Bab 3

Dengan rasa kecewa yang masih terpendam, Delis memeluk leher pria itu dan menciumnya dengan penuh gairah.

Kelven adalah pria normal, bagaimana dia bisa menahan rayuan yang begitu menggoda dari seorang wanita cantik seperti itu.

Kelven memeluknya dengan erat, meresponnya dengan ciuman yang penuh gairah.

Sambil mengambil surat perjanjian perceraian dari atas meja dan melemparkannya ke dalam laci. Kelven kemudian menggendong tubuh kecil Delis. Sambil menciumnya, sambil berjalan ke lantai atas.

Delis terlalu kecil dan kurus, sehingga saat digendong oleh pria itu, dia terasa begitu ringan.

Ketika diletakkan di tempat tidur, barulah Delis menyadari bahwa dirinya tak seharusnya melakukan ini.

Ada bayi di dalam kandungannya, bagaimana kalau keguguran?

Melihat Kelven membungkuk mendekat, Delis segera mengangkat tangannya dan menahan dada Kelven.

Saat ini, Kelven tak peduli dengan penolakan Delis, tetap bersikeras untuk menciumnya.

Delis tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa membiarkan Kelven terus melanjutkannya, jadi dia langsung berkata,

“Kelven, jangan begitu, aku nggak enak badan. Hari ini sampai di sini saja ya?”

“Sudah terlambat.”

Suara pria itu rendah, saat hendak melanjutkan langkah selanjutnya, Delis cepat-cepat mendorongnya dan duduk bersimpuh di ujung tempat tidur.

Kelven melihat gerakan Delis dengan bingung.

“Apa maksudnya?”

Jelas-jelas dia yang memulai, mengapa sekarang malah menolak?

Delis menjawab dengan gagap, “Aku … aku datang bulan.”

Kelven terdiam sejenak, seolah-olah sedang mengingat tanggal datang bulan Delis.

Sepertinya memang benar-benar beberapa hari ini.

Tiba-tiba, Kelven merasa sedikit kecewa. Dengan ekspresi tak senang, dia berkata, “Lain kali kalau datang bulan, jangan perlakukan aku seperti itu.”

Kelven merasa situasinya menjadi sangat canggung.

Turun dari tempat tidur, Kelven langsung melangkah ke kamar mandi.

Delis merasa lega melihat kepergian Kelven. Untung saja, tadi hampir saja dia kehilangan kendali dirinya.

Kelven tidak menolak untuk dekat dengan dirinya, apakah ini berarti masih ada kesempatan untuk kembali?

Memikirkan ini, Delis segera bangun dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju tidur.

Delis juga sekalian mengambilkan satu set baju dan meletakkannya di depan pintu kamar mandi. Dia berkata pada pria di dalam, “Kelven, baju tidurnya aku letakkan di sini ya.”

“Hm.”

Delis duduk di atas tempat tidur menunggu pria di dalam kamar mandi.

Setelah sekitar sepuluh menit, Kelven baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur satin berwarna abu-abu, terlihat sangat anggun.

Delis memaksa dirinya untuk tidak memikirkan hal-hal sebelumnya. Dia berdiri di tepi tempat tidur, membuka kedua tangannya sambil berkata dengan manja, “Peluk~”

Kelven tidak menolak. Dia mendekati Delis, memeluk pinggang kecilnya. Ekspresi wajah Kelven menjadi lebih lembut dan nada bicaranya juga menjadi lembut.

“Sudah nggak marah, ‘kan?”

Delis menggelengkan kepalanya dan bersandar di bahunya, tanpa berbicara.

Kelven meraba-raba pantat kecil Delis dan berkata, “Delis, kamu kurusan ya? Kenapa begitu ringan?”

“Karena kamu yang membuatku marah, makanya kurusan,” keluhnya sambil mengerucutkan bibir kecilnya.

Kelven mengenyitkan keningnya dan menyipitkan matanya memandang Delis.

“Wah, kalau begitu aku berdosa sekali ya. Lapar nggak? Mau aku turun minta Bibi Siti buatkan makanan untukmu?”

Delis mengangguk, masih ada sedikit tidak puas dalam hatinya.

Pria itu menepuk punggungnya, saat menggendongnya untuk turun ke bawah, tiba-tiba ponsel yang diletakkan di meja samping tempat tidur berdering.

Kelven menggendong Delis berbalik dan kembali ke tempat tidur untuk mengambil ponsel, lalu melihatnya sebentar.

Delis juga melihat tampilan panggilan di layar ponsel, bertuliskan Herli Pohan.

Detik berikutnya, Delis melihat Kelven langsung menghalangi di depannya. Satu tangan memeluknya, sementara tangan yang lain menjawab panggilan itu.

Karena Delis tengah bersandar di bahu Kelven, dia bisa mendengar dengan jelas suara wanita yang meminta tolong dari ponsel.

“Kelven, kakiku nggak sengaja keseleo, hanya aku sendirian di rumah. Bisakah kamu datang membantuku?”

Kelven tak menolak. “Iya, aku segera datang.”

Usai menutup telepon, Kelven langsung meletakkan wanita dalam pelukannya di tempat tidur.

Tiba-tiba Delis sangat marah, memeluknya dan dengan marah bertanya, “Siapa dia? Wanita yang mau kamu nikahi?”

“Hm.” Kelven tak membantah.

Mendengar itu, Delis merasa dadanya begitu sesak.

Delis berusaha menahan amarah dalam hatinya dan bertanya padanya, “Harus pergi?”

“Hm.”

“Bagaimana kalau aku melarangmu pergi?”

Kelven merasa tak berdaya. “Delis, jangan ribut.”

“Apa aku sedang ribut? Kamu adalah suamiku, suami Delis. Sekarang kamu malah mau pergi menemani wanita lain tanpa rasa bersalah?”

Delis ingin melihat apakah Kelven berani keluar dari rumah ini.

Jangan menganggap dirinya mudah untuk dipermainkan hanya karena dirinya masih muda.

Kelven mengatupkan bibirnya dengan erat, wajah tampannya terlihat sangat muram.

“Delis, siapa yang memberimu keberanian untuk bicara seperti ini padaku?”

Melihat ekspresi Kelven yang begitu garang, Delis merasa cemas dan takut.

Namun, dirinya juga tak puas.

“Pokoknya, aku nggak izinkan kamu pergi. Kalau kamu berani pergi, aku akan membuatmu menyesal.”

Tampaknya Kelven tak ingin banyak bicara. Dia bersikeras mengganti pakaiannya dan pergi.

Melihat Kelven sedang mengganti pakaian, Delis menyadari bahwa Kelven akan pergi.

Tiba-tiba, Delis merasa panik dan tak tahu harus bagaimana. Delis merendahkan diri dan memohon, “Kelven, jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku bisa melahirkan anak untukmu.”

Kelven sudah selesai mengganti pakaiannya dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap yang angkuh dan dingin.

“Delis, orang yang mau aku nikahi sudah kembali. Posisi Nyonya Rosli adalah miliknya dan kamu harus mengembalikannya padanya.”

Delis seperti mendapat pukulan keras di kepala, kepalanya terasa berdengung.

Terutama hatinya yang berdenyut-denyut, sangat menyakitkan.

Delis duduk di sana, menatap pria di depannya dengan tak berdaya. “Kamu sangat mencintainya? Dibandingkan denganku, dia lebih penting bagimu?”

“Kita harus cerai,” ujar Kelven tanpa menjawab pertanyaan.

“Kenapa?”

Delis tidak mengerti mengapa pria ini bisa begitu tak berperasaan.

Apakah kehidupan pernikahan mereka yang penuh kasih sayang selama enam bulan benar-benar hanya pura-pura?

Apakah semua keindahan yang pernah Kelven berikan padanya hanyalah pura-pura?

Delis tidak percaya, air mata tiba-tiba mengisi sudut matanya, dia dengan sangat rendah mencoba untuk memohon lagi,

“Bagaimana kalau aku mengandung anakmu, kamu masih akan bercerai denganku dan menikahinya? Tak peduli apa yang aku lakukan, kamu akan meninggalkanku?”

Kelven tidak tahan melihat mata Delis yang penuh dengan air mata.

Kelven menghindari tatapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Suara rendahnya terdengar,

“Aku akan menikahinya, tapi aku juga nggak akan meninggalkanmu. Kalau kamu ada kesulitan kedepannya, aku masih akan membantumu.”

“Aku nggak butuh~”

Dengan suara yang penuh tangisan, Delis berteriak,

“Kalau mau hidup bahagia bersama-sama, jangan berkhianat satu sama lain. Kalau nggak, hidup masing-masing, menjadi orang asing, seolah nggak pernah bertemu.”

“Pilih aku atau dia.”

Kelven kehilangan kesabaran.

Dengan dingin, Kelven berkata, “Suka hatimu.”

Kelven membanting pintu dan pergi.

Melihat kepergian Kelven, Delis berteriak histeris, “Kelven, Kelven, kembalilah.”

Namun, tak peduli bagaimana dia berteriak, pria itu tetap pergi.

Delis duduk lemas di atas tempat tidur, rasa sakit di dadanya seperti darah yang menetes.

Mengapa semua ini bisa terjadi?

Padahal sekarang dirinya adalah istri sahnya dan mereka sudah diakui secara hukum.

Mengapa Kelven harus meninggalkannya dan menemui orang lain?

Bahkan jika Kelven berencana untuk menikahi wanita itu dan tidak bisa memberikan sedikitpun martabat pada dirinya, tetapi mereka bahkan belum bercerai saat ini.

Terbaring di atas tempat tidur, Delis merasa seolah-olah dia jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, semua ketakutan dan bahaya mendatang padanya seakan-akan mengerumuninya.

Delis sangat ketakutan.

Sepanjang malam, dia gemetar dan terdiam di ujung tempat tidur, pikirannya kosong.

Esok paginya, dengan semangat yang lesu, Delis turun ke lantai bawah, kembali ke kampus sendirian dengan perasaan yang campur aduk.

Hari ini adalah hari senin dan ada beberapa kelas yang harus dihadiri.

Meskipun pernikahannya tak bahagia, pendidikannya tak boleh terbengkalai.

Setelah bersusah payah bertahan hingga semua kelas selesai di sore hari. Delis menunduk melihat ponsel di tangannya, tetapi tidak ada pesan sama sekali dari pria itu.

Seorang temannya berbisik di telinganya, “Delis, ayo pergi ke kantin makan.”

Delis berdiri dan pergi bersama temannya.

Saat Delis berjalan setengah jalan, seorang gadis berlari mendekat dan berdiri di depannya, bertanya, “Kamu Delis ya?”

Delis mengangguk. “Ada apa?”

“Ada orang yang mencarimu di depan gerbang kampus, menyuruhmu cepat pergi ke sana.”

Bab 4

Delis bingung.

Ada yang mencarinya?

Siapa?

Dengan penasaran, Delis berbalik dan pergi menuju ke arah gerbang kampus.

Ketika sampai di gerbang kampus, dia disambut oleh seorang pria paruh baya.

Pria itu mendekat dan menyapa, “Silakan, Nona Delis.”

Delis mengikuti pria itu ke tepi jalan. Ketika pria itu membuka pintu mobil, baru terlihat ada orang di dalam mobil.

Seorang wanita cantik yang berpakaian rapi.

Delis tidak mengenalnya, jadi hanya berdiri di sana, memandangnya dengan waspada.

Wanita di dalam mobil juga menatapnya dan berkata, “Naiklah, aku akan membawamu makan.”

Delis tetap berekspresi datar, diam dan tak bergerak.

Wanita itu melanjutkan, “Namaku Herli Pohan, entah kamu pernah mendengar namaku dari Kelven atau nggak.”

Herli Pohan …

Delis pernah melihat namanya di layar ponsel Kelven dan karena wanita inilah, Kelven ingin bercerai dengannya.

Tiba-tiba, Delis menatap wanita di dalam mobil dengan penuh permusuhan. Dia menggertakkan gigi dengan marah dan bertanya, “Untuk apa kamu mencariku?”

Herli duduk dengan sikap angkuh di kursi belakang, melirik Delis di luar mobil dengan nada merendahkan, “Mau bicarakan sedikit tentang Kelven. Kenapa? Begitu takut denganku?”

“Untuk apa aku takut padamu? Dasar orang ketiga yang nggak tahu malu.”

Delis sama sekali tak takut padanya. Delis enggan untuk naik ke mobilnya karena merasa jijik, tubuhnya terasa seperti ditumbuhi duri.

Meskipun hanya 160 cm, begitu kecil, tetapi memberikan kesan bahwa dirinya sangat berwibawa, sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya.

Mendengar kata orang ketiga, Herli sangat marah.

Melihat wanita itu tidak mau naik mobil, Herli turun dari mobil dengan sepatu hak tingginya dan mendekati gadis itu.

Wanita dengan tinggi 170 cm, ditambah dengan sepatu hak setinggi 5 cm, berdiri di depan Delis dengan ketinggian yang jelas melebihi satu kepala.

Dengan sikap seorang gadis berkelas, Herli memandang gadis di depannya dan berkata,

“Kamu cukup beruntung, seorang yatim piatu yang nggak hanya bisa mendapat sponsor pendidikan dari Kelven, tapi juga bisa menikah dengannya.”

“Dengan status seperti Kelven, sangat jarang keluarganya bisa menyetujui pernikahan kalian.”

Delis menatap tajam wanita di sampingnya, meskipun merasa bahwa wanita itu tinggi dan memiliki tubuh yang bagus, serta wajah cantik.

Namun, dari penampilannya, tampaknya usianya juga tidak muda.

Delis merasa meskipun dia tidak seberapa tinggi seperti wanita itu, tetapi dari segi penampilan, dirinya tidak kalah.

Apalagi keunggulan Delis adalah usianya yang lebih muda.

Tanpa ragu, Delis menjawab,

“Kelven menikahiku karena ada aku dalam hatinya. Apa hakmu datang ke sini dan mempertanyakan pandangan Kelven dan keluarganya?”

Jika sebelumnya dirinya belum hamil dan Kelven menyukai orang lain, dirinya pasti akan langsung pergi tanpa berpikir panjang.

Namun sekarang dia sudah punya anak.

Demi anaknya, Delis ingin mencoba lagi.

Jangan sampai anaknya lahir tanpa ayah dan ibu.

Seperti dirinya yang tumbuh besar tanpa tahu di mana orang tua kandungnya.

Dan satu-satunya keluarganya sepanjang hidupnya hanyalah Kelven.

Delis benar-benar ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak dalam kandungannya.

Ekspresi Herli berubah. Dia tak menyangka gadis liar tanpa latar belakang ini berani berbicara dengan nada seperti itu padanya.

Herli melangkah mendekatinya, rasa benci langsung terpancar dari tatapannya.

“Kalau dulu aku nggak pergi, menurutmu, apakah kamu punya kesempatan untuk berdiri di sisi Kelven?”

Herli tak menyangkal bahwa gadis di depannya itu cantik.

Wajah mungilnya yang putih dan halus, dengan sepasang mata besar yang bersinar seperti permata. Bibir merah dan fitur wajah yang cantik, mirip seperti boneka.

Namun selain wajah ini, apa yang bisa Delis gunakan untuk bersaing dengannya?

Herli merasa jika dirinya bersaing dengan Delis, itu hanya akan merendahkan citra dan statusnya.

“Tante, masalahnya adalah kamu sudah meninggalkannya. Kamu adalah masa lalunya. Sekarang aku adalah istrinya. Dia sudah menikah denganku, kamu seharusnya sadar diri dan tidak mengganggunya lagi.”

Delis seperti landak kecil yang ditutupi duri di seluruh tubuhnya, menatap Herli dengan marah.

Padahal baru berusia dua puluh tahunan, gadis kecil itu justru penuh dengan semangat keras kepala yang membuat orang merasa takut.

“Kamu … “

Herli merasa kesal, dengan wajah pucat tanpa ekspresi, menatap tajam ke arah Delis. “Kamu panggil aku tante?”

“Jadi?” Delis mengangkat alisnya.

Herli sangat marah ingin memukulnya, tapi untuk mempertahankan sikap gadis berkelasnya, dia menahan kemarahan di dalam hatinya, menatap tajam Delis sambil berkata,

“Kamu adalah istrinya? Coba kamu tanyakan padanya mengapa dia mau menikahimu.

Selain itu, bahkan kalau aku meninggalkannya selama sepuluh atau dua puluh tahun, kapanpun aku kembali dan membutuhkanya, dia masih akan menikahiku.”

“Dan kamu, hanya sekedar alat untuk menghilangkan kesepiannya setelah dia kehilangan aku.”

“Apa yang kamu katakan?”

Delis dengan marah menggigit erat giginya, mengepal tangannya dengan kuat.

Herli tak lagi memandangnya dan berkata dengan sinis,

“Aku mencarimu bukan karena alasan lain, hanya ingin memberitahumu agar tidak bermimpi dengan bodohnya bahwa dengan menikah dengan Kelven, kamu akan merubah nasibmu dan bisa terbang tinggi. Ayam liar akan selamanya menjadi ayam liar.”

Herli berbalik dan pergi.

Delis tidak tahan lagi, dia melangkah maju, meraih rambut Herli dan menjambaknya dengan keras.

“Kamu yang terlihat seperti seekor ayam.”

“Aaaa!!”

Herli menjerit kesakitan, sambil memegang kepalanya dan berteriak, “Berani sekali kamu menjambakku. Cari mati?”

Sopir melihat Nona dijambak, dengan cepat membuka pintu mobil dan bersiap untuk membantu.

Delis mendorong Herli menjauh dan menunjuk sopir sambil berteriak,

“Sini kalau berani. Suamiku Kelven. Kalau kamu berani menyentuhku, dia akan membunuhmu.”

Sopir langsung merasa ketakutan begitu mendengar nama Kelven.

Dia hanya bisa berdiri di samping sambil menunduk.

Herli dengan marah berteriak pada sopir, “Kenapa diam saja, pukul dia!”

Sopir dengan ragu-ragu berkata, “Dia adalah Nyonya Rosli, aku nggak berani.”

“Dasar nggak berguna.”

Wajah Herli memerah karena marah, rambutnya berantakan.

Orang-orang yang lewat sesekali meliriknya, seolah-olah menganggapnya sebagai orang gila.

Herli menatap Delis dengan tajam. “Tunggu saja kamu.”

Kemudian, kembali ke mobil dengan malang.

Sopir juga segera naik ke mobil dan melaju pergi.

Delis membeku di tempat, melihat wanita yang tiba-tiba muncul dan pergi. Kepalsuannya tadi seketika lenyap dan terlihat lemah kembali.

Dengan lemas, dia duduk di kursi pinggir jalan. Dia merasa sangat tak berdaya, seperti ada batu besar di dadanya, membuatnya sulit bernapas.

Saat ini, Herli di dalam mobil mengeluarkan ponsel dan menelepon Kelven.

Telepon baru saja terhubung, dia buru-buru dengan nada sedih berkata,

“Kelven, setelah kerja nanti bisakah datang ke sini? Istrimu tadi menemuiku. Dia menarik rambutku dan memukulku seperti orang gila.”

“Apa yang kamu katakan?”

“Huhu Kelven, aku tahu ini menyulitkanmu, tapi aku nggak mau seperti ini. Kalau saja dulu kamu nggak … “

“Aku datang mencarimu sekarang juga.”

Tahu bahwa dulu dirinya bersalah pada Herli, Kelven merasa sangat bersalah. Dia langsung mengambil mantelnya dan meninggalkan kantor.

Sambil berjalan, dia menelepon Delis.

Delis yang duduk di pinggir jalan bersiap untuk berdiri dan kembali ke kampus. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat itu panggilan dari Kelven.

Setelah ragu sejenak, Delis akhirnya mengangkat panggilan itu.

Hanya saja, begitu telepon terhubung, terdengar suara pria yang rendah dan tak berdaya,

“Delis, sampai kapan kamu mau membuat onar seperti ini? Masalah kita berdua, kita urus sendiri saja, mengapa kamu pergi mencari Herli?”

“Dan bahkan sampai memukulnya. Kamu benar-benar semakin berani.”

Bab 5

Delis merasa bingung. “Apa yang kamu katakan?”

“Dengarkan baik-baik, jangan pernah lagi cari masalah dengan Herli. Jangan membuatku sulit.”

“ … ”

“Sudah, aku matikan dulu teleponnya.”

Belum smepat Delis memberikan penjelasan dan membantah, Kelven sudah langsung menutup teleponnya.

Jadi wanita jahat itu melapornya lebih dulu?

Brengsek.

Padahal dia yang duluan datang mencari masalah, malah lapor duluan ke Kelven?

Delis sangat kesal, dengan berusaha menahan ketidakpuasan dalam hatinya, dia kembali ke kampus.

Selama beberapa hari ini, dia tinggal di kampus dan tak pulang ke rumah. Dia juga tak mengirim pesan atau menelepon Kelven sama sekali.

Tentu saja, pria itu juga tidak pernah berinisiatif menghubunginya.

Hingga hari jumat, sebuah seminar yang menggegerkan seluruh kampus mereka dimulai.

Delis duduk termenung di depan meja belajarnya di asrama, sementara Novi sibuk merapikan barang-barang sambil mencari-cari ponselnya.

Setelah menemukan ponselnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar, Novi melihat Delis masih duduk di sana tidak bergerak. Dia kembali melihat Delis dan bertanya,

“Delis, ada apa denganmu? Ayo, seminar dari Profesor Kelven sudah mau dimulai.”

Delis tetap diam. “Kalian berdua pergi saja, aku nggak ikut.”

“Apa? Kamu nggak ikut? Ini seminar dari Profesor Kelven loh. Bahkan banyak universitas di seluruh negara juga nggak ada kesempatan ini. Apalagi seminar kali ini diadakan di aula besar, bisa menampung seluruh mahasiswa. Kenapa kamu nggak mau pergi?”

“Aku nggak enak badan.”

“Bagian mana yang nggak enak?”

“Kalian pergi saja, aku nggak tertarik dengan seminarnya.”

Novi merasa agak bingung. Delis yang biasanya suka belajar, seharusnya tak mungkin tak tertarik pada seminar seorang pria sukses. Mengapa kali ini dia terlihat begitu muram.

Namun, teringat seminar akan segera dimulai, Novi pun tidak lagi memaksanya.

“Yasudah, kamu tinggal di sini sendiri. Aku pergi dulu ya.”

“Hm.”

Setelah teman sekamarnya pergi, hanya tersisa Delis sendiri di dalam kamar.

Sebenarnya dia sangat ingin pergi mendengarkan seminar dari Kelven.

Sama seperti seminar tahun lalu.

Tahun lalu, Kelven berdiri di podium dengan pakaian rapi, berkelas, berwibawa dan bersinar gemilang. Kehadirannya memikat seluruh dosen dan mahasiswa di bawah panggung.

Delis pun tidak terkecuali.

Saat itu, Delis duduk di antara kerumunan, menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia sangat ingin mendekatinya, mengatakannya secara langsung pada Kelven bahwa dirinya menyukainya.

Tentu saja, saat itu dia tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti dirinya akan menjadi istrinya.

Teringat enam bulan pernikahannya yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan dan keindahan, Delis tidak ingin menyerah begitu saja.

Meskipun mendengar dari mulut Kelvin sendiri bahwa posisi Nyonya Rosli adalah milik orang lain, Delis juga tak ingin melepaskannya. Delis tak ingin mengembalikannya pada orang lain.

Pernikahannya hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri.

Delis bersandar di atas meja belajarnya, dengan keras memaksa dirinya untuk meredakan perasaannya.

Perlahan-lahan dia tertidur.

Delis terbangun karena dikejutkan oleh keributan dari tiga teman sekamarnya di dalam kamar.

“Astaga, Profesor Kelven benar-benar ganteng. Saat berdiri di atas panggung dan berbicara, dia benar-benar seperti dewa. Bagaimana mungkin ada pria sehebat ini di dunia ini?”

“Iya, betul sekali. Aku diam-diam memotret dia. Mulai sekarang, suamiku adalah Profesor Kelven.”

“Profesor Kelven sangat ganteng, sayang sekali kalau dia nggak masuk dunia hiburan.”

“Dunia hiburan yang begitu rumit nggak sebanding dengan status Profesor Kelven. Dia sudah sangat baik sekarang, seorang pebisnis hebat, orang terkaya di negara ini, sesekali memberikan seminar di universitas, sudah sangat baik.”

“Pria seindah itu, entah wanita mana yang bisa sepadan dengannya.”

“Eh, Profesor Kelven bermarga Rosli, perusahaannya bernama Deli Jaya. Tidakkah kalian merasa ini sangat kebetulan dengan nama Delis Rosli?

Novi terkejut. “Iya, Delis dan Profesor Kelven tak hanya punya marga yang sama, tapi nama Delis juga hampir sama dengan perusahaan Profesor Kelven. Kebetulan sekali.”

Melihat Delis sudah bangun, mereka langsung mendekat dan bertanya, “Delis, kamu kenal dengan Profesor Kelven?”

Delis menatap mereka tanpa menjawab.

Nadya berkata, “Bagaimana mungkin Delis kenal dengan Profesor Kelven. Mungkin hanya kebetulan saja. Apalagi banyak sekali yang bermarga Rosli di dunia ini. Di kampus kita saja ada beberapa orang yang bermarga Rosli.”

Salah satu teman yang lain juga setuju. “Iya juga.”

Kemudian, mereka sibuk menunjukkan foto yang baru saja dipotret pada Delis.

“Delis lihat, Profesor Kelven ganteng sekali. Apa dia tipe yang kamu suka? Hari ini semua dosen dan mahasiswa di kampus ada di sana, suasananya benar-benar mengesankan.”

Delis melihat foto Kelven di ponsel temannya. Hari ini Kelven mengenakan setelan jas hitam dengan kemaja abu-abu, berdiri tegak dengan sikap yang elegan.

Mungkin itu adalah keanggunan yang lahir bersamanya. Tak peduli di mana dia berada, tubuhnya selalu bersinar.

Memang sangat tampan.

Delis berdiri dan menghindari topik pembicaraan temannya. “Aku pergi ke perpustakaan dulu.”

Teman-temannya tidak lagi memperhatikannya dan melanjutkan pembicaraan tentang pujaan hari mereka, Profesor Kelven.

Delis baru saja keluar dari kamar, ponselnya berdering.

Delis melihat layar panggilan, ternyata dari asisten pribadi Kelven, Pak Mudi.

Delis tanpa ragu menjawab panggilan dan pria itu berkata, “Nona Delis, siap-siap, kami akan menjemputmu di area parkir untuk pulang.”

Delis terdiam, “ … “

Mereka?

Kelven juga ada?

Teringat dengan Kelven yang memarahinya dengan kasar tanpa alasan yang jelas, Delis dengan tekad menolak,

“Aku mau belajar di kampus, minggu ini nggak mau pulang.”

Ponsel asisten direbut oleh Kelven, suaranya terdengar lembut, “Delis, ikut pulang denganku.”

Namun, begitu mendengar suara Kelven, Delis langsung luluh.

Namun, Delis menahan emosinya, tetap dengan nada tidak senang, “Aku nggak mau pulang.”

“Hm? Kamu mau aku menjemputmu di depan asrama? Yoklah.”

Suara Kelven tersengar semakin lembut.

Delis tahu, meskipun hatinya masih tidak puas, dia tetap saja tidak bisa menahan pesona dari pria tua itu.

Delis mengerucutkan bibirnya, terpaksa menjawab, “Yasudah~”

Setelah menutup ponselnya, Delis kembali ke asrama untuk merapikan bukunya.

Teman-temannya melihatnya kembali dan bertanya, “Delis, bukankah kamu pergi ke perpustakaan? Kenapa kembali lagi?”

Delis merapikan bukunya sambil menjawab, “Orang rumahku meneleponku untuk pulang, jadi aku mau pulang dulu.”

Teman-temannya iri. “Memang enak kalau tinggal di dekat sini. Bisa pulang kapan saja. Delis, kamu beruntung sekali.”

“Delis, kalau ada kesempatan, undanglah kami ke rumahmu.”

Delis selesai merapikanya, dia menatap tiga teman sekamarnya dengan senyuman ringan sambil mengangguk.

“Iya, kalau ada kesempatan, aku pasti mengundang kalian ke rumahku. Aku pergi dulu ya.”

“Iya, hati-hati di jalan.”

Delis keluar dari asrama, bergegas menuju tempat parkir di kampus.

Tiga teman sekamarnya sangat baik. Ini adalah pertama kalinya mereka mengatakan ingin berkunjung ke rumahnya.

Namun, rumah tempat tinggalnya adalah milik Kelven dan hubungannya dengan Kelven juga rahasia. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengajak mereka ke rumahnya.

Apalagi, mengingat bahwa dirinya akan bercerai kapan saja.

Paman, Silakan Tanda Tangani Surat Cerainya

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya