Bab 1
"Em ...."
Ciuman pria itu bertubi tubi menghujani tubuh Liana, dia seperti perahu yang terombang ambing di lautan, mengambang dan akhirnya tenggelam mengikuti irama ombak.
Entah sudah berapa lama, angin dan hujan akhirnya telah berhenti. Liana meringkuk dalam pelukan hangat pria itu dan tertidur lelap ....
Keesokan paginya, saat Liana membalikkan badan, jari-jarinya merasakan sentuhan asing, tangannya menyentuh sesuatu yang hangat dan sentuhan asing itu mengejutkannya. Dia perlahan membuka matanya dan wajah tampan terpantul di pupil matanya.
"Hah? Bos?" Liana tertegun sejenak, kemudian teringat rentetan kilas balik kejadian gila tadi malam. Matanya langsung membelalak dan dia langsung terduduk tegak. Tetapi, karena gerakannya yang terlalu keras, suatu bagian ditubuhnya terasa sangat sakit dan rasa sakit itu langsung membuatnya berkeringat dingin.
Dia seperti boneka bongkar pasang, yang di bongkar dan dipasang kembali. Setiap dia bergerak, sekujur tubuhnya terasa sakit.
Namun, pada saat ini, pemandangan di dalam tenda yang luas, selimut yang berantakan dan Yohan yang telanjang dengan selimut tipis yang menutupi pinggangnya membuatnya terkejut melebihi keterkejutannya akan rasa sakit di tubuhnya. Sepasang kaki panjang saling tumpang tindih dan goresan halus terlihat samar-samar di sisi punggungnya.
"Hah!" Liana yang duduk di sana seolah disambar petir. Saat itu, dia merasa dunia telah runtuh.
Jadi, kemarin malam itu bukan mimpi?
Dia, seorang pegawai magang yang baru bergabung dengan perusahaan setengah bulan ... tidur dengan bosnya!
Saat Liana dalam keadaan bingung, Yohan menggerakkan tangannya seperti akan bangun.
Liana yang terkejut, ketakutan setengah mati, dia buru-buru mengenakan pakaiannya dan langsung kabur dari sana. Dia bahkan tidak memperhatikan untaian gelang manik-manik miliknya yang tertinggal di samping bantal ....
Di luar masih gelap, api unggun sisa tadi malam juga sudah padam dan hanya menyisakan asap abu-abu yang menguap ke langit. Puluhan tenda berdiri dengan tenang di sekelilingnya. Liana berjalan melewati rerumputan dengan bertelanjang kaki dan dengan cepat masuk ke dalam tenda berwarna merah muda.
Helena yang terbangun, berbalik dan menatap Liana yang baru saja berbaring di dalam tenda.
Liana terkejut sampai berhenti bernapas.
Namun, Helena hanya menatapnya dan memejamkan mata kembali sambil bertanya dengan santai, "Dari mana kamu pagi-pagi buta begini?"
"Aku ...." Jantung Liana serasa mau copot dan dia segera berpikir cepat, "Aku baru kembali dari toilet."
Helena tidak bertanya lagi dan tak lama kemudian terdengar suara napas berat.
Liana diam-diam menghela napas lega, tetapi jantungnya masih berdebar kencang. Dia menatap atap tenda, matanya sakit dan bengkak, dia tidak menutup matanya sampai suasana di luar menjadi terang. Hampir semua orang terbangun, tetapi Liana masih tetap berada di dalam tenda.
Tawa rekan-rekannya terdengar dari luar. Tetapi, Liana malah menggulung dirinya di dalam selimut dan hanya kepalanya yang terlihat, tatapannya juga tampak linglung.
Helena membuka retsleting tenda dan menunduk di depan pintu tenda. Dia bertanya pada Liana, "Liana, ayo bangun! Ayo sarapan, setelah itu kita akan pergi mendaki."
Ini adalah perkemahan tim yang diselenggarakan oleh perusahaan. Ada puluhan orang dalam satu tim dan mereka akan tinggal di pegunungan yang indah selama tiga sampai lima hari. Kemarin adalah hari pertama mereka, semua orang kelelahan setelah perjalanan jauh dan mendirikan tenda. Setelah itu, mereka minum-minum di malam harinya. Pada awalnya, Liana menolak untuk minum, tetapi dia anak baru di perusahaan, jadi dia harus minum beberapa gelas agar bisa berbaur dengan rekan-rekannya.
Tidak disangka, beberapa gelas minuman ini telah menyebabkan suatu masalah. Dia juga tidak tahu bagaimana itu terjadi. Dia mabuk dan masuk ke dalam tenda yang salah dan secara tidak sengaja tidur dengan Yohan.
Memikirkan hal ini, kepala Liana mulai sakit lagi.
"Liana? Liana?" Helena berteriak beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia melepas sepatunya dan berjalan masuk, "Liana, kamu kenapa?"
Liana mendengus, dia ingin menangis dan suaranya teredam, "Aku nggak apa-apa."
Helena mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya, "Astaga, kamu demam?"
"Aku nggak apa-apa." Liana menggigit bibirnya, menahan untuk tidak meneteskan air mata dan berkata dengan suara pelan, "Aku akan istirahat sebentar. Kalian pergilah mendaki dan nggak perlu mengkhawatirkanku."
Helena merasa khawatir, jadi dia mengambil dua obat demam dan membantu Liana meminum obat itu sebelum pergi mendaki bersama semua orang.
Saat mendengar keadaan di luar sudah sepi, Liana baru mulai menangis karena sudah tidak bisa menahannya.
Tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Jejak kenikmatan tadi malam masih tersisa. Entah itu karena napasnya yang terlalu cepat, tetapi setiap kali dia menarik atau membuang napas, dia mencium bau Yohan. Ditambah lagi dengan keadaannya yang sedang demam, Liana merasa seperti bebek panggang. Dia merasa sangat tidak nyaman hingga dia ingin mati.
....
Di saat yang sama, tim pendakian sudah berkumpul di kaki gunung.
Saat Yohan keluar dari mobil, mata gadis-gadis langsung tertuju padanya.
"Wow, Pak Yohan ganteng banget!"
"Biasanya cuma bisa lihat Pak Yohan pakai setelan jas, nggak disangka dia ganteng banget kalau pakai pakaian kasual!"
"Kakak-kakak, air liur kalian sudah hampir menetes."
"Hahaha, hari ini aku beruntung karena bisa melihat hal indah yang mungkin mustahil untuk dilihat."
Yohan berdiri di sana, auranya terpancar. Mata gelap di bawah kacamata hitam melihat ke arah kerumunan dan bertanya dengan suara dingin, "Apa kalian semua tidur nyenyak tadi malam?"
Semua orang serempak menjawab, "Ya."
Yohan mengerutkan kening, sedikit memiringkan kepalanya dan memberi isyarat kepada asistennya Hasan Hakaman.
Hasan mengerti isyarat tersebut dan berkata dengan serius, "Apa ada yang memasuki tenda Pak Yohan tadi malam?"
Semua orang saling memandang dan menggelengkan kepala.
Mereka semua itu adalah karyawannya, meski ada beberapa tim asisten yang menginginkan bos, tetapi mereka tidak berani bercanda tentang karier mereka. Memasuki tenda bos? Siapa yang berani melakukannya?
Melihat tidak ada yang mengakuinya, alis Yohan semakin menegang. Dia mengangkat satu tangan dengan gelang yang dirangkai dengan manik-manik giok putih tergantung di jarinya, "Punya siapa ini?"
Semua orang masih menggelengkan kepala, berkata kalau mereka belum pernah melihat gelang itu sebelumnya.
"Kalau ada yang tahu punya siapa gelang ini, tolong beri tahu aku." Yohan berkata dengan sungguh-sungguh, kemudian menambahkan di akhir, "Akan aku beri hadiah."
"Selain itu ...." Setelah jeda, dia menambahkan, "Bonus akhir tahun akan berlipat ganda."
Begitu dia selesai bicara, semua orang langsung jadi heboh.
"Dobel?"
"Tahun lalu, aku dapat bonus akhir tahun 200 juta. Kalau dobel? Itu berarti 400 juta? Wow, keren banget!"
"Punya siapa gelang itu?"
"Kelihatannya seperti barang biasa, tapi apa itu sangat berharga?"
"Helena, apa kamu tahu?"
"Ha?" Helena tiba-tiba tersadar, ekspresinya sedikit misterius, "Aku nggak tahu ...."
"Oke, sekarang kita mulai absen dulu." Hasan mulai menyebutkan nama mereka.
Saat sampai pada nama 'Liana', tidak ada jawaban sama sekali.
"Dimana Liana?" tanya Hasan.
Helena berdiri dan berkata, "Liana sakit, dia ada di dalam tenda."
"Sakit?" Hasan agak bimbang dan menatap Yohan.
Yohan sedang duduk di dalam mobil hitam, memainkan untaian manik-manik di tangannya, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Hasan tidak berani mengganggunya, setelah selesai mengabsen dia berkata, "Kalau begitu ayo berangkat."
Hasan menutup buku catatannya, berjalan ke arah mobil dan berkata, "Pak Yohan, apa Anda mau pergi bersama dengan mereka?"
Yohan tampak murung dan sepertinya tidak terlalu tertarik. Dia terus menatap untaian manik-manik di tangannya. Setelah diam beberapa saat, dia berkata, "Aku nggak ikut. Kamu bisa memimpin tim."
"Baik, Pak Yohan."
"Helena, kamu lihat apa?" Widia menarik Helena, "Ayo cepat naik. Ada bonus untuk sepuluh pendaki pertama."
"Ya." Helena mengangguk, tetapi dia masih menoleh melihat ke belakang.
Dia melihat sebuah mobil hitam melaju di jalan pegunungan yang hijau dan berkelok-kelok menuju ke lokasi perkemahan.
Helena tiba-tiba berbalik dan berkata kepada Hasan, "Asisten Hasan, aku khawatir pada Liana, aku nggak akan ikut naik. Aku akan kembali dan menjaga Liana."
"Oke."
Bab 2
Setelah tidur beberapa saat, Liana merasa tenggorokannya sangat kering. Dia merangkak keluar tenda dengan grogi dan tiba-tiba sepasang sepatu kets pria muncul di depannya. Dia mendongak ke atas dan dia bisa melihat sepasang kaki yang ramping dan lurus.
Matahari menembus awan dan bersinar terang. Liana melihat wajah Yohan dengan jelas dan dia sangat terkejut.
"Pak ... Pak Yohan?"
Bukannya dia pergi naik gunung?
Yohan berjongkok di depannya, memandangi pipinya yang memerah karena demam dan berkata dengan sangat serius, "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Jantung Liana berdetak kencang dan dia menjilat bibirnya yang kering. Jantungnya berdebar seperti drum. "Ka ... katakan saja Pak."
"Apa kamu melihat seseorang memasuki tendaku tadi malam?" Saat Yohan menanyakan itu, dia menatap langsung ke arah mata Liana. Tekanan Yohan begitu kuat hingga tidak bisa dihindari, seperti ada tangan tak kasat mata yang menggapai jantung dan menghancurkannya.
Mata Liana mengelak dan bulu matanya bergetar. "Tidak ... saya tidak melihatnya."
"Kenapa kamu gemetar?" Yohan menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya.
Tidak hanya suaranya yang bergetar, tetapi tubuhnya juga gemetar hebat.
Dia sangat kurus, ditambah Yohan memandangnya, aku rasa dia akan gemetar sampai mati.
Ada lusinan asisten di kantornya yang bertanggung jawab di berbagai bidang. Liana adalah pegawai magang baru. Yohan agak terkesan dengannya karena dia sangat pemalu. Yohan ingat saat wawancara pertama, ketika dia mengajukan pertanyaan, Liana sangat gugup sampai-sampai dia tidak berani menatapnya dan Liana hanya menundukkan kepalanya sepanjang waktu.
"Aku ... aku kedinginan." Liana makin gemetar.
"Dingin?" Yohan mengerutkan kening, "Apa kamu demam? Kenapa bisa kedinginan?"
Saat dia berbicara, dia mengulurkan tangan dan meletakkan jari dinginnya di dahi Liana. Sesaat kemudian, dia mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi? Panas sekali!"
"Pak Yohan, saya baik-baik saja ...." Liana menggigil hebat dan merasa sangat tidak nyaman. Dia ingin berdiri, tetapi sekarang dia tidak bisa mengumpulkan tenaga sama sekali. Dia hanya bisa meringkuk dengan lemah di atas rumput, dia merasa kesadarannya semakin kabur....
"Liana?" Yohan merasakan ada yang tidak beres dan mencoba membangunkannya.
Pada awalnya, Liana masih bisa merespons secara samar dua kali, tetapi kemudian dia jatuh pingsan.
Tanpa ragu Yohan membungkuk dan mengangkat Liana dari tanah, Dia terlihat sangat kurus dan dia tampak tidak berbobot dalam pelukannya. Yohan menunduk untuk melihatnya, tetapi tidak sengaja dia melihat sekilas tanda merah di lehernya dan matanya tiba-tiba menyipit.
"Pak Yohan!" Sebuah suara terdengar memecah kesunyian.
Helena kembali ke sana sambil berlari, rambutnya acak-acakan dan dia terengah-engah.
Yohan berkata, "Kenapa kamu kembali?"
Helena melirik Liana yang ada dipelukannya, menarik napas dan berkata, "Aku ... aku mengkhawatirkan Liana dan kembali untuk menjaganya. Dia kenapa?"
"Dia demam tinggi hingga pingsan." Yohan berkata sambil meletakkan Liana di kursi belakang mobil.
Dia mengatakannya sambil masuk ke dalam mobil.
"Pak Yohan ...." Helena meraih pintu mobil dengan cemas dan memohon, "Apa saya boleh ikut?"
Yohan menatapnya dengan sedikit tatapan tajam di matanya.
Helena menjelaskan, "Aku adalah rekan kerja Liana dan kami sama-sama perempuan. Tolong biarkan saya ikut, mungkin nanti saya bisa membantu."
Yohan berpikir itu ada benarnya juga, jadi dia mengiakan.
....
Saat mereka tiba di rumah sakit, mereka menjalankan prosedur rawat inap untuk Liana dan memberinya infus.
Saat Helena pergi merebus air, dia kembali dan melihat Yohan berdiri di ujung tempat tidur. Tatapan Yohan tertuju pada Liana yang sedang tidur, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Pak Yohan." Helena menuangkan segelas air untuknya, "Silakan minum airnya."
"Terima kasih." Yohan mengambil gelas air dan menaruh gelas itu di sampingnya, "Siapa namamu?"
Helena tertegun sejenak, tapi kemudian dia berpikir bahwa di antara puluhan asistennya, satu-satunya yang bisa mengikutinya kemana-mana seperti bayangan adalah Hasan. Kemampuan kerja Helena biasa saja dan dia juga jarang menonjol. Wajar kalau dia tidak bisa dipanggil dengan namanya.
"Helena Darwojo. Helena dari kata Helen yang berarti cahaya atau cerah ...."
"Asisten Helena, aku butuh bantuanmu untuk memastikan sesuatu."
"...." Kilatan kekecewaan melintas di mata Helena, tetapi dia masih mempertahankan senyumnya dan berkata, "Apa itu Pak?"
Yohan menjelaskan beberapa patah kata dan berjalan keluar dari bangsal.
Helena menggigit bibirnya dan berjalan selangkah demi selangkah ke samping tempat tidur Liana. Melihat Liana yang masih pingsan, emosi di matanya sangat rumit. Memikirkan penjelasan Yohan, dia mengerucutkan bibirnya dan mengulurkan tangan untuk membuka kancing kemeja Liana.
Satu kancing, dua kancing ....
Saat semua kancingnya terbuka, Helena melihat tanda di tubuh Liana dan segera menutup mulutnya karena terkejut.
....
"Pak Yohan, Anda dimana?" Setelah Hasan membawa rekan-rekannya kembali ke lokasi perkemahan, dia tidak menemukan Yohan dan segera menelepon untuk memastikannya.
Yohan berkata, "Liana pingsan, aku mengantarnya ke rumah sakit."
"Pegawai magang Liana?" Hasan agak terkejut, dia terkejut bukan karena Pak Yohan secara pribadi mengantar Liana ke rumah sakit, tetapi karena dia mengingat nama pegawai magangnya.
Perlu diketahui kalau ada puluhan orang di tim asisten Pak Yohan. Dia tidak ingat siapa mereka semua kecuali Hasan.
Namun, dia ingat nama Liana dan itu sangat menakjubkan.
"Ya." Yohan mengangkat pergelangan tangannya, melihat jamnya, lalu berkata, "Kalian bersenang-senanglah di sana dan semua bonus akan dibagikan setelah perkemahan selesai."
Dia menutup telepon setelah memberi penjelasan singkat itu.
Saat itu, pintu bangsal terbuka dan Helena keluar.
Yohan menatapnya, "Bagaimana?"
Helena membalas tatapannya dengan tenang, "Saya sudah melihatnya, tubuh Liana sangat bersih, tidak ada apa-apa di tubuhnya. Tanda di lehernya yang Anda lihat pasti ... itu ulah pacarnya."
"Pacar?" Yohan agak mengernyit, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.
Helena berkata, "Apa Anda mau masuk dan menemuinya? Dia mungkin akan segera bangun."
"Enggak perlu." Ekspresi Yohan kembali seperti biasanya. "Masih ada yang harus aku urus, aku pergi dulu. Jangan lupa hubungi keluarganya saat dia bangun nanti."
"Baik, Pak Yohan. Jangan khawatir tentang itu."
Setelah melihat Yohan pergi, Helena segera berbalik dan memasuki bangsal.
Liana sudah bangun, matanya terbuka, tetapi dia sangat lemah.
Helena berjalan mendekat dan duduk di samping ranjang rumah sakit, "Liana, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa baikan?"
Liana mengangguk. "Apa aku ada di rumah sakit?"
"Ya." Helena memberikannya segelas air dan berkata sambil tersenyum, "Pak Yohan yang mengantarmu, dia bahkan memelukmu."
"Uhuk ...." Liana tersedak sebelum bisa menelan seteguk air pun. "Pak Yohan?"
"Ya." Helena bertanya dengan penasaran, "Liana, apa Pak Yohan menyukaimu? Sudah satu tahun aku bekerja di perusahaan, hanya satu kali aku melihatnya memeluk perempuan."
Wajah Liana terasa panas. "Nggak mungkin."
"Kenapa? Kamu cantik, muda dan punya penampilan yang bagus. Banyak bos menyukai gadis muda yang polos. Liana, kalau kamu nggak punya pacar, mungkin kamu bisa serius mempertimbangkan Pak Yohan. Pak Yohan nggak terlalu buruk ...."
"Aku punya pacar." Liana menyela perkataan Helena.
Kemudian, Helena berhenti bicara, "Benarkah?"
Liana menggigit bibirnya. "Ya."
Bab 3
Demam Liana berkurang setelah menghabiskan empat botol infus. Tetapi, dokter mengatakan kalau dia mengalami infeksi bakteri dan masih terdapat peradangan di sekujur tubuhnya. Meski demamnya sudah sembuh, untuk sementara dia tetap perlu dirawat di rumah sakit selama dua hari lagi dan minum obat anti inflamasi selama dua hari.
Sore harinya, Linda buru-buru membuka pintu dan masuk, "Liana, kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Melihat kakaknya yang datang, matanya terasa perih, "Aku nggak apa-apa kok kak."
"Syukurlah. Kenapa bisa separah ini?" Linda sangat sedih melihat adiknya yang sakit.
Keduanya kehilangan orang tua mereka saat mereka masih kecil. Linda berusia tujuh tahun lebih tua dari Liana. Dia telah merawat adiknya selama bertahun-tahun baik sebagai saudara maupun ibu.
Liana tidak mau kakaknya khawatir, jadi dia menahan air matanya dan berkata, "Mungkin karena terkena angin malam jadi aku demam. Nggak apa-apa, sekarang aku sudah membaik."
Linda merasa agak lega setelah melihat Liana kembali bersemangat. Helena menoleh ke samping dan berkata, "Siapa kamu?"
"Halo, aku Helena rekan kerja Liana." Linda langsung dengan sopan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Helena.
"Oh, apa kamu yang mengantar adikku ke rumah sakit?"
"Bukan." Helena menggelengkan kepalanya, "Bos kami yang mengantar Liana ke rumah sakit. Aku cuma menemaninya selama satu hari."
"Terima kasih banyak. Liana sangat tertutup. Dia beruntung memiliki rekan kerja yang baik sepertimu."
"Sama-sama." Helena sekilas melihat jam dan berpikir kalau Yohan tidak akan datang, jadi dia mengambil tas di sofa dan berkata, "Karena kakak sudah ada di sini, aku serahkan Liana pada kakak. Aku pulang dulu."
Linda mengantar Helena keluar. Saat Linda kembali ke kamar, dia berkata pada Liana, "Rekan kerjamu sangat baik. Apa dia teman barumu?"
Liana menggelengkan kepalanya, "Kami biasanya nggak saling bicara saat di perusahaan."
Helena memang biasanya sangat ramah, tetapi dia paling dekat dengan Widia saat di departemen. Liana adalah orang yang membosankan, dia hanya menundukkan kepala saat bekerja di perusahaan dan tidak pernah bersosialisasi. Sebenarnya ini agak aneh, kenapa hari ini Helena sangat ramah kepadaku?
"Kalau begitu, dia memang baik, mau menemanimu di sini sepanjang hari."
"Ya."
Liana berpikir, suatu saat nanti, dia pasti akan membalas budi pada Helena.
Linda berkata kalau rumah sakit terlalu berisik, lebih baik pulang dan istirahat di rumah. Liana tidak merasa kalau di rumah sakit berisik, tetapi tanpa kakaknya, dia merasa kurang nyaman, jadi dia setuju.
Saat mereka berdua keluar dari rumah sakit, angin sejuk bertiup dari luar pintu. Liana merasakan ada sesuatu yang ditaruh di bahunya, ternyata kakaknya mengenakan jaket di tubuhnya. Jelas kalau kakaknya mengenakan pakaian tipis, tapi kakaknya tetap melindunginya, Liana mengerucutkan bibirnya dan dengan cepat masuk ke dalam taksi.
Saat mereka berada di dalam mobil, Candra, suami kakaknya menelepon dan mengatakan kalau dia akan menghadiri pesta malam ini dan akan pulang larut malam, jadi mereka tidak perlu menunggunya makan. Linda memberikan beberapa instruksi, tetapi suaminya berkata dengan terburu-buru dan menutup telepon.
Liana memegang tangan Linda dan berkata, "Kakak, aku ingin makan mie masakanmu malam ini."
Linda tersenyum. "Oke, kakak akan masakkan untukmu."
"Ya."
Saat mereka sampai di rumah, Linda membantu Liana masuk ke kamar, meletakkan bantal di punggungnya, menuangkan secangkir air hangat dan menyentuh dahinya dengan gelisah. "Kamu tunggu di sini sebentar, Kakak akan masak mie untukmu. Kalau butuh sesuatu, panggil saja kakak."
Liana mengangguk setuju. "Ya."
Linda mengenakan celemek dan pergi ke dapur untuk memasak mie.
Mendengarkan keributan di dapur, Liana mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar kakaknya. Dia membuka laci samping tempat tidur kakaknya dan dengan mudah menemukan pil KB di dalamnya. Dengan cepat dia melihat petunjuk di kotak pil, mengambil dua pil dan menelannya.
Setelah makan malam, Liana pergi mandi. Saat dia melepas pakaiannya, dia berdiri di depan cermin dan melihat jejak di tubuhnya. Kegilaan kemarin malam muncul di benaknya dan dia masih merasa ketakutan.
Mungkin karena dia terlalu banyak tidur di siang hari, atau mungkin karena merasa tidak nyaman, Liana tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Saat dia sedang bimbang, dia mendengar suara pertengkaran di luar. Dia mengusap pelipisnya dan berdiri, kemudian membuka pintu sedikit.
Lampu di ruang tamu menyala dan ada dasi, sepatu dan kaus kaki pria berserakan di lantai. Candra sedang berbaring di sofa dan berbau alkohol.
Linda sedang membereskannya dan berkata, "Aku sudah bilang jangan minum terlalu banyak. Lihat dirimu, kamu minum seperti ini, kamu akan sakit kepala lagi besok ...."
"Bla, bla, bla, kamu cuma tahu bla, bla, bla. Apa menurutmu aku juga mau minum seperti ini? Ini semua juga aku lakukan untukmu, untuk keluarga ini dan untuk adik perempuanmu itu. Kalau nggak, kenapa aku harus selelah ini?"
Linda sangat kesal. "Jangan salahkan Liana, salahkan saja aku."
"Kenapa?" Suara Candra agak meninggi, "Dia makan, minum dan tinggal ditempatku, kenapa aku nggak boleh berkata apa-apa? Mereka yang tahu bilang kalau dia adalah adikmu, tapi mereka yang nggak tahu berpikir kalau dia adalah majikan kita!"
"Liana sudah dapat kerja dan dia telah membayar biaya hidupnya sejak tahun pertamanya, kenapa dia harus makan dan minum punyamu?" Linda membela adiknya.
Candra menunjuknya, "Oke! Kalau kamu bisa menyuruhnya pindah besok. Aku sangat muak melihatnya!"
"Liana itu adikku, dia satu-satunya saudaraku. Dia belum lulus kuliah dan baru saja mendapatkan pekerjaan. Apa maksudmu mau mengusirnya?"
Candra menjelaskan semuanya, seperti orang pelit, "Ini rumahku. Aku membeli rumah ini dengan uang dan akulah yang membayar cicilannya setiap bulan. Aku yang punya keputusan di sini, kalau aku suruh dia keluar, dia harus keluar!"
"Kamu ...." Linda sangat marah sampai menangis.
Kemudian, Candra tertidur dalam keadaan mabuk.
Setelah beberapa saat, Linda menyeka air matanya dan memanggil Candra lagi, "Oke! Cepat mandi dan tidurlah di kamar."
Liana diam-diam menutup pintu dan berbaring di tempat tidur lagi. Tetapi matanya terbuka lebar, dia melewatkan malam itu hanya dengan membolak balikkan badannya dan tidak bisa tidur.
Keesokan paginya, dia bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan, meninggalkan amplop dan catatan untuk kakaknya. Dia meninggalkan rumah kakaknya dengan membawa kopernya.
Liana ikut bertanggung jawab atas alasan kakaknya menikah dengan Candra. Kakaknya selalu mengatakan kalau mereka berdua adalah perempuan dan sangat menderita, dia ingin ada laki-laki di dalam keluarga mereka, agar tidak ada yang berani menindas mereka. Kakaknya tidak punya kualifikasi akademis dan tidak bisa menghasilkan banyak uang. Keinginan membeli rumah adalah mimpi yang mustahil.
Candra lulus dari universitas biasa dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Awalnya dia cukup baik, tetapi mungkin karena dia berada di bawah banyak tekanan, jadi dia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan bertengkar dengan kakaknya begitu sampai di rumah.
Karena ada Liana, Linda selalu mengalah dari suaminya dan harus bersabar serta menahannya sendiri.
Liana tahu kalau kakaknya mencintai kakak iparnya. Tidak ada cinta yang bisa mengalahkan kebutuhan sehari-hari dan dia tidak ingin menjadi beban bagi kakak dan iparnya. Dia mengambil inisiatif untuk pindah dan berharap keadaan mereka berdua akan lebih baik.
Lift berhenti sejenak di lantai 8. Saat pintu terbuka, Liana berhadapan dengan orang yang berdiri di luar dan tangannya yang memegang gagang koper langsung mengepal.