Bab 4
Sebelumnya, Liana tidak pernah menyangka kalau kejadian pacar yang selingkuh dengan sahabatnya akan menimpa dirinya. Dia selalu berpikir kalau itu adalah kejadian absurd yang ditulis oleh seorang penulis skenario. Baru setelah itu benar-benar terjadi padanya, Liana akhirnya memahami pepatah yang mengatakan, 'Tanpa ada kejadian dari kehidupan, tidak akan ada seni'.
Dia masih ingat betapa mendalam keterkejutan dan perasaan terkhianatinya saat membuka pintu asrama sekolah hari itu dan melihat Hamdan serta Winda sedang bersama.
Salah satunya adalah sahabatnya dan yang lainnya adalah orang yang paling dia andalkan selain kakaknya. Tetapi, mereka menggunakan cara yang paling kotor dan paling tajam untuk menyakiti hati Liana.
"Liana?" Winda tertegun sejenak.
Liana sudah mengalihkan pandangannya dan menyeret kopernya ke dalam.
Dia tidak berniat menyapa mereka. Bagaimanapun, masa lalu telah berlalu. Dia dan Hamdan sudah putus dan persahabatannya dengan Winda juga telah berakhir. Mulai sekarang, dia tidak ingin berurusan dengan kedua orang ini lagi.
Winda meraih lengan Hamdan dan berjalan masuk, lalu pintu lift tertutup. Winda menoleh ke arah Liana dan berkata, "Kudengar kamu mendapatkan pekerjaan. Apa kamu akan melakukan perjalanan bisnis?"
Liana menunduk dan mengiakan. Dia menganggap itu sudah selesai.
Setelah Winda melihat ini, dia tidak berkata apa-apa lagi.
Saat lift sampai dilantai satu, Liana menarik koper dan berjalan keluar. Tanpa diduga, dia melakukan kesalahan dengan tergesa-gesa dan salah satu roda koper tersangkut di celah. Liana menariknya dengan kuat dua kali, wajahnya sudah memerah, tetapi kopernya sama sekali tidak bergerak.
Tepat saat dia tidak tahu harus berbuat apa, Hamdan mengulurkan tangannya dan mendorong koper dengan pelan, akhirnya roda koper itu keluar.
"Terima kasih." Liana mengucapkan terima kasih dengan pelan dan pergi karena malu.
Pintu lift tertutup kembali dan berlanjut turun ke bawah.
Winda melirik Hamdan dan berkata dengan intonasi yang tidak jelas, "Sepertinya Liana sudah banyak berubah dan aku rasa dia masih marah pada kita. Menurutmu, apa aku harus menemuinya dan meminta maaf padanya?"
"Apa itu perlu?" Hamdan berkata dengan tenang, "Sudah terjadi seperti ini, apa gunanya minta maaf?"
Winda mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan sedih, "Hamdan, apa kamu menyalahkanku?"
Hamdan hanya diam.
Winda melepaskan tangannya dari lengan Hamdan dan berkata, "Hamdan, kalau kamu nggak bisa melepaskan Liana, aku akan menjelaskan masalah kita padanya. Ini awalnya memang salahku dan aku akan bertanggung jawab. Liana orang yang baik, dia pasti bisa memaafkanmu ...."
Pintu lift terbuka dan tempat parkir bawah tanah di lantai dua terang benderang.
Winda berlari keluar lift sambil menangis dan dihadang oleh sebuah mobil yang melaju kencang dengan klaksonnya yang berbunyi keras, Winda berdiri di tengah jalan seolah dia kehilangan kemampuan untuk bereaksi, mengangkat tangannya untuk menutupi matanya, tapi lupa menghindarinya.
Untungnya, Hamdan datang dengan cepat dan mengulurkan tangan untuk menariknya tepat waktu. Rem mobil hampir berasap, melewati mereka berdua dan berhenti dengan suara melengking. Pengemudi itu mengeluarkan kepalanya keluar jendela mengutuk beberapa kata, kemudian dia pergi.
"Kamu mau mati?" Hamdan memegang pergelangan tangan Winda, dia berkata dengan suara yang bergetar.
Adegan tadi terlalu mendebarkan, kalau dia terlambat satu detik saja, Winda mungkin sudah mati.
Winda juga sangat ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Air matanya terus mengalir, dia menangis sampai gemetar dan melemparkan dirinya ke pelukan Hamdan. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Hamdan menghela napas, lalu mengulurkan tangannya untuk memeluknya dan dengan lembut menghiburnya. "Sudah, jangan menangis lagi ...."
....
Liana naik taksi kembali ke asrama sekolah. Ini adalah satu-satunya tempat dia bisa tinggal setelah keluar dari rumah kakaknya. Awalnya, asrama itu untuk empat orang, karena ini adalah akhir semester tahun terakhir, setelah mendapatkan pekerjaan mereka semua pindah satu per satu.
Liana biasanya tidak tinggal di sini, tetapi tokonya belum dipindahkan.
Sebelum kejadian perselingkuhan itu, Winda tinggal sendirian di sini. Karena keluarganya tinggal di luar kota dan dia juga belum mendapatkan pekerjaan magang.
Saat Liana datang malam itu, dia mendengar dari teman-teman sekelasnya kalau ada pemadaman listrik di asrama. Dia khawatir Winda akan takut sendirian, jadi dia datang untuk menemaninya. Tetapi, saat membuka pintu dia malah melihat pemandangan itu ....
Sekarang Winda tidak tinggal di sini lagi. Kudengar Hamdan menyewakan rumah untuknya di luar.
Liana sangat sibuk sejak dia bergabung dengan Perusahaan Lewis. Dia bangun pagi dan pulang larut malam. Dia sangat terkejut karena melihat mereka berdua di lingkungan tempat tinggal kakaknya hari ini.
Tidak disangka, rumah yang disewakan Hamdan untuk Winda ternyata ada di komplek kakaknya dan juga di gedung yang sama.
Entah itu hanya kebetulan atau memang disengaja, Liana sudah tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang dia merasa kalau pindah adalah hal yang benar. Ada banyak peluang untuk bertemu seseorang dan itu tidak bisa dihindari. Singkatnya, dia hanya merasa tidak nyaman.
Setelah membereskan tempat tidur, ponsel Liana berdering.
Itu adalah telepon dari kakaknya. Suaranya terdengar sedikit menangis saat dia berbicara, "Liana, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan? Kenapa nggak pamitan padaku? Kamu dimana? Aku akan datang menjemputmu."
Liana bersandar di tempat tidur, "Kak, aku pindah lagi ke asrama sekolah. Saat lulus masa magang nanti, aku bisa mendaftar di asrama karyawan di perusahaan ...."
"Ada tempat di rumah, kenapa tinggal di asrama karyawan? Tunggu aku, kakak akan segera datang menjemputmu ...."
"Kak!" Liana berteriak dengan sungguh-sungguh.
Linda langsung terdiam.
Liana menahan semua emosi sedihnya, menatap ke langit-langit dan berpura-pura santai. "Kakak, aku sudah dewasa. Aku nggak mau jadi bebanmu lagi dan aku juga ingin jadi sandaranmu."
Linda duduk di kursi ruang tamu, memegang ponsel dan air mata terus mengalir. Dia menyeka air matanya dan berkata, "Aku nggak perlu bergantung padamu. Aku cuma butuh kamu di sisiku. Nggak peduli berapa umurmu, kamu akan selalu jadi adikku."
"Kak, terima kasih. Tapi kali ini aku benar-benar ingin bisa mandiri. Kak, kamu akan mendukungku, 'kan?"
Suara Linda terdengar serak, "Bagaimana kalau aku nggak mendukungmu? Apa kamu akan langsung pulang?"
"Nggak." Liana tersenyum, air mata mengalir tanpa suara, "Saat tumbuh dewasa, apa pun yang aku lakukan, kakakku akan mendukungku. Dia adalah kakak perempuan terbaik di dunia."
Linda tidak berbicara untuk waktu yang lama. Meski dia telah mencoba yang terbaik untuk menahan diri, Liana masih mendengar isak tangisnya.
"Kak, saat aku menghasilkan banyak uang nanti, aku akan membelikanmu rumah besar dan membukakan toko untukmu. Kamu dan kakak ipar nggak perlu bekerja terlalu keras lagi."
Barulah saat itu Linda tertawa dan berkata, "Kamu ini! Aku nggak mau rumah besar atau toko. Kakak iparmu dan aku cuma orang biasa dan kami nggak berharap untuk berumur panjang. Liana, kamu cuma perlu ingat ini, kakak nggak mau apa pun, kakak cuma mau kamu baik-baik saja. Selama kamu bahagia, aku lebih puas dari apa pun."
"Ya." Liana mengangguk dalam, "Kak, aku pasti bisa melakukannya!"
Setelah menutup telepon, Liana menangis untuk beberapa saat.
Tok, tok, tok ....
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Liana menyeka air matanya dan pergi untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, ternyata hari sudah berganti malam dan wajah tampan Yohan membesar di depannya ....
Bab 5
"Hah ...." Liana menjerit dan terbangun dari mimpinya. Saat membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Siang, malam dan Yohan tadi semuanya telah lenyap.
Wanita tua di ranjang rumah sakit sebelah yang baru datang bertanya sambil tersenyum, "Gadis kecil, apa kamu bermimpi buruk? Aku lihat saat kamu tertidur, kamu memegang erat sprei dengan kedua tanganmu. Kamu mimpi apa?"
Saat dia masih kecil, Liana mendengar kalau dia mengalami mimpi buruk dan menceritakannya, mimpi itu tidak akan terjadi. Saat wanita tua itu bertanya, dia langsung menjawab dengan lancar, "Bosku."
Wanita tua itu tertegun, menggelengkan kepalanya dan mendesah, "Bosmu pasti sangat menakutkan."
Segera setelah dia selesai berbicara, pintu bangsal dibuka dari luar dan sesosok tubuh kurus dan tinggi muncul.
Awalnya Liana mau bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dia masih memakai sandal di satu kaki dan hampir tergelincir dari ranjang rumah sakit saat melihat orang itu datang.
Yohan mengenakan kemeja putih dengan kerah agak terbuka dan celana panjang hitam yang membuat kakinya terlihat ramping. Dia membawa termos di satu tangan dan jas hitam di tangan lainnya. Ke mana pun dia pergi, sosoknya sangat luar biasa.
Mereka berdua saling bertatapan. Dia langsung mengencangkan jari-jarinya yang ada di samping tempat tidur.
Namun, Yohan berjalan melewatinya dan langsung berjalan ke tempat tidur wanita tua di sebelahnya, menundukkan kepalanya, lalu berkata, "Nenek."
Liana mendongak karena terkejut dan melihat wanita tua itu membelai kepala Yohan dengan penuh kasih sayang. Pak Yohan, yang biasanya begitu agung di perusahaan, bertingkah seperti cucu di depan wanita tua itu ... Hah ini gawat, dia cucu dari wanita tua itu.
Liana yang masih terkejut melihat Yohan membuka tutup termos, mengambil sup dan memberikannya kepada wanita tua itu. Tidak di sangka, CEO berwajah dingin itu juga memiliki sisi hangat dan Liana tidak bisa menahan diri untuk tidak terlihat tercengang.
Namun, wanita tua itu melambaikan tangannya berulang kali, "Aku baru saja makan apel, aku masih kenyang."
Wanita tua itu berbalik dan melihat Liana, lalu berkata, "Nak, kamu belum makan, 'kan? Kebetulan cucuku membuat sup iga. Apa kamu mau mencobanya?"
Yohan juga ikut menoleh. Liana yang sangat ketakutan melambaikan tangannya berulang kali, "Nggak, nggak, nggak perlu, saya nggak lapar ...."
Namun, wanita tua itu sangat ramah, "Aku belum memakannya sedikit pun. Apa kamu nggak suka berbagi makanan dengan orang tua?"
"Bukan begitu."
"Baguslah kalau begitu." Wajah wanita tua itu berubah dengan sangat cepat dan dia mengulurkan tangan untuk mendorong Yohan, "Cepat ke sana. Kasihan gadis kecil itu, dari tadi aku nggak melihat satu pun keluarganya datang. Omong-omong, dia baru saja mengalami mimpi buruk, dia bermimpi tentang bosnya. Gadis kecil itu sangat ketakutan, kurasa bosnya bukan orang baik ...."
Liana mencoba menghentikannya beberapa kali tetapi tidak bisa menyelanya. Orang tua itu terus membicarakan segalanya!
Yohan mengangkat alisnya dan menatap Liana, "Benarkah? Hal buruk apa yang kamu lakukan sampai membuatmu takut pada bosmu?"
Liana terdiam.
Dia merasa meski punya sepuluh ribu mulut, dia tidak akan bisa menjelaskannya.
Yohan terus menatapnya, seolah ingin melihat pori-pori di wajahnya.
"Saya ... saya mau ke kamar mandi dulu, kalian ngobrol saja." Liana melarikan diri dan bersembunyi di kamar mandi.
Plak!
Yohan menerima pukulan keras di punggung tangannya dan wanita tua itu memarahinya, "Lihat, kamu membuat gadis itu ketakutan."
Yohan tersenyum tak berdaya, "Nenek, apa aku begitu menakutkan?"
Dia biasanya agak ketat dalam bekerja, tetapi Liana tidak akan ketakutan sampai segitunya, bukan?
"Ya!" Wanita tua itu memandangnya dengan hati-hati, "Nggak terlihat menakutkan, tapi kamu selalu memasang wajah dingin yang membuat orang takut. Gadis kecil itu pemalu, tapi menurutku dia cukup baik dan nggak sombong atau sok. Dia sangat sopan. Aku sangat menyukainya ...."
"Hentikan!" Yohan menyela perkataan wanita tua itu dengan sakit kepala, "Dia sudah punya pacar. Nenek, tolong jangan membuat keputusan sembarangan."
Wanita tua itu tidak memercayainya, "Dia punya pacar? Bagaimana kamu tahu?"
"Karena dia adalah karyawanku."
"Hah?"
....
Saat Liana keluar dari kamar mandi, di ruangan itu cuma ada Yohan.
Begitu dia keluar, pandangan Yohan langsung tertuju padanya.
Liana melangkahkan kaki dan bergerak kembali ke samping tempat tidur dengan gugup. Masih ada jarum yang tertancap di punggung tangannya dan dia memegang botol infus itu tinggi-tinggi dengan tangannya yang lain, dia berjinjit ingin menggantung botol infus, tetapi karena tinggi badannya dan pergerakan yang terbatas, dia tetap gagal meski beberapa kali mencobanya.
"Berikan padaku." Suara laki-laki yang dalam terdengar di telinganya. Liana berbalik dengan gugup dan aroma dingin yang menyegarkan mengalir ke hidungnya. Pada saat yang sama, botol infus itu jatuh ke jari Yohan dan dia menggantungnya dengan mudah.
"Terima kasih, Pak Yohan." Liana menundukkan kepalanya dan tidak berani melakukan kontak mata dengannya.
Setelah dia duduk di ranjang rumah sakit, Yohan membawa termos dan meletakkannya di meja samping tempat tidurnya, "Ini untukmu."
Liana sangat terkejut. Dia mengangkat kepalanya dan meliriknya. Saat mereka saling bertatapan, dia dengan cepat menurunkan pandangannya dan pipinya memerah.
Yohan menganggap itu lucu. Dia telah melihat banyak gadis, tetapi Liana adalah gadis pemalu pertama yang dia temui. Dia seperti putri malu, wajahnya akan memerah setiap kali dia menyentuhnya dan itu cukup menarik.
Takut dia akan terlalu memikirkannya, Yohan menambahkan, "Nenek yang memberikannya untukmu."
"Ya. Saya akan berterima kasih pada nenek secara langsung nanti," kata Liana.
Yohan berdiri di samping tempat tidur sebentar, "Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu."
"Silakan tanyakan saja."
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkan padanya, "Apa kamu pernah melihat ini?"
Liana sangat terkejut, itu adalah gelang manik-manik miliknya!
Kenapa bisa ada di tangan Yohan?
Yohan mengamati ekspresinya, "Apa kamu pernah melihatnya sebelumnya?"
Liana tersadar dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... saya tidak pernah melihat itu sebelumnya."
Mata Yohan berkilat kecewa, "Apa kamu yakin tidak pernah melihat ini sebelumnya?"
"Ya." Liana sangat gugup hingga jari-jarinya serasa hampir mau patah, "Saya tidak pernah melihatnya sebelumnya."
"Oke." Yohan mengambil kembali untaian manik-manik itu.
Perasaan Liana sangat kacau, dia tidak menyangka dia telah meninggalkan sesuatu di tempat Yohan.
Liana selalu sakit saat dia masih kecil. Kakaknya mendaki sampai ke puncak gunung selangkah demi selangkah, menaiki 999 anak tangga dan pergi ke kuil untuk meminta gelang manik-manik itu.
Dia telah memakainya selama bertahun-tahun, tapi selalu menyembunyikannya di balik lengan bajunya. Oleh karena itu, cuma beberapa orang terdekat di sekitarnya yang tahu, tidak ada orang lain yang tahu kalau dia memiliki gelang manik-manik itu.
Dia tidak punya teman di perusahaan, dia penyendiri dan tidak ada yang tahu tentangnya. Jadi, dia tidak perlu khawatir kalau Yohan akan mengetahuinya. Tetapi, yang dia khawatirkan adalah bagaimana cara mendapatkan gelang itu kembali?
Sore harinya, Helena mengiriminya beberapa pesan dan menanyakan kabarnya.
Karena dasar sopan santun, dia membalasnya.
Dia dan Helena benar-benar tidak akrab satu sama lain, jadi setelah mengobrol dua atau tiga kata, sudah tidak ada topik yang dibahas lagi. Tetapi, Helena mengirim pesan lain saat ini. "Liana, apa bos ke rumah sakit?"
Dia juga anggota tim asisten Yohan. Liana juga tidak yakin kenapa dia mencari Yohan, jadi dia dengan jujur menjawab, "Dia datang tadi siang."
Detik berikutnya, Helena langsung meneleponnya.
Bab 6
"Halo, Liana, apa kamu sudah baikan?" Begitu panggilan tersambung, Helena bertanya dengan penuh perhatian.
Liana mengangguk, "Ya, sudah baikan."
"Apa sekarang kamu masih demam? Kamu sudah makan siang? Kamu lapar nggak? Mau aku pesankan makanan? Atau aku bisa membawakanmu apa pun yang mau kamu makan."
Menghadapi kekhawatiran dari Helena, Liana merasa agak bingung dan tidak mengerti. Mereka tidak akrab satu sama lain, tetapi kenapa Helena tiba-tiba sangat mengkhawatirkannya?
Namun, dia baik, Liana tidak mungkin mengabaikannya, jadi dia menjawab pertanyaannya satu per satu, "Aku sudah nggak demam. Aku sudah makan siang dan aku nggak lapar. Kalau aku lapar, aku bisa memesan makanan sendiri. Helena, terima kasih sudah perhatian padaku."
"Oh ...." Helena merenung sejenak, "Kalau begitu ... apa bos masih ada di sana?"
"Dia sudah pergi."
"Oh ... apa bos secara khusus menjengukmu?"
"Nggak." Liana tidak bicara tentang fakta kalau nenek Yohan juga dirawat di rumah sakit ini. Bagaimanapun, Yohan adalah bosnya. Kalau dia terlalu banyak membicarakannya dan mengatakan hal yang salah, itu akan berdampak langsung pada pekerjaannya.
Helena bingung, "Kalau begitu, kenapa bos pergi ke rumah sakit?"
"Sepertinya ... dia menjenguk temannya." Liana berkata dengan samar.
"Ada teman bos yang dirawat di rumah sakit?" Pertanyaan Helena terus berdatangan.
Liana mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Aku nggak tahu detailnya."
"Oh." Nada bicara Helena tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, kemudian dia berkata, "Malam ini aku ada waktu luang, kamu mau makan apa? Nanti aku bawakan untukmu."
"Nggak perlu. Aku nggak tinggal di rumah sakit malam ini." Liana tidak bisa menahan keramahannya, jadi dia menolak.
"Oh , oke. Beristirahatlah, jangan khawatirkan pekerjaanmu, aku akan membantumu mengurusnya."
"Ya, terima kasih Helena."
"Sama-sama, kita kan rekan kerja. Kalau begitu istirahatlah, aku nggak akan mengganggumu lagi."
"Ya."
Setelah menutup telepon, Helena bersandar di kursinya, mengerutkan kening sambil berpikir.
Widia menggeser kursinya dan berkata, "Sejak kapan kamu jadi akrab dengan pegawai magang itu? Bahkan mau mengantarkan makanan untuknya?"
Helena melambaikan tangannya, "Itu karena aku merasa kasihan padanya."
"Kasihan apanya?" Widia tidak setuju, "Aku sudah sering melihat banyak pemula seperti dia di tempat kerja. Dia menggunakan usia mudanya sebagai tameng dan berpura-pura menjadi lemah serta menyedihkan di perusahaan hanya untuk memenangkan simpati semua orang. Sehingga dia bisa memberinya bantuan di tempat kerja. Dengan kata lain, kamu bukan siapa-siapa di mataku."
Helena hanya tersenyum, tetapi dia memikirkan apa dia harus pergi ke rumah sakit malam ini.
....
Sudah lewat jam lima sore saat Liana selesai menggantungkan infus.
Pada awalnya dia akan kembali ke asrama sekolah, tetapi melihat nenek Yohan yang kesepian, dia ingin tinggal bersamanya lebih lama dan menunggu Yohan datang sebelum pergi.
Setelah beberapa saat, pintu bangsal terbuka dan Linda masuk membawa kotak makanan.
"Kakak? Kenapa kakak datang ke sini?" Liana berdiri untuk menyambutnya.
Linda meletakkan payung di tangannya di sudut dan berkata sambil tersenyum, "Aku membawakanmu makan malam. Kamu pasti lapar, 'kan?"
Kotak makanan dibuka dan kotak itu berisi makanan favorit Liana.
"Kak, aku bisa mengatasinya sendiri."
Jalan dari rumah ke rumah sakit agak jauh. Liana tidak tega melihat kakaknya berlarian kesana kemari. Dia juga lebih khawatir kalau kakaknya akan bertengkar lagi dengan kakak iparnya.
Linda mengerti apa yang dia pikirkan, jadi dia menepuk punggung tangannya dengan nyaman dan berkata, "Kakak iparmu ada acara malam ini. Hari ini hujan, jadi aku juga nggak bisa buka toko. Aku bingung di rumah sendirian. Lebih baik aku datang ke rumah sakit untuk menemanimu."
Liana mengangguk patuh. "Ya."
Dia mengambil dua tisu dan menyeka tetesan air hujan di bahu Linda.
"Bagus sekali." Mata Nenek Nia basah dan dia mengangkat tangannya untuk menyeka air matanya. "Aku juga punya kakak, tapi dia kurang beruntung dan meninggal lebih dulu. Melihat kalian berdua seperti melihat kami di masa lalu. Kalau kakakku masih hidup, dia pasti akan datang menjengukku ...."
Kata-kata ini membuat kedua kakak beradik itu merasa tidak enak.
Linda berkata, "Nenek, orang yang sudah tiada akan mengawasi kita di langit. Jangan terlalu sedih. Kalau kakak Anda tahu kalau Anda sedih karenanya, dia juga akan sedih."
"Ya." Nenek Nia tersenyum canggung dan berkata, "Perkataanku nenek tua sepertiku pasti membuat kalian merasa nggak nyaman.
"Tidak apa-apa." Linda berkata, "Tidak peduli berapa usia kita, kita semua punya orang yang paling kita sayangi. Selain merindukan orang yang telah meninggal, yang lebih penting bagi kita adalah menghargai masa kini."
Nenek Nia mengangguk berulang kali, "Kamu benar."
Linda mengeluarkan sedikit nasi dan berkata, "Nenek, Anda pasti belum makan, 'kan? Apa Anda ingin mencoba masakanku?"
Mata Nenek Nia berbinar, "Oke. Kebetulan aku juga lapar."
Mereka bertiga duduk mengelilingi tempat tidur untuk makan bersama.
....
Gedung Perusahaan Lewis.
Helena selesai mengetik kata terakhir dan menyimpan formulirnya. Saat dia melihat ke atas, dia melihat Yohan berjalan keluar dari kantor.
Helena segera mematikan komputer dan mengejarnya.
Di luar sedang hujan deras. Saat Helena keluar, dia melihat Yohan berdiri di depan pintu menunggu mobil.
Dia berjalan mendekat dan berkata, "Pak Yohan, apa Anda juga baru pulang kerja?"
Yohan menoleh dan menatapnya dengan ekspresi tenang, "Ya."
Helena menatap pemandangan hujan dengan ekspresi cemas di wajahnya, "Bagaimana ini, aku harus lembur dan aku lupa mengantarkan makanan untuk Liana."
Mendengar itu, Yohan menoleh ke arahnya lagi, "Apa katamu?"
"Aku berjanji menjenguk Liana malam ini dan membawakannya makan malam, tetapi aku sangat sibuk sampai-sampai aku lupa." Helena memegang ponselnya, "Hujan sangat deras, pasti susah cari taksi."
Yohan bertanya, "Apa kamu mau pergi ke rumah sakit?"
"Ya."
Saat ini, sopir sudah melaju dan berhenti di depan mereka berdua.
Yohan berkata, "Masuklah, kebetulan aku juga akan pergi ke sana."
Tanpa ragu Helena langsung masuk ke dalam mobil.
....
Dia mendorong pintu bangsal hingga terbuka, tetapi suasana di dalam sangat sunyi.
Di bawah cahaya redup, Nenek Nia bersandar di tempat tidur dan Liana berbaring di ranjang sampingnya, keduanya tertidur pulas.
Suara TV yang pelan dan suara rintik hujan di luar jendela seperti musik pengantar tidur yang menenangkan.
"Liana ...." Begitu Helena berbicara, Yohan mengangkat tangannya. Dia tidak masuk, tetapi keluar dari bangsal dan menutup pintu dengan lembut.
Helena berdiri di belakangnya dan memandangnya dengan bingung, "Pak Yohan?"
"Sudah lama tidak tidur senyenyak itu. Jangan membangunkannya." Meski sudah keluar dari bangsal, suara Yohan masih sangat lembut dan pelan, seolah-olah dia takut kalau menaikkan volume suaranya dia akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak di kamar.
Helena terkejut. Hanya dalam satu hari, Pak Yohan begitu peduli pada Liana? Apa mungkin dia mengetahui rahasianya?
Setelah memikirkannya lagi, dia merasa ada yang tidak beres.
Kalau Pak Yohan sudah tahu kebenarannya, dia juga akan tahu kebohongannya. Pak Yohan paling benci dibohongi, jadi bagaimana dia bisa acuh dan membawanya ke rumah sakit bersamanya?
Helena tidak bisa memahaminya.
Yohan mengambil kotak makanan dari tangannya dan berkata, "Pulanglah dulu, aku yang akan memberikan ini pada Liana"
Helena tidak punya pilihan selain mengangguk, "Kalau begitu ... maaf karena merepotkan Anda."