Bab 2
Sekitar jam 9 malam, Edward dan putrinya pun pulang.
Elsa memegang ujung pakaian Edward, dan turun dari mobil dengan perlahan.
Karena ibunya ada di rumah, malam ini dia sebenarnya tidak mau pulang.
Tapi Tante Vanessa bilang ibunya itu pulang secara khusus untuk menemani dia dan ayahnya, jadi kalau mereka tidak pulang, ibunya bisa sedih.
Ayah bilang kalau malam ini mereka tidak pulang, besok ibunya pasti akan ikut mereka ke pantai.
Jadi dia terpaksa setuju pulang.
Tapi dia tetap khawatir, dan bertanya dengan sedih: “Ayah, gimana kalau Ibu besok memaksa mau ikut kita keluar?”
“Nggak akan.” Edward menjawab dengan yakin.
Selama menikah, Clara memang selalu ingin mendekatinya.
Tapi dia masih paham situasi, asalkan dia terlihat tidak senang, Clara langsung tidak akan berani membuatnya marah.
Dalam ingatan Elsa, Clara selalu patuh pada Edward.
Kalau dia bilang tidak akan, berarti memang tidak akan.
Elsa akhirnya bisa tenang.
Suasana hatinya pun membaik, mukanya yang tadi cemberut langsung berubah, dia masuk sambil melompat riang, dan mengatakan pada Bibi Sari bahwa dia mau mandi.
“Oke deh.” Bibi Sari langsung menjawab. Tiba-tiba dia teringat perkataan Clara, dan memberikan amplop itu pada Edward: “Pak Edward, Bu Clara suruh aku berikan ini pada Anda.”
Edward menerimanya, lalu bertanya: “Di mana dia?”
“Em... sore tadi Bu Clara beresin barang dan sudah pulang ke Negeri Marola, Anda nggak tahu?”
Edward yang barusan mau beranjak ke lantai atas langsung tertegun, lalu menoleh: “Pulang?”
“Iya.”
Bahkan, Edward belum sempat mendengar alasan kenapa Clara mendadak datang ke Negara Latvin.
Tapi dia tidak peduli.
Setelah tahu Clara sudah pulang, dia tidak memedulikannya.
Elsa hanya agak terkejut.
Saat mendengarnya, hatinya agak kecewa.
Awalnya dia mengira, kalau Ibu besok tidak ikut dia dan ayahnya bermain di pantai, malamnya dia bisa ditemani ibunya, rasanya lumayan juga.
Apalagi, saat memoles kulit kerang tangannya pasti sakit, jadi dia ingin minta ibunya bantu dia selesaikan!
Edward dan Clara sudah beberapa bulan tidak ketemu, Clara akhirnya ada waktu untuk datang, tapi dia bahkan tidak bertemu Edward sama sekali, jadi teringat wajah Clara tampak muram saat dia beranjak pergi, Bibi Sari tidak tahan dan mengingatkan: “Pak Edward, saat Bu Clara pergi, raut wajahnya nggak bagus, sepertinya dia marah.”
Sebelumnya Bibi Sari mengira bahwa Clara ada urusan mendadak, makanya mendadak pulang.
Tapi sekarang setelah tahu Edward sama sekali tidak tahu Clara sudah pulang, dia baru menyadari ada yang tidak beres.
‘Marah?’
Di depan Edward, Clara selalu terlihat baik dan toleran.
Ternyata dia juga bisa marah?
Ini menarik.
Edward tersenyum acuh tak acuh, lalu dengan tenang menjawab Bibi Sari dan naik ke lantai atas.
Ketika kembali ke kamarnya, dia hendak membuka amplop pemberian Clara, tapi, Vanessa tiba-tiba meneleponnya, Edward pun mengangkat telepon, melempar amplop itu dengan asal-asalan, lalu keluar dari rumah.
Beberapa saat kemudian, amplop itu jatuh dari tempat tidur ke lantai.
Pada malam itu, Edward tidak pulang ke rumah.
Keesokan harinya, Bibi Sari naik ke atas untuk bersih-bersih, tapi dia melihat amplop di lantai, dan sadar bahwa itu adalah amplop yang ingin diberikan Clara pada Edward.
Dia mengira Edward sudah melihatnya, jadi dia simpan amplop itu di dalam laci.
.....
Setelah turun dari pesawat dan tiba di rumah, dia langsung pergi ke lantai atas untuk membereskan barangnya.
Karena sudah 6 tahun bersama, di kamar ini ada banyak barang miliknya.
Tapi dia hanya membawa pergi beberapa helai baju, dia set kebutuhan sehari-hari dan beberapa buku profesional.
Setelah nikah, setiap bulan Edward akan memberi biaya hidup untuk dia dan anaknya.
Keduanya terbagi menjadi dua kartu.
Satu miliknya, dan satu lagi milik anaknya.
Tapi Clara biasanya selalu pakai uangnya sendiri untuk beli kebutuhan sehari-hari.
Jadi kartu anaknya tidak terpakai sama sekali.
Bahkan, karena cintanya pada Edward, setiap berbelanja, dan melihat baju, sepatu, kancing manset, dasi, dan sebagainya, dia selalu tidak tahan dan membelinya.
Sementara dirinya sendiri, karena pekerjaannya, pengeluarannya tidaklah tinggi, apalagi dia sangat menyayangi suami dan anaknya, ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, jadi, biaya hidup yang diberi Edward, sebagian besar dipakai untuk beli barang suami dan anaknya.
Oleh karena itu, sisa uang di dalam kartu itu harusnya sudah tidak banyak lagi.
Tapi, dalam 1 tahun ini, karena anaknya ikut ke Negara Latvin bersama Edward, dia jadi jarang beli barang untuk mereka.
Jadi dalam kartu ini masih ada sisa 6 jutaan.
Uang gini bukanlah apa-apa bagi Edward, tapi baginya itu bukan uang kecil.
Karena itu memang miliknya, Clara tidak segan lagi, dia langsung mengambil uang itu.
Kemudian, dia meninggalkan kartu itu dan pergi sambil menarik kopernya, sama sekali tidak menoleh lagi.
Dia punya sebuah rumah di dekat perusahaan tempatnya bekerja.
Memang tidak besar, lebih dari 100 meter persegi.
Empat tahun lalu, dia membeli rumah ini demi membantu karir temannya yang kabur dari rumah, tapi tempat ini tidak pernah dia tinggali.
Sekarang akhirnya bisa terpakai.
Sebelumnya rumah ini selalu dibersihkan orang setiap waktu tertentu, jadi tidak kotor, bisa ditinggali setelah dibersihkan sedikit.
Setelah seharian capek, pada pukul 10 malam, selesai mandi Clara pun istirahat di kamar.
“Ting ting, Ting ting, Ting ting—“
Sebuah suara yang keras terdengar, membangunkan Clara dari tidurnya.
Karena mendadak terbangun, Clara agak melamun.
Setelah kesadarannya memulih, dia baru teringat, ini sudah jam 1 malam, yaitu sekitar jam 7 pagi di Negara Latvin tempat Edward dan anaknya berada.
Edward dan anaknya biasanya sarapan di jam ini.
Sejak putrinya ikut Edward ke Negara Latvin, dia selalu menelepon putrinya di jam ini.
Hanya saja, biasanya dia kelelahan bekerja, jadi terbiasa tidur cepat, tapi karena takut melewatkan waktu untuk ngobrol dengan putrinya, jadi dia mengatur alarm ini.
Saat awal ikut Edward ke Negara Latvin, putrinya tidak terbiasa, dan sangat merindukannya, bahkan sering meneleponnya.
Tapi seiring waktu berlalu, setiap kali ditelepon, putrinya yang awalnya rindu padanya, berubah menjadi tidak sabar.
Alarm ini pun, sebenarnya sudah tidak diperlukan sejak awal.
Tapi dia sendiri yang tidak rela.
Setelah memikirkan ini, Clara tersenyum getir.
Setelah memikirkan beberapa saat, Clara menghapus alarm ini, mematikan ponsel dan tidur.
Di sisi lain.
Edward dan Elsa hampir selesai sarapan.
Meski Edward tahu bahwa setiap hari Clara selalu telepon anaknya, dia juga jarang berada di rumah, jadi tidak begitu peduli.
Hari ini dia sadar Clara tidak menelepon, tapi, dia tidak peduli, setelah sarapan, dia naik ke lantai atas untuk mengganti baju.
Sementara Elsa merasa Clara semakin ribut, jadi dia makin benci mendengar teleponnya.
Jadi saat melihat Clara tidak meneleponnya sampai sekarang, dia merasa mungkin Clara sedang ada urusan.
Dia memutar bola matanya, mengambil tasnya dan berlari keluar.
Bibi Sari yang melihatnya, langsung mengejarnya: “Nona Elsa, ini masih pagi, perginya agak siang pun masih sempat kok!”
Elsa tidak mau dengar, dia langsung berlari menuju mobil dengan riang.
Enak saja, jarang-jarang Ibu hari ini ada urusan dan tidak telepon.
Kalau dia tidak segera keluar, nanti kalau ibunya telepon, dia pasti harus ngobrol dengannya lagi, dia tentu tidak mau!
.....
Setelah nikah, Clara pun mulai bekerja di Anggasta Group.
Dulu dia masuk ke Anggasta Group juga demi Edward.
Tapi sekarang dia sudah mau cerai, tidak perlu lanjut bekerja di Anggasta Group lagi.
Keesokan paginya, begitu tiba di kantor, Clara langsung memberikan surat pengunduran diri pada Farel Timothy.
Bab 3
Farel adalah salah satu sekretaris pribadi Edward.
Melihat surat pengunduran dirinya, dia tentu terkejut.
Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu hubungan Edward dengannya.
Semua orang dekat Edward tahu, Edward tidak menyukainya.
Setelah nikah, Edward sangat dingin pada Clara, bahkan juga jarang pulang ke rumah.
Agar bisa mendekati Edward, Clara pun bekerja di Anggasta Group.
Tujuan awalnya adalah menjadi sekretaris pribadi Edward.
Tapi Edward tidak setuju.
Meski kakeknya memintanya, pria itu tetap kukuh dengan pendiriannya.
Pada akhirnya, Clara terpaksa harus puas berada di divisi sekretariat menjadi salah satu sekretaris biasa Edward.
Awalnya, Farel khawatir Clara akan mengacaukan divisi sekretariat.
Tapi nyatanya, sungguh di luar dugaan.
Meski Clara menggunakan posisinya untuk mendekati Edward, tapi dia juga paham situasi, tidak akan bertindak keterlaluan.
Sebaliknya, mungkin agar Edward terkesan, Clara sangat serius dalam bekerja, kemampuannya sangat menonjol. Baik saat hamil, melahirkan atau situasi lainnya, dia selalu mematuhi peraturan perusahaan, tidak pernah meminta perlakuan khusus.
Beberapa tahun kemudian, Clara menjadi kepala di divisi sekretariat.
Farel tahu betul bagaimana perasaan Clara terhadap Edward.
Sejujurnya, dia tidak menyangka Clara akan mengundurkan diri.
Dia juga tidak percaya wanita itu akan mengundurkan diri dengan sukarela.
Dia bisa mengundurkan diri kali ini, mungkin karena terjadi sesuatu antara Edward dan Clara yang tidak diketahuinya, hingga Edward meminta Clara untuk mengundurkan diri.
Kinerja Clara sangat baik, tapi meski sangat disayangkan, Farel tetap harus bersikap profesional: “Aku terima surat pengunduran ini. Aku bakal atur orang buat ambil alih pekerjaanmu secepat mungkin.”
“Baik.”
Clara mengangguk, lalu kembali ke tempat kerjanya.
Setelah sibuk seharian, Farel lantas memberi laporan perusahaan secara langsung pada Edward melalui panggilan video.
Saat hampir selesai, tiba-tiba dia teringat pengunduran diri Clara: “Oh iya Pak, mengenai —”
Meski dirinya berkata pada Clara akan secepat mungkin mengatur seseorang untuk mengambil alih pekerjaannya, tapi Farel tetap harus minta pendapat Edward tentang kapan Clara boleh pergi dari perusahaan.
Semisal Edward ingin mulai besok, Farel akan mengaturnya segera.
Tapi saat ingin menyampaikannya, dia teringat saat Clara bergabung dengan perusahaan untuk pertama kalinya, Edward menegaskan, segala hal yang berhubungan dengan Clara di perusahaan harus ditangani sesuai dengan peraturan perusahaan, tidak perlu melaporkan secara khusus pada Edward.
Edward tidak akan memedulikan wanita itu.
Kenyataannya memang begitu.
Selama bertahun-tahun, di dalam perusahaan, Edward tidak pernah bertanya tentang Clara.
Tiap kali melihat Clara, Edward selalu memperlakukannya layaknya orang asing.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja Clara luar biasa, jadi dua tahun lalu mereka berencana akan mempromosikan Clara, hanya saja saat mengingat Edward tidak menyukai Clara, mereka sengaja membahasnya di depan pria itu.
Dengan maksud jika dia tidak senang, mereka tidak akan mempromosikannya.
Saat mendengar itu, Edward langsung mengerutkan keningnya, lalu dengan kesal kembali menegaskan, dia tidak akan ikut campur, atasi saja sesuai aturan perusahaan.
Dia juga menambahkan bahwa semua hal berhubungan dengan Clara di perusahaan ini, tidak perlu tanya padanya.
Melihat Farel tidak berbicara, Edward mengerutkan keningnya: “Ada apa?”
Farel buru-buru saat tersadar dari lamunannya, dan menjawab: “Nggak apa.”
Karena masalah pengunduran diri Clara sudah diketahui Edward, tapi Edward tetap tidak mau mendiskusikannya dengannya, berarti bagi Edward hal ini tidak penting.
Dia hanya perlu bertindak seperti biasa, atasi sesuai aturan perusahaan.
Memikirkan ini, Farel pun tak lagi berkata apa-apa.
Edward mengakhiri panggilan video.
….
“Lagi mikirin apa?”
Siang harinya, seorang rekan kerja tiba-tiba menepuk bahu Clara.
Clara pun tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya: “Nggak mikirin apa-apa.”
“Hari ini nggak telepon putrimu?” tanya rekan itu.
“Ya, nggak perlu lagi.”
Biasanya dia akan menghubungi putrinya dua kali dalam sehari.
Sekali pada pukul satu dini hari, dan sekali lagi sekitar pukul dua belas siang.
Semua rekan di kantornya tahu tentang hal ini.
Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa ayah dari putrinya itu adalah pimpinan tertinggi di perusahaan mereka bekerja.
Sepulang kerja, Clara pergi ke pasar membeli sedikit sayuran dan beberapa pot tanaman untuk dibawa pulang.
Selesai menyantap makan malam, dia mulai mencari informasi terkait pameran teknologi.
Setelah melihatnya, Clara langsung menelepon seseorang: “Untuk pameran teknologi bulan depan, siapkan satu tiket.”
“Kamu yakin?” jawab orang itu dengan nada dingin: “Sudah dua kali kamu ngomong begitu, tapi kamu nggak pernah datang, tiket yang diidamkan semua orang itu kamu biarkan berakhir sia-sia.”
Pameran tahunan sains dan teknologi Negara Marola merupakan acara besar dalam industri teknologi, tidak semua orang bisa mendapatkan tiket masuk untuk pameran tersebut.
Perusahaan mereka juga mendapatkan beberapa kuota untuk menghadiri pameran tersebut, dan ada begitu banyak pegawai handal yang ingin hadir.
Bagi mereka, setiap kuota yang diberikan sangatlah berharga.
“Kalau kali ini nggak datang lagi, aku nggak akan minta lagi.”
Pria itu hanya terdiam, lalu mematikan telepon.
Tapi Clara tahu, ini artinya pria itu setuju.
Senyum merekah terpancar di wajah Clara.
Sebenarnya, dia belum bilang, bahwa dia ingin kembali ke perusahaan.
Sebagai mitra di perusahaan itu, Clara memilih untuk menikah dan memiliki anak ketika perusahaan baru saja berdiri, dia mengundurkan diri dari perusahaan, dan memilih fokus pada keluarga, tentu saja rencana pengembangan perusahaan mereka jadi terganggu, hingga membuat perusahaan kehilangan banyak peluang.
Semua orang kesal dan marah padanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, bisa dibilang mereka tidak pernah saling berkomunikasi.
Clara memang ingin kembali ke perusahaan itu, tapi setelah menikah dia hanya fokus pada keluarga.
Jadi bisa dibilang dia sudah terlalu lama meninggalkan lingkaran itu.
Clara khawatir jika kembali ke perusahaan tanpa persiapan apa pun, dia tidak akan mampu mengimbangi ritme mereka.
Oleh karena itu, dia berencana meluangkan waktu untuk memahami situasi industri terkini, sebelum akhirnya membuat keputusan final.
Dalam beberapa hari berikutnya, Clara bekerja sebagaimana mestinya, lalu sepulang kerja dia menyibukkan diri dengan urusannya.
Clara tidak lagi menghubungi putrinya dan juga Edward.
Begitu pula sebaliknya.
Mengenai ini sih, Clara tentu tidak terkejut lagi.
Sejak setengah tahun lalu, menghubungi mereka sudah menjadi keinginannya sepihak.
Mereka hanya terpaksa menerimanya saja.
…..
Negara Latvin.
Saat ini Elsa mempunyai kebiasaan baru yaitu menelepon Vanessa di pagi hari.
Hari ini sama seperti sebelumnya, begitu terbangun, dia langsung menelepon Vanessa.
Namun setelah mengobrol sebentar dengan Vanessa, terdengar suara sesenggukan.
Itu dikarenakan Vanessa memberinya kabar buruk.
“Tante Vanessa mau pulang ke Marola!”
Elsa merasa sangat sedih, selesai mengobrol dengan Vanessa, dia segera menelepon Edward:
“Halo Ayah, apa Ayah tahu soal ini?”
Di dalam perusahaan, Edward membolak-balik dokumen: “Tahu.”
“Kapan Ayah tahu?”
“Sudah lama.”
“Ayah! Ayah jahat banget… ” Elsa tampak memeluk boneka kuda poni dan menangis sedih: “Kenapa aku nggak dikasih tahu? Aku nggak mau Tante Vanessa pergi, aku juga nggak mau sekolah di sini kalau nggak ada Tante Vanessa, aku mau pulang, huhuhu... “
Edward lantas berkata dengan tenang: “Semua sudah diproses.”
Elsa tidak mengerti: “Apa, apa maksudnya?”
“Minggu depan kita pulang ke Marola.”
Bab 4
Elsa langsung melompat dari atas kasur sambil menyahut, “Beneran, Yah?”
“Ya.”
“Tapi kenapa tadi Tante Vanessa nggak kasih tahu aku?”
“Ayah baru memutuskannya, belum sempat memberitahunya.”
Elsa kegirangan: “Kalau gitu Ayah jangan kasih tahu Tante Vanessa, setelah pulang, kita kasih kejutan buat Tante Vanessa oke?!”
“Ya.”
“Ayah memang yang terbaik! Sayang banget deh!”
Setelah telepon ditutup, Elsa masih tampak kegirangan, bernyanyi dan melompat di atas kasur.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia teringat Clara.
Beberapa hari terakhir, ibunya tidak menelepon, jadi suasana hatinya sangat bagus.
Sebenarnya, agak tidak ngobrol dengan ibunya di telepon, beberapa hari lalu dia sengaja keluar rumah lebih awal, sepulang sekolah dia bahkan sengaja menaruh ponselnya jauh-jauh atau bahkan mematikannya.
Setelah dua hari melakukannya, Elsa menghentikannya, dia khawatir ibunya akan marah jika mengetahuinya.
Tapi tidak disangka, selama beberapa hari berikutnya ibunya tak kunjung meneleponnya.
Awalnya, dia mengira ibunya tahu bahwa dia menghindarinya.
Tapi setelah dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika dia melakukan kesalahan, ibunya akan langsung menegurnya, tidak akan mengabaikannya.
Bagaimanapun, dirinya adalah sosok penting di hati ibunya, ibunya paling menyayanginya, jadi mustahil ibunya tidak menelepon hanya karena marah padanya!
Saat memikirkan semua itu, tiba-tiba muncul sedikit kerinduan di hati kecil Elsa.
Ini adalah kali pertama dia merindukan ibunya, Clara.
Dia tak kuasa menahan diri untuk menelepon ibunya.
Tapi saat baru saja menekan layar ponsel, dia tiba-tiba teringat, meski setelah pulang negeri dia bisa bertemu Tante Vanessa lagi, tapi dengan sifat ibunya, ibunya pasti akan menghalanginya, tidak mengizinkan dia bertemu Tante Vanessa.
Dia tidak akan sebebas di Latvin, kapan pun bisa bertemu dengan Vanessa.
Begitu memikirkan ini, suasana hati Elsa langsung memburuk.
Di sisi belahan Marola sekarang ini masih pagi dini hari.
Clara sudah tertidur.
Dia terbangun karena panggilan telepon Elsa.
Begitu terbangun dan melihat nama Elsa di layar ponselnya, Clara langsung bersiap mengangkatnya, tapi malah dimatikan Elsa karena marah.
Dalam surat cerai sebelumnya dia memang menyebutkan bahwa Clara menyerahkan hak asuh Elsa pada Edward, tapi Elsa tetap adalah putri semata wayangnya.
Sebagai ibunya, dia masih memiliki tanggung jawab.
Saat melihat Elsa meneleponnya, dan langsung mematikannya, Clara pun takut terjadi sesuatu pada putrinya itu, lalu langsung menelepon balik.
Elsa tentu tahu itu, tapi dia segera memalingkan wajahnya, tidak mau mengangkat telepon.
Clara justru semakin khawatir, dia segera menghubungi telepon vila di sana.
Bibi Sari pun mengangkat telepon itu, selesai mendengar penjelasan Clara, Bibi Sari buru-buru berkata: “Harusnya Nona Elsa baik-baik saja, semalam Nona Elsa memang tidur terlalu malam, wajar dia terlambat bangun hari ini, tadi saya lihat Nona Elsa belum bangun. Coba saya lihat ke atas lagi untuk memastikan, nanti Ibu akan saya hubungi lagi.”
Mendengar Bibi Sari, Clara merasa lega: “Oke, maaf merepotkan.”
Saat Bibi Sari ke atas, Elsa sudah berada di kamar mandi.
Setelah Bibi Sari menjelaskannya, Elsa tampak sedang berkumur, sembari menundukkan kepala dan berbohong: “Nggak sengaja ketekan tadi.”
Bibi Sari tidak curiga sedikitpun, melihatnya masih menggosok gigi, dia langsung turun untuk memberi kabar pada Clara.
Melihat ini, Elsa mendengus dingin, akhirnya suasana hatinya membaik.
Di sisi lain, Clara juga merasa lega saat mendengar penjelasan Bibi Sari.
Namun, karena tiba-tiba terbangun di malam hari, Clara membutuhkan waktu yang lama untuk kembali tertidur, jadi saat bekerja keesokan harinya, dia terlihat lesu.
Sementara amplop berisi surat cerai yang diberikan Clara untuk Edward, setelah dia menerima panggilan telepon saat itu, amplop itu pun terlupakan olehnya.
Saat tiba waktunya untuk pulang ke Marola, Edward memasukkan dokumen terakhir ke dalam tas kerjanya, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia pun berbalik dan pergi ke bawah.
“Oke, ayo berangkat.”
Mobil Limousine segera melaju meninggalkan vila, menuju bandara.
….
Mengenai kepulangan Edward dan Elsa ke Marola, Clara tidak tahu sama sekali.
Tidak ada yang memberitahunya.
Sudah setengah bulan lamanya, semenjak dia pergi dari vila itu.
Selama periode itu, dia perlahan mulai terbiasa dengan kehidupannya, dan mulai menyukai kehidupan seorang diri yang tenang dan santai.
Kebetulan hari ini adalah akhir pekan, dia bangun sedikit terlambat dari biasanya.
Setelah mencuci muka, dia membuka tirai, melihat sinar matahari di luar jendela, meregangkan tubuhnya, lalu menyiram tanamannya, saat hendak memasak sarapan, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
Ternyata itu Bu Cindy tetangga depan rumah.
“Mbak Clara, aku nggak ganggu ‘kan?”
Clara menjawab dengan lembut: “Nggak kok, aku sudah bangun tadi.”
“Syukurlah kalau begitu.” Bu Cindy dengan ramah lanjut berkata: “Ini aku bawakan roti dan risol buatanku, silakan dicicip.”
“Makasih, anu... Maaf merepotkan.”
“Nggak kok, kalau bukan karena Mbak Clara yang nyelamatin Bella beberapa hari lalu, entah apa yang terjadi sama Bella setelah digigit anjing gila itu. Sebenarnya sudah beberapa hari aku ingin berterima kasih, tapi kami terlalu sibuk, nggak punya waktu, jadi nggak enak… ”
“Nggak perlu sungkan, itu hanya bantuan kecil kok.”
Setelah mengobrol sebentar, Bu Cindy pun pergi.
Clara masuk ke dalam rumah, lalu menyantap sarapan sambil melihat mekanisme algoritma AI yang baru saja dipelajarinya.
Sore harinya, sebuah berita terkait perayaan seratus tahun Universitas Nano muncul di ponselnya.
Clara terdiam sejenak, dia lantas melihat kalender, dan baru ingat kalau hari ini adalah hari jadi Universitas Nano.
Dia menjelajahi dunia maya, lalu menemukan beberapa pencarian populer tentang perayaan seratus tahun Universitas Nano.
Alasan kenapa perayaan hari jadi Universitas Nano begitu popular kali ini, bukan hanya karena Universitas Nano merupakan kampus terbaik nomor satu di Marola, di mana tiap pergerakannya selalu menjadi pusat perhatian, tapi juga karena perayaan kali ini adalah perayaan ke-100 pertama untuk Universitas Nano, jadi, tidak heran banyak alumni kehormatan yang diundang untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut.
Tentu saja, semua alumni kehormatan yang diundang merupakan tokoh-tokoh terkenal di bidangnya masing-masing.
Clara melihatnya beberapa kali.
Tanpa terasa, tangan Clara yang memegang ponsel bergetar saat melihat beberapa wajah familier yang muncul.
Kenangan masa lalu di kampus langsung terlintas satu per satu di pikirannya.
Detak jantungnya, pun berubah tak karuan.
Jika saja setelah wisuda dirinya tidak cepat-cepat menikah, bisa jadi dia yang akan menjadi salah satu alumni kehormatan, yang tentu saja diundang oleh kampus untuk berpartisipasi dalam perayaan itu!
Clara lantas mematikan laptop miliknya, setelah ragu sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Universitas Nano.
Saat ini, hari sudah mulai sore.
Banyak pejabat dan alumni yang sudah meninggalkan lokasi.
Tapi di dalam universitas itu masih ada banyak orang.
Clara berjalan tanpa tujuan mengitari kampus, saat tiba di lantai bawah gedung laboratorium, sebuah suara familier terdengar memanggilnya.
“Clara?”
Dua puluh menit kemudian, di kedai teh sekitar Universitas Nano.
Dylan Bramantyo menuangkan secangkir teh untuk Clara: “Gimana kabarmu, Clar?”
Clara tertunduk, sembari memegang cangkir teh dan tersenyum tipis: “Sangat baik, hanya saja... Aku sedang menyiapkan perceraianku.”
Dylan tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu, dia pun terdiam sejenak: “Maaf ya.”
“Nggak apa-apa.”
“Terus apa rencanamu selanjutnya? Mau balik ke perusahaan nggak?”
“Ada rencana seperti itu sih, tapi... ”
Dylan tidak tahu apa yang menjadi kekhawatiran Clara, tapi dia berkata dengan serius: “Clar, perusahaan butuh kamu, kamu juga punya andil di perusahaan itu, jadi aku harap, kamu bisa kembali dan memimpin perusahaan.”
“Aku, aku… ”
Melihat keseriusan Dylan, Clara tak sanggup lagi berkata-kata.
Bukannya tidak mau.
Tapi perkembangan AI terlalu cepat baginya.
Dia sudah enam tahun tidak berkecimpung di dunia teknologi, meski sekarang kembali, dia takut tidak akan mampu mengimbangi perkembangan zaman, apalagi memimpin semua orang di garis depan industri teknologi seperti yang pernah dia lakukan di masa lalu.