Bab 1

Menikah selama empat tahun, suamiku tidak pernah mengajakku pergi ke tempat populer yang dikunjungi pasangan, katanya aku norak dan suka ikut-ikutan.

Namun, ketika perempuan yang selalu dia cintai kembali ke negara ini, dia justru tidak sabar membawanya mendaki gunung yang konon bisa membuat sepasang kekasih hidup bersama hingga tua.

Setelah aku bercerai dan pergi ke luar negeri, mantan suamiku malah mengejarku, menangis sambil mencariku di antara reruntuhan...

"Saya ingin bercerai."

Pada tahun keempat pernikahan, Pearly Scott memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya.

Namun, pengacara di depannya sepertinya mengira dirinya datang hanya untuk membuat keributan. Pengacara itu mengangkat alisnya dan berkata, "Adik Kecil, perceraian bukanlah perkara sepihak."

Pearly paham kalau pengacara itu tidak menganggapnya serius.

Bagaimanapun juga, Pearly baru saja pulang kuliah, dia masih mengenakan sweter dan celana jeans saat datang. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang hendak mengajukan gugatan cerai.

Namun, dia sudah menyiapkan semuanya. Pearly berkata dengan tenang, "Anda hanya perlu menyusun draf perjanjian perceraian yang profesional. Saya akan memastikan suami saya menandatanganinya."

Pearly dan Kayden Stewart tidak memiliki anak. Dia juga tidak menginginkan harta gono-gini sama sekali. Perjanjian perceraiannya sederhana, hanya dua lembar kertas.

Begitu masuk rumah, hidungnya langsung diserbu oleh bau menyengat.

Pearly memandang ke arah sumber bau. Lilly Pearce dan Kayden sedang memakan pete, di atas meja juga ada setengah durian.

Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya tertawa hingga hampir bersandar satu sama lain.

Saat Kayden menyadari Pearly berdiri di depan pintu, dia segera menahan ekspresinya, lalu bertanya dengan nada serius, "Pearly, kapan kamu pulang? Aku hanya memesan dua porsi. Kamu mau makan apa? Aku akan memesankannya untukmu."

"Nggak usah, aku sudah makan di kampus."

Pearly melirik pete itu, lalu menundukkan pandangannya.

Selama ini, Pearly tidak pernah berani makan makanan berbau menyengat, karena Kayden punya sinusitis. Katanya, dia tidak suka mencium bau aneh di rumah.

Pearly mengeluarkan surat perjanjian perceraian dari tasnya.

Dia menyodorkan sebuah pena pada Kayden dan berkata, "Kampus membutuhkan tanda tangan anggota keluarga untuk surat pernyataan tanggung jawab keselamatan. Tolong tanda tangani untukku."

Pearly adalah seorang yatim piatu, sementara Kayden adalah suaminya. Dia memang satu-satunya keluarga Pearly.

"Biar kulihat dulu."

Kayden sedikit mengernyit, lalu mengulurkan tangan untuk menerima dokumen itu.

Pearly tidak menyangka dia ingin membaca dengan teliti. Selama ini, Kayden jarang memperhatikan urusannya. Apalagi sejak sebulan terakhir, setelah Lilly bercerai dan kembali ke negara ini, perhatian Kayden padanya makin berkurang.

Pearly menggenggam erat surat perjanjian perceraian itu. Tubuhnya kaku, dia bingung apakah harus memberikannya sekarang atau tidak.

"Kayden, apa-apaan kamu ini?"

Lilly membuka bibir merahnya, lalu bercanda sambil menepuk Kayden. "Kamu terlalu jaim di depan Pearly, wajahmu seperti mau menerkam orang. Pearly sampai ketakutan melihatmu."

"Begitukah?"

Kerutan di dahi Kayden seketika menghilang. Dia menerima dokumen dari tangan Pearly dengan tatapan penuh senyum, lalu menandatangani dengan indah pada bagian yang ditunjukkan Pearly.

Dalam hati, Pearly menghela napas lega, tetapi segera terlintas sebersit ejekan pada dirinya sendiri.

Kayden hanya bersikap hati-hati dan serius di hadapannya. Namun, ketika ada Lilly di sampingnya, kewaspadaannya lenyap, dia tampak begitu santai.

Padahal, kalau saja Kayden mau melihat lebih teliti, dia pasti tahu bahwa itu bukan surat pernyataan tanggung jawab, melainkan perjanjian perceraian.

Namun, Kayden sibuk menanggapi gurauan Lilly. "Aku hanya menganggap Pearly sebagai adik. Sebagai kakak, tentu saja aku harus lebih tegas."

Hanya menganggapnya sebagai adik?

Gerakan Pearly seketika terhenti. Dalam hati Pearly berpikir, dulu, setiap malam ketika Kayden menindihnya, terengah-engah sambil memeluknya erat ke dalam pelukannya, bukan ini yang Kayden katakan.

Orang tua Pearly sudah lama tiada. Setelah Profesor Jimmy mengetahui keadaan keluarganya, beliau sering mengajaknya makan di rumah dengan alasan membantunya merapikan data.

Lama-kelamaan, Pearly pun berkenalan dengan putra Profesor Jimmy, Kayden.

Profesor Jimmy adalah pakar klinis terkemuka, tetapi putra tunggalnya, Kayden tidak menekuni dunia kedokteran. Sejak kuliah, dia sudah mendirikan studio game sendiri. Belum genap tiga puluh tahun, Kayden telah menjadi bintang baru yang kerap muncul di majalah keuangan.

Wajah tampan yang disertai aura kekayaan membuatnya menjadi idola banyak gadis muda. Pearly pun tidak terkecuali. Setelah beberapa kali berinteraksi, hati Pearly mulai berdebar tidak karuan.

Namun, karena menyadari perbedaan status mereka, Pearly selalu menyembunyikan rasa sukanya. Bahkan ketika duduk semeja dengan Kayden, dia tidak berani menatapnya dengan leluasa.

Sampai empat tahun lalu, ketika Profesor Jimmy dan istrinya bepergian bersama, mereka meminta Pearly mengantar sebuah berkas ke rumah.

Malam itu, setelah dia mengirimkan paket dan hendak pergi, Kayden yang mabuk berat tiba-tiba masuk dan langsung menubruknya.

Kayden menerjangnya dengan agresif. Pearly tidak benar-benar menolaknya. Keduanya bergumul hingga ke atas tempat tidur, lalu Kayden meninggalkan bekas gigitan kasar di bahunya.

Kayden berkata dengan suara mabuk bercampur keluhan, "Kamu jelas tahu aku menyukaimu!"

Belakangan, Pearly baru tahu bahwa di hari itu, Lilly menikah kilat dengan seorang pria asing.

Hanya saja saat itu, dia sama sekali belum pernah mendengar nama Lilly.

Saat itu, Pearly sangat gembira, dia mengira cintanya akhirnya mendapat balasan. Dalam gelap, dia menyerahkan seluruh dirinya.

Keesokan harinya, istri Profesor Jimmy pulang dan mengetahui kejadian tidak senonoh itu. Di hadapan keduanya, dia langsung meminta Kayden berjanji untuk bertanggung jawab.

Begitu usia Pearly mencapai batas legal, mereka pun resmi menikah.

Empat tahun terakhir, karena Kayden yang sibuk dan Pearly yang tinggal di asrama, keduanya jarang bersama. Ketika Kayden bersikap dingin, Pearly selalu mengira itu adalah watak aslinya.

Pearly rela memberi tanpa menuntut balasan.

Sebulan lalu, Pearly memesan restoran mewah untuk merayakan hari pernikahan mereka yang keempat sekaligus ulang tahunnya yang ke-24, dengan menggunakan uang beasiswanya.

Demi hari itu, Pearly sudah janjian dengan Kayden sejak dua minggu sebelumnya, bahkan berulang kali mengonfirmasi dengan sekretarisnya.

Kayden juga berjanji pasti akan datang. Namun, malam itu Pearly menunggu hingga restoran tutup, sementara telepon Kayden tidak bisa dihubungi.

Setelah diusir keluar oleh pelayan, Pearly melihat berita kecelakaan di dekat situ melalui ponselnya. Hatinya langsung panik.

Dia berlari ke semua rumah sakit di sekitar dalam waktu dua jam, tetapi tidak juga menemukan sosok Kayden. Akhirnya, dia berhasil menghubungi Theo Simpson.

Theo adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui hubungan mereka. Dia berkata heran, "Kayden nggak memberitahumu? Hari ini Lilly pulang ke negara ini, Kayden sedang mengatur pesta penyambutan untuknya di hotel."

Pearly sama sekali tidak pernah mendengar nama Lilly dari mulut Kayden. Setelah tiba di hotel dan melihat langsung, dia baru tahu ternyata influenser perjalanan Lilly yang selalu diperhatikan Kayden adalah Lilly ini.

Saat tiba di pintu ruang perjamuan, dia melihat sekelompok teman lama sedang bermain game. Di tengah sorak-sorai, Kayden mengangkat Lilly seperti seorang putri dan menghabiskan segelas penuh anggur dalam sekali teguk.

Belum pernah Pearly melihat Kayden sebahagia itu.

Pearly menerobos masuk, berharap Kayden memberinya penjelasan yang masuk akal. Namun, wajah Kayden hanya memancarkan canggung saat melihatnya. Lalu, dia memperkenalkan Pearly kepada yang lainnya.

"Dia adik sepupuku."

Saat itu juga, Pearly akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar-benar masuk dalam kehidupan Kayden.

Melihat Kayden dan Lilly dengan kompak saling menukar lauk di piring mereka, Pearly menggenggam erat perjanjian perceraian di tangannya.

Setelah masa jeda tiga bulan berakhir dan akta cerai berada di tangannya, Pearly akan pergi. Pergi meninggalkan Kayden yang sejak awal tidak pernah menjadi miliknya.

Bab 2

Lilly menyewa sebuah apartemen di lantai atas tempat mereka tinggal.

Hampir setiap hari dia turun untuk berkunjung.

Kayden yang dulu sering lembur hingga larut malam dan jarang pulang, tiba-tiba terlihat begitu senggang, seolah-olah setiap hari sengaja menunggu di rumah.

Seusai makan malam, mereka duduk di ruang tamu menonton televisi. Lilly bahkan mengajak Pearly untuk bergabung.

"Aku masih harus menyelesaikan tesisku, kalian saja yang menonton," kata Pearly, lalu kembali ke kamar tidur.

Dari luar, terdengar tawa lepas Lilly. "Pearly memang mahasiswa teladan. Nggak seperti aku dulu yang selalu merepotkan Kayden untuk mengerjakan tugas..."

Pearly yang sibuk dengan laptop hingga pukul sebelas malam, tidak menyadari Kayden sudah masuk sambil menyeret sandalnya.

Kayden mengulurkan tangan hendak mengambil amplop di meja. Hati Pearly berdegup kencang, dia ingin menghentikannya, tetapi sudah terlambat. Di dalamnya tersimpan perjanjian perceraian yang sudah Kayden tandatangani.

"Apa ini?"

Kayden mengernyit, dia menarik selembar kertas dari amplop dan melemparkannya ke meja. "Kamu mau ikut program bantuan ke Arreca?"

Pearly memperhatikan dengan seksama, ternyata yang dia letakkan paling atas adalah formulir pendaftaran program bantuan ke Arreca.

"Itu bukan punyaku, aku hanya membantu teman sekamar mencetaknya. Di asrama nggak ada printer."

Wajah Pearly tetap tenang. Kayden pun percaya begitu saja, dia tidak lagi tertarik pada isi amplop tersebut.

Pearly mengembuskan napas lega. Dia belum ingin Kayden tahu soal perceraian. Pernikahan ini sejak awal hanyalah kisah cinta sepihaknya. Saat pergi nanti, dia ingin melangkah dengan tenang dan bermartabat.

"Kudengar program bantuan ke Arreca harus tinggal di daerah termiskin di sana selama tiga tahun. Cukup berat, ya."

Jari panjang Kayden mengetuk meja perlahan, suaranya terdengar datar. "Kamu nggak perlu ikut-ikutan. Relasi ayah dulu sudah cukup untuk membuatmu mendapatkan pekerjaan bagus di rumah sakit Kota Bliyle."

Kalau didengar sekilas, ucapannya seakan penuh perhatian. Namun, Pearly hanya bisa tersenyum pahit.

Setiap tahun Pearly selalu meraih IPK tertinggi, bahkan selama kuliah pascasarjana dia sudah menerbitkan belasan tesis. Dengan kemampuannya sendiri, bertahan di Kota Bliyle pun bukan masalah, dirinya bahkan tidak perlu koneksi.

Kayden bahkan tidak tahu hal-hal itu. Empat tahun ini, dia tidak pernah benar-benar berusaha memahami Pearly.

Sebaliknya, Pearly tahu persis suhu AC yang paling nyaman untuk Kayden. Setiap mau tidur, Pearly sengaja menurunkan suhu AC, meskipun akhirnya dia sendiri kedinginan dan bersin-bersin.

Malam ini, dia memutuskan untuk tidak lagi memaksa dirinya.

Benar saja, baru saja berbaring, Kayden gelisah dan berulang kali berganti posisi. "Kenapa malam ini panas sekali?"

"Nggak panas, aku justru kedinginan," jawab Pearly datar.

Dia pun membalikkan badan dan membelakangi Kayden, lalu menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pearly mengira Kayden akan menyesuaikan suhunya sendiri.

Tidak disangka, Kayden mengulurkan lengannya dan memeluk Pearly dari belakang.

Hembusan napas hangat menyapu leher Pearly, membawa serta aroma hasrat dan keinginan.

Karena terbiasa berolahraga, kekuatan tubuh Kayden begitu kuat. Dia dengan mudah membalikkan tubuh Pearly, lalu mendekapnya erat ke dalam pelukan. Ciuman pun menghujani Pearly tanpa henti.

Pearly berusaha melawan, tetapi sia-sia.

Di tempat tidur, Kayden selalu begitu mendominasi, sama sekali berbeda dengan sosoknya yang biasanya tenang dan berwibawa.

Pearly mengerutkan kening dan memalingkan wajahnya, lalu melihat jam digital di samping tempat tidur. Hari ini hari Jumat...

Selama empat tahun, setiap Jumat malam, mereka selalu melewatkan waktu seperti ini.

Dulu, Pearly mengira karena mereka hanya bertemu seminggu sekali, makanya Kayden begitu tidak terkendali.

Hingga beberapa hari lalu, saat Pearly tidak bisa tidur dan berulang kali melihat akun media sosial Lilly, Pearly baru menyadari bahwa Lilly selalu mengunggah video setiap hari Jumat.

Lilly adalah seorang influenser perjalanan. Setiap videonya menampilkan perjalanannya bersama suami asingnya keliling dunia. Selain pemandangan, hampir setiap adegan dipenuhi kemesraan.

Begitu teringat, setiap kali mereka bercinta dulu, Kayden melakukannya bukan karena dirinya, melainkan karena terpancing oleh Lilly, Pearly merasa muak.

Dia ingin muntah dan akhirnya gerakan Kayden terhenti.

"Ada apa?"

Kayden menyalakan lampu dinding. Cahaya temaram menerangi wajahnya yang tegas.

"Aku... nggak enak badan... ugh..."

Awalnya, Pearly hanya ingin menghentikannya. Namun, perutnya benar-benar mual, seakan seluruh isi tubuh ingin dimuntahkan.

"Aku antar kamu ke rumah sakit, siapa tahu..."

"Nggak mungkin!"

Pearly tahu apa yang hendak dia katakan. Namun, mereka selalu memakai pengaman setiap kali melakukannya, jadi itu mustahil.

"Lebih baik tetap periksa ke rumah sakit. Soalnya kamu kelihatan nggak enak badan banget sekarang."

Setelah mengatakannya, Kayden sudah mengenakan pakaian dan meraih kunci mobil di meja samping tempat tidur.

Dia baru saja hendak membantu Pearly berdiri, tiba-tiba ponselnya berdering.

Setelah melihat nama penelepon, Kayden segera mengangkat.

Entah apa yang dikatakan di seberang sana, kening Kayden sempat berkerut, lalu dia tersenyum kecut.

Setelah menutup telepon, dia berkata pada Pearly, "Lilly bilang dia menonton film horor sendirian di rumah, dia ketakutan sampai hampir menangis..."

Di bawah cahaya lampu, wajah Kayden tampak ragu.

Pearly langsung mengerti. "Pergilah temani dia, aku nggak apa-apa."

Baru saja dia selesai bicara, ponsel Kayden kembali berdering. Bunyinya mendesak, seakan memaksanya segera pergi. Kayden hanya melirik sekilas, lalu cepat-cepat berdiri.

Beberapa langkah menuju pintu, Kayden seolah baru teringat sesuatu. Dengan raut bersalah, Kayden berkata, "Tunggu aku, nanti aku antar kamu ke rumah sakit."

Melihat pintu tertutup, Pearly tersenyum getir.

Menunggu? Itu kata kerja yang paling tidak berguna. Dia sudah lelah menunggu.

Karena mualnya tidak kunjung reda dan sulit tidur, Pearly duduk kembali, lalu mengambil formulir pendaftaran program bantuan ke Arreca dari dalam amplop.

Awalnya, Pearly masih ragu apakah dirinya harus ke luar negeri. Namun, dalam keadaan seperti ini, kalau setelah lulus Pearly tetap tinggal di Kota Bliyle, setelah bercerai pun dia pasti akan bertemu dengan Kayden lagi. Lebih baik dia pergi beberapa tahun untuk mengembangkan diri.

Saat mengisi formulir, pada kolom status pernikahan, tanpa ragu Pearly menuliskan, lajang.

Bab 3

Kayden semalam tidak pulang. Pagi-pagi sekali, Pearly sudah melihat unggahan terbaru di akun Lilly.

[Di saat terpuruk, aku masih beruntung, ada seseorang yang tanpa pikir panjang mau menemaniku mendaki Gunung Yumei di malam hari.]

Meskipun foto itu berupa swafoto, Pearly langsung mengenali sosok pria tinggi di belakangnya, itu adalah Kayden.

Kolom komentar pun ramai oleh warganet yang bergosip.

[Gadis yang mencintai kebebasan memang memikat, para pengagum Kak Lilly mungkin sudah antre sampai ke Frasses...]

[Sudah kuduga Kak Lilly nggak akan terpuruk setelah dikhianati pria brengsek dan bercerai. Dia panutan kita semua!]

[Dari belakang saja sudah tampak tinggi sekali. Kapan nih kasih lihat wajahnya ke para penggemar?]

...

Pearly tersenyum miris. Jika para penggemar itu tahu bahwa pria yang dimaksud sebenarnya sudah menikah, entah bagaimana reaksi mereka.

Lilly bahkan ikut menulis komentar. [Para penggemarku tersayang, ada yang tahu legenda tentang Gunung Yumei?]

Konon, sepasang kekasih yang mendaki hingga puncak Gunung Yumei akan selalu terikat selamanya.

Tahun lalu, saat Gunung Yumei sempat viral di internet, Pearly ingin sekali Kayden menemaninya mendaki.

Pearly sudah membujuknya berkali-kali, tapi Kayden hanya menanggapi dengan wajah dingin. "Pearly, aku kira kamu bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan tren murahan."

Saat itu, Pearly hanya terdiam dan tidak bisa membantah.

Hal yang sama, jika dirinya yang melakukannya akan dianggap tidak punya pendirian, tetapi kalau Lilly yang melakukannya, justru dinilai bebas dan penuh semangat.

Itulah perbedaan antara mencintai dan tidak mencintai.

Hanya saja, Pearly benar-benar tidak mengerti lelaki. Meskipun tidak mencintai, nafsunya tetap bisa bangkit. Untuk menghindari kejadian memuakkan semalam terulang, dia memutuskan membereskan barang-barangnya dan pergi. Hingga akta cerai selesai, Pearly tidak akan kembali lagi ke sini.

Sebenarnya, Pearly lebih sering tinggal di asrama, jadi barang-barangnya di sini tidak banyak. Pakaiannya cukup dimasukkan ke dalam satu koper.

Terakhir, dia membuka laci di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah album tebal berisi foto-foto polaroid. Isinya semua adalah foto Kayden yang dia ambil diam-diam.

Setiap foto hanya menampilkan wajah Kayden dari samping, sebab dia tidak pernah mau berpose apalagi bekerja sama.

Berbeda dengan foto unggahan Lilly, meskipun hanya memperlihatkan punggung, jelas terlihat bahwa itu diambil dengan sudut yang sengaja diatur.

Saat pergi, Pearly membawa album itu turun, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.

Cinta yang tidak dihargai, bahkan pemulung enggan memungutnya karena dianggap membawa sial.

Menjelang kelulusan, Pearly sibuk luar biasa, dua minggu penuh dia hampir tidak teringat lagi pada Kayden.

Usai rapat kelompok pada hari Jumat, Pearly melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Kayden di ponselnya, itu membuatnya sedikit tertegun.

Selama empat tahun, apa pun urusannya, selalu Pearly yang lebih dulu menghubungi Kayden, bahkan terkadang harus melalui janji dengan sekretarisnya.

"Telepon adalah cara komunikasi paling nggak efisien, hanya buang-buang waktu."

Mengingat ucapan Kayden dulu, dia pun menghapus notifikasi dan berniat mengabaikannya.

Tidak disangka, Kayden kembali menelpon berkali-kali, lalu mengirim pesan lewat Whatsapp.

[Ayah ingin kita bersama-sama menjenguknya.]

Sejak istri Profesor Jimmy meninggal dua tahun lalu, Profesor Jimmy seolah terpukul hebat, kesehatannya menurun drastis hanya dalam semalam. Dia melepaskan semua jabatannya dan tinggal di sanatorium dengan sukarela.

Dulu, setiap sepuluh hari sekali Pearly pasti mengajak Kayden untuk menjenguknya. Namun, sejak peristiwa bulan lalu, Pearly memang sudah lama tidak datang.

Seketika Pearly merasa sedikit bersalah.

Meskipun dia dan Kayden tidak bisa menjadi suami istri, Profesor Jimmy dan mendiang istrinya memang benar-benar menyayangi Pearly dengan tulus.

Selagi dia masih berada di Kota Bliyle, sudah sepantasnya Pearly menjenguk Profesor Jimmy lebih sering.

Kayden menjemputnya dengan mobil. Begitu bertemu, dia langsung bertanya, "Belakangan ini kenapa nggak pulang?"

"Kuliah sedang sibuk."

"Kalau begitu baguslah. Lilly sampai mengira kamu marah karena dia terlalu dekat denganku."

Tangan Kayden yang memegang setir mengetuk perlahan. "Aku sudah bilang padanya, kamu nggak segampang itu marah. Tapi dia nggak percaya, katanya demi menghindari salah paham dia akan pindah bulan depan."

"Katakan padanya nggak perlu. Aku nggak mempermasalahkannya."

Suara Pearly terdengar lesu, mirip saat dia bertugas menanyakan kondisi pasien.

Kayden mengernyit tipis. Jawaban itu sebenarnya sesuai dengan yang dia harapkan, tetapi entah kenapa, ketika mendengar Pearly mengatakannya dengan begitu santai, dirinya justru merasa ada yang janggal.

Saat menunggu lampu merah, Kayden berniat menoleh untuk melihat lebih jelas ekspresi Pearly. Namun, dia sudah tertidur di kursi penumpang.

Mutiara yang Tersia-siakan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya