Bab 6
Tiba di tempat parkir, dari kejauhan Delis melihat mobil Lincoln hitam yang paling mewah terparkir tidak jauh darinya.
Asisten juga melihat Delis, dia segera turun dari mobil untuk membukakan pintu kepadanya.
Begitu duduk di dalam mobil, Delis melihat pria di kursi belakang yang mengenakan setelan jas hitam.
Kelven menyebarkan pesona pria dewasanya yang begitu memikat sehingga membuat orang sulit untuk menolak.
Namun, Delis seolah-olah tidak melihatnya dan langsung duduk dengan patuh di sampingnya.
Delis melihat orang di sebelahnya, sepertinya sudah melupakan pertengkaran mereka sebelumnya.
Kelven mengernyit dan terdengar suara lembutnya, “Kamu nggak pergi seminar?”
Kelven tidak melihatnya dari atas panggung.
Delis lebih cantik dari mahasiswa lainnya, tidak peduli di mana pun dia berada, Kelven selalu bisa menemukannya hanya dengan satu pandangan.
Namun, dia tidak melihat Delis di aula kampus hari ini.
Delis memalingkan kepala dan melihat ke luar jendela, sengaja tak melihat ke arah Kelven. Delis menjawab, “Nggak pergi.”
“Kenapa nggak pergi?”
“Orang yang mau cerai denganku pasti nggak mau melihatku.”
“Hm???”
Kelven mengernyit dan tersenyum getir.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkul Delis. “Masih marah?”
Delis menjauhkan tangan pria itu. “Pak Kelven, tolong jaga batasan dirimu.”
Kelven terdiam, “ … “
Kenapa wanita kecil ini seperti seekor landak yang penuh dengan duri?
Kelven memaksa untuk meraih tubuhnya, dengan lembut menghiburnya, “Jangan marah lagi, aku bahkan sudah datang menjemputku di kampus.”
Delis sangat berpendirian, dia kembali menjauhkan tangan pria itu dan berbalik membelakanginya. “Datang menjemputku? Kamu datang untuk menghadiri seminar.”
“Lalu, kamu tahu nggak kenapa aku datang menghadiri seminarnya?”
“Mana kutahu.”
“Kalau nggak tahu, jangan asal bicara. Jangan pasang muka datar seperti itu lagi, ayo sini balik dan lihat aku.”
Kelven kehabisan kesabaran.
Sejak kapan Kelven pernah begitu memanjakan orang?
Delis malah semakin tidak menghiraukannya.
Delis masih merasa sangat tak senang, tetapi menghadapi Kelven yang begitu angkuh, terkadang dirinya benar-benar hanya bisa menuruti semua yang dikatakannya.
Delis berbalik sambil menundukkan kepalanya, sangat sedih dan hampir menangis.
Kelven melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan, perasaan sayang timbul di hatinya.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkulnya ke dalam pelukannya. Dengan lembut menghiburnya, “Sudahlah, lupakan saja yang sudah berlalu. Delisku jangan bersedih lagi.”
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Kamu bahkan sudah memutuskannya.”
Bahkan mengatakan bahwa pernikahan ini harus berakhir, kenapa sekarang Kelven tiba-tiba begitu lembut?
Apakah Kelven menganggap Delis seperti anak kucing atau anak anjing yang hanya cukup dengan dihibur begitu saja?
“Kalau kamu nggak mau cerai sekarang, kita nggak perlu cerai sekarang. Aku nggak pernah mengatakan bahwa kita harus bercerai sekarang.”
Kelven menggendongnya duduk di atas pangkuannya, menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata dengan tak berdaya,
“Delis, jangan menangis lagi. Sudah begitu dewasa masih perlu aku hibur?”
“Siapa yang bilang aku butuh dihibur? Lepaskan aku, aku bisa duduk sendiri.”
Delis bersikeras untuk turun dari pangkuannya.
Ekspresi Kelven tiba-tiba menjadi muram, memeluknya dengan erat. “Jangan buat aku marah.”
Delis melihat pria tua itu. Melihat ekspresi wajahnya yang muram, dia tidak berani lagi melawan.
Akhirnya, dia hanya bisa bersandar di dada pria itu dengan kesal.
Delis menjelaskan kejadian pada hari itu, “Hari itu bukan aku yang mencari masalah dengan perempuan itu, dia yang datang … “
“Kejadian yang sudah berlalu bairlah berlalu, nggak perlu dibahas lagi.”
Kelven memotong pembicaraannya, hanya ingin diam-diam memeluknya dengan lembut.
Delis tidak terima, dia melanjutkan, “Jelas-jelas perempuan itu yang datang ke kampusku dan mencariku … “
“Delis, sudah kubilang jangan bicarakan lagi.”
Dengan tegas dan dingin, Kelven memotongnya lagi.
Delis terdiam, menegakkan tubuhnya dan menatapnya dengan mata terbelalak.
Kelven juga menatapnya dengan wajah yang dingin dan muram.
“Mulai sekarang, kamu nggak boleh mencarinya lagi, apalagi memukulnya. Perceraian denganku nggak ada hubungannya dengan dia. Kalau kamu nggak senang, bisa melampiaskannya padaku.”
Delis terdiam, “ … “
Sepertinya Kelven masih lebih peduli dengan perempuan itu.
Rasa sakit di dada Delis, seperti ada pisau yang menusuk.
Delis melepaskan pria itu dengan marah, duduk di samping dan melihat keluar jendela. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kelven juga tidak lagi menghiraukannya.
Setelah tiba di rumah, melihat Delis tidak mau turun dari mobil, masih dengan wajah penuh kekesalahannya.
Kelven mencoba mendekat dan menggendongnya.
Delis sangat emosional. Dia menghempas tangan Kelven dan melompat keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah.
Kelven hanya bisa mengikutinya di belakang dengan tak berdaya.
Saat makan malam, hanya mereka berdua di meja makan. Tetapi, Delis tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus pada makanannya.
Setelah selesai makan, Delis kembali ke kamarnya, berpura-pura membaca buku.
Kelven juga tidak menghiraukannya, dia pergi ke ruang kerja dan kerja sebentar. Ketika jam sepuluh malam, dia baru masuk ke kamar.
Kelven mandi dan mengenakan handuk, kemudian berdiri di samping tempat tidur. Melihat Delis masih sibuk membaca, dia merangkak ke atas tempat tidur dan mengambil buku dari tangannya.
Delis tahu apa yang ingin dilakukan Kelven.
Dengan mata memerah, Delis bertanya, “Kami menganggapku apa? Hanya sebuah alat untuk mengusir kesepian saja?”
Tadinya Kelven bermaksud untuk menciumnya.
Bagaimanapun, sejak pulang dari perjalanan bisnis, mereka belum pernah berhubungan intim.
Sudah sekitar dua puluh hari.
Namun, ketika mendengar kata-kata perempuan di depannya, Kelven tiba-tiba kehilangan minat.
“Delis, mau sampai kapan kita harus bertengkar seperti ini?”
Jika bukan karena Kelven peduli dan memanjakannya, tidak ada wanita di dunia ini yang berani menunjukkan wajah muram di depannya.
Kesabaran Kelven ada batasnya.
Melihat Kelven marah, Delis semakin sedih.
“Aku hanya mau tanya, bagimu aku ini apa? Istrimu atau bukan? Kalau memang istrimu, kenapa kamu malah mau cerai dan menikahi orang lain?”
“Aku nggak mau ribut samamu, tapi hatiku nggak enak.”
“Kelven, kamu tahu betapa menderitanya aku beberapa hari ini? Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?’
Delis tak mengerti, Kelvin bahkan ingin bercerai dengannya, mengapa masih melakukan ini padanya.
Kelven tidak menjawab.
Melihat Delis menangis lagi, perasaan Kelven terasa campur aduk.
Kelven langsung menarik Delis ke dalam pelukannya, lalu mengubah nada bicaranya menjadi lembut,
“Maaf, ini salahku.”
“Aku nggak mau maaf darimu, aku hanya mau kamu menjauh dari wanita itu. Jangan cerai denganku, kita bisa hidup bersama dengan baik.”
Delis tidak tahan dan menangis lagi.
Kesedihan yang telah ditahan selama beberapa hari akhirnya meledak.
Melihat Delis menangis, perasaan Kelven terasa seperti tersayat.
Kelven memeluknya dengan erat dan menghiburnya, “Sudah sudah, kita nggak akan bercerai.”
Delis tampak sedikit terkejut, dia mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata berkaca-kaca. “Benarkah?”
“Hm.”
Kelven memeluknya dengan erat, perasaannya bercampur aduk.
Tiba-tiba, terdengar suara Bibi Siti dari luar pintu kamar, “Pak Kelven, apakah bapak sudah tidur?
Kelven masih tetap memeluk orang dalam pelukannya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar dan menjawab, “Ada apa?”
“Pak Kelven, seorang gadis bernama Herli datang. Dia ada di bawah dan mengatakan ingin bertemu denganmu.”
Kelven mengernyit, tidak mengerti mengapa Herli datang sekarang.
Kelven bersiap untuk berdiri dan mengenakan pakaiannya.
Delis juga tak menyangka bahwa wanita itu begitu tak tahu malu untuk datang lagi.
Tentu saja, yang lebih membuat Delis marah adalah pria di sampingnya ini.
Setelah tahu bahwa wanita itu datang, Kelven langsung melepaskan pelukannya dan hendak turun ke bawah.
Dengan mata memerah, Delis melihat pria yang sedang mengganti pakaian dan bertanya, “Bagaimana rencanamu untuk menghadapinya?”
“Aku akan turun dulu, kamu tidur dulu saja.”
Bagaimana mungkin Delis bisa tertidur.
Delis ingin melihat apa tujuan wanita tak tahu malu itu datang ke sini.
Dan melihat bagaimana Kelven menangani masalah ini.
…
Kelven mengenakan pakaian rumahan, berdiri tegak dan melangkah menuruni tangga. Saat dia melihat ke arah sofa di ruang tamu, langsung melihat wanita yang duduk di sana.
Herli juga melihatnya.
Herli segera berdiri dan menyambutnya, berpura-pura dengan wajah lembutnya. “Kelven, apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?”
Kelven menuruni dua anak tangga lagi dan berdiri di depan Herli. Dia menjawab dengan sedikit datar, “Tidak, kenapa kamu datang jam segini?”
“Tadinya aku sudah tidur jam sembilan, tapi setiap kali aku tertidur, aku selalu bermimpi tentang kecelakaan itu. Aku takut, aku nggak berani tinggal sendirian di rumah, jadi aku datang mencarimu.”
“Kelven, kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Dengan wajah yang begitu sedih, Herli menatap pria gagah di depannya. Dia yakin, begitu dia menyebut kecelakaan itu, pria itu tidak akan menolaknya.
Itu adalah hutang Kelven padanya.
Kelven pantas menggunakan seluruh hidupnya untuk menebus kesalahan itu.
“Nggak keberatan.”
Wajah tampan Kelven tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya menoleh melihat Bibi Siti dan berkata, “Siapkan kamar tamu untuknya.”
Bibi Siti mengangguk dan pergi.
Kelven melewati Herli dan menuju ruang tamu. Lalu dengan penuh perhatian bertanya, “Perjalanan yang begitu jauh, lapar nggak? Mau makan?”
Melihat bahwa sikap Kelven selalu begitu lembut padanya, Herli tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya.
“Aku nggak lapar, hanya nggak bisa tidur saja. Bagaimana kalau kita berdua ngobrol saja?”
Herli duduk di sebelah Kelven.
Kelven menuangkan segelas air untuk Herli. Ketika hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba melihat ke arah tangga dan melihat Delis berdiri di sana.
Bab 7
Delis juga melihat dua orang yang duduk di ruang tamu.
Meskipun sangat membenci wanita itu, Delis bahkan tidak ingin melihatnya sekejap mata pun.
Namun, melihat wanita itu datang dan ingin merebut suaminya, bagaimana mungkin dia bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa?
Mencoba merebut suaminya di depan mata dirinya? Mustahil.
Delis melangkah turun tangga tanpa mengenakan alas kaki.
Kelven melihat tubuh Delis yang kurus, mengenakan gaun tidur tipis dengan tali bahu, begitu menawan dan menggoda.
Namun, kedua kaki mungilnya yang putih itu tidak mengenakan alas kaki. Tiba-tiba, Kelven mengernyit dengan tidak senang, berkata,
“Kenapa nggak pakai alas kaki?”
Delis tak menghiraukannya, dia berusaha menahan kemarahannya, melangkah lurus menuju Kelven.
Herli juga melihat Delis yang sedang mendekat.
Melihat dia mengenakan pakaian tipis dan tak memakai alas kaki, wajah mungilnya dipenuhi dengan ekspresi polos dan menyedihkan.
Tiba-tiba, Herli merasa bahwa untuk menghadapi wanita ini, mungkin diperlukan usaha ekstra.
“Kelven, aku nggak enak badan,” ujar Delis.
Berdiri di samping Kelven, Delis dengan polos mendorong dirinya dengan penuh kesedihan ke dalam pelukannya.
Bahkan duduk di pangkuan Kelven di depan mata Herli. Kedua tangannya juga melingkar di leher Kelven.
Kelven sebenarnya ingin menyingkirkannya, tapi melihat dia tak memakai alas kaki, jadi hanya bisa menggendongnya. Kelven menatap Herli dan berkata,
“Dia masih polos, jangan keberatan.”
Kemudian, Kelven langsung menggendong Delis ke rak sepatu untuk mengambil alas kaki.
Tubuh mungil Delis bergantung manja di tubuh pria itu, dagunya bersandar di bahunya. Dengan tatapan menantang, dia memandang Herli yang duduk di sofa dengan raut wajah tak senang dan penuh kecemburuan.
Herli selalu merasa bahwa Kelven berhutang padanya.
Tidak peduli apa yang diminta Herli, Kelven pasti akan menyetujuinya.
Bahkan bercerai dan menikahi dirinya, Kelven juga tak akan menolak.
Namun saat ini, dia melihat Kelven menggendong istri mudanya untuk memakai alas kaki, tiba-tiba Herli merasa sangat mempermalukan diri sendiri.
Untuk apa dirinya datang ke sini?
Apakah untuk melihat mereka bermesraan?
Saat ini, Herli merasa sangat malu, marah dan tak berdaya.
Setelah mengambil alas kaki dari rak, Kelven menempatkan Delis duduk di pangkuannya dan membantunya memakainya. Kelven kemudian menatapnya dan berkata,
“Pergi ke kamar dan istirahat, jangan buat masalah.”
Delis pura-pura tidak mendengar, dia merangkul leher Kelven dengan erat dan berkata, “Aku nggak bisa tidur, hanya mau memelukmu.”
“Aku mau membahas sesuatu dengan Herli.”
Kelven mencoba melepaskan tangan mungilnya.
“Nggak mau~”
Namun, begitu dia mencoba melepaskan, orang di pundaknya malah bersikeras dengan manja dan hampir menangis, berbisik di telinganya,
“Nggak mau … aku nggak akan mengganggumu. Aku hanya perlu memelukmu seperti ini, kamu bisa berbicara dengannya, ya?”
“Nggak pantas.”
“Kenapa nggak pantas? Aku kan istrimu.”
Kelven terdiam.
Orang-orang selalu mengatakan bahwa Kelven itu dingin dan angkuh, memiliki sifat yang tegas dan kejam dalam bertindak.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa dia tak tahan dengan rayuan manja seorang wanita kecil.
Seperti saat ini, dia tak bisa menahan dan akhirnya memilih untuk memeluknya, kembali ke ruang tamu.
Melihat bahwa Kelven tidak melepaskannya, Delis pura-pura tidur dengan berbaring di bahunya.
Herli tak menyangka bahwa Kelven akan membantu Delis memakai alas kaki dan bahkan menggendongnya kembali.
Herli melihat dua orang yang saling berpelukan dengan erat di depannya, mata Herli seakan-akan bisa melepaskan mata pisau.
“Herli, bagaimana kalau kamu istirahat dulu? Kita bisa bicara besok. Bocah ini sedang sakit dan butuh aku menemaninya.”
Herli terdiam.
Siapa yang bisa mengerti perasaannya saat ini?
Dia datang ke sini hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri?
Tidak!
Bagi Herli, pria di depannya ini adalah miliknya. Kelven harus menggunakan seumur hidupnya untuk menebus hutang padanya. Mengapa dirinya harus bertahan dalam kesendirian sementara pria itu bisa menikah dan berkeluarga?
Kalaupun dirinya tak bisa memiliki anak, Kelven juga harus berkorban untuk menemaninya seumur hidup.
Herli sangat ingin melampiaskan kemarahannya.
Namun pada akhirnya, Herli memaksa dirinya untuk menahan semua kemarahannya dan melanjutkan untuk berpura-pura tenang, berkata dengan lembut,
“Iya, aku istirahat dulu. Tapi Kelven, kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya. Aku harap kalian berdua nggak akan seperti ini lagi di depanku.”
Ekspresi Herli terlihat sedikit marah dan kemudian mengikuti Bibi Siti ke lantai atas.
Delis yang bersandar di bahu Kelven, menatap kepergian Herli dengan tatapan yang sangat tajam.
Kata-kata Herli tentang ‘kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya’ sangat menusuk hatinya.
Delis turun dari pelukan pria itu dengan marah dan duduk di sofa dengan kesal.
Kelven berdiri di depan Delis, tatapannya sangat tak berdaya. “Delis, jangan seperti ini lagi kedepannya.”
Delis menatap pria itu, matanya berkaca-kaca dan bertanya, “Apa yang salah denganku? Kamu adalah suamiku, dia hanyalah orang ketiga dan … “
“Dia bukan.”
Kelven memotong perkataan Delis, duduk di sebelahnya dengan wajah serius.
“Aku berhutang terlalu banyak dengan Herli. Posisi Nyonya Rosli juga sudah kujanjikan lama padanya.”
Tiba-tiba, hati Delis terasa seperti tertusuk oleh ribuan panah. Dia berusaha untuk tetap tegar, suaranya sudah terdengar serak,
“Kamu berhutang apa padanya? Apa kalian sangat saling mencintai sebelumnya?”
“Nggak ada hubungannya dengan cinta.”
Kelven mengalihkan pembicaraan, “Sudah larut, ayo istirahat.”
Delis tidak menjawab.
Tak ada hubungannya dengan cinta?
Jadi, Kelven dan Herli tidak pernah saling mencintai?
Jika mereka tidak pernah saling mencintai, apa hutang Kelven padanya?
Delis tak paham apa yang bisa mengikat Kelven seperti itu.
Namun, melihat wanita itu tinggal di sini, Delis merasa seperti menelan seekor lalat, sangat menjijikkan.
Delis menatap Kelven dan bertanya, “Jadi ini caramu menangani masalah ini?”
“Kamu membiarkannya tinggal di sini, lalu bagaimana denganku?”
Tidak peduli apa status wanita ini, apakah Kelven akan menikahinya atau tidak. Saat ini, Delis tidak bisa menerima keberadaannya.
Siapa Herli?
Kenapa datang ke rumah orang lain dan masih begitu angkuh.
Kelven memandang orang di depannya dengan ekspresi wajah yang tak berdaya.
Kelven duduk di sebelahnya, suaranya menjadi serius, “Hari ini sudah sangat larut, aku akan menyuruhnya pergi besok.”
“Kamu nggak boleh ada hubungan dengannya lagi kedepannya. Tadi kamu sudah berjanji denganku nggak akan bercerai.”
Delis selalu sangat percaya pada Kelven.
Delis selalu memilih untuk percaya padanya, tak peduli apapun yang dilakukannya.
Asal Kelven menjaga jarak dengan wanita itu kedepannya, dirinya tidak akan berbuat onar lagi.
Seketika Kelven juga bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini, akhirnya dia menjawab,
“Iya, aku akan berbicara dengannya besok.”
Delis menghela lega napasnya.
Dengan penuh kesedihan, Delis mendekat dan memeluk Kelven.
“Aku tahu kamu sudah memberiku banyak, aku nggak seharusnya begitu serakah, tapi aku hanya mau keluarga yang utuh, aku hanya ingin … “
Hanya ingin memberikan lingkungan hidup yang indah dan harmonis pada bayi kita.
Kelven mengangkat tangannya dan menggendongnya. Mendengarkan kata-kata Delis yang terisak, hatinya juga terasa sakit.
Setelah beberapa saat hening, Kelven menggendong tubuh mungilnya dan berjalan ke lantai atas.
“Sudah, jangan pikirkan lagi. Ayo kita istirahat.”
Delis dengan biasa merangkul leher Kelven, bersandar di bahunya dan menjawab dengan manja, “Hm.”
Keesokan harinya.
Kelven bangun sangat pagi.
Begitu juga dengan Herli.
Hanya mereka berdua yang sedang sarapan.
Sambil makan dengan elegan, Kelven mulai berbicara,
“Kita sudah sepakat memberikan waktu dua tahun, setelah dua tahun aku pasti akan memenuhi janjiku. Tapi, selama dua tahun ini, kita jangan berhubungan lagi!”
Bab 8
Herli tak menduga Kelven akan mengusirnya.
Apakah karena wanita liar itu tak suka dengan keberadaannya, sehingga Kelven jadi harus mengikuti keinginannya?
Mimpi.
Dengan hati penuh ketidakpuasan, Herli menatap pria tampan di depannya, dengan sangat penuh bersalah, dia berkata,
“Kelven, kamu merasa aku sudah mengganggu kalian?”
“Bukan begitu, aku hanya merasa ini kurang pantas.”
“Apa yang kurang pantas? Kamu hanya perlu menganggap dia sebagai alat untuk melahirkan anak, nggak perlu ada perasaan padanya.”
Mendengar kata-kata itu, ekspresi wajah Kelven menjadi serius.
Kelven memandang Herli, suaranya terdengar datar,
“Herli, setiap wanita yang melahirkan anak adalah sosok yang hebat. Apalagi dia sangat berarti bagiku.”
“ … ”
Melihat Kelven tiba-tiba marah, Herli memiliki firasat yang tak baik.
Mendengar apa yang dikatakan Kelven, Herli semakin terkejut.
Apakah pria ini benar-benar jatuh cinta pada Delis?
Tidak.
Semua yang dimiliki Delis saat ini adalah milik dirinya, Herli.
Mereka hanya melakukan pernikahan palsu untuk menenangkan keluarga mereka saja.
Ditambah lagi, karena dirinya tidak bisa memiliki anak, sehingga Kelven menikahi Delis untuk melanjutkan garis keturunan Keluarga Rosli.
Jadi, bagaimana mungkin Kelven jatuh cinta pada Delis?
“Kelven … “
“Cukup.”
Kelven memotong kata-kata Herli dengan tegas, “Aku sudah memutuskannya. Dua tahun lagi aku akan menikahimu seperti yang dijanjikan, tapi sekarang … “
“Bagaimana kalau aku nggak setuju?”
Herli mulai bersikap keras dan menatap pria di depannya dengan tatapan tajam.
“Aku mau tinggal denganmu sekarang. Kita sudah berpisah begitu lama, aku nggak mau berpisah lagi. Meskipun kamu mau seorang wanita untuk melahirkan anakmu, itu terserah padamu, aku nggak peduli.”
Bagaimana mungkin dirinya pergi.
Beberapa tahun setelah dia pergi, Kelven sudah tidak memenuhi janji dan menikahi orang lain. Jika dirinya pergi lagi sekarang, Delis tak hanya melahirkan anaknya, tapi juga membuat Kelven jatuh cinta padanya.
Dirinya kehilangan hak menjadi seorang ibu dan hidup dalam penderitaan selama ini. Bagaimana mungkin dirinya memberikan dua tahun kebahagiaan pada mereka?
Biarkan mereka semua ikut menderita seperti dirinya.
Kali ini, jangan mencoba untuk menyingkirkan dirinya.
“Kalau kamu bersikeras untuk tinggal, tinggallah.”
Kelven tak ingin berbicara banyak, dia meletakkan alat makan di meja dengan dingin, mengambil mantelnya dan pergi.
Herli yang ditinggal duduk di sana dengan penuh kebencian.
Bagaimana bisa Kelven bersikap seperti itu padanya.
Jika bukan karena Kelven dulu, akankah dirinya sekarang begitu terikat dengannya?
Herli berdiri, tiba-tiba wajah cantiknya terlihat sangat muram. Dia berjalan ke lantai atas dengan dingin.
Delis masih sedang tidur.
Mungkin karena hamil, ditambah dengan suasana hati yang buruk beberapa hari ini membuat dia tidak tidur dengan baik. Sekarang dia ingin tidur lebih lama.
Mungkin karena adanya aura berbahaya di sekitarnya, Delis memaksa dirinya untuk bangun dari tidur.
Ketika Delis membuka mata dan melihat seorang wanita berdiri di samping tempat tidur dengan wajah penuh kebencian, Delis terkejut.
Delis langsung duduk dan dengan dingin berkata, “Siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku? Keluar!”
Herli tidak bergerak, tatapannya pada Delis sangat tajam dan penuh dendam.
Herli sangat ingin membunuh wanita ini dengan tangannya sendiri.
Jika wanita liar ini mati, sudah tak ada yang berani melahirkan anak untuk Kelven lagi.
Perlahan Herli mendekat, dia mendekati Delis dengan ekspresi kejam.
Delis memandang ekspresi Herli yang begitu muram. Meskipun dirinya lebih kecil dan sedang duduk, sikapnya sama sekali tidak kalah.
Herli berhenti di samping tempat tidur, menatap Delis dan tersenyum dingin.
“Delis, kamu dibayar berapa untuk melahirkan anaknya Kelven”
Pada akhirnya, Herli tetap tidak berani berbuat apa-apa pada gadis ini. Dia berusaha untuk tetap menenangkan diri.
Delis merasa wanita ini sangat tidak tahu malu.
Menjadi orang ketiga dengan begitu bangga dan angkuh.
Siapa yang memberikan keberanian padanya.
Delis dengan geram mencibir, “Ibumu dibayar berapa oleh ayahmu untuk melahirkanmu?”
“Kamu … “
“Aku kenapa?”
Delis memotong kata-katanya, berdiri di atas kasur dan lebih tinggi dari Herli. Delis menatapnya dengan pandangan merendahkan dan menghinanya,
“Nona Herli ya? Penampilan dan statusmu cukup baik, kenapa kamu bisa melakukan hal yang begitu memalukan diri sendiri, bahkan sampai datang ke rumah pasutri yang sudah sah.”
“Atau ibumu melahirkanmu dan mendidikmu menjadi seorang yang menginginkan suami orang lain?”
Herli terdiam.
“Kalau kamu benar-benar kesepian dan menginginkan seorang pria, bilang saja padaku. Aku bisa membantumu mencari beberapa di jalanan.”
“Kenapa begitu nggak sabaran mencari pria yang sudah menikah. Kamu nggak tahu apa arti dari murahan? Atau kamu pikir itu adalah sesuatu yang membanggakan?”
Delis mengatakan kata-kata yang tajam, tak memberikan kesempatan bagi Herli untuk membantah.
Herli menatap Delis, ekspresinya terlihat sangat marah. “Kamu … “
“Pa!”
Belum sempat Herli berbicara, Delis mengangkat tangannya dan menamparnya.
Delis tak bisa menahan emosinya lagi, dia tidak ingin melihat Herli lagi bahkan sejenak pun. “Cepat pergi! Atau kamu merasa belum cukup mempermalukan diri sendiri?”
Tamparan itu membuat Herli terkejut dan terdiam.
Herli menutupi pipinya yang terasa terbakar, menatap Delis dengan tatapan yang penuh kebencian.
Herli ingin memukul balik, tapi dia sama sekali tidak bisa menampar Delis yang berdiri di atas tempat tidur.
Pada akhirnya, dengan wajah penuh malu, Herli berbalik dan pergi.
Melihat Herli pergi, Delis merasa kesal.
Bukankah Kelven bilang menyuruhnya pergi?
Kenapa wanita itu masih ada?
Bahkan berani masuk ke kamarnya.
Jika tidak mengusirnya hari ini, Delis merasa bahwa dirinya tak layak menjadi istri Kelven.
Delis bangun dan mengganti bajunya. Delis keluar dari kamar untuk melihat apakah wanita itu sudah pergi atau belum.
Siapa sangka wanita itu masih berdiri di dekat tangga dan tidak pergi.
Delis sangat kesal. Dia mencari sapu di sekitarnya dan setelah menemukannya, dia berjalan menuju Herli.
Herli sedang berada di tangga dan menelepon Kelven.
Tatapannya terus memandang ke arah pintu utama di bawah.
Ketika menoleh, Herli melihat Delis mengambil sapu dan berjalan ke arahnya, sementara Kelven muncul di bawah.
Herli langsung berteriak pada Delis, “Aku nggak bermaksud mengganggu kalian berdua. Dengarkan penjelasanku, Delis … “
“Aaaa!!!”
Delis bahkan belum mendekati Herli, hanya mendengar dia berteriak tanpa alasan dan kemudian berguling ke bawah tangga.
“ … “
Astaga, apa yang sedang dia lakukan?
Delis berlari mendekat.
Delis yang berdiri di ujung tangga, melihat Kelven mendekat dengan cepat. Dengan tergesa-gesa menggendong orang yang terguling dan berteriak, “Herli … “
Lalu, Kelven menoleh ke atas dan melihat Delis berdiri di tangga sambil memegang sapu.
Jelas, Delis yang mendorongnya.
Ekspresi wajah Kelven sangat marah, tetapi belum sempat dia mengeluarkan amarahnya, Herli meraih tangannya dan dengan kepala yang penuh dengan darah, dia berkata dengan lemah dan sambil menangis,
“Kelven, aku hanya mau berbicara baik-baik dengannya. Aku nggak menyangka dia akan begitu kejam padaku. Kelven, mukaku sangat sakit, kepalaku juga sangat sakit.”
Kelven menunduk dan melihat bekas jari di pipi Herli dan darah yang membasahi kepalanya.
Meskipun sangat ingin meledakkan kemarahannya, Kelven dengan cepat menggendong Herli dan dengan tatapan dingin menatap Delis, lalu dengan cepat melangkah keluar dari vila.
Delis terdiam.