Bab 1
Demi mendapatkan jantungku untuk mengobati penyakit adik angkatku, orang kandungku membawaku ke pengadilan.
Hakim menggunakan teknologi komputer terbaru untuk mengekstrak ingatan kami. Persidangan dilakukan oleh panel yang terdiri dari 100 orang.
Jika persidangan berhasil, organ tubuhku akan menjadi milik orang tuaku.
Orang tuaku mengira aku tidak berani hadir.
Karena dalam pikiran mereka, aku adalah orang yang berhati keji.
Tapi ketika tayangan ingatanku diputar di persidangan, semua orang menangis.
Di pengadilan, layar sepanjang satu meter mulai menampilkan komentar live chat penonton.
"Orang pertama yang berani datang menghadiri pengadilan!"
"Penjahat cuma bisa menunduk di hadapan bukti yang kuat."
"Pertunjukan menarik akan segera dimulai."
Sebelum memulai, hakim memberikan nasihat terakhir kepadaku.
"Terdakwa, apakah Anda mengerti proses persidangan dan memahami konsekuensi dari persidangan ini?"
Setelah aku diputuskan bersalah, aku akan disuntik mati saat itu juga. Dan hak atas organ tubuhku akan menjadi milik orang tuaku.
Pada saat itu, jantungku akan diambil untuk mengobati penyakit Cindy.
Di meja penggugat, orang tua kandungku menatapku dengan jijik.
Mereka sangat yakin akan memenangkan persidangan ini.
Aku tidak mengerti. Aku adalah anak kandung mereka, tapi mereka menyiksaku, membenciku, dan menyakitiku selama sepuluh tahun.
Pada akhirnya, bahkan mereka ingin merampas jantungku.
Aku berkali-kali curiga bahwa putri kandung mereka adalah Cindy, yang duduk di samping mereka.
Sayangnya, Cindy mengenakan masker dan kacamata hitam. Aku tidak bisa melihat ekspresinya.
Sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, aku menatap juri dengan tegas.
"Silakan mulai!"
Hakim menoleh ke meja penggugat.
"Penggugat, apakah kalian mengerti proses persidangan ...."
Tanpa menunggu hakim menyelesaikan kalimatnya, ibuku menyela dengan suara melengking, "Kami orang tuanya, kami nggak mungkin kalah!"
"Cepat dimulai! Cindy nggak bisa menunggu terlalu lama!"
Persidangan secara resmi dimulai.
Tuduhan pertama: menolak untuk memenuhi kewajiban memberi nafkah, dan bersenang-senang di luar tanpa peduli pada ayahnya yang sakit parah.
Di layar, Ibu menyeka air mata dan menjelaskan duduk perkaranya.
Mulai dari kondisi keluarga yang kurang mampu dan ayahku bekerja keras membiayai sekolahku sampai kuliah. Lalu tentang aku yang tidak pernah sekali pun pulang untuk menjenguk Ayah saat sakit parah dan terbaring di tempat tidur, dengan alasan terlalu sibuk di kampus.
Tagihan rumah sakit tidak dibayarkan tepat waktu, mengakibatkan kaki kiri ayahku cacat seumur hidup.
"Ya Tuhan, nggak manusiawi!"
"Anak durhaka! Belajar tinggi-tinggi nggak ada hasilnya!"
Komentar-komentar yang muncul satu per satu dipenuhi emosi. Di layar, tampak ibuku mencoba meneleponku berulang kali, bahkan membawa ayahku yang cacat ke kampus untuk mencariku. Tapi tidak ada yang berhasil.
Bahkan hakim pun merasa adegan itu sangat keterlaluan.
Orang tuaku di meja penggugat tampak puas. Cindy juga tampak mengangkat dagunya.
Aku duduk di kursi terdakwa. Para staf segera memasangkan alat untuk mengekstraksi ingatan. Suara arus listrik berdesing, dan kepalaku terasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.
Tapi aku mengatupkan bibir rapat-rapat dan tidak bersuara sedikit pun.
Beberapa detik kemudian, dua kata dalam tulisan besar muncul di layar persidangan.
"Tidak bersalah."
Ratusan tanda tanya segera memenuhi kolom komentar.
"Mana mungkin dia nggak bersalah!"
Sedangkan ibuku menundukkan kepalanya dengan raut wajah agak bersalah.
Kali ini, ingatanku lah yang diputar.
Ketika aku berusia delapan tahun, Cindy tiba-tiba datang dan tinggal di rumahku.
Mobil yang aku tumpangi bersama Cindy dan orang tuanya mengalami kecelakaan dan orang tuanya meninggal di tempat.
Ayahnya adalah sahabat dekat ayahku. Ayahku merasa berkewajiban membawa Cindy ke rumah dan mengasuhnya.
Ibuku langsung setuju, karena dia memang suka Cindy sejak awal.
Setelah hari itu, hidupku berubah menjadi neraka.
Cindy harus mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Bahkan sampai buku-buku pelajaran dan buku PR milikku.
Aku tidak mau. "Nanti aku dimarahi Bu Guru."
Ayahku langsung menamparku.
"Dia anak yatim piatu. Apa susahnya kamu berikan buku PR-mu untuknya?"
Di hari tes masuk SMA, Cindy mengatakan bahwa dia suka dengan semua pulpenku dan ingin memilikinya.
Aku menolak memberikannya.
Ayahku mengambil sapu dan memukuliku dengan keras.
"Anak egois sialan. Apa susahnya memberikan pulpen? Cepat berikan ke Cindy!"
Aku menjerit kesakitan, tapi ibuku memeluk Cindy dan menghiburnya, membujuknya agar berhenti menangis.
"Nggak apa-apa, nanti Ibu belikan yang baru."
Cindy berkata sambil terisak, "Tapi ... pulpen itu sepertinya hadiah dari Ibu untuk ulang tahunku kemarin ...."
Aku tidak peduli apa-apa lagi dan mengeluarkan kotak pensilku dengan tangan gemetar dan berteriak, "Jangan pukul aku, aku berikan semuanya untukmu. Aku nggak mau lagi!"
Aku tidak bisa ikut tes masuk SMA hari itu.
Aku pun kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke SMA.
"Kamu anak bodoh, apa gunanya sekolah?"
Ayah sangat meremehkanku, tapi dia berubah lembut saat menatap Cindy.
"Nggak seperti Cindy yang selalu masuk sepuluh besar."
Tapi aku selalu mendapat nilai tinggi dan tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar.
Bab 2
Tapi Ayah dan Ibu tidak pernah peduli.
Tidak lama setelah itu, ibuku memasukkanku ke pabrik lewat orang dalam yang dikenalnya agar aku bekerja dan menghasilkan uang.
"Kerja yang betul dan kirim uangnya ke rumah. Cindy masih SMA, butuh banyak uang."
Ibuku selalu perhatian kepada Cindy di setiap kalimatnya. Tidak pernah ada aku satu kali pun. Padahal aku sangat pucat dan celanaku merah karena baru mengalami menstruasi pertama.
Kerja di pabrik sangat melelahkan, tapi ada sebuah perpustakaan dengan semua jenis buku pelajaran yang sudah rusak dan buku-buku bekas.
Setiap waktu istirahat, aku pergi ke sana untuk membaca dan belajar sendiri.
Ada seorang karyawan di pabrik yang pernah sekolah SMA. Melihatku sangat muda dan bersemangat untuk belajar, dia membantu mengajariku dengan senang hati. Dia bahkan berusaha menghubungi sebuah sekolah untukku.
Aku mengirim sebagian besar gajiku ke rumah dan menabung sedikit, karena aku ingin sekali bersekolah.
Tapi suatu hari, aku mengalami demam tinggi dan terlambat mengirimkan uang. Sehingga ayah ibuku datang ke pabrik, bergegas memarahi dan memukulku.
Rekan-rekan kerjaku datang untuk menghentikan. Dan di tengah kekacauan itu, buku serta uang yang aku selipkan di antara buku-buku itu terjatuh.
Ayahku menendang perut aku dengan keras.
"Sialan, kamu berani menyembunyikan uang? Aku harus menghajarmu sampai mati, dasar anak durhaka!"
Sedangkan ibuku merobek-robek buku pelajaranku.
"Anak bodoh, masih mimpi belajar dan pergi sekolah? Buat apa!"
Aku berlutut dan memohon kepada ibuku. "Ibu, berhenti, aku mohon .... Ini bukan punyaku, aku susah-susah pinjam ...."
Tamparan Ayah mendarat di wajah aku.
"Berani membantah? Ibumu berhak melakukan apa pun yang dia mau. Kamu punya uang, tapi malah dipakai buat yang nggak-nggak!"
Mereka merobek-robek buku-buku itu, melemparkannya ke dalam air, dan menginjak-injaknya.
Mereka menggeledah kamar asramaku dan mengambil semua uangku. Tidak satu koin pun tersisa.
Sebelum pergi, ibuku berkata dengan kasar, "Kalau memang waktumu terlalu luang, cari pekerjaan lain sana biar dapat uang. Cindy butuh uang banyak buat les."
Aku tidak punya uang sepeser pun.
Ayah dan ibuku selalu memikirkan Cindy. Tidak pernah memikirkan apakah aku bisa makan tanpa uang.
Karena tidak dapat mengembalikan buku-buku yang kupinjam, aku harus mencari pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan uang dan mengganti kerugian.
Aku bekerja sebagai buruh bangunan serabutan.
Lebih melelahkan daripada bekerja di pabrik.
Suatu ketika, aku sedang menstruasi dan tubuhku sangat lemah. Ember yang berisi adukan beton sangatlah berat.
Ember itu terjungkal ke tanah dan mengenai kakiku. Mandor hanya menggeleng dan menyarankan agar aku berhenti bekerja.
Aku berlutut dan memohon penuh air mata, "Saya bisa lebih hati-hati lagi, tolong beri saya kesempatan."
Mandor itu mendesah dan ingin membantuku berdiri, tapi adukan beton itu mengeras sangat cepat sampai kakiku tidak bisa bergerak.
Mereka harus menggunakan palu untuk memecah beton. Akibatnya, kakiku terluka.
Mandor tetap memberhentikanku, tapi memberiku tambahan 600 ribu untuk biaya pengobatan kakiku serta biaya makan untuk memulihkan tubuh kurusku.
Aku berjalan terpincang-pincang. Uang ini kudapat dengan susah payah, tapi ini hari ulang tahunku. Aku ingin merayakannya sendiri.
Jadi, aku masuk ke sebuah toko mi ayam dan memesan satu mangkuk.
Tepat pada saat itu, ayah dan ibuku datang bersama Cindy.
Mereka hanya mengajaknya ke restoran seperti biasa. Siapa sangka, kami akan bertemu di sini.
Ayahku marah besar. "Kamu curi-curi uang lagi, 'kan! Anak durhaka!"
Ibuku menyerang dan menjambak rambutku sampai aku menangis. "Sudah merasa dewasa dan punya uang sendiri, hah? Nggak peduli lagi orang tuamu hidup susah?"
Mereka berpakaian bersih dan rapi. Cindy bahkan mengenakan gaun cantik seperti tuan putri.
Sedangkan aku ditendang sampai meringkuk di tanah. Rambut awut-awutan, mengenakan baju lama yang jelas-jelas kekecilan. Sepatuku pun sobek dan luka di kakiku terbuka lagi. Darah segar membasahi sepatuku.
Aku memegangi mangkuk mi di depanku dan makan dengan lahap.
Sangat enak! Aku belum pernah makan mi seenak ini seumur hidupku. Mi ini membantuku lupa akan semua rasa sakit yang kurasakan saat ini.
Aku melihat Cindy menutup hidungnya dan memalingkan kepala karena jijik.
Orang tuaku semakin marah saat melihat ini. Ibu memukul tanganku, lalu Ayah mengambil mangkuk mi itu dan menumpahkan isinya ke kepalaku.
"Makan! Makan sebanyak-banyaknya!"
Mereka kemudian membawa Cindy keluar. Sebelum pergi, ibuku tidak lupa menggeledah sakuku dan mengambil seluruh uangku.
Aku menutupi kepalaku dan menatap kosong, menyaksikan kepergian mereka.
Mereka benar-benar seperti satu keluarga kandung.
Penjual mi ayam itu sudah menerima uangku dan menyajikan satu mangkuk mi.
Aku menggeleng dan menolak, lalu berjalan tertatih-tatih keluar dari warung mi.
Di luar, hujan rintik-rintik turun.
Di layar persidangan, punggungku perlahan-lahan tenggelam tertutupi hujan.
Panel sidang yang beranggotakan seratus orang itu sangat hening. Orang tuaku memalingkan muka untuk menghindari tatapan hakim. Sementara Cindy menunduk, tidak menatap siapa pun.