Bab 5
Delis merasa bingung. “Apa yang kamu katakan?”
“Dengarkan baik-baik, jangan pernah lagi cari masalah dengan Herli. Jangan membuatku sulit.”
“ … ”
“Sudah, aku matikan dulu teleponnya.”
Belum smepat Delis memberikan penjelasan dan membantah, Kelven sudah langsung menutup teleponnya.
Jadi wanita jahat itu melapornya lebih dulu?
Brengsek.
Padahal dia yang duluan datang mencari masalah, malah lapor duluan ke Kelven?
Delis sangat kesal, dengan berusaha menahan ketidakpuasan dalam hatinya, dia kembali ke kampus.
Selama beberapa hari ini, dia tinggal di kampus dan tak pulang ke rumah. Dia juga tak mengirim pesan atau menelepon Kelven sama sekali.
Tentu saja, pria itu juga tidak pernah berinisiatif menghubunginya.
Hingga hari jumat, sebuah seminar yang menggegerkan seluruh kampus mereka dimulai.
Delis duduk termenung di depan meja belajarnya di asrama, sementara Novi sibuk merapikan barang-barang sambil mencari-cari ponselnya.
Setelah menemukan ponselnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar, Novi melihat Delis masih duduk di sana tidak bergerak. Dia kembali melihat Delis dan bertanya,
“Delis, ada apa denganmu? Ayo, seminar dari Profesor Kelven sudah mau dimulai.”
Delis tetap diam. “Kalian berdua pergi saja, aku nggak ikut.”
“Apa? Kamu nggak ikut? Ini seminar dari Profesor Kelven loh. Bahkan banyak universitas di seluruh negara juga nggak ada kesempatan ini. Apalagi seminar kali ini diadakan di aula besar, bisa menampung seluruh mahasiswa. Kenapa kamu nggak mau pergi?”
“Aku nggak enak badan.”
“Bagian mana yang nggak enak?”
“Kalian pergi saja, aku nggak tertarik dengan seminarnya.”
Novi merasa agak bingung. Delis yang biasanya suka belajar, seharusnya tak mungkin tak tertarik pada seminar seorang pria sukses. Mengapa kali ini dia terlihat begitu muram.
Namun, teringat seminar akan segera dimulai, Novi pun tidak lagi memaksanya.
“Yasudah, kamu tinggal di sini sendiri. Aku pergi dulu ya.”
“Hm.”
Setelah teman sekamarnya pergi, hanya tersisa Delis sendiri di dalam kamar.
Sebenarnya dia sangat ingin pergi mendengarkan seminar dari Kelven.
Sama seperti seminar tahun lalu.
Tahun lalu, Kelven berdiri di podium dengan pakaian rapi, berkelas, berwibawa dan bersinar gemilang. Kehadirannya memikat seluruh dosen dan mahasiswa di bawah panggung.
Delis pun tidak terkecuali.
Saat itu, Delis duduk di antara kerumunan, menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia sangat ingin mendekatinya, mengatakannya secara langsung pada Kelven bahwa dirinya menyukainya.
Tentu saja, saat itu dia tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti dirinya akan menjadi istrinya.
Teringat enam bulan pernikahannya yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan dan keindahan, Delis tidak ingin menyerah begitu saja.
Meskipun mendengar dari mulut Kelvin sendiri bahwa posisi Nyonya Rosli adalah milik orang lain, Delis juga tak ingin melepaskannya. Delis tak ingin mengembalikannya pada orang lain.
Pernikahannya hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri.
Delis bersandar di atas meja belajarnya, dengan keras memaksa dirinya untuk meredakan perasaannya.
Perlahan-lahan dia tertidur.
Delis terbangun karena dikejutkan oleh keributan dari tiga teman sekamarnya di dalam kamar.
“Astaga, Profesor Kelven benar-benar ganteng. Saat berdiri di atas panggung dan berbicara, dia benar-benar seperti dewa. Bagaimana mungkin ada pria sehebat ini di dunia ini?”
“Iya, betul sekali. Aku diam-diam memotret dia. Mulai sekarang, suamiku adalah Profesor Kelven.”
“Profesor Kelven sangat ganteng, sayang sekali kalau dia nggak masuk dunia hiburan.”
“Dunia hiburan yang begitu rumit nggak sebanding dengan status Profesor Kelven. Dia sudah sangat baik sekarang, seorang pebisnis hebat, orang terkaya di negara ini, sesekali memberikan seminar di universitas, sudah sangat baik.”
“Pria seindah itu, entah wanita mana yang bisa sepadan dengannya.”
“Eh, Profesor Kelven bermarga Rosli, perusahaannya bernama Deli Jaya. Tidakkah kalian merasa ini sangat kebetulan dengan nama Delis Rosli?
Novi terkejut. “Iya, Delis dan Profesor Kelven tak hanya punya marga yang sama, tapi nama Delis juga hampir sama dengan perusahaan Profesor Kelven. Kebetulan sekali.”
Melihat Delis sudah bangun, mereka langsung mendekat dan bertanya, “Delis, kamu kenal dengan Profesor Kelven?”
Delis menatap mereka tanpa menjawab.
Nadya berkata, “Bagaimana mungkin Delis kenal dengan Profesor Kelven. Mungkin hanya kebetulan saja. Apalagi banyak sekali yang bermarga Rosli di dunia ini. Di kampus kita saja ada beberapa orang yang bermarga Rosli.”
Salah satu teman yang lain juga setuju. “Iya juga.”
Kemudian, mereka sibuk menunjukkan foto yang baru saja dipotret pada Delis.
“Delis lihat, Profesor Kelven ganteng sekali. Apa dia tipe yang kamu suka? Hari ini semua dosen dan mahasiswa di kampus ada di sana, suasananya benar-benar mengesankan.”
Delis melihat foto Kelven di ponsel temannya. Hari ini Kelven mengenakan setelan jas hitam dengan kemaja abu-abu, berdiri tegak dengan sikap yang elegan.
Mungkin itu adalah keanggunan yang lahir bersamanya. Tak peduli di mana dia berada, tubuhnya selalu bersinar.
Memang sangat tampan.
Delis berdiri dan menghindari topik pembicaraan temannya. “Aku pergi ke perpustakaan dulu.”
Teman-temannya tidak lagi memperhatikannya dan melanjutkan pembicaraan tentang pujaan hari mereka, Profesor Kelven.
Delis baru saja keluar dari kamar, ponselnya berdering.
Delis melihat layar panggilan, ternyata dari asisten pribadi Kelven, Pak Mudi.
Delis tanpa ragu menjawab panggilan dan pria itu berkata, “Nona Delis, siap-siap, kami akan menjemputmu di area parkir untuk pulang.”
Delis terdiam, “ … “
Mereka?
Kelven juga ada?
Teringat dengan Kelven yang memarahinya dengan kasar tanpa alasan yang jelas, Delis dengan tekad menolak,
“Aku mau belajar di kampus, minggu ini nggak mau pulang.”
Ponsel asisten direbut oleh Kelven, suaranya terdengar lembut, “Delis, ikut pulang denganku.”
Namun, begitu mendengar suara Kelven, Delis langsung luluh.
Namun, Delis menahan emosinya, tetap dengan nada tidak senang, “Aku nggak mau pulang.”
“Hm? Kamu mau aku menjemputmu di depan asrama? Yoklah.”
Suara Kelven tersengar semakin lembut.
Delis tahu, meskipun hatinya masih tidak puas, dia tetap saja tidak bisa menahan pesona dari pria tua itu.
Delis mengerucutkan bibirnya, terpaksa menjawab, “Yasudah~”
Setelah menutup ponselnya, Delis kembali ke asrama untuk merapikan bukunya.
Teman-temannya melihatnya kembali dan bertanya, “Delis, bukankah kamu pergi ke perpustakaan? Kenapa kembali lagi?”
Delis merapikan bukunya sambil menjawab, “Orang rumahku meneleponku untuk pulang, jadi aku mau pulang dulu.”
Teman-temannya iri. “Memang enak kalau tinggal di dekat sini. Bisa pulang kapan saja. Delis, kamu beruntung sekali.”
“Delis, kalau ada kesempatan, undanglah kami ke rumahmu.”
Delis selesai merapikanya, dia menatap tiga teman sekamarnya dengan senyuman ringan sambil mengangguk.
“Iya, kalau ada kesempatan, aku pasti mengundang kalian ke rumahku. Aku pergi dulu ya.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Delis keluar dari asrama, bergegas menuju tempat parkir di kampus.
Tiga teman sekamarnya sangat baik. Ini adalah pertama kalinya mereka mengatakan ingin berkunjung ke rumahnya.
Namun, rumah tempat tinggalnya adalah milik Kelven dan hubungannya dengan Kelven juga rahasia. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengajak mereka ke rumahnya.
Apalagi, mengingat bahwa dirinya akan bercerai kapan saja.
Bab 6
Tiba di tempat parkir, dari kejauhan Delis melihat mobil Lincoln hitam yang paling mewah terparkir tidak jauh darinya.
Asisten juga melihat Delis, dia segera turun dari mobil untuk membukakan pintu kepadanya.
Begitu duduk di dalam mobil, Delis melihat pria di kursi belakang yang mengenakan setelan jas hitam.
Kelven menyebarkan pesona pria dewasanya yang begitu memikat sehingga membuat orang sulit untuk menolak.
Namun, Delis seolah-olah tidak melihatnya dan langsung duduk dengan patuh di sampingnya.
Delis melihat orang di sebelahnya, sepertinya sudah melupakan pertengkaran mereka sebelumnya.
Kelven mengernyit dan terdengar suara lembutnya, “Kamu nggak pergi seminar?”
Kelven tidak melihatnya dari atas panggung.
Delis lebih cantik dari mahasiswa lainnya, tidak peduli di mana pun dia berada, Kelven selalu bisa menemukannya hanya dengan satu pandangan.
Namun, dia tidak melihat Delis di aula kampus hari ini.
Delis memalingkan kepala dan melihat ke luar jendela, sengaja tak melihat ke arah Kelven. Delis menjawab, “Nggak pergi.”
“Kenapa nggak pergi?”
“Orang yang mau cerai denganku pasti nggak mau melihatku.”
“Hm???”
Kelven mengernyit dan tersenyum getir.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkul Delis. “Masih marah?”
Delis menjauhkan tangan pria itu. “Pak Kelven, tolong jaga batasan dirimu.”
Kelven terdiam, “ … “
Kenapa wanita kecil ini seperti seekor landak yang penuh dengan duri?
Kelven memaksa untuk meraih tubuhnya, dengan lembut menghiburnya, “Jangan marah lagi, aku bahkan sudah datang menjemputku di kampus.”
Delis sangat berpendirian, dia kembali menjauhkan tangan pria itu dan berbalik membelakanginya. “Datang menjemputku? Kamu datang untuk menghadiri seminar.”
“Lalu, kamu tahu nggak kenapa aku datang menghadiri seminarnya?”
“Mana kutahu.”
“Kalau nggak tahu, jangan asal bicara. Jangan pasang muka datar seperti itu lagi, ayo sini balik dan lihat aku.”
Kelven kehabisan kesabaran.
Sejak kapan Kelven pernah begitu memanjakan orang?
Delis malah semakin tidak menghiraukannya.
Delis masih merasa sangat tak senang, tetapi menghadapi Kelven yang begitu angkuh, terkadang dirinya benar-benar hanya bisa menuruti semua yang dikatakannya.
Delis berbalik sambil menundukkan kepalanya, sangat sedih dan hampir menangis.
Kelven melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan, perasaan sayang timbul di hatinya.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkulnya ke dalam pelukannya. Dengan lembut menghiburnya, “Sudahlah, lupakan saja yang sudah berlalu. Delisku jangan bersedih lagi.”
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Kamu bahkan sudah memutuskannya.”
Bahkan mengatakan bahwa pernikahan ini harus berakhir, kenapa sekarang Kelven tiba-tiba begitu lembut?
Apakah Kelven menganggap Delis seperti anak kucing atau anak anjing yang hanya cukup dengan dihibur begitu saja?
“Kalau kamu nggak mau cerai sekarang, kita nggak perlu cerai sekarang. Aku nggak pernah mengatakan bahwa kita harus bercerai sekarang.”
Kelven menggendongnya duduk di atas pangkuannya, menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata dengan tak berdaya,
“Delis, jangan menangis lagi. Sudah begitu dewasa masih perlu aku hibur?”
“Siapa yang bilang aku butuh dihibur? Lepaskan aku, aku bisa duduk sendiri.”
Delis bersikeras untuk turun dari pangkuannya.
Ekspresi Kelven tiba-tiba menjadi muram, memeluknya dengan erat. “Jangan buat aku marah.”
Delis melihat pria tua itu. Melihat ekspresi wajahnya yang muram, dia tidak berani lagi melawan.
Akhirnya, dia hanya bisa bersandar di dada pria itu dengan kesal.
Delis menjelaskan kejadian pada hari itu, “Hari itu bukan aku yang mencari masalah dengan perempuan itu, dia yang datang … “
“Kejadian yang sudah berlalu bairlah berlalu, nggak perlu dibahas lagi.”
Kelven memotong pembicaraannya, hanya ingin diam-diam memeluknya dengan lembut.
Delis tidak terima, dia melanjutkan, “Jelas-jelas perempuan itu yang datang ke kampusku dan mencariku … “
“Delis, sudah kubilang jangan bicarakan lagi.”
Dengan tegas dan dingin, Kelven memotongnya lagi.
Delis terdiam, menegakkan tubuhnya dan menatapnya dengan mata terbelalak.
Kelven juga menatapnya dengan wajah yang dingin dan muram.
“Mulai sekarang, kamu nggak boleh mencarinya lagi, apalagi memukulnya. Perceraian denganku nggak ada hubungannya dengan dia. Kalau kamu nggak senang, bisa melampiaskannya padaku.”
Delis terdiam, “ … “
Sepertinya Kelven masih lebih peduli dengan perempuan itu.
Rasa sakit di dada Delis, seperti ada pisau yang menusuk.
Delis melepaskan pria itu dengan marah, duduk di samping dan melihat keluar jendela. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kelven juga tidak lagi menghiraukannya.
Setelah tiba di rumah, melihat Delis tidak mau turun dari mobil, masih dengan wajah penuh kekesalahannya.
Kelven mencoba mendekat dan menggendongnya.
Delis sangat emosional. Dia menghempas tangan Kelven dan melompat keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah.
Kelven hanya bisa mengikutinya di belakang dengan tak berdaya.
Saat makan malam, hanya mereka berdua di meja makan. Tetapi, Delis tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus pada makanannya.
Setelah selesai makan, Delis kembali ke kamarnya, berpura-pura membaca buku.
Kelven juga tidak menghiraukannya, dia pergi ke ruang kerja dan kerja sebentar. Ketika jam sepuluh malam, dia baru masuk ke kamar.
Kelven mandi dan mengenakan handuk, kemudian berdiri di samping tempat tidur. Melihat Delis masih sibuk membaca, dia merangkak ke atas tempat tidur dan mengambil buku dari tangannya.
Delis tahu apa yang ingin dilakukan Kelven.
Dengan mata memerah, Delis bertanya, “Kami menganggapku apa? Hanya sebuah alat untuk mengusir kesepian saja?”
Tadinya Kelven bermaksud untuk menciumnya.
Bagaimanapun, sejak pulang dari perjalanan bisnis, mereka belum pernah berhubungan intim.
Sudah sekitar dua puluh hari.
Namun, ketika mendengar kata-kata perempuan di depannya, Kelven tiba-tiba kehilangan minat.
“Delis, mau sampai kapan kita harus bertengkar seperti ini?”
Jika bukan karena Kelven peduli dan memanjakannya, tidak ada wanita di dunia ini yang berani menunjukkan wajah muram di depannya.
Kesabaran Kelven ada batasnya.
Melihat Kelven marah, Delis semakin sedih.
“Aku hanya mau tanya, bagimu aku ini apa? Istrimu atau bukan? Kalau memang istrimu, kenapa kamu malah mau cerai dan menikahi orang lain?”
“Aku nggak mau ribut samamu, tapi hatiku nggak enak.”
“Kelven, kamu tahu betapa menderitanya aku beberapa hari ini? Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?’
Delis tak mengerti, Kelvin bahkan ingin bercerai dengannya, mengapa masih melakukan ini padanya.
Kelven tidak menjawab.
Melihat Delis menangis lagi, perasaan Kelven terasa campur aduk.
Kelven langsung menarik Delis ke dalam pelukannya, lalu mengubah nada bicaranya menjadi lembut,
“Maaf, ini salahku.”
“Aku nggak mau maaf darimu, aku hanya mau kamu menjauh dari wanita itu. Jangan cerai denganku, kita bisa hidup bersama dengan baik.”
Delis tidak tahan dan menangis lagi.
Kesedihan yang telah ditahan selama beberapa hari akhirnya meledak.
Melihat Delis menangis, perasaan Kelven terasa seperti tersayat.
Kelven memeluknya dengan erat dan menghiburnya, “Sudah sudah, kita nggak akan bercerai.”
Delis tampak sedikit terkejut, dia mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata berkaca-kaca. “Benarkah?”
“Hm.”
Kelven memeluknya dengan erat, perasaannya bercampur aduk.
Tiba-tiba, terdengar suara Bibi Siti dari luar pintu kamar, “Pak Kelven, apakah bapak sudah tidur?
Kelven masih tetap memeluk orang dalam pelukannya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar dan menjawab, “Ada apa?”
“Pak Kelven, seorang gadis bernama Herli datang. Dia ada di bawah dan mengatakan ingin bertemu denganmu.”
Kelven mengernyit, tidak mengerti mengapa Herli datang sekarang.
Kelven bersiap untuk berdiri dan mengenakan pakaiannya.
Delis juga tak menyangka bahwa wanita itu begitu tak tahu malu untuk datang lagi.
Tentu saja, yang lebih membuat Delis marah adalah pria di sampingnya ini.
Setelah tahu bahwa wanita itu datang, Kelven langsung melepaskan pelukannya dan hendak turun ke bawah.
Dengan mata memerah, Delis melihat pria yang sedang mengganti pakaian dan bertanya, “Bagaimana rencanamu untuk menghadapinya?”
“Aku akan turun dulu, kamu tidur dulu saja.”
Bagaimana mungkin Delis bisa tertidur.
Delis ingin melihat apa tujuan wanita tak tahu malu itu datang ke sini.
Dan melihat bagaimana Kelven menangani masalah ini.
…
Kelven mengenakan pakaian rumahan, berdiri tegak dan melangkah menuruni tangga. Saat dia melihat ke arah sofa di ruang tamu, langsung melihat wanita yang duduk di sana.
Herli juga melihatnya.
Herli segera berdiri dan menyambutnya, berpura-pura dengan wajah lembutnya. “Kelven, apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?”
Kelven menuruni dua anak tangga lagi dan berdiri di depan Herli. Dia menjawab dengan sedikit datar, “Tidak, kenapa kamu datang jam segini?”
“Tadinya aku sudah tidur jam sembilan, tapi setiap kali aku tertidur, aku selalu bermimpi tentang kecelakaan itu. Aku takut, aku nggak berani tinggal sendirian di rumah, jadi aku datang mencarimu.”
“Kelven, kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Dengan wajah yang begitu sedih, Herli menatap pria gagah di depannya. Dia yakin, begitu dia menyebut kecelakaan itu, pria itu tidak akan menolaknya.
Itu adalah hutang Kelven padanya.
Kelven pantas menggunakan seluruh hidupnya untuk menebus kesalahan itu.
“Nggak keberatan.”
Wajah tampan Kelven tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya menoleh melihat Bibi Siti dan berkata, “Siapkan kamar tamu untuknya.”
Bibi Siti mengangguk dan pergi.
Kelven melewati Herli dan menuju ruang tamu. Lalu dengan penuh perhatian bertanya, “Perjalanan yang begitu jauh, lapar nggak? Mau makan?”
Melihat bahwa sikap Kelven selalu begitu lembut padanya, Herli tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya.
“Aku nggak lapar, hanya nggak bisa tidur saja. Bagaimana kalau kita berdua ngobrol saja?”
Herli duduk di sebelah Kelven.
Kelven menuangkan segelas air untuk Herli. Ketika hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba melihat ke arah tangga dan melihat Delis berdiri di sana.
Bab 7
Delis juga melihat dua orang yang duduk di ruang tamu.
Meskipun sangat membenci wanita itu, Delis bahkan tidak ingin melihatnya sekejap mata pun.
Namun, melihat wanita itu datang dan ingin merebut suaminya, bagaimana mungkin dia bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa?
Mencoba merebut suaminya di depan mata dirinya? Mustahil.
Delis melangkah turun tangga tanpa mengenakan alas kaki.
Kelven melihat tubuh Delis yang kurus, mengenakan gaun tidur tipis dengan tali bahu, begitu menawan dan menggoda.
Namun, kedua kaki mungilnya yang putih itu tidak mengenakan alas kaki. Tiba-tiba, Kelven mengernyit dengan tidak senang, berkata,
“Kenapa nggak pakai alas kaki?”
Delis tak menghiraukannya, dia berusaha menahan kemarahannya, melangkah lurus menuju Kelven.
Herli juga melihat Delis yang sedang mendekat.
Melihat dia mengenakan pakaian tipis dan tak memakai alas kaki, wajah mungilnya dipenuhi dengan ekspresi polos dan menyedihkan.
Tiba-tiba, Herli merasa bahwa untuk menghadapi wanita ini, mungkin diperlukan usaha ekstra.
“Kelven, aku nggak enak badan,” ujar Delis.
Berdiri di samping Kelven, Delis dengan polos mendorong dirinya dengan penuh kesedihan ke dalam pelukannya.
Bahkan duduk di pangkuan Kelven di depan mata Herli. Kedua tangannya juga melingkar di leher Kelven.
Kelven sebenarnya ingin menyingkirkannya, tapi melihat dia tak memakai alas kaki, jadi hanya bisa menggendongnya. Kelven menatap Herli dan berkata,
“Dia masih polos, jangan keberatan.”
Kemudian, Kelven langsung menggendong Delis ke rak sepatu untuk mengambil alas kaki.
Tubuh mungil Delis bergantung manja di tubuh pria itu, dagunya bersandar di bahunya. Dengan tatapan menantang, dia memandang Herli yang duduk di sofa dengan raut wajah tak senang dan penuh kecemburuan.
Herli selalu merasa bahwa Kelven berhutang padanya.
Tidak peduli apa yang diminta Herli, Kelven pasti akan menyetujuinya.
Bahkan bercerai dan menikahi dirinya, Kelven juga tak akan menolak.
Namun saat ini, dia melihat Kelven menggendong istri mudanya untuk memakai alas kaki, tiba-tiba Herli merasa sangat mempermalukan diri sendiri.
Untuk apa dirinya datang ke sini?
Apakah untuk melihat mereka bermesraan?
Saat ini, Herli merasa sangat malu, marah dan tak berdaya.
Setelah mengambil alas kaki dari rak, Kelven menempatkan Delis duduk di pangkuannya dan membantunya memakainya. Kelven kemudian menatapnya dan berkata,
“Pergi ke kamar dan istirahat, jangan buat masalah.”
Delis pura-pura tidak mendengar, dia merangkul leher Kelven dengan erat dan berkata, “Aku nggak bisa tidur, hanya mau memelukmu.”
“Aku mau membahas sesuatu dengan Herli.”
Kelven mencoba melepaskan tangan mungilnya.
“Nggak mau~”
Namun, begitu dia mencoba melepaskan, orang di pundaknya malah bersikeras dengan manja dan hampir menangis, berbisik di telinganya,
“Nggak mau … aku nggak akan mengganggumu. Aku hanya perlu memelukmu seperti ini, kamu bisa berbicara dengannya, ya?”
“Nggak pantas.”
“Kenapa nggak pantas? Aku kan istrimu.”
Kelven terdiam.
Orang-orang selalu mengatakan bahwa Kelven itu dingin dan angkuh, memiliki sifat yang tegas dan kejam dalam bertindak.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa dia tak tahan dengan rayuan manja seorang wanita kecil.
Seperti saat ini, dia tak bisa menahan dan akhirnya memilih untuk memeluknya, kembali ke ruang tamu.
Melihat bahwa Kelven tidak melepaskannya, Delis pura-pura tidur dengan berbaring di bahunya.
Herli tak menyangka bahwa Kelven akan membantu Delis memakai alas kaki dan bahkan menggendongnya kembali.
Herli melihat dua orang yang saling berpelukan dengan erat di depannya, mata Herli seakan-akan bisa melepaskan mata pisau.
“Herli, bagaimana kalau kamu istirahat dulu? Kita bisa bicara besok. Bocah ini sedang sakit dan butuh aku menemaninya.”
Herli terdiam.
Siapa yang bisa mengerti perasaannya saat ini?
Dia datang ke sini hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri?
Tidak!
Bagi Herli, pria di depannya ini adalah miliknya. Kelven harus menggunakan seumur hidupnya untuk menebus hutang padanya. Mengapa dirinya harus bertahan dalam kesendirian sementara pria itu bisa menikah dan berkeluarga?
Kalaupun dirinya tak bisa memiliki anak, Kelven juga harus berkorban untuk menemaninya seumur hidup.
Herli sangat ingin melampiaskan kemarahannya.
Namun pada akhirnya, Herli memaksa dirinya untuk menahan semua kemarahannya dan melanjutkan untuk berpura-pura tenang, berkata dengan lembut,
“Iya, aku istirahat dulu. Tapi Kelven, kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya. Aku harap kalian berdua nggak akan seperti ini lagi di depanku.”
Ekspresi Herli terlihat sedikit marah dan kemudian mengikuti Bibi Siti ke lantai atas.
Delis yang bersandar di bahu Kelven, menatap kepergian Herli dengan tatapan yang sangat tajam.
Kata-kata Herli tentang ‘kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya’ sangat menusuk hatinya.
Delis turun dari pelukan pria itu dengan marah dan duduk di sofa dengan kesal.
Kelven berdiri di depan Delis, tatapannya sangat tak berdaya. “Delis, jangan seperti ini lagi kedepannya.”
Delis menatap pria itu, matanya berkaca-kaca dan bertanya, “Apa yang salah denganku? Kamu adalah suamiku, dia hanyalah orang ketiga dan … “
“Dia bukan.”
Kelven memotong perkataan Delis, duduk di sebelahnya dengan wajah serius.
“Aku berhutang terlalu banyak dengan Herli. Posisi Nyonya Rosli juga sudah kujanjikan lama padanya.”
Tiba-tiba, hati Delis terasa seperti tertusuk oleh ribuan panah. Dia berusaha untuk tetap tegar, suaranya sudah terdengar serak,
“Kamu berhutang apa padanya? Apa kalian sangat saling mencintai sebelumnya?”
“Nggak ada hubungannya dengan cinta.”
Kelven mengalihkan pembicaraan, “Sudah larut, ayo istirahat.”
Delis tidak menjawab.
Tak ada hubungannya dengan cinta?
Jadi, Kelven dan Herli tidak pernah saling mencintai?
Jika mereka tidak pernah saling mencintai, apa hutang Kelven padanya?
Delis tak paham apa yang bisa mengikat Kelven seperti itu.
Namun, melihat wanita itu tinggal di sini, Delis merasa seperti menelan seekor lalat, sangat menjijikkan.
Delis menatap Kelven dan bertanya, “Jadi ini caramu menangani masalah ini?”
“Kamu membiarkannya tinggal di sini, lalu bagaimana denganku?”
Tidak peduli apa status wanita ini, apakah Kelven akan menikahinya atau tidak. Saat ini, Delis tidak bisa menerima keberadaannya.
Siapa Herli?
Kenapa datang ke rumah orang lain dan masih begitu angkuh.
Kelven memandang orang di depannya dengan ekspresi wajah yang tak berdaya.
Kelven duduk di sebelahnya, suaranya menjadi serius, “Hari ini sudah sangat larut, aku akan menyuruhnya pergi besok.”
“Kamu nggak boleh ada hubungan dengannya lagi kedepannya. Tadi kamu sudah berjanji denganku nggak akan bercerai.”
Delis selalu sangat percaya pada Kelven.
Delis selalu memilih untuk percaya padanya, tak peduli apapun yang dilakukannya.
Asal Kelven menjaga jarak dengan wanita itu kedepannya, dirinya tidak akan berbuat onar lagi.
Seketika Kelven juga bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini, akhirnya dia menjawab,
“Iya, aku akan berbicara dengannya besok.”
Delis menghela lega napasnya.
Dengan penuh kesedihan, Delis mendekat dan memeluk Kelven.
“Aku tahu kamu sudah memberiku banyak, aku nggak seharusnya begitu serakah, tapi aku hanya mau keluarga yang utuh, aku hanya ingin … “
Hanya ingin memberikan lingkungan hidup yang indah dan harmonis pada bayi kita.
Kelven mengangkat tangannya dan menggendongnya. Mendengarkan kata-kata Delis yang terisak, hatinya juga terasa sakit.
Setelah beberapa saat hening, Kelven menggendong tubuh mungilnya dan berjalan ke lantai atas.
“Sudah, jangan pikirkan lagi. Ayo kita istirahat.”
Delis dengan biasa merangkul leher Kelven, bersandar di bahunya dan menjawab dengan manja, “Hm.”
Keesokan harinya.
Kelven bangun sangat pagi.
Begitu juga dengan Herli.
Hanya mereka berdua yang sedang sarapan.
Sambil makan dengan elegan, Kelven mulai berbicara,
“Kita sudah sepakat memberikan waktu dua tahun, setelah dua tahun aku pasti akan memenuhi janjiku. Tapi, selama dua tahun ini, kita jangan berhubungan lagi!”