanya agak mengabaikan Kakak, Kakak tetap anggota Keluarga Suharjo, bukan? Lagi pula, pernikahan Kakak dengan Pangeran Selatan juga bukan hal buruk. Bagaimanapun, dia adalah bagian dari kerajaan yang statusnya terhormat."

"Kalau Kakak marah karena aku dijodohkan dengan Kak Satya, aku ... aku boleh membatalkan perjodohan ini. Asalkan Kakak senang." Sambil berkata, tubuh lemah Wulan terhuyung.

Anggi mengernyit. Dia merasa ada yang tidak beres.

Tidak mungkin Wulan berlari kemari cuma untuk menyampaikan kata-kata ini.

Dia pasti merencanakan sesuatu di balik ini.

Sebelum Anggi memahaminya, Wulan berteriak sebentar sembari terjatuh ke tanah. Pada saat yang sama, Wulan juga menampar wajahnya sendiri dengan kuat.

Kulit Wulan sangat halus karena dirawat dengan sepenuh kasih oleh Keluarga Suharjo. Tamparan ini langsung membuat pipinya menjadi merah dan bengkak.

Anggi segera mengernyit.

Tidak mungkin Wulan bertindak seperti ini kalau bukan karena ada orang lain di sekitar ....

Berhubung dirinya tidak mati, alur cerita novel ini jadi melenceng. Oleh karena itu, Anggi juga tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang.

Pada saat ini, terdengar derapan kaki yang terburu-buru. Sesaat kemudian, Anggi didorong seseorang dengan kasar hingga hampir terjatuh. Sebuah sosok tegap yang tidak asing berdiri di depan Anggi, lalu membungkuk untuk memapah Wulan.

Setelah itu, pria itu menatap Anggi dengan galak. "Anggi! Sekalipun kesal, mana boleh kamu menyakiti Lanlan?"

"Karena masalahmu, Lanlan terus menyalahkan dirinya. Kemarin dia menangis terus-terusan. Padahal dia begitu mengkhawatirkan keadaanmu di Kediaman Pangeran Selatan, kenapa kamu malah menamparnya?"

Anggi menatap pria itu. Dia adalah kakak sulung mereka, Yohan Suharjo.

Saat mereka kecil, Anggi sangat akrab dengan Yohan. Hanya saja, entah sejak kapan, sikap Yohan terhadapnya menjadi semakin ketus, bahkan lama-kelamaan jadi terkesan membencinya.

Sebelumnya, Anggi merasa sangat heran. Setelah kematian sebelumnya, dia jadi tahu bahwa Wulanlah yang telah menghasut Yohan selama ini.

Menghadapi Yohan yang pernah dia hormati, Anggi merasa hampa. "Kalau Kak Yohan merasa aku menamparnya, ya sudah."

"Tapi Kak Yohan harus ingat. Sekalipun aku menamparnya, nggak ada yang boleh menyalahkan aku. Aku ini Putri Selatan." Usai berkata, Anggi melangkah ke hadapan Wulan dan Yohan.

Yohan mengernyit dan menatap Anggi dengan waspada.

Sementara itu, Wulan mendekap di pelukan Yohan dengan menunjukkan ekspresi lemah.

Anggi mengayunkan tangan, lalu menampar pipi Wulan dengan keras. Tamparan itu begitu keras, hingga kukunya menggores wajah Wulan yang lembut. Wulan sontak berteriak dan menutupi wajahnya.

Satu sisi wajah Wulan terasa begitu panas. Dia langsung meneteskan air mata dan menatap Anggi dengan kesal.

Saat ini, bahkan Yohan juga tercengang. Dia tidak menyangka Anggi akan langsung menampar Wulan.

"Kamu!"

Saat Yohan hendak membalas Anggi, sesosok bayangan segera menghalang di hadapan Anggi. Orang itu adalah pengawal pribadi yang terus melindungi Anggi secara tersembunyi, Dika.

Dika mendapat perintah dari Luis untuk mengantarkan Anggi kembali ke Kediaman Pangeran Selatan dengan selamat. Oleh karena itu, dia harus menghentikan siapa pun yang mau mencelakai Anggi.

Saat bertemu dengan Dika, Yohan lantas menatap Anggi dengan tidak percaya.

Setahunya, Luis adalah orang kejam yang sering menghukum mati bawahannya. Semua orang yakin, Anggi tidak akan hidup selama lebih dari dua hari setelah menikah ke Kediaman Pangeran Selatan.

Awalnya, Yohan merasa tidak tega pada Anggi yang harus menjadi pengantin pengganti ke sana. Dia terpaksa mengeraskan hati saat teringat dengan betapa lemahnya Wulan.

Namun dilihat dari situasi sekarang, ternyata perlakuan Luis terhadap Anggi termasuk lumayan. Luis bahkan mengutus pengawal rahasia untuk Anggi. Untuk sesaat, ekspresi Yohan tampak rumit.

Sementara itu, Anggi tidak lagi menghiraukan mereka. "Dika, ayo pergi."

"Dik ...." Yohan memanggil tanpa sadar saat melihat Anggi yang hendak pergi.

Entah kenapa, Yohan merasa sedikit sedih saat melihat kepergian Anggi. Dia seolah-olah sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

"Kak Yohan ...." Suara isak Wulan menarik kembali perhatian Yohan. Saat ini, dia baru menyadari luka di wajah Wulan. Wajah yang begitu lembut, kini menjadi bengkak dan merah.

"Kenapa parah sekali?" Yohan terkejut. Dia segera membawa Wulan untuk merawat lukanya.

Saat ini, Anggi telah keluar dari Kediaman Suharjo dan menaiki kereta kuda. Dia membuka tirai untuk melihat rumah yang mengisi kenangan selama 16 tahun ini untuk terakhir kalinya.

Pada akhirnya, dia menutup tirai dengan sorot mata dingin. Mulai sekarang, dirinya sudah tidak memiliki hubungan dengan Keluarga Suharjo lagi.

Kalaupun bertemu, mereka akan dia anggap sebagai orang asing.

Semua ikatan mereka, sudah sirna sejak jasadnya ditelantarkan di depan pintu dan menjadi mangsa anjing liar.

Kereta kuda yang dinaiki Anggi memasuki Kediaman Pangeran Selatan. Kemudian, para pelayan memindahkan kotak yang dibawa kereta kuda itu ke kamar Luis dan Anggi.

Anggi membuka kotak tersebut dan terdiam saat melihat isinya.

Beberapa dupa ini diracik Anggi untuk Ambar, Nyonya Tua di Kediaman Suharjo. Semasa mudanya, Ambar banyak menderita sehingga sering sakit kepala dan tidak bisa tidur di malam hari. Oleh karena itu, Anggi membaca banyak buku dan menemukan formula dupa penenang.

Anggi menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan tangannya banyak terluka sampai akhirnya berhasil membuat dupa penenang ini.

Sejak saat itu, Ambar bisa tidur dengan nyenyak, gejala sakit kepalanya juga membaik.

Obat-obatan lainnya juga dia sediakan untuk ayah dan kakak laki-laki lainnya. Mereka sangat membutuhkan obat-obatan seperti ini karena sering terluka.

Selain itu, juga ada obat-obatan untuk masuk angin, nyeri tulang, dan sebagainya ....

Kotak besar itu terisi penuh rasa cinta untuk semua anggota Keluarga Suharjo. Setiap usaha yang dia kerahkan, terlihat seperti lelucon sekarang.

Saat ini, Dika telah kembali ke sisi Luis dan melaporkan semua kejadian di Kediaman Suharjo.

Luis hanya tertawa sinis.

Keluarga Suharjo benar-benar pandai membuat rencana. Mereka tahu bahwa Satya sedang naik daun. Kelak, dia pasti bisa menjadi orang paling berpengaruh di bawah Kaisar. Oleh karena itu, mereka ingin menikahkan putri mereka dengannya.

Sayangnya, tujuan mereka tidak akan tercapai kali ini.

"Coba periksa, apakah Anggi pernah pergi ke Gurun Utara tiga tahun lalu?" Luis menunduk untuk membaca buku perang yang ada di tangannya. Suaranya tidak mengandung emosi dan terkesan cuek.

Dika segera mengangguk, lalu sosoknya berkelebat dan menghilang dari pandangan.

Di dalam ruangan itu, samar-samar tercium aroma dupa yang dibakar.

Kalau Anggi di sini, dia pasti langsung mengenali ini adalah aroma dupa penenang yang dia racik untuk mengobati sakit kepala Ambar.

Bab 6

Setelah merapikan kotak yang dia bawa dari rumah, Anggi mengeluarkan sebuah buku medis.

Plak, plak ....

Jendela dalam ruangan bergetar karena ditiup angin dingin.

Anggi menggerak-gerakkan bahunya secara refleks dan berdiri untuk menutup jendela itu.

"Putri, apa yang terjadi?"

Seorang pelayan bertanya dari luar kamar.

"Bukan apa-apa," jawab Anggi. Saat meletakkan buku medisnya, dia baru menyadari bahwa hari sudah gelap.

Luis di mana? Kenapa belum pulang?

Anggi lalu berjalan ke luar kamar.

Pelayan yang menjaga di luar kamar lekas memberi hormat. "Putri." Pelayan itu berusia sekitar 15 atau 16 tahun. Rambutnya dikuncir dua dan dia mengenakan baju berwarna merah muda.

"Apa Pangeran ... keluar rumah?" Anggi terus menunggu kepulangannya.

Pelayan itu menjawab dengan sopan, "Izin menjawab, Putri. Pangeran seharusnya berada di ruang baca."

Artinya, Luis tidak keluar.

Benar juga. Kakinya tidak terlalu lincah. Kalau tidak terpaksa, seharusnya Luis tidak akan keluar rumah.

Setelah menguap, Anggi mengambil mantel hitam yang tergantung di tiang.

"Namamu siapa?" tanya Anggi.

"Hamba bernama Naira."

"Tolong pandu jalannya. Aku mau mengantarkan mantel ini untuk Pangeran." Ini sudah terlalu malam, tapi Luis tidak menitipkan pesan untuk Anggi. Oleh karena itu, Anggi tidak tahu harus menunggunya atau tidak.

Naira tertegun sejenak. "Putri, perlukah hamba meminta izin sebentar?"

"Meminta izin? Izin dari siapa?" Apa Anggi cuma dianggap sebagai pajangan di kediaman sebesar ini? Kenapa keluar saja harus meminta izin?

Anggi menghela napas, lalu mengangguk. "Pergilah."

"Baik." Naira membungkuk, lalu berjalan menuju ruang samping.

Tepat pada saat itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Seorang wanita dengan pakaian berwarna hijau keluar.

Naira pun melapor dengan suara pelan, "Kak Mina, Putri bilang ingin mengantarkan mantel untuk Pangeran."

Mina mendengar sambil melirik ke depan pintu ruang utama. Kemudian, dia mendekati Anggi, lalu membungkuk. "Hamba bernama Mina, salam untuk Putri."

Anggi bertanya, "Cuacanya sangat dingin, apa aku boleh mengantarkan mantel ini untuk Pangeran?"

Mina tampak canggung.

Selama ini, wanita yang menikah dengan Pangeran selalu memiliki niat terselubung. Oleh karena itu, mereka tidak pernah dibiarkan hidup sampai hari kedua.

Sementara itu, Anggi ... sepertinya berbeda dengan mereka semua.

Anggi melewati malam pertama, meninggalkan noda darah, bahkan bisa kembali ke rumah orang tua sendiri.

Saat Mina terbenam dalam pikiran sendiri, terdengar suara derit kursi roda.

Semuanya lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati Dika sedang mendorong kursi roda kemari.

"Hormat pada Pangeran." Semuanya segera memberi hormat.

Luis tidak menghiraukan mereka. Hingga Dika mendorongnya ke ruang utama, dia baru berkata pelan, "Masuk."

"Baik." Anggi menyahut dan masuk. Pada saat bersamaan, dia mendengar Mina sedang memerintahkan bawahannya untuk mengambil air cuci muka untuk Luis.

Setelah masuk, Anggi dan Luis tidak berbicara. Entah cuma perasaannya atau bukan, Anggi merasa dirinya mencium aroma yang tidak asing saat Luis tiba.

Dia berpikir keras, lalu menyadari bahwa obat-obatan itu baru dibawa pulang hari ini. Sedikit atau banyak, aroma dupa penenang mungkin akan menyebar keluar.

Anggi merasa dirinya jadi terlalu banyak curiga sejak pernah mati sekali.

Tidak lama kemudian, Mina memandu orang-orang yang membawakan air cuci muka dan baju ganti masuk.

"Pangeran, biarkan saya yang melayani Anda berbenah." Anggi berkata lembut kepada teman antagonis malang yang senasib dengannya.

Anggi sudah memutuskan, di kehidupan yang baru ini, dia mau mendampingi Luis. Siapa tahu kalau mereka menjalani hidup dengan baik, nasib mereka akan sedikit berubah.

Luis mendaratkan tatapan tajam pada Anggi. Tidak ada yang bisa menebak isi pikirannya.

Setelah sekian lama, dia baru menjawab, "Boleh." Kemudian, Luis melambaikan tangan.

Meski terkejut, Mina memberi hormat dan keluar dengan pelayan lainnya sembari menutup pintu kamar.

Deg, deg, deg ....

Jantung Anggi berdegup kencang.

Dia teringat dengan pakaiannya yang ditanggalkan Luis hingga tersisa sehelai baju dalam saat malam pertama mereka. Setelah itu, bahkan baju dalamnya terlepas di pagi hari berikutnya.

Sementara kali ini, dirinya yang harus menanggalkan pakaian Luis. Tangannya sontak menjadi kaku.

Saat ini, Anggi hanya bisa berdiri di tempat sambil mengepalkan tangan. Dia benar-benar gugup!

"Hm?" Luis bersuara karena Anggi belum juga mulai membantunya berbenah. "Kalau nggak mau, kenapa menawarkan diri?"

Seketika, wajah indah Anggi memerah. Apakah malu? Atau marah?

"Bu ... bukan." Wajahnya semakin memerah. "Maafkan saya, Pangeran. Saya terlalu malu."

Setelah hidup selama dua kehidupan, ini pertama kalinya Anggi akan melihat pria yang telanjang.

Luis tidak menjawab, melainkan langsung menggerakkan kursi rodanya ke kamar mandi. Para pelayan tadi telah menyiapkan air untuk mandi di sini.

Di balik penyekat ruang, samar-samar terlihat bayangan pria yang sedang melepaskan pakaiannya sendiri. Tidak lama kemudian, pria itu sudah masuk ke dalam tong mandi. Air di dalam bak sudah memercik keluar sebelum Anggi bisa melihatnya dengan jelas.

Anggi merasa, dia tidak boleh menjilat ludah sendiri.

Kalau dirinya mau hidup dengan nyaman, dia harus merawat suaminya dengan penuh hormat.

Kalau sampai Dariani tahu putranya tidak dijaga dengan sepenuh hati, Anggi pasti akan celaka lagi.

Anggi meneguhkan hati, lalu berkata, "Pangeran, saya bantu." Sambil berucap, Anggi sudah berjalan ke balik sekat.

Melihat lengan kuat yang tidak berbalut kain itu, Anggi bahkan tidak berani menggerakkan matanya. Dia buru-buru mengambil sabun dan kain untuk membasuh tubuh Luis.

Byur, byur ....

Dengan tangannya yang lembut, Anggi menyendok air dan menyirami lengan, bahu, dan tubuh pria itu.

Seiring Anggi membantu Luis mandi, napas Luis menjadi semakin tidak beraturan.

Setelah sekitar 15 menit kemudian, Luis akhirnya bertanya dengan suara serak, "Kenapa? Apa tubuh bagian atasku begitu kotor, jadi Putri terus mencucinya? Memangnya bagian bawahnya nggak perlu dicuci?"

Anggi tidak sanggup menjawab.

Sudahlah, sudahlah. Bagaimanapun, mereka memang suami istri. Memangnya dirinya bakal mati karena malu kalau membantunya mandi?

Sambil berkata, Anggi pun mengarahkan kain basuh ke dalam air.

Plak ....

Pria itu langsung menggenggam lengan lembut Anggi dan berkata dengan suara rendah, "Kalau nggak bisa, pergi saja!"

"Pangeran salah paham, saya nggak bermaksud ...."

"Nggak bermaksud?" Pria itu bertanya dengan sedikit merayu, lalu langsung menjatuhkan Anggi ke dalam tong mandi.

Gerakan yang tiba-tiba membuat Anggi terhuyung dan jatuh ke dalam tong mandi. Tanpa dia sadari, dirinya sudah duduk di sesuatu yang keras. Saat mengulurkan tangan untuk memegangnya ....

Ternyata itu adalah suatu batang yang keras!

Terbuat dari daging!

"Kurang ajar!" Sepertinya Luis juga tidak menyangka ini akan terjadi. Dia pun berseru marah.

Pria yang menjadi sandaran Anggi telah keluar. Tubuh Anggi yang kehilangan keseimbangan jadi terjatuh dan kepalanya tenggelam di dalam tong.

"Uhuk, uhuk, uhuk ...."

Anggi tersedak air sehingga terbatuk hingga wajahnya memerah.

Setelah Anggi membersihkan air dari mata dan wajahnya, Luis telah selesai memakai jubah mandi dan duduk di kursi roda. Kemudian, dia sudah keluar dari balik sekat.

Saat ini, Anggi berteriak dalam hati.

Kenapa dirinya mau menyentuh batang keras tadi!

Luis pasti mengira dia sengaja, makanya jadi marah!

Hidup ini memang banyak cobaan!

Walaupun Luis tidak sekejam yang dirumorkan, hidup berdampingan dengannya juga tidak mudah!

Anggi yang sudah jatuh ke dalam tong mandi memutuskan untuk mandi. Untung saja, Mina juga menyiapkan baju ganti untuknya. Kalau tidak, dia harus berjalan ke lemari dengan keadaan basah kuyup, atau telanjang.

Setelah Anggi memakai baju lengkap, Luis bersandar di tepi ranjang dan bertanya dengan ekspresi datar, "Putri paham selanjutnya harus melakukan apa, 'kan?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B27848" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B27848
Salin

Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya