Bab 1

Aku berpura-pura jadi tukang pijat tunanetra profesional dan memberikan layanan ke rumah pada seorang nyonya muda. Namun, dia justru memanfaatkan kebutaanku, mengurungku, dan menyiksaku selama tiga hari tiga malam. Perasaan itu tidak akan pernah bisa aku lupakan...

Aku berpura-pura menjadi tukang pijat tunanetra profesional dan memberikan layanan ke rumah pada seorang nyonya muda. Namun, dia justru memanfaatkan kebutaanku, mengurungku, dan menyiksaku selama tiga hari tiga malam. Perasaan itu tidak akan pernah bisa aku lupakan...

...

Saat Fiona Auden memilihku sebagai tukang pijat pribadinya dan memintaku untuk memberikan layanan ke rumah, aku sangat gembira.

Dia berusia awal tiga puluhan, berwajah cantik, dengan tubuh montok bak buah persik yang matang.

Setiap gerak-geriknya memancarkan pesona yang memikat.

Setiap kali memijatnya, rasanya begitu menyenangkan. Kulitnya yang begitu putih dan halus banget, kayak bayi.

Begitu pijatan sedikit lebih kuat, Fiona pun tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan erangan manja...

Selain itu, sifatnya begitu lembut, tutur katanya halus dan menenangkan.

Bahkan, jika aku harus melayani wanita sepertinya secara gratis pun, aku rela.

Namun, alasan utama Fiona memilihku, bukan hanya karena teknik pijatku yang hebat.

Yang paling penting adalah aku ini seorang tunanetra.

Tiga tahun lalu, aku sempat mengalami kebutaan sementara karena sebuah kecelakaan mobil.

Setelah mengalami keputusasaan, aku tidak punya pilihan lain selain menjadi tukang pijat tunanetra.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi tukang pijat yang sukses di klub kelas atas, dengan penghasilan yang cukup besar.

Para wanita kaya dan nyonya muda yang masih memesona, suka memintaku memijat mereka.

Di satu sisi, mungkin karena mereka bersimpati kepadaku.

Di sisi lain, karena hanya di hadapan seorang tunanetra, mereka bisa benar-benar merasa rileks.

Bahkan, ada yang sengaja tampil tanpa sehelai benang pun di hadapanku, hanya untuk mencari kepuasaan dengan memainkan beberapa permainan kecil yang penuh gairah.

Suara getaran dari mesin bermotor sudah biasa aku dengar.

Kemarin, ada seorang wanita kaya yang menikmati pijatanku sambil bermain mainan seks.

Saat dia tidak bisa menahan diri untuk mendesah, dia malah berpura-pura memuji keterampilanku dan mengatakan pijatanku yang enak.

Aku hanya bisa menahan diri di sampingnya dan tidak berani menunjukkan reaksi apa pun.

Ada juga wanita-wanita bak serigala lapar yang tertarik padaku dan mau berhubungan sama aku.

Mereka tidak tahu, bahwa penglihatanku sebenarnya sudah lama pulih.

Segala rahasia gelap mereka, tanpa sadar terungkap di hadapanku.

Namun, pekerjaan ini bisa membuatku menghasilkan uang sekaligus memanjakan mata. Jadi, untuk apa aku membongkar penyamaranku?

Sesuai janji, pukul empat sore aku tiba di lokasi tepat waktu.

Seperti biasa, aku memakai kacamata hitam dan membawa tongkat penuntun.

Bagaimanapun, aku memang pernah buta, jadi berpura-pura buta merupakan hal yang biasa.

Begitu pintu terbuka, aroma harum langsung menerpaku.

Fiona hanya mengenakan handuk mandi putih dan rambutnya masih basah. Jelas sekali dia baru selesai mandi.

Handuk itu sedikit pendek, bagian atas tubuhnya yang padat seakan ingin melompat keluar.

Sementara di bagian bawah, handuk itu hanya menutupi bagian yang penting saja dan memperlihatkan sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus.

Aku tidak berani memandangi terlalu lama dan bertanya dengan ragu-ragu.

"Ini rumah Fiona Aden, ya?"

Fiona tersenyum manis dan menyambutku dengan hangat.

"Galen, ayo masuk!"

"Aku baru selesai mandi, nanti tolong pijat punggungku dulu dengan minyak esensial, ya!"

Aku pun meraba-raba jalan masuk, mengikuti arahannya seolah benar-benar tidak bisa melihat. Namun, yang mengejutkan adalah dia langsung membawaku ke kamar mandi.

Dia menggenggam tanganku dan berkata dengan nada lembut.

"Ini wastafel, dan ini sabun cuci tangan."

"Kamu cuci tangan dulu. Aku mau mengeringkan rambut sebentar."

Diiringi suara gemericik air dan hembusan pengering rambut, Fiona mengeringkan rambutnya tanpa sedikit pun rasa waspada.

Namun, saat dia mengibaskan rambutnya pelan, tubuhnya ikut bergerak dan handuk yang membungkus tubuhnya tiba-tiba terlepas begitu saja.

Di detik itu juga, mataku langsung membelalak.

Kalau bukan karena aku memakai kacamata hitam, dia pasti sudah menyadari sorot mataku yang berubah.

Glek...

Aku menelan ludah dan buru-buru mengalihkan pandangan.

Aku takut jika terlalu lama memandangnya, tubuhku akan memberikan reaksi fisiologis dan membuat Fiona curiga.

Tentu saja, dia juga menyadari bahwa handuknya telah terjatuh. Namun, dia sama sekali tidak panik, karena di matanya aku hanyalah seorang tunanetra.

Setelah aku selesai mencuci tangan, dia pun memanggilku dengan santai.

"Galen, tolong bantu aku mengoleskan losion. Aku nggak bisa menjangkau bagian punggungku."

Setelah mengatakannya, dia langsung meraih tanganku dan meletakkannya ke punggungnya.

Bab 2

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tegang dan tanpa sadar menarik tanganku sedikit menjauh.

Fiona mengangkat alisnya dan tersenyum. "Galen, kenapa kamu malu? Bukannya kamu sudah sering menyentuh tubuh Kakak sebelumnya?"

Tentu saja, aku tidak berani mengungkapkannya, jadi aku hanya memberikan penjelasan sekenanya.

"Itu, sebaiknya jangan pakai losion dulu, nanti bisa mengganggu efek dari minyak esensial di punggung."

Fiona mengangguk pelan sambil termenung, lalu tidak berkata apa-apa lagi.

Aku kembali ke ruang tamu. Setelah menunggu beberapa menit, Fiona kembali keluar dengan tubuh yang masih terbalut handuk mandi.

"Ayo, masuk ke kamar tidurku."

Mengikuti langkah kakinya, aku memasuki ruang pribadinya untuk pertama kali.

Aku mengamati sekeliling ruangan dari balik kacamata hitam.

Penataan kamarnya terasa hangat dan nyaman, sangat mencerminkan kepribadiannya yang lembut dan tenang.

Namun, yang tidak aku duga adalah.

Srek...

Fiona tiba-tiba membuka laci di nakas samping tempat tidur dan mencari sesuatu di dalamnya.

Aku langsung terpaku di tempat.

Ternyata benar kata pepatah, jangan menilai orang hanya dari penampilannya.

Di dalam laci itu penuh dengan berbagai mainan dewasa yang beraneka ragam.

Ada lilin, cambuk, tali...

Melihat Fiona membungkuk, dengan pantatnya yang menggoda mengarah padaku, aku pun tanpa sadar bergumam dalam hati.

'Entah pria beruntung mana yang bisa menikahi wanita secantik dia.'

'Jika itu aku, aku pasti tidak akan tega bermain sekasar itu.'

Tiba-tiba, Fiona membalikkan badan dan menatap ke arahku.

"Galen, kamu nggak kaget, 'kan?"

Aku tersentak dan dengan cepat bereaksi.

"Apa? Kaget kenapa?"

Fiona hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan pembicaraan.

Jantungku sempat berdegup kencang. Apa tadi dia sedang mengujiku?

Untungnya, aku sudah pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, jadi aku tidak menunjukkan sedikit pun celah.

Kemudian, Fiona berbaring tengkurap di atas ranjang dan bersiap untuk dipijat.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri.

"Galen, tampaknya kamu kelihatan agak tegang?"

"Santai saja, anggap saja rumah Kakak ini seperti di klub. Tunjukkan performa terbaikmu!"

Fiona mencoba menenangkanku.

Selama dua jam berikutnya, aku menata kembali pikiranku dan mulai fokus. Aku memberinya pijatan sesuai prosedur, mulai dari punggungnya, lalu lanjut ke seluruh tubuh.

Meskipun begitu, dia masih sangat menggoda.

Namun, aku sudah terbiasa menghadapi situasi serupa, jadi aku masih bisa mengendalikan diri.

Setelah dipijat, Fiona berdiri dan mengenakan jubah mandi. Dia meregangkan tubuhnya dan memancarkan pesona yang memikat.

"Apa kamu lelah? Tadi aku lihat kamu sampai berkeringat. Pergilah, mandi dulu!"

Aku buru-buru menolak dan berdiri untuk mengucapkan selamat tinggal.

Namun, dia dengan ramah membujukku untuk tetap tinggal. Dia ingin menjamuku makan malam dan memintaku mencicipi masakannya.

"Kakak iparmu jarang di rumah, aku sering merasa kesepian."

"Kalau kamu benar-benar menganggap aku ini kakakmu, tinggallah dan temani aku makan malam. Kalau nggak, jangan datang lagi lain kali!"

Karena dia sudah berkata seperti itu.

Tentu saja, aku harus berpegang pada prinsip "pelanggan adalah raja". Jadi aku memilih untuk tetap tinggal dan menerima ajakan makan malamnya.

Bahkan, tanpa sadar timbul sebersit harapan di dalam hatiku.

Dulu, juga ada beberapa pelanggan yang mencoba menahanku seperti ini, beberapa bahkan menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa.

Namun, jujur saja, beberapa wanita kaya itu punya penampilan dan bentuk tubuh yang sulit untuk dipuji. Aku hanya bisa pura-pura bodoh dan menghindar.

Jika Fiona ternyata memiliki ketertarikan yang tidak biasa padaku.

Aku sendiri tidak keberatan kalau memang harus bekerja ekstra.

Fiona membawaku ke kamar mandi, dia menjelaskan bagaimana cara menggunakan pancuran dan di mana tempat meletakkan perlengkapan mandi dengan sabar.

Setelah itu, dia mengatakan mau mulai memasak dan berjalan keluar.

Namun, tepat saat sampai di ambang pintu, dia malah menutup pintu kamar mandi dari dalam.

Kemudian, dia melepas sandalnya dengan hati-hati, lalu berjalan perlahan dan berdiri tidak sampai satu meter dariku.

Sepasang matanya menatap lurus ke arahku.

Di detik itu juga, seluruh tubuhku menegang. Apa yang dia rencanakan?

Mau mengintip aku mandi?

Aku sempat ingin membongkar aksinya, agar bisa menghindari situasi canggung yang mungkin terjadi setelah ini.

Namun, kalau aku bicara sekarang, bukankah itu akan langsung membongkar bahwa penglihatanku sebenarnya normal?

Kalau rahasia ini sampai terbongkar, para pelanggan yang dulu pernah bertingkah bebas di depanku pasti akan mengulitiku.

Sekali lagi aku hanya bisa menghela napas, jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya.

Bab 3

Fiona yang berpenampilan anggun dan berkepribadian tenang, ternyata punya hobi yang mesum.

Namun, aku sama sekali tidak berani membongkarnya. Aku hanya bisa menggertakkan gigi dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku meraba-raba untuk melepas pakaian dan mandi.

Karena terlalu canggung, aku mencoba memanggilnya sekali.

Namun, dia berpura-pura tidak mendengar dan sudut bibirnya tersenyum. Dia memandangi tubuhku dengan penuh minat.

Sejujurnya, ini adalah mandi yang paling menyiksa yang pernah aku alami.

Jantungku tidak pernah tenang, dan aku tidak berani lengah sedikit pun.

Bahkan aku sedikit menyesal, kalau tahu begini tadi seharusnya aku tidak usah tinggal.

Untungnya, para pria biasanya mandi lebih cepat.

Setelah membilas tubuhku, aku cepat-cepat mengeringkan tubuhku dan mengenakan pakaian.

Baru saat itu, Fiona menarik kembali pandangannya dengan puas, lalu diam-diam berjalan kembali ke pintu kamar mandi, berpura-pura mendorong pintu dan masuk.

"Galen, apa kamu sudah selesai mandi?"

"Kalau ada sesuatu yang nggak nyaman, katakan saja ke Kakak."

Aku tersenyum dan berkata, "Sudah selesai. Mandinya berjalan cukup lancar."

"Bagaimanapun, aku sudah buta selama tiga tahun, jadi sudah terbiasa mandi dalam kegelapan."

Fiona tampak agak penasaran.

"Dulu kamu kenapa bisa buta?"

Aku menghela napas. "Kecelakaan mobil..."

Tiga tahun lalu, aku baru saja lulus kuliah, punya pekerjaan yang stabil, dan menjalin hubungan yang cukup harmonis dengan pacarku.

Kami bahkan sudah membicarakan pernikahan dan bersiap untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.

Sayangnya, sebuah kecelakaan mobil menghancurkan semuanya!

Aku mengalami luka parah dan terbaring di rumah sakit lebih dari sebulan, dan kedua mataku buta.

Bukan hanya kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan juga menguras seluruh tabungan keluargaku, dan pacarku pun meninggalkanku...

Saat itu, aku sempat jatuh dalam keputusasaan, bahkan pernah terpikir untuk mengakhiri hidup.

Ekspresi wajah Fiona tampak rumit, dia menepuk pundakku dan menenangkanku dengan beberapa kata.

"Maaf, aku seharusnya nggak membahas hal-hal menyedihkan itu."

Aku tersenyum. "Nggak apa-apa, semuanya sudah berlalu. Sekarang, aku sudah bangkit kembali."

Makan malam sudah dipersiapkan Fiona sejak tadi.

Setelah memanaskannya di dalam oven mikrogelombang, dia langsung menyajikannya di atas meja.

Fiona bahkan secara khusus membuka sebotol anggur merah mahal dan memintaku menemaninya minum beberapa gelas.

Melihat suasana seperti ini, hatiku diam-diam merasa sedikit berharap sekaligus sedikit gugup.

Kalau kehilangan kendali karena mabuk, aku masih bisa menahannya.

Yang kutakutkan adalah jika Fiona akan memainkan permainan yang menggairahkan, aku mungkin tidak bisa menahannya.

Fiona menyuruhku makan dengan ramah, lalu menuangkan anggur merah.

"Hal-hal menyedihkan di masa lalu, jangan dipikirkan lagi."

"Kalau kelak kamu mengalami kesulitan, Kakak akan melindungimu. Ayo, bersulang!"

Namun, saat dia menyerahkan anggur merah itu padaku.

Aku terkejut saat mendapati dia menjatuhkan sebutir obat ke dalam gelas anggur.

Begitu obat itu masuk ke dalam, obat itu langsung larut dan muncul gelembung-gelembung kecil.

Namun, setelah sedikit digoyangkan, anggur itu tampak tidak ada bedanya dengan anggur merah pada umumnya.

Di saat itu, aku sedikit terpaku.

Apa maksudnya ini?

Apakah dia takut aku menolak, sampai-sampai memberiku obat?

Kita ini sama-sama orang dewasa. Kenapa tidak terus terang saja, jika ada yang diinginkan?

Jika itu obat perangsang, aku mungkin masih bisa meminumnya.

Bagaimana kalau ternyata benda itu adalah obat terlarang.

"Kenapa diam saja? Ayo, pegang gelasnya dan temani Kakak minum sedikit."

Fiona langsung menyodorkan gelas ke tanganku dan tidak memberiku kesempatan untuk menolak.

Aku tersenyum canggung. "Uhuk... Kak, bukannya aku menolak."

"Dokter mengatakan, aku nggak boleh minum alkohol karena bisa memperparah kondisi mataku."

Fiona tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.

"Oh? Nggak bisa minum alkohol, nggak masalah."

"Kalau minum jus nggak apa-apa, 'kan?"

Sambil bicara, dia kembali menyerahkan segelas jus yang juga sudah diberi obat.

Aku kembali terpaku, mau menerima salah, menolak juga tidak enak. Otakku berputar keras mencari alasan.

Alis Fiona terangkat, sudut bibirnya membentuk senyum penuh arti.

"Galen, jujur saja sama Kakak. Kamu sudah melihat semuanya, 'kan?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B77815" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B77815
Salin

Pelajaran Pijat Khusus

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya