Bab 4

Terbebas dari Penderitaan

Kayla menggesek kartu Theo, dia tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya sendiri ... untuk tinggal di hotel.

Dia pun menelepon Bella. Setelah tahu bahwa Bella berada di rumah, dia langsung pergi ke sana.

Mobil Paman Dafa terus mengikuti di belakang, tetapi Kayla mengabaikannya sepanjang jalan.

Setelah keluar dari mobil, Kayla pergi mengambil kopernya di bagasi dan tangannya tidak sengaja tergores sudut mobil.

Tangannya berdarah, tetapi tidak parah.

Bella tinggal di lantai 17 dan pintu rumahnya selalu terbuka lebar saat tahu Kayla akan datang.

Melihat Kayla masuk dengan membawa koper, Bella tertegun sejenak. Ketika bertelepon, Kayla tidak mengatakan bahwa dia datang dengan membawa koper.

Sepertinya dia kabur dari rumah.

Bella mengabaikan masker wajahnya dan segera mengulurkan tangannya untuk mengambil koper Kayla.

"Kok nggak bilang kamu bawa koper? Aku 'kan bisa turun menjemputmu .... Haih, kenapa tanganmu terluka?"

Melihat Bella tampak panik dan hendak pergi mencari kotak P3K, Kayla pun menahannya sambil berkata, "Nggak apa-apa, sudah mau sembuh."

"Ada lepuhan kecil di tanganmu, kenapa nggak diobati? Lihatlah para pianis, mereka memperlakukan tangan mereka bagaikan harta dan tidak akan membiarkan tangan mereka terluka."

Kayla merasa terhibur dengan reaksi Bella yang berlebihan. Tekanan yang dia rasakan selama beberapa hari ini pun mereda. "Luka sekecil ini bukan apa-apa."

Bella tertegun. Setelah mengobrol sampai sini, dia pun mengungkit masalah sebelumnya lagi. "Omong-omong, bagaimana pertimbanganmu soal usulan kemarin?"

Sebelumnya ... Kayla tidak menjawab karena belum punya kepastian.

"Pak Hardy datang menemuiku beberapa kali. Studionya adalah studio restorasi budaya terbaik di negeri ini, semua anggota di sana pasti adalah tokoh hebat di bidang ini! Pak Hardy turun tangan secara pribadi untuk mencarimu, dia sungguh menghargaimu! Kalau bukan karena kamu nggak bersedia mengungkapkan identitasmu, aku sudah memberinya informasi kontakmu!"

Kayla bekerja di bidang restorasi budaya dan keterampilannya sangat bagus.

Sejak kecil, dia sudah belajar dari ibunya dan dia sangat berbakat. Dia juga mengambil jurusan ini saat berkuliah. Awalnya, dia berencana untuk bekerja di museum setelah lulus, tapi kemudian ... dia mengalami hal-hal itu dan terpaksa menikah dengan Theo.

Beberapa tahun ini, dia hanya menerima beberapa pekerjaan pribadi lewat Bella dan menjadi ahli restorasi umum.

Namun, sekarang situasi sudah berubah. Dia akan segera bercerai dan harus memulai dari awal.

Setelah merenung untuk cukup lama, Kayla pun mengangguk sambil berkata, "Tolong bantu aku terima undangannya."

"Kamu setuju?" Bella agak dikagetkan oleh jawaban Kayla. Setiap kali dia membahas hal ini, Kayla selalu menolak.

"Boleh dicoba, aku bisa pergi bekerja kapan saja."

"Kapan saja?" Bella kembali tercengang. "Kamu nggak akan bekerja sebagai pembantu di Perusahaan Oliver lagi?"

"Ya, aku sudah mengundurkan diri."

Kayla menjawab dengan sangat tenang, seolah-olah dia tidak terlibat dalam hal ini.

Bella mendecak. Mengingat berita hangat yang dia lihat pagi ini, dia sudah membayangkan banyak gambaran.

Dia tidak bisa menahan diri untuk mengomel. "Sudah seharusnya kamu bercerai. Si berengsek Theo itu jelas-jelas nggak makan makanan yang kamu pesan, tapi setiap hari menyuruhmu memesankan makanan. Pria munafik sepertinya harus dikurung oleh Raline, jangan dikeluarkan. Menurutku, memang harus bercerai. Lagian sisa tiga bulan, nggak usah dipusingkan."

Kayla bersandar di sofa, dia merasa agak kelelahan karena sudah berseteru seharian.

"Aku sudah mengajukan cerai, tapi dia nggak setuju dan menyuruhku menunggu sampai waktu yang ditentukan."

Mendengar ucapan Kayla, Bella merasa konyol. "Sungguh munafik! Dulu, Raline menolak lamarannya dan memilih pergi ke luar negeri agar bisa menjadi penari internasional. Sekarang, dia pasti nggak akan bercerai denganmu begitu saja, lalu kembali bersama Raline. Kalau nggak, dia akan terkesan sangat murahan! Kalau dia nggak menunjukkan kehebatannya, Raline mungkin akan mencampakkannya lagi!"

Kayla tidak pernah berpikir demikian, tapi setelah mendengar penjelasan Bella, dia pun tercerahkan.

Theo adalah bajingan jahat yang munafik!

"Menurutku, kamu nggak usah melindungi harga dirinya. Langsung sebarkan akta nikah kalian di internet sebelum resmi bercerai. Dengan begitu, netizen yang baik hati akan memaki mereka dengan kejam dan Raline akan dicap sebagai wanita simpanan!"

Kayla memiringkan kepalanya dan tidak merasa bahwa ini adalah ide yang bagus.

"Nggak, biarkan saja mereka selingkuh. Kalau masalah ini tersebar, kelak, aku yang akan kesulitan untuk mencari pasangan."

Mencari pasangan? Mata Bella bersinar, dia menatap Kayla sambil berpikir, 'Sepertinya dia sudah bertekad untuk meninggalkan Theo ....'

Ini adalah hal baik, patut untuk dirayakan!

Bella mengeluarkan sekotak bir dari kulkas, lalu membuka sebotol bir dan memberikannya pada Kayla sambil berkata, "Ayo rayakan sahabatku terbebas dari penderitaan!"

Saat Kayla hendak mengambil bir itu, bel rumah berbunyi.

"Siapa?" gumam Bella sambil pergi membuka pintu.

Orang yang berdiri di luar adalah Paman Dafa. Saat ini, dia berbeda dari sebelumnya. Ekspresinya sangat muram, dia memiringkan kepalanya sambil berkata pada Kayla yang berada di ruang tamu, "Nyonya, Tuan Muda sedang menunggu Anda di bawah. Tolong segera turun."

Kayla mengerutkan keningnya sambil menjawab dengan kesal, "Biarkan saja dia menunggu."

Kayla bisa tidur dan minum-minum di dalam rumah, sedangkan Theo berada di dalam mobil. Seluas apa pun mobilnya, dia tidak bisa berbaring.

Setelah berkata demikian, dia langsung meneguk habis sekaleng bir di tangannya.

Kalau Paman Dafa menyampaikan kata-kata Kayla, berarti dia sudah bosan hidup!

Paman Dafa berkata dengan pasrah, "Tadi, saat di dalam mobil, Nyonya menelepon Tuan Muda. Sepertinya Nyonya nggak enak badan ...."

Sebelum dia selesai berbicara, ponsel Kayla sudah berdering. Penelepon adalah ibunya Theo, Evi Janoto.

Kayla bisa mengabaikan Theo, tapi dia harus menjawab telepon Evi.

Selama tiga tahun menikah, Evi memperlakukan Kayla lebih baik daripada Theo, putra kandungnya sendiri. Dia selalu membelikan barang-barang mahal kepada Kayla. Setiap kali mereka bertengkar, apa pun alasannya, selalu Theo yang dimarahi.

"Bu ...."

"Kayla, aku menelepon Theo dan dia bilang kamu nggak di rumah. Apa bocah itu nggak pulang lagi?"

Di dunia ini, mungkin hanya Evi yang berani memanggil Theo seperti itu. Setiap kali dia menelepon, dia akan memeriksa apakah Theo pulang ke rumah.

"Bukan, malam ini, aku lagi di rumah temanku. Dia sedang berulang tahun."

Kayla tidak mengungkit soal perceraian mereka karena mengkhawatirkan kesehatan ibu mertuanya.

Ketika Evi melahirkan Theo, dia mengalami pendarahan hebat yang menimbulkan banyak efek samping. Selama beberapa tahun ini, kondisi kesehatannya kurang baik.

Bella yang dianggap sedang berulang tahun pun memutar bola matanya dengan kasar saat mendengar sahabatnya berbohong!

Terdengar suara Evi dari sambungan telepon. "Kalau begitu, setelah merayakan ulang tahun temanmu, pulanglah ke rumahku. Ayahnya sedang dinas, aku merasa kurang sehat."

Kayla yang mengkhawatirkan kesehatan Evi pun bertanya, "Mana yang sakit? Apa sudah pergi ke dokter?"

"Nggak, nggak parah kok. Kemarin aku melelang sepotong batu permata dan meminta master membuatnya menjadi liontin kecil. Pulanglah untuk melihat apakah kamu suka, anak muda seperti kalian nggak suka gelang permata."

Kayla terdiam selama beberapa detik, lalu menjawab, "Baik."

Kalau Evi hanya menyuruhnya pulang untuk mengambil barang, dia akan menolak. Bagaimanapun, dia akan segera bercerai dengan Theo, tetapi Evi sedang kurang sehat.

Bella tahu bahwa dia tidak bisa membujuk Kayla, jadi dia terpaksa mengantarnya ke bawah dan tidak lupa mengingatkan. "Percaya atau nggak, ibu mertuamu pasti sengaja."

Mobil yang familier parkir di depan pintu kompleks, Theo sedang bersandar di pintu mobil sambil merokok. Ketika mendengar ada yang datang, dia langsung mendongak dan sepasang matanya tampak sangat suram ....

Bab 5

Mencambuknya dengan Ikat Pinggang

Di sepanjang jalan, keadaan di dalam mobil sangat hening. Suasana tegang ini membuat Paman Dafa tidak berani mengubah kecepatan mengemudi.

Setelah sampai di tempat parkir sebuah vila yang terletak di pinggiran kota, dia baru menghela napas panjang dan turun untuk membuka pintu mobil.

Kayla tidak sesombong Theo dan tidak suka "dilayani". Ketika dia hendak membuka pintu, Theo berkata dengan santai, "Aku suka cewek bodoh yang berdada besar?"

...

Kayla hampir tersedak. Kalau Theo tidak mengungkit hal itu, dia mungkin sudah lupa. Dia mengucapkan hal seperti itu hanya untuk memfitnah Theo, bagaimana mungkin dia tahu jenis wanita yang disukai Theo!

Dia menoleh dan mata Theo kebetulan mendarat di bawah tulang selangkanya. Baik disengaja ataupun tidak, terkandung maksud lain dari tatapan Theo.

Kayla dapat memahami maksud lain dari tatapan ini, yaitu merendahkan.

"Bukannya wajar kalau pria suka dada besar?"

Karena itu, setelah tiga tahun menikah, Theo bahkan tidak mempunyai sedikit pun hasrat padanya. Namun, badan Raline juga biasa saja.

Theo mengerutkan keningnya sambil berkata, "Aku nggak suka."

Kayla tersenyum masam. Terdapat kecentilan yang luar biasa dalam kecantikannya. Kalau dia tersenyum seperti itu pada pria biasa, mungkin jiwa pria tersebut sudah melayang, tetapi Theo hanya menatapnya dengan tenang dan datar.

Kayla berkata, "Suka atau nggak bukan urusanku. Tapi aku suka yang kompeten. Inilah salah satu alasan aku ingin bercerai denganmu."

Ekspresi Theo berubah muram dan suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung.

Peredam suara mobil kurang bagus, jadi Paman Dafa yang berdiri di luar mobil dapat mendengar obrolan mereka berdua. Saat ini, keringat dingin bercucuran di dahinya. Melihat Theo akan segera marah, dia buru-buru memberanikan diri untuk membuka pintu mobil.

"Tuan Muda, Nyonya Kayla, kita sudah sampai di rumah."

Kayla turun terlebih dahulu dari mobil dan langsung melihat Evi sedang berjalan keluar dari vila sambil tersenyum cerah. Dia meraih tangan Kayla, lalu berjalan memasuki vila sambil berkata, "Kay, aku meminta Bibi Warni memasakkan sarang burung untukmu dan secara khusus menambahkan beberapa ramuan kecantikan."

Evi mengabaikan Theo yang masih duduk di dalam mobil.

Setelah masuk rumah, Evi bertanya dengan lembut, "Apa bocah nakal itu menindasmu?"

Dia sudah melihat berita kemarin dan khawatir Kayla akan sedih, jadi malam ini dia menyuruh mereka berdua pulang untuk menginap.

"Bu, aku dan dia ...."

Tepat ketika Kayla hendak mengatakan bahwa dia dan Theo akan bercerai, dia disela oleh Evi, "Kalau anak itu menindasmu, katakan saja padaku. Aku akan menyuruh ayahnya mencambuknya dengan ikat pinggang! Jangan mengalah padanya. Nanti, akan kukirimkan menu makanan yang dia sukai. Mulai besok, pesankan makanan-makanan itu selama sebulan untuknya. Aku juga sudah menelepon Axel dan memperingatkannya untuk nggak membantu Theo, kalau nggak, dia akan dipecat!"

Evi sama sekali tidak menyebut Raline karena takut Kayla akan sedih ketika mendengar nama itu.

Bibi Warni berjalan menghampiri mereka sambil membawa syal. "Nyonya, Anda sedang nggak enak badan, kenapa tidak memakai syal saat keluar? Nyonya Kayla, Anda harus menasihati Nyonya Evi, dia harus lebih peduli pada kesehatannya."

Dengan begitu, Kayla sama sekali tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata "bercerai".

"Bu, Anda sakit apa? Sudah panggil dokter?"

Evi melambaikan tangannya sambil berkata, "Haih, penyakit biasa cukup istirahat saja. Tengah malam begini, nggak perlu panggil dokter datang ke tempat terpencil seperti ini."

Sekarang memang sudah cukup larut. Evi menemani Kayla minum sarang burung, lalu meletakkan liontin yang sudah selesai dibuat di tangan Kayla. Kemudian, mereka pun naik ke atas untuk tidur.

Sebelum naik, dia mendelik Theo dengan galak sambil berkata, "Bocah nakal, kalau malam ini kamu nggak membujuk Kayla baikan denganmu, aku akan memukulmu sampai mati!"

Theo terdiam.

Sejak pulang, dia sama sekali tidak berbicara, tetapi sudah dimarahi?

Kamar Theo dan Kayla berada di lantai dua. Karena tahu mereka akan pulang, Bibi Warni sudah mengganti seprai.

Kayla pergi mengambil piama untuk mandi, tetapi ketika dia membuka lemari, dia menemukan bahwa piama katunnya sudah hilang dan digantikan oleh ... berbagai baju tidur sutra berleher rendah yang seksi. Bahkan ada dua kostum peran di antaranya.

Semua orang di vila tahu bahwa Evi ingin menggendong cucu dan sudah menyiapkan kamar bayi sejak mereka menikah. Dia bahkan sudah membeli berbagai macam mainan serta pakaian untuk anak laki-laki dan perempuan.

Pakaian-pakaian ini disiapkan agar mereka segera melahirkan cucu untuknya ....

Kayla agak mengasihaninya. Kalau dia tahu bahwa mereka tidak pernah berhubungan suami istri selama tiga tahun menikah, apakah dia akan emosi hingga mengusir Theo dari rumah?

Kayla berbalik dan mendapati Theo juga sedang melihat pakaian di lemari. Tatapannya sedingin biasanya.

Theo memandangnya sambil berkata, "Semua ini nggak cocok untukmu."

Kayla tertegun.

Dia memilih pakaian yang paling bisa menutupi badannya. Ketika dia hendak meraih pakaian itu, Theo melemparkan sebuah kemeja ke arahnya sambil berkata, "Pakai ini."

Kayla mengambilnya. Tubuh pria itu tinggi dan tegap, kemeja Theo dapat menutupi sampai lutut, memang lebih bagus daripada baju-baju tidur seksi ini. Dia tidak menolak dan langsung membawa kemeja itu pergi ke kamar mandi.

Menurut hukum, setengah dari seluruh properti milik Theo adalah miliknya. Dengan begitu, kemeja ini juga adalah miliknya.

Setelah mandi dan mengeringkan rambut, Kayla keluar dan melihat Theo sedang berdiri di balkon sambil merokok. Lapisan asap yang tipis pun menyelimuti wajah galak pria itu hingga tampak agak ramah.

Entah itu ilusi atau bukan, tetapi ketika mata Theo tertuju pada Kayla, pupilnya menjadi lebih gelap. Namun, hal itu berlalu dengan cepat.

Sembari mengisap rokok, pria itu berjalan masuk. Dia berjalan melewati Kayla tanpa berhenti sejenak pun.

Kayla sudah lama terbiasa dengan sikapnya ini sehingga tidak merasakan emosi apa pun.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Bibi Warni membawa semangkuk sup sambil berkata, "Nyonya Kayla, Nyonya Evi yang memasakkan ini untuk Tuan Muda. Pastikan dia meminum habis, jangan menyia-nyiakan tenaga Nyonya. Demi memasak sup ini, tangan Nyonya terluka .... Dia hanya berpura-pura keras, meskipun tadi dia nggak mengatakan apa pun, dia sangat peduli pada Tuan Muda. Dia khawatir nutrisi Tuan Muda nggak tercukupi dan menyuruhku mengantarkan ini."

"Oke."

Kayla dapat memahami perasaan Evi. Bagaimanapun, Theo adalah putra kandungnya, bagaimana mungkin dia tidak peduli pada Theo?

Theo sudah selesai mandi. Begitu keluar, dia langsung melihat sup yang ditaruh di atas meja.

Kayla berkata, "Ibu yang memasaknya, cepat minum."

Theo hanya melirik dan tidak mengatakan apa pun. Dia juga tidak berniat minum.

Melihat sikap Theo, Kayla teringat pada kata-kata Bibi Warni dan ... rasa sakit yang dia rasakan saat Theo tidak pernah memakan makanan darinya selama beberapa tahun ini. Seketika, dia menjadi agak kesal. "Theo, tangan Ibu terluka karena memasak sup ini. Apa kamu tega mengecewakannya?"

"Mengecewakannya ...." Sepertinya Theo tertarik pada kata ini.

Dia memandang Kayla dan sudut bibirnya tiba-tiba terangkat. Kemudian, dia bertanya dengan nada main-main, "Kamu benar-benar mau aku meminumnya?"

Bab 6

Alasan Bercerai: Dia Tidak Kompeten

Kayla tidak menyadari ada yang aneh dengan ucapan Theo. Karena masih kesal dengan sikap cuek Theo, dia pun mengendus dengan marah, "Ya."

Theo mengambil sup itu dan menghabisinya dalam sekali teguk. Namun, Theo agak kuat ketika meletakkan mangkuk hingga membunyikan suara, "bruk".

Kemudian, Theo mengangkat selimut dan berbaring. Sedangkan Kayla membelakanginya dan mematikan lampu di sisinya. Dia memejamkan mata dan bersiap untuk tidur.

Tahun ini, sesekali mereka akan tidur seranjang, tetapi jarak di antara mereka masih cukup untuk ditempati dua orang.

Namun, malam ini sedikit berbeda ....

Dia sudah tidur nyenyak. Tubuh Theo tiba-tiba mendekat padanya dan hampir memeluknya. Punggungnya menempel pada dada Theo dan dia dapat merasakan tekstur otot Theo yang terhalang oleh dua helai kain.

Napas Theo yang berat dan kasar terasa dekat di telinganya. Kini, suhu ruangan pun meningkat.

Sebelum Kayla bereaksi, sesuatu menghantam pinggulnya. Dia tercengang dan langsung menyadari ada yang aneh dengan Theo.

"Theo ...."

Tanpa sadar, suaranya gemetaran, sebagian besar karena ketakutan dan sebagian lain karena panik. Dia takut Theo akan tiba-tiba terangsang.

Ketika baru menikah, dia sangat menantikan momen seperti ini. Namun, sikap cuek Theo selama bertahun-tahun sudah membuatnya mati rasa. Sekarang, mereka akan segera bercerai, dia tidak boleh terjerat dalam situasi ini lagi.

Kesalahan seperti ini tidak boleh terulang.

"Hah?" Dia mendengar suara serak Theo dari atas kepalanya. Terkandung nada mendominasi yang kuat dalam suara Theo.

Detik berikutnya, Theo berbalik badan dan menimpa Kayla di bawah. Dia menatap mata Kayla dari atas.

Kayla menstabilkan emosinya, lalu mengulurkan tangannya untuk mendorong Theo. "Aku nggak mau."

"Bukannya kamu menggugatku karena nggak memuaskanmu? Tadi saat kamu menyuruhku minum sup, kupikir kamu sangat haus dan ingin bergoyang di atasku. Tapi, sekarang kamu malah bilang nggak mau. Kamu mempermainkanku?" Theo mendekati bibirnya. Terkandung gairah yang membara dalam suaranya, tetapi setiap kata yang dia ucapkan terkesan sangat menghina.

Sebodoh apa pun Kayla, dia paham bahwa sup itu bermasalah. Dia mencoba menjelaskan, "Aku nggak tahu."

"Kamu pikir aku percaya? Ini bukan pertama kalinya kamu melakukan hal seperti ini."

"Kamu ...."

Setiap kali membahas hal itu, Kayla sangat tidak berdaya. Theo selalu menyudutkan Kayla dengan mengungkit kejadian malam itu.

"Biar kukatakan untuk terakhir kali, itu karena ...."

Sebelum Kayla selesai berbicara, Theo sudah menciumnya dan membuatnya menarik semua kata-katanya.

Kayla tertegun. Dia meletakkan tangannya di dada dan berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Theo, tetapi Theo malah memberinya ciuman yang lebih ganas dan kasar. Sama sekali tidak ada kelembutan, hanya ada pemaksaan.

Bibirnya pecah karena digigit oleh Theo dan dia merasakan sedikit bau darah. Dia sudah mulai pusing karena kekurangan oksigen. Setelah tangan panas Theo menyentuhnya, dia baru menyadari kancing kemejanya sudah terbuka.

Dia memalingkan wajah untuk menghentikan Theo. "Theo, lepaskan aku."

Tubuhnya meronta hebat dan berjuang kuat untuk melepaskan diri dari Theo ....

Namun, pada dasarnya, tenaga wanita lebih lemah dari pria. Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk melawan Theo, tetapi salah satu lengan Theo cukup untuk menahannya.

Theo baru saja mencium bibirnya yang berdarah, dia tersenyum sinis sambil berkata, "Bukannya alasan kamu ingin bercerai karena aku mengalami disfungsi seksual sehingga nggak bisa memenuhi kebutuhan dasarmu? Sekarang, terbukti aku kompeten, alasan bercerai ditolak."

Theo bangkit dan posisinya setengah berlutut di atas kasur. Dia meraih dagu Kayla, lalu memiringkan wajah Kayla untuk memaksa Kayla menatapnya.

Karena pengaruh posisi, Kayla dapat melihat area itu ... dengan jelas.

Suara Theo masih dingin seperti biasanya, tetapi setiap perkataannya terdengar sangat menantang Kayla. "Lihat, sudah puas?"

Kayla tercengang.

Ekspresinya sangat masam. Ketika dia hendak melawan, ponsel Theo berdering. Theo mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang terletak di samping kasur. Ketika melihat nama penelepon, Theo mengernyit.

Penelepon adalah manajernya Raline.

Dia menjentikkan jarinya, lalu panggilan pun tersambung. "Ada apa?"

Sembari berbicara, Theo hendak bangkit dari tubuh Kayla, tetapi Kayla yang terus mencoba untuk menghindarinya tiba-tiba mengulurkan tangan ....

Ketika jari-jari itu menyentuh tubuhnya, Theo langsung menegang. Dia menunduk, tatapannya sangat gelap, seolah-olah ingin melahap Kayla.

Terdengar suara lembut dari katupan gigi gerahamnya.

Orang di ujung lain telepon masih berbicara dan Kayla hanya samar-samar mendengar bahwa terjadi sesuatu pada Raline lagi. Intinya, penelepon ingin menyuruh Theo pergi melihat keadaan Raline.

Theo menatap wanita yang memeluknya dengan hati-hati, tetapi Kayla malah mengangkat dagunya dengan centil sambil menjawab pertanyaannya, "Bukan hanya memuaskan, tapi juga tahan lama. Aku sudah nggak tahan lagi, tolong pelan-pelan ...."

Suaranya cukup keras sehingga orang di ujung lain telepon dapat mendengar dengan jelas!

Pak Theo, Nyonya Pergi Berkencan Lagi

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya