Bab 1
Menjelang hari pernikahan, Ashley mengalami kecelakaan saat berusaha menyelamatkan Noah. Tubuhnya terpental akibat tertabrak mobil, mengalami patah tulang di banyak bagian, dan wajahnya rusak parah akibat bergesekan dengan aspal.
Meski wajah Ashley hancur, Noah sama sekali tidak merasa jijik atau menjauhinya. Dia tetap menikahinya dan setelah pernikahan pun, dia memperlakukan Ashley dengan penuh kasih sayang dan perlindungan seperti sebelumnya.
Semua orang berkata bahwa Noah mencintainya setengah mati. Cintanya pada Ashley telah melampaui nilai-nilai duniawi dan penampilan fisik.
Dulu, Ashley pun percaya akan hal itu.
Namun, setengah bulan yang lalu, dia menemukan bahwa Noah berselingkuh dengan pembantu rumah tangganya sendiri.
"Zoey, bantu aku buatkan janji untuk operasi cangkok kulit wajah total di Negara Herado dengan Dokter Jayden," kata Ashley datar.
Mendengar permintaan itu, sahabatnya, Zoey, langsung merasa ada yang tidak beres.
"Ashley, operasi cangkok kulit wajah total itu sangat menyakitkan dan risikonya tinggi, bisa menyebabkan infeksi serius. Noah begitu mencintaimu, apa dia tega membiarkan kamu ambil risiko sebesar itu?"
"Aku dan dia akan segera bercerai. Aku nggak bisa jelaskan lewat telepon. Nanti setelah aku sampai di Negara Herado, aku akan ceritakan semuanya."
Setelah menutup telepon, Ashley menunduk memandangi layar ponselnya yang sedang memutar ulang sebuah video.
Dalam video itu, Noah tampak tergesa-gesa menindih Yessy. Tubuhnya bergerak liar di atas wanita itu.
Kaki jenjang Yessy melingkari pinggang Noah, wajahnya memerah dan penuh gairah. Dengan suara menggoda, dia berbisik, "Tuan, menghadapi wajah istrimu yang penuh bekas luka itu ... memangnya kamu bisa ereksi?"
"Jangan sebut dia, merusak suasana saja," jawab Noah sambil terengah dan memukul tubuh Yessy. "Jangan gerak-gerak, dasar perempuan nakal, kamu mau peras habis aku, ya?"
Yessy berpura-pura marah sambil tersenyum manja. "Ih, jahat ...."
Ashley dan Noah tumbuh bersama sejak kecil, seperti pasangan yang ditakdirkan bersama. Menjelang pernikahan mereka, saat hendak memotret foto prewedding, mereka mengalami kecelakaan.
Demi menyelamatkan Noah, Ashley tertabrak mobil. Tubuhnya terpental jauh, tulangnya patah di berbagai tempat, dan wajahnya hancur parah karena terseret di aspal.
Namun, Noah tetap menikahinya seolah tak peduli pada wajahnya yang rusak. Setelah menikah, dia pun masih memperlakukan Ashley dengan penuh kasih sayang dan perlindungan.
Semua orang berkata bahwa Noah mencintai Ashley setengah mati. Cintanya bahkan melampaui penampilan fisik dan hal-hal duniawi. Ashley sendiri pernah begitu yakin akan hal itu.
Namun setengah bulan yang lalu, dia mulai merasa ada yang tidak beres. Diam-diam, dia menyewa seorang detektif pribadi untuk menyelidikinya.
Sampai akhirnya, video ini dikirimkan oleh detektif itu. Baru saat itulah Ashley sadar bahwa Noah sudah sejak lama berselingkuh dengan pembantu mereka sendiri.
Ponsel terus memutar video itu tanpa henti hingga akhirnya mati kehabisan baterai. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Noah berlari masuk dengan langkah tergesa-gesa dan langsung memeluk Ashley dengan erat. "Ashley! Kamu bikin aku hampir mati ketakutan. Kenapa nggak angkat teleponku?"
Aroma manis yang khas setelah bercinta masih melekat di tubuhnya. Ashley langsung merasa mual dan mendorong Noah menjauh tanpa ragu.
"Ponselnya habis baterai," jawabnya datar.
Tak lama kemudian, Yessy menyusul masuk dengan langkah pelan. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Ashley yang penuh bekas luka, lalu dia berkata dengan sinis, "Tuan, aku tadi sudah bilang, Nyonya nggak pernah keluar rumah, bagaimana mungkin dia kenapa-kenapa?"
Tatapan Noah langsung menusuk ke arahnya. "Diam! Kamu itu pembantu, tapi nggak siaga sama sekali di sisi Nyonya. Bahkan ponselnya mati pun kamu nggak tahu?"
Yessy menarik kerah bajunya sedikit ke bawah, memperlihatkan bekas ciuman di pundaknya, lalu berkata dengan nada manja dan sedikit tersinggung, "Tadi pacarku datang menjenguk, aku sudah bilang ke Nyonya, kok."
Di bulan ketiganya bekerja sebagai pembantu, Yessy tiba-tiba mengatakan pada Ashley bahwa dia sedang berpacaran. Ashley bahkan benar-benar mengucapkan selamat dengan tulus dan berjanji akan memberi hadiah besar saat Yessy menikah nanti.
Sekarang kalau diingat, Ashley merasa dirinya sangat bodoh.
Yessy jelas-jelas sudah merebut suaminya dan waktu itu datang hanya untuk menyombongkan diri.
Noah berniat menegurnya, "Waktu rekrut kamu, dari awal aku sudah bilang, apa pun yang terjadi, kamu harus utamakan Nyonya ...."
Namun, Ashley tidak mau lagi mendengar sandiwara mereka. Dia memotong dengan suara datar, "Pecat saja dia."
Begitu kalimat itu dilontarkan, keduanya langsung menatapnya dengan terkejut.
Yessy langsung menunjukkan wajah memelas, "Nyonya, tolong jangan pecat aku. Ibuku masih butuh biaya pengobatan. Kalau aku ada kesalahan, tolong beri tahu aku, aku akan memperbaikinya."
Ashley menatapnya tenang, lalu berkata dengan dingin, "Semua sudah kamu lakukan dengan sangat baik. Tapi justru karena terlalu sempurna ... aku jadi nggak suka."
Bahkan suaminya pun ikut "dirawat" olehnya, ini jelas sudah keterlaluan.
Yessy kembali menatap Noah dengan mata berkaca-kaca. Namun, Noah malah memeluk Ashley lebih erat dan berkata, "Ashley, selama ini Sissy sudah bekerja dengan sangat baik. Dia baru sekali ini melakukan kesalahan. Maafkan saja dia, ya?"
Suara Ashley menyiratkan ejekan halus. "Sissy?"
Wajah Noah sempat menegang, tetapi segera dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Kamu juga biasa panggil dia Sissy setiap hari, aku jadi ikut-ikutan."
Setelah itu, dia memasang ekspresi serius dan menatap Yessy dengan tegas. "Yessy, kalau kamu berani ulangi lagi, meskipun Ashley memaafkanmu, aku sendiri yang akan memecatmu."
Yessy membungkuk sambil mengangguk cepat, lalu mundur keluar setelah Noah menyuruhnya pergi.
Noah kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil yang tampak mewah dari saku jasnya. Dia membukanya dan menyodorkannya ke hadapan Ashley. "Ashley, ini kalung yang aku pesan khusus dari butik perhiasan."
Namun kali ini, tidak ada lagi binar kebahagiaan di mata Ashley saat menerima hadiah darinya. Dia hanya menatap kalung berlian mahal itu dengan pandangan datar.
"Aku pernah dengar, laki-laki hanya akan terus-menerus memberi hadiah pada perempuan kalau dia merasa bersalah karena sudah berbuat salah."
"Selama tiga bulan terakhir, kamu sudah sering memberiku hadiah." Mata Ashley menatapnya dengan lurus, "Kamu ada salah sama aku?"
Noah hanya tersenyum tenang, sorot matanya seperti biasa saat berkata, "Kenapa kamu bisa mikir begitu? Kamu itu istriku. Setiap kali aku lihat perhiasan indah, yang langsung terlintas di pikiranku pasti kamu."
Malam itu setelah makan malam, Noah bahkan mengoleskan salep penyembuh luka di wajah Ashley yang penuh bekas luka dengan tangan sendiri. Setelahnya, dia mencium lembut kening Ashley.
Ashley jadi bingung, yang mana Noah yang sebenarnya? Yang tulus dan lembut seperti ini? Atau yang berselingkuh di belakangnya, lalu kembali bersikap manis seolah tidak terjadi apa pun?
Lantaran tidak ingin lagi melihat kepalsuan di hadapannya, Ashley pun membalikkan badan dan berpura-pura tidur.
Namun, baru saja Ashley "tertidur", Noah sudah mendorong pintu dan berjalan keluar kamar.
Tak lama kemudian, dari ruang tamu terdengar suara desahan penuh gairah milik Yessy.
Ashley membuka matanya, lalu mengintip melalui celah kecil di pintu.
Yessy mengenakan kostum pembantu yang sangat terbuka dan menggoda. Dia duduk mengangkang di pangkuan Noah dan suaranya semakin lantang.
Noah buru-buru menutup mulutnya dengan tangan dan berbisik, "Jangan berisik. Nanti Ashley bangun ...."
Namun, Yessy hanya terkekeh dengan napas memburu. "Aku tadi sudah taruh obat tidur di susunya, bahkan kalau ada petir pun dia nggak bakal bangun."
Jarinya menggambar lingkaran di dada Noah. "Lagian, bukankah Tuan memang suka yang liar?"
Ekspresi Noah tetap dingin, tetapi ucapannya sangat menusuk, "Seliar apa pun kamu, jangan sampai kelewatan di depan Nyonya. Kamu itu cuma alat pelampiasanku. Ingat baik-baik posisi kamu."
Yessy tampak seolah terluka, tetapi tetap mengangguk sambil mendekat untuk menggigit lembut jakun Noah. Noah akhirnya tidak lagi menahan diri dan langsung membalikkan tubuhnya, lalu membenamkan Yessy di bawah tubuhnya.
Ashley kini tahu alasan kenapa belakangan ini tidurnya selalu begitu nyenyak dan setiap bangun pagi, tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
Ternyata, semua itu karena Yessy telah menaruh obat tidur dalam susunya. Noah juga mengetahuinya, bahkan menyetujuinya, hanya demi bisa berselingkuh dengan bebas di belakangnya.
Air mata mengalir tanpa suara di sudut mata Ashley.
'Noah, kamulah yang lebih dulu mengkhianati aku. Kalau begitu, aku pun tidak akan memilih bertahan. Aku juga tidak menginginkanmu lagi.'
Bab 2
Malam itu, Ashley nyaris tidak bisa memejamkan mata.
Keesokan paginya adalah jadwal kontrol ulang ke rumah sakit. Noah bahkan membatalkan semua pekerjaannya dan menyetir sendiri mengantar Ashley ke rumah sakit.
Begitu tiba di depan gedung rumah sakit, mereka melihat seorang wanita dengan wajah penuh luka bakar sedang terduduk di tanah dan menangis putus asa.
“Aku cacat seperti ini karena waktu itu menyelamatkanmu! Sekarang baru dua tahun berlalu, kamu sudah selingkuh di belakangku. Masih pantaskah kamu disebut manusia?!”
Wajah pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, yang ada hanya kebencian. “Kamu bisa salahkan dirimu sendiri karena terlalu bodoh. Melihat wajahmu yang menjijikkan saja sudah cukup membuatku mimpi buruk setiap malam!”
“Aku masih membiarkanmu tinggal di rumah dan mempertahankan posisimu sebagai istri sah saja itu sudah bentuk belas kasihan terbesar dariku.”
Ashley mengepalkan tangannya, menatap pemandangan di hadapannya. Begitu mirip dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar, dia bertanya, “Noah, apa kamu juga berpikir seperti itu?”
Jadi selama ini Noah berselingkuh diam-diam, tapi merasa dirinya sudah cukup baik hanya karena tetap mempertahankannya sebagai seorang istri?
Noah mengangkat tangan dan menyentuh lembut bekas luka di wajah Ashley. "Ashley, kamu nggak percaya sama aku?"
Melihat istrinya tidak menjawab, Noah pun berbicara lebih serius. "Aku mencintai kamu sebagai pribadi, bukan karena penampilanmu. Mau kamu cantik atau nggak, aku tetap mencintaimu."
Ashley tersenyum getir. "Benarkah?"
Noah menjawab penuh keyakinan, "Tentu. Saat kita menikah, aku sudah bersumpah hanya akan mencintaimu seumur hidupku." Sumpah itu masih terngiang jelas di telinga, tapi orang yang pernah bersumpah itu kini sudah berubah.
Saat mereka masuk ke dalam rumah sakit, mereka berpapasan dengan Yessy.
Suara Noah langsung berubah dingin dan kesal, "Kamu ngapain di sini? Bukannya harusnya kamu di rumah dan bekerja seperti biasanya?"
Yessy memegangi perutnya, menatap Ashley dengan ekspresi penuh kesakitan. Namun di balik sorot matanya, tampak jelas ada kilatan bangga.
"Maaf ya, Nyonya ... aku nggak sengaja bolos kerja. Semua gara-gara pacarku terlalu liar semalam. Sesama wanita, kamu pasti ngerti, 'kan?" Yessy berbicara sambil mengedipkan mata, seolah bersikap akrab.
Raut wajah Ashley tetap tenang. "Kelihatannya pacarmu sangat mencintaimu."
Yessy pura-pura manja. "Aduh, dia tuh jahat sekali ... bikin aku begini lalu malah nyuruh aku ke rumah sakit sendirian. Nggak bisa dibandingkan sama sekali dengan perhatian Tuan ke Nyonya."
Tiba-tiba dia berseru, "Aduh! Giliranku dipanggil. Aku naik duluan ya!"
Begitu Yessy pergi, Noah tampak mulai gelisah. Dia menahan diri beberapa saat, tapi akhirnya tetap berkata, "Ashley, aku baru ingat ... ada teman yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Aku mau jenguk sebentar. Nggak lama, kok."
Ashley mengangguk pelan. Meski Noah mengatakan hanya sebentar, dia tidak kunjung kembali lagi setelah pergi. Ashley pun tidak ambil pusing.
Setelah pemeriksaan selesai, dia langsung naik taksi ke kantor visa untuk mengurus pengajuan keberangkatan ke luar negeri. Saat sedang menunggu, notifikasi dari media sosial berbunyi.
Yessy baru saja memperbarui statusnya.
[ Lagi sakit, tapi pacarku repot sekali jagain aku dan bahkan bawain hadiah biar aku senang .... ]
Dalam fotonya, terlihat Yessy memakai kalung berlian berbentuk bulan sabit yang identik dengan kalung yang diberikan Noah pada Ashley kemarin. Pandangan mata Ashley mengabur. Dia menutup ponselnya dan menarik napas dalam-dalam.
Dua jam kemudian, Noah menelepon. Suaranya terdengar cemas, "Ashley, kamu di mana? Aku sudah cari kamu ke mana-mana."
Ashley menjawab dengan tenang, "Aku langsung pulang setelah pemeriksaan."
Noah terdengar menyesal. "Maaf, Ashley ... aku ngobrol sama temanku sampai lupa waktu. Aku janji nggak akan begini lagi."
"Barusan Ibu bilang kita harus makan malam di rumah. Aku berangkat untuk jemput kamu sekarang juga."
Makan malam di rumah keluarga besar adalah aturan yang ditetapkan oleh Julie, ibu Noah. Bagi Ashley, itu adalah momen paling tidak menyenangkan. Dulu, dia masih bisa menoleransi. Namun sejak wajahnya rusak, Julie jadi semakin tidak suka padanya.
Meskipun wajahnya rusak karena menyelamatkan Noah, Julie tetap menganggap bahwa seorang wanita dengan wajah cacat tidak pantas untuk putranya yang luar biasa, apalagi menjadi nyonya muda Keluarga Suprapto.
Saat itu, ketika Ashley masih dalam kondisi koma akibat luka berat, Julie bahkan berkali-kali menyarankan agar Noah menyelesaikan masalah ini dengan uang dan membatalkan pertunangan mereka.
Mobil mereka akhirnya memasuki halaman rumah keluarga besar. Begitu Ashley turun dari mobil, seorang anak laki-laki kecil langsung datang dengan pistol air besar di tangan dan menyemprotkannya ke arah Ashley.
"Bunuh penyihir tua! Bunuh si jelek!"
Ashley mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya, tapi tetap saja sebagian besar tubuhnya basah karena tembakan air itu.
Detik berikutnya, anak kecil itu langsung diangkat oleh Noah dan dipukul di pantatnya.
"Paman jahat ... bela si jelek .... Paman jahat sekali ...."
Tangisan anak itu terdengar nyaring, sehingga memancing perhatian Julie yang langsung datang dan menarik cucunya ke belakangnya.
"Anak kecil mana tahu apa-apa, yang jujur itu justru mereka. Cantik ya dibilang cantik, jelek ya dibilang jelek. Apa itu juga nggak boleh?"
Wajah Noah menggelap. Dia berkata dengan nada keras, "Bu, wajah Ashley rusak karena menyelamatkan aku! Kalau bukan dia, anak Ibu ini mungkin sudah mati waktu itu!"
"Mulai hari ini, aku nggak mau dengar satu pun komentar buruk tentang Ashley di rumah ini. Kalau masih ada yang berani merendahkannya lagi, kami nggak akan pernah kembali ke sini lagi!"
Bab 3
Nada suara Noah yang dingin dan tegas langsung membuat suasana menegang seperti membeku.
Dulu, Ashley pasti akan lebih memilih mengalah demi meredakan suasana, tetapi sekarang dia hanya berdiri di tempat, menatap semua dengan dingin.
Julie hanya punya satu anak laki-laki, yaitu Noah. Akhirnya, dia mengalah dan bahkan menyuruh cucu luarnya itu meminta maaf pada Ashley.
Di meja makan, Julie terus-menerus mengambilkan makanan untuk Noah. "Noah, kamu kelihatan makin kurus. Makan yang banyak ya."
Setelah itu, dia melirik tajam ke arah Ashley. "Katanya istri itu harus bisa tampil anggun di depan publik, juga harus jago di dapur. Kalau kamu nggak bisa tampil anggun, paling nggak harus bisa masak supaya bikin suamimu betah di rumah."
Ashley menelan makanan di mulutnya dengan susah payah. "Kita baru saja kedatangan pembantu baru. Masakannya enak, Noah suka."
Julie mendengus kesal. "Pembantu tetap saja pembantu, dia bukan istri Noah. Kamu istrinya, jadi wajar kamu yang harus turun tangan urus hal begini!"
Ashley tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Mungkin sebentar lagi dia memang bukan lagi istri Noah.
Noah pun memotong pembicaraan, "Ibu, mulai lagi deh. Ini kita mau makan atau mau ribut?"
Julie langsung meredam emosinya. "Ya sudah, nggak ngomong lagi. Makan, makan."
Akhirnya suasana meja makan menjadi tenang, sampai ponsel Noah terus-menerus bergetar. Dari sudut mata, Ashley sempat melirik sekilas. Kebetulan, dia melihat pesan dari Yessy masuk.
[ Sayang, aku lagi demam. Katanya cewek yang demam badannya panas banget. Kamu mau coba nggak? ]
Disertai foto pribadi Yessy yang mengenakan lingerie. Hasrat Noah langsung melonjak. Dia pun buru-buru menutup ponsel dengan kasar.
Suara ponsel yang ditutup terlalu keras sampai membuat Julie ikut merasa aneh. "Noah, kenapa? Ada apa?"
Noah langsung bangkit. "Ibu, ada urusan mendadak di kantor. Aku harus ke sana sekarang."
Kemudian, dia menoleh ke arah Ashley. "Ashley, malam ini mungkin aku pulangnya agak telat. Kamu istirahat duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Ashley, Noah sudah melangkah cepat ke luar rumah.
Begitu Noah pergi, Ashley juga tidak ingin terus-menerus melihat wajah Julie dan yang lainnya. Dia langsung berdiri, berniat pergi dari meja makan.
Namun, Julie membentak sambil menepuk meja. Amarahnya meledak setelah dipendam semalaman. "Aku saja belum selesai makan, kamu sudah berani pergi dari meja? Nggak ada sopan santun sama sekali!"
Dia berteriak lantang, "Pembantu! Kunci dia di loteng! Biar dia belajar disiplin!"
Ashley menolak. "Kamu nggak punya hak kurung aku! Ini namanya penahanan ilegal!"
Julie mengejek dengan dingin, "Lucu sekali. Mertua mendidik menantu itu hal yang wajar!"
Dua pembantu menarik paksa Ashley ke loteng dan mengurungnya di sana. Di tengah kegelapan, jantung Ashley berdebar kencang, tubuhnya menggigil tanpa henti.
Dia menderita klaustrofobia. Sensasi sesak ini membuatnya merasa sekarat. Kegelapan di sekitarnya seperti dipenuhi monster yang siap menerkamnya.
Ashley terus-menerus menggedor pintu, memanggil nama Noah.
Saat SMA dulu, pernah ada teman sekolah yang menjahilinya dan mengurungnya di gudang. Waktu itu, dia pun ketakutan luar biasa. Noah yang menyelamatkannya.
Dia menendang pintu, membiarkan cahaya masuk bersamaan dengan kehadirannya dan cahaya itu juga masuk ke hati Ashley.
Sejak saat itu, Ashley menganggap Noah sebagai penyelamatnya. Dia mencintainya, rela menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya.
Sayangnya, sekarang semua telah berubah. Tidak peduli dia berteriak sekeras apapun, Noah tidak datang.
Yang datang hanyalah seember air dingin. Pembantu membawa baskom dan memelototinya. "Nyonya, lebih baik diam. Kalau terus teriak-teriak nggak tahu aturan, jangan salahkan kami bertindak kasar!"
Ashley basah kuyup dan dikurung di loteng semalaman. Sampai pagi hari berikutnya, Noah baru datang tergesa-gesa, membuka pintu dan langsung memeluk Ashley yang tergolek lemas di lantai.
"Ashley, maaf .... Aku terlambat ...."
Pelukan yang dulu dia anggap sebagai perlindungan, kini hanya terasa seperti siksaan yang membuat napasnya sesak.
Ashley melepaskan diri dari pelukan Noah, berdiri, dan berjalan ke arah pintu. Baru saja melangkah ke luar, pandangannya menggelap. Dia pun jatuh pingsan.