Bab 4
Elsa langsung melompat dari atas kasur sambil menyahut, “Beneran, Yah?”
“Ya.”
“Tapi kenapa tadi Tante Vanessa nggak kasih tahu aku?”
“Ayah baru memutuskannya, belum sempat memberitahunya.”
Elsa kegirangan: “Kalau gitu Ayah jangan kasih tahu Tante Vanessa, setelah pulang, kita kasih kejutan buat Tante Vanessa oke?!”
“Ya.”
“Ayah memang yang terbaik! Sayang banget deh!”
Setelah telepon ditutup, Elsa masih tampak kegirangan, bernyanyi dan melompat di atas kasur.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia teringat Clara.
Beberapa hari terakhir, ibunya tidak menelepon, jadi suasana hatinya sangat bagus.
Sebenarnya, agak tidak ngobrol dengan ibunya di telepon, beberapa hari lalu dia sengaja keluar rumah lebih awal, sepulang sekolah dia bahkan sengaja menaruh ponselnya jauh-jauh atau bahkan mematikannya.
Setelah dua hari melakukannya, Elsa menghentikannya, dia khawatir ibunya akan marah jika mengetahuinya.
Tapi tidak disangka, selama beberapa hari berikutnya ibunya tak kunjung meneleponnya.
Awalnya, dia mengira ibunya tahu bahwa dia menghindarinya.
Tapi setelah dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika dia melakukan kesalahan, ibunya akan langsung menegurnya, tidak akan mengabaikannya.
Bagaimanapun, dirinya adalah sosok penting di hati ibunya, ibunya paling menyayanginya, jadi mustahil ibunya tidak menelepon hanya karena marah padanya!
Saat memikirkan semua itu, tiba-tiba muncul sedikit kerinduan di hati kecil Elsa.
Ini adalah kali pertama dia merindukan ibunya, Clara.
Dia tak kuasa menahan diri untuk menelepon ibunya.
Tapi saat baru saja menekan layar ponsel, dia tiba-tiba teringat, meski setelah pulang negeri dia bisa bertemu Tante Vanessa lagi, tapi dengan sifat ibunya, ibunya pasti akan menghalanginya, tidak mengizinkan dia bertemu Tante Vanessa.
Dia tidak akan sebebas di Latvin, kapan pun bisa bertemu dengan Vanessa.
Begitu memikirkan ini, suasana hati Elsa langsung memburuk.
Di sisi belahan Marola sekarang ini masih pagi dini hari.
Clara sudah tertidur.
Dia terbangun karena panggilan telepon Elsa.
Begitu terbangun dan melihat nama Elsa di layar ponselnya, Clara langsung bersiap mengangkatnya, tapi malah dimatikan Elsa karena marah.
Dalam surat cerai sebelumnya dia memang menyebutkan bahwa Clara menyerahkan hak asuh Elsa pada Edward, tapi Elsa tetap adalah putri semata wayangnya.
Sebagai ibunya, dia masih memiliki tanggung jawab.
Saat melihat Elsa meneleponnya, dan langsung mematikannya, Clara pun takut terjadi sesuatu pada putrinya itu, lalu langsung menelepon balik.
Elsa tentu tahu itu, tapi dia segera memalingkan wajahnya, tidak mau mengangkat telepon.
Clara justru semakin khawatir, dia segera menghubungi telepon vila di sana.
Bibi Sari pun mengangkat telepon itu, selesai mendengar penjelasan Clara, Bibi Sari buru-buru berkata: “Harusnya Nona Elsa baik-baik saja, semalam Nona Elsa memang tidur terlalu malam, wajar dia terlambat bangun hari ini, tadi saya lihat Nona Elsa belum bangun. Coba saya lihat ke atas lagi untuk memastikan, nanti Ibu akan saya hubungi lagi.”
Mendengar Bibi Sari, Clara merasa lega: “Oke, maaf merepotkan.”
Saat Bibi Sari ke atas, Elsa sudah berada di kamar mandi.
Setelah Bibi Sari menjelaskannya, Elsa tampak sedang berkumur, sembari menundukkan kepala dan berbohong: “Nggak sengaja ketekan tadi.”
Bibi Sari tidak curiga sedikitpun, melihatnya masih menggosok gigi, dia langsung turun untuk memberi kabar pada Clara.
Melihat ini, Elsa mendengus dingin, akhirnya suasana hatinya membaik.
Di sisi lain, Clara juga merasa lega saat mendengar penjelasan Bibi Sari.
Namun, karena tiba-tiba terbangun di malam hari, Clara membutuhkan waktu yang lama untuk kembali tertidur, jadi saat bekerja keesokan harinya, dia terlihat lesu.
Sementara amplop berisi surat cerai yang diberikan Clara untuk Edward, setelah dia menerima panggilan telepon saat itu, amplop itu pun terlupakan olehnya.
Saat tiba waktunya untuk pulang ke Marola, Edward memasukkan dokumen terakhir ke dalam tas kerjanya, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia pun berbalik dan pergi ke bawah.
“Oke, ayo berangkat.”
Mobil Limousine segera melaju meninggalkan vila, menuju bandara.
….
Mengenai kepulangan Edward dan Elsa ke Marola, Clara tidak tahu sama sekali.
Tidak ada yang memberitahunya.
Sudah setengah bulan lamanya, semenjak dia pergi dari vila itu.
Selama periode itu, dia perlahan mulai terbiasa dengan kehidupannya, dan mulai menyukai kehidupan seorang diri yang tenang dan santai.
Kebetulan hari ini adalah akhir pekan, dia bangun sedikit terlambat dari biasanya.
Setelah mencuci muka, dia membuka tirai, melihat sinar matahari di luar jendela, meregangkan tubuhnya, lalu menyiram tanamannya, saat hendak memasak sarapan, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
Ternyata itu Bu Cindy tetangga depan rumah.
“Mbak Clara, aku nggak ganggu ‘kan?”
Clara menjawab dengan lembut: “Nggak kok, aku sudah bangun tadi.”
“Syukurlah kalau begitu.” Bu Cindy dengan ramah lanjut berkata: “Ini aku bawakan roti dan risol buatanku, silakan dicicip.”
“Makasih, anu... Maaf merepotkan.”
“Nggak kok, kalau bukan karena Mbak Clara yang nyelamatin Bella beberapa hari lalu, entah apa yang terjadi sama Bella setelah digigit anjing gila itu. Sebenarnya sudah beberapa hari aku ingin berterima kasih, tapi kami terlalu sibuk, nggak punya waktu, jadi nggak enak… ”
“Nggak perlu sungkan, itu hanya bantuan kecil kok.”
Setelah mengobrol sebentar, Bu Cindy pun pergi.
Clara masuk ke dalam rumah, lalu menyantap sarapan sambil melihat mekanisme algoritma AI yang baru saja dipelajarinya.
Sore harinya, sebuah berita terkait perayaan seratus tahun Universitas Nano muncul di ponselnya.
Clara terdiam sejenak, dia lantas melihat kalender, dan baru ingat kalau hari ini adalah hari jadi Universitas Nano.
Dia menjelajahi dunia maya, lalu menemukan beberapa pencarian populer tentang perayaan seratus tahun Universitas Nano.
Alasan kenapa perayaan hari jadi Universitas Nano begitu popular kali ini, bukan hanya karena Universitas Nano merupakan kampus terbaik nomor satu di Marola, di mana tiap pergerakannya selalu menjadi pusat perhatian, tapi juga karena perayaan kali ini adalah perayaan ke-100 pertama untuk Universitas Nano, jadi, tidak heran banyak alumni kehormatan yang diundang untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut.
Tentu saja, semua alumni kehormatan yang diundang merupakan tokoh-tokoh terkenal di bidangnya masing-masing.
Clara melihatnya beberapa kali.
Tanpa terasa, tangan Clara yang memegang ponsel bergetar saat melihat beberapa wajah familier yang muncul.
Kenangan masa lalu di kampus langsung terlintas satu per satu di pikirannya.
Detak jantungnya, pun berubah tak karuan.
Jika saja setelah wisuda dirinya tidak cepat-cepat menikah, bisa jadi dia yang akan menjadi salah satu alumni kehormatan, yang tentu saja diundang oleh kampus untuk berpartisipasi dalam perayaan itu!
Clara lantas mematikan laptop miliknya, setelah ragu sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Universitas Nano.
Saat ini, hari sudah mulai sore.
Banyak pejabat dan alumni yang sudah meninggalkan lokasi.
Tapi di dalam universitas itu masih ada banyak orang.
Clara berjalan tanpa tujuan mengitari kampus, saat tiba di lantai bawah gedung laboratorium, sebuah suara familier terdengar memanggilnya.
“Clara?”
Dua puluh menit kemudian, di kedai teh sekitar Universitas Nano.
Dylan Bramantyo menuangkan secangkir teh untuk Clara: “Gimana kabarmu, Clar?”
Clara tertunduk, sembari memegang cangkir teh dan tersenyum tipis: “Sangat baik, hanya saja... Aku sedang menyiapkan perceraianku.”
Dylan tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu, dia pun terdiam sejenak: “Maaf ya.”
“Nggak apa-apa.”
“Terus apa rencanamu selanjutnya? Mau balik ke perusahaan nggak?”
“Ada rencana seperti itu sih, tapi... ”
Dylan tidak tahu apa yang menjadi kekhawatiran Clara, tapi dia berkata dengan serius: “Clar, perusahaan butuh kamu, kamu juga punya andil di perusahaan itu, jadi aku harap, kamu bisa kembali dan memimpin perusahaan.”
“Aku, aku… ”
Melihat keseriusan Dylan, Clara tak sanggup lagi berkata-kata.
Bukannya tidak mau.
Tapi perkembangan AI terlalu cepat baginya.
Dia sudah enam tahun tidak berkecimpung di dunia teknologi, meski sekarang kembali, dia takut tidak akan mampu mengimbangi perkembangan zaman, apalagi memimpin semua orang di garis depan industri teknologi seperti yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Bab 5
Dalam kurun waktu terakhir ini Dylan dan Clara memang jarang sekali bertemu.
Tapi meski begitu, Dylan bisa melihat perubahan besar dalam diri Clara, semangat tinggi dan kuat yang dulu dia miliki sudah hilang begitu saja.
Saat teringat akan sosok Clara saat itu, Dylan tidak pernah menyangka sikap rendah diri akan menempel pada wanita itu.
Dylan tidak tahu banyak tentang kehidupan pernikahan Clara dan Edward.
Hanya sekelumit saja yang dia ketahui.
Sebenarnya ada beberapa dugaan dalam hatinya, tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya, hanya berkata padanya dengan serius: “Nggak masalah kalau kamu pernah terpuruk dalam hidupmu, tapi kamu harus tahu, kemampuan dan bakatmu berbeda dari jenius biasa. Clar, asalkan kamu punya tekad, belum terlambat untukmu memulainya sekali lagi.”
“Lalu, jangan lupa, kamu itu murid terbaik yang pernah dosenmu ajarkan.”
Mendengar ini, Clara tersenyum: “Kalau dosen kita dengar ucapanmu, mungkin dia akan mencibir, bilang kalau itu semua karena muridnya yang lain tidak begitu bagus.”
Teringat akan dosen elegan dan berlidah tajam yang sempat mengajarnya dulu, senyum Clara mendadak memudar: “Kudengar di berita dosen kita juga pulang untuk hadir di acara ini, apa dia baik-baik saja?”
“Lumayan baik kok, tapi karena murid seperti kami yang mempermalukannya sering muncul di depannya, dia jadi sangat kesal.”
Clara lantas terkekeh mendengar ucapan Dylan, tak kuasa menahan rasa rindunya di masa ketika dipaksa menulis makalah oleh dosennya itu.
Dylan: “Kembalilah, Clara.”
Clara tampak menggenggam erat cangkir teh, lalu menarik napas dalam-dalam sembari mengangguk berkata: “Oke.”
Perlu diketahui bahwa Clara sudah mempelajari kecerdasan buatan atau “AI” sejak usia dini.
Dia benar-benar mencintai bidang ini.
Namun cintanya pada Edward yang begitu dalam membuat Clara terpaksa meninggalkan cita-citanya selama kurang lebih tujuh tahunan.
Mungkin, dia butuh waktu lama untuk mengejar ketertinggalannya itu.
Tapi dia percaya asalkan bekerja keras, segalanya mungkin bisa terjadi.
Dylan bertanya lagi: “Kira-kira kapan kamu kembali?”
“Perusahaan masih mencari orang yang akan menggantikanku, jadi masih harus menunggu beberapa waktu.”
“Nggak masalah, nggak harus sekarang.”
Clara sudah bersedia kembali, bukan masalah untuk menunggunya beberapa waktu ‘kan?
Mereka berdua lantas lanjut mengobrol, tiba-tiba Dylan melihat jam di tangannya, lalu berkata: “Aku ada janji temu sama karyawanku, dia mau ngenalin aku sama orang yang ahli dalam algoritma, katanya sih orang itu baru saja balik ke negara ini, kebetulan kita bertemu di sini, gimana kalau sekalian kamu ikut?”
Clara menggelengkan kepalanya: “Aku masih belum kenal sama karyawanmu, mungkin lain kali saja.”
“Oke deh.”
Tak lama Dylan pergi, Clara melihat Maya Anggasta kakak perempuan Edward berjalan menghampirinya.
Clara juga melihatnya di berita.
Dia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu di sini.
Clara pun menyapanya, “Kak Maya.”
Maya tidak langsung menjawabnya, dia menatap Clara sambil mengerutkan kening: “Kenapa kamu di sini?”
“Hari ini perayaan ke-100 Universitas Nano, jadi aku datang buat lihat-lihat saja.”
Kalau saja Clara tidak mengatakannya, Maya pasti lupa kalau Clara juga alumni Universitas Nano.
Selain dosen dan mahasiswa aktif, semua yang hadir dalam acara tersebut adalah alumni kehormatan yang sengaja diundang oleh pihak kampus.
Tapi kenapa orang seperti Clara yang bukan siapa-siapa bisa juga hadir?
Lupakan saja.
Asalkan wanita itu tidak sembarangan bicara, mempermalukan Keluarga Anggasta, Maya malas mengobrol dengannya.
Memikirkan hal itu, Maya pun mengutarakan tujuannya, berkata, “Arya bilang dia ingin makan masakanmu, aku akan minta orang mengantarnya ke tempatmu nanti.”
Arya adalah putra Maya, usianya lebih tua satu atau dua tahun dari Elsa.
Pernikahan Maya tidak begitu harmonis, beberapa tahun terakhir dia sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga anaknya jarang terurus, jadi dalam dua tahun ini Arya semakin memberontak, Maya pun semakin susah untuk mengaturnya.
Mengetahui Arya sangat suka makan masakan Clara, Maya lantas sering menitipkannya di tempat Clara selama dua tahun ini.
Tidak ada yang peduli padanya, selain nenek di Keluarga Anggasta.
Anak remaja cenderung meniru sikap orang dewasa.
Meski suka masakan Clara, Arya justru merendahkan Clara yang notabene adalah tantenya, dia sering menganggap tantenya sebagai pembantu yang bebas dia perintah.
Sebelumnya demi Edward, Clara selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam menjaga Arya, tidak pernah memasukkan ke dalam hati semua perlakuan tidak hormat kepadanya.
Tapi sekarang Clara sudah bersiap untuk bercerai dengan pria itu, jadi tentu dia tidak ingin melakukannya lagi.
Karena alasan itulah, Clara langsung menolak dan berkata: “Maaf Kak Maya, besok aku nggak ada waktu.”
Clara sudah bertekad untuk kembali menekuni bidangnya, semua waktu yang dimiliki tentu akan terfokus pada urusannya semata.
Setelah bercerai, dia tidak punya urusan lagi dengan Edward atau pun Maya.
Dia tidak akan membuang waktunya hanya untuk mengurusi mereka.
Maya tidak menyangka Clara akan menolaknya.
Bagaimanapun dulu, demi mendapatkan perhatian Edward, Clara selalu berusaha mengambil hati Keluarga Anggasta.
Hanya saja, Maya tidak terlalu memedulikannya.
Clara tidak pernah menolak sebelumnya, jadi saat dia mendengar bahwa Clara ada urusan, dia langsung merasa bahwa Clara memang ada urusan, kalau tidak mana mungkin dia akan melepaskan kesempatan menjilatnya?
Meski begitu, Maya tampak kesal: “Edward dan Elsa bahkan nggak ada di rumah, kamu sibuk apa?”
Begitu mendengar ini, Clara lantas tersenyum pahit.
Selama ini, dia rela membuang jati dirinya, hanya berfokus pada Edward dan putrinya.
Jadi saat mendengar perkataan Maya, dia merasa itu tidak salah.
Tapi dia yakin tidak akan seperti itu lagi.
Saat memikirkannya, Clara hendak mengatakan sesuatu, tapi, tiba-tiba muncul beberapa orang berjalan ke arah mereka.
“Bu Maya!”
Terlihat jelas kedatangan mereka untuk bertemu dengan Maya.
Mereka menatap Clara, dari atas sampai bawah lalu bertanya: “Bu Maya, siapa dia?”
Maya tidak mengakui Clara sebagai ipar, dia lantas berkata dengan nada dingin, “Cuma teman.”
“Oh, teman... ”
Mereka semua memang untuk menghadiri perayaan ke-100 Universitas Nano, tentunya mereka mempunyai status sosial yang tinggi.
Saat melihat Maya bertemu dengan seseorang, mereka mengira seseorang itu adalah orang penting.
Tapi saat melihat sikap Maya pada Clara, tidak ada seorang pun yang memerhatikan Clara lagi, kecuali ada beberapa orang yang merasa dia cantik, dan tidak tahan untuk meliriknya sebentar.
Setelah berkumpul dengan Maya, mereka langsung pergi begitu saja.
Kalau dulu, mungkin Clara akan sakit hati, setiap mendengar Maya tidak mengakuinya sebagai adik ipar.
Sekarang mah masa bodoh.
Selepas kepergian Maya, Clara juga mengambil tasnya, lalu berbalik dan pergi.
Tepat di hari itu sekitar pukul sepuluh malam lebih, pesawat yang ditumpangi Edward dan Elsa tiba di bandara tepat waktu.
Saat waktu menunjukkan hampir dini hari, barulah mereka tiba di rumah.
Sementara Elsa sudah terlarut dalam tidurnya bahkan sebelum tiba di rumah.
Edward menggendong Elsa ke atas, saat melewati kamar tidur utama, dia menyadari pintu terbuka, tapi dalam keadaan gelap tanpa cahaya.
Setelah menggendong Elsa ke kamarnya, Edward kembali ke kamar tidur utama, dia menyalakan lampu kecil di kamar, lalu melirik ke arah ranjang, tampak kosong.
Tidak ada Clara di sana.
Pada saat ini, kepala pelayan kebetulan sedang membawa koper Edward ke atas, Edward pun melonggarkan dasi di lehernya, sambil bertanya: “Ke mana dia?”
Kepala pelayan buru-buru berkata: “Bu Clara pergi dinas.”
Setengah bulan lalu, kebetulan Edward tidak berada di rumah saat Clara pergi.
Pelayan menjelaskan kalau Clara membawa koper saat pergi, seharusnya wanita itu pergi untuk urusan pekerjaan.
Tapi ada yang aneh, Clara jarang sekali pergi dinas, kalaupun pergi biasanya hanya dua atau tiga hari.
Tapi kali ini sudah setengah bulan dia belum kembali.
Edward hanya menjawab singkat, tak lanjut bertanya.
Bab 6
Keesokan harinya.
Setibanya di perusahaan, Edward berpapasan dengan Clara.
Clara tidak tahu tentang kepulangan Edward dan Elsa ke Marola.
Bertemu tiba-tiba dengan Edward di perusahaan, membuat langkah kaki Clara terhenti sejenak.
Ada sedikit keterkejutan di mata Edward saat melihat Clara. Namun, dia hanya mengira Clara baru saja tiba dari perjalanan dinasnya. Yah, pria itu tidak berpikir macam-macam.
Ekspresi wajah Edward tampak datar, menganggap Clara layaknya orang asing. Dia berjalan melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam perusahaan.
Jika itu dulu, mungkin Clara akan senang saat mengetahui Edward kembali ke Marola.
Meski tak bisa memeluknya, Clara akan merasa bahagia hanya dengan menatapnya, seolah dalam dunianya hanya ada Edward seorang. Sekalipun sikap pria itu dingin terhadapnya, Clara tetap akan menyapanya dengan ‘selamat pagi’.
Namun kini, Clara hanya menatap wajah tampan itu sekilas lalu menundukkan pandangannya. Antusias dan kebahagiaan sebelumnya sudah tidak terpancar di wajahnya.
Edward tentu tidak memerhatikannya dan telah pergi lebih dulu.
Saat melihat sosok pria yang tenang dan tegap itu, di benak Clara terbersit tentang kapan pria itu kembali. Tapi, sudahlah. Dengan kepulangan pria itu, berarti masalah perceraian akan segera didiskusikan, bukan?
Clara sudah bertekad untuk bercerai, dia tidak ingin terlalu memikirkan Edward. Setelah berada di meja kerjanya, Clara langsung mengaktifkan mode siap bekerja.
Setengah jam kemudian, Farel menghubunginya. “Buatkan dua cangkir kopi, lalu bawa ke ruangan Pak Edward.”
Awalnya, saat mengetahui Edward menyukai kopi, Clara menghabiskan banyak waktu untuk belajar bagaimana membuat kopi yang enak. Itu semua dia lakukan untuk menarik perhatian Edward.
Kerja keras memang tidak mengkhianati hasil.
Edward selalu ingin meminum kopi buatannya, baik itu di rumah atau pun di perusahaan.
Kebahagiaan terpancar di wajah Clara saat mengetahui Edward benar-benar jatuh cinta dengan kopi buatannya. Dia mengira ini adalah langkah pertama menuju kesuksesan.
Namun kenyataan berkata lain, Clara seakan meremehkan ketidaksukaan dan kewaspadaan Edward terhadapnya.
Edward memang suka dengan kopi buatan Clara.
Hanya kopinya, tidak lebih!
Sikap Edward padanya tidak berubah, masih dingin dan menjaga jarak.
Tidak heran, saat ingin minum kopi buatannya, Edward akan meminta Farel menghubungi wanita itu. Begitu kopi selesai dibuat, Farel atau yang lainnya akan datang untuk mengambilnya.
Edward tidak memberi Clara kesempatan sedikitpun untuk mendekatinya.
Hanya terkadang saja, saat Farel atau yang lainnya sedang sibuk, barulah Clara punya kesempatan untuk mengirim kopinya ke ruangan Edward.
Kali ini, dari apa yang dia tangkap dari ucapan Farel, seharusnya dia yang membawa kopi itu langsung ke Edward.
Selesai membuat kopi dan meletakkannya di atas nampan, Clara berjalan ke ruangan Edward.
Pintu kantor Edward terbuka.
Clara pun berjalan ke pintu. Saat hendak mengetuk pintu, dia melihat Vanessa sedang duduk di pangkuan Edward. Mereka berdua tampak sedang berciuman.
Langkah kaki Clara terhenti, wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
Saat melihat kedatangan Clara, Vanessa buru-buru turun dari pangkuan Edward.
Raut wajah Edward penuh dengan kekesalan, lalu berteriak dengan nada dingin, “Siapa yang mengizinkanmu masuk?!”
Clara menggenggam erat nampan di tangannya, lalu berkata, “Aku ke sini mau antar kopi.”
“Cukup Bu Clara,” ucap Rio salah satu sekretaris pribadi Edward saat kebetulan tiba.
Rio tahu tentang hubungan Clara dan Edward.
“Percuma kamu seperti ini,” ucap Rio kemudian.
Rio memang tak mengatakannya secara gamblang, tapi Clara mengerti apa maksud ucapannya itu.
Rio mengira Clara tahu Vanessa datang ke perusahaan dan bermaksud mengganggu mereka dengan dalih hendak mengantarkan kopi...
Edward juga berpikir seperti itu, terlihat dari raut wajahnya.
Kalau itu dulu, mungkin dia akan melakukannya.
Namun sekarang, dirinya akan segera bercerai, jadi mana mungkin dia melakukan hal seperti itu?
Mereka seolah tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
“Silakan cepat pergi dari sini!” bentak Rio.
Mata Clara memerah, tangannya gemetar memegang nampan. Kopi di cangkir tumpah dan mengenai jari-jarinya. Meski sakit terkena panasnya kopi, Clara berbalik dan pergi tanpa suara.
Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara teriakan Edward dari dalam. “Kalau kejadian ini terulang, jangan harap bisa datang ke perusahaan lagi!” teriak Edward.
Clara sudah mengajukan pengunduran dirinya.
Tanpa ada kejadian ini sekalipun, dia akan angkat kaki dari perusahaan setelah ada yang menggantikan pekerjaannya.
Hanya saja, tidak ada yang peduli dengannya di sini.
Percuma juga mengatakannya.
Clara memilih tetap diam dan pergi sambil membawa nampannya.
Sebelum benar-benar pergi dari ruangan, Clara sempat mendengar suara lembut Vanessa menghibur Edward. “Cukup Edward, aku rasa dia nggak sengaja melakukannya. Sudah ya, jangan marah lagi... “
Clara membuang kopi di wastafel. Dia membilas jari-jarinya yang tersiram kopi panas di bawah keran. Dia juga mengambil obat salep di dalam tasnya dan dengan cekatan mengoleskannya ke jari-jari.
Sekarang, dia memang pandai memasak, kopi yang dibuatnya pun enak.
Namun, perlu diketahui, sebelum menikah dengan Edward, jangankan melakukan pekerjaan rumah, memasak saja tidak becus. Terlebih lagi, dia tidak pernah minum kopi sebelumnya.
Perubahan mulai dirasakan saat dia menikah dengan Edward. Demi Edward dan Elsa, dia mempelajari semuanya.
Clara menghabiskan banyak waktu untuk mahir melakukannya. Pada awalnya berantakan, kini berubah menjadi sempurna.
Salah satu yang sempurna adalah terkait tingkat kepahitan kopi, hanya dia yang tahu.
Lalu mengenai obat salep di dalam tasnya, sebagai ibu yang membesarkan anaknya seorang diri, mana mungkin dia tidak terbiasa membawa obat-obatan seperti itu?
Hanya saja, setelah kepergian Elsa ke Negara Latvin, obat-obatan yang disiapkannya jarang digunakan.
Untungnya belum kadaluarsa.
Setelah mengobati lukanya, Clara kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaan sambil menahan rasa sakit di hatinya.
Baru saja selesai memilah-milah dokumen, tiba-tiba terdengar obrolan rekan kerjanya.
“Dengar-dengar, pacar Pak Edward datang!”
“Pacar? Memangnya Pak Edward punya pacar? Siapa dia? Cantik nggak?”
“Aku nggak tahu siapa dia, tapi informasi dari resepsionis di bawah, dia berasal dari keluarga kaya, cantik, personalnya juga kelihatan baik!”
Kedua rekannya sedang mengobrol. Saat melihat Clara bangkit berdiri, mereka berdua teringat akan rapat yang akan dilaksanakan bersama Clara di lantai bawah. “Eh, kerja dulu, gosipnya lanjutin nanti saja,” ucap salah satu rekan buru-buru tutup mulut dan berjalan mengikuti Clara. Clara tahu pacar Edward yang mereka maksud adalah Vanessa.
Namun, tidak ada ekspresi apa pun di wajah Clara saat mendengarnya. Dia pergi dari ruangannya dengan ditemani dua rekannya dan masuk ke dalam lift.
Begitu keluar dari lift, saat mereka ingin pergi ke ruang rapat, terlihat sosok Vanessa dengan ditemani empat eksekutif perusahaan sedang berjalan ke arah mereka.
Empat eksekutif tampak mengelilingi Vanessa, dengan penuh sanjungan, kehati-hatian dan sedikit menjilat.
“Maaf sudah merepotkan karena sudah menemaniku berkeliling perusahaan,” ucap Vanessa sambil tersenyum.
Vanessa mengenakan barang-barang bermerek di tubuhnya. Setiap lekak-lekuk tubuhnya memancarkan aura seorang putri.
Dia berbicara dengan sopan dan terlihat seolah dirinya sudah menjadi istri dari pimpinan perusahaan. Kesopanan yang dia tunjukkan juga menyiratkan para eksekutif itu adalah bawahannya.
“Ini sudah menjadi tugas kami, mengingat hubungan Bu Vanessa dengan Pak Edward yang begitu dekat, tidak perlu sungkan,” ucap salah satu eksekutif sambil tersenyum.
“Ya, itu benar,” ucap eksekutif lain.
Mereka sedang asik mengobrol. Saat melihat Clara dan yang lainnya keluar dari lift, meski sudah berdiri di kedua sisi untuk memberi jalan, para eksekutif tetap merasa mengerutkan keningnya dengan kesal.
“Lihat-lihat kalau jalan! Kalau sampai menabrak Bu Vanessa gimana? Dasar nggak punya aturan!” bentak salah satu eksekutif sembari mengerutkan keningnya.