Bab 2
Selesai memberi penghormatan kepada Kakek Martin, Owen pun meninggalkan kuburan. Saat dia berjalan ke depan pintu gerbang, dia melihat seorang wanita cantik yang berpakaian seragam kerja sedang berdiri di depan sana. Owen spontan merasa penasaran. Kenapa ada orang yang tidak tidur di malam hari, malah pergi ke tempat seperti ini? Wanita itu bahkan menggunakan riasan yang tebal.
Si wanita cantik terlihat tidak senang. Dia pun bergumam, sepertinya dia berkata “dasar miskin” atau sejenisnya.
Dulu ketika Owen mendengar ucapan ini, dia pun tidak akan memasukkannya ke hati. Hanya saja, setelah dia diusir dari rumah hari ini, Owen jadi merasa sangat kesal. Dia ingin melampiaskan emosinya.
Oleh sebab itu, Owen berlari ke depan wanita cantik itu, lalu berkata, “Lho, cepat banget nongkrongnya? Berapa semalam? Hari ini suasana hatiku lagi bagus!”
Sebenarnya Owen tidak punya uang sama sekali. Owen bahkan sedikit gugup ketika mengatakan ucapan itu. Dia takut wanita itu memang bekerja sebagai kupu-kupu malam. Nantinya Owen malah tidak bisa membayarnya.
Untung saja, dia itu wanita baik-baik! Sebab, setelah mendengar ucapan Owen, raut wajah wanita cantik itu langsung muram, dan langsung memelototi Owen.
Owen diam-diam menghela napas lega.
Suasana hati Owen sangatlah buruk hari ini. Setelah dipelototi oleh wanita itu, Owen pun merasa semakin kesal, lalu menambahkan, “Kenapa pelototi aku? Aku tanya berapa hargamu? Kenapa? Bukannya kamu itu kupu-kupu malam? Kenapa malah malu? Asal kamu tahu, aku jago banget dalam masalah ranjang. Kamu akan puas, deh!”
Ucapan Owen langsung membangkitkan amarah si wanita cantik. Dia langsung bertanya, “Siapa namamu? Kamu kerja di perusahaan mana?”
Owen juga tidak bodoh! Mana mungkin dia memberi tahu identitas detail kepada wanita itu.
“Kamu!!!” Wajah si wanita sudah memerah lantaran merasa sangat emosi. Dia sudah kehabisan akal dalam menghadapi Owen. Jadi, si wanita terpaksa pergi.
Kali ini, amarah di hati Owen juga mulai berkurang. Saat dia membalikkan badan hendak berjalan pergi, Owen menyadari ada dua orang pemuda sedang menyelundup ke dalam kuburan. Tampak juga karung goni dan tali di tangan mereka. Sepertinya mereka akan melakukan penculikan.
Berhubung hari sudah sangat gelap, ditambah lagi dengan halangan dari pepohonan dan batu nisan, mereka pun tidak menyadari keberadaan Owen. Hanya saja, dapat dipastikan bahwa kedua orang itu memiliki niat buruk.
Owen mengerutkan keningnya. Dia menduga bahwa kedua orang itu sedang menargetkan wanita yang tadi. Jadi, Owen pun diam-diam mengikuti mereka.
Sesuai dugaannya, wanita yang menunggu di depan kuburan itu langsung diikat dari belakang, lalu dimasukkan ke dalam karung goni. Kemudian, mulutnya disumpal dengan kaos kaki bau milik salah satu lelaki.
Si wanita tidak berhenti meronta. Hanya saja, perlawanannya tidak berguna sama sekali.
Beberapa saat kemudian, salah satu lelaki yang berbadan kekar langsung menindih si wanita. Sementara, lelaki yang satu lagi memindahkan batu yang sangat besar, lalu mengikat karung goni yang berisi wanita itu dengan batu besar itu.
“Gedebum!” Kedua orang melempar batu ke dalam sungai.
Kedua mata Owen terbelalak!
Pembunuhan berencana!
Owen spontan ingin melarikan diri, tapi dia khawatir langkah kakinya akan mengeluarkan suara, dan akan menarik perhatian kedua lelaki. Oleh sebab itu, dia terus bersembunyi di belakang batu nisan. Setelah kedua lelaki itu pergi, Owen baru mencondongkan kepalanya dengan penuh waspada.
Owen berpikir sejenak, dan pada akhirnya Owen memilih untuk melompat ke dalam sungai. Dia memang penakut, tapi dia tidak tega membiarkan seorang wanita mati di hadapannya.
Tak lama kemudian, Owen berhasil menyelamatkan wanita itu dari dalam sungai. Tanpa menghiraukan basah kuyup di seluruh tubuhnya, Owen segera melepaskan karung goni itu. Dia tidak menyadari ada pisau si pembunuh yang jatuh di sekitar mereka.
Di sisi lain ….
Kedua pemuda berjalan ke jalan di samping area kuburan. Tampak ada mobil SUV mewah sedang berhenti di pinggir jalan.
Saat mereka berdua hendak memasuki mobil untuk meninggalkan lokasi. Tiba-tiba Basri teringat sesuatu.
“Celaka, pisauku hilang. Mungkin jatuh di dekat sungai. Ada bekas sidik jari di pisau itu. Cepat pungut ….”
Mereka berdua lekas kembali ke sisi sungai.
…
Setelah karung goni dibuka, tampak wanita di dalamnya sudah basah kuyup. Dia sedang mengenakan kemeja kerja berwarna putih dipadukan dengan rok mini. Saat ini, berhubung si wanita sudah basah, seluruh pakaiannya pun menempel di tubuhnya. Jadi, terlihat jelas lekuk tubuh indah si wanita.
Apalagi bagian atas tubuhnya. Saking basahnya, Owen bahkan bisa melihat pakaian dalam berwarna hitam dan berenda di balik kemeja putihnya.
Cantik sekali!
Owen refleks menelan air liurnya. Awalnya dia merasa Lucy tergolong sangat cantik. Tak disangka, masih ada wanita yang lebih cantik lagi.
Si wanita sudah tenggelam dalam waktu yang cukup lama. Jadi, wajahnya tampak pucat, dan dia bahkan tidak bernapas lagi.
Owen terpaksa menekan-nekan dada montok si wanita sambil memberi napas buatan untuknya. Dia tidak menyangka dada wanita itu sangat empuk, bibirnya juga terasa lembut dan juga sedikit manis.
Tak lama kemudian, si wanita cantik sudah berhasil menyadarkan diri.
“Uhuk, uhuk ….”
Si wanita terus terbatuk-batuk. Tubuhnya terlihat sedikit gemetar. Saat ini, si wanita dapat merasakan sisa kehangatan di bibirnya. Begitu mengangkat kepalanya, dia menyadari Owen sedang meraba-raba kakinya.
Emosi si wanita seketika membara. Dia langsung menendang Owen ke dalam sungai, lalu memakinya, “Kamu lagi ngapain? Dasar berengsek! Sialan!”
Owen yang ditendang ke dalam sungai itu merasa kaget. Dia kembali naik ke tepi sungai dengan tidak berdaya. Mungkin ini yang dinamakan air susu dibalas dengan air tuba.
“Ternyata memang nggak ada cewek baik di dunia ini! Padahal aku sudah berbaik hati selamatin kamu. Aku bahkan beri kamu napas buatan. Kamu malah nggak berterima kasih, malah tendang aku ke dalam sungai? Hehe, sepertinya kamu nggak sekolah, ya. Hari ini aku akan gantiin ayahmu untuk beri pelajaran sama kamu!”
Selesai berbicara, Owen langsung berjalan ke hadapan si wanita. Si wanita spontan merasa panik hingga sekujur tubuhnya gemetar, dan begitu pula dengan suaranya. “Kamu … kamu jangan sembarangan, ya!”
Tempat ini sangat terpencil. Jika si wanita diapa-apain lelaki itu, dan dilempar ke dalam sungai, orang lain juga tidak akan menyadarinya.
Siapa sangka Owen hanya merampas kunci mobil dan ponsel yang sudah tidak bisa diaktifkan lantaran sudah kemasukan air itu, dan membantingnya ke lantai. Tak hanya sampai di sana saja, setelah semuanya sudah hancur, Owen pun membuangnya ke dalam sungai!
“Bukannya kamu sangat hebat?” Owen berbicara dengan marah, “Bukannya kamu nggak tahu berterima kasih? Sekarang aku sudah hancurin ponselmu. Aku ingin lihat gimana caranya kamu panggil taksi di tempat terpencil seperti ini? Tenang saja, kamu nggak bakal sendirian, kamu bakal ditemani oleh hantu. Hehe, kamu nggak bakal kesepian.”
Selesai berbicara, Owen langsung melangkah pergi.
Sementara itu, si wanita terkejut hingga sekujur tubuhnya gemetar! Dia pun berteriak dengan menangis, “Jangan … jangan pergi! Aku mohon sama kamu!”
Bab 3
Lokasi makam ini sangat terpencil!
Owen juga tidak yakin akan ada hantu atau tidak, hanya saja dia dapat mendengar suara raungan serigala. Ditambah lagi, si wanita sedang basah kuyup, dan kakinya juga terluka. Dia pasti tidak bisa berjalan jauh.
Jalan raya masih jauh di depan sana. Tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkan wanita ini. Sekarang dia juga sudah tidak memiliki ponsel dan kunci mobil. Dia pun hanya bisa bermalam di sini!
Semua ini adalah hukuman Owen untuknya!
Hukuman atas membalas air susu dengan air tuba!
Owen melangkahkan kakinya, lalu berjalan pergi.
“Dasar berengsek! Kamu memang berengsek! Kamu … jangan tinggalin aku!”
Si wanita cantik mengejar Owen, tapi dia tidak sanggup mengejar langkah Owen yang sedang emosi itu. Seketika, terlintas rasa sedih di hatinya. Dia tidak menyangka seorang wanita dari keluarga kaya raya, Theresa Lestari, akan disiksa seperti ini.
“Sialan! Setelah aku tahu kamu itu siapa, aku pasti nggak akan ampuni kamu!” jerit Theresa.
Ancaman yang dilayangkan Theresa membuat amarah di hati Owen semakin membara. Dia pun tidak menghiraukan Theresa lagi.
Ketika menyadari Owen sudah menghilang dari pandangannya, tangisan Theresa semakin kuat lagi. Saat ini, sepatu hak tinggi Theresa sudah rusak, sekujur tubuhnya juga sudah basah. Dia kedinginan sampai menggigil.
Theresa mengamati sekeliling, dan dia pun merasa sangat takut. Memang tidak ada serigala, tapi tempat ini adalah kuburan. Siapa tahu bakal ada roh-roh halus ….
Theresa sungguh membenci Owen. Sejak kapan nona muda terhormat seperti dia pernah mengalami penderitaan seperti ini?
Tiba-tiba Owen mulai menyesali perbuatannya. Dia adalah seorang lelaki berhati baik. Kalau tidak, dia tidak mungkin akan menyelamatkan Kakek Martin, dan bahkan tidak mengeluh ketika ditindas anggota Keluarga Bastian selama bertahun-tahun. Dia bisa marah juga karena ingin melampiaskan amarah yang dipendamnya selama ini. Namun sekarang, Owen juga sudah menenangkan dirinya.
Owen berpikir, bagaimanapun ceritanya dia adalah seorang perempuan, sepertinya perbuatan Owen tadi sudah keterlaluan. Si wanita mungkin tidak akan bertemu bahaya lagi. Hanya saja, jika si wanita bermalam dengan kondisi basah kuyup, dia pasti akan flu berat. Owen merasa tidak tega. Pada akhirnya, Owen berjalan kembali untuk pergi mencarinya.
Namun, Owen malah tidak bisa menemukan bayangan siapa pun di tempat dia meninggalkan Theresa tadi. Kali ini Owen merasa panik. Dia langsung mencari di sekeliling, tapi selain sepasang sepatu hak tinggi, Owen tidak bisa menemukan apa-apa lagi.
Celaka!
Owen memiliki firasat buruk, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap Theresa. Tak lama kemudian, samar-samar terdengar suara jerit minta tolong Theresa. Owen langsung berlari ke arah datangnya suara.
Ternyata dua pembunuh tadi kembali lagi! Kali ini, mereka bukan hanya ingin membunuh Theresa saja, sepertinya mereka juga tidak dapat menahan hasrat ketika melihat Theresa yang basah kuyup itu.
Saat Owen pergi mencari Theresa, pakaiannya pun sudah dikoyak. Owen juga tidak peduli dengan kehebatan dua pembunuh itu lagi, dia langsung menendang salah satu pembunuh yang sedang menindih tubuh Theresa.
Owen menundukkan kepalanya dan tampak pakaian di tubuh Theresa sudah tidak bersisa lagi. Theresa berusaha untuk menutup bagian intimnya, tapi tidak peduli bagaimana dia berusaha, tetap terlihat bagian tubuh lainnya. Owen spontan merasa postur tubuh wanita ini indah sekali.
Emm, bahkan lebih indah daripada tubuh Lucy.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Owen langsung melepaskan pakaiannya, lalu menutupi tubuh Theresa. Theresa pun bergegas mengenakan pakaiannya. Ketika melihat orang yang datang menyelamatkannya adalah lelaki yang meninggalkannya tadi, Theresa pun ingin sekali menamparnya. Namun pada saat ini, Theresa melihat sesuatu, dan dia spontan menjerit, “Hati-hati!”
Hanya saja, semuanya sudah terlambat.
Si pembunuh yang berjas hitam itu sepertinya sudah terlatih dengan profesional, sedangkan Owen hanyalah orang biasa. Bagaimana mungkin dia sanggup melawan si pembunuh? Owen pun ditendang jauh, lalu si pembunuh mengeluarkan pisau yang dipungutnya tadi sambil berkata, “Cari mati!”
Kemudian, si pembunuh yang satu lagi menginjak dada Owen, hendak menancapkan pisau di tubuh Owen.
Tiba-tiba si pembunuh yang mengoyak pakaian Theresa dan menendang Owen tadi pun mendesak pembunuh yang satu lagi, “Kak Basri, Keluarga Lestari itu keluarga hebat. Sepertinya mereka sedang di perjalanan untuk mengejar kita. Waktu kita sudah nggak banyak lagi. Cepat habisi mereka! Jangan tunda waktu lagi!”
“Memangnya aku nggak tahu!” Basri terlihat sangat marah. Jika bukan Theresa cukup cantik, sepertinya nyawanya sudah tiada saat ini.
Tanpa berbasa-basi, Basri langsung menusuk dada Owen dengan pisaunya.
Darah segar memuncrat!
Sebelum Owen meninggal, dia pun menggigit paha Basri, lalu menjerit, “Cepat lari! Kamu nggak usah peduliin aku! Aku memang ditakdirkan untuk bernasib malang!”
Setelah selesai berbicara, Owen masih bisa-bisanya memaksa untuk tersenyum pada Theresa. Meski awalnya Owen merasa sangat marah terhadap Theresa, pada akhirnya Owen juga tidak mempermasalahkannya lagi. Owen berjanji akan menjadi orang baik di kehidupan mendatang.
Tersimpan banyak makna di balik senyuman Owen, ada sedih, sakit hati, dan juga putus asa terhadap kehidupan ini.
Tubuh Theresa spontan gemetar. Dari senyuman Owen, dia sepertinya dapat membaca kesedihan dan kelemahan di hati Owen. Dia tidak sekuat yang dilihat Theresa.
Saat ini, Theresa malah tidak melarikan diri. Dia tahu kalau Owen mati, dia juga tidak mungkin bisa selamat.
Melihat Owen sudah kehilangan kesadarannya, wajah Theresa langsung memucat. Dia ketakutan hingga jatuh duduk di atas lantai.
Sebelumnya Owen sudah menindas Theresa, tapi sekarang dia malah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Theresa. Hal ini membuat hati Theresa terasa sedih.
Di sisi lain, darah yang mengalir dari dada Owen menodai giok yang menggantung di lehernya.
Siapa juga tidak menyadari bahwa giok itu memancarkan cahaya putih, lalu cahaya putih itu masuk ke bagian cedera di tubuh Owen.
“Saya adalah leluhur dari Keluarga Guswadi, semua keturunan Keluarga Guswadi berkesempatan mendapatkan warisanku ….”
Seketika kalimat itu masuk ke dalam benak Owen.
Kemudian, wajah yang awalnya terlihat pucat malah terlihat sangat merona. Bahkan tubuh Owen juga terasa sangat bertenaga.
“Theresa, sekarang giliranmu!”
Si lelaki berjas hitam tersenyum sinis, lalu berjalan ke sisi Theresa dengan memegang pisau.
Theresa sudah tidak memiliki tenaga untuk melarikan diri lagi. Dia pun sudah menyerah.
“Awas!”
Pada saat ini, terdengar suara teriakan pembunuh yang lain dari belakang. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.
Owen memungut pisau dari atas lantai. Kemudian, dia langsung berdiri, dan menancapkan pisau di belakang punggung si lelaki berjas hitam.
“Kamu ….”
Si lelaki berjas hitam spontan menoleh. Kedua matanya menatap Owen dengan tatapan tidak percaya. Dalam hitungan detik, jenazah langsung jatuh ke atas lantai. Si pembunuh mati tanpa memejamkan matanya.
Owen, bagaimana ceritanya dia bisa hidup kembali?
Bab 4
Owen yang sudah hidup kembali dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Dia memang masih belum menguasai semuanya, tapi kekuatannya saat ini sanggup untuk membunuh dua pembunuh biasa.
Beberapa detik kemudian, saat pembunuh yang satu lagi belum merespons, Owen langsung berlari pergi memeluk Theresa, lalu bersamanya bergelinding ke dalam sungai.
Apa mereka ingin mati bersama?
Ekspresi wajah Theresa terlihat rumit. Lelaki ini memang sangat menyebalkan. Hanya saja, padahal mereka baru bertemu sebentar saja, si lelaki malah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya.
Saat ini, kedua kaki Theresa sudah terasa lemas. Dia segera menepi ke tepi sungai. Perasaannya sangat kalut saat ini. Di satu sisi, dia berharap Owen bisa naik ke tepi sungai, tapi di sisi lain, dia juga berharap Owen sudah tidak bernyawa. Sebab, tubuhnya sudah dilihat, diraba, dan bahkan bibirnya juga sudah dicium oleh lelaki itu.
Theresa menggigit bibirnya sambil menunggu. Hanya saja, dia masih tidak berhasil menunggu si lelaki. Dia sungguh tidak tahu bagaimana nasib si lelaki itu.
Entah kenapa air mata mulai menetes dari ujung mata Theresa. Theresa sudah berusaha untuk menahannya, tapi dia tetap tidak sanggup mengendalikan air matanya ….
Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil. Pengawal-pengawal Keluarga Lestari sudah tiba!
Theresa yang mengenakan pakaian Owen itu sudah menunggu sangat lama. Setelah memastikan Owen tidak naik ke tepi sungai, dia berbisik di dekat tepi sungai, “Namaku Theresa Lestari. Kalau … kamu bisa cari aku ….”
Kemudian, Theresa membalikkan badannya untuk berjalan pergi. Namun, dia tidak tahu Owen yang berada di dalam sungai sudah mendengar namanya.
Theresa Lestari?
Nama yang sangat bagus!
Setelah Theresa pulang ke rumah, dia bagai orang gila saja. Dia memerintah semua pengawalnya untuk mencari Owen di dalam sungai. Namun pada akhirnya, mereka tidak bisa menemukan apa pun.
Theresa hanya tahu lelaki itu bernama Owen Guswadi. Dia adalah seorang menantu pecundang. Anak buah Theresa berhasil menemukan kartu identitasnya. Katanya, kartu identitasnya ditemukan di pusat pembuangan sampah.
Aneh sekali.
….
Saat ini, Lucy dan Sarah sedang menunggu di depan Kantor Catatan Sipil.
Lucy terus melihat jam tangannya, dan emosinya juga sudah hampir meledak. Semalam dia sudah janjian dengan Owen untuk mengurus perceraian mereka pagi hari ini. Namun sekarang sudah hampir siang hari, dan masih belum tampak bayangan Owen.
Owen juga tidak pulang semalaman, dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Ketika Lucy sudah tidak bisa bersabar lagi, akhirnya tampak Owen berlari ke sisinya dengan terengah-engah dan pakaian koyak!
Semalam Owen sudah memperlakukan Theresa dengan sangat kasar. Terakhir, dia pun mengetahui bahwa Theresa berasal dari keluarga kaya. Jadi, Owen pun tidak berani naik lagi. Setelah mendengar nama Theresa, dan menyadari ada banyak pengawal yang berjaga di sana, Owen pun langsung berenang ke sisi lain. Kemudian, dia mengalami banyak rintangan, bahkan pingsan di dalam sungai.
Saat Owen sudah menyadarkan diri, matahari pun sudah menggantung di atas sana.
Owen pun kepikiran masalah perceraiannya dengan Lucy. Dia juga ingin segera terlepas dari siksaan ini. Oleh sebab itu, Owen datang dengan tergesa-gesa.
Plak!
Lucy langsung menampar Owen.
“Dasar cowok nggak berguna! Semalam kamu ke mana saja? Bukannya aku sudah bilang urus prosedur perceraiannya di pagi hari. Sekarang sudah siang! Kamu sudah buang-buang waktuku saja!” marah Lucy.
“Semalam aku ada sedikit urusan ….”
Owen memegang pipinya. Betapa inginnya dia membalas menampar Lucy, tapi dia tidak berani melakukannya. Pada akhirnya, Owen hanya bisa menelan penghinaan ini.
“Orang nggak berguna sepertimu bisa ada urusan apa! Kenapa? Jangan-jangan semalam kamu nggak senang? Jadi, kamu pergi cewek lain?” Sarah berjalan mendekati, lalu berbicara dengan nada menyindir.
“Ibu, sepertinya Ibu sudah memandang tinggi dirinya. Cewek mana yang mau sama cowok pecundang seperti dia! Meski dia ingin pergi cari kupu-kupu malam, dia juga nggak sanggup buat bayar!” ucap Lucy dengan tersenyum.
Owen sungguh malu. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap kedua wanita di hadapannya.
“Sudahlah, aku sudah cukup muak untuk lihat kamu lagi! Ayo kita urus prosedur perceraian kita!” ucap Lucy dengan mendengus. Kemudian, dia duluan berjalan memasuki Kantor Catatan Sipil.
Namun pada saat ini, Owen malah berkata, “Kartu identitasku hilang. Kita … kita … nggak bisa cerai. Semalam sewaktu kalian usir aku keluar, kalian buang semua barangku ke dalam tong sampah. Di dalamnya ada kartu identitasku. Semua ini juga bukan salahku. Jam segini sampah-sampah itu juga sudah dimusnahkan. Aku nggak bisa menemukan kartu identitasku lagi.”
“Apa?” Lucy terbengong, lalu menatap Owen dengan galak. Tiba-tiba dia tersenyum sinis dan berkata, “Sepertinya kamu sengaja nggak mau cerai sama aku? Pakai alasan kartu identitasmu hilang lagi. Kamu kira aku bisa dibohongi sama kamu! Kamu itu cowok bukan, sih?”
“Iya, kalau kamu nggak ingin cerai, kamu bisa terus terang! Kenapa? Memangnya enak ya diselingkuhi? Atau kamu bersedia jadi ayah dari anak yang dikandung Lucy? Kamu suka asuh anak orang lain?” Sarah juga ikut menyindir.
“Bukan, kartu identitasku memang sudah hilang. Lagi pula, semua juga ulah kalian. Apa hubungannya sama aku?” Owen mengepal tangannya dengan kuat, dan matanya mulai memerah.
Sekarang Owen juga ingin segera bercerai dengan Lucy. Hanya saja, dia tidak memiliki kartu identitas, dia juga tidak berdaya.
Kebetulan saat ini sebuah mobil Porsche dan mobil Audi berhenti di depan Owen dan yang lainnya.
Saat pintu mobil Porsche dibuka, tampak seorang pemuda berumur 26-27 tahun dengan busana mahal dan kacamata hitam sedang menuruni mobil.
Disusul, dua orang pengawal berpakaian rapi menuruni mobil Audi, lalu bergegas berjalan ke belakang si pemuda.
Keberadaan mereka tentu saja menarik perhatian banyak pengguna jalan. Dalam sekali lihat, semua orang juga bisa menebak kalau lelaki itu pasti adalah tuan muda dari orang kaya.
“Tuan Fredi, Tuan sudah datang, ya ….”
Lucy dan ibunya langsung menyingkirkan ekspresi galak di wajahnya, dan tersenyum lebar terhadap Fredi.
Fredi Leonard melepaskan kacamata hitamnya, lalu berbicara dengan ekspresi arogannya, “Lucy, bukannya kamu bilang hari ini kamu akan bercerai dengan suamimu? Ada apa ini? Kenapa sampai saat ini kalian masih belum urus prosedur perceraian?”
“Haish, jangan diungkit lagi! Si pecundang ini sengaja terlambat datang. Kemudian, dia ngotot bilang kartu identitasnya hilang. Sepertinya dia nggak ingin bercerai sama aku!” Lucy spontan memelototi Owen.
“Kata siapa nggak punya kartu identitas nggak bisa cerai! Aku kenal sama anggota Kantor Catatan Sipil! Ayo, aku bawa kalian untuk urus prosedur perceraian!”
Fredi memeluk pinggang Lucy dengan mesra, lalu melirik Owen sekilas dengan tatapan sinis. “Aku peringati kamu, lebih baik kamu ikuti apa kata kami, kalau nggak, kamu akan menyesal nanti!”
“Hei, kamu dengar nggak? Meski kamu nggak ada kartu identitas, suamiku juga bisa jalankan prosedur perceraian kita! Sekarang kamu nggak bisa ngeyel lagi, ‘kan?”
Lucy tersenyum pada Owen, lalu mengecup pipi Fredi. Kemudian, mereka berdua berjalan ke dalam Kantor Catatan Sipil dengan mesranya.
Dasar sepasang lelaki dan wanita jalang!
Owen mengepal erat tangannya, dan dapat terlihat kobaran api di dalam matanya.
Lucy bukan hanya selingkuh, dia bahkan menebar kemesraan dengan selingkuhannya di hadapan Owen. Sungguh menjengkelkan!
Hanya saja, ketika kepikiran Owen akan segera terbebas dari Lucy, dia pun berusaha memendam amarahnya. Owen mengikuti langkah mereka berdua berjalan memasuki Kantor Catatan Sipil.