Logo
Pasutri Jadi-Jadian
Pasutri Jadi-Jadian

Pasutri Jadi-Jadian

75 Bab
Tamat
Dalam novel Pasutri Jadi-Jadian, Jaka terjebak rencana gila Nuning yang minta dinikahi demi pindah ke Jakarta. Kisah romance modern ini mengikuti aksi ugal-ugalan Nuning mengejar tiket emasnya. Baca young adult fiction romance books ini untuk mengungkap alasan Jaka akhirnya setuju menikah.
Bab 1 dari Pasutri Jadi-Jadian

“Maaak? Nasinya mana??” protes Pak Priyo menggelegar ke seluruh isi rumah. Menggetarkan jendela.  Mengguncang lantai. Dan menggoyang kasur Bu Parmi yang tengah asyik leyeh-leyeh di kamarnya. Perempuan berusia lima puluhan itu pun terbirit-birit ke dapur. Meringis saat suaminya memelintir kumis.

“Loh! Perasaan tadi masih penuh loh, Pak?” Bu Parmi kebingungan melihat isi magic com yang tiba-tiba tinggal kerak.

“Ya udah sih, Mak ..., tinggal masak lagi apa susahnya?” Nuning tiba-tiba nongol sambil bersendawa, mengelus perutnya yang kekenyangan usai menyikat habis isi meja makan hingga licin mengkilat sampai-sampai bisa bikin kepleset lalat yang hinggap.

“Oooh pasti ini dia biang keroknya!” omel Bu Parmi sambil menuding anak gadisnya itu dengan centong nasi.

Nuning ambil langkah seribu sebelum centong itu sempat mendarat di kepalanya. Terbirit-birit kabur meninggalkan emaknya yang ngomel-ngomel di belakangnya, ngepot-ngepot mengejarnya sambil mengacung-acungkan centong bukan sembarang centong, itu centong sakti yang sudah puluhan kali bikin kepalanya benjol.

Nuning melompati pagar dengan lincah. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai pun menghamburkan jutaan ketombe di udara. Gadis itu menerobos jemuran tetangga dengan rusuhnya. Bikin janda semok sebelah rumah menjerit-jerit mengira ada maling mau nyolong pakaian dalamnya.

Nuning pun cekikikan setelah merasa aman dari kejaran makhluk berdaster yang tak lain emaknya sendiri.

“Ngapain ketawa-tawa sendirian? Obat lagi habis?” tegur Jaka sambil memiringkan telunjuknya di kening.

Nuning meringis jijik karena Jaka menegur sambil menjitak keningnya dengan permen kojek yang baru keluar dari mulutnya. Dia mengumpat sambil menginjak kaki Jaka, bikin cowok jangkung itu meringis kesakitan.

“Ngapain ngumpet-ngumpet? Kayak habis maling aja?” tanya Jaka.

Nuning nyengir. “Emang!” Lalu melenggang santai menuju lapangan. Ada lomba layangan sore ini yang tak boleh dilewatkan. Meskipun sudah berseragam putih abu-abu, tapi layangan tetap menjadi hiburan favoritnya. Apalagi layangan Jaka sering membuatnya menang taruhan lawan anak-anak kampung.

“Eh, beneran? Emangnya mangga Mbah Surip udah pada mateng?” tanya Jaka dengan mata berbinar.

Mangga Mbah Surip memang sudah jadi langganan curian mereka sejak zaman SD. Soalnya mangganya enak, buahnya lebat. Sekali srampang langsung berjatuhan. Posisinya yang di pinggir jalan bikin mereka kebiasaan nyolong sambil lewat. Salah sendiri yang punya pelit, diminta baik-baik nggak boleh. Sementara buahnya yang lebat dan ranum seringkali melambai-lambai, nantangin minta dipetik.

“Bukan nyolong mangga, tapi nyolong ayam penyet jatahnya bapakku. Salah sendiri sama emak pake diumpetin segala. Nggak adil namanya, masa anaknya disuruh makan tempe bapaknya makan ayam? Kan kebalik. Siapa yang sedang dalam masa pertumbuhan coba?” sahut Nuning sambil cekikikan.

“Wah, gendeng kamu Ning. Nggak kapok apa uang jajanmu ntar disunat lagi?”

“Lah, kan ada kamu?” Nuning mengalungkan lengannya ke pundak Jaka.

Jaka mengedikkan pundaknya, menyingkirkan tangan Nuning darinya. “Memangnya aku ATM-mu? Ngomong kok kayak kentut, lega di kamu tapi bikin eneg yang denger,” cebiknya jengkel. “Seratus ribuku yang kemarin aja belum balik, ini udah mau nadah lagi? Kayaknya kamu memang cocoknya jadi tukang palak, deh!”

“Kayaknya sih gitu, Jak. Kalau malakin kamu aja bisa kaya, ngapain juga repot-repot mikirin kerjaan lain?”

“Sompret minta dikepret!” gerutu Jaka keki.

Nuning terkikik senang sambal menaiki punggung Jaka yang otomatis memeganginya. “Buruan, Jak! Ntar lomba layangannya keburu mulai!”

Jaka menurut tanpa banyak bacot. Dia lari menuju lapangan dengan Nuning yang tertawa merdeka di gendongan belakang. Orang-orang kampung sudah tak aneh lagi melihat kelakuan duo abege yang gesrek dan tukang bikin rusuh itu.

Nuning, terkenal suka menakuti anak-anak pulang mengaji, pura-pura menyamar jadi Kunti, gelantungan di pohon pakai mukena. Sedangkan Jaka, kebagian menyamar jadi pocongnya.

Meskipun sudah menjadi rahasia umum kalau duo  setan itu cuma cosplay, tapi tetap saja sukses membuat takut anak-anak. Bikin duo setan jadi-jadian itu senang, sementara setan betulan yang gaweannya sedang disabotase oleh mereka cuma bisa geleng-geleng saja di pojokan.

Mereka berdua pula yang suka bikin kalong-kalong di kebun minder karena kalah skill nyolong. Mbah Surip pun cuma bisa pasrah memandangi mangganya yang tak pernah awet di pohon.

***

Pak Priyo selama ini terkenal dengan keangkerannya. Kumisnya yang lebat dan perawakannya yang tinggi besar serta suaranya yang menggelegar, suka bikin semaput anak-anak kecil yang berpapasan dengannya. Mungkin karena kebiasaan orang tua mereka yang suka menakuti anak-anaknya pakai nama Pak Priyo. “Awas loh kalau nakal, ntar ditangkap Pak Pri!” begitu kata emak-emak mereka. Padahal Pak Priyo bukan Polisi, bukan TNI, bukan pula satpol PP yang suka beringas saat penertiban bangunan liar. Beliau cuma kepala satpam pasar yang suka bawa pentungan.

Sayangnya, keangkeran Pak Priyo malah tak mempan untuk menghadapi anaknya sendiri. Nuning, anak gadisnya yang bontot justru sering bikin ulah yang bikin Pak Priyo sepaneng. Bikin Bu Parmi  mengelus dada dan berpikir keras dulu pernah mengidam apa. Mungkin ada yang belum keturutan jadinya begitu si anak lahir, besarnya jadi ugal-ugalan.

“Mak, aku maluuu. Nuning tuh, Mak!” keluh Bambang, si anak sulung yang satu sekolah dengan Nuning.

Bu Parmi menarik napas, menguatkan jantung, siap-siap menerima cobaan lagi. Minggu lalu sudah dua kali dipanggil kepala sekolah karena Nuning tawuran dan mengunci kakak kelasnya di WC sekolah dan menggembesi motor gurunya. Sekarang, apa lagi?

“Mendingan nggak punya adik sekalian daripada bikin malu aja!” keluh Bambang sambil membanting tas sekolahnya ke kursi. Lalu menghempaskan badan lelahnya ke sebelah si emak yang mukanya ikut kusut.

“Bilangin Nuning dong, Mak. Kalau nggak niat sekolah, mending suruh kawin aja terus pergi sana ikut suaminya. Serah mau ke mana. Ke hutan kek, kebun binatang kek, ke dunia lain kek,” oceh Bambang dengan sekali tarikan napas. Bikin muka Bu Parmi tambah berlipat-lipat bingung.

Bambang emosi! Percuma rasanya jadi bintang kelas, bintang sekolah, bintang lapangan, tapi punya adik yang hobinya bikin malu. Nuning selalu jadi bahan gunjingan di sekolah karena ulahnya yang sering bikin gempar. Dia kerap dapat hukuman karena suka datang terlambat, tapi tak pernah kapok dapat hukuman keliling lapangan sambil berjongkok. Nuning juga suka mengompori teman-temannya mengosongkan kelas saat pelajaran. Lalu jadi komando teman-temannya bolos melompati pagar. Kalau ada lomba panjat pagar sekolah, Nuning pasti sudah jadi juaranya. Rok panjang sepertinya tak jadi halangan bagi adiknya untuk urusan panjat memanjat dan lompat melompat. Monyet aja kalah lincah!

Pokoknya punya adik macam Nuning jadi beban mental bagi Bambang yang seorang ketua OSIS. Bagaimana mau digubris warga sekolah kalau mengurus satu adik perempuan saja tak becus? Wibawanya bagai dikuliti tingkah adiknya sendiri yang rajin melanggar ketertiban.

“Sabar tho, Mbang. Kok jangankan kamu, lah bapakmu aja ikut mumet kok mikirin adikmu satu itu.”

“Ya makanya itu, kawinin aja biar tau rasa!”

“Iya kalau ada yang mau? Tau sendiri kelakuan adikmu itu sudah nyebar seantero kampung,” cebik Bu Parmi ngenes sendiri memikirkan masa depan anak gadisnya yang super absurd. Sudah tampangnya pas-pasan, kelakuan dan prestasi tak bisa dibanggakan.

“Jodohin aja sama duda juragan empang. Dengar-dengar dia lagi cari bini. Biar emak nggak usah khawatir Nuning bisa makan apa nggak, karena suaminya kaya, kan bisa ngasih makan yang banyak. Dia mau makan sepuluh bakul sehari juga udah bukan tanggung jawab Emak lagi,” cibir Bambang jengkel.

Adiknya itu kalau makan persis kerbau bunting! Nasi sepiring pernuh, masih bisa nambah. Herannya badan adiknya tetap mungil dan tak bisa gendut meskipun suka makan tiga piring berturut-turut. Jangan-jangan cacingnya lebih panjang ketimbang ususnya!

“Husss. Sembarangan! Gitu-gitu dia adikmu! Sabar-sabar aja, itung-itung buat nambah pahala.”

“Yang ada mah nambah dosa dan penyakit punya adik kek dia.”

“Kalau ngatain orang bisa lebih keras dikit nggak? Orangnya nggak denger nih,” celetuk Nuning yang tiba-tiba nongol sambil nyengir, masih memakai seragamnya yang warnanya tak putih abu-abu lagi. Tapi Bambang akan lebih heran kalau rok adiknya belepotan dengan darah mens ketimbang belepotan tanah seperti itu. Pasti habis dari lapangan main layangan, atau duduk-duduk di tegalan sambil menikmati mangga hasil colongan.

Memandangi seragam Nuning yang kumal, Bu Parmi geleng-geleng sambil mengelus dada. Perasaan ya ..., anak gadis jaman sekarang wangi-wangi, rapi-rapi. Begitu duduk di bangku SMP umumnya sudah pada sadar kerapihan, sadar penampilan, dan peduli kecantikan. Tapi kenapa anak gadisnya yang sudah SMA begini amat?

“Kayaknya kamu perlu ke psikiater deh. Kali aja kena gangguan jiwa. Kalau nggak, bisa aku yang lama-lama gila punya adik kayak kamu!” omel Bambang.

“Beuhhh. Gaya amat! Kayak kita orang berduit aja. Emangnya ke psikiater gak bayar? Ke dukun aja bayar. Kalau bisa dibayar pake daun sih aku mau aja. Soalnya psikiater kan adanya cuma di kota. Ntar sekalian mampir deh ke mall, jalan-jalan. Bosen tau di kampung mulu,” cebik Nuning, “kalau hujan becek, nggak ada ojek...” lanjutnya lagi dengan logat ala Cinta Laura yang kebarat-baratan.

Nah, kan! Ngomong sama adiknya memang suka bikin senewen. Nuning tak pernah peduli biar seluruh dunia menertawakan atau meledeknya. Dia memiliki dunia sendiri. Punya cara menikmati hidupnya, yang tak pernah sejalan dengan cara hidup Bambang sang kakak.

“Omong-omong soal ke kota, kapan yuk Mak kita ke Jakarta?” celetuk Nuning tiba-tiba.

“Ntar, kalau sapinya bapakmu sudah lahiran,” sahut Bu Parmi asal. Memangnya sejak kapan Pak Priyo punya sapi?

“Yah, emaak. Masa kalah sama Mbah Paijo yang sering bolak-balik liat Monas?” protes Nuning mencatut nama tetangganya.

“Mbah Paijo sopir bus Damri? Ya emang trayeknya itu Lampung-Gambir!”

Tapi Nuning tetap merengek tak mau tahu sambil menarik-narik lengan Bu Parmi yang mulai kelimpungan. Sampai-sampai Bambang menggulung buku lalu menggeplak kepala adiknya supaya berhenti bertingkah macam orang kesurupan jin Monas. Nuning pun manyun, merajuk masuk kamar. Dia bahkan melewatkan makan malam.

Pak Priyo dan Bu Parmi keheranan karena untuk pertama kalinya magic com mereka penuh. Tapi bukannya senang nasinya utuh, kedua orangtua itu jadi galau.

Ada apa dengan Nuning?

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cintamu Dibayar Dengan Surat
Cintamu Dibayar Dengan Surat
Dalam romance novel Cintamu Dibayar Dengan Surat, Rio terpaksa menikahi Sintia akibat kesalahan masa lalu. Sebagai billionaire, ia mengabaikan istri dan anaknya demi kekasih lama. Temukan konflik rumah tangga penuh rahasia ini di webnovel yang menguras emosi dan pilihan sulit.
JANDA, MARRY ME!
JANDA, MARRY ME!
Dalam JANDA, MARRY ME!, seorang wanita berjuang mencari kebahagiaan di tengah stigma sosial. Novel modern ini mengeksplorasi pilihan hidup dan konsekuensi setelah pengkhianatan. Temukan kisah haru dalam web novel ini sebagai pilihan utama bagi pembaca romance stories yang mendalam.
Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
Pasca cerai, Leanna kembali ke identitas aslinya sebagai peretas dan desainer kelas dunia. Di tengah kebebasan barunya, sang miliarder Matthew datang melamar. Baca Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO, sebuah billionaire romance novels yang penuh intrik dan modern novel.
Kerinduan Tak Berujung
Kerinduan Tak Berujung
Dalam novel romantis modern Kerinduan Tak Berujung, Stella terkejut saat mengetahui pernikahan lima tahunnya dengan Felix ternyata palsu demi membantu karier wanita lain. Merasa dikhianati, Stella memilih pergi selamanya. Baca novel online ini untuk mengungkap akhir dari pengkhianatan sang miliarder.
Kompilasi Cerpen Dewasa
Kompilasi Cerpen Dewasa
Kompilasi Cerpen Dewasa menghadirkan rangkaian romance novel modern tentang dinamika hubungan berbagai profesi. Hadapi konflik intens dan pilihan sulit para tokoh dalam mengejar gairah serta kebahagiaan. Baca online novel ini untuk temukan hikmah di balik setiap short stories romance.
Maafkan Aku Mam
Maafkan Aku Mam
Dalam novel Maafkan Aku Mam, hasrat terlarang muncul saat seorang wanita terjebak dalam godaan Andre. Cerita modern novel ini mengeksplorasi pilihan sulit dan konsekuensi hubungan rahasia. Baca romance novel ini untuk mengikuti petualangan cinta yang penuh ketegangan dan ambisi pribadi.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Darah dan Pengakuan
Darah dan Pengakuan
Alina, sang Ketua Grup Singh, mengalami duka mendalam saat kehilangan putra kandungnya, Erik, yang masih belia. Bersama suaminya, mereka memindahkan seluruh kasih sayang kepada anak angkat, Alec. Bahkan setelah Erik akhirnya ditemukan, Alina tetap memanjakan Alec dan mempersiapkannya sebagai penerus bisnis keluarga. Namun ironi takdir terjadi - justru Alec, yang khawatir akan tergeser kedudukannya, merencanakan pembunuhan keji terhadap Alina. Di detik-detik terakhir hidupnya, Alina baru menyadari sifat sejati Alec yang serigala berbulu domba. Dengan hati yang hancur, dia bertekad bahwa jika ada kehidupan selanjutnya, dia akan tebus semua kesalahannya pada Erik!
Bercinta Sambil Bekerja
Bercinta Sambil Bekerja
Cecil seorang ahli penanganan krisis nomor satu di dunia menyerahkan kerjaan dengan gaji tingginya di luar negeri dan kerja di hotel Keluarga Hartomo karena cinta pertamanya pada Kalvin, seorang pemimpin Grup Hartomo. Waktu proses IPO perusahaan, mereka yang tanpa sengaja bertemu akhirnya buat hubungan palsu mereka jadi nyata. Meski terlihat saling manipulasi untuk saling mendekati, mereka yang saling mencintai pun mengungkapkan perasaan cinta 10 tahun mereka dan akhirnya bersatu.
Cahaya Putri Sejati
Cahaya Putri Sejati
Yuna Yasin, putri sulung Keluarga Yasin awalnya merupakan seorang fisikawan sukses. Namun, ia dipaksa menggantikan adik perempuannya, Belinda Yasin, yang membunuh orang, sehingga harus menjalani hukuman penjara. Setelah bebas, keluarganya memperlakukan Yuna dengan dingin. Bahkan, Belinda juga merebut kekasih Yuna, Rudi Pandana. Dalam keputusasaan, Yuna mengabdikan dirinya pada penelitian fisika. Seiring terungkapnya kebenaran, ternyata yang menyelamatkan Rudi dahulu adalah Yuna, bukan Belinda. Setelah mengetahui bahwa Belinda telah melakukan banyak hal yang menyakiti Yuna, Rudi pun sangat menyesal...
[Versi suara dubbing] Kebangkitan: Kebanggaan yang Belum Tertulis
[Versi suara dubbing] Kebangkitan: Kebanggaan yang Belum Tertulis
Dikeluarkan dan dibunuh dalam kehidupan lampanya, dia bangkit kembali, bersumpah melindungi keluarganya, menemukan cara baru untuk membalikkan nasib dan mencapai kemuliaan!
Pelukan Sang Pelarian
Pelukan Sang Pelarian
Kinsley dimanfaatkan oleh ibunya untuk memperoleh kehidupan mewah, dengan dijodohkan kepada Zachary, kepala keluarga kaya yang posesif dan suka mengendalikan. Di hari pernikahannya, Kinsley memilih untuk melarikan diri dan justru bertemu dengan Justin, seorang pembalap bawah tanah yang menyembunyikan identitas aslinya. Dari pertemuan itulah, mereka memasuki kisah cinta yang penuh bahaya dan sensasi.
Cinta yang Terpaksa
Cinta yang Terpaksa
Karena kakaknya menolong Martin, Martin menikahi Okta yang diam-diam menyukainya untuk balas budi. Tiga tahun menikah, Okta tak merasakan cinta dari Martin dan hidupnya seperti janda. Ia sadar Martin hanya mencintai Hana, cinta pertamanya. Demi tak membebani Martin, Okta pura-pura mati dan mengejar mimpinya. Saat Okta hilang, Martin baru sadar ia tak bisa melepaskan Okta.