Bab 2
"Benarkah?!"
Mendengar suara gurunya tiba-tiba meninggi di ujung telepon, Lily pun mencengkeram ponselnya erat-erat. Rasa getir mendadak membuncah di dalam dirinya.
Sebelumnya, dia benar-benar terlalu bodoh. Maestro ini adalah figur paling terkemuka di dunia ukiran kayu. Setiap ukiran kayu hasil tangannya selalu terjual dengan harga fantastis. Jumlah orang yang ingin menjadi muridnya tidak terhitung banyaknya.
Namun, hanya karena satu kalimat dari Yoga, "Lily, aku nggak suka hubungan jarak jauh." Lily pun rela melepaskan kesempatan berharga yang telah diperjuangkan keras oleh gurunya untuk dirinya.
Dahulu, Lily mengira Yoga tidak bisa hidup tanpa dirinya. Hati Lily penuh dengan kebahagiaan. Bahkan, saat melepaskan peluang emas itu, Lily tidak merasa menyesal sedikit pun.
Sekarang, jika dipikir-pikir, yang sebenarnya tidak bisa dilepaskan oleh Yoga adalah wajahnya yang agak mirip dengan wajah Nadine.
"Guru, tujuh hari lagi, aku akan datang tepat waktu."
Setelah menutup telepon, Yoga juga sudah selesai menelepon.
Lily baru saja masuk rumah dan hendak naik ke atas, ketika dia mendengar Yoga berkata, "Demi mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik, mulai hari ini, Nadine... eh, Kak Nadine, akan tinggal di kamar tamu rumah kita."
Setelah mengatakan itu, Yoga merasa ada yang tidak tepat. Kemudian, dia pun buru-buru menambahkan, "Jangan salah paham. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Kak Nadine sedang dalam suasana hati yang buruk dan pikirannya juga kacau. Membiarkannya sendiri di rumah bisa berbahaya. Ini juga permintaan orang tuaku."
Langkah Lily terhenti sejenak. Dia menatap mata Yoga yang berbinar-binar. Kemudian, Lily pun tersenyum tipis dengan sedikit tawa. "Aku mengerti."
Apa sebenarnya yang ingin disembunyikan Yoga?
Mendengar suara tenang Lily, hati Yoga tiba-tiba dirasuki perasaan aneh. Ketika pandangannya menumbuk pakaian Lily yang basah kuyup, Yoga pun baru teringat jika dia sudah berjanji untuk menjemput Lily di area istirahat. Namun, karena Nadine membuat keributan dan sulit ditenangkan, Yoga pun hanya memusatkan perhatian untuk menenangkan emosi Nadine dan benar-benar lupa.
Yoga hendak mengejar Nadine untuk meminta maaf. Namun, baru melangkahkan kaki, sesosok tubuh dengan cepat menghambur ke dalam pelukannya.
"Yoga, barusan aku memimpikan kakakmu. Dia menyalahkanku kenapa aku belum pergi menemuinya. Harusnya aku nggak hidup. Harusnya aku mati. Kenapa kamu menghalangiku? Kenapa kamu nggak membiarkanku mati?"
Setelah berkata seperti itu, Nadine kembali berusaha berlari keluar.
Melihat Nadine seperti itu, hati Yoga pun benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain. Yoga memeluk Nadine erat-erat. Matanya penuh dengan rasa sakit dan iba. "Itu cuma mimpi buruk, cuma mimpi. Mimpi itu biasanya kebalikan dari kenyataan."
Melihat kedua sosok itu berpelukan, Lily pun memejamkan mata sejenak, lalu membalikkan badan dan naik ke lantai atas.
Seperti yang sudah diduga, malam itu Yoga tidak kembali.
Memanfaatkan waktu itu, Lily pun mengeluarkan kopernya dan mulai mengemasi barang-barangnya satu per satu.
Hingga fajar menyingsing, Lily baru selesai menyimpan kopernya kembali ke dalam lemari dan keluar dari kamar. Saat melewati kamar sebelah, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di dalam kamar, Yoga sedang duduk di tepi tempat tidur Nadine. Tatapan matanya begitu lembut, jauh lebih lembut dari apa pun. Ekspresi seperti ini belum pernah diperlihatkan Yoga di hadapan Lily sebelumnya.
Tiba-tiba, Lily teringat kembali potongan-potongan kenangan dari tahun-tahun yang telah berlalu.
Tahun pertama mereka bersama, saat Lily demam tinggi sampai 39 derajat dan sangat membutuhkan perawatannya, Yoga malah pergi karena sebuah panggilan telepon. Katanya, ada pekerjaan mendesak. Namun dalam panggilan itu, Lily mendengar suara Nadine.
Tahun kedua mereka bersama, saat Lily menemani Yoga negosiasi pekerjaan dan dipaksa minum berbotol-botol anggur, Yoga malah pergi setelah menerima sebuah pesan. Dia membiarkan Lily dipaksa minum sampai lambungnya berdarah. Dalam percakapan pesan itu, Lily melihat foto profil Nadine.
Tahun ketiga mereka bersama, tahun keempat, tahun kelima…
Setiap tahunnya, kejadian serupa terus terulang.
Lily mengira semua itu hanyalah kebetulan.
Namun sekarang, ternyata semua ada polanya.
Lily tidak kuasa menahan air matanya. Namun, dia segera menyekanya secepat mungkin.
Tujuh hari lagi, semuanya akan berakhir.
Saat sarapan, kedua orang itu sudah tidak ada. Lily melangkahkan kaki menuju studio pribadinya. Baru saja mengambil pisau ukir, ponsel Lily sudah berbunyi. Ternyata itu pesan dari sahabat baiknya, Amanda Himawan.
[Lily, apaan yang barusan kulihat ini? Kenapa Yoga bersama kakak iparnya ada di Poli Kandungan?]
[Bukankah kakaknya Yoga barusan meninggal? Apa yang terjadi?]
Bersamaan dengan itu, Amanda juga mengirimkan beberapa foto dari berbagai sudut.
Dalam foto itu, Yoga mendukung Nadine dan terlihat begitu mesra. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira mereka adalah pasangan suami istri yang penuh kasih.
"Srrttt…"
Pisau ukir di tangan Lily tergelincir di atas kayu di depannya dan tanpa sengaja menggores tangan Lily.
Rasa sakit yang terlambat dirasakan pun muncul. Tetes demi tetes darah mengalir dan mendarat tepat di atas ukiran kayu di dekat kaki Lily.
Lily memandang ukiran kayu di dekat kakinya. Itu adalah ukiran yang dia buat menyerupai wajah Yoga.
Waktu itu, Yoga bahkan sempat menggoda dan mengolok-olok Lily, "Sampai segitunya nggak bisa jauh dariku?"
"Tentu. Saat aku kerja sekalipun, kamu juga harus tetap di sisiku."
Sekarang, menatap ukiran kayu yang sudah ternoda darah itu, Lily tanpa ragu mengambilnya, melangkah keluar dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia tidak akan pernah lagi bergantung pada Yoga.
Bab 3
Ketika Yoga kembali bersama Nadine, hari sudah malam. Melihat Lily yang sedang makan malam, tubuh Yoga pun menegang untuk sesaat.
Dahulu, tidak peduli selarut apa pun, Lily akan selalu bersikeras menunggu Yoga untuk makan bersama. Yoga sudah berkali-kali menasihatinya, tetapi Lily tetap saja menolak.
Kini, melihat Lily makan malam sendirian, Yoga pun merasa ada yang aneh di dalam hati. Saat hendak menghampirinya, seseorang di sampingnya menariknya kembali.
"Yoga, soal rencana perjalanan kita besok, perlukah kita memberi tahu Lily?"
Mendengar ucapan Nadine, Yoga pun langsung berkata, "Lily, dokter bilang beberapa hari ini suasana hati Kak Nadine sangat buruk. Itu bisa memengaruhi hasil bayi tabung. Dia butuh relaksasi. Kak Nadine suka menyelam. Ayo, kita pergi bersama besok."
Lily berdiri dan berjalan naik ke lantai atas. "Kalian saja yang pergi."
Dia tidak punya waktu untuk ikut-ikutan dalam sandiwara mereka.
Baru saja masuk kamar, Yoga langsung menyusul dan menarik tangan Lily dengan kasar. "Lily, aku tahu kamu keberatan soal program bayi tabung. Tapi, Kak Nadine itu nggak salah. Kenapa kamu harus marah padanya?"
Lily menunduk. Jari tangannya yang terbalut perban kembali mengeluarkan darah karena cengkeraman Yoga.
Dia hanya mengucapkan satu kalimat penolakan, tetapi Yoga sudah buru-buru membela wanita yang dicintainya. "Yoga, dia itu kakak iparmu. Istri yang terdaftar di buku nikah kakakmu."
Hanya karena satu kalimat itu saja, Yoga langsung bereaksi keras seperti kucing yang ekornya terinjak. Dia melepaskan tangan Lily dengan kasar. "Lily, hatimu benar-benar jahat. Aku sudah bilang itu program bayi tabung. Kami sama sekali nggak melakukan apa-apa. Nggak ada apa-apa."
"Orangtuaku cuma ingin meninggalkan keturunan untuk kakakku, supaya di masa depan ada yang mendoakannya dan agar dia nggak mati tanpa penerus. Aku nggak bisa diam melihat orangtuaku sekarat, atau melihat kakakku nggak punya anak. Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja memahami posisiku?"
Lily tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Yoga yang terus berusaha meyakinkan dirinya.
Akhirnya, karena merasa bersalah, Yoga pun melepaskan tangannya dan berbalik pergi.
Lily membuka perban di jarinya dan darah langsung mengucur deras.
Di masa lalu, ada goresan kecil di tangan Lily saja, Yoga akan langsung menyadarinya. Namun, sekarang, luka sebesar ini pun sama sekali tidak disadari Yoga.
Apa sebenarnya posisi Nadine di hati Yoga, sebagai kakak ipar atau lebih dari itu, mungkin hanya Yoga sendiri yang tahu.
Keesokan paginya, meski Lily menolak, Yoga tetap memaksanya naik ke mobil. Yoga dan Nadine duduk di kursi depan, meninggalkan Lily sendirian di bangku belakang.
Di dalam mobil, Yoga biasanya pendiam. Dahulu, saat Lily mengajaknya bicara, Yoga selalu menolak dengan alasan itu tidak aman saat menyetir.
Namun sekarang, Yoga dan Nadine tertawa, juga mengobrol bersama.
Di tepi pantai, keduanya sudah berganti baju selam dan masuk ke air.
Setengah jam kemudian, Nadine tiba-tiba muncul ke permukaan. "Lily, kamu nggak ikut menyelam?"
Lily menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku nggak bisa berenang."
"Oh, begitu…"
Tiba-tiba, Nadine meraih tangan Lily. "Lily, di dalam air sangat menyenangkan. Kamu sendirian di atas pasti sangat membosankan. Ayo ikut turun bersama."
Detik berikutnya, Nadine menarik Lily hingga terjatuh ke dalam air.
Lily terkejut. Refleks, dia mencoba meraih Nadine yang berada di sampingnya. Namun, ternyata Nadine sudah menghilang.
Gelombang air laut yang dingin mengalir deras, menutupi mulut dan hidung Lily. Tubuh Lily tidak bisa dikendalikan dan mulai tenggelam.
"Tolong, tolong. Yoga, Yoga."
Lily meronta-ronta mati-matian sambil berteriak. Dari kejauhan, tampak sosok yang dengan cepat berenang ke arahnya dengan wajah cemas. "Lily, jangan takut. Aku datang."
Detik berikutnya, terdengar suara lain yang dipenuhi rasa takut.
"Yoga, tolong aku. Huhuhu, kakiku kram."
Begitu mendengar suara itu, tubuh Yoga langsung berhenti di tempat dan menoleh ke arah lain.
Di tengah laut, Nadine tampak memukul-mukul permukaan laut dengan panik. Kakinya tidak bergerak dan tubuhnya perlahan-lahan tenggelam ke dalam air.
Dalam pandangan Lily yang makin kabur, Yoga tampak menoleh sekilas padanya. Setelah berpikir sesaat, Yoga pun lalu berbalik dan bergegas menghampiri Nadine.
Melihat punggung Yoga yang pergi tanpa ragu, kedua tangan Lily pun kehilangan tenaga. Tubuh Lily perlahan tenggelam. Lily memejamkan mata. Seulas senyum getir tersungging di bibirnya.
Sebenarnya, apa lagi yang masih dia harapkan?
Bab 4
Lily terbangun dari mimpi buruk.
Air laut yang tidak terhitung jumlahnya menerjang ke arahnya. Lily tidak bisa menghindar dan hanya bisa pasrah membiarkannya menenggelamkan dirinya.
Begitu Lily membuka mata, sesosok tubuh bergegas menghampirinya. "Lily, kamu nggak apa-apa? Kamu membuatku takut setengah mati."
Lily melihat Yoga di hadapannya. Sebelum Lily sempat berkata-kata, Yoga sudah kembali angkat bicara, "Jangan salahkan Kak Nadine. Dia cuma berniat mengajakmu turun ke air untuk bersenang-senang. Kak Nadine nggak menyangka kamu akan begitu ketakutan. Malah karena ketakutan, kakinya sendiri sampai kram dan juga hampir ikut celaka. Jadi, anggap saja ini sebagai kompensasi untukmu."
Tak disangka begitu terbangun, yang pertama kali didengar Lily justru kata-kata seperti itu.
Hati Lily dipenuhi kepedihan. Matanya menatap tajam Yoga yang ada di hadapannya. "Yoga, aku hampir mati. Kamu paham nggak sih?"
Bagaimana mungkin Yoga bisa mengatakan hal seperti itu?
Yoga mengerutkan kening. "Kenapa kamu harus begitu emosional? Lagian kamu juga nggak mati, 'kan? Kak Nadine juga hampir tenggelam, apa itu masih belum cukup? Apa kamu mau dia menebusnya dengan nyawanya?"
"Masalah sepele saja kamu permasalahkan. Dulu kamu nggak seperti ini. Marah sekalipun juga harus ada batasnya, 'kan?"
Mempermasalahkan masalah sepele…
Benar, dia memang belum mati. Jadi, itu dianggap masalah sepele.
Bahkan, meski dia benar-benar mati, kemungkinan besar Yoga juga akan menganggapnya masalah sepele.
Lily merasa semua itu benar-benar konyol. Dia memalingkan wajah dan tidak ingin melihat Yoga lagi. "Aku mau istirahat."
"Oke, pikirkan sendiri baik-baik." Yoga pun pergi begitu saja tanpa berniat tinggal lebih lama.
Dua hari berikutnya, Yoga tidak menampakkan diri. Saat perawat datang untuk memasang infus. Perawat itu pun menghela napas kagum "Pasangan di kamar sebelah itu romantis sekali, ya. Istrinya cuma hampir tenggelam saja, tapi suaminya sudah panik luar biasa. Sebentar juga nggak mau berpisah. Melihatnya saja, bikin aku jadi ingin jatuh cinta juga."
Lily berjalan keluar sambil berpegangan pada tiang infus. Seperti yang sudah dia duga, di kamar sebelah, Lily melihat Yoga sedang duduk di tepi ranjang. Yoga memotong apel menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyuapkannya satu per satu ke mulut Nadine.
Meski sudah mempersiapkan diri secara mental, hati Lily tetap terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Lily berbalik hendak pergi. Namun, baru saja menoleh ke samping, matanya langsung terpaku pada benda yang dipegang Nadine. Seketika, tubuh Lily langsung mematung di tempat.
Tanpa pikir panjang, Lily langsung menerobos masuk ruang perawatan. Dia merebut benda itu dari tangan Nadine. "Ini ukiran kayu yang kusiapkan untuk lomba. Dari mana kamu mendapatkannya?"
Nadine terkejut dengan kemunculan Lily yang tiba-tiba. Tubuhnya spontan meringkuk masuk ke dalam pelukan Yoga.
"Yoga…"
Yoga juga tidak menyangka jika Lily tiba-tiba akan muncul. Dia pun buru-buru merangkul Nadine ke dalam pelukannya dan mengerutkan kening. Wajah Yoga tampak tidak senang dan dia pun berkata dengan santai, "Itu aku yang ambil. Kak Nadine melihatnya dan dia bilang dia menyukainya. Jadi, aku berikan padanya untuk main-main. Memangnya nggak boleh?"
"Kamu kan hebat, tinggal buat satu lagi saja. Kenapa harus marah-marah di sini sampai bikin Kak Nadine ketakutan?"
"Tinggal buat satu lagi?"
Lily menatap Yoga yang ada di depannya. "Kamu tahu betul seberapa seriusnya aku menyiapkan diri untuk lomba ini. Aku mengerjakannya selama empat bulan penuh."
Demi ukiran kayu itu, hampir setiap hari Lily menghabiskan waktunya di studio. Bahkan, saat tubuhnya kelelahan sampai pingsan, yang ada di pikiran Lily hanyalah bagaimana cepat-cepat menyelesaikannya.
Bagaimana Yoga bisa bicara begitu entengnya?
Raut wajah Yoga tampak berubah. "Itu cuma lomba saja, 'kan? Paling banter juga kamu nggak bisa ikut. Kamu sudah memenangkan begitu banyak penghargaan. Nggak ikut yang satu ini juga nggak ada bedanya."
Lily menggenggam erat ukiran kayu di tangannya. Dia menunduk, menatap ukiran kayu yang sudah berubah, hingga tidak lagi dikenali bentuk aslinya itu. Pandangannya pun mulai mengabur.
Lily tidak bisa lagi menahan diri. "Yoga, sebenarnya apa arti diriku bagimu?"
"Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku meski hanya sedikit saja? Atau sebenarnya, yang kamu cintai sejak awal itu memang orang lain?"
Suara pertengkaran mereka cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang di luar yang mulai berkumpul. Yoga tiba-tiba berdiri dari tempat tidur. "Lily, apa yang kamu bicarakan? Kurasa kamu sudah jadi gila. Ayo, aku bawa kamu ke dokter. Kalau kamu nggak malu, aku yang malu!"
Tepat di saat Yoga hendak menyentuhnya, Lily tiba-tiba menepis tangan Yoga dengan keras.
"Jangan sentuh aku!"
Jarum infus di punggung tangan Lily terlepas dan darah pun mulai mengalir deras.
Melihat darah mengucur dari tangan Lily, Yoga bergegas maju untuk mencoba menekan luka Lily. "Lily, kamu…"
"Aku nggak apa-apa."
Lily menekan lukanya sendiri tanpa ekspresi. Dia membiarkan kedua tangannya berlumuran darah. "Kalian lanjutkan saja."