Bab 1
Suamiku menjadi sangat antusias sejak aku hamil 7 bulan.
Tapi akhir-akhir ini dia selalu suka melakukan hubungan dalam kegelapan.
Meskipun aku bingung, tekniknya yang membaik membuatku terangsang.
Setiap larut malam, suara desahan saat kami berhubungan selalu bergema di seisi rumah.
Tetapi di siang hari, suamiku balik menjadi pria sopan yang tidak berani menyentuhku sama sekali.
Pada trimester ketiga, hormon progesteron membuatku lebih bergairah untuk melakukan hubungan intim.
Namun suamiku hanya akan memenuhi kebutuhanku di malam hari.
Pada hari Minggu di mana kami berdua senggang, suamiku duduk di ruang tamu sambil bermain gim, jadi aku memutuskan untuk menggodanya.
Setelah mandi, aku duduk di samping suami dengan tubuh berbalut handuk.
Tanpa menatapku, dia bergeser dan terus bermain gim.
Merasa putus asa, aku melepaskan handuk dan meletakkan kaki putihku di atas badannya.
“Sayang, berhentilah bermain gim dan lihatlah aku,” godaku sambil menggosokkan payudaraku yang makin montok semenjak hamil ke lengannya.
Dia tidak tahan godaan dan meletakkan ponselnya lalu melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Apa putraku merindukanku, atau Nina yang merindukanku?”
Ini pertama kalinya aku menggodanya dengan terang-terangan, dan ketika dia merespon, aku pun dengan malu-malu menarik tangannya ke tubuhku bagian bawah.
“Kami berdua merindukanmu.”
Dia mulai beraksi dan gesekannya mengeluarkan suara berair.
Aku pun terbaring lemas sambil terengah-engah di sofa.
Tapi dia tidak melanjutkan aksinya.
“Nina, tunggu malam hari, nanti malam aku akan memuaskanmu.”
Aku menggerutu dengan tidak puas sambil menggoyangkan badan, “Sayang, siang hari juga seru.”
Aku menunjuk ke jendela besar di ruang tamu di mana sinar matahari masuk ke dalam ruangan dan kami bisa melihat arus mobil dan orang-orang yang lalu-lalang.
Tangan suamiku yang masih basah kuyup menggenggam tanganku dengan lembut.
“Nina, jangan sembarangan, kau masih hamil, nggak baik kalau dilihat orang. Tunggu sampai malam, pasti kau puas.”
Melihat dia benar-benar tidak tertarik, aku hanya bisa membungkus diriku dengan handuk dan kembali ke kamar.
Aksinya tadi yang setengah jalan membuatku tidak nyaman, sekarang aku hanya bisa memuaskan diriku sendiri.
Sambil membayangkan adegan mesra dengannya malam ini, aku bersandar di jendela sambil membuka kakiku dan menggeliat.
Saat renovasi, aku sengaja memasang kaca satu arah, jadi aku sama sekali tidak takut orang lain bisa melihat keadaan dalam ruangan.
Tapi suamiku jelas-jelas sangat terangsang di malam hari, kenapa dia selalu menolak melakukannya di siang hari?
Jadinya sekarang aku hanya bisa menyelesaikannya sendiri.
Masturbasi dengan tangan sungguh tidak bisa dibandingkan dengan melakukannya bersama suamiku yang 1,8m.
Aku semakin tidak bergairah dan menyelesaikannya dengan tergesa-gesa sambil menunggu malam tiba.
Benar saja, begitu lampu dimatikan pada malam hari, suamiku berubah menjadi binatang buas lagi.
Aku memegang benda besarnya dalam kegelapan dan menggosok-gosokkannya bolak-balik di payudaraku.
“Siapa suruh nggak mau lakukan tadi siang. Sudah jelas kau sendiri juga mau, bagian bawahmu saja besar kali sekarang.”
Suamiku tertawa kecil di telingaku tanpa banyak bicara.
Aksinya membuatku lemas tidak bertenaga.
Dia membalikkan tubuhku, meremas payudaraku, memposisikanku dan menyodokku berulang kali.
Suamiku di malam hari selalu sangat bergairah dan maskulin.
Dia benar, aku lebih suka versi dia di malam hari, begitu menggairahkan dan kuat, memuaskan hasratku berkali-kali.
Setelah merasa puas, aku seharusnya tidur nyenyak.
Tetapi bayi di dalam perutku terus bergerak-gerak hebat seakan-akan dirangsang oleh sesuatu.
Karena mengalami klimaks berkali-kali kemarin malam, tubuhku pun melemah. Ditambah lagi aku tidak tidur semalaman, jadinya kepalaku sakit parah.
Oleh karena itu, aku mengambil cuti untuk beristirahat di rumah.
Tetapi bayiku masih terus bergerak.
Aku takut tali pusarnya akan melilit lehernya, jadi buru-buru ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Baru saja duduk, dokter menatapku dengan wajah genit. “Kehamilanmu sudah memasuki masa akhir, kalau lagi lakukan itu, jangan terlalu agresif.”
Aku tersipu malu, tidak menyangka ini penyebabnya.
Kupikir hanya perlu berhati-hati di awal kehamilan, aku tidak menyangka kegilaan malam kemarin telah mempengaruhi bayiku.
Aku sangat menyesal. Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.
“Dokter, apa akan ada masalah?” Aku bertanya dengan gugup.
Dokter menenangkan, “Nggak apa-apa, bayinya baik-baik saja sekarang. Hanya saja, kau terlalu banyak melakukan hubungan intim dan kontraksinya sangat kuat, jadi bayinya sedikit nggak nyaman.”
Aku menghela napas lega ketika mendengar penjelasan dokter. “Untunglah, untunglah, aku pasti akan lebih hati-hati, Dok.”
Dokter menasihati, “Cobalah untuk meminimalkan, sebaiknya nggak lakukan hubungan seksual. Nggak jarang orang mengalami keguguran selama kehamilan trimester akhir karena hal-hal seperti itu. Tahanlah beberapa bulan ini, setelah itu sudah bebas.”
Aku menganggukkan kepala mengiyakan.
Dokter saja sudah bilang begitu, aku masih waras, tentu saja tahu mana yang lebih penting.
Bab 2
Untunglah bayiku sehat. Begitu sampai di rumah, aku memberi tahu suamiku tentang nasihat dokter, tetapi dia terlihat agak kesulitan.
“Nina, hari ini kita lakukan terakhir kali, oke?” Dia memelas.
Aku merasa tidak tega, tetapi mengingat kembali kata-kata dokter, aku pun berkata dengan tegas, “Nggak boleh! Sayang, ini sudah 7 bulan, bersabarlah. Aku akan memuaskanmu setelah bayi kita lahir dan aku keluar dari masa nifas.”
Aku menegaskan lagi padanya, “Sayang, kita sudah susah payah mendapatkan bayi ini. Ini sudah masuk trimester terakhir, bersabarlah.”
Suamiku ragu-ragu sejenak, mengeluarkan ponselnya dan tampak memeriksa sesuatu.
Kupikir dia juga pasti tahu betapa seriusnya hal ini.
Tapi setelah beberapa saat, dia malah balik dan membujukku untuk melakukannya terakhir kalinya.
“Sayang, kita masih harus menahan diri selama berbulan-bulan, malam ini terakhir kalinya deh, oke? Setelah malam ini, aku janji akan menahan diri.”
Dia memeluk lenganku sambil membujuk.
Aku biasanya paling tidak tahan dengan bujukannya dan akan selalu langsung setuju.
Tapi ini menyangkut keselamatan bayi dan dia masih bersikap tidak pengertian seperti ini. Saat ini, aku mulai marah.
“Sudah kubilang nggak boleh! Mana yang lebih penting? Bayi atau hasratmu?”
Dia sedikit enggan tapi akhirnya menyerah, “Oke, oke, jangan marah, Sayangku. Kamu kurang tidur semalam, istirahatlah lebih awal hari ini.”
Melihat dia tidak ngotot lagi, kami pun jalan santai pulang rumah untuk beristirahat setelah makan malam yang romantis.
“Sayang, kau pasang aromaterapi apa? Wangi kali.”
Begitu memasuki kamar tidur, aku mencium aroma yang berbeda dari biasanya, baunya bahkan membuat tubuhku sedikit terangsang.
Suamiku menghampiri dan menenangkan, “Aku sengaja beli dupa penenang, bukankah kau bilang bayinya banyak bergerak? Aku bahkan pakai GoSend, biar lebih cepat sampai. Rasanya gimana?”
Aku menghirup beberapa kali dan merasa lumayan enak, bayi dalam perut sepertinya lelah setelah keaktifan semalam, dan sekarang tidak bergerak lagi.
“Makasih, Sayang.” Aku menciumnya sambil berkata, “Aku pasti akan memuaskanmu setelah bayi ini lahir. Bersabarlah beberapa bulan lagi.”
Suamiku mengiyakan dan membantuku melepaskan pakaian biar aku bisa tidur nyenyak.
Tapi aku tidak menyangka akan mengalami mimpi basah saat aku tertidur.
Aku berlagak seperti wanita jalang di dalam mimpi, berhubungan dengan suamiku dan pria lain dalam kegelapan.
Aku tidak melihat wajah pria lain tersebut dengan jelas, tapi posturnya lebih bagus dari suamiku. Ototnya yang padat membuat orang ingin menjilatnya, dan alat kelaminnya juga lebih besar dari pada punya suamiku.
Gorden jendela kamar tidur terbuka dan kaca gelap disinari dengan lampu gemerlap dari jalanan.
Biasanya suamiku tidak pernah membuka gorden. Dia bahkan menutup pintu saat berada di kamar tidur, jadi kami tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan.
Dalam mimpi itu, aku yang biasanya pendiam menjadi sangat vulgar.
Dua pria itu silih berganti membuat aku terangsang.
Aku melengkungkan punggungku dan tidak bisa menghentikan getaran tubuhku.
Tiba-tiba, aku menyadari ini salah, ini tidak baik untuk bayiku.
Aku pun tersentak bangun dan mendapati kamar diselimuti kegelapan, suamiku sudah menutup gorden dan pintu kamar.
“Sayang...” Suaraku masih sedikit serak dan menggoda setelah terbangun dari mimpi itu.
“Hmm.” Suamiku tampak sedikit berbeda, suaranya lebih rendah.
Aku terbiasa tidur telanjang, jadi ketika membalikkan badan, perutku menyentuh tubuhnya yang panas, aku pun seolah-olah terbakar.
“Sayang, dokter bilang nggak boleh ...”
Meskipun menolak, aku tetap mengeluarkan suara erangan.
Seolah-olah area-area yang disentuh oleh suamiku terbakar.
'Ada apa denganku?'
“Sayang ... hmm ... “
Aku bergidik ketika alat kelamin besar itu menekan tubuhku dan aku menggeliat secara refleks.
“Nina ... “
Suara suamiku lembut namun menggoda.
Aku mengendus aroma manis di udara dan makin terangsang.
'Dokter juga tidak melarang ketat. Gimana kalau kita melakukannya untuk yang terakhir kali?'
Aku sedikit ragu.
Bayi itu sangat tenang di dalam perutku malam ini, dan aku pun menjadi lebih tenang.
Ketika aku ragu-ragu, tangan besar suamiku dengan lembut mengusap payudaraku.
Rasa kesemutan seperti aliran listrik menyapu seluruh tubuhku.
“Jangan ... Sayang ... ”
Kata-kata ini tampaknya semakin merangsangnya. Dia menggigit daun telingaku dan menghembuskan napas dengan lembut, tubuhnya yang panas menekan pinggulku.
“Mau lagi nggak?” Dia merayu di telingaku, “Hmm?”
Aroma itu membuatku sedikit pusing, dan aku mengangguk pelan.
Suamiku berguling dan mencium bibirku, mengaitkan lidahku dan mencium hingga ke payudaraku.
Kepalaku bersandar ke belakang. Suamiku lalu mencengkeram pinggangku dengan satu tangan dan menangkupkan perutku dengan tangan lainnya.
Saking terangsangnya, mataku sampai bergulir puas dan mencapai klimaks berkali-kali.
Setelah itu barulah suamiku memasukkan alat kelaminnya, dan tubrukan berkali-kali mulai terdengar.