Bab 7
Kapan William bersikap lemah lembut padanya?
Grace menganggap semua ini benar-benar konyol.
William masih tidak mempercayainya. William menganggap Grace akan menggunakan perceraian untuk merusak reputasinya.
Perceraian setelah satu tahun menikah bukanlah hal yang mulia, jadi Grace tidak akan mempublikasikannya dengan terang-terangan.
"Aku berjanji tidak akan menyebutkannya sepatah kata pun. Kalau kamu khawatir, kamu bisa menambahkan ini ke dalam perjanjian perceraian."
William melihat ejekan di bibir Grace dan merasa sangat kesal. "Jangan tunda-tunda, cepat tanda tangan!"
Grace mengatakan ini seolah-oalah sengaja mengulur waktu.
Grace terlalu malas untuk berdebat dengan William, jadi langsung mengambil pena dan tanda tangan tanpa ragu-ragu.
"Giliranmu!"
Grace melemparkan pena serta surat perjanjian perceraian ke depan William.
Sudah menyuruh orang untuk mencetak dokumennya, kenapa tidak tanda tangan dulu? Benar-benar merepotkan!
William merasakan lirikan mata kesal dari Grace. William mencoba menahan diri untuk tidak marah. Lagi pula sebentar lagi mereka tidak akan berhubungan, jadi lebih baik menahannya selama beberapa menit saja.
Setelah mengambil pena, William hendak menandatangani tapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Ternyata yang menelepon adalah Bibi Linda, pengasuh yang khusus untuk merawat neneknya.
Begitu menerima telepon, suara cemas dari Bibi Linda terdengar.
"Tuan, Nyonya tiba-tiba pingsan! Saya sudah memanggil dokter, cepat kemari!"
Setelah mendengar ini, William buru-buru berdiri dan segera keluar!
"Kamu mau ke mana?"
Grace berteriak, "Tanda tangan dulu!"
William tiba-tiba teringat sesuatu dan menatap Grace dengan wajah dingin ....
"Apa ini perbuatanmu?"
Grace bingung. "Apa yang kulakukan? Siapa yang menelepon tadi?"
Grace sengaja duduk jauh dari William, jadi hanya tahu bahwa orang di ujung telepon sedang terburu-buru dan tidak mendengar dengan jelas apa yang terjadi.
Melihat ekspresi Grace yang sepertinya tidak berpura-pura, William tidak punya waktu untuk menyelidikinya lebih jauh.
"Grace, sebaiknya kamu jangan bercanda tentang nyawa Nenek!"
Setelah mengatakan itu, William segera pergi.
Grace tahu dari reaksi dan kata-katanya bahwa ini tentang Nenek Tamara.
Grace segera meneleponnya.
Setelah mendengar Bibi Linda bilang bahwa Nenek pingsan, Grace buru-buru pergi dari Kantor Catatan Sipil.
Nenek Tamara selalu baik padanya.
Nenek Tamara bukan hanya mengizinkannya menikah dengan William, tapi juga membantunya melampiaskan amarahnya saat Grace dianiaya.
Alasan kenapa dia bisa mempertahankan pernikahannya dengan William adalah karena dukungan Nenek Tamara.
Hanya saja di kehidupan sebelumnya, Grace terlalu mengecewakan Nenek Tamara.
Setelah masuk rumah sakit jiwa, Grace mendengar bahwa neneknya kurang sehat, sehingga tidak lagi punya tenaga untuk mencampuri urusannya.
Meskipun tidak lagi menjadi istri cucunya dalam kehidupan ini, tapi Grace tidak akan pernah melupakan kebaikan Nenek Tamara padanya.
William tidak lagi berada di tempat parkir di luar, jadi Grace tidak punya pilihan selain naik taksi dan bergegas ke kediaman Keluarga Sanjaya secepat mungkin.
Setelah ke ruang tamu, tidak ada dokter yang seperti dibayangkan, bahkan tidak ada pelayan yang sedang cemas.
Nyonya Tamara sedang duduk di kursi utama, tidak terlihat sedang sakit dan menatap ke arah William dengan marah.
"Kamu hebat sekali, berani-beraninya bercerai dengan Grace di belakangku!"
"Nenek, Grace ...."
William baru saja membuka mulut untuk berbicara, tapi Nyonya Tamara memukulnya dengan tongkat!
"Kamu masih ingin berdalih? Grace sangat mencintaimu, mana mungkin bisa mengajukan perceraian! Apa kamu ingin membuatku mati?"
Nyonya Tamara begitu marah hingga batuk beberapa kali.
"Nenek!" Grace buru-buru berlari ke arahnya.
Nyonya Tamara sedikit senang melihatnya. "Grace datang tepat pada waktunya, beri tahu Nenek kalau bocah ini yang memaksamu bercerai!"
Grace melirik ke arah William, tatapan matanya sudah dipenuhi rasa dingin.
Jika Nyonya Tamara tidak ada di sana, William pasti sudah langsung membunuhnya!
"Kenapa melihat Grace saja?"
Nyonya Tamara memukul William lagi dan berkata pada Grace, "Jangan takut, Grace. Katakan yang sebenarnya. Nenek akan membelamu!"
Hati Grace merasa hangat.
Grace memegang tangan Nenek dan berkata dengan lembut, "Nenek, bukan William yang ingin bercerai, aku sendiri yang ingin bercerai."
Nyonya Tamara menepuk punggung tangannya dengan nyaman.
"Grace, beritahu Nenek apa yang kamu derita. William akan meminta maaf atau Nenek bisa memukulnya! Hanya saja, jangan bercanda tentang perceraian."
Nenek masih tidak percaya padanya.
Grace sedikit tidak berdaya. "Nenek, aku tahu Nenek merasa kasihan padaku, tapi aku nggak bercanda."
"Aku nggak gegabah, aku sudah memikirkannya dengan jelas. Aku ingin bercerai."
Melihat ekspresi tegas Grace, ekspresi Nyonya Tamara menjadi sedikit lebih serius.
"Grace, ikut Nenek pergi ke ruang meditasi."
...
Setengah jam kemudian, Grace membantu Nyonya Tamara kembali ke ruang tamu dengan mata merah.
Nyonya Tamara menatap William dengan marah. "Bawa kembali Grace!"
"Kalau kalian bercerai di belakangku, aku akan beri kalian pelajaran!"
William sepertinya tidak terkejut dengan hasil ini, mencibir dan berdiri untuk pergi.
"Dasar bocah tengil!"
Nyonya Tamara mengumpat sambil memegang tangan Grace dengan sedih. "Grace, ingat apa yang kamu janjikan pada Nenek."
"Nenek harus berjanji nggak akan menghentikanku menceraikan William setelah ulang tahun Nenek bulan depan."
"Bagaimana kalau William jatuh cinta padamu?" tanya Nyonya Tamara.
Bab 8
Grace tertawa dalam hatinya.
Di kehidupan sebelumnya, Grace menunggu selama delapan tahun, tapi pada akhirnya hanya mendapat surat cerai dan kabar bahwa William sudah menikah lagi dengan Bella.
Bagaimana William bisa jatuh cinta padanya hanya dalam beberapa hari.
"Nenek bilang kalau William mengetahui kebaikanmu dan jatuh cinta padamu, apa kamu masih ingin bercerai?" tanya Nyonya Tamara lagi.
Grace mengangguk tegas di depan mata neneknya yang penuh harap. "Ya."
Entah apa yang terjadi dalam hidup ini, dia tidak ingin berhubungan dengan William.
Dia sudah cukup merasakan sakitnya cinta.
Dia ingin menjauh dari William dan memulai hidup baru!
...
Setelah berjalan keluar dari rumah, Grace melihat William dengan wajah dingin di dalam mobil.
Kehebohan dari perceraian ini sudah terjadi, tapi masih saja gagal bercerai.
Menurut William, ini adalah sandiwara antara Grace dan neneknya.
Saat masuk ke dalam mobil pasti akan dipermalukan dan ditanyai oleh William.
Jadi Grace mengabaikannya dan berencana naik taksi dan pergi sendiri.
"Naik!"
William melihat niatnya dan memberikan perintah.
"Terima kasih, kita nggak satu jalan." Grace juga merasa kesal.
Gagal bercerai membuat suasana hatinya menjadi buruk, kenapa harus rela menerima emosi dari William?
"Grace!"
Ada peringatan dalam nada bicara William.
"Kenapa teriak? Kalau kamu bisa, cepat urus masalah perceraian sekarang!" ujar Grace.
Ini adalah pertama kalinya dia berbicara kepada William dengan nada seperti ini dan juga pertama kalinya mengkritik William seperti ini.
Kemarahan di wajah William meningkat dengan kecepatan yang terlihat dengan mata telanjang.
William mencibir. "Bagus sekali!"
Grace bahkan tidak memikirkan apa yang dimaksud dengan "bagus sekali", lalu melihat William keluar dari mobil.
Saat hendak melarikan diri, dia ditangkap oleh William!
"Lepaskan aku!"
Grace menjadi cemas, berbalik dan menggigit lengannya.
William kesakitan tapi tidak membuang tangannya. Sebaliknya, melemparkan Grace ke dalam mobil seperti seekor ayam.
"Jalan!"
William memerintahkan Antony.
Mobil sudah menyala, Grace tidak dapat melarikan diri lagi. Grace segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera pada William.
Grace memeringatkan, "Kalau kamu berani memukul aku, aku akan segera lapor polisi!"
"Lapor polisi?"
William sepertinya mendengar sesuatu yang konyol dan mendesak ke arahnya.
Tubuh tinggi itu mendekat seperti gunung, Grace tiba-tiba merasakan tekanan lalu menarik lagi tangannya yang sedang memegang ponsel.
"A-apa yang ingin kamu lakukan?"
"Bukankah kamu hebat? Kenapa kamu gugup!"
William mengangkat pergelangan tangannya sambil tersenyum dingin, memperlihatkan sederet bekas gigi yang dalam di atasnya.
"Mulutmu kejam sekali. Kalaupun aku memukulmu, itu bisa dianggap pembelaan diri."
Setelah melihat keadaan ini, Grace menjadi tenang.
Entah seberapa besar William membencinya di kehidupan sebelumnya, William tidak pernah memukulnya.
William juga bukan tipe pria yang suka memukul wanita.
Saat ini, William sangat dekat dengannya, aroma wangi masuk ke hidungnya. Grace merasa tidak nyaman, jadi mengerutkan kening dan mendorongnya menjauh!
William tidak siap dan didorong ke belakang hingga hampir menabrak jendela mobil.
"Grace, apa kamu sudah kecanduan?" ujar William dengan marah.
Grace menjawab tanpa basa-basi, "Kamu lemah sekali hingga bisa jatuh hanya dengan satu dorongan. Kenapa menyalahkanku?"
William tersedak.
Grace tidak pernah sekeras ini di depannya dan tidak pernah mengucapkan kata-kata sarkastik seperti itu.
Sekarang Grace di depannya ini benar-benar berbeda.
"Baiklah, Grace." William marah besar dan tertawa. "Kamu sudah punya otak? Kamu tahu bahwa masalah hari ini nggak bisa dijelaskan, jadi kamu belajar mengalihkan perhatian?"
"Apa yang harus aku jelaskan!"
Grace tidak terlalu menyukai nada bicara William. "Aku lebih ingin bercerai daripada kamu! Neneklah yang bersikeras membuatku menunggu sampai ulang tahunnya!"
Sebelum menikah dengan William, Grace bersumpah kepada Nenek Tamara bahwa akan menjadi Nyonya Sanjaya yang baik, berpegang pada pernikahan ini dan bekerja keras untuk membuat William jatuh cinta padanya.
Sekarang baru satu tahun berlalu, Grace hampir mengingkari janjinya pada Nenek Tamara.
Jadi di ruangan meditasi, setelah neneknya berulang kali menegaskan tekadnya untuk bercerai, Nenek Tamara dengan sedih tidak ingin berpisah dengan istri cucunya saat berulang tahun dan meminta Grace untuk menunda sampai ulang tahunnya, mau tidak mau Grace menyetujuinya.
"Grace, apa kamu nggak merasa bersalah mengatakan hal ini?" William mencibir. "Kalau kamu benar-benar ingin bercerai, kenapa membawa masalah ini ke Nenek?"
"Nggak! Aku nggak tahu bagaimana Nenek bisa tahu!"
"Kalau kamu nggak tahu, lalu siapa yang tahu? Mana mungkin aku mengatakan hal ini pada Nenek."
Melihat ekspresi William yang sinis, Grace tiba-tiba tidak ingin berdebat.
"William, sekarang pergi ke Kantor Catatan Sipil saja!"
Grace berkata dengan tenang, "Aku akan merahasiakannya pada Nenek untuk saat ini dan menunggu sampai ulang tahunnya selesai baru mengumumkannya."
"Sudahlah, jangan bersandiwara lagi!"
William kehilangan kesabarannya. "Jangan bilang kamu nggak tahu. Nenek sudah mengirim seseorang ke Kantor Urusan Sipil untuk mengambil surat perjanjian perceraian kita."
"Pura-pura ke sana agar aku dimarahi oleh Nenek lagi!"
Grace agak terkejut saat mendengar ini.
Grace tidak menyangka neneknya akan bergerak secepat itu.
Nenek bisa meminta orang untuk mengambil surat cerai mereka, mungkin akan mengatur agar orang-orang mengawasi pergerakan mereka.
Perceraian rahasia tampaknya tidak bisa dilakukan.
Grace tidak lagi mendesak, "Kalau begitu, kita bertoleransi satu sama lain selama beberapa hari lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku berjanji akan segera menceraikanmu!"
William mendengus dan masih hendak berbicara, tapi teleponnya tiba-tiba berdering.
Bab 9
Begitu telepon masuk, ekspresi William melembut secara signifikan lalu segera membuka layar ponsel.
"William, rapat Perusahaan Investasi Balka sebentar lagi akan dilaksanakan. Bisa sampai di sini berapa lama?"
Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, suara lembut Bella menembus telinga Grace melalui ponsel William kata demi kata.
William baru-baru ini mengakuisisi Perusahaan Investasi Balka, dengan Bella sebagai direkturnya.
Di kehidupan sebelumnya, Bella membuat rapor yang indah di Perusahaan Investasi Balka dan dipanggil "Ratu" oleh rekan-rekannya.
Saat itu Grace tidak rela dan ingin masuk ke Perusahaan Sanjaya untuk membuktikan kemampuannya.
Namun, Grace diejek oleh William.
"Kamu mau bekerja? Apa kamu tahu cara bertahan hidup di tempat kerja? Berapa banyak waktu dan energi yang Bella curahkan untuk mendapatkan pengakuan dari dewan direksi, tapi kamu bilang bisa melakukannya hanya dengan ambisi saja?"
"Grace, latar belakang Bella kalah denganmu, tapi Bella termotivasi, pekerja keras dan berpendidikan tinggi! Nggak seperti kamu, yang nggak bisa berbuat apa-apa selain menindas orang lain setiap hari!"
...
"Oke, sudah begini saja."
William menutup telepon.
Grace juga terbebas dari ingatannya.
Wajah William di kehidupan sebelumnya tumpang tindih dengan wajah di depannya, Grace tiba-tiba merasa udara di dalam mobil menjadi lebih tipis.
"Pak Antony, tolong menepi, aku ingin keluar."
"Nyonya, di sini susah untuk dapat taksi. Kenapa nggak pergi ke perusahaan bersama Pak William dan aku akan mengantarkan Nyonya pulang?"
"Nggak perlu, turunkan aku di sini saja."
Grace tidak ingin tinggal bersama William lebih lama lagi.
Antony tidak segera menghentikan mobilnya, tapi melihat ke arah William di kaca spion untuk menunggu instruksinya.
Melihat ekspresi Grace yang sudah tidak tahan lagi, William menjadi marah. "Hentikan mobilnya, biarkan dia keluar!"
Antony melakukan apa yang diperintahkan dan menepikan mobilnya.
Grace keluar dari mobil tanpa ragu-ragu dan menutup pintu.
"Grace, kalau kamu berani memasukkan Nenek ke dalam masalah kita, aku nggak akan pernah memaafkanmu!"
Grace berpura-pura tidak mendengar peringatan William dan berjalan maju tanpa menoleh ke belakang.
William emosi, berbalik dan berkata dengan marah pada Antony, "Kenapa nggak pergi? Mau menunggu di sini sampai malam?"
Antony terdiam.
Grace menggunakan ponselnya untuk memesan mobil. Meskipun tarifnya dinaikkan karena jarak yang jauh, tapi suasana hatinya menjadi baik.
Grace membawa mobilnya ke rumah sakit terlebih dahulu dan menjalani pemeriksaan fisik lengkap di sana, dengan fokus pemeriksaan pada perutnya.
Menderita kanker lambung sangatlah menyakitkan, Grace harus menjaga tubuhnya dengan baik dalam hidup ini untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya kanker.
Butuh beberapa hari hingga hasil tesnya tersedia, jadi Grace kembali ke Vila Bonavida.
Beberapa barang bawaan yang dia kemasi tadi malam sudah diatur ulang oleh Bibi Sinta.
"Nyonya, apa hari ini Tuan akan pulang? Barang-barang ini mau dikembalikan saja?" tanya Bibi Sinta dengan hati-hati.
Grace tertegun.
Jadi di mata Bibi Sinta, saat dirinya mengemasi tasnya dan ingin bercerai kemarin, apa itu karena tahu William akan pulang dan dengan sengaja melakukan hal itu padanya?
Sambil terdiam, Grace juga mengesampingkan kecurigaan Bibi Sinta yang memberi tahu neneknya.
Siapa yang banyak bicara?
Benar-benar ingin sekali memukulinya.
Sebentar lagi dia sudah bisa menarik garis dari William!
Grace berjanji pada Nenek Tamara untuk tidak pindah dari Vila Bonavida sebelum perceraian dan hanya bisa terus tinggal di sini untuk saat ini.
...
Setelah bangun keesokan harinya, Grace memutuskan untuk melatih keterampilan mengemudinya.
Grace mendapatkan SIM saat lulus SMA. Grace tidak pernah menyentuh mobil selama beberapa tahun dan masih belum terbiasa.
Untuk memudahkan masuk dan keluar nantinya, Grace harus bisa mengemudi.
Ada mobil Maserati di pojok garasi pemberian kakeknya saat mereka menikah, tapi Grace enggan mengendarainya sendiri.
Dengan kemampuan mengemudinya, akan celaka jika menabrak orang lain.
Jadi Grace secara acak memilih mobil William, mengendarai berdasarkan ingatannya dan keluar dari garasi.
Setelah akhirnya sampai di jalan raya, Grace tidak berani pergi ke kawasan perkotaan yang padat, melainkan melaju perlahan di jalan yang relatif sepi.
Saat keluar lagi di sore hari, Grace merasa tangannya telah pulih dengan baik dan kecepatannya lebih cepat daripada di pagi hari.
Ada persimpangan di depan. Saat Grace hendak berbelok, tapi ada seekor anak anjing yang melompat keluar. Grace terkejut dan memutar kemudi dengan tajam.
Mobil Grace pun bertabrakan dengan mobil yang datang dari jalan utama.
Melihat cat mengkilap dan logo mobil pihak lain yang memesona, Grace mengerutkan kening.
Ternyata Grace menabrak mobil mewah.
Untungnya, Grace tidak mengendarai mobilnya sendiri. Jika tidak, maka mobilnya yang akan rusak.
Pengemudi mobil di depan sudah keluar dan Grace juga segera keluar dari mobil.
"Maaf, aku yang nggak hati-hati ...."
Pihak lain mengabaikan permintaan maafnya dan dengan cermat mengambil foto untuk identifikasi dan menelepon polisi, seolah-olah pernah melalui proses ini berkali-kali.
"Kenapa lambat sekali?" Suara yang sedikit tidak sabar terdengar dari dalam mobil.
"Maaf, Tuan Muda Reza, sebentar lagi selesai."
Sopir itu menjawab dengan ketakutan dan berkata kepada Grace, "Berikan SIM kamu untuk aku foto dan tinggalkan nomor teleponmu. Seorang pengacara akan menindaklanjutinya nanti."
Apakah orang-orang kaya saat ini begitu memperhatikan efisiensi dalam menghadapi kecelakaan lalu lintas?
Grace mengeluarkan SIM dari mobilnya dan menyerahkannya.
"Pemilik mobil, William. Ini bukan mobilmu?"
"Milik suamiku, ini nomor teleponku."
Grace menyerahkan catatan dengan nomor teleponnya tertulis di sana.
"Aku akan memberimu kartu nama pengacara. Dia ...."
"Tunggu sebentar."
Grace hendak mengambil kartu nama itu, tapi pintu belakang mobil terbuka dan ada seorang pria yang turun.