Bab 1
Dua tahun lalu, ibuku memaksa aku untuk berpisah dengan pacarku dan menggantikan adikku menikah dengan tunangannya yang buta.
Dua tahun kemudian, suamiku yang buta tiba-tiba mendapatkan kembali penglihatannya, dan ibuku meminta aku untuk mengembalikannya ke adikku.
Ayahku menatapku dengan marah. "Indah, jangan lupa bahwa Rendra sebenarnya adalah tunangan Mella, apa kamu pantas menjadi Nyonya Saputra?"
Siapa juga yang mau menjadi Nyonya Saputra. Toh, aku juga akan mati. Silakan saja.
Aku akan menyaksikan mereka satu per satu menerima pembalasan setelah aku mati.
Pada hari ketika aku menemani suamiku untuk pemeriksaan ulang dan mengetahui bahwa dia akan segera mendapatkan kembali penglihatannya, ibuku memanggilku pulang, dan menatapku dengan ekspresi dingin.
"Indah, kamu cerai saja dengan Rendra. Setelah kalian bercerai, Mella bisa menikah dengannya."
Aku tidak menjawab. Aku tidak menyangka ibuku bisa mengatakan hal seperti itu.
Melihat aku tidak setuju, ayahku menunjuk ke arahku dengan tatapan marah.
"Indah, jangan lupa bahwa Rendra sebenarnya adalah tunangan Mella. Apa kamu pantas menjadi Nyonya Saputra?"
"Jangan terus berada di posisi yang seharusnya bukan untukmu."
Aku menatap kedua orang tuaku, serta Mella yang bersembunyi di pelukan mereka dengan ekspresi lemah dan manja.
Aku merasa ini konyol.
Memang benar, Rendra awalnya bertunangan dengan Mella
Namun, ketika Rendra mengalami kebutaan mendadak, orang tuaku merasa tidak tega membiarkan Mella menikah dengan orang buta dan membatalkan pertunangan tersebut.
Siapa sangka selama dua tahun ini bisnis Keluarga Saputra semakin maju, sementara Keluarga Trisnata mulai mengalami kemerosotan
Dua tahun lalu, Keluarga Trisnata menghadapi krisis utang dan meminta bantuan kepada Keluarga Saputra.
Kebetulan, karena kebutaan, Rendra juga menderita alergi parah terhadap wanita.
Setiap kali ada wanita yang mendekatinya dalam jarak dua meter, dia akan mengalami ruam di seluruh tubuhnya dan merasa sangat tidak nyaman.
Satu-satunya wanita yang tidak membuatnya alergi adalah aku dan adikku.
Kami tumbuh besar bersama sejak kecil. Jadi, Rendra tidak mengalami reaksi alergi terhadap kami berdua.
Ketika Keluarga Saputra meminta Keluarga Trisnata untuk melanjutkan pertunangan, mereka tanpa ragu memilih untuk mengorbankan aku.
Aku dipaksa untuk menandatangani perjanjian pranikah dan menikah dengan Rendra.
Perusahaan ayahku menerima suntikan dana sebesar dua puluh miliar dari Keluarga Saputra, namun aku tidak mendapatkan uang mahar atau hadiah pernikahan sedikit pun.
Aku merasa seperti barang yang dibungkus dan dikirim ke rumah Keluarga Saputra.
Lucunya, setelah tinggal di rumah keluargaku selama dua puluh tahun, barang-barang milikku bahkan tidak cukup untuk mengisi satu koper.
Dikarenakan Keluarga Trisnata sebelumnya membatalkan pertunangan, ayah dan ibu mertuaku tidak menyukaiku.
Di mata mereka, aku hanyalah alat yang mereka beli dari Keluarga Trisnata untuk melahirkan penerus bagi Rendra.
Terlebih lagi, Rendra hanya menganggapku sebagai pengganti Mella.
Padahal, Mella tidak mau menikah dengannya karena dia buta.
Bahkan saat kami sedang berhubungan intim, dia terus menyebut nama Mella.
Di Keluarga Saputra, aku adalah pengasuh 24 jam untuk Rendra, yang melayani semua kebutuhannya sepanjang hari.
Semenjak dia buta, emosinya menjadi sangat tidak stabil.
Dia suka menghabiskan sepanjang hari di kamarnya, dan merokok untuk menenangkan diri.
Saat aku membantunya berpakaian dan makan, dia sering tiba-tiba menekan puntung rokok ke arahku.
Terkadang, rokok itu hanya membuat pakaianku berlubang, dan terkadang meninggalkan bekas luka bakar di tubuhku.
Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak bekas luka bakar di tubuhku.
Terkadang luka baru akan menumpuk dengan luka lama, lalu membentuk bekas luka baru.
Mengeluh?
Tentu saja aku ingin mengeluh, tetapi aku tidak berani mengatakannya, karena tidak ada yang akan membantuku.
Melawan?
Tentu saja aku ingin, tetapi jika aku melawan, Keluarga Saputra bisa menghancurkan Keluarga Trisnata kapan saja.
Tujuanku dikirim ke Keluarga Saputra adalah untuk menyenangkan Rendra dan Keluarga Saputra, bukan?
Aku masih ingat pertama kali Rendra menekan puntung rokok ke kulitku, aku menangis dan menelepon ibuku, memberitahunya bahwa aku takut dan sangat kesakitan.
Namun, dia malah memarahiku lewat telepon.
"Indah, mungkin suasana hati Rendra sedang nggak baik. Sudah tahan saja, jangan sampai membuat Keluarga Saputra marah."
Baiklah, aku akan menahannya.
Aku menjalani peranku dengan penuh kesabaran dan tanpa mengeluh.
Di depan orang lain, aku adalah Nyonya Saputra yang dihormati, tetapi di belakang mereka, aku adalah boneka yang disiksa sesuka hati oleh Rendra.
Aku sudah lama menikah dengan Rendra tetapi belum hamil juga, dan setiap kali bertemu, ibu mertuaku mengejekku seperti ayam betina yang tidak bisa bertelur.
Bab 2
Hanya aku yang tahu bahwa Rendra tidak pernah menginginkan aku untuk melahirkan anaknya.
Pada hari pertama dia memutuskan untuk menyentuhku, dia memanggil dokter pribadi secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya untuk melakukan implan kontrasepsi padaku.
Aku alergi terhadap bahan silikon dari implan tersebut, sehingga lengan kiriku yang ditanamkan implan itu terus-menerus mengalami kemerahan ringan dan gatal yang tak tertahankan.
Namun, Rendra hanya peduli pada dirinya sendiri, tanpa memperhatikan kondisi tubuhku.
Khawatir ketahuan oleh orang tuanya, Rendra tidak mengizinkanku untuk melepas implan tersebut, jadi aku hanya bisa menahannya.
Tiga bulan kemudian, rasa gatal itu hilang, tetapi lengan kiriku membengkak, dan akhirnya aku pingsan di rumah Keluarga Saputra.
Aku mendengar suara ambulans datang dan dokter mengatakan bahwa karena alergi parah, tubuhku melawan implan tersebut hingga menyebabkan kebocoran cairan obat di area penyimpanan.
Tubuhku menyerap terlalu banyak cairan obat, sehingga aku mungkin tidak akan pernah bisa hamil lagi.
Aku tersenyum lega. Akhirnya aku bisa terbebas dari rasa gatal yang sulit diungkapkan itu.
Namun, aku juga menangis karena aku tidak bisa lagi menjadi seorang ibu.
Setelah kejadian itu, ibu mertuaku semakin membenciku, dan aku menjadi lebih hati-hati menjalani hari-hariku di rumah Keluarga Saputra.
Namun, mungkin karena merasa bersalah, Rendra sedikit lebih baik terhadapku.
Dia tidak lagi sering mencubit pinggangku atau menyulut tanganku dengan rokok.
Mengingat aku tidak akan punya anak, Rendra malah semakin terobsesi dengan tubuhku.
Di dalam kegelapan, dia membayangkan aku sebagai Mella dan memaksaku melakukan berbagai tindakan memalukan.
Aku hanya bisa menangis tanpa suara di bawah tubuhnya.
Aku sering berpikir, kapan semua ini akan berakhir.
Hingga suatu hari, Rendra tergelincir dan jatuh saat sedang mandi.
Dia tidak hanya lebih tinggi dariku, tetapi juga jauh lebih berat, jadi aku sama sekali tidak sempat untuk menahannya.
Rendra mengalami benturan di kepalanya, sedangkan aku mengalami cedera di kaki.
Hari itu, ibu mertuaku menamparku dan mengurungku di kamar tamu kecil.
Sedangkan Rendra dibawa ke rumah sakit.
Setelah pemeriksaan, ternyata dia baik-baik saja, bahkan saraf optiknya yang dulu tertekan kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Bahkan dokter mengatakan bahwa Rendra mendapat keajaiban dari musibah ini, yaitu dia mungkin bisa melihat lagi.
Pada hari Rendra keluar dari rumah sakit, matanya benar-benar mulai merasakan cahaya putih yang samar.
Aku dikeluarkan dari kamar tamu kecil, dan untuk pertama kalinya diperlakukan sebagai Nyonya Saputra yang sesungguhnya.
Ada dokter pribadi yang datang untuk memeriksa dan mengobati kakiku, dan pelayan yang membantuku memasak serta mencuci pakaian.
Sejak hari itu, ibu mertuaku tidak lagi memaksaku melakukan pekerjaan kotor dan berat, dan aku juga mendapatkan uang saku.
Aku belajar teknik pijat dari dokter dan setiap hari aku memberikan pijatan akupunktur kepada Rendra.
Akhirnya aku menjalani hidup yang normal.
Ketika Rendra pergi untuk pemeriksaan ulang pertamanya, matanya sudah bisa merasakan cahaya dan kegelapan.
Terkait batukku yang tidak kunjung reda selama lebih dari sebulan, aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan juga di rumah sakit.
Sebulan kemudian, Rendra pergi untuk pemeriksaan ulang kedua.
Matanya sudah bisa melihat bayangan, tetapi masih kabur.
Aku menerima laporan pemeriksaan kesehatan, dan dokter menyarankan agar aku melakukan skrining penanda kanker paru-paru dan biopsi kasus.
Aku tidak ingat bagaimana aku selesai menjalani pemeriksaan dan akhirnya kembali ke rumah Keluarga Saputra.
Di ruang tamu, semua anggota Keluarga Saputra senang dengan kondisi Rendra yang mengalami kemajuan, sementara aku kembali ke kamar kecilku dengan wajah datar.
Aku hanya tahu bahwa aku mungkin menderita kanker paru-paru dan tidak akan hidup lama lagi.
Tetapi aku baru berusia dua puluh delapan tahun.
Aku belum sempat menikmati hidupku sendiri.
Aku tidak percaya begitu saja. Ketika Rendra sedang dalam suasana hati yang baik, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta izin keluar dan pergi ke rumah sakit lain untuk pemeriksaan.
Sayangnya, hasil pemeriksaan dari kedua rumah sakit tersebut sama persis.
Satu bulan kemudian, Rendra melakukan pemeriksaan ulang untuk ketiga kalinya.
Gumpalan darah yang menekan saraf optiknya sudah hilang. Dia sudah bisa melihat bayangan manusia dengan jelas, dan dokter mengatakan bahwa dia akan segera sembuh total.
Sementara itu, aku didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium akhir, dan sel-sel kankernya telah menyebar ke separuh dari paru-paruku.
Bab 3
Jika aku tidak menjalani operasi pengangkatan setengah paru-paru, aku hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk hidup.
Namun, dengan paru-paruku yang tersisa setengah, berapa lama lagi aku bisa hidup?
Saat aku memegang hasil diagnosis dan ragu apakah harus memberitahu ayah dan ibuku, mereka justru meneleponku lebih dulu dan memintaku untuk pulang ke rumah.
Setelah empat tahun, ini adalah pertama kalinya mereka memintaku pulang. Aku sangat gembira, dan berpikir bahwa orang tuaku akhirnya mengingatku.
Tidak pernah kubayangkan, kalimat pertama yang aku dengar dari orang tuaku ketika pulang adalah permintaan mereka agar aku bercerai.
Mereka bahkan memintaku untuk menyerahkan suamiku kepada adikku.
Aku menatap keluarga kecil di hadapanku dan merasa sangat asing.
Dulu, orang tuaku juga pernah memanjakanku saat aku masih kecil. Kapan semuanya mulai berubah?
Aku melihat tatapan Mella yang penuh dengan ejekan,
Tiba-tiba aku teringat bahwa orang tuaku berubah sejak melahirkan dia.
Sejak hari itu, di mata ayah dan ibuku, hanya ada Mella, dan mereka tidak lagi memperhatikanku.
Aku merasa seperti orang asing yang tidak penting di rumah itu.
Aku harus mengalah untuk adikku dalam segala hal. Apa pun yang kumiliki, adikku juga memilikinya.
Namun, banyak hal yang dimiliki adikku tidak kumiliki.
Saat kecil, jika adikku jatuh, aku yang mendapat hukuman.
Jika adikku melakukan kesalahan, aku yang mendapat hukuman.
Barang yang tidak disukai adikku dilemparkan kepadaku seperti sampah, sementara barang yang kusukai selalu direbut dan dirusak olehnya.
Dia dengan mudah mendapatkan kasih sayang orang tua, sementara aku harus berusaha keras untuk mendapatkan satu pujian yang tidak terlalu berarti.
Saat aku lulus ujian masuk universitas terkemuka, orang tuaku hanya menganggapnya biasa. Sedangkan adikku, meski hanya lulus dari sekolah menengah biasa, dia mendapat berbagai hadiah dan pujian.
Adikku memang sangat lucu dan menggemaskan saat masih kecil, dan aku selalu khawatir dia akan terluka. Entah berapa kali aku menjadi bantalan untuknya saat dia belajar berjalan.
Setiap kali aku melihat wajah mungilnya yang menggemaskan, aku rela menjaganya meski harus jatuh kesakitan.
Bagaimanapun juga, dia adalah adikku.
Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa adikku yang seperti malaikat saat kecil, akan berubah menjadi iblis saat dewasa.
Kebahagiaannya selalu dibangun di atas penderitaanku.
Dia tahu betapa aku sangat menginginkan kasih sayang orang tua, sehingga dia dengan mudah merebut perhatian mereka.
Dia tahu betapa aku menginginkan kebebasan, tetapi dia justru mendorongku ke dalam jurang Keluarga Saputra.
Aku menatap keluargaku yang telah hidup bersamaku selama lebih dari dua puluh tahun, dan untuk pertama kalinya, aku merasa begitu marah.
"Kenapa? Kenapa kalian harus memperlakukanku seperti ini?"
"Kenapa saat dia nggak mau menikah, aku yang harus menggantikannya?"
"Lalu, ketika Rendra sudah sembuh, kalian memintaku untuk bercerai!"
"Dulu kalian memaksaku untuk menikah, kenapa sekarang kalian memintaku untuk bercerai?"
Plak!
Ayah menamparku dengan keras hingga aku terjatuh.
"Indah! Jangan lupa siapa yang membesarkanmu dan membiayai sekolahmu. Aku membesarkanmu bukan untuk melawan perintahku!"
Mella tersenyum puas melihat penderitaanku.
Ibu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata.
"Indah, bagaimanapun juga Rendra nggak menyukaimu, jadi biarkan mereka bersatu."
Pada saat itu, aku benar-benar kecewa dengan keluargaku.
Aku berdiri dengan langkah lunglai dan tersenyum pahit.
"Selama Rendra setuju untuk bercerai, aku nggak keberatan. Siapa pun yang ingin menjadi Nyonya Saputra, silakan."
Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan meninggalkan tempat penuh luka itu.
Saat aku tiba di rumah Keluarga Saputra, aku tidak menyangka Rendra sudah menungguku di rumah.
Dia sekarang sudah bisa bergerak sendiri tanpa bantuan.
Dia berjalan tertatih-tatih menghampiriku dan menyerahkan sebuah map dokumen padaku.
Saat kubuka, di dalamnya ada dua salinan surat cerai yang sudah ditandatangani, bersama dengan sebuah cek dan satu set kunci.
"Indah, tanda tangani ini. Apartemen di Jalan Cendana beserta uang empat miliar ini akan menjadi milikmu. Anggap saja ini sebagai kompensasi perceraian dariku."