Bab 1
Hari ini Jihan Lionel kembali dari luar negeri. Wina Septa, kekasih rahasia Jihan, langsung dibawa ke Rumah Mansion No. 8.
Seperti yang disepakati sebelumnya, Wina harus membersihkan dirinya terlebih dahulu agar tidak ada aroma parfum maupun bedak kosmetik.
Wina dengan ketat memenuhi semua kesukaan Jihan. Setelah membersihkan diri dan mengenakan piama sutra, Wina masuk ke kamar tidur di lantai dua.
Jihan sedang duduk di depan komputer melakukan pekerjaannya. Tidak ada emosi yang terlihat dari matanya ketika dia melihat Wina masuk.
"Kemari."
Nada suaranya juga terasa tidak ada emosi apa pun. Hal ini membuat Wina merasa sedikit menyedihkan.
Jihan dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara dan bertemperamen tidak stabil. Karena takut dia marah, Wina tidak berani berlama-lama dan langsung berjalan menghampirinya.
Sesampai di depan Jihan, pinggangnya langsung ditarik mendekat dan dagunya dicubit.
Jihan menunduk dan mencium bibir merah Wina. Selanjutnya, Jihan membuka paksa giginya dan mengisap aroma mulutnya dengan gila-gilaan.
Jihan selalu enggan berbicara dan tidak lembut padanya. Setiap melihat Wina, Jihan langsung bercinta dengannya tanpa melakukan banyak pemanasan.
Jihan terlihat mulia dan sempurna. Akan tetapi, ketika menyangkut hal di ranjang, sifatnya langsung berubah menjadi sangat agresif.
Jihan pergi ke luar negeri untuk urusan kerjaan dan tidak menyentuh seorang wanita selama tiga bulan. Hal ini membuat Wina tahu malam ini Jihan tidak mungkin akan melepaskan dirinya dengan mudah.
Seperti yang Wina duga, Jihan lebih gila dari biasanya.
Jihan bercinta dengannya berkali-kali di sofa dan ranjang.
Setelah Wina tertidur karena kelelahan, Jihan baru puas.
Saat Wina bangun, tidak ada orang di sampingnya, tetapi terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.
Wina menoleh ke sana, terlihat bayangan tubuh terpantul di kaca buram kamar mandi.
Hal ini membuat Wina sedikit terkejut. Jihan selalu pergi setelah bercinta dengannya, tidak pernah menunggu dia bangun, tetapi kenapa kali ini berbeda?
Wina memaksakan diri untuk duduk di atas kasur, dia menunggu Jihan keluar dari kamar mandi dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, suara air di kamar mandi tiba-tiba berhenti. Jihan keluar hanya dengan melilitkan handuk di area bawah tubuh.
Air di ujung rambut menetes ke kulit berwarna seperti madu. Dengan perlahan, mengalir ke otot-otot perut yang terlihat sangat memesona.
Dengan wajah yang sangat tampan dan simetris, lalu mata gelap dan tajam yang seakan-akan bisa menembus hati itu, Jihan terlihat sangat baik.
Namun, aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat orang lain tidak berani mendekatinya.
Ketika melihat Wina sudah bangun, Jihan menatapnya dengan dingin.
"Mulai sekarang, kamu nggak perlu datang kemari lagi."
Mendengar itu, Wina tertegun sejenak. 'Apa maksudnya nggak perlu datang lagi?'
Jihan berbalik, mengambil sebuah dokumen dan menyerahkan kepada Wina. "Kontrak ini berakhir lebih awal," ujarnya.
Setelah melihat kontrak menjadi kekasih rahasia itu, Wina akhirnya mengerti bahwa Jihan ingin mengakhiri hubungan tersebut.
Ternyata Jihan tidak langsung pergi bukan karena ingin menunggu Wina bangun, melainkan karena ingin putus.
Wina sudah bersamanya selama lima tahun, dia tahu hari seperti ini akan tiba, tetapi dia tidak ingin berakhir seperti ini.
Tanpa alasan dan penjelasan apa pun, tetapi hanya sekadar pemberitahuan.
Menahan rasa sakit di hati, Wina perlahan menengadah, melihat Jihan yang sedang mengenakan pakaian dan berkata, "Masih sisa enam bulan lagi, apa nggak bisa tunggu sampai selesai?"
Wina diberi tahu oleh dokter bahwa dirinya masih ada tiga bulan untuk hidup. Oleh karena itu, dia ingin menemani Jihan sampai akhir hayatnya.
Jihan tidak menjawab dan hanya menatap Wina dengan dingin. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi berat hati. Hal ini membuat Wina merasa seakan-akan dia didepak begitu sudah bosan dimainkan.
Melihat Jihan diam membisu, Wina pun langsung sadar diri.
Sudah lima tahun, tetapi dia tetap belum bisa meluluhkan hati Jihan. Oleh karena itu, dia harus berhenti bermimpi lagi.
Wina mengambil kontrak itu. Dengan pura-pura santai, dia tersenyum manis dan berkata, "Jangan serius begitu, aku bercanda doang."
"Aku sudah lama ingin putus darimu. Aku malah senang kamu minta kontraknya berakhir lebih awal," tambahnya.
Tangan Jihan berhenti membetulkan lengan bajunya, alis matanya sedikit terangkat dan matanya yang dingin itu menatap Wina.
Melihat tidak ada sedikit kesedihan, tetapi malah sedikit kegembiraan dan lega di wajah Wina, Jihan mengernyit dan bertanya dengan datar, "Kamu sudah lama ingin mengakhiri hubungan ini denganku?"
Wina pura-pura tidak peduli, mengangguk dan berkata, "Ya, aku sudah nggak muda lagi. Sudah waktunya untuk menikah dan punya anak. Aku nggak mungkin terus bersamamu tanpa status yang jelas, 'kan?"
Di kehidupan ini, menikah dan memiliki anak merupakan hal yang mustahil bagi Wina. Namun, dia harus terlihat punya harga diri di depan Jihan.
Memikirkan hal tersebut, Wina tersenyum dan bertanya kepada Jihan, "Sekarang kontrak sudah berakhir, berarti ke depannya aku boleh punya pacar, 'kan?"
Tidak ada emosi yang terlihat dari mata Jihan. Setelah melihat Wina beberapa saat, dia mengambil jam tangan Blancpain yang diletakkan di samping kasur, berbalik dan pergi.
"Terserah kamu," jawabnya singkat sebelum pergi.
Sambil melihat punggung yang semakin menjauh itu, senyuman Wina perlahan memudar.
Wina tahu Jihan paling benci orang lain menyentuh barang-barangnya. Melihat tidak ada reaksi dari Jihan ketika mendengar dirinya ingin punya pacar, Wina merasa sepertinya Jihan benar-benar sudah bosan dengan dirinya.
Bab 2
Setelah Jihan pergi, asisten pribadi Jihan, Daris Surya, masuk membawa obat.
Daris menyerahkan obat itu sambil berkata dengan hormat kepada Wina, "Nona Wina, ini obatnya."
Obat itu adalah obat pencegah kehamilan. Karena Jihan tidak mencintai Wina, tentu saja tidak akan mengizinkan Wina untuk punya anak.
Setiap kali selesai bercinta, Jihan akan mengirim Daris untuk mengantarkan obat. Dia juga memerintah Daris untuk langsung melihat Wina meminum obat tersebut.
Melihat obat itu, hati Wina terasa sakit lagi.
Entah karena gagal jantung atau karena kekejaman Jihan, Wina merasa dadanya sesak hingga sulit bernapas.
"Nona Wina ...."
Melihat Wina tidak merespons, Daris memanggil sekali lagi karena takut Wina akan menolak obat itu.
Wina melirik Daris sejenak, lalu mengambil, memasukkan obat itu ke dalam mulut dan langsung ditelan tanpa minum air.
Selanjutnya, Daris mengeluarkan sertifikat rumah dan cek dari tas. Diletakkannya kedua kertas itu di depan Wina.
"Nona Wina, ini adalah kompensasi yang diberikan oleh Pak Jihan. Selain sertifikat rumah dan mobil mewah, ada tambahan uang senilai 100 miliar untuk Anda. Mohon diterima."
Jihan sungguh bermurah hati.
Sayangnya, yang diinginkan Wina bukanlah uang.
Wina menatap Daris sambil tersenyum dan berkata, "Aku nggak ingin semua ini."
Daris tertegun sejenak, lalu bertanya dengan bingung, "Apa masih kurang?"
Mendengar kata-kata tersebut, Wina merasa sedih.
Wina merasa Daris saja mengira dia melakukannya demi uang apalagi Jihan.
Dia memberiku uang perpisahan sebanyak itu supaya kelak aku nggak mengganggunya hanya demi uang, 'kan?'
Wina hanya tersenyum pahit. Kemudian, dia mengeluarkan kartu hitam dari tas dan menyerahkannya kepada Daris. "Ini pemberiannya, tolong kembalikan padanya. Bilang padanya aku nggak pernah menggunakan isi kartu ini sepersen pun. Tentu saja, aku nggak akan memungut biaya perpisahan darinya."
Mendengar itu, Daris benar-benar tercengang. 'Selama lima tahun ini, Nona Wina nggak memakai uang Pak Jihan sepersen pun?'
Terlepas dari apakah Daris percaya atau tidak, Wina langsung meletakkan kartu hitam itu di atas tumpukan sertifikat rumah.
Setelah itu, Wina pun meninggalkan Rumah Mansion No. 8.
Musim hujan di Kota Aster membuat cuaca sedikit dingin.
Wina berjalan di jalanan perumahan.
Bayangan yang terpantul di tanah terlihat sangat kurus.
Wina mengencangkan jaketnya, memaksa dirinya yang mengenakan sepatu hak tinggi itu berjalan kembali ke apartemennya.
Setelah membuka pintu apartemen, Wina melihat isi ruangan yang mewah dan luasnya menempati area satu lantai gedung itu apartemen. Namun, tidak terasa kehangatan sama sekali sama seperti hati Jihan.
Wina duduk di sofa, termenung sejenak, lalu mulai mengemasi barang-barangnya.
Apartemen ini diberikan kepadanya oleh Jihan.
Karena Jihan tidak menginginkan dirinya lagi, Wina juga tidak akan menginginkan apa yang Jihan berikan padanya.
Wina membuka lemari, memindahkan semua pakaiannya ke dalam koper. Karena barang bawaannya tidak banyak, setelah selesai berkemas, Wina pun meninggalkan apartemen itu.
Setelah masuk ke dalam mobil, dia mengirim pesan ke Daris: "Pak Daris, ini kata santi Apartemen Mentari, 0826."
Melihat pesan itu, Daris langsung mengerti.
'Nona Wina bukan hanya nggak menggunakan uang dari Pak Jihan sepersen pun, tetapi juga nggak menginginkan apartemen pemberian Pak Jihan. Sungguh berbeda dengan lima tahun lalu. Ketika dia memohon kepada Pak Jihan untuk membeli tubuhnya semalam dengan bayaran 2 miliar.'
Setelah kembali ke perusahaan, Daris mengembalikan semua barang itu sebagaimana adanya dan menyampaikan pesan Wina kepada Jihan.
Jihan melirik benda-benda di atas mejanya tanpa ada perubahan emosi. Kemudian, pandangannya tertuju pada kartu hitam itu dan bertanya kepada Daris, "Apa isinya lebih 2 miliar?"
Daris segera mengangguk dan menjawab, "Benar."
Sebelum kembali ke perusahaan, Daris pergi ke bank untuk memeriksa nominal di kartu hitam itu.
Selain uang yang dikirim Jihan setiap bulan, ada tambahan 2 miliar. Jelas sekali, 2 miliar ini adalah uang yang dikembalikan Wina ketika menjual dirinya sendiri kepada Jihan.
Mendengar itu, Jihan mengernyit. Setelah termenung beberapa saat, dia mengulurkan tangan mengambil kartu hitam itu dan mematahkannya.
Kemudian, Jihan mendorong tumpukan sertifikat rumah itu ke arah Daris. "Bereskan semuanya dengan bersih," perintahnya dengan dingin.
Daris hendak mengatakan hal baik mengenai Wina, tetapi Jihan sudah menyalakan komputer dan mulai bekerja.
Melihat itu, Daris tidak berbicara. Dia mengambil barang-barang di meja dan keluar dari ruang kantor direktur.
Bab 3
Sambil membawa koper, Wina pergi ke rumah teman baiknya, Sara Utari.
Wina mengetuk pintu dengan pelan, lalu berdiri di samping dan menunggu dengan tenang.
Wina dan Sara sama-sama yatim piatu. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan, jadi hubungan mereka bisa dianggap seperti saudara.
Ketika dijemput pergi oleh JIhan, Wina ingat Sara pernah bilang kepadanya, "Wina, kalau dia nggak menginginkanmu lagi, ingat untuk pulang ke sini."
Perkataan itulah yang membuat Wina berani untuk tidak menginginkan rumah Jihan.
Sara membuka pintu dengan cepat. Ketika melihat Wina yang datang, dia langsung tersenyum cerah.
"Wina, kenapa kamu ada di sini?"
Wina mengencangkan cengkeramannya pada gagang koper, lalu berkata dengan sedikit malu, "Sara, aku ke sini untuk numpang di tempatmu."
Ketika matanya tertuju ke koper Wina, senyuman Sara langsung menghilang dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Wina tersenyum, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, lalu berkata, "Aku putus dengannya."
Sara tertegun sejenak dan menatap Wina yang memaksakan diri untuk tersenyum.
Wajah Wina yang kecil itu terlihat sangat kurus dan pucat. Rongga matanya juga cekung ke dalam. Tubuhnya kurus seakan-akan bisa diterpa terbang oleh angin dengan mudah.
Melihat kondisi Wina seperti itu, Sara tiba-tiba merasa sangat sedih.
Dia segera melangkah maju dan memeluk Wina erat-erat, lalu berkata, "Jangan sedih, masih ada aku di sini."
Mendengar itu, mata Wina langsung berkaca-kaca.
Wina memeluk kembali Sara, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut dan berkata, "Aku nggak apa-apa, jangan khawatir."
Sara tahu, Wina hanya berusaha menghibur dirinya sendiri. Karena dia bisa melihat betapa Wina menyukai Jihan.
Dalam lima tahun terakhir, Wina bekerja keras untuk mengembalikan uang 2 miliar itu ke Jihan. Dengan bodohnya, Wina berpikir bahwa hal ini bisa mengubah kesan Jihan terhadapnya. Namun, pada akhirnya, dia ditinggal pergi begitu saja oleh Jihan.
Sara tiba-tiba teringat lima tahun lalu, ketika gemuruh air hujan mengguyur malam ....
Jika Wina tidak menjual dirinya demi Ivan Senio, Wina tidak akan bertemu Jihan dan pasti akan hidup bahagia.
Sayang sekali semuanya tidak bisa terulang ....
Karena tidak ingin Sara ikut bersedih, Wina pun melepaskan pelukannya dengan lembut. Kemudian, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, "Kamu nggak mau menerimaku, jadi biarin aku berdiri di luar pintu terus? Aku sudah hampir mati kedinginan, nih!"
Melihat Wina masih sekuat sebelumnya, Sara perlahan merasa lega.
Sara yakin Wina tidak akan terpuruk lama-lama karena ditelantarkan sudah menjadi hal yang biasa bagi anak-anak yatim piatu seperti mereka.
Selama hidup dengan baik, tidak akan ada kendala yang tidak dapat diatasi.
Memikirkan hal ini, Sara merasa sedikit lebih lega. Dia mengambil koper Wina dan menariknya masuk rumah sambil berkata, "Jangan pernah bilang numpang lagi. Ini juga rumahmu. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau!"
Setelah itu, Sara mengambil satu set piama bersih dan menyerahkannya kepada Wina sambil berkata, "Kamu mandi dulu, aku buatkan makanan enak untukmu. Habis itu, kamu bisa tidur dengan nyenyak. Jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Oke?"
Wina mengambil piamanya dan mengangguk patuh, "Oke."
Sara selalu seperti itu, dia memperlakukan Wina sangat baik. Bagaikan seberkas cahaya yang menghangatkan hidup Wina.
Sayangnya, Wina mengidap penyakit yang akan merenggut nyawanya, gagal jantung stadium akhir.
Jika Sara tahu bahwa Wina akan meninggalkan dunia ini, dia pasti akan menangis.
Wina tidak ingin Sara yang lembut dan baik hati itu menangis karena dirinya.
Sambil memandangi sosok yang sedang sibuk di dapur itu, Wina menghampirinya dan berkata, "Sara, aku ingin berhenti dari pekerjaanku."
Sara mengangguk setuju, "Memang sudah waktunya kamu istirahat. Beberapa tahun ini, demi menghasilkan banyak uang, kamu sudah bekerja sangat keras sampai nggak bisa jaga penampilanmu. Cepat berhenti dan istirahat dengan baik di rumah. Masalah mencari nafkah serahkan padaku!"
Mendengar itu, hati Wina terasa hangat. Setelah dengan lembut menjawab "Oke", dia berbalik dan pergi ke kamar mandi dengan air mata berlinang.
Wina merasa takdir tidak pernah memihaknya.
Karena ditakdirkan untuk berpisah, Wina ingin menghabiskan sisa tiga bulannya menemani Sara.
Keesokan pagi, Wina merias wajah untuk menutupi wajah pucatnya dengan tebal dan pergi ke kantor untuk mengundurkan diri.
Di Kantor. Ketika Wina hendak menyalakan komputer untuk menulis surat pengunduran diri, salah satu koleganya, Vivi Yuwana, menghampirinya.
"Wina, kamu sudah lihat emailmu?"
Wina menggelengkan kepala. Saat akhir pekan, dia dijemput oleh Jihan, jadi tidak punya waktu untuk mengecek email yang masuk.
Vivi buru-buru memberitahunya, "Kak Hani mengirimkan pengumuman bahwa hari ini putri direktur utama akan mengambil alih sebagai CEO."
Wina tidak memiliki kesan apa pun dan tidak tertarik sama sekali terhadap putri direktur utama itu. Selain itu dia mengundurkan diri, jadi tidak masalah siapa yang mengambil alih posisi itu.
Sebaliknya, Vivi sangat tertarik. Dengan ekspresi gosip, dia berkata, "Aku dengar dia baru saja kembali dari belajar di luar negeri. Meskipun memiliki gelar doktor di bidang administrasi bisnis, dia nggak ada sedikit pengalaman nyata. Baru masuk langsung menempati posisi CEO, apa dia nggak takut digosipkan orang-orang?"
Yuna Safira yang duduk di sebelah Vivi ikut mencibir, "Siapa yang berani menggosipkan dia? Dia adalah wanita pujaan hati seseorang di Keluarga Lionel."
Ketika mendengar kata "Lionel", jari telunjuk Wina pada tetikus berhenti.