Bab 1
“Kamu hamil, usia kandungan sudah lima minggu. Kondisi tubuhmu nggak begitu baik, jadi kamu harus lebih memperhatikan … ”
Delis tidak mendengarkan kata-kata dokter setelah itu, pikirannya penuh dengan kalimat ‘kamu hamil’.
Dirinya hamil …
Dirinya mengandung anak Kelvin.
Dengan adanya anak ini, apakah akan mengubah pernikahan mereka yang semulanya palsu menjadi nyata?
Delis sangat bahagia, memikirkan bahwa Kelven akan pulang dari perjalanan dinas hari ini. Dengan penuh semangat, dia segera pulang sambil membawa laporan pemeriksaan kehamilan.
Saat langit hampir gelap, mulai turun gerimis. Delis tetap menerobos hujan dan pulang dengan badan basah kuyup.
Setelah masuk ke dalam rumah, Bibi Siti langsung mengambilkan handuk dan membantu Delis mengeringkan rambutnya.
“Nona Delis, mengapa menerobos hujan seperti ini? Bagaimana kalau kamu sakit karena basah kuyup begini? Cepatlah naik ke atas, mandi air hangat dan ganti bajumu.”
Wajah Delis dipenuhi dengan senyuman yang bersinar, berseri seperti bunga yang mekar.
Dia membungkuk untuk mengganti sepatunya. Tiba-tiba dia melihat sepasang sepatu kulit yang mengkilap dan berwarna hitam pekat di atas rak sepatu.
Detik berikutnya, dengan gembira Delis memalingkan wajahnya ke arah Bibi Siti dan bertanya, “Dia sudah pulang?”
Bibi Siti tersenyum mengangguk. “Iya, Pak Kelven sudah pulang dari perjalanan dinas. Dia bahkan membawa hadiah untukmu. Cepatlah ganti bajumu dan pergi menemuinya.”
“Iya.”
Delis dengan cepat mengganti sepatunya, mengambil tasnya dan berlari ke atas.
Namun, dia tak sempat untuk mandi dan ganti baju. Saat ini, Delis sangat ingin menyampaikan pada Kelven bahwa dirinya hamil.
Delis tiba di depan pintu ruang kerja dengan badan yang basah kuyup. Saat dirinya bersiap untuk membuka pintu dengan penuh semangat, tiba-tiba dia mendengar suara lembut Kelven yang memikat dari dalam ruangan.
“Setelah dia melahirkan anakku, aku baru akan menikahimu. Paling lama, dua tahun.”
Seketika Delis membeku, senyuman di wajahnya langsung hilang dalam sekejap. Tangannya yang hendak membuka pintu juga tiba-tiba membeku.
Kemudian, dari dalam ruang kerja terdengar suara seorang wanita yang tak dikenal,
“Kalau begitu, aku akan menunggumu selama dua tahun lagi. Dua tahun kemudian, entah dia sudah melahirkan anakmu atau belum, kamu tetap harus bercerai dengannya.”
Pria itu menjawab dengan suara yang dalam, “Hm.”
“Kelven, aku yakin bahwa kita akan bahagia setelah menikah kedepannya, karena aku mencintaimu lebih dari siapa pun, aku … “
Delis tak dapat mendengar kata-kata selanjutnya. Dia terpaku di tempat, seakan-akan sebuah petir menyambar di langit cerah, sulit baginya untuk merespon untuk waktu yang lama.
Apa yang telah dirinya dengar.
Kelven ingin bercerai dengannya dan sebelum bercerai, Kelven ingin dirinya melahirkan anak untuknya?
Kenapa?
Ternyata selama ini ada orang lain di hati Kelven?
Orang itu sudah kembali, Kelven akan membuang dirinya dan menikahi orang itu?
Seketika Delis tak bisa menerima berita ini. Dengan langkah terhuyung-huyung, Delis meninggalkan ruang kerja dan kembali ke kamarnya. Dia terjatuh dan duduk di lantai, air mata membanjiri matanya.
Dia mengenal pria itu selama lima belas tahun dan mencintainya selama lima tahun.
Ketika dirinya mengajukan ide pernikahan palsu dengan pria itu, tanpa ragu, pria itu langsung menyetujuinya.
Meskipun hanya pernikahan palsu, dalam setengah tahun setelah menikah, Kelvin benar-benar memanjakannya bagaikan harta berharga. Begitu lembut dan perhatian pada Delis, membuatnya begitu bahagia.
Delis mengira hubungan mereka adalah cinta, sehingga dirinya pun dengan rela menyerahkan seluruh dirinya sepenuhnya kepada pria itu.
Setelah itu, mereka hidup seperti pasangan pengantin baru biasanya yang harmonis, mesra dan sangat lengket satu sama lain.
Dan Kelven juga selalu menciumnya di tengah malam dan berbisik di telinganya, “Aku menginginkan seorang anak.”
Saat mendengar kata-kata Kelven, Delis mengira bahwa pernikahan mereka akan terus berlanjut tanpa hambatan.
Ketika sudah memiliki anak, mereka akan semakin harmonis dan menua bersama hingga rambut memutih.
Tak disangka, ternyata semua ini palsu.
Semuanya palsu.
Meski hancur dan penuh keputusasaan.
Ketika teringat ada bayi dalam kandungannya dan mengenakan baju basah bisa membuatnya masuk angin, Delis tetap bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Delis merangkak masuk ke dalam selimut, memaksa dirinya untuk tidur.
Tengah malam.
Delis merasa ada seseorang di sampingnya. Aroma yang familiar menghampirinya, ciuman yang lembut dan hangat perlahan terasa di tubuhnya.
Delis terbangun dan membuka matanya. Dengan bantuan lampu tidur di sebelahnya, dia melihat jelas pria itu mencium lehernya, sambil berbisik pelan,
“Delis, kamu wangi sekali~”
Pria ini adalah suami Delis.
Namanya Kelven Rosli, usianya 30 tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Delis. Tingginya 188 cm. Dia suka memakai pakaian gelap, memberikan kesan dewasa dan berkelas.
Kelven memiliki wajah tampan yang begitu sempurna.
Kelven juga merupakan keturunan orang kaya dan sekaligus direktur dari Perusahaan Deli Jaya yang sangat sukses.
Bukan hanya penyelamat Delis, Kelven juga merupakan cahaya dalam hidupnya, satu-satunya harapan bagi Delis di dunia ini.
Delis mengira bahwa dengan menikah dengan Kelven dan mengandung anaknya, Kelven akan menjadi rumahnya.
Tak disangka, mimpi Delis segera hancur begitu cepat.
Merasa ciuman pria yang semakin membara, Delis berusaha mengendalikan emosinya, menatap pria itu dengan penuh cinta dan derita.
Hanya dengan memikirkan apa yang dia dengar di depan pintu ruang kerja tadi dan menyadari bahwa ada seorang bayi kecil dalam perutnya, hatinya terasa sakit seolah-olah sedang disobek.
Sangat menyakitkan.
Saat ini, Delis sama sekali tak ingin Kelven menyentuhnya.
Saat pria itu tengah larut dalam ciumannya, tiba-tiba Delis mengangkat tangannya dan menahan dada Kelven, menolak dengan berkata,
“Kelven, aku nggak mau … ”
Seketika pria itu berhenti, menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Sementara terdengar suaranya yang rendah,
“Katakan sekali lagi.”
Delis menatap pria itu tanpa berkedip. “Aku nggak mau, kamu bisa berdiri nggak?”
Ini adalah pertama kalinya Delis menolak dirinya.
Meskipun Delis sudah berusaha mengontrol dirinya, dia tetap saja emosional.
“Alasan.”
Ditolak untuk pertama kalinya, Kelven merasa tak senang.
Delis melihat ekspresi kesal di wajahnya dan tanpa ragu bertanya,
“Siapa wanita yang ada di ruang kerjamu hari ini?”
Mendengar pertanyaan itu, pria itu menghindari tatapannya dan bangkit meninggalkan Delis.
Dia duduk di tepi tempat tidur, dengan santai memakai bajunya, sambil berkata dengan tenang, “Aku akan menikahinya ke depannya.”
Delis merasa sesak di dada, seperti tertusuk jarum yang tajam.
Tiba-tiba matanya menjadi merah, dengan nada penuh kesedihan, dia bertanya, “Lalu bagaimana dengan diriku? Apa artinya aku di hatimu?”
Kelven berdiri dan melihat ke arah wanita kecil yang tiba-tiba marah di tempat tidur, hatinya merasa sedikit cemas.
Namun, Kelven tetap tanpa ekspresi, suaranya terdengar datar,
“Kamu lupa mengapa kita menikah?”
Delis menahan emosi ingin menangis, dengan kehilangan kendali, dia berteriak,
“Aku nggak lupa, tapi apakah cinta dalam setengah tahun ini semuanya palsu? Aku pikir kamu mencintaiku dan nggak akan berpisah denganku, sehingga mengatakan mau punya anak denganku.”
“Kelven, kalau kamu mencintai orang lain, mengapa kamu nggak menikahinya sejak awal dan malah memilih untuk menikahiku?”
Bab 2
Delis tahu bahwa Kelven telah memberinya cukup banyak.
Dia seharusnya tidak lagi egois ingin memiliki Kelven sepenuhnya.
Namun sekarang Delis mengandung anaknya.
Delis harus memikirkan anaknya.
“Delis, kamu mau ribut denganku?”
Wajah Kelven semakin muram.
Kelven berdiri di depan tempat tidur, dengan angkuh menatap Delis yang berada di tempat tidur.
Dan tak berniat menjelaskan alasannya mengapa dirinya menikahi orang lain kepada Delis.
Delis tak ingin membuat Kelven marah.
Meski begitu, hatinya tetap tidak senang.
Delis berusaha untuk mengendalikan emosinya, dengan penuh kesedihan, dia berkata lagi,
“Aku hanya mau tahu, apakah kamu mencintaiku? Kalau aku melahirkan anak untukmu, bisakah kamu nggak berhubungan dengan wanita lain?”
Delis memberinya kesempatan.
Kelven mengunci bibirnya dengan erat, tubuhnya dipenuhi dengan aura dingin yang menakutkan.
Namun, Kelven tetap tanpa ragu mengatakan, “Kita pasti akan bercerai, tapi bukan sekarang. Saat waktunya untuk bercerai nanti, apa yang seharusnya kamu dapatkan akan aku berikan.”
Mendengar perkataan Kelven.
Delis memejamkan matanya dengan lembut, air mata hangat mengalir turun dari sudut matanya.
Hati Delis terasa sangat sakit. Dia akhirnya tak dapat menahannya dan menangis tak berdaya.
Kelven mengernyit sambil menatapnya, perasaan tak tega tumbuh dalam hatinya.
Kelven duduk di atas tempat tidur dan mengangkat tangan untuk menariknya. “Delis … “
Delis menepis tangan Kelven, tak ingin Kelven menyentuhnya.
Tahu bahwa Delis butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi Kelven juga tak lagi mengganggunya dan hanya berkata, “Istirahatlah.”
Kelven berbalik dan keluar dari ruangan.
Malam itu, Delis tidak tidur sepanjang malam.
…
Keesokan paginya.
Saat Delis sudah selesai mandi dan duduk di meja makan, dia tidak melihat sosok pria itu di seberangnya.
Dengan kecewa, Delis bertanya pada Bibi Siti yang sedang menata hidangan di sebelahnya,
"Dia nggak pulang semalam?"
Sambil menuangkan susu untuk Delis, Bibi Siti menghela napas dan menjawab,
“Iya, Pak Kelven pergi semalam dan belum pulang sampai sekarang. Nona bertengkar dengan Pak Kelvin semalam?”
Delis tidak menjawab, tetapi dengan penuh kepahitan dia bertanya lagi,
“Bibi Siti, kamu kenal dengan wanita yang ada di ruang kerja dia semalam?”
Bibi Siti menggeleng. “Aku nggak tahu. Ketika aku pulang berbelanja kemarin, Pak Kelven sudah ada di rumah. Aku nggak tahu dia membawa seorang wanita.”
“Aku baru menyadarinya ketika melihat wanita itu turun ke bawah semalam.”
Teringat bahwa wanita itu tidak hanya memiliki postur tubuh yang bagus, tinggi, tetapi juga cantik, Bibi Siti memandang Delis dengan khawatir.
“Pak Kelven pertama kali membawa pulang wanita lain, hubunganmu dengan Pak Kelven … “
Delis masih tidak menjawab.
Setelah makan sedikit, Delis mengambil tasnya dan berdiri.
“Bibi Siti, aku pergi kampus dulu. Beberapa hari ini aku nggak akan pulang. Kalau dia bertanya, katakan saja aku sibuk dengan ujianku dan tinggal di asrama.”
“Tapi bukankah hari ini akhir pekan? Akhir pekan juga mau ke kampus?”
“Iya, sebentar lagi ujian akhir, aku harus kembali ke kampus untuk belajar.”
“Baiklah, pergilah. Hati-hati di jalan.”
Delis menaiki taksi ke kampus.
Meskipun jadwal kuliah semester empat tidak begitu padat, dirinya ingin pergi dari rumah untuk merenung sejenak.
Jadi selama dua hari akhir pelan, Delis tinggal di kampus dan tidak pulang.
Untungnya, di asrama ada teman sekamar yang tidak pergi berlibur dan bisa menemaninya.
Melihat Delis duduk di depan meja sepanjang hari, terlihat sedang membaca, tetapi juga terlihat seperti sedang termenung. Yang jelas, ekspresinya sangat muram.
Novi mendekatinya dan bertanya, “Delis, apa kamu baik-baik saja? Mengapa kamu nggak pulang ke rumah akhir pekan ini? Bukankah rumahmu di sini?”
Delis melirik Novi dan tersenyum tipis. “Sibuk belajar.”
“Oh gitu. Oh ya Delis, minggu depan ada seminar dari Profesor Kelven. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Profesor Kelven secara langsung.”
“Aaaaa Profesor Kelven yang seharusnya bisa menguasai seluruh industri hiburan dengan penampilannya yang menawan, malah memilih untuk fokus pada kemampuannya di dunia bisnis.”
“Dan akhirnya menjadi orang terkaya di negeri ini, seorang pria berkelas dan anggun dengan kekayaan triliunan. Tak disangka bahwa dia akan datang lagi untuk kedua kalinya menjadi narasumber seminar di kampus kita. Kita benar-benar sangat beruntung.”
Novi berdiri dengan penuh semangat di samping Delis, terkadang juga menempelkan dirinya di pundak Delis, sambil berkata,
“Nanti kamu harus pergi lebih awal untuk mengambilkan tempat untukku, mengerti? Seminar dari Profesor Kelven tahun lalu sangat ramai, aku bahkan nggak bisa masuk.”
Delis hanya diam. “ … “
Kelven datang lagi untuk menjadi narasumber seminar di kampus mereka?
Dia sebagai istri bahkan tidak tahu, tapi teman sekelasnya sudah tahu lebih dulu.
Teringat bahwa Kelven tak hanya membawa pulang seorang wanita, tetapi juga ingin bercerai dengannya.
Delis kembali bersandar dengan penuh kesedihan di atas meja, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
Novi melihatnya tidak baik-baik saja, dengan cepat bertanya, “Delis, ada apa denganmu?”
Delis menggeleng. “Nggak apa-apa, hanya datang bulan saja.”
“Oh, kamu harus banyak minum air hangat.”
Delis mengiyakannya. Merasa sesak di dada, Delis mengambil ponselnya dan pergi keluar untuk menghirup udara segar di halaman kampus.
Baru saja keluar dari gedung asrama, ponselnya berdering.
Melihat panggilan dari Bibi Siti, Delis segera mengangkat telepon.
Di sisi telepon, Bibi Siti berkata, “Pulanglah Nona Delis, Pak Kelven sedang menunggumu di rumah.”
Tiba-tiba, Delis merasa ada firasat buruk, dia bertanya, “Ada bilang untuk urusan apa nggak?”
“Nggak ada, tapi ekspresi Pak Kelven sangat muram. Cepatlah pulang.”
“Iya.”
Delis menyimpan ponselnya dan berjalan menuju arah pintu gerbang kampus.
Delis tahu bahwa ada beberapa hal yang tak bisa dihindari.
Dan dia harus menghadapinya sendiri.
Saat dirinya pulang dengan taksi, waktu sudah jam sembilan malam.
Delis membuka pintu dan masuk, langsung melihat seorang pria duduk di sofa ruang tamu.
Dia masih mengenakan setelan jas yang belum dilepaskan dan dasi yang sudah terlepas setengahnya.
Sementara kancing kemejanya juga sudah dilepaskan dua, dengan lengan yang bertumpu di atas lutus dan tangannya sesekali menggeser-geser ponsel di tangannya.
Meskipun duduk begitu santai di sofa, tidak dapat disembunyikan aura kemewahan yang terpancar dari dirinya.
Dari sudut pandang Delis, pria di bawah cahaya lampu itu seakan-akan memancarkan cahaya dari seluruh tubuhnya, memberikan kesan pria dewasa yang memikat jiwa.
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, perlahan-lahan Delis mendekati pria itu.
Pria itu duduk dengan sikap yang berkelas. Ketika menoleh, kebetulan dia bertatapan dengan mata bengkak Delis.
Kelven mengernyit, ingin menunjukkan kepeduliannya tetapi tak mengucapkannya.
Delis berdiri di depannya dan dengan lembut memanggil, “Kelven.”
Delis ingin mencoba lagi untuk memperjuangkan pernikahan mereka.
Dan juga ingin berjuang untuk bayi di dalam kandungannya.
Bagaimana bisa bayinya lahir tanpa kehadiran ayah dan ibu.
Kelven menatap wanita di depannya, dengan tenang menjawab, “Hm.”
Delis merasa perih di dadanya. Meskipun dia tidak ingin merendahkan dirinya, dia benar-benar tidak ingin menyerah pada pernikahannya begitu saja.
Tanpa menyadari dokumen yang terletak di atas meja, Delis mendekatinya dan berinisiatif bersandar di dadanya, dia memohon,
“Kita jangan bertengkar lagi. Kita kembali seperti sebelumnya saja, ya?”
Asalkan Kelven menjawab iya.
Mengenai wanita yang muncul sebelumnya. Mengenai perceraian yang diungkit Kelven. Delis bahkan bersedia melupakannya.
Kelven melirik sepintas ke perjanjian perceraian di atas meja, lalu mengangkat tangannya dan mendorong orang dalam pelukannya.
“Delis awas, aku … “
Baru saja Kelven ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba Delis mengangkat dagunya dan mencium bibir Kelven.
Dua kaki mungilnya berlutut di pangkuan Kelven, kedua tangannya melingkar di leher Kelven, memeluknya sambil menciumnya dengan penuh gairah.
Kelven pernah mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai tubuh Delis.
Jika dengan cara ini bisa membuat Kelven tetap tinggal, untuk mempertahankan pernikahannya dan memberikan rumah yang utuh untuk bayinya yang belum lahir.
Delis bersedia melakukan apa pun.
Bab 3
Dengan rasa kecewa yang masih terpendam, Delis memeluk leher pria itu dan menciumnya dengan penuh gairah.
Kelven adalah pria normal, bagaimana dia bisa menahan rayuan yang begitu menggoda dari seorang wanita cantik seperti itu.
Kelven memeluknya dengan erat, meresponnya dengan ciuman yang penuh gairah.
Sambil mengambil surat perjanjian perceraian dari atas meja dan melemparkannya ke dalam laci. Kelven kemudian menggendong tubuh kecil Delis. Sambil menciumnya, sambil berjalan ke lantai atas.
Delis terlalu kecil dan kurus, sehingga saat digendong oleh pria itu, dia terasa begitu ringan.
Ketika diletakkan di tempat tidur, barulah Delis menyadari bahwa dirinya tak seharusnya melakukan ini.
Ada bayi di dalam kandungannya, bagaimana kalau keguguran?
Melihat Kelven membungkuk mendekat, Delis segera mengangkat tangannya dan menahan dada Kelven.
Saat ini, Kelven tak peduli dengan penolakan Delis, tetap bersikeras untuk menciumnya.
Delis tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa membiarkan Kelven terus melanjutkannya, jadi dia langsung berkata,
“Kelven, jangan begitu, aku nggak enak badan. Hari ini sampai di sini saja ya?”
“Sudah terlambat.”
Suara pria itu rendah, saat hendak melanjutkan langkah selanjutnya, Delis cepat-cepat mendorongnya dan duduk bersimpuh di ujung tempat tidur.
Kelven melihat gerakan Delis dengan bingung.
“Apa maksudnya?”
Jelas-jelas dia yang memulai, mengapa sekarang malah menolak?
Delis menjawab dengan gagap, “Aku … aku datang bulan.”
Kelven terdiam sejenak, seolah-olah sedang mengingat tanggal datang bulan Delis.
Sepertinya memang benar-benar beberapa hari ini.
Tiba-tiba, Kelven merasa sedikit kecewa. Dengan ekspresi tak senang, dia berkata, “Lain kali kalau datang bulan, jangan perlakukan aku seperti itu.”
Kelven merasa situasinya menjadi sangat canggung.
Turun dari tempat tidur, Kelven langsung melangkah ke kamar mandi.
Delis merasa lega melihat kepergian Kelven. Untung saja, tadi hampir saja dia kehilangan kendali dirinya.
Kelven tidak menolak untuk dekat dengan dirinya, apakah ini berarti masih ada kesempatan untuk kembali?
Memikirkan ini, Delis segera bangun dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju tidur.
Delis juga sekalian mengambilkan satu set baju dan meletakkannya di depan pintu kamar mandi. Dia berkata pada pria di dalam, “Kelven, baju tidurnya aku letakkan di sini ya.”
“Hm.”
Delis duduk di atas tempat tidur menunggu pria di dalam kamar mandi.
Setelah sekitar sepuluh menit, Kelven baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur satin berwarna abu-abu, terlihat sangat anggun.
Delis memaksa dirinya untuk tidak memikirkan hal-hal sebelumnya. Dia berdiri di tepi tempat tidur, membuka kedua tangannya sambil berkata dengan manja, “Peluk~”
Kelven tidak menolak. Dia mendekati Delis, memeluk pinggang kecilnya. Ekspresi wajah Kelven menjadi lebih lembut dan nada bicaranya juga menjadi lembut.
“Sudah nggak marah, ‘kan?”
Delis menggelengkan kepalanya dan bersandar di bahunya, tanpa berbicara.
Kelven meraba-raba pantat kecil Delis dan berkata, “Delis, kamu kurusan ya? Kenapa begitu ringan?”
“Karena kamu yang membuatku marah, makanya kurusan,” keluhnya sambil mengerucutkan bibir kecilnya.
Kelven mengenyitkan keningnya dan menyipitkan matanya memandang Delis.
“Wah, kalau begitu aku berdosa sekali ya. Lapar nggak? Mau aku turun minta Bibi Siti buatkan makanan untukmu?”
Delis mengangguk, masih ada sedikit tidak puas dalam hatinya.
Pria itu menepuk punggungnya, saat menggendongnya untuk turun ke bawah, tiba-tiba ponsel yang diletakkan di meja samping tempat tidur berdering.
Kelven menggendong Delis berbalik dan kembali ke tempat tidur untuk mengambil ponsel, lalu melihatnya sebentar.
Delis juga melihat tampilan panggilan di layar ponsel, bertuliskan Herli Pohan.
Detik berikutnya, Delis melihat Kelven langsung menghalangi di depannya. Satu tangan memeluknya, sementara tangan yang lain menjawab panggilan itu.
Karena Delis tengah bersandar di bahu Kelven, dia bisa mendengar dengan jelas suara wanita yang meminta tolong dari ponsel.
“Kelven, kakiku nggak sengaja keseleo, hanya aku sendirian di rumah. Bisakah kamu datang membantuku?”
Kelven tak menolak. “Iya, aku segera datang.”
Usai menutup telepon, Kelven langsung meletakkan wanita dalam pelukannya di tempat tidur.
Tiba-tiba Delis sangat marah, memeluknya dan dengan marah bertanya, “Siapa dia? Wanita yang mau kamu nikahi?”
“Hm.” Kelven tak membantah.
Mendengar itu, Delis merasa dadanya begitu sesak.
Delis berusaha menahan amarah dalam hatinya dan bertanya padanya, “Harus pergi?”
“Hm.”
“Bagaimana kalau aku melarangmu pergi?”
Kelven merasa tak berdaya. “Delis, jangan ribut.”
“Apa aku sedang ribut? Kamu adalah suamiku, suami Delis. Sekarang kamu malah mau pergi menemani wanita lain tanpa rasa bersalah?”
Delis ingin melihat apakah Kelven berani keluar dari rumah ini.
Jangan menganggap dirinya mudah untuk dipermainkan hanya karena dirinya masih muda.
Kelven mengatupkan bibirnya dengan erat, wajah tampannya terlihat sangat muram.
“Delis, siapa yang memberimu keberanian untuk bicara seperti ini padaku?”
Melihat ekspresi Kelven yang begitu garang, Delis merasa cemas dan takut.
Namun, dirinya juga tak puas.
“Pokoknya, aku nggak izinkan kamu pergi. Kalau kamu berani pergi, aku akan membuatmu menyesal.”
Tampaknya Kelven tak ingin banyak bicara. Dia bersikeras mengganti pakaiannya dan pergi.
Melihat Kelven sedang mengganti pakaian, Delis menyadari bahwa Kelven akan pergi.
Tiba-tiba, Delis merasa panik dan tak tahu harus bagaimana. Delis merendahkan diri dan memohon, “Kelven, jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku bisa melahirkan anak untukmu.”
Kelven sudah selesai mengganti pakaiannya dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap yang angkuh dan dingin.
“Delis, orang yang mau aku nikahi sudah kembali. Posisi Nyonya Rosli adalah miliknya dan kamu harus mengembalikannya padanya.”
Delis seperti mendapat pukulan keras di kepala, kepalanya terasa berdengung.
Terutama hatinya yang berdenyut-denyut, sangat menyakitkan.
Delis duduk di sana, menatap pria di depannya dengan tak berdaya. “Kamu sangat mencintainya? Dibandingkan denganku, dia lebih penting bagimu?”
“Kita harus cerai,” ujar Kelven tanpa menjawab pertanyaan.
“Kenapa?”
Delis tidak mengerti mengapa pria ini bisa begitu tak berperasaan.
Apakah kehidupan pernikahan mereka yang penuh kasih sayang selama enam bulan benar-benar hanya pura-pura?
Apakah semua keindahan yang pernah Kelven berikan padanya hanyalah pura-pura?
Delis tidak percaya, air mata tiba-tiba mengisi sudut matanya, dia dengan sangat rendah mencoba untuk memohon lagi,
“Bagaimana kalau aku mengandung anakmu, kamu masih akan bercerai denganku dan menikahinya? Tak peduli apa yang aku lakukan, kamu akan meninggalkanku?”
Kelven tidak tahan melihat mata Delis yang penuh dengan air mata.
Kelven menghindari tatapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Suara rendahnya terdengar,
“Aku akan menikahinya, tapi aku juga nggak akan meninggalkanmu. Kalau kamu ada kesulitan kedepannya, aku masih akan membantumu.”
“Aku nggak butuh~”
Dengan suara yang penuh tangisan, Delis berteriak,
“Kalau mau hidup bahagia bersama-sama, jangan berkhianat satu sama lain. Kalau nggak, hidup masing-masing, menjadi orang asing, seolah nggak pernah bertemu.”
“Pilih aku atau dia.”
Kelven kehilangan kesabaran.
Dengan dingin, Kelven berkata, “Suka hatimu.”
Kelven membanting pintu dan pergi.
Melihat kepergian Kelven, Delis berteriak histeris, “Kelven, Kelven, kembalilah.”
Namun, tak peduli bagaimana dia berteriak, pria itu tetap pergi.
Delis duduk lemas di atas tempat tidur, rasa sakit di dadanya seperti darah yang menetes.
Mengapa semua ini bisa terjadi?
Padahal sekarang dirinya adalah istri sahnya dan mereka sudah diakui secara hukum.
Mengapa Kelven harus meninggalkannya dan menemui orang lain?
Bahkan jika Kelven berencana untuk menikahi wanita itu dan tidak bisa memberikan sedikitpun martabat pada dirinya, tetapi mereka bahkan belum bercerai saat ini.
Terbaring di atas tempat tidur, Delis merasa seolah-olah dia jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, semua ketakutan dan bahaya mendatang padanya seakan-akan mengerumuninya.
Delis sangat ketakutan.
Sepanjang malam, dia gemetar dan terdiam di ujung tempat tidur, pikirannya kosong.
Esok paginya, dengan semangat yang lesu, Delis turun ke lantai bawah, kembali ke kampus sendirian dengan perasaan yang campur aduk.
Hari ini adalah hari senin dan ada beberapa kelas yang harus dihadiri.
Meskipun pernikahannya tak bahagia, pendidikannya tak boleh terbengkalai.
Setelah bersusah payah bertahan hingga semua kelas selesai di sore hari. Delis menunduk melihat ponsel di tangannya, tetapi tidak ada pesan sama sekali dari pria itu.
Seorang temannya berbisik di telinganya, “Delis, ayo pergi ke kantin makan.”
Delis berdiri dan pergi bersama temannya.
Saat Delis berjalan setengah jalan, seorang gadis berlari mendekat dan berdiri di depannya, bertanya, “Kamu Delis ya?”
Delis mengangguk. “Ada apa?”
“Ada orang yang mencarimu di depan gerbang kampus, menyuruhmu cepat pergi ke sana.”