Bab 3

Di kehidupan sebelumnya, Grace bahkan tidak melihat kematian kakeknya untuk terakhir kalinya.

Kali ini, dia harus menemani dengan baik dan tidak mengecewakannya lagi.

Karena masih terluka, Grace tidak berani menemui kakeknya untuk saat ini.

Hanya bisa menahan kegembiraan di hati dan membuat janji untuk kembali menemuinya dalam beberapa hari.

Setelah menutup telepon, Grace duduk di teras dan mengingat kehidupan masa lalunya.

Saat berumur delapan belas tahun, Grace jatuh cinta pada William yang sudah menyelamatkannya.

Semua gadis cukup berani untuk menggunakan semua metode dalam mengejar cinta, tapi tetap saja tidak bisa menggerakkan hati William.

Saat lulus kuliah, Nyonya Tamara mengetahui apa yang Grace pikirkan dan berusaha sebaik mungkin untuk mengatur agar William menikah dengan Grace. Sejak saat itu, Grace menjadi Nyonya Sanjaya.

Meski tahu William membencinya, tapi Grace tetap berusaha membuat William terkesan padanya.

Baru setengah tahun setelah pernikahannya, Bella kembali dari luar negeri untuk bergabung dengan perusahaan William.

Kasih sayang yang luar biasa di antara mereka membuatnya takut kehilangan William.

Grace menjadi gugup dan terus membuat masalah, menginginkan kepastian dari William.

Namun, semua ini tidak ada gunanya, karena kejadian melompat dari gedung ini membuat hubungan antara William dan Bella menjadi semakin dalam. William pun jarang pulang ke rumah.

Dalam keputusasaan, Grace berencana melakukan upaya terakhir yaitu dengan meminta Nyonya Tamara membantunya menciptakan kesempatan baginya untuk pergi ke luar negeri dan berduaan dengan William.

Tak disangka, menjelang berangkat ke luar negeri, Bella terlibat kasus perampokan dan pembakaran, hingga nyaris kehilangan nyawanya. Setelah pelaku tertangkap, pelaku mengaku bahwa Grace yang menyuruhnya.

Kejadian ini benar-benar membuat marah William. Entah bagaimana Grace menjelaskannya, Wiliam tetap akan mengirimkannya masuk penjara.

Setelah bantuan kakeknya dan Nyonya Tamara, William baru menghilangkan keinginannya untuk menjebloskan Grace masuk penjara.

Namun William memutuskan untuk mengirimnya ke rumah sakit jiwa untuk "perawatan" dengan alasan masalah mental. Perawatan ini berlangsung selama lebih dari dua tahun ....

Grace menangis memikirkan semua hal di kehidupan masa lalunya.

Distorsi, kecemburuan, kegilaan dan rasa sakit itu semua berasal dari obsesinya terhadap William.

Obsesi ini menghancurkan hidupnya.

Tuhan tidak tahan lagi dengan kebodohannya, jadi memberinya kesempatan untuk memulai kembali ke masa lalu.

Hubungan antara William dan Bella belum mencapai tahap yang kuat.

Grace juga belum jatuh ke dalam kegilaan, hal-hal yang membuatnya kehilangan akal sehat belum pernah terjadi.

Selama menjauh dari mereka, Grace tidak akan berakhir di rumah sakit jiwa atau terkena kanker!

Grace bisa memulai hidupnya lagi!

...

Tiga hari kemudian, setelah Grace pulih dan menyesuaikan diri, luka akibat melompat dari gedung hampir sembuh.

Keadaan psikologis dan mentalnya juga telah sepenuhnya stabil.

William dan Bella pergi hari itu dan tidak pernah bertemu lagi.

Tanpa diduga, Bella tidak terluka dalam kehidupan ini dan William tetap tidak pulang.

Tentu saja Grace tidak akan peduli.

Grace sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan William ....

Mengakhiri pernikahan yang salah ini.

Mulai sekarang, mereka akan kembali ke jalannya masing-masing dan akan menjalani kehidupan yang aman.

Grace segera menelepon William.

Telepon berdering lama sekali, tapi tidak ada yang menjawab.

Hampir lupa bahwa William hampir tidak menjawab panggilan teleponnya karena takut diganggu olehnya.

Grace mengirimkan pesan untuk William.

"Sekarang kamu ada waktu? Bawa dokumen untuk urus perceraian di Kantor Catatan Sipil."

Setelah lama menunggu, Grace belum juga mendapatkan jawaban dari William.

Grace mengirimkannya lagi setelah berpikir kemungkinan William belum membacanya.

Pesan darinya seolah-olah tenggelam di dalam laut.

Grace berpikir sejenak dan memutuskan untuk pergi ke Perusahaan Sanjaya untuk menemuinya secara langsung.

Petugas resepsionis perusahaan tentu saja mengenal Grace.

Setelah menikah dengan Wellian, Grace khawatir ada wanita yang tertarik pada William, jadi datang ke sini untuk menyatakan kedaulatannya dengan cara yang menonjol.

Mengenai kedatangannya, resepsionis tersenyum sedikit menghina dan berkata, "Maaf, harus ada janji dulu untuk bisa menemui CEO kami."

Semua orang tahu bahwa William tidak suka padanya.

Grace tidak peduli dengan sikap resepsionis itu, mengeluarkan tas yang berisi dokumen dan berkata, "Tolong berikan ini pada William."

Setelah meletakkan tas dokumennya, Grace segera pergi.

Namun, saat Grace baru mengambil dua langkah, resepsionis itu berkata, "Mungkin surat cinta lagi, memalukan sekali!"

Setelah itu, tas dokumennya dibuang ke tempat sampah.

Bab 4

Grace berbalik lalu teriak, "Siapa yang menyuruhmu membuangnya? Ambil!"

Petugas resepsionis tidak takut padanya. "Nggak perlu repot-repot seperti ini, CEO kami nggak akan melihatnya. Setiap saat kamu mengirimkannya, beliau akan menyuruh kami membuangnya!"

Dulu, Grace khawatir William bekerja terlalu keras, jadi bersusah payah memberinya makanan, pakaian untuk menghilangkan stres.

Grace juga menulis kepadanya seperti tokoh utama dalam novel dan mengungkapkan perasaannya yang tulus.

Ternyata begitulah cara William menyikapi kekhawatirannya.

Bahkan petugas resepsionis berani membuang barang-barangnya sesuka hati!

Grace menatap dingin ke arah petugas resepsionis. "Entah William melihatnya atau nggak, kamu nggak punya hak untuk membuang barang! Ambil!"

Petugas resepsionis itu mengerutkan bibirnya dan berkata, "Ya, akan aku ambil. Kamu hanya pura-pura menjadi istri CEO, tapi ternyata dicampakkan."

"Kamu ...."

"Apa yang terjadi?"

Grace baru saja ingin menyuruh pihak lain meminta maaf, tiba-tiba suara pria yang serius terdengar.

Grace menoleh dan melihat bahwa orang yang berbicara adalah asisten William, Antony Zulaiman.

Orang yang berdiri di samping Antony adalah William yang mengenakan setelan jas hitam.

William bertubuh tinggi dan tampan. Meski berwajah dingin tapi tetap memiliki pesona maskulin.

Dulu, ketika Grace melihatnya, jantungnya akan berdetak lebih cepat, wajahnya akan memerah dan akan dengan malu-malu memanggilnya, tapi sekarang Grace sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu padanya.

"Nyonya," sapa Antony dengan sopan.

Grace tidak begitu puas seperti sebelumnya.

Dari awal sampai akhir, dia bukanlah istri yang diakui William.

Kata "Nyonya" hanyalah untuk basa-basi.

"Apa yang terjadi?"

Antony tidak tahu apa yang dipikirkan Grace, jadi bertanya lagi ke petugas resepsionis.

Petugas resepsionis itu melirik ke arah William dan menjawab dengan sedih, "Pak William bilang nggak akan menerima sesuatu dari Nyonya, tapi Nyonya terus memaksaku untuk memberikannya pada Pak William. Aku nggak berani melanggar peraturan, jadi ...."

Setelah mendengar ini, William mengerutkan kening dan bertanya pada Grace, "Siapa yang menyuruhmu menindas orang lain di sini!"

Grace menyatakan kejadian yang sebenarnya terjadi. "Aku nggak menindasnya, juga nggak memaksanya. Dia melemparkan barang-barang aku, jadi aku ...."

"Cukup!" William menyela dengan kesal, "Masih saja cari-cari alasan! Grace, kamu benar-benar keji!"

Tanpa mengetahui apa yang terjadi, William langsung memarahinya.

Pantas saja petugas resepsionis berani menuduhnya.

Dalam benak William, Grace selalu bersikap jahat.

Grace tidak repot-repot menjelaskannya dan hanya tersenyum dengan acuh tak acuh. "Sebentar lagi kamu nggak perlu menahannya lagi."

Grace mengambil tas dokumen itu dan berkata, "Aku sudah membuat perjanjian perceraian. Sebelum Kantor Catatan Sipil tutup, lebih baik lakukan dulu saja."

Setelah mendengar ini, Antony dengan tenang melambaikan tangan pada petugas resepsionis dan mengambil beberapa langkah.

"Aku sudah menelepon bahkan mengirimkan pesan, tapi nggak ada jawaban, jadi aku datang ke perusahaan."

Setelah mengatakan ini, Grace menyerahkan tas dokumen itu pada William.

William tidak mengambilnya dan berkata, "Grace, baru beberapa hari saja kamu sudah nggak sabar. Sekarang mau ganti cara untuk buat masalah lagi?"

Grace masih tersenyum tipis. "Percuma aku menjelaskannya lagi, kamu juga nggak akan percaya. Cara terbaik adalah pergi ke Kantor Catatan Sipil sekarang."

Melihat senyum acuh tak acuh Grace yang belum pernah dilihat sebelumnya dan tatapan matanya yang terlihat tanpa dasar William sedikit mengerutkan kening.

Grace tanpa malu-malu mengejarnya selama bertahun-tahun, bahkan mencoba segala cara untuk menikah dengannya.

Sekarang Grace mau menceraikannya?

Benar-benar lelucon!

Mungkin Grace mendengar tentang metode ini di suatu tempat dan menggunakannya untuk menarik perhatiannya!

"Kamu buru-buru sekali ke Kantor Catatan Sipil, apa nanti akan ada drama di sana?"

William mencibir. "Grace, apa kamu nggak punya pekerjaan lain selain menggangguku setiap hari?"

Apa yang dulunya merupakan cinta sepenuh hati dari Grace, ternyata hanya sebuah keterpaksaan dan keterikatan di mata William.

Grace sekali lagi senang karena sudah sadar sepenuhnya.

Grace mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tas dokumen dan berkata, "Kamu bisa menandatanganinya sekarang. Ini akan selalu membuktikan bahwa aku nggak akan mengganggumu lagi."

Melihat surat perjanjian cerai di hadapannya, kesabaran William habis dalam sekejap.

Grace bersikeras untuk bercerai, William tentu saja akan menuruti kemauannya!

Bab 5

"Ambilkan pena!"

"Pak William, Pak Zanu dan yang lainnya masih menunggumu menandatangani kontrak. Waktu hampir habis."

Antony mendekat dan mengingatkan dengan suara yang lirih.

Ini adalah kerja sama penting yang telah lama dibicarakan oleh Perusahaan Sanjaya dan hampir ditunda oleh Grace!

William mengabaikan Grace dan buru-buru keluar dari gerbang bersama Antony.

"William!" teriak Grace sambil mengejarnya.

"Jauhkan dia dariku!"

Dengan mengikuti perintah William, beberapa pengawal mengepung Grace.

Grace tahu bahwa William adalah seorang yang gila kerja dan mungkin tidak akan punya waktu untuk bercerai dengannya karena jadwalnya yang padat hari ini.

Grace hanya bisa berkata dengan lantang, "Besok pagi jam sembilan, kita bertemu di Kantor Catatan Sipil saja!"

William masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya dan pergi dengan acuh tak acuh.

William akan pergi atau tidak?

Pasti akan pergi.

William berharap bisa menyingkirkannya secepat mungkin.

Grace merasa lega.

Setelah kembali ke vila, Grace masuk ke email yang sudah lama tidak dibuka.

Di dalamnya ada beberapa tawaran pekerjaan dari bank investasi.

Alih-alih langsung menghapusnya seperti sebelumnya, kali ini Grace membukanya satu per satu.

Penawaran ini sudah berakhir.

Di antaranya adalah bank investasi yang sangat terkenal sehingga banyak yang ingin bergabung.

Grace malah melewatkannya hanya demi menjadi wanita milik William!

Rugi sekali!

Grace harus membuat rencana yang baik dalam hidup ini dan tidak lagi melakukan hubungan dengan pria bajingan itu. Tujuan utamanya adalah menjalani kehidupan yang baik.

Setelah mengirimkan beberapa resume miliknya, Grace merasa sedikit santai begitu memikirkan besok dirinya akan menceraikan William.

Setelah mematikan komputer, Grace mulai mengemasi barang-barangnya.

Dengan begitu, Grace bisa langsung pergi begitu surat cerai berhasil dibuat.

Saat sedang berkemas, Bibi Sinta masuk.

"Nyonya, untuk apa berkemas? Nyonya mau berlibur?"

Bibi Sinta adalah pelayan sementara yang diundang oleh William. Demi mencegah para pelayan melaporkan situasi mereka pada Nyonya Tamara, William tidak mengizinkan pelayan dari kediaman lama datang ke sana.

Meskipun Grace pemarah dan selalu membuat masalah di kehidupan sebelumnya, tapi Bibi Sinta tetap bertanggung jawab atas tugasnya.

Hanya saja sahabatnya mengatakan bahwa Bibi Sinta disuap oleh Bella, tapi Grace mempercayainya dan selalu mempersulit Bibi Sinta.

"Bi Sinta, besok aku akan pindah."

Grace meminta maaf, "Saat menjagaku, kamu selalu menderita, jadi mohon jangan dimasukkan ke dalam hati."

Bibi Sinta terkejut. Nyonya sering kali merasa kesal, curiga dan mudah tersinggung, tapi sekarang dengan tenang akan meminta maaf padanya?

Sepertinya Nyonya sudah banyak berubah sejak melompat dari gedung dan sadar hari itu!

"Jangan begitu, Nyonya. Saya nggak apa-apa, tapi kenapa Nyonya mau pindah?"

Grace mengatakan yang sebenarnya, "Aku berencana menceraikan William, besok kita akan melakukannya."

Bibi Sinta terkejut lagi!

Meski baru kurang dari setahun merawat Nyonya, tapi dia bisa melihat dengan jelas perasaan Nyonya pada Tuan William!

Nyonya akan selalu memutar otak setiap hari untuk menyenangkan suaminya.

Tuan William suka melukis, jadi Nyonya akan memenuhi rumahnya dengan lukisan-lukisan terkenal.

Tuan William suka baca buku, jadi Nyonya meletakkan buku di lantai atas, bawah dan bahkan di taman.

Segala sesuatu mengenai makanan, pakaian dan penggunaan bergantung pada kesukaan Tuan William.

Sekarang, Nyonya ingin bercerai dengan Tuan William?

"Nyonya, bukankah Nyonya sangat mencintai Pak William? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai?" Bibi Sinta benar-benar bingung.

Grace tersenyum dan berkata, "Cinta bisa hilang kapan saja, jadi lebih baik melepaskan satu sama lain."

Bibi Sinta masih saja terkejut lalu hendak memberikan nasihat tapi tiba-tiba melihat William di koridor di luar pintu.

"Tuan sudah pulang. Tuan sudah makan? Saya akan buatkan makanan."

William berkata dengan pelan, "Nggak perlu, aku hanya pulang untuk mengambil beberapa dokumen."

Setelah berbicara, William hendak berjalan ke ruang kerja tapi Grace menghentikannya. "Tunggu sebentar."

Bibi Sinta buru-buru berkata, "Tuan, Nyonya, kalian ngobrol dulu. Saya akan turun."

Setelah Bibi Sinta pergi, William berkata pada Grace dengan wajah acuh tak acuh, "Aku sibuk sekali, sebaiknya kamu mengatakan sesuatu yang serius."

"Jangan khawatir, aku juga sangat sibuk dan nggak ada waktu untuk bicara omong kosong denganmu."

Grace memegang surat perjanjian perceraian dari meja yang penuh dengan barang-barang lalu berjalan ke arah William.

"Aku beri waktu sebentar untuk menandatangani perjanjian ini, jadi kita bisa langsung ke sana dan mengambil surat perceraian besok."

William melirik ke arah Grace.

Saat naik ke atas, dia mendengar Bibi Sinta bertanya pada Grace alasan mereka bercerai.

Awalnya, dia tidak percaya Grace akan menceraikannya.

Namun, William mendengar Grace mengatakan bahwa cintanya sudah hilang dengan nada suaranya sangat santai dan tidak terdengar seperti sedang berpura-pura.

Grace yang memegang surat perjanjian perceraian saat ini, terlihat sangat tenang dan polos. Pakaiannya yang longgar dan kasual, benar-benar berbeda dari citra sempurna yang dimiliki Grace sebelumnya.

Apa Grace sudah sadar?

William menerima surat perjanjian perceraian dengan ragu-ragu.

Isinya sangat sederhana. Isi utamanya adalah Grace tidak menginginkan apa pun setelah perceraian.

Ada tanda tangannya yang indah di bawah.

"Kalau nggak ada masalah, tanda tangani saja," desak Grace.

William menatapnya lagi. "Apa kamu benar-benar ingin bercerai?"

"Tentu saja, lebih cepat lebih baik!" Grace bertanya, "Kamu punya pena? Kalau nggak ada, aku akan mengambilkannya!"

William tidak mengangguk dengan tergesa-gesa, tapi mengembalikan surat perjanjian perceraian itu pada Grace.

"Apa maksudmu? Ada masalah?"

Nyonya Tak Bucin Lagi

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya