Bab 4
Delis bingung.
Ada yang mencarinya?
Siapa?
Dengan penasaran, Delis berbalik dan pergi menuju ke arah gerbang kampus.
Ketika sampai di gerbang kampus, dia disambut oleh seorang pria paruh baya.
Pria itu mendekat dan menyapa, “Silakan, Nona Delis.”
Delis mengikuti pria itu ke tepi jalan. Ketika pria itu membuka pintu mobil, baru terlihat ada orang di dalam mobil.
Seorang wanita cantik yang berpakaian rapi.
Delis tidak mengenalnya, jadi hanya berdiri di sana, memandangnya dengan waspada.
Wanita di dalam mobil juga menatapnya dan berkata, “Naiklah, aku akan membawamu makan.”
Delis tetap berekspresi datar, diam dan tak bergerak.
Wanita itu melanjutkan, “Namaku Herli Pohan, entah kamu pernah mendengar namaku dari Kelven atau nggak.”
Herli Pohan …
Delis pernah melihat namanya di layar ponsel Kelven dan karena wanita inilah, Kelven ingin bercerai dengannya.
Tiba-tiba, Delis menatap wanita di dalam mobil dengan penuh permusuhan. Dia menggertakkan gigi dengan marah dan bertanya, “Untuk apa kamu mencariku?”
Herli duduk dengan sikap angkuh di kursi belakang, melirik Delis di luar mobil dengan nada merendahkan, “Mau bicarakan sedikit tentang Kelven. Kenapa? Begitu takut denganku?”
“Untuk apa aku takut padamu? Dasar orang ketiga yang nggak tahu malu.”
Delis sama sekali tak takut padanya. Delis enggan untuk naik ke mobilnya karena merasa jijik, tubuhnya terasa seperti ditumbuhi duri.
Meskipun hanya 160 cm, begitu kecil, tetapi memberikan kesan bahwa dirinya sangat berwibawa, sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya.
Mendengar kata orang ketiga, Herli sangat marah.
Melihat wanita itu tidak mau naik mobil, Herli turun dari mobil dengan sepatu hak tingginya dan mendekati gadis itu.
Wanita dengan tinggi 170 cm, ditambah dengan sepatu hak setinggi 5 cm, berdiri di depan Delis dengan ketinggian yang jelas melebihi satu kepala.
Dengan sikap seorang gadis berkelas, Herli memandang gadis di depannya dan berkata,
“Kamu cukup beruntung, seorang yatim piatu yang nggak hanya bisa mendapat sponsor pendidikan dari Kelven, tapi juga bisa menikah dengannya.”
“Dengan status seperti Kelven, sangat jarang keluarganya bisa menyetujui pernikahan kalian.”
Delis menatap tajam wanita di sampingnya, meskipun merasa bahwa wanita itu tinggi dan memiliki tubuh yang bagus, serta wajah cantik.
Namun, dari penampilannya, tampaknya usianya juga tidak muda.
Delis merasa meskipun dia tidak seberapa tinggi seperti wanita itu, tetapi dari segi penampilan, dirinya tidak kalah.
Apalagi keunggulan Delis adalah usianya yang lebih muda.
Tanpa ragu, Delis menjawab,
“Kelven menikahiku karena ada aku dalam hatinya. Apa hakmu datang ke sini dan mempertanyakan pandangan Kelven dan keluarganya?”
Jika sebelumnya dirinya belum hamil dan Kelven menyukai orang lain, dirinya pasti akan langsung pergi tanpa berpikir panjang.
Namun sekarang dia sudah punya anak.
Demi anaknya, Delis ingin mencoba lagi.
Jangan sampai anaknya lahir tanpa ayah dan ibu.
Seperti dirinya yang tumbuh besar tanpa tahu di mana orang tua kandungnya.
Dan satu-satunya keluarganya sepanjang hidupnya hanyalah Kelven.
Delis benar-benar ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak dalam kandungannya.
Ekspresi Herli berubah. Dia tak menyangka gadis liar tanpa latar belakang ini berani berbicara dengan nada seperti itu padanya.
Herli melangkah mendekatinya, rasa benci langsung terpancar dari tatapannya.
“Kalau dulu aku nggak pergi, menurutmu, apakah kamu punya kesempatan untuk berdiri di sisi Kelven?”
Herli tak menyangkal bahwa gadis di depannya itu cantik.
Wajah mungilnya yang putih dan halus, dengan sepasang mata besar yang bersinar seperti permata. Bibir merah dan fitur wajah yang cantik, mirip seperti boneka.
Namun selain wajah ini, apa yang bisa Delis gunakan untuk bersaing dengannya?
Herli merasa jika dirinya bersaing dengan Delis, itu hanya akan merendahkan citra dan statusnya.
“Tante, masalahnya adalah kamu sudah meninggalkannya. Kamu adalah masa lalunya. Sekarang aku adalah istrinya. Dia sudah menikah denganku, kamu seharusnya sadar diri dan tidak mengganggunya lagi.”
Delis seperti landak kecil yang ditutupi duri di seluruh tubuhnya, menatap Herli dengan marah.
Padahal baru berusia dua puluh tahunan, gadis kecil itu justru penuh dengan semangat keras kepala yang membuat orang merasa takut.
“Kamu … “
Herli merasa kesal, dengan wajah pucat tanpa ekspresi, menatap tajam ke arah Delis. “Kamu panggil aku tante?”
“Jadi?” Delis mengangkat alisnya.
Herli sangat marah ingin memukulnya, tapi untuk mempertahankan sikap gadis berkelasnya, dia menahan kemarahan di dalam hatinya, menatap tajam Delis sambil berkata,
“Kamu adalah istrinya? Coba kamu tanyakan padanya mengapa dia mau menikahimu.
Selain itu, bahkan kalau aku meninggalkannya selama sepuluh atau dua puluh tahun, kapanpun aku kembali dan membutuhkanya, dia masih akan menikahiku.”
“Dan kamu, hanya sekedar alat untuk menghilangkan kesepiannya setelah dia kehilangan aku.”
“Apa yang kamu katakan?”
Delis dengan marah menggigit erat giginya, mengepal tangannya dengan kuat.
Herli tak lagi memandangnya dan berkata dengan sinis,
“Aku mencarimu bukan karena alasan lain, hanya ingin memberitahumu agar tidak bermimpi dengan bodohnya bahwa dengan menikah dengan Kelven, kamu akan merubah nasibmu dan bisa terbang tinggi. Ayam liar akan selamanya menjadi ayam liar.”
Herli berbalik dan pergi.
Delis tidak tahan lagi, dia melangkah maju, meraih rambut Herli dan menjambaknya dengan keras.
“Kamu yang terlihat seperti seekor ayam.”
“Aaaa!!”
Herli menjerit kesakitan, sambil memegang kepalanya dan berteriak, “Berani sekali kamu menjambakku. Cari mati?”
Sopir melihat Nona dijambak, dengan cepat membuka pintu mobil dan bersiap untuk membantu.
Delis mendorong Herli menjauh dan menunjuk sopir sambil berteriak,
“Sini kalau berani. Suamiku Kelven. Kalau kamu berani menyentuhku, dia akan membunuhmu.”
Sopir langsung merasa ketakutan begitu mendengar nama Kelven.
Dia hanya bisa berdiri di samping sambil menunduk.
Herli dengan marah berteriak pada sopir, “Kenapa diam saja, pukul dia!”
Sopir dengan ragu-ragu berkata, “Dia adalah Nyonya Rosli, aku nggak berani.”
“Dasar nggak berguna.”
Wajah Herli memerah karena marah, rambutnya berantakan.
Orang-orang yang lewat sesekali meliriknya, seolah-olah menganggapnya sebagai orang gila.
Herli menatap Delis dengan tajam. “Tunggu saja kamu.”
Kemudian, kembali ke mobil dengan malang.
Sopir juga segera naik ke mobil dan melaju pergi.
Delis membeku di tempat, melihat wanita yang tiba-tiba muncul dan pergi. Kepalsuannya tadi seketika lenyap dan terlihat lemah kembali.
Dengan lemas, dia duduk di kursi pinggir jalan. Dia merasa sangat tak berdaya, seperti ada batu besar di dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Saat ini, Herli di dalam mobil mengeluarkan ponsel dan menelepon Kelven.
Telepon baru saja terhubung, dia buru-buru dengan nada sedih berkata,
“Kelven, setelah kerja nanti bisakah datang ke sini? Istrimu tadi menemuiku. Dia menarik rambutku dan memukulku seperti orang gila.”
“Apa yang kamu katakan?”
“Huhu Kelven, aku tahu ini menyulitkanmu, tapi aku nggak mau seperti ini. Kalau saja dulu kamu nggak … “
“Aku datang mencarimu sekarang juga.”
Tahu bahwa dulu dirinya bersalah pada Herli, Kelven merasa sangat bersalah. Dia langsung mengambil mantelnya dan meninggalkan kantor.
Sambil berjalan, dia menelepon Delis.
Delis yang duduk di pinggir jalan bersiap untuk berdiri dan kembali ke kampus. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat itu panggilan dari Kelven.
Setelah ragu sejenak, Delis akhirnya mengangkat panggilan itu.
Hanya saja, begitu telepon terhubung, terdengar suara pria yang rendah dan tak berdaya,
“Delis, sampai kapan kamu mau membuat onar seperti ini? Masalah kita berdua, kita urus sendiri saja, mengapa kamu pergi mencari Herli?”
“Dan bahkan sampai memukulnya. Kamu benar-benar semakin berani.”
Bab 5
Delis merasa bingung. “Apa yang kamu katakan?”
“Dengarkan baik-baik, jangan pernah lagi cari masalah dengan Herli. Jangan membuatku sulit.”
“ … ”
“Sudah, aku matikan dulu teleponnya.”
Belum smepat Delis memberikan penjelasan dan membantah, Kelven sudah langsung menutup teleponnya.
Jadi wanita jahat itu melapornya lebih dulu?
Brengsek.
Padahal dia yang duluan datang mencari masalah, malah lapor duluan ke Kelven?
Delis sangat kesal, dengan berusaha menahan ketidakpuasan dalam hatinya, dia kembali ke kampus.
Selama beberapa hari ini, dia tinggal di kampus dan tak pulang ke rumah. Dia juga tak mengirim pesan atau menelepon Kelven sama sekali.
Tentu saja, pria itu juga tidak pernah berinisiatif menghubunginya.
Hingga hari jumat, sebuah seminar yang menggegerkan seluruh kampus mereka dimulai.
Delis duduk termenung di depan meja belajarnya di asrama, sementara Novi sibuk merapikan barang-barang sambil mencari-cari ponselnya.
Setelah menemukan ponselnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar, Novi melihat Delis masih duduk di sana tidak bergerak. Dia kembali melihat Delis dan bertanya,
“Delis, ada apa denganmu? Ayo, seminar dari Profesor Kelven sudah mau dimulai.”
Delis tetap diam. “Kalian berdua pergi saja, aku nggak ikut.”
“Apa? Kamu nggak ikut? Ini seminar dari Profesor Kelven loh. Bahkan banyak universitas di seluruh negara juga nggak ada kesempatan ini. Apalagi seminar kali ini diadakan di aula besar, bisa menampung seluruh mahasiswa. Kenapa kamu nggak mau pergi?”
“Aku nggak enak badan.”
“Bagian mana yang nggak enak?”
“Kalian pergi saja, aku nggak tertarik dengan seminarnya.”
Novi merasa agak bingung. Delis yang biasanya suka belajar, seharusnya tak mungkin tak tertarik pada seminar seorang pria sukses. Mengapa kali ini dia terlihat begitu muram.
Namun, teringat seminar akan segera dimulai, Novi pun tidak lagi memaksanya.
“Yasudah, kamu tinggal di sini sendiri. Aku pergi dulu ya.”
“Hm.”
Setelah teman sekamarnya pergi, hanya tersisa Delis sendiri di dalam kamar.
Sebenarnya dia sangat ingin pergi mendengarkan seminar dari Kelven.
Sama seperti seminar tahun lalu.
Tahun lalu, Kelven berdiri di podium dengan pakaian rapi, berkelas, berwibawa dan bersinar gemilang. Kehadirannya memikat seluruh dosen dan mahasiswa di bawah panggung.
Delis pun tidak terkecuali.
Saat itu, Delis duduk di antara kerumunan, menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia sangat ingin mendekatinya, mengatakannya secara langsung pada Kelven bahwa dirinya menyukainya.
Tentu saja, saat itu dia tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti dirinya akan menjadi istrinya.
Teringat enam bulan pernikahannya yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan dan keindahan, Delis tidak ingin menyerah begitu saja.
Meskipun mendengar dari mulut Kelvin sendiri bahwa posisi Nyonya Rosli adalah milik orang lain, Delis juga tak ingin melepaskannya. Delis tak ingin mengembalikannya pada orang lain.
Pernikahannya hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri.
Delis bersandar di atas meja belajarnya, dengan keras memaksa dirinya untuk meredakan perasaannya.
Perlahan-lahan dia tertidur.
Delis terbangun karena dikejutkan oleh keributan dari tiga teman sekamarnya di dalam kamar.
“Astaga, Profesor Kelven benar-benar ganteng. Saat berdiri di atas panggung dan berbicara, dia benar-benar seperti dewa. Bagaimana mungkin ada pria sehebat ini di dunia ini?”
“Iya, betul sekali. Aku diam-diam memotret dia. Mulai sekarang, suamiku adalah Profesor Kelven.”
“Profesor Kelven sangat ganteng, sayang sekali kalau dia nggak masuk dunia hiburan.”
“Dunia hiburan yang begitu rumit nggak sebanding dengan status Profesor Kelven. Dia sudah sangat baik sekarang, seorang pebisnis hebat, orang terkaya di negara ini, sesekali memberikan seminar di universitas, sudah sangat baik.”
“Pria seindah itu, entah wanita mana yang bisa sepadan dengannya.”
“Eh, Profesor Kelven bermarga Rosli, perusahaannya bernama Deli Jaya. Tidakkah kalian merasa ini sangat kebetulan dengan nama Delis Rosli?
Novi terkejut. “Iya, Delis dan Profesor Kelven tak hanya punya marga yang sama, tapi nama Delis juga hampir sama dengan perusahaan Profesor Kelven. Kebetulan sekali.”
Melihat Delis sudah bangun, mereka langsung mendekat dan bertanya, “Delis, kamu kenal dengan Profesor Kelven?”
Delis menatap mereka tanpa menjawab.
Nadya berkata, “Bagaimana mungkin Delis kenal dengan Profesor Kelven. Mungkin hanya kebetulan saja. Apalagi banyak sekali yang bermarga Rosli di dunia ini. Di kampus kita saja ada beberapa orang yang bermarga Rosli.”
Salah satu teman yang lain juga setuju. “Iya juga.”
Kemudian, mereka sibuk menunjukkan foto yang baru saja dipotret pada Delis.
“Delis lihat, Profesor Kelven ganteng sekali. Apa dia tipe yang kamu suka? Hari ini semua dosen dan mahasiswa di kampus ada di sana, suasananya benar-benar mengesankan.”
Delis melihat foto Kelven di ponsel temannya. Hari ini Kelven mengenakan setelan jas hitam dengan kemaja abu-abu, berdiri tegak dengan sikap yang elegan.
Mungkin itu adalah keanggunan yang lahir bersamanya. Tak peduli di mana dia berada, tubuhnya selalu bersinar.
Memang sangat tampan.
Delis berdiri dan menghindari topik pembicaraan temannya. “Aku pergi ke perpustakaan dulu.”
Teman-temannya tidak lagi memperhatikannya dan melanjutkan pembicaraan tentang pujaan hari mereka, Profesor Kelven.
Delis baru saja keluar dari kamar, ponselnya berdering.
Delis melihat layar panggilan, ternyata dari asisten pribadi Kelven, Pak Mudi.
Delis tanpa ragu menjawab panggilan dan pria itu berkata, “Nona Delis, siap-siap, kami akan menjemputmu di area parkir untuk pulang.”
Delis terdiam, “ … “
Mereka?
Kelven juga ada?
Teringat dengan Kelven yang memarahinya dengan kasar tanpa alasan yang jelas, Delis dengan tekad menolak,
“Aku mau belajar di kampus, minggu ini nggak mau pulang.”
Ponsel asisten direbut oleh Kelven, suaranya terdengar lembut, “Delis, ikut pulang denganku.”
Namun, begitu mendengar suara Kelven, Delis langsung luluh.
Namun, Delis menahan emosinya, tetap dengan nada tidak senang, “Aku nggak mau pulang.”
“Hm? Kamu mau aku menjemputmu di depan asrama? Yoklah.”
Suara Kelven tersengar semakin lembut.
Delis tahu, meskipun hatinya masih tidak puas, dia tetap saja tidak bisa menahan pesona dari pria tua itu.
Delis mengerucutkan bibirnya, terpaksa menjawab, “Yasudah~”
Setelah menutup ponselnya, Delis kembali ke asrama untuk merapikan bukunya.
Teman-temannya melihatnya kembali dan bertanya, “Delis, bukankah kamu pergi ke perpustakaan? Kenapa kembali lagi?”
Delis merapikan bukunya sambil menjawab, “Orang rumahku meneleponku untuk pulang, jadi aku mau pulang dulu.”
Teman-temannya iri. “Memang enak kalau tinggal di dekat sini. Bisa pulang kapan saja. Delis, kamu beruntung sekali.”
“Delis, kalau ada kesempatan, undanglah kami ke rumahmu.”
Delis selesai merapikanya, dia menatap tiga teman sekamarnya dengan senyuman ringan sambil mengangguk.
“Iya, kalau ada kesempatan, aku pasti mengundang kalian ke rumahku. Aku pergi dulu ya.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Delis keluar dari asrama, bergegas menuju tempat parkir di kampus.
Tiga teman sekamarnya sangat baik. Ini adalah pertama kalinya mereka mengatakan ingin berkunjung ke rumahnya.
Namun, rumah tempat tinggalnya adalah milik Kelven dan hubungannya dengan Kelven juga rahasia. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengajak mereka ke rumahnya.
Apalagi, mengingat bahwa dirinya akan bercerai kapan saja.
Bab 6
Tiba di tempat parkir, dari kejauhan Delis melihat mobil Lincoln hitam yang paling mewah terparkir tidak jauh darinya.
Asisten juga melihat Delis, dia segera turun dari mobil untuk membukakan pintu kepadanya.
Begitu duduk di dalam mobil, Delis melihat pria di kursi belakang yang mengenakan setelan jas hitam.
Kelven menyebarkan pesona pria dewasanya yang begitu memikat sehingga membuat orang sulit untuk menolak.
Namun, Delis seolah-olah tidak melihatnya dan langsung duduk dengan patuh di sampingnya.
Delis melihat orang di sebelahnya, sepertinya sudah melupakan pertengkaran mereka sebelumnya.
Kelven mengernyit dan terdengar suara lembutnya, “Kamu nggak pergi seminar?”
Kelven tidak melihatnya dari atas panggung.
Delis lebih cantik dari mahasiswa lainnya, tidak peduli di mana pun dia berada, Kelven selalu bisa menemukannya hanya dengan satu pandangan.
Namun, dia tidak melihat Delis di aula kampus hari ini.
Delis memalingkan kepala dan melihat ke luar jendela, sengaja tak melihat ke arah Kelven. Delis menjawab, “Nggak pergi.”
“Kenapa nggak pergi?”
“Orang yang mau cerai denganku pasti nggak mau melihatku.”
“Hm???”
Kelven mengernyit dan tersenyum getir.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkul Delis. “Masih marah?”
Delis menjauhkan tangan pria itu. “Pak Kelven, tolong jaga batasan dirimu.”
Kelven terdiam, “ … “
Kenapa wanita kecil ini seperti seekor landak yang penuh dengan duri?
Kelven memaksa untuk meraih tubuhnya, dengan lembut menghiburnya, “Jangan marah lagi, aku bahkan sudah datang menjemputku di kampus.”
Delis sangat berpendirian, dia kembali menjauhkan tangan pria itu dan berbalik membelakanginya. “Datang menjemputku? Kamu datang untuk menghadiri seminar.”
“Lalu, kamu tahu nggak kenapa aku datang menghadiri seminarnya?”
“Mana kutahu.”
“Kalau nggak tahu, jangan asal bicara. Jangan pasang muka datar seperti itu lagi, ayo sini balik dan lihat aku.”
Kelven kehabisan kesabaran.
Sejak kapan Kelven pernah begitu memanjakan orang?
Delis malah semakin tidak menghiraukannya.
Delis masih merasa sangat tak senang, tetapi menghadapi Kelven yang begitu angkuh, terkadang dirinya benar-benar hanya bisa menuruti semua yang dikatakannya.
Delis berbalik sambil menundukkan kepalanya, sangat sedih dan hampir menangis.
Kelven melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan, perasaan sayang timbul di hatinya.
Kelven mengangkat tangannya dan merangkulnya ke dalam pelukannya. Dengan lembut menghiburnya, “Sudahlah, lupakan saja yang sudah berlalu. Delisku jangan bersedih lagi.”
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Kamu bahkan sudah memutuskannya.”
Bahkan mengatakan bahwa pernikahan ini harus berakhir, kenapa sekarang Kelven tiba-tiba begitu lembut?
Apakah Kelven menganggap Delis seperti anak kucing atau anak anjing yang hanya cukup dengan dihibur begitu saja?
“Kalau kamu nggak mau cerai sekarang, kita nggak perlu cerai sekarang. Aku nggak pernah mengatakan bahwa kita harus bercerai sekarang.”
Kelven menggendongnya duduk di atas pangkuannya, menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata dengan tak berdaya,
“Delis, jangan menangis lagi. Sudah begitu dewasa masih perlu aku hibur?”
“Siapa yang bilang aku butuh dihibur? Lepaskan aku, aku bisa duduk sendiri.”
Delis bersikeras untuk turun dari pangkuannya.
Ekspresi Kelven tiba-tiba menjadi muram, memeluknya dengan erat. “Jangan buat aku marah.”
Delis melihat pria tua itu. Melihat ekspresi wajahnya yang muram, dia tidak berani lagi melawan.
Akhirnya, dia hanya bisa bersandar di dada pria itu dengan kesal.
Delis menjelaskan kejadian pada hari itu, “Hari itu bukan aku yang mencari masalah dengan perempuan itu, dia yang datang … “
“Kejadian yang sudah berlalu bairlah berlalu, nggak perlu dibahas lagi.”
Kelven memotong pembicaraannya, hanya ingin diam-diam memeluknya dengan lembut.
Delis tidak terima, dia melanjutkan, “Jelas-jelas perempuan itu yang datang ke kampusku dan mencariku … “
“Delis, sudah kubilang jangan bicarakan lagi.”
Dengan tegas dan dingin, Kelven memotongnya lagi.
Delis terdiam, menegakkan tubuhnya dan menatapnya dengan mata terbelalak.
Kelven juga menatapnya dengan wajah yang dingin dan muram.
“Mulai sekarang, kamu nggak boleh mencarinya lagi, apalagi memukulnya. Perceraian denganku nggak ada hubungannya dengan dia. Kalau kamu nggak senang, bisa melampiaskannya padaku.”
Delis terdiam, “ … “
Sepertinya Kelven masih lebih peduli dengan perempuan itu.
Rasa sakit di dada Delis, seperti ada pisau yang menusuk.
Delis melepaskan pria itu dengan marah, duduk di samping dan melihat keluar jendela. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kelven juga tidak lagi menghiraukannya.
Setelah tiba di rumah, melihat Delis tidak mau turun dari mobil, masih dengan wajah penuh kekesalahannya.
Kelven mencoba mendekat dan menggendongnya.
Delis sangat emosional. Dia menghempas tangan Kelven dan melompat keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah.
Kelven hanya bisa mengikutinya di belakang dengan tak berdaya.
Saat makan malam, hanya mereka berdua di meja makan. Tetapi, Delis tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus pada makanannya.
Setelah selesai makan, Delis kembali ke kamarnya, berpura-pura membaca buku.
Kelven juga tidak menghiraukannya, dia pergi ke ruang kerja dan kerja sebentar. Ketika jam sepuluh malam, dia baru masuk ke kamar.
Kelven mandi dan mengenakan handuk, kemudian berdiri di samping tempat tidur. Melihat Delis masih sibuk membaca, dia merangkak ke atas tempat tidur dan mengambil buku dari tangannya.
Delis tahu apa yang ingin dilakukan Kelven.
Dengan mata memerah, Delis bertanya, “Kami menganggapku apa? Hanya sebuah alat untuk mengusir kesepian saja?”
Tadinya Kelven bermaksud untuk menciumnya.
Bagaimanapun, sejak pulang dari perjalanan bisnis, mereka belum pernah berhubungan intim.
Sudah sekitar dua puluh hari.
Namun, ketika mendengar kata-kata perempuan di depannya, Kelven tiba-tiba kehilangan minat.
“Delis, mau sampai kapan kita harus bertengkar seperti ini?”
Jika bukan karena Kelven peduli dan memanjakannya, tidak ada wanita di dunia ini yang berani menunjukkan wajah muram di depannya.
Kesabaran Kelven ada batasnya.
Melihat Kelven marah, Delis semakin sedih.
“Aku hanya mau tanya, bagimu aku ini apa? Istrimu atau bukan? Kalau memang istrimu, kenapa kamu malah mau cerai dan menikahi orang lain?”
“Aku nggak mau ribut samamu, tapi hatiku nggak enak.”
“Kelven, kamu tahu betapa menderitanya aku beberapa hari ini? Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?’
Delis tak mengerti, Kelvin bahkan ingin bercerai dengannya, mengapa masih melakukan ini padanya.
Kelven tidak menjawab.
Melihat Delis menangis lagi, perasaan Kelven terasa campur aduk.
Kelven langsung menarik Delis ke dalam pelukannya, lalu mengubah nada bicaranya menjadi lembut,
“Maaf, ini salahku.”
“Aku nggak mau maaf darimu, aku hanya mau kamu menjauh dari wanita itu. Jangan cerai denganku, kita bisa hidup bersama dengan baik.”
Delis tidak tahan dan menangis lagi.
Kesedihan yang telah ditahan selama beberapa hari akhirnya meledak.
Melihat Delis menangis, perasaan Kelven terasa seperti tersayat.
Kelven memeluknya dengan erat dan menghiburnya, “Sudah sudah, kita nggak akan bercerai.”
Delis tampak sedikit terkejut, dia mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata berkaca-kaca. “Benarkah?”
“Hm.”
Kelven memeluknya dengan erat, perasaannya bercampur aduk.
Tiba-tiba, terdengar suara Bibi Siti dari luar pintu kamar, “Pak Kelven, apakah bapak sudah tidur?
Kelven masih tetap memeluk orang dalam pelukannya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar dan menjawab, “Ada apa?”
“Pak Kelven, seorang gadis bernama Herli datang. Dia ada di bawah dan mengatakan ingin bertemu denganmu.”
Kelven mengernyit, tidak mengerti mengapa Herli datang sekarang.
Kelven bersiap untuk berdiri dan mengenakan pakaiannya.
Delis juga tak menyangka bahwa wanita itu begitu tak tahu malu untuk datang lagi.
Tentu saja, yang lebih membuat Delis marah adalah pria di sampingnya ini.
Setelah tahu bahwa wanita itu datang, Kelven langsung melepaskan pelukannya dan hendak turun ke bawah.
Dengan mata memerah, Delis melihat pria yang sedang mengganti pakaian dan bertanya, “Bagaimana rencanamu untuk menghadapinya?”
“Aku akan turun dulu, kamu tidur dulu saja.”
Bagaimana mungkin Delis bisa tertidur.
Delis ingin melihat apa tujuan wanita tak tahu malu itu datang ke sini.
Dan melihat bagaimana Kelven menangani masalah ini.
…
Kelven mengenakan pakaian rumahan, berdiri tegak dan melangkah menuruni tangga. Saat dia melihat ke arah sofa di ruang tamu, langsung melihat wanita yang duduk di sana.
Herli juga melihatnya.
Herli segera berdiri dan menyambutnya, berpura-pura dengan wajah lembutnya. “Kelven, apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?”
Kelven menuruni dua anak tangga lagi dan berdiri di depan Herli. Dia menjawab dengan sedikit datar, “Tidak, kenapa kamu datang jam segini?”
“Tadinya aku sudah tidur jam sembilan, tapi setiap kali aku tertidur, aku selalu bermimpi tentang kecelakaan itu. Aku takut, aku nggak berani tinggal sendirian di rumah, jadi aku datang mencarimu.”
“Kelven, kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Dengan wajah yang begitu sedih, Herli menatap pria gagah di depannya. Dia yakin, begitu dia menyebut kecelakaan itu, pria itu tidak akan menolaknya.
Itu adalah hutang Kelven padanya.
Kelven pantas menggunakan seluruh hidupnya untuk menebus kesalahan itu.
“Nggak keberatan.”
Wajah tampan Kelven tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya menoleh melihat Bibi Siti dan berkata, “Siapkan kamar tamu untuknya.”
Bibi Siti mengangguk dan pergi.
Kelven melewati Herli dan menuju ruang tamu. Lalu dengan penuh perhatian bertanya, “Perjalanan yang begitu jauh, lapar nggak? Mau makan?”
Melihat bahwa sikap Kelven selalu begitu lembut padanya, Herli tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya.
“Aku nggak lapar, hanya nggak bisa tidur saja. Bagaimana kalau kita berdua ngobrol saja?”
Herli duduk di sebelah Kelven.
Kelven menuangkan segelas air untuk Herli. Ketika hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba melihat ke arah tangga dan melihat Delis berdiri di sana.