Bab 4
Grace berbalik lalu teriak, "Siapa yang menyuruhmu membuangnya? Ambil!"
Petugas resepsionis tidak takut padanya. "Nggak perlu repot-repot seperti ini, CEO kami nggak akan melihatnya. Setiap saat kamu mengirimkannya, beliau akan menyuruh kami membuangnya!"
Dulu, Grace khawatir William bekerja terlalu keras, jadi bersusah payah memberinya makanan, pakaian untuk menghilangkan stres.
Grace juga menulis kepadanya seperti tokoh utama dalam novel dan mengungkapkan perasaannya yang tulus.
Ternyata begitulah cara William menyikapi kekhawatirannya.
Bahkan petugas resepsionis berani membuang barang-barangnya sesuka hati!
Grace menatap dingin ke arah petugas resepsionis. "Entah William melihatnya atau nggak, kamu nggak punya hak untuk membuang barang! Ambil!"
Petugas resepsionis itu mengerutkan bibirnya dan berkata, "Ya, akan aku ambil. Kamu hanya pura-pura menjadi istri CEO, tapi ternyata dicampakkan."
"Kamu ...."
"Apa yang terjadi?"
Grace baru saja ingin menyuruh pihak lain meminta maaf, tiba-tiba suara pria yang serius terdengar.
Grace menoleh dan melihat bahwa orang yang berbicara adalah asisten William, Antony Zulaiman.
Orang yang berdiri di samping Antony adalah William yang mengenakan setelan jas hitam.
William bertubuh tinggi dan tampan. Meski berwajah dingin tapi tetap memiliki pesona maskulin.
Dulu, ketika Grace melihatnya, jantungnya akan berdetak lebih cepat, wajahnya akan memerah dan akan dengan malu-malu memanggilnya, tapi sekarang Grace sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Nyonya," sapa Antony dengan sopan.
Grace tidak begitu puas seperti sebelumnya.
Dari awal sampai akhir, dia bukanlah istri yang diakui William.
Kata "Nyonya" hanyalah untuk basa-basi.
"Apa yang terjadi?"
Antony tidak tahu apa yang dipikirkan Grace, jadi bertanya lagi ke petugas resepsionis.
Petugas resepsionis itu melirik ke arah William dan menjawab dengan sedih, "Pak William bilang nggak akan menerima sesuatu dari Nyonya, tapi Nyonya terus memaksaku untuk memberikannya pada Pak William. Aku nggak berani melanggar peraturan, jadi ...."
Setelah mendengar ini, William mengerutkan kening dan bertanya pada Grace, "Siapa yang menyuruhmu menindas orang lain di sini!"
Grace menyatakan kejadian yang sebenarnya terjadi. "Aku nggak menindasnya, juga nggak memaksanya. Dia melemparkan barang-barang aku, jadi aku ...."
"Cukup!" William menyela dengan kesal, "Masih saja cari-cari alasan! Grace, kamu benar-benar keji!"
Tanpa mengetahui apa yang terjadi, William langsung memarahinya.
Pantas saja petugas resepsionis berani menuduhnya.
Dalam benak William, Grace selalu bersikap jahat.
Grace tidak repot-repot menjelaskannya dan hanya tersenyum dengan acuh tak acuh. "Sebentar lagi kamu nggak perlu menahannya lagi."
Grace mengambil tas dokumen itu dan berkata, "Aku sudah membuat perjanjian perceraian. Sebelum Kantor Catatan Sipil tutup, lebih baik lakukan dulu saja."
Setelah mendengar ini, Antony dengan tenang melambaikan tangan pada petugas resepsionis dan mengambil beberapa langkah.
"Aku sudah menelepon bahkan mengirimkan pesan, tapi nggak ada jawaban, jadi aku datang ke perusahaan."
Setelah mengatakan ini, Grace menyerahkan tas dokumen itu pada William.
William tidak mengambilnya dan berkata, "Grace, baru beberapa hari saja kamu sudah nggak sabar. Sekarang mau ganti cara untuk buat masalah lagi?"
Grace masih tersenyum tipis. "Percuma aku menjelaskannya lagi, kamu juga nggak akan percaya. Cara terbaik adalah pergi ke Kantor Catatan Sipil sekarang."
Melihat senyum acuh tak acuh Grace yang belum pernah dilihat sebelumnya dan tatapan matanya yang terlihat tanpa dasar William sedikit mengerutkan kening.
Grace tanpa malu-malu mengejarnya selama bertahun-tahun, bahkan mencoba segala cara untuk menikah dengannya.
Sekarang Grace mau menceraikannya?
Benar-benar lelucon!
Mungkin Grace mendengar tentang metode ini di suatu tempat dan menggunakannya untuk menarik perhatiannya!
"Kamu buru-buru sekali ke Kantor Catatan Sipil, apa nanti akan ada drama di sana?"
William mencibir. "Grace, apa kamu nggak punya pekerjaan lain selain menggangguku setiap hari?"
Apa yang dulunya merupakan cinta sepenuh hati dari Grace, ternyata hanya sebuah keterpaksaan dan keterikatan di mata William.
Grace sekali lagi senang karena sudah sadar sepenuhnya.
Grace mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tas dokumen dan berkata, "Kamu bisa menandatanganinya sekarang. Ini akan selalu membuktikan bahwa aku nggak akan mengganggumu lagi."
Melihat surat perjanjian cerai di hadapannya, kesabaran William habis dalam sekejap.
Grace bersikeras untuk bercerai, William tentu saja akan menuruti kemauannya!
Bab 5
"Ambilkan pena!"
"Pak William, Pak Zanu dan yang lainnya masih menunggumu menandatangani kontrak. Waktu hampir habis."
Antony mendekat dan mengingatkan dengan suara yang lirih.
Ini adalah kerja sama penting yang telah lama dibicarakan oleh Perusahaan Sanjaya dan hampir ditunda oleh Grace!
William mengabaikan Grace dan buru-buru keluar dari gerbang bersama Antony.
"William!" teriak Grace sambil mengejarnya.
"Jauhkan dia dariku!"
Dengan mengikuti perintah William, beberapa pengawal mengepung Grace.
Grace tahu bahwa William adalah seorang yang gila kerja dan mungkin tidak akan punya waktu untuk bercerai dengannya karena jadwalnya yang padat hari ini.
Grace hanya bisa berkata dengan lantang, "Besok pagi jam sembilan, kita bertemu di Kantor Catatan Sipil saja!"
William masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya dan pergi dengan acuh tak acuh.
William akan pergi atau tidak?
Pasti akan pergi.
William berharap bisa menyingkirkannya secepat mungkin.
Grace merasa lega.
Setelah kembali ke vila, Grace masuk ke email yang sudah lama tidak dibuka.
Di dalamnya ada beberapa tawaran pekerjaan dari bank investasi.
Alih-alih langsung menghapusnya seperti sebelumnya, kali ini Grace membukanya satu per satu.
Penawaran ini sudah berakhir.
Di antaranya adalah bank investasi yang sangat terkenal sehingga banyak yang ingin bergabung.
Grace malah melewatkannya hanya demi menjadi wanita milik William!
Rugi sekali!
Grace harus membuat rencana yang baik dalam hidup ini dan tidak lagi melakukan hubungan dengan pria bajingan itu. Tujuan utamanya adalah menjalani kehidupan yang baik.
Setelah mengirimkan beberapa resume miliknya, Grace merasa sedikit santai begitu memikirkan besok dirinya akan menceraikan William.
Setelah mematikan komputer, Grace mulai mengemasi barang-barangnya.
Dengan begitu, Grace bisa langsung pergi begitu surat cerai berhasil dibuat.
Saat sedang berkemas, Bibi Sinta masuk.
"Nyonya, untuk apa berkemas? Nyonya mau berlibur?"
Bibi Sinta adalah pelayan sementara yang diundang oleh William. Demi mencegah para pelayan melaporkan situasi mereka pada Nyonya Tamara, William tidak mengizinkan pelayan dari kediaman lama datang ke sana.
Meskipun Grace pemarah dan selalu membuat masalah di kehidupan sebelumnya, tapi Bibi Sinta tetap bertanggung jawab atas tugasnya.
Hanya saja sahabatnya mengatakan bahwa Bibi Sinta disuap oleh Bella, tapi Grace mempercayainya dan selalu mempersulit Bibi Sinta.
"Bi Sinta, besok aku akan pindah."
Grace meminta maaf, "Saat menjagaku, kamu selalu menderita, jadi mohon jangan dimasukkan ke dalam hati."
Bibi Sinta terkejut. Nyonya sering kali merasa kesal, curiga dan mudah tersinggung, tapi sekarang dengan tenang akan meminta maaf padanya?
Sepertinya Nyonya sudah banyak berubah sejak melompat dari gedung dan sadar hari itu!
"Jangan begitu, Nyonya. Saya nggak apa-apa, tapi kenapa Nyonya mau pindah?"
Grace mengatakan yang sebenarnya, "Aku berencana menceraikan William, besok kita akan melakukannya."
Bibi Sinta terkejut lagi!
Meski baru kurang dari setahun merawat Nyonya, tapi dia bisa melihat dengan jelas perasaan Nyonya pada Tuan William!
Nyonya akan selalu memutar otak setiap hari untuk menyenangkan suaminya.
Tuan William suka melukis, jadi Nyonya akan memenuhi rumahnya dengan lukisan-lukisan terkenal.
Tuan William suka baca buku, jadi Nyonya meletakkan buku di lantai atas, bawah dan bahkan di taman.
Segala sesuatu mengenai makanan, pakaian dan penggunaan bergantung pada kesukaan Tuan William.
Sekarang, Nyonya ingin bercerai dengan Tuan William?
"Nyonya, bukankah Nyonya sangat mencintai Pak William? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai?" Bibi Sinta benar-benar bingung.
Grace tersenyum dan berkata, "Cinta bisa hilang kapan saja, jadi lebih baik melepaskan satu sama lain."
Bibi Sinta masih saja terkejut lalu hendak memberikan nasihat tapi tiba-tiba melihat William di koridor di luar pintu.
"Tuan sudah pulang. Tuan sudah makan? Saya akan buatkan makanan."
William berkata dengan pelan, "Nggak perlu, aku hanya pulang untuk mengambil beberapa dokumen."
Setelah berbicara, William hendak berjalan ke ruang kerja tapi Grace menghentikannya. "Tunggu sebentar."
Bibi Sinta buru-buru berkata, "Tuan, Nyonya, kalian ngobrol dulu. Saya akan turun."
Setelah Bibi Sinta pergi, William berkata pada Grace dengan wajah acuh tak acuh, "Aku sibuk sekali, sebaiknya kamu mengatakan sesuatu yang serius."
"Jangan khawatir, aku juga sangat sibuk dan nggak ada waktu untuk bicara omong kosong denganmu."
Grace memegang surat perjanjian perceraian dari meja yang penuh dengan barang-barang lalu berjalan ke arah William.
"Aku beri waktu sebentar untuk menandatangani perjanjian ini, jadi kita bisa langsung ke sana dan mengambil surat perceraian besok."
William melirik ke arah Grace.
Saat naik ke atas, dia mendengar Bibi Sinta bertanya pada Grace alasan mereka bercerai.
Awalnya, dia tidak percaya Grace akan menceraikannya.
Namun, William mendengar Grace mengatakan bahwa cintanya sudah hilang dengan nada suaranya sangat santai dan tidak terdengar seperti sedang berpura-pura.
Grace yang memegang surat perjanjian perceraian saat ini, terlihat sangat tenang dan polos. Pakaiannya yang longgar dan kasual, benar-benar berbeda dari citra sempurna yang dimiliki Grace sebelumnya.
Apa Grace sudah sadar?
William menerima surat perjanjian perceraian dengan ragu-ragu.
Isinya sangat sederhana. Isi utamanya adalah Grace tidak menginginkan apa pun setelah perceraian.
Ada tanda tangannya yang indah di bawah.
"Kalau nggak ada masalah, tanda tangani saja," desak Grace.
William menatapnya lagi. "Apa kamu benar-benar ingin bercerai?"
"Tentu saja, lebih cepat lebih baik!" Grace bertanya, "Kamu punya pena? Kalau nggak ada, aku akan mengambilkannya!"
William tidak mengangguk dengan tergesa-gesa, tapi mengembalikan surat perjanjian perceraian itu pada Grace.
"Apa maksudmu? Ada masalah?"
Bab 6
"Keluarga Sanjaya nggak miskin hingga membuatmu pergi tanpa membawa harta sama sekali."
Ketika Grace tampak curiga, William berkata dengan tenang, "Aku akan meminta Antony untuk membuat rancangan surat perjanjian perceraian baru dan memberimu sejumlah kompensasi."
"Nggak perlu." Grace menolak, "Aku menikah denganmu bukan karena uangmu."
Grace tidak kekurangan uang.
Belum lagi kakeknya meninggalkan saham untuknya. Selain itu, Grace bisa mendapatkan uang dengan kemampuannya sendiri.
Grace bersikeras untuk menikah William hanya karena cinta.
"Kamu menikah denganku karena apa sudah nggak ada hubungannya denganku," kata William dengan nada menolak. "Tapi demi martabat satu sama lain, surat perjanjian perceraian akan ditentukan kembali seperti yang aku katakan."
"Oh, jadi takut kamu akan malu karena mantan istrimu bercerai tanpa membawa harta sama sekali."
Grace berhenti berdebat. "Kalau begitu terserahmu."
"Sampai jumpa di Kantor Catatan Sipil besok."
Setelah mengatakan itu, Grace melangkah mundur, menutup pintu dan melanjutkan mengemas barang-barangnya.
William di luar pintu kembali mengerutkan kening.
Apa Grace menghentikannya hanya karena ingin bercerai?
Setelah masalahnya selesai, Grace menutup pintu dengan gembira tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dulu, setiap kali William pulang, Grace akan seperti burung pipit, berkicau di sekelilingnya.
Sering kali menemaninya jalan-jalan sambil menikmati bunga di taman.
Grace juga suka mencari berbagai alasan untuk bersamanya saat sedang mengurus urusan resmi.
Jika Grace bisa tenang seperti ini selalu, William tidak akan kesal saat pulang ke rumah.
Namun, tidak peduli apa yang direncanakan Grace, selama benar-benar setuju untuk bercerai besok, satu hal yang menyebalkan bagi William akan berkurang.
...
"Kak William, aku ingin bertemu Kakek. Aku hanya perlu keluar sehari! Aku bersumpah, aku nggak akan pernah merusak pernikahanmu dengan Bella! Kalau kamu nggak percaya, aku bisa membuktikannya sekarang!"
"Grace, kamu benar-benar keras kepala! Kalau kamu ingin mati, matilah. Aku nggak akan membiarkanmu punya kesempatan lagi untuk menyakiti Bella!"
"Cusshh!"
Dengan ekspresi jijik dingin William, Grace menusukkan pisau tajam ke dalam hatinya.
Darah hangat mengalir keluar dari tubuhnya dan perlahan berubah menjadi dingin ....
"Ah!"
Grace menjerit dan duduk dari tempat tidur.
Melihat lingkungan yang aneh tapi familiar di sekitarnya, Grace menghela napas lega.
Beberapa hari setelah kembali ke masa lalu, Grace masih terus bermimpi tentang kehidupan masa lalunya.
Keputusasaan yang menyakitkan sebelum kematian terlalu menyesakkan.
Entah apa pun alasannya, Grace tidak ingin menjalani kehidupan lamanya lagi!
Setelah memikirkannya, Grace bangkit dari tempat tidur, berdandan sedikit lalu pergi ke Kantor Catatan Sipil.
Saat itu belum pukul sembilan, Kantor Catatan Sipil belum buka dan William belum juga datang.
Di luar Kantor Catatan Sipil, banyak pemuda dan pemudi yang menunggu untuk menikah.
Melihat ekspresi bahagia mereka, Grace teringat saat menikah dengan William.
Saat itu, Grace sangat bersemangat dan datang ke sini pagi-pagi sekali untuk mengantri.
Meski harus menunggu hingga tengah hari karena William datang terlambat.
Meski ekspresi William sangat dingin.
Namun, Grace tetap bahagia.
Grace pikir akan memasuki pernikahan yang bahagia mulai sekarang.
Tanpa diduga, itulah awal dari kehidupan tragisnya ....
William sedang duduk di dalam mobil, matanya yang gelap menatap ke depan dengan tenang.
William masih tidak percaya bahwa Grace akan menceraikannya.
Bagaimanapun, William sering melihat banyak trik yang dilakukan Grace.
Agar tidak tertipu, William mengirim seseorang untuk memeriksa sekeliling dan situasi di dalam.
Orang-orang juga memeriksa keberadaan Grace dalam beberapa hari terakhir.
Hasilnya, bawahannya datang untuk melaporkan bahwa tidak ada kelainan di ruangan itu serta Grace.
Melihat sikap dan raut wajah Grace yang acuh tak acuh, William merasa agak kesal di hatinya.
Namun, itu hanya sekejap.
Hal yang paling William benci dalam hidupnya adalah seseorang yang mencoba mengendalikan dan mengancamnya. Grace memanfaatkan kedua hal ini.
Grace yang membuat masalah dengan mengandalkan perceraian ini!
Saat ini sudah saatnya Kantor Catatan Sipil buka. Grace menundukkan kepalanya dan mengirim pesan lalu masuk ke dalam.
Di ponsel tertulis. "Aku sudah sampai, kamu cepat datang ke sini."
William mengambil surat perjanjian cerai yang dicetak oleh Antony dan keluar dari mobil.
"Pak William."
Begitu duduk, Grace mendengar sapaan sopan dari petugas.
Cepat sekali?
Di luar dugaan, William yang terlambat menghadiri pernikahan, akan sangat tepat waktu dan dapat dipercaya dalam urusan perceraian.
Grace mengangkat kepalanya dan melihat William yang tinggi dan tampan telah tiba.
William mengenakan kemeja ungu tua bermotif gelap, dengan fitur wajah tampan dan temperamen luar biasa.
Di bawah sorotan lampu yang menyala-nyala di atas kepalanya, seluruh tubuhnya ditutupi lapisan cahaya tipis, membuatnya seperti tidak tersentuh oleh dunia fana.
Meskipun sudah tidak menyukainya, Grace tetap harus mengakui bahwa William terlihat sempurna.
Dulu, Grace memang terobsesi dengannya, sebagian karena ketampanannya.
William mengerutkan kening dan berkata, "Sudah puas melihatnya?"
Awalnya berpikir Grace sudah berubah, tapi masih menatapnya secara langsung!
Grace menjelaskan, "Sudah bawa surat perjanjian perceraiannya, 'kan? Aku mau tanda tangan."
William mengerutkan kening lagi dan memberikan surat itu padanya.
Petugas sedang menunggu di luar pintu. Grace mengambil surat perjanjian itu dan melihatnya sekilas dengan santai.
William memberinya tunjangan sebanyak 20 miliar.
Meskipun jumlah ini hanya merupakan hal kecil dari kekayaan William, tapi William cukup baik bisa memberikan ini padanya.
Bagaimanapun, William terpaksa menikah dan sangat membencinya.
William memperingatkan dengan sikap yang dingin. "Setelah perceraian, jaga ucapanmu. Kalau kamu menggunakan ini untuk membuat keributan besar, aku nggak akan sungkan lagi."