Bab 2
Setelah tidur beberapa saat, Liana merasa tenggorokannya sangat kering. Dia merangkak keluar tenda dengan grogi dan tiba-tiba sepasang sepatu kets pria muncul di depannya. Dia mendongak ke atas dan dia bisa melihat sepasang kaki yang ramping dan lurus.
Matahari menembus awan dan bersinar terang. Liana melihat wajah Yohan dengan jelas dan dia sangat terkejut.
"Pak ... Pak Yohan?"
Bukannya dia pergi naik gunung?
Yohan berjongkok di depannya, memandangi pipinya yang memerah karena demam dan berkata dengan sangat serius, "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Jantung Liana berdetak kencang dan dia menjilat bibirnya yang kering. Jantungnya berdebar seperti drum. "Ka ... katakan saja Pak."
"Apa kamu melihat seseorang memasuki tendaku tadi malam?" Saat Yohan menanyakan itu, dia menatap langsung ke arah mata Liana. Tekanan Yohan begitu kuat hingga tidak bisa dihindari, seperti ada tangan tak kasat mata yang menggapai jantung dan menghancurkannya.
Mata Liana mengelak dan bulu matanya bergetar. "Tidak ... saya tidak melihatnya."
"Kenapa kamu gemetar?" Yohan menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya.
Tidak hanya suaranya yang bergetar, tetapi tubuhnya juga gemetar hebat.
Dia sangat kurus, ditambah Yohan memandangnya, aku rasa dia akan gemetar sampai mati.
Ada lusinan asisten di kantornya yang bertanggung jawab di berbagai bidang. Liana adalah pegawai magang baru. Yohan agak terkesan dengannya karena dia sangat pemalu. Yohan ingat saat wawancara pertama, ketika dia mengajukan pertanyaan, Liana sangat gugup sampai-sampai dia tidak berani menatapnya dan Liana hanya menundukkan kepalanya sepanjang waktu.
"Aku ... aku kedinginan." Liana makin gemetar.
"Dingin?" Yohan mengerutkan kening, "Apa kamu demam? Kenapa bisa kedinginan?"
Saat dia berbicara, dia mengulurkan tangan dan meletakkan jari dinginnya di dahi Liana. Sesaat kemudian, dia mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi? Panas sekali!"
"Pak Yohan, saya baik-baik saja ...." Liana menggigil hebat dan merasa sangat tidak nyaman. Dia ingin berdiri, tetapi sekarang dia tidak bisa mengumpulkan tenaga sama sekali. Dia hanya bisa meringkuk dengan lemah di atas rumput, dia merasa kesadarannya semakin kabur....
"Liana?" Yohan merasakan ada yang tidak beres dan mencoba membangunkannya.
Pada awalnya, Liana masih bisa merespons secara samar dua kali, tetapi kemudian dia jatuh pingsan.
Tanpa ragu Yohan membungkuk dan mengangkat Liana dari tanah, Dia terlihat sangat kurus dan dia tampak tidak berbobot dalam pelukannya. Yohan menunduk untuk melihatnya, tetapi tidak sengaja dia melihat sekilas tanda merah di lehernya dan matanya tiba-tiba menyipit.
"Pak Yohan!" Sebuah suara terdengar memecah kesunyian.
Helena kembali ke sana sambil berlari, rambutnya acak-acakan dan dia terengah-engah.
Yohan berkata, "Kenapa kamu kembali?"
Helena melirik Liana yang ada dipelukannya, menarik napas dan berkata, "Aku ... aku mengkhawatirkan Liana dan kembali untuk menjaganya. Dia kenapa?"
"Dia demam tinggi hingga pingsan." Yohan berkata sambil meletakkan Liana di kursi belakang mobil.
Dia mengatakannya sambil masuk ke dalam mobil.
"Pak Yohan ...." Helena meraih pintu mobil dengan cemas dan memohon, "Apa saya boleh ikut?"
Yohan menatapnya dengan sedikit tatapan tajam di matanya.
Helena menjelaskan, "Aku adalah rekan kerja Liana dan kami sama-sama perempuan. Tolong biarkan saya ikut, mungkin nanti saya bisa membantu."
Yohan berpikir itu ada benarnya juga, jadi dia mengiakan.
....
Saat mereka tiba di rumah sakit, mereka menjalankan prosedur rawat inap untuk Liana dan memberinya infus.
Saat Helena pergi merebus air, dia kembali dan melihat Yohan berdiri di ujung tempat tidur. Tatapan Yohan tertuju pada Liana yang sedang tidur, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Pak Yohan." Helena menuangkan segelas air untuknya, "Silakan minum airnya."
"Terima kasih." Yohan mengambil gelas air dan menaruh gelas itu di sampingnya, "Siapa namamu?"
Helena tertegun sejenak, tapi kemudian dia berpikir bahwa di antara puluhan asistennya, satu-satunya yang bisa mengikutinya kemana-mana seperti bayangan adalah Hasan. Kemampuan kerja Helena biasa saja dan dia juga jarang menonjol. Wajar kalau dia tidak bisa dipanggil dengan namanya.
"Helena Darwojo. Helena dari kata Helen yang berarti cahaya atau cerah ...."
"Asisten Helena, aku butuh bantuanmu untuk memastikan sesuatu."
"...." Kilatan kekecewaan melintas di mata Helena, tetapi dia masih mempertahankan senyumnya dan berkata, "Apa itu Pak?"
Yohan menjelaskan beberapa patah kata dan berjalan keluar dari bangsal.
Helena menggigit bibirnya dan berjalan selangkah demi selangkah ke samping tempat tidur Liana. Melihat Liana yang masih pingsan, emosi di matanya sangat rumit. Memikirkan penjelasan Yohan, dia mengerucutkan bibirnya dan mengulurkan tangan untuk membuka kancing kemeja Liana.
Satu kancing, dua kancing ....
Saat semua kancingnya terbuka, Helena melihat tanda di tubuh Liana dan segera menutup mulutnya karena terkejut.
....
"Pak Yohan, Anda dimana?" Setelah Hasan membawa rekan-rekannya kembali ke lokasi perkemahan, dia tidak menemukan Yohan dan segera menelepon untuk memastikannya.
Yohan berkata, "Liana pingsan, aku mengantarnya ke rumah sakit."
"Pegawai magang Liana?" Hasan agak terkejut, dia terkejut bukan karena Pak Yohan secara pribadi mengantar Liana ke rumah sakit, tetapi karena dia mengingat nama pegawai magangnya.
Perlu diketahui kalau ada puluhan orang di tim asisten Pak Yohan. Dia tidak ingat siapa mereka semua kecuali Hasan.
Namun, dia ingat nama Liana dan itu sangat menakjubkan.
"Ya." Yohan mengangkat pergelangan tangannya, melihat jamnya, lalu berkata, "Kalian bersenang-senanglah di sana dan semua bonus akan dibagikan setelah perkemahan selesai."
Dia menutup telepon setelah memberi penjelasan singkat itu.
Saat itu, pintu bangsal terbuka dan Helena keluar.
Yohan menatapnya, "Bagaimana?"
Helena membalas tatapannya dengan tenang, "Saya sudah melihatnya, tubuh Liana sangat bersih, tidak ada apa-apa di tubuhnya. Tanda di lehernya yang Anda lihat pasti ... itu ulah pacarnya."
"Pacar?" Yohan agak mengernyit, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.
Helena berkata, "Apa Anda mau masuk dan menemuinya? Dia mungkin akan segera bangun."
"Enggak perlu." Ekspresi Yohan kembali seperti biasanya. "Masih ada yang harus aku urus, aku pergi dulu. Jangan lupa hubungi keluarganya saat dia bangun nanti."
"Baik, Pak Yohan. Jangan khawatir tentang itu."
Setelah melihat Yohan pergi, Helena segera berbalik dan memasuki bangsal.
Liana sudah bangun, matanya terbuka, tetapi dia sangat lemah.
Helena berjalan mendekat dan duduk di samping ranjang rumah sakit, "Liana, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa baikan?"
Liana mengangguk. "Apa aku ada di rumah sakit?"
"Ya." Helena memberikannya segelas air dan berkata sambil tersenyum, "Pak Yohan yang mengantarmu, dia bahkan memelukmu."
"Uhuk ...." Liana tersedak sebelum bisa menelan seteguk air pun. "Pak Yohan?"
"Ya." Helena bertanya dengan penasaran, "Liana, apa Pak Yohan menyukaimu? Sudah satu tahun aku bekerja di perusahaan, hanya satu kali aku melihatnya memeluk perempuan."
Wajah Liana terasa panas. "Nggak mungkin."
"Kenapa? Kamu cantik, muda dan punya penampilan yang bagus. Banyak bos menyukai gadis muda yang polos. Liana, kalau kamu nggak punya pacar, mungkin kamu bisa serius mempertimbangkan Pak Yohan. Pak Yohan nggak terlalu buruk ...."
"Aku punya pacar." Liana menyela perkataan Helena.
Kemudian, Helena berhenti bicara, "Benarkah?"
Liana menggigit bibirnya. "Ya."
Bab 3
Demam Liana berkurang setelah menghabiskan empat botol infus. Tetapi, dokter mengatakan kalau dia mengalami infeksi bakteri dan masih terdapat peradangan di sekujur tubuhnya. Meski demamnya sudah sembuh, untuk sementara dia tetap perlu dirawat di rumah sakit selama dua hari lagi dan minum obat anti inflamasi selama dua hari.
Sore harinya, Linda buru-buru membuka pintu dan masuk, "Liana, kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Melihat kakaknya yang datang, matanya terasa perih, "Aku nggak apa-apa kok kak."
"Syukurlah. Kenapa bisa separah ini?" Linda sangat sedih melihat adiknya yang sakit.
Keduanya kehilangan orang tua mereka saat mereka masih kecil. Linda berusia tujuh tahun lebih tua dari Liana. Dia telah merawat adiknya selama bertahun-tahun baik sebagai saudara maupun ibu.
Liana tidak mau kakaknya khawatir, jadi dia menahan air matanya dan berkata, "Mungkin karena terkena angin malam jadi aku demam. Nggak apa-apa, sekarang aku sudah membaik."
Linda merasa agak lega setelah melihat Liana kembali bersemangat. Helena menoleh ke samping dan berkata, "Siapa kamu?"
"Halo, aku Helena rekan kerja Liana." Linda langsung dengan sopan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Helena.
"Oh, apa kamu yang mengantar adikku ke rumah sakit?"
"Bukan." Helena menggelengkan kepalanya, "Bos kami yang mengantar Liana ke rumah sakit. Aku cuma menemaninya selama satu hari."
"Terima kasih banyak. Liana sangat tertutup. Dia beruntung memiliki rekan kerja yang baik sepertimu."
"Sama-sama." Helena sekilas melihat jam dan berpikir kalau Yohan tidak akan datang, jadi dia mengambil tas di sofa dan berkata, "Karena kakak sudah ada di sini, aku serahkan Liana pada kakak. Aku pulang dulu."
Linda mengantar Helena keluar. Saat Linda kembali ke kamar, dia berkata pada Liana, "Rekan kerjamu sangat baik. Apa dia teman barumu?"
Liana menggelengkan kepalanya, "Kami biasanya nggak saling bicara saat di perusahaan."
Helena memang biasanya sangat ramah, tetapi dia paling dekat dengan Widia saat di departemen. Liana adalah orang yang membosankan, dia hanya menundukkan kepala saat bekerja di perusahaan dan tidak pernah bersosialisasi. Sebenarnya ini agak aneh, kenapa hari ini Helena sangat ramah kepadaku?
"Kalau begitu, dia memang baik, mau menemanimu di sini sepanjang hari."
"Ya."
Liana berpikir, suatu saat nanti, dia pasti akan membalas budi pada Helena.
Linda berkata kalau rumah sakit terlalu berisik, lebih baik pulang dan istirahat di rumah. Liana tidak merasa kalau di rumah sakit berisik, tetapi tanpa kakaknya, dia merasa kurang nyaman, jadi dia setuju.
Saat mereka berdua keluar dari rumah sakit, angin sejuk bertiup dari luar pintu. Liana merasakan ada sesuatu yang ditaruh di bahunya, ternyata kakaknya mengenakan jaket di tubuhnya. Jelas kalau kakaknya mengenakan pakaian tipis, tapi kakaknya tetap melindunginya, Liana mengerucutkan bibirnya dan dengan cepat masuk ke dalam taksi.
Saat mereka berada di dalam mobil, Candra, suami kakaknya menelepon dan mengatakan kalau dia akan menghadiri pesta malam ini dan akan pulang larut malam, jadi mereka tidak perlu menunggunya makan. Linda memberikan beberapa instruksi, tetapi suaminya berkata dengan terburu-buru dan menutup telepon.
Liana memegang tangan Linda dan berkata, "Kakak, aku ingin makan mie masakanmu malam ini."
Linda tersenyum. "Oke, kakak akan masakkan untukmu."
"Ya."
Saat mereka sampai di rumah, Linda membantu Liana masuk ke kamar, meletakkan bantal di punggungnya, menuangkan secangkir air hangat dan menyentuh dahinya dengan gelisah. "Kamu tunggu di sini sebentar, Kakak akan masak mie untukmu. Kalau butuh sesuatu, panggil saja kakak."
Liana mengangguk setuju. "Ya."
Linda mengenakan celemek dan pergi ke dapur untuk memasak mie.
Mendengarkan keributan di dapur, Liana mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar kakaknya. Dia membuka laci samping tempat tidur kakaknya dan dengan mudah menemukan pil KB di dalamnya. Dengan cepat dia melihat petunjuk di kotak pil, mengambil dua pil dan menelannya.
Setelah makan malam, Liana pergi mandi. Saat dia melepas pakaiannya, dia berdiri di depan cermin dan melihat jejak di tubuhnya. Kegilaan kemarin malam muncul di benaknya dan dia masih merasa ketakutan.
Mungkin karena dia terlalu banyak tidur di siang hari, atau mungkin karena merasa tidak nyaman, Liana tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Saat dia sedang bimbang, dia mendengar suara pertengkaran di luar. Dia mengusap pelipisnya dan berdiri, kemudian membuka pintu sedikit.
Lampu di ruang tamu menyala dan ada dasi, sepatu dan kaus kaki pria berserakan di lantai. Candra sedang berbaring di sofa dan berbau alkohol.
Linda sedang membereskannya dan berkata, "Aku sudah bilang jangan minum terlalu banyak. Lihat dirimu, kamu minum seperti ini, kamu akan sakit kepala lagi besok ...."
"Bla, bla, bla, kamu cuma tahu bla, bla, bla. Apa menurutmu aku juga mau minum seperti ini? Ini semua juga aku lakukan untukmu, untuk keluarga ini dan untuk adik perempuanmu itu. Kalau nggak, kenapa aku harus selelah ini?"
Linda sangat kesal. "Jangan salahkan Liana, salahkan saja aku."
"Kenapa?" Suara Candra agak meninggi, "Dia makan, minum dan tinggal ditempatku, kenapa aku nggak boleh berkata apa-apa? Mereka yang tahu bilang kalau dia adalah adikmu, tapi mereka yang nggak tahu berpikir kalau dia adalah majikan kita!"
"Liana sudah dapat kerja dan dia telah membayar biaya hidupnya sejak tahun pertamanya, kenapa dia harus makan dan minum punyamu?" Linda membela adiknya.
Candra menunjuknya, "Oke! Kalau kamu bisa menyuruhnya pindah besok. Aku sangat muak melihatnya!"
"Liana itu adikku, dia satu-satunya saudaraku. Dia belum lulus kuliah dan baru saja mendapatkan pekerjaan. Apa maksudmu mau mengusirnya?"
Candra menjelaskan semuanya, seperti orang pelit, "Ini rumahku. Aku membeli rumah ini dengan uang dan akulah yang membayar cicilannya setiap bulan. Aku yang punya keputusan di sini, kalau aku suruh dia keluar, dia harus keluar!"
"Kamu ...." Linda sangat marah sampai menangis.
Kemudian, Candra tertidur dalam keadaan mabuk.
Setelah beberapa saat, Linda menyeka air matanya dan memanggil Candra lagi, "Oke! Cepat mandi dan tidurlah di kamar."
Liana diam-diam menutup pintu dan berbaring di tempat tidur lagi. Tetapi matanya terbuka lebar, dia melewatkan malam itu hanya dengan membolak balikkan badannya dan tidak bisa tidur.
Keesokan paginya, dia bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan, meninggalkan amplop dan catatan untuk kakaknya. Dia meninggalkan rumah kakaknya dengan membawa kopernya.
Liana ikut bertanggung jawab atas alasan kakaknya menikah dengan Candra. Kakaknya selalu mengatakan kalau mereka berdua adalah perempuan dan sangat menderita, dia ingin ada laki-laki di dalam keluarga mereka, agar tidak ada yang berani menindas mereka. Kakaknya tidak punya kualifikasi akademis dan tidak bisa menghasilkan banyak uang. Keinginan membeli rumah adalah mimpi yang mustahil.
Candra lulus dari universitas biasa dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Awalnya dia cukup baik, tetapi mungkin karena dia berada di bawah banyak tekanan, jadi dia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan bertengkar dengan kakaknya begitu sampai di rumah.
Karena ada Liana, Linda selalu mengalah dari suaminya dan harus bersabar serta menahannya sendiri.
Liana tahu kalau kakaknya mencintai kakak iparnya. Tidak ada cinta yang bisa mengalahkan kebutuhan sehari-hari dan dia tidak ingin menjadi beban bagi kakak dan iparnya. Dia mengambil inisiatif untuk pindah dan berharap keadaan mereka berdua akan lebih baik.
Lift berhenti sejenak di lantai 8. Saat pintu terbuka, Liana berhadapan dengan orang yang berdiri di luar dan tangannya yang memegang gagang koper langsung mengepal.
Bab 4
Sebelumnya, Liana tidak pernah menyangka kalau kejadian pacar yang selingkuh dengan sahabatnya akan menimpa dirinya. Dia selalu berpikir kalau itu adalah kejadian absurd yang ditulis oleh seorang penulis skenario. Baru setelah itu benar-benar terjadi padanya, Liana akhirnya memahami pepatah yang mengatakan, 'Tanpa ada kejadian dari kehidupan, tidak akan ada seni'.
Dia masih ingat betapa mendalam keterkejutan dan perasaan terkhianatinya saat membuka pintu asrama sekolah hari itu dan melihat Hamdan serta Winda sedang bersama.
Salah satunya adalah sahabatnya dan yang lainnya adalah orang yang paling dia andalkan selain kakaknya. Tetapi, mereka menggunakan cara yang paling kotor dan paling tajam untuk menyakiti hati Liana.
"Liana?" Winda tertegun sejenak.
Liana sudah mengalihkan pandangannya dan menyeret kopernya ke dalam.
Dia tidak berniat menyapa mereka. Bagaimanapun, masa lalu telah berlalu. Dia dan Hamdan sudah putus dan persahabatannya dengan Winda juga telah berakhir. Mulai sekarang, dia tidak ingin berurusan dengan kedua orang ini lagi.
Winda meraih lengan Hamdan dan berjalan masuk, lalu pintu lift tertutup. Winda menoleh ke arah Liana dan berkata, "Kudengar kamu mendapatkan pekerjaan. Apa kamu akan melakukan perjalanan bisnis?"
Liana menunduk dan mengiakan. Dia menganggap itu sudah selesai.
Setelah Winda melihat ini, dia tidak berkata apa-apa lagi.
Saat lift sampai dilantai satu, Liana menarik koper dan berjalan keluar. Tanpa diduga, dia melakukan kesalahan dengan tergesa-gesa dan salah satu roda koper tersangkut di celah. Liana menariknya dengan kuat dua kali, wajahnya sudah memerah, tetapi kopernya sama sekali tidak bergerak.
Tepat saat dia tidak tahu harus berbuat apa, Hamdan mengulurkan tangannya dan mendorong koper dengan pelan, akhirnya roda koper itu keluar.
"Terima kasih." Liana mengucapkan terima kasih dengan pelan dan pergi karena malu.
Pintu lift tertutup kembali dan berlanjut turun ke bawah.
Winda melirik Hamdan dan berkata dengan intonasi yang tidak jelas, "Sepertinya Liana sudah banyak berubah dan aku rasa dia masih marah pada kita. Menurutmu, apa aku harus menemuinya dan meminta maaf padanya?"
"Apa itu perlu?" Hamdan berkata dengan tenang, "Sudah terjadi seperti ini, apa gunanya minta maaf?"
Winda mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan sedih, "Hamdan, apa kamu menyalahkanku?"
Hamdan hanya diam.
Winda melepaskan tangannya dari lengan Hamdan dan berkata, "Hamdan, kalau kamu nggak bisa melepaskan Liana, aku akan menjelaskan masalah kita padanya. Ini awalnya memang salahku dan aku akan bertanggung jawab. Liana orang yang baik, dia pasti bisa memaafkanmu ...."
Pintu lift terbuka dan tempat parkir bawah tanah di lantai dua terang benderang.
Winda berlari keluar lift sambil menangis dan dihadang oleh sebuah mobil yang melaju kencang dengan klaksonnya yang berbunyi keras, Winda berdiri di tengah jalan seolah dia kehilangan kemampuan untuk bereaksi, mengangkat tangannya untuk menutupi matanya, tapi lupa menghindarinya.
Untungnya, Hamdan datang dengan cepat dan mengulurkan tangan untuk menariknya tepat waktu. Rem mobil hampir berasap, melewati mereka berdua dan berhenti dengan suara melengking. Pengemudi itu mengeluarkan kepalanya keluar jendela mengutuk beberapa kata, kemudian dia pergi.
"Kamu mau mati?" Hamdan memegang pergelangan tangan Winda, dia berkata dengan suara yang bergetar.
Adegan tadi terlalu mendebarkan, kalau dia terlambat satu detik saja, Winda mungkin sudah mati.
Winda juga sangat ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Air matanya terus mengalir, dia menangis sampai gemetar dan melemparkan dirinya ke pelukan Hamdan. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Hamdan menghela napas, lalu mengulurkan tangannya untuk memeluknya dan dengan lembut menghiburnya. "Sudah, jangan menangis lagi ...."
....
Liana naik taksi kembali ke asrama sekolah. Ini adalah satu-satunya tempat dia bisa tinggal setelah keluar dari rumah kakaknya. Awalnya, asrama itu untuk empat orang, karena ini adalah akhir semester tahun terakhir, setelah mendapatkan pekerjaan mereka semua pindah satu per satu.
Liana biasanya tidak tinggal di sini, tetapi tokonya belum dipindahkan.
Sebelum kejadian perselingkuhan itu, Winda tinggal sendirian di sini. Karena keluarganya tinggal di luar kota dan dia juga belum mendapatkan pekerjaan magang.
Saat Liana datang malam itu, dia mendengar dari teman-teman sekelasnya kalau ada pemadaman listrik di asrama. Dia khawatir Winda akan takut sendirian, jadi dia datang untuk menemaninya. Tetapi, saat membuka pintu dia malah melihat pemandangan itu ....
Sekarang Winda tidak tinggal di sini lagi. Kudengar Hamdan menyewakan rumah untuknya di luar.
Liana sangat sibuk sejak dia bergabung dengan Perusahaan Lewis. Dia bangun pagi dan pulang larut malam. Dia sangat terkejut karena melihat mereka berdua di lingkungan tempat tinggal kakaknya hari ini.
Tidak disangka, rumah yang disewakan Hamdan untuk Winda ternyata ada di komplek kakaknya dan juga di gedung yang sama.
Entah itu hanya kebetulan atau memang disengaja, Liana sudah tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang dia merasa kalau pindah adalah hal yang benar. Ada banyak peluang untuk bertemu seseorang dan itu tidak bisa dihindari. Singkatnya, dia hanya merasa tidak nyaman.
Setelah membereskan tempat tidur, ponsel Liana berdering.
Itu adalah telepon dari kakaknya. Suaranya terdengar sedikit menangis saat dia berbicara, "Liana, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan? Kenapa nggak pamitan padaku? Kamu dimana? Aku akan datang menjemputmu."
Liana bersandar di tempat tidur, "Kak, aku pindah lagi ke asrama sekolah. Saat lulus masa magang nanti, aku bisa mendaftar di asrama karyawan di perusahaan ...."
"Ada tempat di rumah, kenapa tinggal di asrama karyawan? Tunggu aku, kakak akan segera datang menjemputmu ...."
"Kak!" Liana berteriak dengan sungguh-sungguh.
Linda langsung terdiam.
Liana menahan semua emosi sedihnya, menatap ke langit-langit dan berpura-pura santai. "Kakak, aku sudah dewasa. Aku nggak mau jadi bebanmu lagi dan aku juga ingin jadi sandaranmu."
Linda duduk di kursi ruang tamu, memegang ponsel dan air mata terus mengalir. Dia menyeka air matanya dan berkata, "Aku nggak perlu bergantung padamu. Aku cuma butuh kamu di sisiku. Nggak peduli berapa umurmu, kamu akan selalu jadi adikku."
"Kak, terima kasih. Tapi kali ini aku benar-benar ingin bisa mandiri. Kak, kamu akan mendukungku, 'kan?"
Suara Linda terdengar serak, "Bagaimana kalau aku nggak mendukungmu? Apa kamu akan langsung pulang?"
"Nggak." Liana tersenyum, air mata mengalir tanpa suara, "Saat tumbuh dewasa, apa pun yang aku lakukan, kakakku akan mendukungku. Dia adalah kakak perempuan terbaik di dunia."
Linda tidak berbicara untuk waktu yang lama. Meski dia telah mencoba yang terbaik untuk menahan diri, Liana masih mendengar isak tangisnya.
"Kak, saat aku menghasilkan banyak uang nanti, aku akan membelikanmu rumah besar dan membukakan toko untukmu. Kamu dan kakak ipar nggak perlu bekerja terlalu keras lagi."
Barulah saat itu Linda tertawa dan berkata, "Kamu ini! Aku nggak mau rumah besar atau toko. Kakak iparmu dan aku cuma orang biasa dan kami nggak berharap untuk berumur panjang. Liana, kamu cuma perlu ingat ini, kakak nggak mau apa pun, kakak cuma mau kamu baik-baik saja. Selama kamu bahagia, aku lebih puas dari apa pun."
"Ya." Liana mengangguk dalam, "Kak, aku pasti bisa melakukannya!"
Setelah menutup telepon, Liana menangis untuk beberapa saat.
Tok, tok, tok ....
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Liana menyeka air matanya dan pergi untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, ternyata hari sudah berganti malam dan wajah tampan Yohan membesar di depannya ....