Bab 1
Di dalam bus tidur saat perjalanan pulang di hari liburan, aku yang memang memiliki hasrat tinggi tidak tahan ingin memeluk boneka silikon khusus yang baru aku beli untuk memuaskan diri.
Setelah kembali dari toilet, lampu bus sudah dimatikan dan seluruh kabin gelap gulita. Aku meraba-raba masuk ke dalam tirai ranjangku.
"Jangan di sana. Kamu terlalu besar. Nanti rusak."
Tanpa banyak bicara, pria itu mengangkat kakiku di bahunya. Benda panasnya yang besar menekan bagian intimku.
Aku menggelengkan kepala tidak karuan, napasku tersengal-sengal, air mata dan liurku bercampur menjadi satu, menetes ke seluruh lantai.
"Aku salah. Cepat masukkan."
Benda keras itu langsung menusuk ke dalam. Aku sampai memutarkan bola mata karena terlalu nikmat.
"Kalau terus dipegang, ini akan berakhir sampai penetrasi penuh."
Namaku Elisa Ganendra, sejak lahir mengidap kelaparan sentuhan dan kecanduan seks. Karena itu, aku membeli banyak mainan pemuas nafsu.
Namun, itu belum cukup. Akhirnya, aku menghabiskan banyak uang untuk memesan boneka pria seukuran tubuh manusia, lengkap dengan mainan ukuran ekstra besar. Sejak itu, aku tidak bisa lepas darinya, bahkan di perjalanan pulang aku selalu membawanya untuk merasakan sensasi yang menggairahkan.
Tiba-tiba aku mendengar suara napas berat.
Aku terkejut mendengar suara itu, lalu diam-diam merasa senang. "Boneka silikon ini ternyata bisa bicara."
Aku makin bersemangat menggerakkan tubuh di atasnya.
Suhu tubuhku meningkat, bahkan napas boneka silikon itu makin berat.
"Sudah puas menyentuhnya?"
Seketika aku tersadar. Ternyata yang di bawahku adalah manusia sungguhan!
Pria itu mencengkeram pahaku, matanya masih berbinar penuh nafsu.
Dia mencengkeram daguku, lalu memaksakan jari telunjuknya untuk masuk ke mulutku.
"Berani-beraninya naik ke ranjang pria di bus seramai ini. Benar-benar jalang."
Aku langsung mendorongnya kuat-kuat, suara detak jantungku terdengar begitu jelas di ruang sempit itu. "Kenapa kamu ada di tempat tidurku? Cepat pergi!"
Meskipun dirinya memang tidak bisa jauh dari pria, tapi di balik tirai itu ada banyak orang yang sedang pulang kampung. Ini… ini terlalu menegangkan.
Pria itu mengangkat alisnya, lalu langsung memelukku dari belakang, tangannya yang besar meremas dadaku.
"Ini ranjangku. Kamu pergi, atau kita lanjutkan sampai selesai?"
"Jangan, jangan!"
Aku buru-buru melambaikan tangan sambil tersenyum canggung, lalu memeriksa nomor kursi. Ternyata aku yang salah duduk.
Boneka silikon itu terbaring di seberang pria itu.
"Yang palsu nggak akan bisa mengalahkan yang asli."
Suara tawa rendahnya yang menggoda bergema di telingaku. Dia menggenggam tanganku, lalu menuntun tanganku dari dada berototnya turun ke bagian bawah yang terasa panas.
"Kalau nggak diselesaikan, bakal nggak nyaman. Kamu yakin bisa menahannya? Atau mau melakukannya dengan si boneka?"
Hembusan napas khas pria menyapu leherku dan bibirnya yang panasnya membuatku limbung. Tanpa kusadari, dia telah membawaku masuk ke toilet bus.
Saat ujung jaket tudungku tersingkap, kesadaranku kembali sesaat. Aku mencengkeramnya erat dan enggan melepaskannya.
"Nggak mau?"
Setelah mengatakannya, tangan pria itu langsung menyusup ke area sensitifku. Seketika tubuhku tersentak saat dia menekannya pelan.
"Masih bilang nggak suka? Sudah basah begini."
Godaan yang terus menyerang dan perut kotaknya yang terlihat, membuatku kembali kehilangan kendali.
Tangan besar pria itu membelai pinggangku, lalu menggenggam tanganku dan menuntunnya ke ikat pinggangnya.
Benda itu melonjak keluar dan hampir saja menyentuh wajahku. Itu sangat besar.
Bahkan di film-film yang aku tonton tidak ada yang sebesar ini. Bisakah aku mengatasinya?
Tidak ada rasa takut, yang ada hanya gairah untuk segera menyambutnya ke dalam diriku.
Pria itu menekan kepalaku dan mulutku langsung terisi penuh. Namun, aku sama sekali tidak merasa tidak nyaman, aku justru menginginkan lebih... lebih lagi.
Seolah memahami kegelisahanku, pria itu akhirnya mengangkat tubuhku sambil berbisik, "Om akan membantumu melepaskan hasrat."
Ladang bungaku yang sudah lama basah tidak mampu menahan kehadiran benda asing, dua jari itu pun dengan mudah menyusup masuk, membuat seluruh tubuhku terus gemetar.
Hasratku membara, suara desahanku tidak bisa kutahan lagi. Aku hampir sampai!
"Apa ada orang di toilet? Sudah lama sekali, kenapa masih belum keluar?"
Bab 2
Ketukan pintu yang tiba-tiba membuatku langsung mencengkeram bahu pria itu. Perutku mengencang dan menjepit kedua jarinya lebih erat.
Aku menatapnya dengan sorot memohon, lalu membentuk kata dengan mulutku. "Jangan bergerak."
Namun, pria itu jelas tidak berniat mendengarku. Ekspresi main-mainnya membuatku merasa ada yang tidak beres.
Tiga jari, empat jari. Badanku lunglai di pelukannya, aku tidak lagi sanggup menahan diri. Suara eranganku yang kencang keluar tidak terkendali.
Dia segera menutup mulutku dengan ciuman, membuat suaraku berubah menjadi erangan tertahan.
"Masih bisa jalan sendiri?" Godanya sambil mengeluarkan tisu dan menyumpalnya ke area sensitifku. "Tahan baik-baik, jangan sampai keluar."
Telingaku langsung memerah karena malu. Aku menyembunyikan wajahku di punggungnya saat keluar dari toilet.
Saat bus tiba di halte, aku segera bergegas pulang dengan satu tanganku membawa koper berat, sementara tangan lainnya menggendong boneka silikon.
"Ayah! Aku pulang!"
Seseorang dari dapur melongok keluar dengan senyum hangat, lalu melangkah mendekat. Aku buru-buru memalingkan wajah.
Ayahku hanya mengenakan celemek di bagian atas tubuhnya. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, dan perut berototnya tampak samar di balik kain.
Jujur saja, wajah cantikku ini sepenuhnya berkat gen darinya. Ditambah lagi, ayahku rutin berolahraga selama bertahun-tahun, tubuhnya benar-benar sempurna. Dia benar-benar seperti model pria.
Ayahku memegang daguku, memaksaku menatapnya. Aku pun refleks menelan ludah.
Wanita-wanita di sekitar ayahku benar-benar beruntung.
Ayahku hampir sempurna dalam segala hal. Satu-satunya kekurangannya adalah terlalu banyak wanita. Wanita yang dia ajak pulang ke rumah tidak pernah ada yang sama.
Setiap kali aku di rumah, pasti terdengar erangan keras dari kamarnya di tengah malam.
"Sayang, coba cicipi sup torpedo sapi buatan ayah."
Dengan santai, ayahku menggandeng tanganku dan membawaku ke dapur.
Semua orang mengatakan, anak perempuan yang beranjak dewasa harus menjaga jarak dari ayahnya. Namun, sejak kecil aku dibesarkan olehnya seorang diri, aku tidak sanggup melepaskan ikatan ini.
Torpedo sapi itu tampak utuh di dalam sup. Aku pun mengernyit. "Kenapa nggak dipotong-potong dulu?"
"Kalau dipotong kurang nikmat."
Ayahku berbicara dengan nada penuh makna, matanya mengamati jaket tebal yang kukenakan, lalu menatap ke arah kamarku. "Jangan lupa aturan kita. Begitu pulang, gantikan bajumu."
Wajahku memanas. Aku menggigit bibirku dan mengangguk, lalu bergegas kembali ke kamar.
Lemari pakaianku penuh dengan pakaian seksi seperti, kostum pelaut, kostum guru seksi, baju perawat yang menggoda, hingga seragam pramugari super pendek... Semuanya ada. Selain itu, semuanya sudah pernah kupakai.
Tanganku meraih tali pengikat, lalu mengikat tubuhku sesuai petunjuk. Lekuk tubuhku yang indah terpampang jelas tanpa cela.
Kemudian, aku melangkah keluar kamar. Tali rami yang melilit di antara pahaku bergesekkan setiap kali aku melangkah. Tanpa sadar, aku menggigit bibirku sambil berdiri di depan ayah untuk menunggu penilaiannya.
"Hmm! Bagus."
Tangannya mengelus kepalaku. "Tapi, hari ini kamu harus mengenakan kemeja saat di luar. Sebentar lagi teman Ayah akan datang."
Aku mengangguk patuh. Aku menuruti perintahnya dengan mengenakan kemeja pria longgar yang hanya memperlihatkan kedua kakiku yang jenjang.
Sebelum makan malam, pintu rumahku diketuk. Aku buru-buru membukanya. Senyumku langsung membeku begitu melihat tamu itu.
Bukankah dia pria yang kutemui di bus!
Tatapannya jatuh pada noda basah di antara pahaku. Mata pria itu langsung menggelap.
"Aku sudah lama mendengar Kak Andra punya putri yang sangat cantik. Ternyata itu benar."
Sebuah tangan menyentuh pundakku. Ayahku menarikku mundur dengan cepat.
"Lama nggak ketemu, Kawan. Silakan masuk."
"Kalian saling kenal?"
Aku mengerutkan dahi, khawatir pria itu akan menceritakan kejadian di bus. Jika itu terjadi, pasti ayah akan menghukumku!
Teringat hukuman-hukuman sebelumnya, tubuh bagian bawahku makin basah.
"Dia Om Andra yang sering Ayah ceritakan. Kami berteman sejak kecil, bahkan nama kami sama!"
Teman masa kecil? Teman masa kecil sekeren ini, tapi ayah tidak pernah membawanya pulang?
Pandangan pria itu terus tertuju pada lantai di bawah kakiku, lalu tersenyum penuh arti.
"Adik kecil memang terbuat dari air."
Bab 3
Di meja makan, ayahku dan pria itu masing-masing menyantap semangkuk sup torpedo sapi. Selain itu, di atas meja juga tersedia torpedo kambing, kucai, dan minuman penambah stamina...
Aku mendapatkan sup khusus racikan ayah, katanya untuk memperbaiki kualitas tidur.
Setelah meminum sup itu, aku memang tidur nyenyak sepanjang malam, tapi efek sampingnya membuat tubuhku pegal-pegal di siang hari.
Pria itu ingin mencicipi supku, tapi dihentikan oleh ayahku yang mengedipkan mata pada Om Andra.
"Nanti malam aku traktir makan enak. Sup ini harus diminum Elisa sendiri."
Setelah mengatakannya, Om Andra menunjukkan senyum mengejek dan bertukar pandangan dengan ayahku.
Komunikasi antar pria memang aneh, aku sama sekali tidak memahaminya.
Baru setengah mangkuk sup kuteguk, tubuhku sudah dipenuhi keringat seperti berada di ruang sauna. Aku menatap ayahku dengan pandangan meminta pertolongan.
Tidak disangka, dia justru sedang menikmati torpedo sapi itu dengan serius. Akhirnya, aku pergi sendiri ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, pria bertubuh tinggi besar itu menyusul masuk dan mengunci pintu. Andra merobek kancing bajuku dengan mudah. "Dasar jalang, sudah nggak tahan, ya?"
Sambil mengatakannya, tangannya meraba ke antara pahaku.
Wajahku langsung memerah, pikiranku dipenuhi kejadian semalam di bus.
Hari ini, Andra mengenakan setelan jas khusus yang dibuat tangan. Dia terlihat dingin, tapi sangat menawan. Andai saja dia mengenakan jas itu saat bercinta denganku, itu pasti akan terasa luar biasa.
"Melamun lagi?" Andra tampak tidak senang dan menghukumku dengan penetrasi kasar. Aku buru-buru menutup mulutku, takut ayahku mendengar suaraku.
Aku menggeleng. "Nggak boleh, benaran nggak boleh!"
"Kenapa nggak boleh?" Tatapannya menusuk. "Berpakaian seperti ini di rumah, apa yang masih kamu takutkan? Ayahmu itu mesum, kamu juga sama. Baru diperlakukan seperti ini saja sudah basah kuyup."
Aku menggeleng lebih kencang dan berbisik memohon, "Ayahku akan dengar."
"Kalau begitu mari kita lakukan bersama. Tubuhmu yang sudah terlatih seperti ini, yakin belum pernah dipakainya?" ujarnya dengan suaranya parau. Gerakan Andra makin cepat dan ketika jarinya menarik diri, dia berjongkok dan sensasi hisapan yang basah langsung menyelimutiku.
Gelombang kenikmatan menerjang, aku segera menggigit ujung bajuku untuk menahan erangan.
Pria itu menarik bajuku dari mulutku. "Berteriaklah! Panggil ayahmu ke sini."
"Jangan, kumohon." Tanganku bergerak panik.
Ketegangan karena hampir ketahuan dan gelombang kenikmatan yang menerjang, membuat seluruh perlawananku menghilang tanpa bekas.
Aku menginginkan lebih. Aku menginginkannya, aku sangat menginginkannya!
Melihatku yang tidak lagi melawan, pria itu berdiri sambil menggenggam lenganku. "Ayo keluar seperti ini. Kita nikmati dirimu di meja makan, bagaimana?"
Seluruh tubuhku gemetar. Gelombang kenikmatan membuatku hampir gila, tapi dia sengaja tidak memberikannya padaku. Aku tidak peduli lagi, aku membasahi jariku sendiri dan menyelipkannya ke bawah.
Masih belum cukup!
Rintihan, suara basah, dan napas berat bersahutan. Aku seperti pecandu seks yang sudah kehilangan akal.
Kubuka bibir kecilku sedikit dan mengarahkannya ke ujungnya. Mataku basah oleh hasrat, sudut mata yang kemerahan menambah aura menggairahkan.
"Sialan! Dasar jalang! Hari ini, aku akan mempermalukanmu di depan ayahmu!"
Pria itu menekanku ke wastafel, ujungnya baru saja masuk.
"Kalian sedang apa!"
Ayah membuka pintu toilet dengan wajah suram. Melihat posisi kami yang intim, sorot matanya makin gelap. Dia mengulang ucapannya sekali lagi.
"Ayah sudah bilang, nggak boleh ada pria lain yang menyentuhmu kecuali Ayah. Kalau nggak, kamu akan dihukum!"