Bab 1
Melamar sebagai pengasuh bayi, aku tak menyangka majikanku, Pak Jeff malah ingin menilai sendiri kelayakanku.
“Tak disangka ternyata kamu begitu berisi, sepertinya anakku tak akan kelaparan lagi. Selanjutnya, aku harus periksa kualitasnya.”
Demi pekerjaan yang sulit kudapatkan ini, aku menahan rasa malu dan menunjukkan profesionalitasku, tapi tiba-tiba Pak Jeff malah mendekat….
“Ah, jangan digigit….” bisikku pelan, suaraku gemetar tak karuan.
“Aku punya gangguan emosi, hanya susu segar yang bisa menenangkanku.”
Sejak hari itu, aku harus menyediakan susu segar untuk Pak Jeff dan anaknya setiap hari. Tapi, semua ini malah diketahui oleh ayah Pak Jeff.
Suatu malam, tiba-tiba dia memanggilku ke ruang kerja….
Namaku Eva, seorang perempuan desa yang ikut suami merantau ke kota untuk bekerja.
Hubungan kami cukup baik. Setelah menikah, kami dikaruniai seorang putra. Sayangnya, saat baru lahir, anak kami didiagnosis mengidap penyakit dan harus dirawat dalam pengawasan ketat di rumah sakit sejak awal.
Demi mengumpulkan biaya pengobatan, suamiku bekerja tanpa henti, bahkan mengambil tiga pekerjaan sekaligus.
Aku berasal dari desa dan tidak punya pendidikan tinggi, jadi terus menemui jalan buntu. Tapi, ternyata takdir tidak menutup jalan. Aku menemukan lowongan pekerjaan sebagai pengasuh bayi.
Persyaratan yang mereka tetapkan cukup ketat. Mereka ingin pengasuh yang tidak terlalu tua, sekitar usia tiga puluhan awal, berpenampilan menarik dan bertubuh proporsional.
Orang yang bertugas mewawancarai menjelaskan bahwa karena keluarga majikan tinggal di vila, bahkan pengasuh pun harus terlihat pantas dan tidak mempermalukan majikan.
Kebetulan usiaku tiga puluh tahun dan di desa, aku termasuk yang paling cantik.
Meskipun sudah melahirkan, tubuhku cepat pulih. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, orang tak akan menyangka bahwa aku sudah menjadi ibu.
“Wanita ini bagus, tubuhnya montok dan proporsional. Bayinya pasti nggak akan kelaparan. Wajahnya juga cantik, nggak bakal bikin malu keluarga majikan. Pilih dia saja. Biar majikan lihat dulu, kalau cocok, baru bisa lanjut menyusui anaknya. Biasanya kalau anaknya nggak menolak, pengasuhnya bisa langsung diterima.”
Ada enam orang yang ikut wawancara. Setelah diseleksi, aku beruntung terpilih. Selama majikan tidak keberatan, pekerjaan ini sudah hampir pasti di tangan.
Kata pewawancara, wanita ini adalah salah satu kepala pelayan Pak Jeff dan bertanggung jawab atas urusan sehari-hari. Pekerjaan sebagai pengasuh bayi ini tidak hanya bergaji tinggi, tapi juga dapat fasilitas makan dan tempat tinggal. Bahkan makanannya sama enaknya dengan milik majikan, karena pengasuh bayi harus menyusui.
Setelah mengikuti kepala pelayan perempuan itu sampai di vila, dia pun menyuruhku menemui Pak Jeff sendiri. Katanya Pak Jeff tidak suka ada bawahan yang keluar masuk ruang kerjanya sembarangan.
Ini pertama kalinya aku masuk ke vila semewah ini dan bertemu langsung dengan bos besar. Aku sangat gugup, tapi demi mendapatkan uang untuk mengobati anakku, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
“Masuk saja.”
Begitu mendengar suara berat dari dalam, jantungku langsung berdebar kencang.
Selama ini, orang paling penting yang pernah kutemui adalah mandor proyek atau kepala desa. Siapa sangka kali ini aku harus berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan besar?
Aku menarik napas dalam-dalam dan mendorong pintu masuk. Pak Jeff sedang berdiri di depan jendela sambil menelepon. Begitu melihatku, dia langsung menutup teleponnya.
“Melamar jadi pengasuh bayi? Biar kuperiksa dulu peralatanmu, cukup nggak untuk diminum anakku?”
Pak Jeff langsung melangkah mendekat dan hendak membuka pakaianku.
Aku tertegun, baru sadar setelah tangannya menyentuhku. Dengan panik, aku pun menghindar.
“Pak… Pak Jeff, kepala pelayan perempuan tadi sudah memeriksanya waktu wawancara, aku….”
“Aku bosnya, tentu saja aku harus periksa langsung. Kalau kamu lebih nurut dengannya, sana kerja sama dia saja. Biar dia yang menggajimu.”
Pak Jeff memotong kata-kataku dengan nada kesal, aku pun semakin panik.
Takut benar-benar diusir dan kehilangan pekerjaan ini, aku pun buru-buru membuka kancing bajuku sendiri, memperlihatkan bagian tubuhku yang digunakan untuk menyusui….
Bab 2
“Tak disangka ternyata kamu begitu berisi, sepertinya anakku tak akan kelaparan lagi. Selanjutnya, aku harus memeriksa kualitasnya.”
“Anak ini harta keluarga kami, jadi tak boleh ada sedikit pun kelalaian. Soal kualitas, aku harus benar-benar mengawasinya secara ketat.”
“Sini, biar kuperiksa dulu. Kalau rasanya nggak ada masalah, kamu bisa langsung mulai bekerja.”
Pak Jeff duduk di kursi dan menarikku mendekat.
Saat dia hendak menggigit, aku reflek menghindar, tapi dia menahanku erat-erat.
“Ini sudah kedua kalinya kamu menentangku. Pekerjaan sebagai pengasuh ini banyak yang mau, kalau kamu memang merasa terlalu berharga, sebaiknya cepat pergi saja, jangan buang-buang waktuku.”
Nada bicaranya terdengar tidak enak, jelas mulai kesal.
Hatiku terasa kacau dan bimbang. Aku tahu jelas cara yang dia gunakan ini tidak wajar, aku belum pernah dengar ada yang merekrut pengasuh dengan cara seperti ini.
Namun mirisnya, keadaanku memang sulit. Mencari pekerjaan lain juga tidak mudah. Pekerjaan bersih-bersih yang bisa kudapat paling-paling hanya empat juta sebulan. Untuk makan saja sudah pas-pasan, apalagi harus menanggung biaya pengobatan anak.
“Jangan marah, Pak Jeff. Ini salahku. Mau periksa… apa saja boleh, aku terima. Asal jangan memecatku.”
Dengan tubuh gemetar, aku menahan rasa takut dan tidak nyaman di dalam hati, lalu memberanikan diri untuk mendekat.
“Uh… Pak Jeff, tolong jangan menggigit terlalu keras, bisa luka, nanti bayinya jadi nggak bisa minum….”
Tampaknya Pak Jeff tidak begitu tahu cara memeriksa, membuatku merasa nyeri dan geli sekaligus. Anehnya, tubuhku perlahan mulai bereaksi aneh, seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam diri ini.
Sejak merantau ke kota untuk bekerja, suamiku selalu sibuk. Pergi pagi dan pulang malam langsung tidur. Beberapa kali kami sempat berhubungan, tapi belum sempat menikmati, aku sudah hamil.
Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari setahun, aku tidak mengalami hal semacam itu.
Karena dirangsang Pak Jeff barusan, perasaan aneh yang sudah lama tak kurasakan itu kembali muncul, asing dan familiar. Seluruh darah dalam tubuhku mengalir cepat dan kepalaku terasa kosong.
“Kualitasnya bagus sekali, aku jadi ingin menikmatinya setiap hari. Namamu Eva? Sepertinya kamu cukup menikmatinya. Kenapa? Suamimu nggak memuaskanmu?”
“Aku belum periksa bagian lain. Mumpung sekarang ada waktu, aku bakal cek dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jangan sampai ada bekas luka atau tanda lahir yang bisa menakuti anakku nanti.”
“Juga sekalian memastikan kamu nggak membawa benda tajam atau sesuatu yang bisa membahayakan.”
Usai bicara, dia langsung mulai memeriksa.
Aku tahu jelas dia sengaja melakukannya. Ini tak ada bedanya dengan penghinaan di depan umum. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memejamkan mata, sambil menahan air mata dan menanggung rasa malu ini.
Gaji yang kudapat di sini mungkin satu-satunya harapan untuk membiayai pengobatan anakku. Jika aku pergi sekarang hanya demi mempertahankan harga diri, mungkin anakku tak akan punya harapan lagi.
“Aku paling suka dengan pesona wanita saat menangis. Lihat wajahmu, siapapun pasti tak akan menyangka kalau kamu sudah pernah melahirkan.”
“Tapi… aku malah suka wanita yang sudah pernah melahirkan, gizinya melimpah. Siapa tahu aku juga bisa ikut kenyang.”
“Nggak tahan dilihat olehku? Lantainya ini terbuat dari kayu, lho. Daripada kamu buat basah dan merusaknya, bagaimana kalau aku membantumu menahannya?”
Pak Jeff langsung menarikku duduk di pangkuannya. Kehangatan yang membara itu menempel erat padaku, membuat napasku jadi tersengal.
“Pak… Pak Jeff, jangan… kita… aku….”
Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Aku panik dan benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tak berani melawan, tapi juga tak bisa melepaskan diri, rasanya hampir gila.
“Eva, katanya kalau mendapat rangsangan yang kuat, sel-sel kelenjar susu akan sangat aktif. Jadi, bagian tubuhmu yang dipakai untuk menyusui itu bisa menghasilkan lebih banyak makanan.”
“Kebetulan bisa diperiksa dulu. Kalau memang benar, kamu juga bisa menyusuiku kalau aku lapar. Aku akan menambah bayaran untukmu….”
Pak Jeff membuka ikat pinggangnya, mengangkatku dan perlahan mendekat….